Tentang Variabel dan Hipotesis

Tentang Variabel dan Hipotesis

1. Apakah variabel itu?

 Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau objek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi objek, gaya belajar, harapan hidup
 Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya  sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.
Contoh:
– Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh „reinforcement‟ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.

Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan „reinforcement‟ dengan 3 cara yang berbeda:
(1) dengan pujian verbal
(2) dengan hadiah imbalan uang
(3) dengan nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.  Maka: „reinforcement‟ merupakan suatu variabel ( yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan. Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk „kursi‟ tampaknya mudah. Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya „motivasi‟ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel „motivasi‟ ini dapat diukur. Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan akan lebih jelas dan bermakna.

2. Variabel kuantitatif vs kategorial

a. variabel kuantitatif: tinggi badan (pendek sampai tinggi), kecerdasan (rendah ke tinggi), motivasi belajar (rendah ke tinggi)
b. variabel kategori : gender (laki-laki, prempuan), agama (Islam, kristen, protestan, budha, hindu dsb), bahasa yg digunakan di sekolah (Indonsia, english, Arab, Jerman dsb)

Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinuum dari yang rendah sampai tinggi misalnya tinggi badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasi belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B. Di samping itu, variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5 – 0, misalnya

o 5(amat sangat berminat),
o 4(sangat berminat),
o 3(berminat),
o 2(cukup berminat),
o 1(kurang berminat),
o 0(tidak berminat)

Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram dll. Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan “perlakuan” atau “metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama. Berikut ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?

1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender

Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atau lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan matematika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agresif pada anak

2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitatif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru

3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan ayah
o Gender guru dan subjek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaan partai politik

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti
1) Secara konseptual: variabel „kecemasan‟ menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi „ada‟ atau „tidak ada‟ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi „tinggi‟, „sedang‟, „rendah‟ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).

3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil

Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel Misalnya:
– Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.

Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang „diciptakan‟ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.

Secara umum:
1 variabel kuantitatif
1 variabel kategorial

Keduanya :
Membandingkan perlakuan atau metode yang berbeda,
Variabel kategorial merupakan „variabel yang dimanipulasi”
Variabel kuantitatif merupakan “variabel hasil”

Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, dan minat. Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri melalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing

4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)

Hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:
“Variabel bebas (Dugaan penyebab) mempengaruhi Variabel terikat / tak bebas (Dugaan hasil)”
Variabel bebas diasumsikan sebagai dugaan „penyebab‟ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil. Tidak semua variabel bebas merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut: “Hubungan antara keberhasilan siswa dalam matematika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”

5. Variabel extraneous (variabel ekstra)

Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak-bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya. Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan. Misalnya: Variabel apakah yang dapat mempengaruhi pembelajaran sisiwa di kelas? Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
 kepribadian guru,
 tingkat kecerdasan siswa,
 posisi jam mengajar,
 buku ajar yang digunakan,
 bentuk kegiatan pembelajaran,
 metode mengajar

Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subjek penelitian ini tidak bervariasi

Tentang Hipotesis

1. Apakah hipotesis itu?

Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?

Pertanyaan penelitian: “Bagaimanakah perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?” Hipotesis : Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya. Pertanyaan penelitian: “Bagaimanakah perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuairi dan model pembelajaran tradisional?” Hipotesis: Hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuairi lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional. Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuairi dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.

2.Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis

a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan hasil penelitian. Merumuskan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argument teoretis Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan, berarti semakin memperkuat gagasan awal teori relativitas Einstein.

3.Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis

a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual- meskipun ada kekecualian. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.

b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistic terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengambilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.

4. Hipotesis yang signifikan

Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:

Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan Siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga

Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukai kelas reguler daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas reguler.

Hipotesis3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.

Dari ketiga hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti lebih lanjut.
5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah

Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggi, kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:

1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Pengantar Psikologi Politik;>>>> Baca

Video Tutorial Merakit Komputer;>>>> Baca

Video Mario Teguh ANAK MASA DEPAN KITA Mencuri;>>>> Baca

Video Perkalian Pecahan Campuran;>>>> Baca

Contoh Soal dan Pemecahan Jawababnya;>>>> Baca

Mana yang Harus Direnovasi dalam Reormasi Pendidikan;>>>>>>>>> Baca

Ruang Lingkup Ekonomi dan implementasinya

Ruang Lingkup Ekonomi dan implementasinya

Kata ekonomi berasal dari kata Yunani oikos yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan nomos, atau “peraturan, aturan, hukum”, dan secara garis besar diartikan sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga.
Sementara yang dimaksud ilmu ekonomi menurut ahli ekonomi adalah orang yang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidak seimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan.
Sebuah ekonomi adalah sistem aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Secara umum, subjek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara yang paling
terkenal adalah mikroekonomi dan makroekonomi. Selain itu, subjek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) dan normative,mainstream dan heterodox, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori
ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang moneter, seperti penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya
ekonomi adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia.
Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah
“pembuatan keputusan” dalam berbagai bidang dimana orang dihadapkan pada pilihan-pilihan, misalnya bidang politik, pendidikan, pernikahan, kesehatan, hokum, kriminal, perang dan agama. Menurut Gary Backer dari
Univercity of Chicago “ Ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembelajaran IPS dalam kaitannya dengan ekonomi berkenaan dengan bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan individu maupun kebutuhan kelompok. Pembelajaran ekonomi dibatasi
sampai gejala dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam memenuhi kehidupannya dari berbagai macam pilihan-pilihan.
Jadi yang dipelajari Ekonomi adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, maka ruang lingkup ekonomi adalah
1. Substansi materi ilmu ekonomi yang bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat
2. Gejala, masalah dan peristiwa sosial tentang kehidupan bermasyarakat.

Kedua hal tersebut dipelajari dalam ekonomi secara terpadu, karena pengajaran ekonomi tidak hanya sekedar penyajikan materi-materi melainkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran ekonomi harus selalu menggali materi-materi yang bersumber dari potensi alam serta potensi manusia.

Tujuan Ekonomi

Tujuan dari ekonomi adalah sekurang-kurangnya meliputi:
a. membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan manusia;
b. membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternative pemecahan masalah ekonomi yang terjadi dalam kehidupan manusia; dan
c. membekali peserta didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan ilmu ekonomi sesuai dengan perkembangan kehidupan
manusia dan perkembangan ilmu dan teknologi.
Hal tersebut menjadi tanggungjawab yang harus dicapai dalam pelaksanaan kurikulum pembelajaran ekonomi di berbagai bidang pendidikan dengan disertai keluasan, kedalaman, dan bobot yang sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dilaksanakan.

B. Konsep Dasar
Konsep Dasar Ekonomi
Konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan fakta yang memiliki ciri-ciri yang sama. Konsep merupakan pembedaan dan pemilikan
secara sadar atas pengalaman persepsi yang pernah diperoleh.

Menurut Heilbroner, ilmu ekonomi pada dasarnya mempelajari bagaimana manusia memecahkan tantangan dalam memenuhi kebutuhannya. Senesh mengemukakan 5 (lima) langkah konsep dasar dari ilmu ekonomi sebagai
berikut.

1. Konsep dasar sentral adalah kelangkaan, bahwa setiap masyarakat dihadapkan pada masalah kebutuhan yang tidak terbatas berhadapan dengan sumber-sumber produksi yang terbatas.
2. Karena sumber yang langka ini, orang harus berupaya mengembangkan metode produksi yang baru hingga timbullah spesialisasi yang lebih menguntungkan.
3. Sistem spesialisasi menyebabkan ketergantungan antara yang satu dengan lainnya sebab itu perlu suatu sistem moneter dan sistem transportasi.
4. Setiap masyarakat yang ingin dan memerlukan sesuatu harus ke pasar, untuk memperoleh barang dan jasa maka akan terjadi interaksi pembelian dan penjualan sehingga terbentuk harga dengan segala perubahanperubahannya.
5. Keputusan yang terjadi di pasar dipengaruhi oleh kebijaksanaan pemerintah dalam tujuannya yaitu kesejahteraaan masyarakat.

Implementasi Konsep dasar Ekonomi

Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisis ekonomi adalah pembuatan keputusan dalam berbagai bidang di mana orang dihadapkan pada
pilihan-pilihan, seperti dalam bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Becker adalah perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya,
tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya tersebut kadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa kritikus.

Sementara itu, para ahli ekonomi mainstream memandang bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam hal ide, konsep, dan metodenya, meski menurut pendapat sebagian kritikus ekonomi perubahan tersebut dipandang merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?

Konsep dasar ekonomi dan implementasinya tidak terlepas dari adanya teori ekonomi dan sejarahnya. Sejarah perkembangan teori ekonomi lekat dengan pemikiran kapitalisme yang dapat dilacak melalui sejarah perkembangan pemikiran ekonomi dari era Yunani kuno sampai era sekarang. Aristoteles adalah yang kali pertama memikirkan tentang transaksi ekonomi dan membedakan antara yang bersifat natural atau innatural.
Transaksi natural terkait dengan pemuasan kebutuhan dan pengumpulan kekayaan yang terbatasi jumlahnya oleh tujuan yang dikehendaki. Transaksi unnatural bertujuan pada pengumpulan kekayaan yang secara potensial tak
terbatas. Dia menjelaskan bahwa kekayaan unnatural tak berbatas karena dia menjadi akhir dari dirinya sendiri ketimbang sebagai sarana menuju akhir yang lain yaitu pemenuhan kebutuhan. Contoh dari transaksi ini adalah
perdagangan moneter dan retail yang diejek sebagai unnatural dan bahkan tidak bermoral. Pandangannya ini kelak banyak dipuji oleh para penulis Kristen Abad Pertengahan.
Aristoteles juga membela kepemilikan pribadi yang menurutnya memberi peluang seseorang untuk melakukan kebajikan dan memberikan derma dan cinta sesama yang merupakan bagian dari “jalan emas” dan “kehidupan yang
baik ala Aristotles”. Chanakya (c. 350-275 BC) adalah tokoh berikutnya. Dia sering mendapat julukan sebagai Indian Machiavelli. Dia adalah professor ilmu politik pada
Takshashila University pada masa India kuno dan kemudian menjadi Prime Minister dari kerajaan Mauryan yang dipimpin oleh Chandragupta Maurya.
Dia menulis karya yang berjudul Arthashastra (Ilmu mendapatkan materi) yang dapat dianggap sebagai pendahulu dari Machiavelli’s The Prince. Berbagai
masalah yang dibahas dalam karya tersebut masih relevan sampai sekarang, termasuk diskusi tentang bagaimana konsep manajemen yang efisien dan solid, juga masalah etika di bidang ekonomi. Chanakya juga berfokus pada isu
kesejahteraan seperti redistribusi kekayaan pada kaum papa dan etika kolektif yang dapat mengikat kebersamaan masyarakat.
Tokoh pemikir Islam juga memberikan sumbangsih pada pemahaman di bidang ekonomi. Ibnu Khaldun dari Tunis (1332–1406) menulis masalah teori ekonomi dan politik dalam karyanya Prolegomena. Dia menunjukkan bahwa kepadatan populasi terkait dengan pembagian tenaga kerja yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang dari segi sebaliknya dapat mengakibatkan penambahan populasi dalam sebuah lingkaran. Dia juga memperkenalkan
konsep yang biasa disebut dengan Khaldun-Laffer Curve (keterkaitan antara tingkat pajak dan pendapatan pajak dalam kurva berbentuk huruf U).
Perintis pemikiran barat di bidang ekonomi terkait dengan debat scholastic theological selama Middle Ages. Masalah yang penting adalah tentang penentuan harga barang. Penganut Katolik dan Protestan terlibat dalam perdebatan tentang apa itu yang disebut “harga yang adil” di dalam ekonomi pasar. Kaum skolastik Spanyol abad 16 mengatakan bahwa harga yang adil tak lain adalah harga pasar umum dan mereka umumnya mendukung filsafat
laissez faire.

Di era Reformation pada abad 16, ide tentang perdagangan bebas muncul
yang kemudian diadopsi secara hukum oleh Hugo de Groot atau Grotius.
Kebijakan ekonomi di Eropa selama akhir Abad Pertengahan dan awal renaissance adalah memberlakukan aktivitas ekonomi sebagai barang yang ditarik pajak untuk para bangsawan dan gereja. Pertukaran ekonomi diatur
dengan hukum feudal seperti hak untuk mengumpulkan pajak jalan begitu juga pengaturan asosiasi pekerja (guild) dan pengaturan keagamaan dalam masalah penyewaan.
Kebijakan ekonomi seperti itu didesain untuk mendorong perdagangan pada wilayah tertentu. Karena pentingnya kedudukan sosial, aturan-aturan terkait
kemewahan dijalankan, pengaturan pakaian dan perumahan meliputi gaya yang diperbolehkan, material yang digunakan dan frekuensi pembelian bagi masing-masing kelas yang berbeda.
Machiavelli dalam karyanya The Prince adalah penulis pertama yang menyusun teori kebijakan ekonomi dalam bentuk nasihat. Dia melakukannya
dengan menyatakan bahwa para bangsawan dan republik harus membatasi pengeluarannya, dan mencegah penjarahan oleh kaum yang punya maupun oleh kaum kebanyakan.
Dengan cara itu, negara akan dilihat sebagai “murah hati” karena tidak menjadi beban berat bagi warganya. Selama masa early modern period, mercantilis hampir dapat merumuskan suatu teori ekonomi tersendiri. Perbedaan ini
tercermin dari munculnya negara bangsa di kawasan Eropa Barat yang menekankan pada balance of payment.
Tahap ini kerapkali disebut sebagai tahap paling awal dari perkembangan modern capitalism yang berlangsung pada periode antara abad ke 16 dan 18, dan kerap disebut sebagai merchant capitalism dan mercantilism. Babakan ini
terkait dengan geographic discoveries oleh merchant overseas traders, terutama dari England dan Low Countries; European colonization of the Americas; dan pertumbuhan yang cepat dari perdagangan luar negeri. Hal ini memunculkan kelas bourgeoisie dan menenggelamkan feudal system yang sebelumnya dominan.
Mercantilism adalah sebuah sistem perdagangan untuk profit, meskipun produksi masih dikerjakan dengan non-capitalist production methods. Karl Polanyi berpendapat bahwa capitalism belum muncul sampai berdirinya free
trade di Britain pada tahun 1830-an.
Di bawah mercantilism, European Merchants diperkuat oleh sistem kontrol
dari negara, subsidies, dan monopolies, yang menghasilkan kebanyakan
profits dari jual-beli bermacam-macam barang. Di bawah mercantilism, guilds adalah pengatur utama dari ekonomi. Dalam kalimat Francis Bacon, tujuan dari mercantilism adalah the opening and well-balancing of trade; the cherishing of manufacturers; the banishing of idleness; the repressing of waste and excess by sumptuary laws; the improvement and husbanding of the soil; the regulation of prices….
Di antara berbagai mercantilist theory salah satunya adalah bullionism, doktrin yang menekankan pada pentingnya akumulasi precious metals. Mercantilists berpendapat bahwa negara seharusnya mengekspor barang lebih banyak dibandingkan jumlah yang diimport sehingga luar negeri akan membayar selisihnya dalam bentuk precious metals. Mercantilists juga berpendapat
bahwa bahan mentah yang tidak dapat ditambang dari dalam negeri maka harus diimport, dan mempromosikan subsidi, seperti penjaminan tarif perlindungan monopoli (monopoly protective tariffs), untuk meningkatkan
produksi dalam negeri dari manufactured goods.
Para perintis mercantilism menekankan pentingnya kekuatan negara dan penaklukan luar negeri sebagai kebijakan utama dari economic policy. Jika sebuah negara tidak mempunyai supply dari bahan mentahnnya, maka
mereka harus mendapatkan koloni yang memungkinkan mereka dapat mengambil bahan mentah yang dibutuhkan. Koloni berperan bukan hanya sebagai penyedia bahan mentah tapi juga sebagai pasar bagi barang jadi. Agar
tidak terjadi suatu kompetisi maka koloni harus dicegah untuk melaksanakan produksi dan berdagang dengan pihak asing lainnya.
Selama the enlightenment, physiocrats Perancis adalah yang pertama kali memahami ekonomi berdiri sendiri. Salah satu tokoh yang terpenting adalah Francois Quesnay. Diagram ciptaannya yang terkenal, tableau economique, yang oleh kawan-kawannya dianggap sebagai salah satu temuan ekonomi terbesar setelah tulisan dan uang. Diagram zig-zag ini dipuji sebagai rintisan
awal bagi pengembangan banyak tabel dalam ekonomi modern, ekonometrik, multiplier Keynes, analisis input-output, diagram aliran sirkular dan model keseimbangan umum Walras.
Tokoh lain dalam periode ini adalah Richard Cantillon, Jaques Turgot, dan Etienne Bonnot de Condillac. Richard Cantillon (1680-1734), oleh beberapa sejarawan ekonomi dianggap sebagai bapak ekonomi yang sebenarnya.
Bukunya Essay on the Naturof Commerce ini General (1755, terbit setelah dia wafat) menekankan pada mekanisme otomatis dalam pasar yakni penawaran
dan permintaan, peran vital dari kewirausahaan, dan analisis inflasi moneter “pra-Austrian” yang canggih, yakni tentang bagaimana inflasi bukan hanya menaikkan harga tetapi juga mengubah pola pengeluaran.
Jaques Turgot (1727-81) adalah pendukung laissez faire. Dia pernah menjadi menteri keuangan dalam pemerintahan Louis XVI dan membubarkan serikat kerja (guild), menghapus semua larangan perdagangan gandum dan
mempertahankan anggaran berimbang. Dia terkenal dekat dengan raja, meski akhirnya dipecat pada 1776. Karyanya Reflection on the Formation and
Distribution of Wealth menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang perekonomian. Sebagai seorang physiocrats, Turgot membela pertanian
sebagai sektor paling produktif dalam ekonomi. Karyanya yang terang ini memberikan pemahaman yang baik tentang preferensi waktu, kapital dan suku bunga, dan peran enterpreneur-kapitalis dalam ekonomi kompetetitif.
Etienne Bonnot de Condillac (1714-80) adalah orang yang membela Turgot di saat-saat sulit tahun 1775 ketika dia menghadapi kerusuhan pangan saat
menjabat sebagai menteri keuangan. Codillac juga merupakan seorang pendukung perdagangan bebas. Karyanya Commerce and Government (terbit sebulan sebelum The Wealth of Nation, 1776) mencakup gagasan
ekonomi yang sangat maju. Dia mengakui manufaktur sebagai sektor produktif, perdagangan sebagai representasi nilai yang tak seimbang, di mana
kedua belah pihak bisa mendapat keuntungan, dan mengakui bahwa harga ditentukan oleh nilai guna, bukan nilai kerja.
Tokoh lainnya, Anders Chydenius (1729–1803) menulis buku The National
Gain pada 1765 yang menerangkan ide tentang kemerdekaan dalam perdagangan dan industri dan menyelidiki hubungan antara ekonomi dan
masyarakat dan meletakkan dasar liberalisme, sebelas tahun sebelum Adam Smith menulis hal yang sama namun lebih komprehensif dalam The Wealth of
Nations. Menurut Chydenius, democracy, kesetaraan dan penghormatan pada hak asasi manusia adalah jalan satu-satunya untuk kemajuan dan kebahagiaan bagi seluruh anggota masyarakat.
Mercantilism mulai menurun di Great Britain pada pertengahan abad 18, ketika sekelompok economic theorists, dipimpin oleh Adam Smith menantang
dasar-dasar mercantilist doctrines yang berkeyakinan bahwa jumlah
keseluruhan dari kekayaan dunia ini adalah tetap sehingga suatu negara hanya
dapat meningkatkan kekayaannya dari pengeluaran negara lainnya. Meskipun
begitu, di negara-negara yang baru berkembang seperti Prussia dan Russia, dengan pertumbuhan manufacturing yang masih baru, mercantilism masih berlanjut sebagai paham utama meskipun negara-negara lain sudah beralih ke paham yang lebih baru.
Pemikiran ekonomi modern biasanya dinyatakan dimulai dari terbitnya Adam Smith’s The Wealth of Nations, pada 1776, walaupun pemikir lainnya yang lebih dulu juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Ide utama yang
diajukan oleh Smith adalah kompetisi antara berbagai penyedia barang dan pembeli akan menghasilkan kemungkinan terbaik dalam distribusi barang dan
jasa karena hal itu akan mendorong setiap orang untuk melakukan spesialisasi dan peningkatan modalnya sehingga akan menghasilkan nilai lebih dengan tenaga kerja yang tetap. Smith’s thesis berkeyakinan bahwa
sebuah sistem besar akan mengatur dirinya sendiri dengan menjalankan aktivits-aktivitas masing-masing bagiannya sendiri-sendiri tanpa harus mendapatkan arahan tertentu. Hal ini yang biasa disebut sebagai invisible hand dan masih menjadi pusat gagasan dari ekonomi pasar dan capitalism itu sendiri.
Smith adalah salah satu tokoh dalam era classical economics dengan kontributor utama John Stuart Mill dan David Ricardo. Mill, pada awal hingga pertengahan abad 19 berfokus pada wealth yang didefinisikannya secara
khusus dalam kaitannya dengan nilai tukar objek atau yang sekarang disebut dengan price.
Pertengahan abad 18 terjadi peningkatan industrial capitalism, yang memberi kemungkinan bagi akumulasi modal yang luas di bawah fase perdagangan
dan investasi pada mesin-mesin produksi. Industrial capitalism, yang dicatat oleh Marx mulai dari pertigaan akhir abad 18th menandai perkembangan dari the factory system of manufacturing, dengan ciri utama complex division of labor dan routinization of work tasks, dan akhirnya memantapkan dominasi global dari capitalist mode of production.
Hasil dari proses tersebut adalah industrial revolution, di mana industrialist menggantikan posisi penting dari merchant dalam capitalist system dan mengakibatkan penurunan traditional handicraft skills dari artisans, guilds, dan journeymen. Selama masa ini pula, capitalism menandai perubahan hubungan
antara British landowning gentry dan peasants, meningkatkan produksi dari
cash crops untuk pasar lebih dari pada yang digunakan untuk feudal manor.
Surplus ini dihasilkan dengan peningkatan commercial agriculture sehingga mendorong peningkatan mechanization of agriculture.
Peningakatan industrial capitalism juga terkait dengan penurunan mercantilism. Selama masa pertengahan hingga akhir abad sembilan belas Inggris dianggap sebagai contoh klasik dari laissez-faire capitalism. Laissezfaire
mendapatkan momentum oleh mercantilism di Britain pada 1840s
dengan persetujuan Corn Laws and Navigation Acts. Sejalan dengan ajaran
classical political economists yang dipimpin oleh Adam Smith dan David Ricardo, Britain memunculkan liberalism, mendorong kompetisi dan perkembangan market economy.
Pada abad 19th, Karl Marx menggabungkan berbagai aliran pemikiran meliputi distribusi sosial dari sumber daya, mencakup karya Adam Smith, juga pemikiran socialism dan egalitarianism, dengan menggunakan pendekatan sistematis pada logika yang diambil dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel menghasilkan Das Kapital. Ajarannya banyak dianut oleh mereka yang mengkritik ekonomi pasar selama abad 19th dan 20th. Ekonomi Marxist
berlandaskan pada labor theory of value yang dasarnya ditanamkan oleh
classical economists (termasuk Adam Smith) dan kemudian dikembangkan
oleh Marx.
Pemikiran Marxist beranggapan bahwa capitalism adalah berlandaskan pada eksploitasi kelas pekerja. Pendapatan yang diterima oleh pekerja selalu lebih rendah dari nilai pekerjaan yang dihasilkannya, dan selisih itu diambil oleh
kaum kapitalis dalam bentuk profit.
Pada akhir abad 19th, kontrol dan arah dari industri skala besar berada di tangan financiers. Masa ini biasa disebut sebagai finance capitalism, yang dicirikan dengan subordinasi proses produksi ke dalam accumulation of
money profits dalam financial system. Penampakan utama capitalism pada masa ini mencakup establishment of huge industrial cartels atau monopolies, kepemilikan dan managemen dari industri oleh financiers berpisah dari
production process, dan pertumbuhan dari complex system banking, sebuah equity market dan corporate memegang capital melalui kepemilikan stock.
Tampak meningkat juga industri besar dan tanah menjadi subject of profit dan loss oleh financial speculators. Akhir abad 19 juga muncul marginal revolution yang meningkatkan dasar pemahaman ekonomi mencakup konsep-konsep seperti marginalism dan opportunity cost. Lebih lanjut, Carl Menger menyebarkan gagasan tentang kerangka kerja ekonomi sebagai opportunity cost dari keputusan yang dibuat pada margins of economic activity.
Akhir abad 19 dan awal abad 20 kapitalisme juga disebutkan segagai era monopoly capitalism, yang ditandai oleh pergerakan dari laissez-faire phase
of capitalism menjadi the concentration of capital hingga mencapai large monopolistic atau oligopolistic holdings oleh banks and financiers, dan dicirikan dengan pertumbuhan corporations dan pembagian labor terpisah dari shareholders, owners, dan managers.
Dalam perkembangan selanjutnya, ekonomi menjadi lebih bersifat statistical, dan studi tentang econometrics menjadi penting. Statistik memperlakukan
price, unemployment, money supply dan variabel lainnya serta perbandingan antar variabel-variabel ini menjadi sentral dari penulisan ekonomi dan menjadi bahan diskusi utama dalam lapangan ekonomi.

Pada kwartal terakhir abad 19, kemunculan dari large industrial trusts mendorong legislation di Amerika untuk mengurangi monopolistic tendencies dari masa ini. Secara berangsur-angsur pemerintah federal Amerika memainkan peranan yang lebih besar dalam menghasilkan antitrust laws dan regulation of industrial standards untuk key industries of special public concern. Pada akhir abad 19th, economic depressions dan boom and bust business cycles menjadi masalah yang tak terselesaikan. Long Depression dari tahun 1870-an dan 1880-an dan Great Depression dari tahun 1930-an berakibat pada nyaris keseluruhan capitalist world, dan menghasilkan pembahasan tentang prospek jangka panjang capitalism. Selama masa 1930s, Marxist commentators seringkali meyakinkan kemungkinan penurunan atau kegagalan capitalism, dengan merujuk pada kemampuan Soviet Union untuk menghindari akibat dari global depression.
Macroeconomics mulai dipisahkan dari microeconomics oleh John Maynard Keynes pada tahun 1920-an, dan menjadi kesepakatan bersama pada tahun 1930-an oleh Keynes dan lainnya, terutama John Hicks. Mereka mendapat ketenaran karena gagasannya dalam mengatasi Great Depression. Keynes adalah tokoh penting dalam gagasan pentingnya keberadaaan central banking
dan campur tangan pemerintah dalam hubungan ekonomi. Karyanya General Theory of Employment, Interest and Money menyampaikan kritik terhadap ekonomi klasik dan juga mengusulkan metode untuk management of aggregate demand. Pada masa sesudah global depression pada tahun 1930-an, negara memainkan peranan yang penting pada capitalistic system di hampir sebagian besar kawasan dunia.

Pada tahun 1929, sebagai contoh, total pengeluaran pemerintah Amerika Serikat (federal, negara, and lokal) berjumlah kurang dari sepersepuluh dari GNP. Pada tahun 1970-an jumlahnya meningkat mencapai sepertiga.
Peningkatan yang sama tampak pada industrialized capitalist economies, seperti France misalnya, telah mencapai ratios of government expenditures dari GNP yang lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Sistem economi ini seringkali disebut dengan mixed economies.
Selama periode postwar boom, penampakan yang luas dari new analytical tools dalam social sciences dikembangkan untuk menjelaskan social and economic trends dari masa ini, yang mencakup konsep post-industrial society dan welfare statism. Fase dari kapitalisme sejak awal masa pasca perang hingga 1970-an memiliki sesuatu yang kerap disebut sebagai state capitalism, terutama oleh pemikir Marxian.

Banyak ekonom menggunakan kombinasi dari Neoclassical microeconomics dan Keynesian macroeconomics. Kombinasi ini sering disebut sebagai Neoclassical synthesis, dominan pada pengajaran dan kebijakan publik pada masa sesudah perang dunia II hingga akhir 1970-an. Pemikiran neoclassical mendapat bantahan dari monetarism, yang dibentuk pada akhir 1940-an dan awal 1950-an oleh Milton Friedman yang dikaitkan dengan University of Chicago dan juga supply-side economics.

Pada akhir abad 20 terdapat pergeseran wilayah kajian dari yang semula berbasis price menjadi berbasis risk. Keberadaan pelaku ekonomi yang tidak sempurna dan perlakuan terhadap ekonomi seperti biological science, lebih menyerupai norma evolutioner dibandingkan pertukaran yang abstrak.
Pemahaman terhadap risk menjadi signifikan dipandang sebagai variasi price over time yang ternyata lebih penting dibanding actual price. Hal ini berlaku pada financial economics, di mana risk-return trade off menjadi keputusan penting yang harus dibuat.

Masa postwar boom yang lama berakhir pada tahun 1970-an dengan adanya economic crises experienced mengikuti krisis minyak pada tahun 1973.
Stagflation dari tahun 1970-an mendorong banyak economic commentators politicians untuk memunculkan neoliberal policy yang diilhami oleh laissez-faire capitalism dan classical liberalism dari abad 19, terutama dalam pengaruh Friedrich Hayek dan Milton Friedman. Terutama, monetarism, sebuah theoretical alternative dari Keynesianism yang lebih compatible dengan laissez-faire, mendapat dukungan yang meningkat dalam capitalist world, terutama dibawah kepemimpinan Ronald Reagan di U.S. dan Margaret Thatcher di UK pada tahun 1980-an.
Area perkembangan yang paling pesat kemudian adalah studi tentang informasi dan keputusan. Contoh pemikiran ini seperti yang dikemukakan oleh Joseph Stiglitz.

Masalah-masalah ketidakseimbangan informasi dan kejahatan moral dibahas di sini seperti karena mempengaruhi modern economic dan menghasilkan dilema-dilema seperti executive stock options, insurance markets,dan Third-World Debt Relief.
Jadi, konsep dasar ekonomi dan implementasinya tercermin dalam kegiatan pasar, perbankan, industri, perkembangan harga, penawaran, permintaan dan lain sebagainya dalam aspek kehidupan manusia. Bagian yang tak kalah penting adalah aspek manusia yang merupakan sumber dari segala daya.

Download e-Book Kamus Ilmiah Nama Latin Tumbuhan

Download e-Book Kamus Ilmiah Nama LatinTumbuhan


Berikut sebagian cuplikan dari e-Book kamus tsb
1. Akar Kucing Toddalisa asiatica
2. Akar Naga Poliypodium feei
3. Akar .Rumput Alternanthera sessilis
4. Akar Sambang Merremia peltata
5 Akar Slemang Merremia umbellata
6. Akar Wangi Andropogon zizanioides
7. Akasia Cassia sp
8. Alamanda Alamanda chatartica
9……dst…….
10. Babydoll Cordyline terminalis
11 Bacang Mangifera foetida
12 Bakau Bruguiera conyugata
13 Bakung Crinum asiaticum
14 Balam Palaquium qutta
15 Balam Merah Mallotus paniculate
16 Balam Merah Palaquium rostratum
17 Bambu Apus Gigantochloa apus
18 Bambu Ater Gigantochloa atter
19 Bambu Ater Gigantochloa atter
20 Bambu Bangkok Schizostachym caudatum
dst …sampai …..terakhir terdapat 1335 kata

e-Kamus ilmiah nama nama tumbuhan dikemas dalam file chm. Kapasitas hanya 113.61 kb
silakan ambil dengan klik Download

Alaat Peraga Manipulatif Dalam Pemebelajaran Matematika SD

Korban Kejahatan dan Reaksinya

Dindin Abdul Muiz Lidinillah
Pada akhir dekade 80-an terjadi perubahan paradigma dalam pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics, dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu tujuan utama dalam program pembelajaran matematika sekolah termasuk sekolah dasar.
Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. Salah satu tujuan pembelajaran matematika sekolah adalah “memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh”. (BSNP, 2006). Oleh karena itu, pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam kurikulum matematika sekolah mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Penguasaan setiap standar kompetensi selalu dilengkapi dengan suatu kompetensi dasar pemecahan masalah yang berkaitan dengan standar kompetensi tersebut.
Kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan kognitif tingkat tinggi. Sukmadinata dan As’ari (2005 : 24) menambahkan tahap berpikir pemecahan masalah setelah tahap evaluasi yang menjadi bagian dari tahapan kognitif Bloom. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan kognitif tingkat tinggi.
Keberhasilan proses pembelajaran menggunakan pendekatan pemecahan masalah sangat bergantung kepada guru dalam meramu strategi pembelajaran. Guru dituntut untuk mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan melatih siswa untuk menggunakan strategi-strategi pemecahan masalah. Masalah yang disajikan pada siswa bisa berupa soal matematika tidak rutin, soal cerita, masalah terbuka, teka-teki atau eksplorasi.
Pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar tentunya tidaklah semudah dengan dibayangkan, hal ini terutama karena kemampuan pemecahan masalah sebagai tahap berpikir tingkat tinggi, sementara siswa sekolah dasar masih dalam tahap Opreasional Konkrit menurut Piaget atau Enaktif menurut Bruner. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mengatasi kesenjangan ini melalui pembelajaran pemecahan masalah yang sesuai dan patut dengan siswa sekolah dasar.
Akan tetapi sering terlihat kenyataan di lapangan, guru cenderung hanya mengajarkan strategi pemecahan masalah yang kaku seperti menetapkan apa yang diketahui, ditanya dan membuat jawaban. Strategi ini secara teknis terlihat efektif tetapi justru disinilah letak berbagai kesulitan siswa muncul terutama untuk siswa kelas rendah. Guru hanya menuntut siswa untuk menyelesaikan soal dengan cara paper and pencil saja tanpa melatih strategi-strategi khusus serta tanpa menggunakan media yang layak digunakan oleh siswa dalam memecahkan masalah. Jika hal ini terjadi, maka akan terjadi kesenjangan antara pemecahan masalah sebagai tahap berpikir tingkat tinggi dengan cara berpikir siswa yang masih berpikir secara konkrit sehingga muncullah kesulitan-kesulitan yang terjadi oleh siswa.
Pentingnya penggunaan media atau alat benda manipulatif dalam kegiatan pemecahan masalah mendorong ditulisnya makalah ini yang memfokuskan kepada topik ”Penggunaan Alat Peraga Manipulatif dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika di Sekolah Dasar.”
Agar pemaparan makalah ini lebih terfokus, perlu merumuskan topik-topik permasalahan. Oleh karena itu, topik-topik permasalahan dalam makalah ini adalah tentang : 1) pengertian masalah dan pemecahan masalah matematika; 2) pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar; dan 3) penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar.

PENGERTIAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Pengertian Masalah Matematika
Moursund (2005:29) menyatakan bahwa seseorang dianggap memiliki atau mengalami masalah bila menghadapi empat kondisi berikut, yaitu :
􀂃Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi.
􀂃Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian.
􀂃Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini meliputi waktu, pengetahuan, keterampilan, teknologi atau barang tertentu.
􀂃Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapa tujuan.
Dalam pembelajaran matematika, masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita, penggambaran penomena atau kejadian, ilustrasi gambar atau teka-teki. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. Terdapat beberapa jenis masalah matematika, walaupun sebenarnya tumpang tindih, tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan soal matematika. Menurut Hudoyo (1997:191), jenis-jenis masalah matematika adalah sebagai berikut :
􀂃Masalah transalasi, merupakan masalah kehidupan sehari-hari yang untuk menyelesaikannya perlu translasi dari bentuk verbal ke bentuk matematika.
􀂃Masalah aplikasi, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan berbagai macam-maacam keterampilan dan prosedur matematika.
􀂃Masalah proses, biasanya untuk menyusun langkah-langkah merumuskan pola dan strategi khusus dalam menyelesaikan masalah. Masalah seperti ini dapat melatih keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah sehingga menjadi terbiasa menggunakan strategi tertentu.
􀂃Masalah teka-teki, seringkali digunakan untuk rekreasi dan kesenangan sebagai alat yang bermanfaat untuk tujuan afektif dalam pembelajaran matematika.

Pemecahan Masalah Matematika
Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari, 2006 : 24).
Menurut Polya seperti dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya, 1969) :
Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik ? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. Lebih dari itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah, harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah, tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar, tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik, fisika dan sebagainya, yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu, tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. (terjemahan).
Polya (dalam Sonnabend, 1993:56) juga mengatakan bahwa :
Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama dari kegiatan manusia … kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung.
Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. Menurut Polya (Suherman et.al., 2001 : 84), solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian, yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan; (2) Perencanaan penyelesaian masalah; (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah; dan (4) Melihat kembali penyelesaian.
Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et.al., 2000 : 2) terdapat 5 episode dalam memecahkan masalah, yaitu Reading, Analisys, Exploration, Planning/Implementation, dan Verification. Artzt & Armour-Thomas (Goos et.al, 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld, yaitu menjadi Reading, Understanding, Analisys, Exploration, Planning, Implementation, dan Verification. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. Sementara itu, Krulik dan Rudnik (1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai Heuristik. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa ada keharusan untuk dilakukan secara berurutan. Krulik dan Rudnik (1995) mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. Lima langkah tersebut adalah :
􀂃Read and Think (Membaca dan Berpikir) : mengidentifikasi fakta, mengidentifikasi pertanyaan, memvisualisasikan situasi, menjelaskan setting, dan menentukan tindakan selanjutya
􀂃Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan) : mengorganisasikan informasi, mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan, mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan, mengambar/mengilustrasikan model masalah, serta membuat diagram, tabel, atau gambar.
􀂃Select a Strategy (Memilih Strategi) : menemukan/membuat pola, bekerja mundur, coba dan kerjakan, simulasi atau eksperimen, penyederhanaan atau ekspansi, membuat daftar berurutan, deduksi logis, serta membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana
􀂃Find an Answer (Mencari Jawaban) : memprediksi, menggunakan kemampuan berhitung, menggunakan kemampuan aljabar, menggunakan kemampuan geometris, serta menggunakan kalkulator jika diperlukan
􀂃Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan) : memeriksa kembali jawaban, menentukan solusi alternatif, mengembangkan jawaban pada situasi lain, mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi), mendiskusikan jawaban, serta menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal.

Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika di SD
Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan, misalkan memecahkan soal-soal matematika. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi.
Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. Dalam pembelajaran matematika, pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi, yaitu bagaimana guru menyajikan soal-soal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah.
Dalam makalah ini, makna pembelajaran pemecahan masalah dibatasi sebagai proses belajar mengajar yang menjadikan pemecahan masalah sebagai konten dari pembelajaran. Siswa diajarkan tentang strategi pemecahan masalah dengan memberikan berbagai contoh soal yang berkaitan dengan konsep-konsep matematika yang dapat dan harus diselesaikan melalui strategi pemecahan masalah. Strategi pemecahan yang dimaksud adalah strategi-strategi yang digunakan untuk menyelesaikan soal tertentu seperti diantaranya yang dipaparkan pada langkah pemilihan strategi dalam pemecahan masalah (h.4).
Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran, pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti melalui pendekatan pembelajaran open ended, problem based learning (PBL), atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. Khususnya di SD, masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita, soal tidak rutin, teka-teki, atau pola bilangan. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita ditambah dengan ilustrasi gambar.

Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif
Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari, maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah; karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah; serta strategi-stratagi pembelajaran pemecahan masalah.
Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et.al.(1989).
􀂃Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar.
􀂃Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah.
􀂃Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal, atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal.
􀂃Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa), dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan.
􀂃Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. Oleh karena itu, tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa.
Menurut Reys, et.al. (1989), agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif, maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya, yaitu : waktu, perencanaan, sumber belajar-media, teknologi, serta pengelolaan kelas. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal.
Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru, sumber belajar : alat peraga atau media, serta teknologi. Menurut Piaget (Reys, et.al., 1989), karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys, et.al., 1989), masih dalam tahap enaktif dan ikonik. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan alat-alat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah.
Kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa juga sangat penting dalam hal ini. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu, klasikal ataupun kelompok. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran, tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Penilaian dalam Pemecahan Masalah
Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin, maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya.
Menurut Reys, et.al. (1989), beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah : observasi, inventori dan ceklis, dan paper and pencil test. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Sementara Krulik dan Rudnik (1995) menyebutkan beberapa metode penilaian yang dapat digunakan, yaitu : observasi, jurnal metakognitif, paragraf kesimpulan (summary paragraph), test, dan portofolio.
Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda, masalah masalah terbuka (open ended), dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Penilaian terhadap tes kinerja dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik.

Penggunaan Alat Peraga Manipulatif dalam pembelajaran Pemecahan Masalah di SD
Early examples of the benefits of a manipulative-based mathematics program can be seen in kindergarten and primary classrooms where young children are using manipulatives, such as Algebocks, to learn algebraic concepts such as patterns and functions. In turn, bubbleology and materials, like Zometools, plastic Polydrons, and connected drinking straws, are helping very young children learn about the properties of angle, shape, and congruence in geometry. (Kelly, 2006)
Berbagai teori belajar yang membahas tentang anak usia sekolah dasar terutama yang berkaitan dengan kemampuan kognitif yang menunjang dalam pembelajaran matematika menegaskan bahwa pembelajaran matematika harus mampu menjembatani kemampuan berpikir anak yang masih operasional konkrit (teori Piaget) dengan matematika yang secara konseptual abstrak.
Pada usia ini anak dapat berpikir logis tetapi secara perseptual orientasinya masih dibatasi dengan realitas fisik (Piaget, dalam Reys, dkk., 1989). Sementara menurut Bruner (Reys, et.al., 1989), anak melakukan manipulasi objek, mengkonstruksi, menyusun objek konkrit. Anak berinteraksi secara langsung dengan benda fisik. Pada tahap yang lebih tinggi anak mulai mampu menggunakan gambar untuk memahami situasi.
Gambaran tentang perkembangan anak seperti itu sesuai dengan kondisi usia siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika merupakan suatu tuntutan yang penting. Kelly (2006), seperti dikutip pada bagian awal bab ini, mengutarakan berbagai hasil penilitian yang menunjukkan bahwa peran alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika dapat membantu anak dalam memahami konsep-konsep matematika yang abstrak.
Pengertian Alat Peraga Manipulatif
Alat peraga manipalatif dalam hal ini merupakan bagian dari media pembelajaran yang berupa alat. Kelly (2006) menyatakan bahwa :
“The term, manipulative, will be defined as any tangible object, tool, model, or mechanism that may be used to clearly demonstrate a depth of understanding, while problem solving, about a specified mathematical topic or topics”
Menurut pengertian tersebut, alat peraga manipulatif (manipilative) tidak lebih berupa benda-benda, alat-alat, model, atau mesin yang dapat digunakan untuk membantu dalam memahami selama proses pemecahan masalah yang berkaitan dengan suatu konsep atau topik matematika.
Orang tua di rumah biasanya menyediakan berbagai mainan atau benda-benda untuk dimainkan oleh anak, tetapi tidak selamanya mainan atau benda-benda tersebut dapat digunakan untuk menanamkan konsep-konsep matematika. Benda-benda tersebut adalah murni mainan untuk memuat anak senang. Tetapi jika benda-benda tersebut berupa bentuk-bentuk geometri dengan aneka warna dan aneka ukuran, maka dapat dianggap sebagai benda manipulatif yang dapat menunjang terhadap proses belajar matematika.
Alat Peraga Manipulatif dalam Pemecahan Masalah Matematika
Secara alamiah, anak selalu berhadapan dengan masalah setiap saat, karena sebagian besar yang dihadapinya adalah hal yang baru. Sesuai dengan tahap perkembangannya, anak mengatasi dan memecahkan masalah melalui aktivitas yang berinteraksi langsung dengan benda-benda atau lingkungan secara nyata. Itulah cara anak belajar memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Anak usia sekolah dasar terutama di kelas rendah, masih cenderung berpikir konkrit dalam memahami suatu situasi. Oleh karena itu, untuk memahami situasi atau masalah dengan baik anak perlu bantuan alat peraga manipulatif. Alat peraga ini tidak hanya membantu memahami tetapi juga sebagai media untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Russer (Kelly, 2006) mengutarakan bahwa “children are active individuals who genuinely construct and modify their mathematical knowledge and skills through interacting with the physical environment, materials, teachers, and other children”. Maksudnya, anak cenderung akan lebih aktif dalam membangun dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan matematikanya dengan menggunakan alat peraga manipulatif selama aktivitas belajar baik secara formal maupun saat bermain bebas.
Sebagai contoh, siswa disediakan benda-benda konkrit untuk digunakan dalam menyelesaikan soal-soal cerita tentang operasi-operasi bilangan cacah. Model-model bangun geometri digunakan siswa untuk mengetahui sifat-sifat bangun geometri melalui kegiatan eksplorasi atau eksperimen.
Dalam menggunakan alat peraga manipulatif, guru harus menggunakannya secara efektif agar memperoleh manfaat yang baik. Guru perlu mengetahui kapan, kenapa, dan bagaimana menggunakan alat peraga manipulatif secara fektif di ruang kelas, meliputi kemungkinan dapat diamati (dinilai), dapat digunakan dengan baik, serta pengaruhnya dalam membantu proses belajar melalui eksplorasi alat peraga tersebut.
Kelly (2006) menyajikan suatu standar penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika khususnya dalam pemecahan masalah agar penggunaan dapat efektif, yaitu :
􀂃Alat peraga memuat petunjuk penggunaan dan pemeliharan yang jelas.
􀂃Alat peraga mengandung hubungan yang jelas dengan suatu konsep Matematika.
􀂃Penggunaan alat peraga diarahkan secara kerjasama atau kelompok kerja untuk membantu meningkatkan pemahaman matematikanya.
􀂃Guru mengatur waktu kegiatan eksplorasi siswa dengan baik agar siswa terbiasa mengatur waktu dalam belajar.
􀂃Alat peraga sebaiknya variatif dalam bentuk, ukuran, warna serta tingkatan pemahaman konsep yang diharapkan.
􀂃Alat peraga dapat digunakan dengan berbagai cara dalam memecahkan masalah untuk menumbuhkan kreativitas siswa.
􀂃Guru mendukung dan respek terhadap penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika agar siswa pun memiliki sikap yang baik terhadap pembelajaran matematika menggunakan alat peraga.
􀂃Guru menjamin ketersediaan alat peraga yang dibutuhkan siswa serta mudah untuk digunakan (diakses).
􀂃Guru mampu mengatasi kesulitan atau resiko yang terjadi dari penggunaan alat peraga.
􀂃Guru melaksanakan penilaian berbasis kinerja (performent-based assessment).
Standar-standar ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika.
Berkaitan dengan penilaian yang dilakukan, karena pembelajaran menggunakan alat peraga manipulatif, maka penilaian yang tepat adalah penilaian berbasis kinerja baik untuk menilai siswa selama bekerja dengan alat peraga manipulatif atau untuk menilai kemampuan siswa memecahkan masalah. Alat penilaian yang dapat digunakan adalah berupa rubrik baik rubrik analitik maupun rubrik holistik. Oleh karena itu, teknik penilaiannya bisa dengan observasi, portofolio dan inventori. Selain itu, tes tertulis pun dapat digunakan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika atau kemampuan penguasaan suatu konsep matematika.

PENUTUP
Pemecahan masalah adalah suatu kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa, seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran matematika dari fokus terhadap kemampuan berhitung dan rumus menjadi fokus terhadap kemampuan siswa dalam menggunakan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan mereka. Pemecahan masalah telah menjadi bagian dari tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum saat ini mulai dari jenjang sekolah dasar.
Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran, perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah.
Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah. Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok.
Pembelajaran pemecahan masalah sebagai suatu aktivitas matematika di sekolah dasar perlu ditunjang oleh alat peraga yang dapat dimanipulasi oleh siswa selama proses memecahkan masalah. Kenayataannya di lapangan adalah bahwa pembelajaran startegi pemecahan masalah cenderung mekanistik verbalis, hal ini kurang sesuai dengan tahapan berpikir siswa yang masih konkrit operasional.
Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit.
Peran alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika terutama pada aktivitas pemecahan masalah tidak sama seperti benda-benda mainan anak, tetapi lebih sebagai suatu kebutuhan yang menunjang dalam pembelajaran matematika agar lebih efektif, mengingat matematika memuat konsep-konsep yang abstrak.
Pentingnya penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika, menuntut guru untuk menyediakan dan menggunakan alat peraga manipulatif sesuai dengan standar-standar yang diacu agar pembelajaran matematika lebih efektif dan mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Mengakhiri tulisan ini, penulis mengakui bahwa makalah ini memuat tidak sedikit kekurangan dan kelemahan, berawal dari kesederhanaan topik bahasan dan terutama nilai dari pesan-pesan yang terungkap pada makalah ini. Tetapi mudah-mudahan, tema yang sederhana ini mampu untuk memberikan pengayaan dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah dasar, dan selebihnya untuk memperdalam wawasan penulis tentang tema yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, N.(——).Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo
Ashton, S.C. (——).Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature. Virginia : College of William and Mary Williamsburg. [online] tersedia http://www.wm.edu/… /Ashton.pdf
Goos, et.al.(2000). A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan. Queensland : The University of Queensland [online]. Tersedia http://www.cimt.plymouth.ac.uk/jornal/pgmoney.pdf
Hudoyo dan Sutawijaya. (1998). Pendidikan Matematika I. Jakarta. Dirjen Dikti Depdiknas
Jonassen, D.(2000). Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. [online] http://www.coe.missouri.edu/~jonassen/PSPaper%20 final.pdf
Kelly, Catherine A.(2006). Using Manipulative in Mathematical Problem Solving : A Performance Based Analysis. [online]. Tersedia
Krulik, Sthepen dan Rudnick, Jesse A. (1995). The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Temple University : Boston.
Marsound, D. (2005). Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers. Oregon : University of Oregon. [online]. Tersedia http://darkwing.uoregon.edu/…/ElMath.pdf
Ruseffendi, E.T. (1991). Penilaian Pendidikan dan Hasil Belajar khususnya dalam Pengajaran Matematika untuk Guru dan Calon Guru. Bandung: Tarsito.
Sanjaya, Wina. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. SPs UPI : Bandung
Suherman dkk .(2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Bandung
Sukmadinata & As’ari.(2006).Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak diterbitkan.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Pengantar Psikologi Politik;>>>> Baca

Memperkaya Pembelajaran Membaca Melalui E- Learning;>>>> Baca

Tentang Konsep Diri;>>>> Baca

Linguistik Umum;>>>> Baca

Konsep Sekolah Bertaraf Internasional;>>>> Baca

Evaluasi jabatan;>>>>>>>>> Baca

Pendidikan dan Kejeniusan Finansial

Pendidikan dan Kejeniusan Finansial
Oleh Dadang S. Anshori
Istilah kejeniusan finansial (financial Intellegent) pertama kali dilontarkan oleh Robert T. Kiyosaki (1997) dalam buku best seller-nya, Rich Dad, Poor Dad. Buku ini merupakan buku keduanya setelah buku pertamanya yang sangat menarik, If You Want To Be Rich and Happy, Don’t Go To School. Kiyosaki adalah generasi keempat dari pasangan Amerika-Jepang yang sangat jenius di bidang bisnis. Orang-orang menyebutnya sebagai Bapak Para Jutawan. Kritiknya yang paling tajam terhadap sekolah dan finansial adalah “Alasan utama orang bersusah payah secara finansial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tetapi tidak belajar apa pun tentang uang. Hasilnya adalah bahwa orang belajar untuk mencari uang… tetapi tidak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka.”
Rich Dad Poor Dad, adalah sebuah narasi tentang pendidikan finansial yang dilakoni Kiyosaki dari kedua ayahnya. Dia menyaksikan dua fenomena yang berbeda dari kedua ayahnya. Ayahnya yang terdidik dengan gelar Ph.D. mengajarkan agar Kiyosaki menjadi anak yang pintar dan mendapat ranking teratas agar bisa masuk perguruan tinggi exelent yang akhirnya mendapatkan pekerjaan yang prospektif kariernya. Ayahnya ini meyakini hanya dengan belajar keras dia akan menjadi orang sukses dan bekerja pada perusahaan besar yang menjanjikan karier yang hebat. Ayahnya yang lain, hanya lulus SMP dan dia mengajarkan agar mencari sesuatu di luar sekolah andaikan Kiyosaki ingin menjadi kaya. Ayahnya yang kedua inilah yang meyakinkan Kiyosaki bahwa sekolah tidak memberikan jawaban terhadap masa depannya. Namun demikian, Kiyosaki tetap berpandangan bahwa pendidikan itu perlu bagi fase kehidupan seseorang. Bagi Kiyosaki prilaku hidup ayahnya yang terdidik adalah prototipe masyarakat miskin, sementara ayahnya yang kedua mencerminkan sikap dan prilaku orang kaya. Orang miskin tidak pernah mengajarkan bagaimana memperkerjakan uang, hal yang dilakukan orang kaya kepada anaknya. Orang miskin hanya mengajarkan bagaimana anak-anak mereka mencari dan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
Sebagaimana diakui penulis kenamaan Zig Ziglar, buku ini memang sangat rasional untuk pendidikan finansial, bagi siapapun. Namun tentu, pengalaman dalam buku ini bersifat kasuistik. Setiap orang sukses, sebagaimana Kiyosaki, memiliki pengalaman bagaimana mereka menjadi sukses menuju kaya. Fadel Muhammad, untuk kasus Indonesia, adalah model yang representatif sebagaimana ia tulis dalam bukunya, Mengapa Memilih Menjadi Pengusaha. Model-model pengalaman semacam ini sangat bermanfaat bagi generasi muda yang hendak mengikuti jejak menjadi pengusaha atau paling tidak merintis menjadi wirausahawan. Yang ada selama ini hanya biografi-biografi yang sukses sebagai tokoh politik, sementara biografi dan pemikirannya dari kalangan pengusaha masih sangat langka.
Lantas apa hubungan buku tersebut dengan pendidikan? Bukan hanya berhubungan, namun menusuk pada fakus pendidikan kita yang sesungguhnya, yakni sejauhmana pendidikan bisa mempersiapkan peserta didiknya memahami realitas kehidupan yang dihadapinya sehingga secara mandiri dia bisa hidup secara sukses di tengah masyarakat. Dan jantung inilah yang dikritik oleh Kiyosaki. Pendidikan tidak mendeskripsikan tentang realita, dia lebih menarasikan mimpi-mimpi orang besar yang diraih karena disiplin dan kerja keras belajar serta raihan ranking yang tinggi. Sekolah
baru bisa mencetak manusia-manusia yang siap bekerja untuk mencari uang belum mampu mencetak manusia yang bisa mengelola uang agar bisa bekerja untuk dirinya.
Selama ini pendidikan belum mampu menjawab persoalan-persoalan sosial. Pendidikan belum match dengan realitas kehidupan. Bahkan untuk menumbuhkan sikap mandiri dan percaya diri (optimis) tidak cukup berhasil. Pendidikan tidak cukup mampu menghalau budaya-budaya limbah dalam bentuk budaya pop yang hadir di tengah-tengah masyarakat kita. Lihatlah misalnya budaya kampus yang telah jauh bergeser. Kampus nyaris mirip dengan supermall atau tempat-tempat keramaian lainnya. Mahasiswa lebih senang nongkrong di warung-warung kopi kampus daripada bersusah payah membaca atau melakukan penelitian di perpustakaan. Hal ini diperburuk dengan makin mudahnya mendapatkan gelar akademik. Seorang teman yang tidak lulus sarjana tiba-tiba memakai gelar MBA di belakang namanya. Seorang kepala sekolah yang tidak pernah bepergian ke luar negeri apalagi kuliah di luar negeri tiba-tiba mencantumkan gelar MBA, M.Sc. di belakang namanya. Mereka tidak pernah malu memakai gelar tersebut. Inilah masyarakat kita, suatu komunitas yang gila dengan simbol-simbol kebesaran dan gelar, sekalipun mereka tidak berproses untuk mendapatkan gelar ini. Apa boleh buat, masyarakat kita memang sudah rusak di sana sini.
Ketidakmampuan pendidikan menjawab persoalan sosial disebabkan kurikulum pendidikan sebagai ruh dari pendidikan tidak cukup antisipatif. Kurikulum pendidikan terlalu banyak dibebani oleh pesan-pesan politik yang tidak bermanfaat bagi kehidupan seseorang di masa mendatang. Kurikulum tidak dibuat untuk sebuah keberhasilan seseorang di masa mendatang, bahkan dari data empiris kurikulum kita lebih merupakan perangkat untuk mengekang seseorang dari kreatifitas kejeniusannya. Apa yang dikritik Kiyosaki adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi. Kurikulum tidak memberikan jawaban bagaimana para pembelajar hidup di zamannya, kurikulum hanya memberikan narasi tentang sebuah impian kehidupan.
Menurut pakar pendidikan J. Drost, kurikulum kita diperuntukkan bagi anak-anak jenius, karena terlalu banyaknya bobot materi yang harus dikuasai para siswa atau mahasiswa. Hal ikhwal kurikulum kita telah menjadi “gudang titipan” dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan masa depannya. Untuk menumbuhkan “jiwa patriotisme” generasi muda, dimasukkanlah mata ajar PSPB pada kurikulum di sekolah, yang terbukti tidak ada apa-apanya terhadap “jiwa patriotisme” tersebut dan akhirnya dihapus kembali. Lihatlah berapa mata kuliah titipan pada kurikulum perguruan tinggi untuk tetap menjaga “jiwa patriot” tersebut! Kurikulum pendidikan harusnya memberi bekal bagi para siswa atau mahasiswa untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan sesuai dengan prediksi-prediksi dan kecenderungannya.
Kini, akibat banyaknya siswa salah bergaul, disarankan agar pendidikan seks dimasukkan ke dalam kurikulum. Ini terjadi karena ketatnya kurikulum mengatur beban materi yang ada, sehingga guru tidak berkesempatan untuk mengekspresikan diri mencari dan memilih bahan yang diperlukan oleh siswa. Sesungguhnya guru-guru Biologi bisa menyajikannya dalam beberapa sesi pembelajaran atau guru ketatanegaraan dalam beberapa sesi budi pekerti. Ini tidak terjadi, karena mereka dibebani program mati kurikulum tanpa mampu melakukan apresiasi sendiri. Kegamangan ini tampak nyata sekalipun kurikulum disusun oleh para pakar. Dengan demikian, mestinya kurikulum dibebaskan dari pesan-pesan politis dan sosial agar dia benar-benar menjadi ruh pendidikan masa depan.
Itulah tampaknya argumentasi mengapa bagi sebagian orang, seperti halnya Kiyosaki, menyarankan untuk meninggalkan sekolah atau tidak datang ke sekolah bagi mereka yang hendak sukses secara finansial. Sekolah tidak menjanjikan secara finansial, karena di sekolah tidak diajarkan bagaimana uang bekerja untuk kita. Bagi orang-orang seperti Kiyosaki, berangkat ke sekolah hanya menyia-nyiakan waktu, yang sebenarnya akan sangat fungsional apabila dipakai untuk belajar. Memang bertahun-tahun kita bersekolah, separuh dari kehidupan kita dipakai untuk bersekolah dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Namun di sekolah kita tidak belajar bagaimana kesejahteraan itu berarti dan bekerja buat kita. Yang ada hanyalah kita bekerja keras untuk (mencari) kesejahteraan. Akibatnya, kita tak menemukan kesejahteraan karena kita menjadi budak dari kesejahteraan tersebut.
Menurut tokoh kecerdasan emosional, Goleman, 20 persen kesuksesan masa depan ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), sementara 80 persennya ditentukan oleh faktor lainnya yang dia sebut sebagai kecerdasan emosional (EQ). Ini artinya seseorang yang secara akademis berhasil belum tentu bisa sukses dalam kehidupan ini. Kita mungkin bisa mengambil beberapa teman sebagai contoh yang prestasi akademisnya sangat bagus, namun dia tidak sukses dalam bekerja, karena selalu berselisih dan egois dengan teman di lingkungan kerjanya. Akhirnya dia tidak disenangi sejawatnya dan karena tidak berteman dan merasa dikucilkan akhirnya dia memutuskan keluar dari pekerjaan. Setiap saat dia melakukan yang sama dan dia tidak bisa meniti karier secara baik.
Kalau demikian, apa yang sesungguhnya bisa dilakukan dunia pendidikan untuk kesuksesan seseorang? Secara kuantitatif (ukuran normatif) pendidikan memberikan tempat pada seseorang. Pendidikan memungkinkan seseorang untuk meraih dan membuka kesempatan. Ini tidak dialami oleh orang yang tidak memiliki pendidikan cukup. Pendidikan juga berkontribusi pada watak (karakter) dan cara berpikir seseorang. Manusia-manusia terdidik cenderung lebih rasional dan objektif dalam memandang sesuatu. Demikian pula, secara emosional lebih mapan dan stabil. Inilah beberapa hal yang bisa diberikan pendidikan kepada masyarakat.
Sekolah memang tidak mengajarkan bagaimana hidup dan bagaimana mengantisipasi persoalan dalam hidup. Sekadar memberi bekal agar kita bisa hidup juga kurang memadai. Sistem pendidikan kita masih gamang dalam menangkap ke mana dan bagaimana harus mendidik bangsa ini. Sistem pendidikan kita masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Memang saatnya kita merekonstruksi kembali sistem pendidikan, terutama kurikulum yang sudah sangat tertinggal. Kurikulum harus diformat untuk kesuksesan masa depan bukan dibuat untuk kegagalan masa depan.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Relasi dan Ketertarikan Sosial;>>>> Baca

Memahami Masyarakat Perkotaan;>>>> Baca

G-30-S dalam Kesaksian Subandriya;>>>> Baca

Prinsip-Prinsip Belajar;>>>> Baca

Fungsi dan Makna Afiks dari bahasa Asing;>>>> Baca

Home Visit Tindakan Preventif Mengurangi Permasalahan Sekolah ;>>>>>>>>> Baca

Memperkaya Pembelajaran Membaca Melalui E- Learning


Memperkaya Pembelajaran Membaca Melalui E- Learning


Prana D. Iswara
Pembelajaran membaca melalui e-learning dilakukan sebagai upaya memperkaya pembelajaran membaca yang dilakukan di kelas. Dalam menyelenggarakan pembelajaran membaca melalui e-learning, pengajar mesti menguasai sejumlah prosedur serta pengetahuan tertentu selain materi pembelajaran. Prosedur login dalam e-learning dan pengajaran prosedur login merupakan salah satu contoh prosedur yang penting untuk dikuasai pengajar dan pembelajar. Pengetahuan lainnya berkenaan dengan e-learning di antaranya . Pengembangan materi pembelajaran pun penting di dalam e-learning. Materi pembelajaran yang dapat dikembangkan di antaranya berupa file suara (ceramah, mp3, wav), film (3gp, mp4) selain file teks (hypertext, html, txt, doc, xls), gambar (jpg), atau animasi (gif, swf). Dari sisi materi, pengajar dapat menerapkan salah satu strategi membaca misalnya strategi POSSE.
Pembelajaran di kelas pada saat ini tidak diragukan lagi merupakan tempat yang efektif dan efisien bagi pembelajaran membaca. Bila orang berbicara tentang pengajaran atau pembelajaran membaca, yang dibayangkan oleh orang ini adalah sebuah suasana kelas, keteraturan bertemu, terjadwal, di tempat dan waktu tertentu. Pada prinsipnya pembelajaran di kelas dilaksanakan dengan sistem sinkronus (kesamaan waktu dan tempat).
Pada hari ini, selain terdapat pembelajaran di kelas (klasikal) terdapat pula pembelajaran melalui internet. Pembelajaran melalui internet ini akan mengabaikan aspek sinkronus. Pembelajar dapat belajar dari internet dan membuka berkas-berkas yang disimpan oleh pengajar di internet. Dengan demikian, waktu yang diperlukan oleh pembelajar untuk membuka internet tidak perlu bersamaan dengan waktu yang dilakukan pengajar untuk menyimpan materi pembelajaran di internet. Demikian pula tempat yang didiami pembelajar tidak perlu relatif sama dengan tempat yang didiami pengajar.
Pada hari ini, sejumlah materi pembelajaran diadministrasikan melalui e-learning. Kadang-kadang materi itu tidak secara eksklusif untuk pengguna internet tertentu saja, melainkan semua pengguna internet dapat memanfaatkan (membaca) materi pelajaran itu. Selain itu pembelajar pun dapat memanfaatkan materi-materi yang disampaikan oleh pengajar atau ahli lain yang akan memperkaya materi yang dibutuhkannya.
Sekalipun e-learning menawarkan sejumlah kelebihan daripada pembelajaran di kelas, pembelajaran di kelas (klasikal) tidak dapat dihilangkah sama sekali. Dengan demikian, sebenarnya, e-learning memperkaya pembelajaran di kelas dan tidak menggantikannya sama sekali. Pembelajar mencari sumber-sumber (materi) dari internet untuk memperkaya materi yang didapatkannya di kelas.
Pembelajaran berbasis internet merupakan tambahan dari pembelajaran-pembelajaran klasikal (di kelas). Biasanya pengajar menugasi pembelajar untuk mencari bahan-bahan di internet untuk didiskusikan di kelas. Pengajar pun menyimpan beberapa materi atau sumber penting yang dapat dilihat (dibaca) dan dimanfaatkan pembelajar yang membuka internet.
Apakah pembelajaran e-learning itu?
Untuk menjawab permasalahan apakah e-learning itu, seseorang lebih mudah menunjukkan barangnya. Hal itu mirip dengan seseorang yang bertanya, apakah mobil atau telepon selular (ponsel) itu? Orang yang hendak memberi penjelasan kepada orang
yang ingin tahu itu lebih mudah menunjukkan mobil atau ponsel daripada menguraikan definisinya.
Salah satu contoh e-learning adalah situs http://kd-sumedang.upi.edu. Situs ini merupakan situs resmi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang. Pada situs ini pengguna yang hendak menggunakan materi-materi (resources) yang ada di dalamnya mesti mendaftar dulu (registrasi). Tanpa registrasi seseorang tidak dapat memperoleh materi-materi yang ada di situs ini. Registrasi ini sangat penting karena aktifitas pembelajar akan dinilai. Pada e-learning pun pembelajar dapat menyampaikan tugas serta mengerjakan sejumlah tes. Bila pembelajar tidak teregistrasi, tentu prestasinya tidak dapat dipantau.
E-learning diadministrasikan dengan menyimpan file-file penting bagi pembelajaran di internet. Dengan demikian pembelajar dapat membuka dan mempelajarinya. E-learning pun memungkinkan pengajar dan pembelajar menyimpan dan mendiskusikan jaring hubungan (link web) di situs e-learning.
Bermacam-macam file yang memungkinkan disimpan di server atau situs, di antaranya file teks (hypertext, html, txt, doc, ppt, xls), gambar (jpg), animasi (gif, swf), suara (amr, mp3, wav) atau film (3gp, dat, avi). Dengan cukup banyaknya jenis file yang dapat disimpan di situs, kreatifitas pengajar pun semestinya ditingkatkan. Seorang pengajar memungkinkan untuk membuat video dari telepon selular berkenaan dengan sebuah presentasi atau penjelasan. Pengajar pun dapat merekam ceramah melalui pesawat mp3 player atau telepon selular dan menyimpan rekaman ceramah itu di situs. Pembelajar dapat menyimak dan mengkopi file ini dan memutarnya pada komputer atau telepon selular yang dimilikinya.
Beberapa Fitur Membaca melalui Internet
Telah diuraikan di atas bahwa materi bacaan di internet sangat melimpah-ruah. Pengajar tidak hanya dapat menunjukkan sumber-sumber materi penting yang ada di internet, tetapi juga mendiskusikan sumber-sumber materi penting yang diperoleh pembelajar. Dengan demikian, prestasi pembelajar yang menonjol merupakan catatan tersendiri bagi pengajar. Pengajar akan mudah menentukan pembelajar yang menonjol pengetahuannya dengan prestasi yang signifikan.
Dalam pembelajaran membaca, pengajar dapat leluasa memilih bacaan bagi pembelajar. Pembelajar dapat memilih tema yang menarik dan cocok bagi pembelajar. Dengan melimpahnya bacaan bagi pembelajar, pemilihan bacaan akan lebih bervariasi. Tema yang mungkin menarik bagi pembelajar akan dikaitkan dengan muatan lokal yang sesuai dengan wilayah pembelajar. Tema ini relevan sebagai bacaan di jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.
Pemilihan tema bacaan ini mesti didiskusikan oleh pengajar dengan pembelajarnya. Boleh jadi pengalaman pembelajar cukup banyak untuk memberi bekal wawasan kepada pembelajar untuk mengeksplorasi tema-tema ini. Tema buah dan sayuran hasil tani dan perkebunan, misalnya, merupakan tema yang penting untuk dibahas. Saat dunia dilanda krisis pangan, Indonesia sama sekali tidak merasakannya karena kekayaan alam dan kreatifitas masyarakatnya. Indonesia bahkan tidak perlu lagi mengimpor beras karena hasil beras di dalam negeri dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tema lainnya yang dapat dipilih di antaranya karet dan kelapa sawit sebagai perkebunan unggul, pabrik kapur di Bongas, pabrik semen di Palimanan, tambang
minyak di Indramayu, perikanan emas dan nila, peternakan kambing dan sapi, tambak udang.
Kekayaan bumi Indonesia akan minyak, timah, emas merupakan kekayaan alam yang mesti diolah dengan kepintaran dan kejujuran. Wacana-wacana seperti ini dengan pengantar yang baik dari pengajar akan menjadikan orientasi pembelajaran terarah. Dengan demikian, pembelajar dapat memanfaatkan wacana-wacana ini sebaik-baiknya.
Penelitian Membaca melalui Internet
Melihat perkembangan internet dan pembelajaran melalui internet yang melaju tanpa henti, peluang penelitian melalui internet pun terbuka lebar. Penelitian pendidikan berkenaan dengan internet ini pun setahap demi setahap akan berkembang. Beberapa peluang pun dapat dilihat dari para pengguna internet berkenaan dengan proses pembelajaran melalui internet. Pengajar dapat mengembangkan penelitian-penelitian berkenaan dengan penggunaan internet di dalam pembelajaran. Sekalipun internet hanya merupakan tambahan atau pemerkaya pembelajaran di kelas, pembelajaran melalui internet terus melaju dan berkembang. Penelitian pembelajaran melalui internet pun menjadi bagian dari penelitian pembelajaran yang tidak dapat dihalangi lagi.
Salah satu proyek penelitian yang dapat dilakukan dalam pembelajaran (membaca) melalui internet adalah prosedur log in. Prosedur log in ini terlihat sepele. Namun, berdasarkan pengalaman pembelajaran e-learning, prosedur log ini ini, bila tidak dilakukan dengan tepat akan menghambat pembelajaran. Di dalam prosedur log ini, terdapat kegagalan log in yang dapat mengakibatkan menurunnya motivasi pembelajar melanjutkan eksplorasi materi pembelajaran.
Prosedur ini dapat dikembangkan menjadi sejumlah prosedur operasional baku (POB, standard operating procedure). Hingga saat ini, untuk pembelajaran membaca terdapat setidaknya sepuluh prosedur operasional baku. Prosedur operasional baku yang telah disusun di antaranya (1) prosedur pendaftaran pembelajaran e-learning, (2) prosedur pengerjaan tugas dan evaluasi bagi pembelajar, (3) prosedur pemuatan bahan belajar e-learning, (4) prosedur penanganan kesulitan pembelajar, (5) prosedur penyusunan serta pemeriksaan tugas, (6) prosedur penyusunan evaluasi membaca, (7) prosedur pemilihan wacana, (8) prosedur pengukuran keterbacaan, (9) prosedur pemeriksaan tugas dan tes membaca, serta (10) prosedur pencatatan karakteristik pembelajar.
Proyek penelitian lainnya ialah pengembangan materi pembelajaran. Materi pembelajaran dapat dikembangkan misalnya berkenaan dengan strategi membaca, model membaca, metode membaca atau teknik membaca. Pengetahuan pembelajar yang paripurna berkenaan dengan strategi membaca merupakan kekayaan yang mesti dimiliki pembelajar. Pengajar dapat mengumpulkan materi dan menyimpan materi ini di internet. Selain itu penggunaan strategi membaca ini pun mesti dilatihkan bagi pembelajar calon pengajar.
Keterampilan membaca diyakini tidak akan diperoleh dengan hanya melakukan satu atau dua kali latihan. Karena itu pengembangan latihan-latihan membaca berbasis internet pun sangat menarik untuk dilakukan. Pengembangan latihan membaca berbasis internet ini mesti dilakukan dengan keterampilan pengajar yang berkompeten di bidangnya. Beberapa prosedur latihan pembelajaran membaca melalui internet dapat dikembangkan di dalam penelitian pendidikan membaca. Latihan membaca ini mesti
diujikan kepada pembelajar sebagai sejumlah pertanyaan yang mesti dijawab pembelajar. Administrasi ujian melalui internet mesti dapat diskor dan dinilai oleh komputer di bawah pengawasan pengajar. Pengajar bertanggung jawab terhadap nilai pembelajar. Pengajar pun berkewajiban memberikan tindak lanjut berupa pengayaan (enrichment) atau remedial bagi para pembelajarnya.
Pengembangan materi bacaan lainnya ialah berupa pencarian bahan bacaan atau hubungan (link) pada bahan bacaan yang menarik dan penting bagi pembelajar. Pencarian bahan bacaan ini termasuk juga pengujian keterbacaan, pemilihan tema. Bacaan yang telah dipilih selanjutnya dibuatkan pertanyaan yang relevan dengannya. Pertanyaan untuk tes semestinya mencakup tingkat kesulitan yang bervariasi seperti pertanyaan kategori kognitif ingatan (C1), terjemahan (C2), interpretasi / pemahaman (C3), aplikasi (C4), analisis (C5), sintesis (C6) dan evaluasi (C7).
Proyek penelitian lainnya ialah pengembangan materi berupa file suara (ceramah, mp3, wav), film (3gp, mp4) selain file teks (hypertext, html, txt, doc, xls), gambar (jpg), atau animasi (gif, swf). Penelitian ini dapat berupa penelitian efektifitas dan efisiensi. Tentu saja pengembangan file-file itu harus disertai dasar studi yang cermat dan tepat. Bila file-file itu dikembangkan dengan terburu-buru, mungkin saja terdapat kekurangan alih-alih meningkatkan motivasi dan keterampilan pembelajar. Keahlian ini bisa saja menjadi pelengkap keahlian pengajar-pengajar di masa depan. Keahlian berinternet pun mesti menjadi proyeksi keahlian calon pengajar dari suatu lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).
Proyek penelitian lainnya ialah pengembangan prosedur membaca (strategi membaca POSSE). Hal ini termasuk pemantauan prosedur pengajar dan perilaku (aktifitas) pembelajar serta kemampuan membaca pembelajar. Strategi membaca POSSE ialah terdiri atas langkah memprediksi, mengorganisasi / menyusun, membaca struktur, merangkum, mengevaluasi (Predict, Organize, Search for structure, Summarize, Evaluate) Strategi membaca POSSE semestinya dilakukan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan membaca. Strategi membaca POSSE, contohnya, merupakan model yang mendorong pelakunya untuk membaca bacaan dan memahami isinya. Dengan demikian, detail huruf atau detail kalimat tidaklah mesti benar-benar diperhatikan. Yang penting adalah pemahaman dari teks yang dibacanya. Perilaku seperti ini mesti dengan cermat diteliti sebagai bagian dari penelitian membaca melalui internet.
Pembelajaran e-learning biasanya merupakan pembelajaran eksklusif yaitu setiap orang mesti terdaftar (teregistrasi) di dalam situs e-learning itu. Pembelajaran yang inklusif tidak memungkinkan penilaian bagi setiap pembelajar karena biasanya pembelajaran inklusif tidak mengharuskan registrasi bagi penggunanya. Sekalipun demikian, pembelajar yang eksklusif ini pun dapat memperkaya pengetahuannya dengan mengakses dan melihat sumber-sumber yang inklusif. Pada sisi ini, pengajar mesti menjadi penengah bila pembelajar menemui kebuntuan karena melimpahnya bahan-bahan pembelajaran. Pengajar mesti memberi petunjuk agar pembelajar tidak tersesat dalam rimba pengetahuan tanpa ujung-pangkalnya. Pengajar mesti dengan bijak menjelaskan batasan suatu istilah yang mungkin sangat beragam di internet. Pengajar mesti membekali pembelajar dengan pengetahuan yang dapat dijadikan model untuk dikembangkan lagi oleh pembelajar.
Penelitian selanjutnya yang penting di dalam pembelajaran membaca melalui internet adalah asesmen. Asesmen yang dilakukan dapat berupa tes, pretes, postes, tes formatif atau tes sumatif. Segala tes yang diadministrasikan di kelas dapat dicobakan untuk diadministrasikan melalui internet. Tentu saja prosedur administrasi tes melalui internet yang berbeda dengan prosedur administrasi tes di kelas ini akan sangat menarik untuk diteliti.
Penelitian melalui internet dapat dikembangkan dengan paradigma kualitatif ataupun kuantitatif. Paradigma kualitatif sangat kuat untuk menguraikan perubahan perilaku pembelajar berkenaan dengan keterampilan mengeksplorasi situs e-learning. Di beberapa negeri, di belahan dunia, perilaku berlebihan seperti kecanduan internet atau fobia internet menjadi fenomena yang menarik untuk diwaspadai pengajar dan pembelajar. Selain paradigma kualitatif, paradigma kuantitatif pun dapat digunakan. Berbagai teknik statistik juga mungkin untuk digunakan. Dengan demikian, penelitian-penelitian pembelajaran di kelas konvensional pada umumnya dapat diusahakan untuk dilakukan pula pada penelitian pembelajaran yang memanfaatkan internet.
Beberapa Bantuan dalam Pembelajaran Internet
Beberapa kegiatan dapat dilakukan untuk membantu pembelajaran melalui internet di antaranya penggunaan messenger untuk bercakap-cakap (chat, chatting), dan blog untuk mengekspresikan pengetahuan.
Yahoo! Messenger (YM) adalah program untuk bercakap-cakap dengan pengguna internet lain. Program ini sangat massal dan kerap digunakan oleh pengguna internet. Program ini sangat bermanfaat bagi pembelajaran melalui internet umumnya dan pembelajaran membaca melalui internet pada khususnya. Dengan program YM seorang pengajar dapat melakukan konferensi, telekonferensi atau video konferensi dengan para
pembelajarnya. Video konferensi hanya memungkinkan jika pada komputer terdapat kamera. Telekonferensi ini memungkinkan seseorang pembelajar bertemu dan seolah berhadapan padahal pembelajar ini sebenarnya berbeda kota atau bahkan berbeda negara (berbeda tempat) dengan pengajarnya. Bila pembelajar sedang berada di kelas, pengajar tak perlu selamanya berada di depan kelas. Bila pembelajar sedang belajar di komputer sekolah, pengajar tak perlu selamanya berada di depan pembelajar karena komputer akan melayani pembelajaran yang dilakukan pembelajar itu.
Melalui YM, pembelajar dapat mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang penting dengan pengajarnya. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dikirimkan kepada pengajar sekalipun pengajar tidak sedang berinternet (online). Pengajar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pengajar ketika ia kembali berinternet. Pembelajar pun selain dapat menerima jawaban ketika sedang berinternet, ia pun dapat menerima jawaban ketika sedang tidak berinternet (offline). Dengan demikian, penggunaan YM sedikit lebih baik daripada e-mail saja karena penggunanya dapat bercakap-cakap langsung pada saat yang bersamaan (real time, sinkronus).
Pada saat ini, beberapa tugas dapat dipertimbangkan untuk diadministrasikan melalui blog. Blog yang ada di internet misalnya di blogger (http://www.blogger.com), wordpress (http://www.wordpress.com), typepad (http://www.typepad.com), atau blogware (http://home.blogware.com). Sebuah blog bisa juga terintegrasi dengan situs-situs sosial seperti facebook (www.facebook.com), friendster (www.friendster.com), multiply (www.multiply.com) atau orkut (www.orkut.com). Situs sosial biasanya lebih mengedepankan profil (tentang penulis) daripada tulisannya. Pada e-learning berbasis Moodle (http://moodle.org misalnya situs e-learning kd-sumedang.upi.edu) terdapat fasilitas bagi pembelajar untuk menulis blog. Karena itu menulis di blog pada e-learning berbasis Moodle bisa saja dinilai dan berpengaruh pada pendidikan.
Blog dapat dikembangkan oleh pengajar sebagai bagian dari penelitiannya atau risetnya tentang suatu hal. Validasi tulisan pada sebuah blog memang tidak memiliki ukuran. Ada penulis blog (atau disebut blogger) yang menulis khayalan-khayalan atau fantasi-fantasi di blognya. Ada pula penulis blog yang hanya menulis berita atau tulisan ilmiah di blognya.
Bantuan lainnya yang memungkinkan di dalam pembelajaran melalui internet adalah pemanfaatan asisten di dalam kelas. Pengajar dapat mengangkat asisten-asisten dari pembelajar yang mempunyai bakat (talenta) yang tinggi dan mengelompokkan pembelajar berdasarkan jumlah asisten yang dimilikinya. Sebagai contoh, pembelajaran menulis menuntut pemeriksaan tulisan dari sisi ejaan, tata kalimat dan materi. Pengajar dapat memanfaatkan asisten untuk memudahkan proses belajar mengajar yang dilakukannya. Pada pembelajaran membaca, pengajar pun dapat mengangkat asisten dan menilai pembelajar berdasarkan kemampuan membaca dan tugas-tugas membaca mereka. Pengangkatan asisten ini sangat memungkinkan bagi kelas-kelas gemuk. Di Indonesia, kelas-kelas yang ada pada umumnya adalah kelas gemuk. Bila diasumsikan kelas ideal terdiri atas 20 pembelajar, kelas gemuk di Indonesia bisa mencapai 40 atau 50 pembelajar pada setiap kelasnya. Kelas gemuk sangat memungkinkan untuk pengangkatan asisten selama asisten ini cukup cakap dan dapat dipercaya membantu pengajar.
Bagi institusi atau lembaga yang mendidik calon pengajar (LPTK), keberadaan asisten ini sangat memungkinkan. Tugas calon pengajar adalah menjadi berusaha pengajar yang baik dan mencoba menjadi pengajar yang baik sebagaimana pengajarnya atau bahkan lebih baik daripada pengajarnya.
Penutup
Penelitian membaca berbasis internet merupakan penelitian yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan. Penelitian ini dapat dikembangkan mulai dari penelitian yang sederhana maupun penelitian yang kompleks. Penelitian yang mencakup satu atau dua variabel pembahasan pun tak kalah pentingnya bagi pengembangan pembelajaran melalui internet. Penelitian-penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi sumbangan pendidikan pada umumnya.
E-learning akan memperkaya pembelajaran membaca yang dilakukan di kelas-kelas konvensional (klasikal). Potensi ini tak kurang menariknya untuk dikembangkan di tingkat pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi.
Daftar Pustaka
Alwasilah, A.C.; S.S. Alwasilah (2005) Pokoknya Menulis: Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bachman, L.F. (1990) Fundamental Considerations in Language Testing. Oxford: Oxford University Press.
Damaianti, V.S. (2001) Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Bidang Pendidikan Membaca. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Hardjasudjana, A.S. (dkk) (tanpa tahun) Materi Pokok Membaca. Jakarta: Penerbit Karunika Jakarta-Universitas Terbuka.
Hardjasudjana, A.S.; V.S. Damaianti (2003) Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara.

http://jurnal-sastra.blogspot.com

http://kd-sumedang.upi.edu

http://moodle.org

Iswara, P.D. (2008) Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui Model Membaca Top Down berbasis Teknologi Informasi dalam Bahasa Indonesia (Studi Pengembangan terhadap Mahasiswa Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus Sumedang). Naskah Disertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.
McCutchen, D. (2003) Psychology of Reading. tersedia online di alamat http://education.washington.edu/areas/ep/courses/syllabi/EDPSY520Spr03.ppt & http://education.washington.edu/areas/ep/courses/syllabi/EDPSY520Wtr05.pdf
McMillan, J.H; S. Schumacher (1989) Research in Education: A Conceptual Introduction (2nd edition). Virginia: Harper Collins.
Moeliono, A. dkk (1998) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Nurhadi (2004) Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan Latihan). Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Tampubolon, D.P. (1990) Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efetif dan Efisien. Bandung: Angkasa.
Tarigan, H.G. (1983) Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Van Dalen, D.B. (1962) Understanding Educational Research. New York: McGraw-Hill.
Westwood, P. (2008) What Teachers Need to Know About Reading and Writing Difficulties. Camberwell: ACER Press.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Sejarah Kuno Bangsa Amerika;>>>> Baca

Obedience dan Compliance;>>>> Baca

Download Timer;>>>> Baca

Profesi Keguruan;>>>> Baca

Fungsi Motivasi dalam Belajar;>>>> Baca

Metode Diskusi dalam Pembelajaran ;>>>>>>>>> Baca

Memahami Masyarakat Perkotaan

Memahami Masyarakat Perkotaan

Salah satu satuan sosial atau sistem- sosial, atau kesatuan hidup manusia yang paling lumrah ditulis dan dituturkan baik dalam kasus ilmiah maupun keseharian adalah masyarakat. Istilah asingnya (Inggris) adalah society; sedangkan istilah masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab, svareha; yang berarti ikut serta atau partisi’pasi; kata masyarakat berarti saling bergaul atau interaksi, satu dengan yang lainnya saling memberikan makna. Kebermaknaan seseorang boleh dikatakan hanya ada manakala ia berada di dalam kelompok, komunitas, atau masyarakatnya. Masyarakat, sebagai suatu satuan kehidupan sosial manusia, menempati suatu wilayah tertentu yang keteraturan dalam kehidupan sosial tersebut telah dimungkinkan I oleh adanya seperangkat pranata sosial yang telah menjadi tradisi dan kebudayaan yang mereka miliki bersama (Parsudi Suparlan, 1982).
Pranata sosial dimaksudkan sebagai seperangkat aturan-aturan yang berkenaan dengan kedudukan dan penggolongan stniktur satuan kehidupan sosial yang mengatur peran dan hubungan kedudukan, tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Sumber dari aturan-aturan tersebut mungkin dari tradisi, kebudayaan, dan kepercayaan (termasuk agama) yang dimiliki, dianut, dan dikembangkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
Kebudayaan sebagai obyek formal dari kaj ian antropologi, hal ini dapat disimak dari salah satu detinisi antropologi itu sendiri yang berbunyi bahwa antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaanhya (Parsudi Suparlan, 1982), Sedangkan kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapinya dan untuk menciptakan serta medorong terwujudnya kelakuan.
Kata dasar tradisi adalah traditura, yang berarti barang sesuatu yang diteruskan (transmitted) dari masa lalu ke masa sekarang, turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikut-nya; apakah itu berupa benda, tingkah laku, nilai-nilai, norma-norma, harapan atau cita-cita dan berbagai bentuk gagasan atau ide. Konsepsi tradisi diciptakan melalui tindakan atau kelakuan, pikiran dan imajinasi orang-orang, yang kemudian diteruskau dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Pudjiwati Sajogyo, 1985).

Masyarakat Kota Sebagai Inovator

Masyarakat perkotaan sering diidentikkan dengan masyarakat modern (maju); dan tidak jarang pula dipertentarig-kan dengan masyarakat pedesaan yang akrab dengan sebutan masyarakat tradisionat terutama dilihat dari aspek kulturnya. Adapun ciri-ciri sebuah masyarakat modern (maju) antaralain (1) hubungan antara sesama nyaris hanya didasarkan pada pertimbangan untuk kepentingan pribadi; (2) hubungan dengan masyarakat lain berlangsung secara terbuka dan saling mem-pengaruhi; (3) mereka yakin bahwa iptek memiliki kemanfaatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya; (4) masyarakat kota berdeferensi atas dasar perbedaan profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan serta pelatihan; (5) tingkat pendidikan masyarakat kota relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan; (6) aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat perkotaan lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat kompleks; (7) tata ekonomi yang berlaku bagi masyarakat kota uniumnya ekonomi-pasar yang berorientasi pada nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya. Ciri-ciri ini berskala kelompok atau masyarakat.
Adapun karakteristik yang berskala individu sebagai manusia modern (maju) antara lain (1) selalu bersikap menerima perubahan setelah memahami adanya kelemahan-kelemahan dari situasi yang rutin; (2) memiliki kepekaan pada masalah yang ada di sekitarnya dan menyadari bahwa masalah tersebut tidak lerlepas dari kebcradaan dirinya; (3) lerbuka bagi pengalaman-pengalaman barn (inovasi) dengan disertai sikap yang tidak apriori atau prasangka; (4) untuk setiap pendiriannya selalu dilengkapi informasi akurat; (5) ia lebih berorientasi pada masa mendatang yang didukung oleh kesadaran bahwa masa lampau sebagai pengalaman dan masa sekarang sebagai suatu fakta, sedangkan masa mendatang sendiri sebagai harapan yang mesti diperjuangkan; artinya, bahwa ketiga pengalaman waktu itu merupakan suatu sikuen; (6) ia sangat memahami akan potensi dirinya, dan potensi tersebut ia yakin dapat diicernbangkan; (7) ia selalu berusaha untuk terlibat dan peka terhadap perencanaan; (8) ia selalu menghindar dari situasi yang fatalistik dan tidak mudah menyerah pada keadaan atau nasib; (9) ia meyakini akan manfaat iptek sebagai sarana dalam upaya meningkatkan kesejahteraan manusia; (10) ia memahami dan menyadari serta menghormati akan hak-hak dan kewajiban serta kehormatan pihak lain

Ciri-ciri individu dan masyarakat tadi tidak mudah untuk niembangunnya: artinya, bahwa unsur-unsur tradisi yang telah melekat dalam diri individu atau masyarakat yang bersangkutan tidak mudah pula untuk menghilangkannya, Mesti dicatat pula bahwa tidak semua unsur tradisi bersifat usang atau menjadi penghambat proses modernisasi, tetapi justru ada sejumlah unsur tradisi yang temyata potensial dan mendukung pembaruan sehingga seyogianya dipelihara serta dikembangkan. Ada sejumlah kendala yang mengganggu usaha pengembangann manusia yang maju, antara lain (1) kekurang mampuan diri di dalam peran-peran pihak lain atau yang disebut empati, dan rendahnya tingkat aspirasi serta kegairahan untuk melihat masa depan; (2) ketidak mampuan untuk menunda kepuasan atau keinginan yang berlebih akan sesuatu kebutuhan; (3) langkanya daya kreasi dan inovasi.
Individu dan masyarakat perkotaan memiliki banyak peluang untuk berperan sebagai pembawa proses pembaruan. Dalam proses pembaruan akan sarat dengan upaya pemecahan sejumlah masalah yang berkembang dan dalam kaitan ini Nichoff (Pudjiwati Sajogyo, 1985) memberikan sejumlah mode atau kiat yang dapat dijadikan pegangan oleh para pelaku atau aktor pembaruan atau pembangunan. Mode atau kiat yang dimaksud antara lain (1) kemampuan berkomunikasi secara mantap baik dalam menghadapi masa maupun tatap muka secara personal atau face to face; (2) kemampuan berantisipasi dalam masyarakat mclalui keterampilan beradaptasi Icwat fungsi bahasa, gagasan atau ide, peralatan atau teknologi, dan potensi-potensi laiiinya yang relevan dengan kebutuhan atau masalah yang tengah berkembang; (3) kemampuan untuk mendemonstrasikan gagasan atau teknologi baru sehingga meyakinkan pihak lain untuk menerima pembaruan tersebut; (4) mendorong pihak lain untuk berpartisipasi dalam mencobakan serta melanjutkan gagasan-gagasan baru tersebut; (5) mengusahakan agar unsur-unsur lama beradaptasi dan bersaing secara sehat dalam menghadapi unsur-unsur baru; (6) kemampuan memanfaatkan atau memanipulasi sejumlah potensi lingkungan setempat yang relevan dengan kebutuhan pembaruan; (7) kejelian dalam memilih waktu dan menggunakan saat atau kesempatan yang lepat dalam memperkenalkan pembaruan tersebut; (8) cukup fleksibel dalam memilih cara dan taktik pada saat membawakan unsur-unsur baru dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan yang ada pada saat itu; (9) kemampuan memelihara kontinyuitas pemeliharaan dan pengembangan unsur-unsur baru yang telah diterima oleh pihak lain.

Ciri-ciri dan kemampuan-kemampuan tadi lebih banyak bertumpu pada pelaku atau aktor pembaruan, atau pelaku perubahan yang sering disebut sebagai agent of change.
Bagaimana halnya dengan ciri-ciri atau persyaratan-persyaratan yang mesti ada atau siap dimiliki oleh penerima perubahan atau pembaruan itu sendiri ? Berikut ini adalah sejumlah kesiapan yang harus dimiliki oleh penerima suatu proses pembaruan atau pembangunan, Pertama, adanya motivasi untuk timbulnya rasa membutuhkan, dan memiliki akan manfaat dan nilai praktis dari unsur-unsur baru. Kedua, sifat kepemimpinan baik dalam kelembagaan maupun kelompok sosial. Ketiga, struktur sosial baik dalam peran-peran individual maupun dalam status seseorang dalam rentang hubungan hirarkis, dan hubungan-hubungan lainnya. Kempat. pengelompokkan individu baik berdasarkan subkultur (kelompok etnik) maupun berdasarkan politis, apakah berskala kelonvpok birokrat lokal, regional, atau nasional. Kelima, pola perekonomian yang melipuri sistem produksi, distribusi, konsumsi, deferensiasi kerja dan alokasi waktu, serta sistem pemilikan tanah dan nilai kebendaan lainnya. Keenam, kepercayaan masyarakat yang meliputi sistem agama, mistis, dan persepsi yang berfautan dengan kesehatan, kebersihan lingkungan, dan persepsi .keadaan yang memerlukan perubahan

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Perilaku “Spontan” dan “Reaktif” pada Hewan;>>>> Baca

Perbedaan Inovasi dan Modernisasi;>>>> Baca

PengantarPsikologi Politiki;>>>> Baca

Pengertian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja;>>>> Baca

Mengorganisasikan Pesan dalam Perencanaan Komunikasi;>>>> Baca

Strategic Management untuk Humas ;>>>>>>>>> Baca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.