Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.
Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.
Kondisi di atas akan terjadi apabila guru cukup selektif dalam menggunakan jenis pertanyaan yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Pada tahun 1950, Benjamin S. Bloom memperkenalkan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir tersebut dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom versi perbaikan.


Mengkreasi

Menghasilkan ide-ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.
Kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.


Mengevaluasi

Menilai suatu keputusan atau tindakan.
Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.


Menganalisis

Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan.
Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.


Menerapkan

Menggunakan informasi dalam situasi lain.
Kegiatan: menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan..


Memahami

Menerangkan ide atau konsep.
Kegiatan: menginterpretasi, merangkum, mengelompokkan, menerangkan.


Mengingat

Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan

Coba cermmati contoh pertanyaan/tugas berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom

Mata Pelajaran Matematika
Bangun 3 Dimensi

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Rancanglah suatu bangun baru yang memiliki bagian-bagian yang berasal dari bangun yang kamu pilih tadi. Beri nama untuk bangun barumu dan namailah bagian-bagiannya.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Menurutmu, apakah bangun tersebut tepat digunakan di tempat kamu menemukannya
tadi? Mengapa?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Terangkan mengapa bangun tadi digunakan di tempat dimana kamu menemukannya.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Gambarlah bangun yang kamu pilih tadi.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Carilah benda-benda yang memiliki bentuk yang sama dengan bangun yang kamu
pilih tersebut.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Sebutkan ciri-ciri dari bangun yang kamu pilih.

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Serangga

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Buatlah jenis serangga baru dari bagian-bagian tubuh serangga yang ada. Gambar dan beri nama bagian-bagian tersebut.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Kalau kamu ingin menjadi serangga, serangga apa yang jadi pilihanmu? Sebutkan alasannya, paling sedikit lima alasan.

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Pilih dua macam serangga, bandingkan. Tulislah hasil perbandinganmu.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Wawancarailah 10 orang untuk mengetahui serangga yang paling tidak disukai. Buatlah
grafik dari hasil wawancara tersebut dan simpulkan hasilnya.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Pilihlah satu nama serangga. Buatlah 10 pernyataan tentang serangga tersebut.
5 pernyataan tentang fakta dari serangga tersebut dan 5 lainnya merupakan opini. Tulis di atas kertas yang berbeda. Berikan kepada temanmu dan minta temanmu untuk
memeriksa pekerjaanmu.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Buatlah daftar nama-nama serangga, kelompokkan berdasarkan jenis serangga yang
membahayakan dan tidak membahayakan.

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Pasar

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Buatlah usulan perubahan/perbaikan yang dapat membuat pasar di sekitar rumahmu
menjadi lebih baik. Kirimkan surat itu kepada pemerintah setempat.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Setujukah kamu apabila semua pasar tradisional diganti dengan pasar modern? Mengapa?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Bandingkan kondisi beberapa jenis pasar, carilah apa saja kekuatan dan kelemahan masingmasing jenis pasar?

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Misalkan kamu adalah salah seorang anggota Panitia Peringatan Kemerdekaan RI di
sekolahmu dan merencanakan untuk membuat pesta. Buatlah daftar barang-barang yang kamu butuhkan dan putuskan di pasar jenis apa kamu akan membelinya. Berikan alasanmu.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Cari nama-nama pasar yang kamu ketahui dan kelompokkan menurut jenisnya.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Sebutkan jenis-jenis pasar yang kamu ketahui dan ciri-cirinya.

Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Sempurna

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Di setiap langkahku
ku kan selalu merindukan dirimu
Tapi satu bayangkan hidup tanpa cintamu
Janganlah kau tinggal diriku
Ku tak akan mampu semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Engkau di diriku, oh sayangku
Engkau begitu sempurna
Dinyanyikan oleh: Gita Gutawa


Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Tulislah sebuah puisi tentang seseorang yang kamu kirimi surat!

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Selama ini sikap baik apa yang sudah kamu lakukan kepada seseorang yang kamu kirimi surat?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Bandingkan perasaanmu antara kepada temanmu dengan kepada seseorang yang kamu kirimi surat!

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Tulislah surat untuk seseorang, mungkin ibu atau gurumu yang sesuai dengan isi lagu tersebut!

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Rangkumlah isi lagu tersebut!

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Temukan dua kata yang bermakna kias!

Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Kancil and Crocodile

Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile. Crocodile lived in a river in the forest. Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water. Crocodile saw Kancil. “A nice meal,” he thought. Then, he crawled behind Kancil
and grabbed him. He caught one of Kancil’s legs. Kancil was errified. Then, he had an idea. He saw a twig floating near him. He picked it up and said, “You stupid fool! So you think you’ve got me. You’re biting a twig – not my leg. Here, this is my leg.” And with that, he showed Crocodile the twig. Crocodile could not see well. He was a very stupid creature, too. He believed the cunning mouse-deer. He freed the mousedeer’s leg and snapped upon the twig. Kancil ran out of the water immediately.” Ha! Ha!” he laughed.
“I tricked you!”.

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Do you think Kancil has done the right thing? Why?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
In what ways are Kancil and Crocodile different?

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Change the sentences in one of the paragraphs into the present tense.

Pada tingkatan berpikir memahami contoh:
What examples from the story show that Kancil was a cunning animal?

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Why did Kancil go to the river?

Contoh Judul Skripsi Bidang Olah Raga

Contoh Judul Skripsi Bidang Olah Raga


1.HUBUNGAN KEKUATAN OTOT PERUT DAN KELENTUKAN TOGOK DENGAN KEMAMPUAN MENYUNDUL BOLA POSISI BERDIRI

2.HUBUNGAN KETERAMPILAN MOTORIK DENGAN HASIL MENENDANG BOLA KE ARAH GAWANG

3. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT PERUT, DAYA LEDAK OTOT LENGAN BAHU, DAN KEKUATAN OTOT PERAS DENGAN HASIL PUKULAN SMASH PADA PEMAIN PEMULA

4. SUMBANGAN KECEPATAN KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL TENDANGAN JARAK JAUH MELAMBUNG KURA-KURA KAKI BAGIAN DALAM

5. SURVAI TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWI KELAS II SMK PANGUDI LUHUR TARCISIUS SEMARANG

6. POLA PEMBINAAN PRESTASI ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PELAJAR DI SALATIGA

7. SURVAI TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI SE KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBES

8. SURVEI TINGKAT KESEHATAN PRIBADI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SEPULUH NOPEMBER 2 SEMARANG

9. SUMBANGAN KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PRESTASI RENANG GAYA DADA

10. HUBUNGAN ANTARA KESEGARAN JASMANI DAN TES EVALUASI BELAJAR KETRAMPILAN BULUTANGKIS DENGAN KEMAMPUAN BERMAIN BULUTANGKIS PADA PEMAIN PUTRA

11. HUBUNGAN KESEGARAN JASMANI DENGAN KETRAMPILAN TAEGUK PADA TAEKWONDOIN PPUTRA PRAYUNIOR SABUK BIRU KOTA SEMARANG

12. PENGARUH LATIHAN BERANGKAI 4 POS TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS IV DAN V SD

13 PENGARUH LATIHAN BERANGKAI 4 POS TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRA KELAS V SD

14.PENGARUH LATIHAN SENAM AYO BERSATU TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTERA KELAS IV DAN KELAS V SEKOLAH DASAR

15.HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN (STRENGHT) OTOT LENGAN DAN KEKUATAN (STRENGHT) OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN TEKNIK ANGKATAN KAKI PADA PEGULAT KOTA

16. Status Gizi Dan Tingkat Kesegaran Jasmani Anak Dari Keluarga Pra-Sejahtera

17. MANAJEMEN PENGURUS DAERAH PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA (PENGDA PSSI) JAWA TENGAH

18. MOTIVASI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DALAM MENGIKUTI KEGIATAN OLAHRAGA PADA ANGGOTA PERSATUAN DIABETES INDONESIA (PERSADIA)

19. MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH

20. TINGKAT KESEGARAN JASMANI ANGGOTA PAGUYUBAN LANSIA SEHAT DI KECAMATAN CANDISARI SEMARANG

21. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELINCAHAN DENGAN KECEPATAN MENGGIRING BOLA PADA SISWA

22. PERBEDAAN LATIHAN SMESH KEDENG ANTARA BOLA DIGANTUNG DAN DIUMPAN DENGAN KAKI TERHADAP KEMAMPUAN SMESH SEPAK TAKRAW BAGI PEMAIN YUNIOR PUTERA KLUB PADANG JAGAD KABUPATEN DEMAK

23. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELENTUKAN PERGELANGAN KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA BAGI PEMAIN KLUB INVESTINDO PURBALINGGA

24. HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DENGAN START RENANG GAYA KUPU-KUPU PADA ATLET PERKUMPULAN RENANG SPECTRUM SEMARANG

25. PENGARUH LATIHAN LOMPAT DENGAN RINTANGAN DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

26. PERBANDINGAN PENGARUH FREKUENSI LATIHAN SENAM KESEGARAN JASMANI USIA SEKOLAH DASAR ANTARA TIGA KALI DENGAN EMPAT KALI DALAM SATU MINGGU TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS VI SD

27. PERBANDINGAN HASIL TENDANGAN BOLA ANTARA TUNGKAI PANJANG DAN TUNGKAI PENDEK PADA PEMAIN SEPAK BOLA SENIOR

28. PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA

29. PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA KELAS V

30. PENGARUH LATIHAN JUMP SHOOT DARI SISI KANAN DAN KIRI PADA POSISI 150 TERHADAP HASIL TEMBAKAN PADA SISWA PUTRA EKSTRAKURIKULER BOLA BASKET

31.HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, PANJANG TUNGKAI DAN KECEPATAN DRIBEL BERLARI DENGAN HASIL LAY UP SHOOT

32. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT PERUT DAN KETERAMPILAN TIMANG -TIMANG BOLA TERHADAP KETEPATAN TENDANGAN KEARAH GAWANG

33. PENGARUH LATIHAN AWALAN 9 DAN 11 LANGKAH TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRI SD NEGERI BANJAREJO KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL TAHUN PELAJARAN

34. PENGARUH LATIHAN LONCAT KATAK DAN LONCAT NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA KELAS V SD NEGERI KALIREJO 01 KEC. UNGARAN KAB.SEMARANG

35. HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KELENTUKAN PERGELANGAN TANGAN DENGAN HASIL TEMBAKAN BEBAS DALAM PERMAINAN BOLA BASKET

Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

Seorang fasilitator harus menguasai berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan agarmampu memberikan fasilitasi yang optimal kepada peserta pelatihan. Secara garis besar, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh fasilitator yang efektif yaitu (1) Tahap persiapan; (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap pasca-pelaksanaan.
Pada tahap persiapan, seorang fasilitator harus mampu menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk memperlancar pelaksanaan pelatihan. Persiapan di sini termasuk penyiapan dari segi fisik maupun non fisik yang digunakan selama proses pelatihan. Persiapan yang baik dan matang akan sangat mempengaruhi keberhasilan tahap berikutnya sekaligus memberikan kontribusi yang berarti terhadap keberhasilan pelatihan secara menyeluruh.

Walaupun perencanaan sudah dilakukan dengan baik, namun apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan rencana, maka sangat mungkin tujuan pelatihan tidak akan bisa dicapai dengan baik.
Banyak hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh fasilitator selama
pelaksanaan pelatihan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, bukan berarti semua proses telah selesai. Fasilitator masih mempunyai tugas lain yang harus dilakukan. Fasilitator harus mengetahui sejauh mana ketercapaian pelatihan, menemukenali berbagai permasalahan yang muncul selama pelatihan, menindaklanjuti hasil dan masalah yang terjadi selama pelatihan, dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang fasilitator dalam melaksanakan program pelatihan:

1. Sedapat mungkin patuhilah rencana sekuen panduan pelatihan

Setelah sekuen panduan disusun dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang mungkin timbul dan mempengaruhi tercapai tidaknya program panduan. Karena itu, hindarilah penyimpangan dari rencana sekuen panduan, terutama bagi pemandu pemula. Pemandu yang telah berulang kali menjalankan program panduan, sering kali mampu menyiapkan dan mengembangkan alternatif sekuen panduan, menukar sekuen latihan karena melihat peluang-peluang belajar yang
timbul selama proses pelatihan berlangsung.

2. Hafalkan nama peserta

Berusahalah untuk memanggil peserta dengan nama mereka (siapkan label nama peserta yang
terbaca). Hal ini mengurangi rasa formil yang seringkali menimbulkan ketegangan dan secara tidak
langsung menghambat proses pembelajaran.

3. Libatkan peserta secara aktif
Usahakan agar peserta terlibat aktif mulai mencari, menggali data, menganalisis alternatif temuan,memecahkan masalah, mengambil keputusan atau simpulan. Biarkan peserta mengambil simpulan
sendiri, pertanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu, kuatkan dan
tekankan simpulan itu.
4. Jangan tergesa-gesa menjawab pertanyaan

• jangan jawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya.
•• jangan jawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya.
•• jangan jawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh pemandu. Bila jawaban itu
mungkin diberikan oleh peserta lain, biarkan peserta lain menjawab pertanyaan itu. Bila
jawaban terhadap pertanyaan itu dapat diberikan peserta dan mereka tidak menyadari
data tertentu, ingatkan peserta pada data tersebut, dan biarkan mereka menjawab itu.

5. Hindari perdebatan dengan peserta

Hal ini dimaksudkan agar sekuen panduan yang telah disusun dapat tercapai tidak menyimpang
dan waktu habis untuk berdebat. Selain itu, aktivitas peserta akan terhambat gara-gara kita terpancing perdebatan. Lemparkan saja pada peserta lain bila ada perbedaan persepsi terhadap
suatu masalah tertentu.

6. Ajukan pertanyaan sesering mungkin

Kenyataan bahwa peserta dapat belajar melalui kegiatan menjawab pertanyaan, dan hal ini memberikan peserta lebih banyak kepuasan daripada jika ia langsung diberitahukan materi pembelajaran yang harus ia terima begitu saja. Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan.
•• Ajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta. Jangan mengajukan pertanyaan yang terlalu sulit, sehingga peserta menjadi “resah” karena tidak bisa menjawab.
•• Jangan ajukan pertanyaan yang terlalu mudah. Dengan pertanyaan yang terlalu mudah
mengurangi motivasi peserta untuk memberikan jawabannya, dan seringkali peserta jadi ragu
apakah jawaban yang ia pikirkan adalah jawaban yang benar.
•• Ajukan pertanyaan secara sistematis. Jawaban terhadap pertanyaan pertama hendaknya
merupakan data yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan kedua, dan jawaban
terhadap pertanyaan kedua hendaknya merupakan data bagi jawaban terhadap pertanyaan
ketiga demikian seterusnya. Sebaliknya, bila suatu pertanyaan tidak dapat segera dijawab oleh
para peserta, ajukan pertanyaan lain yang lebih mudah. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan
untuk menjawab pertanyaan yang lebih sukar.

7. Gunakan umpan balik (feed back)

Dalam melaksanakan program pelatihan, kita perlu mencari tahu apakah peserta telah menangkap
hal-hal yang telah kita sampaikan. Karena itu, kita perlu mencari dan memanfaatkan umpan balik
(feed back). Umpan balik bisa berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta, sikap
mereka dalam mengikuti program pelatihan, saran-saran yang mereka kemukakan, bahkan dari ’air muka’ mereka.

8. Sadari keterbatasan Anda

Jangan melakukan hal-hal di luar batas kemampuan Anda. Jangan mencoba menjelaskan hal-hal
yang tidak Anda pahami. Persiapkan diri Anda sebelum memulai kegiatan dan yang paling penting:
Jangan Pernah Mengira bahwa Andalah Orang Terpandai di dalam Kelas. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin ada peserta yang lebih menguasai bahan dari pada Anda. Jangan musuhi orang ini, gunakan dia sebagai pembantu Anda.

Sebagai koordinator dan anggota tim pelatihan, seorang fasilitator mempunyai tugas yang sangat kompleks. Mulai dari tugas menyiapkan bahan pelatihan, melaksanakan pelatihan, mengevaluasi hasil pelatihan dan jurnal. Adakalanya seorang fasilitator memberi perintah, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, melakukan pencatatan, mengundang tanggapan, memberi konfirmasi, memancing data, merangkai induksi, memberi konsekuensi.
Tugas dan Aktivitas Fasilitator

1. Menyiapkan bahan pelatihan.
Banyak fasilitator pemula yang mengira bahwa tugas menyiapkan bahan pelatihan hanya terbatas pada pengecekan peralatan yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan mereka memasuki ruang pelatihan tampak sungguh-sungguh siap untuk memandu proses belajar, yang sebetulnya membutuhkan persiapan yang betul-betul matang.

Berikut ini ada beberapa tugas minimal yang seharusnya dikerjakan fasilitator sebagai bagian dari persiapan pelatihan.
a. Mempelajari rencana pelatihan
Karena tidak semua tujuan pelatihan telah terumuskan secara baik, fasilitator tidak cukup hanya membaca apa yang yang tersurat dalam tujuan pelatihan. Fasilitator harus mempelajari rencana
pelatihan dengan lebih seksama untuk mengantisipasi berbagai hal yang mungkin muncul selama kegiatan pelatihan berlangsung. Antisipasi itu perlu agar fasilitator tidak mengalami kesulitan dalam memandu pelatihan sesuai rencana.

b. Menyiapkan kerangka diskusi
Diskusi yang berlangsung antara fasilitator dengan peserta, peserta dengan peserta selama
pelatihan, bukan diskusi bebas tetapi bertujuan. Untuk itu, diskusi (pasangan, kelompok, kelas/
pleno) seharusnya mengikuti alur yang sudah direncanakan, yaitu:
•• mengumpulkan fakta-fakta / temuan-temuan.
•• penyaringan fakta/temuan yang relevan dengan tujuan pelatihan
• mengaitkan fakta/temuan menjadi suatu simpulan
•• mengaitkan simpulan dengan kehidupan sehari-hari Agar diskusi berjalan sesuai dengan alur yang direncanakan, maka fasilitator bertugas menyiapkan kerangka diskusi dengan mempertimbangkan:
•• fakta / temuan apa yang seharusnya dimunculkan/terungkap dalam diskusi?
• pertanyaan-pertanyaan apa yang perlu dikemukakan untuk memperbesar terungkapnya fakta/temuan tersebut?
• bagaimana cara menghubungkan fakta/temuan tersebut menjadi suatu simpulan?
•• mengungkap contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari peserta untuk memperjelas
pemahaman terhadap konsep yang dibahas.

c. Menyiapkan kerangka observasi
Penyiapan kerangka observasi akan lebih mudah dilakukan bila fasilitator benar-benar memahami struktur dari kegiatan yang akan berlangsung.
d. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Di kalangan fasilitator senior ada pomeo yang berbunyi “Seorang fasilitator harus mampu menggunakan peralatan apapun untuk menjalankan ide-idenya”. Hal ini tidak salah, karena seorangfasilitator tidak boleh terlalu tergantung pada peralatan. Akan tetapi, bila peralatan itu tidaksukar untuk diperoleh, sebaiknya tidak menggunakan pomeo itu untuk menutupi kemalasannya.

2. Melaksanakan pelatihan fasilitator
Dalam melaksanakan pelatihan tugas fasilitator dapat dirinci a.l. sebagai berikut: memberiperintah/instruksi, mengamati kegiatan peserta, memimpin diskusi dan memberi ceramah singkat, memberikan komentar, mempertanyakan pendapat, memuji, memberi penguatan, dan memberi umpan balik.

3. Memberi instruksi/perintah
Karena progam pelatihan umumnya merupakan progam belajar melalui kegiatan, maka dengan
sendirinya ada sejumlah besar kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta. Kegiatan yang akan
dilakukan peserta sesungguhnya kegiatan-kegiatan yang sengaja diberikan dengan harapan agar
muncul sejumlah temuan/fakta yang dapat digunakan untuk mendukung simpulan-simpulan
tertentu. Untuk memperbesar kemungkinan munculnya temuan/fakta yang diharapkan, fasilitator harus memberikan instruksi (untuk melakukan kegiatan ybs.) secara seksama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian instruksi al:

a. peserta perlu tahu hasil (out-put) yang diharapkan dari mereka.
b. peserta perlu tahu sistem-skoring yang berlaku (kalau ada perhitungan nilai)
c. peserta perlu tahu tata-tertib yang berlaku, baik yang menyangkut batas waktu, maupun
aturan lain seperti boleh tidaknya mereka berbicara dengan teman, boleh tidaknya bertanya
pada fasilitator setelah mulai bekerja dsb.
d. Peserta harus mendapat jawaban/penjelasan mengenai hal-hal yang mereka tanyakan.
e. Instruksi perlu disampaikan sesingkat mungkin tanpa mengurangi kelengkapan dan kejelasannya.
f. Bila mungkin, instruksi sebaiknya disampaikan secara tertulis
g. Sedapat mungkin jangan menggabungkan dua atau lebih satuan instruksi yang sesungguhnya
dapat dipisahkan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan satu satuan instruksi adalah sejumlah
penjelasan yang dibutuhkan peserta agar mereka dapat mengerjakan tugas yang tidak boleh diinterupsi oleh informasi baru.

4. Mengawasi Kegiatan Pelatihan
Selama peserta melakukan kegiatan yang diintruksikan kepada mereka fasilitator harus aktif melakukan pencatatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan ini antara lain:

a. Fasilitator harus ingat bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan fakta/ temuan yang akan digunakan dalam pembahasan konsep atau prinsip-prinsip.
b. Fasilitator harus mengingat tujuan dari kegiatan dan fakta/temuan apa saja yang diharapkan muncul untuk dijadikan bahan pembahasan.
c. Fasilitator sebaiknya mencatat fakta/temuan yang berhasil dijumpainya. Catatan harus meliputi: kapan suatu tingkah laku masing-masing peserta, dan mengapa mereka mereka menampilkan tingkah laku tersebut.
d. Fasilitator sudah harus membayangkan cara-cara yang akan digunakan. Untuk mengolah fakta/temuan tersebut dalam diskusi kelas yang seharusnya dilakukan sebagai lanjutan kegiatan ini.

5. Memimpin diskusi
Memimpin diskusi (pasangan, kelompok, kelas) merupakan salah satu tugas utama fasilitator. Selama memimpin diskusi, fasilitator sesungguhnya melakukan sejumlah interaksi dengan peserta.
Kalau diperhatikan lebih seksama, maka unit-unit interaksi dapat dihimpun ke dalam unit-unit aktivitas. Satu unit interaksi adalah serangkaian interaksi yang dimulai dengan suatu persoalan/pertanyaan baik yang diajukan oleh fasilitator atau peserta yang berakhir dengan munculnya persoalan baru.

Suatu unit interaksi bisa saja berakhir secara tidak mulus/tuntas, yakni bila interaksi berakhir tanpa terpecahkannya persoalan yang diajukan. Tuntas tidaknya unit-unit interaksi dalam diskusi, merupakan salah satu faktor yang turut menentukan efektif tidaknya fasilitator dalam memimpin diskusi (proses dan hasil pelatihan).

Satu unit interaksi dalam pembelajaran dapat tersusun dari sejumlah unit aktivitas (unitas) yaitu kesatuan terkecil dari tingkah laku seorang fasilitator.

Ada sejumlah besar unit aktivitas yang mungkin dilakukan seorang fasilitator, diantaranya;

a. Memberi instruksi
Fasilitator memerintahkan peserta untuk melakukan aktivitas tertentu. Misal, “tutup mata anda
dan bayangkan anda berada di padang pasir”. Contoh lain, “sekarang jumlahkan kolom ketiga dan
ke empat, kemudian tuliskan hasilnya di kolom lima”.
b. Menjawab pertanyaan
Fasilitator memberikan jawaban langsung/melemparkan ke peserta lain terhadap pertanyaan yang diajukan peserta.
Contoh, “motivasi itu apaan sih pak? Adakah diantara kalian yang tahu arti
motivasi? Jadi, motivasi itu artinya ……
c. Mengundang tanggapan
Aktivitas fasilitator melontarkan pertanyaan yang umum atau memberi kesempatan peserta
mengajukan komentar. Biasanya aktivitas ini berupa pertanyaan tentang kesan-kesan peserta
yang dilanjutkan dengan kata-kata, “ada komentar lain, ada yang mau menambahkan?
Undangan untuk memberi tanggapan dapat ditujukan pada salah satu fasilitator (tim teaching),
atau kepada peserta lain yang dinilai kurang aktif.
Contoh, Bu Siska barangkali punya pandangan
lain? Mba Siti punya pendapat?
d. Menjelaskan definisi
Fasilitator menguraikan arti suatu istilah/konsep/pengertian dari sesuatu yang kurang dipahami
peserta, tanpa memberi contoh konkret.
Contoh, “Jadi, yang dimaksud prestasi adalah.. Perbedaan antara asessment dengan evaluasi adalah …….
e. Mengajukan contoh
Aktivitas ini umumnya merupakan kelanjutan dari aktivitas menjelaskan definisi. Fasilitator berusaha mengajukan contoh dari hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya.
f. Memberikan konfirmasi
Aktivitas fasilitator meng-iya-kan atau penguatan, baik dugaan suatu konsep, tindakan yang harus dilakukan, atau dugaan hubungan kausalitas.
Peserta : Kalau begitu, Pakem identik dengan belajar kelompok?
Fasilitator : Salah satu prosesnya iya, bisa juga berpasangan.
g. Menanyakan maksud peserta
Aktivitas fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dari hal-hal yang
dilontarkan peserta. Dapat pula untuk menemukan latar belakang dari pertanyaan itu.
Peserta : Jadi, dalam Pakem lebih mengaktifkan fisik daripada mental-intelektual?
Fasilitator : Yang kamu maksud aktif fisik dan mental-intelektual itu apa?
Peserta : Dalam Pakem yang penting karya siswa (pajangan)?
Fasilitator : Ehm, mengapa kamu menyimpulkan begitu?
h. Mengendalikan arah diskusi
Seringkali fasilitator terbawa arus oleh perdebatan yang berlarut-larut antar peserta, atau bila jawaban peserta lain menyimpang. Untuk itu, fasilitator harus berusaha mengembalikan arah diskusi ke jalur yang direncanakan.
Contoh 1: “mengapa kita harus berlarut-larut membicarakan hal yang sebetulnya tidak bermakna?
Contoh 2: “ yang saya minta, buat diagram, bandingkan, dan uraikan dengan menggunakan katakata anda sendiri kan?
i. Menekankan jawaban peserta
Unit aktivitas ini merupakan usaha fasilitator agar peserta memusatkan perhatian atau
meningkatkan kesadaran pada suatu simpulan/temuan oleh peserta lain. Penekanan ini biasanya
diiringi dengan penulisan inti pertanyaan/jawaban peserta di papan tulis.
j. Memancing data
Aktivitas fasilitator yang berusaha memperoleh fakta/temuan yang nantinya dibutuhkan untuk pembuktian suatu simpulan. ‘Unitas’ ini biasanya berupa rangkaian pertanyaan yang “menggiring”
peserta ke arah jawaban tertentu. Boleh jadi, rangkuman/simpulan bukan datang dari fasilitator.
Contoh:
Fasilitator dari hasil observasinya telah mencatat bahwa peserta membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan soal A daripada waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal B. Padahal, soal lebih banyak mengandung unsur yang tidak diketahui.
Fasilitator : Tugas mana yang memerlukan waktu lebih?
Peserta: Tugas A
Fasilitator : Tugas mana yang mengandung lebih banyak unsur yang tidak diketahui?
Peserta: Tugas B
Fasilitator: Apa yang bisa anda simpulkan dari kedua fakta itu?
Peserta : ………. (tidak menjawab)
Fasilitator : Apakah tugas yang lebih banyak unsur yang tidak diketahui selalu membutuhkan lebih banyak waktu?
Peserta : Tidak
Fasilitator : Jadi……….?

k. Merangkai induksi
Aktivitas monolog fasilitator yang menghubungkan berbagai temuan yang diperoleh peserta untuk merancang simpulan.
Contoh: tadi kalian sudah menyimpulkan bahwa A lebih besar dari B. Kita juga sudah buktikan bahwa A lebih kecil dari C. Simpulannya: (bahwa C > dari B … peserta yang menyimpulkan).
l. Memberi konsekuensi
Aktivitas fasilitator yang secara khusus diberikan untuk menghargai atau “mencela” tindakan tertentu dari peserta/kelompok peserta, bisa juga diberikan pada seluruh peserta. Aktivitas ini dilakukan secara khusus, agar peserta benar-benar merasa dipuji/dicela. (pujian bisa acungan jempol/tepuk tangan. Aktivitas ini mirip dengan konfirmasi, kalau konfirmasi hanya membenarkan dugaan peserta, tanpa memberikan penghargaan pada temuanya.
Dari berbagai unit aktivitas, unitas yang sebaiknya dikurangi (menjelaskan definisi, menjawab pertanyaan, memberi konfirmasi). Ada unitas yang sebaiknya ditambah (memancing data,
mengendalikan arah diskusi, menanyakan maksud peserta). Ada pula unitas yang sangat tergantung
dari respons peserta, walau stimulus sudah cukup diberikan.

6. Memberi ceramah singkat
Berbeda dengan kegiatan memimpin diskusi, ceramah singkat merupakan kegiatan monolog, untuk
menjelaskan konsep/prinsip yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Satu ceramah
sesungguhnya terdiri dari sejumlah unit penjelasan yang bertujuan menjelaskan memberikan
pemahaman terhadap satu prinsip/konsep.
Satu ceramah singkat yang utuh sebaiknya terdiri dari:
a. Rumusan : inti dari konsep/prinsip yang diajukan.
Contoh: Persepsi bersifat subyektif
b. Elaborasi : penjelasan lebih jauh dari rumusan yang diajukan
Contoh: artinya persepsi itu tidak tergantung pada objek yang dipersepsikan, melainkan
dari subjek yang mempersepi.
c. Argumentasi : pembuktian terhadap rumusan yang diajukan.
Bila pembuktian ini tidak dapat dilakukan dengan mudah, fasilitator dapat meminjam
otoritas para ahli yang membuktikan rumusan tersebut. Menurut hasil penelitian R.J.Marzano, bahwa persepsi….
d. Contoh : yang konkret dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan konsep/
prinsip yang dibahas.
e. Humor : digunakan bilamana perlu untuk lebih menguatkan habits of mind.
Untuk mengingat ke lima unsur ini, ingatlah bahwa setiap ceramah singkat seharusnya
berusaha untuk menjangkau (R-E-A-C-H) para peserta (pendengarnya).

Jadi ceramah singkat tidak diharamkan dalam pelatihan, justru penting karena berfungsi
menjelaskan konsep yang sulit untuk dipahami melalui pengalaman terkendali/diskusi kelompok. Di samping itu, ceramah singkat dapat digunakan sebagai media untuk meminjam otoritas para ahli dalam mendukung kebenaran yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman terkendali.

7. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran serta jurnal belajar

Salah satu cara untuk mengevaluasi proses dan hasil pelatihan (dalam waktu yang singkat) adalah
mengevaluasi kegiatan pelatihan (walaupun sesungguhnya evaluasi itu harus dilakukan terhadap
hasil pelatihan). Caranya dengan melihat adakah perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan
norma dalam wujud tingkah laku yang ditampilkan oleh peserta dalam waktu pendampingan (3
bulan setelah pembelajaran).

Ada beberapa cara untuk mengevaluasi efektivitas fasilitator dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya:

a. Sejauh mana fasilitator menyimpang dari rencana panduan (hasil rapat koordinasi tim
fasilitator sebelum pelatihan).
b. membandingkan proporsi modus-modus panduan pelatihan.
Gunakan rumus:
• waktu instruksi harus lebih singkat dari waktu kerja (pasangan-klp)
• • waktu kerja harus lebih singkat dari waktu diskusi
• • waktu diskusi harus lebih panjang dari waktu ceramah.
c. Beri kesempatan kepada peserta untuk setiap akhir pertemuan menuliskan jurnal belajar (apa yang sudah diketahui, apa yang ingin diketahui lebih lanjut, dan kesulitan apa yang dihadapi selama pelatihan).
d. sejauh mana fasilitator telah memberikan instruksi, memimpin diskusi, dan memberi
ceramah dengan baik.
.

Diproteksi: Tugas Mata Kuliah Komputer

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

Dalam banyak kesempatan, ide-ide perubahan pembelajaran telah dikenalkan. Akan tetapi, ide tersebut seakan-akan hanya menjadi milik peserta pelatihan dan tidak diterapkan di dalam kelas. Uang, tenaga, dan waktu yang tak ternilai harganya hanya disia-siakan saja. Pembelajaran tetap tidak tersentuh perubahan, dan berjalan seperti biasanya (business as usual). Untuk mendorong terjadinya perubahan, kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan.
Pemimpin yang baik mampu menumbuhkembangkan keberanian orang yang dipimpin untuk mencobakan ide tanpa takut salah. Pemimpin yang baik juga mampu menciptakan suasana kolegialitas dan persaudaraan yang baik di sekolah.
Di negeri seberang, ada seorang Kepala Sekolah yang mengembangkan program “Make New Mistakes”. Dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dia mendorong gurugurunya melakukan sesuatu yang baru dan melakukan kesalahan. Dia mengungkapkan kata-kata berikut: “Saya tidak ingin melihat pelajaran yang sempurna. Saya hanya ingin melihat Anda melakukan sesuatu yang baru dan mengalami kesalahan. Tidak perlu takut dengan kesalahan itu. Yang peling penting adalah apa yang bisa kita petik dari melakukan sesuatu yang baru tersebut”.
Akibatnya, sungguh luar biasa. Guru-guru di sekolah itu, termotivasi melakukan hal-hal baru sehingga inovasi pembelajaran seakan berlangsung tiada henti. Sekolah yang dahulunya berstatus “under achiever” berubah menjadi sekolah yang maju.

Di negeri sendiri, seorang Kepala Sekolah mengembangkan berbagai program antara lain: Who Am I, Kolaborasi Atas Bawah, Fleksidi, dll. Tujuannya hanya satu, yaitu tumbuhnya kesejawatan yang mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran di sekolah. Hasilnya juga sungguh menakjubkan. Proses belajar mengajar berubah dari biasanya. Pembelajaran menjadi bermutu. Sekolah yang semula “tidak terdengar” berubah menjadi sekolah rujukan. Karena itu, pada sesi ini, para kepala sekolah, pengawas, dan para pemimpin lainnya di sekolah, perlu memiliki kiat-kiat kepemimpinan yang mampu mendorong terjadinya perubahan proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, di dalam sesi ini, para peserta diharapkan menggali berbagai ide yang mampu mendorong terjadinya perubahan dalam proses belajar mengajar di kelas.

Kepala Sekolah merupakan kunci keberhasilan usaha-usaha sekolah. Kepala Sekolah merupakan penentu bagi terciptanya iklim sekolah yang lebih kondusif untuk meningkatnya mutu pendidikan. Kepala Sekolah tidak hanya dituntut mahir mengelola sarana, prasarana, tetapi juga harus memiliki kiat-kiat menarik yang mendorong guru-gurunya mau secara ikhlas dan penuh percaya diri meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Karena itu, kiat-kiat yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah berikut layak untuk dijadikan pelajaran bagi kita bersama.

Berikut beberapa kiat kepala sekolah tersebut.

• Supervisi Klinis 

Kegiatan ini dilakukan dengan cara Kepala Sekolah melakukan supervisi atau pengamatan terhadap guru-guru/kelas maupun terhadap aktivitas sekolah secara keseluruhan. Hasil temuan baik positif maupun negatif dibahas di dalam pertemuan/rapat dewan guru. Jika di dalam pertemuan/rapat tersebut masalah tidak dapat di atasi maka kepala sekolah segera mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pemecahan ke luar sekolah.
Misalnya guru kelas 1 sulit untuk membuat pembelajaran tematik. Dalam pertemuan/rapat dewan guru tidak ada yang bisa memberi contoh. Satu-satunya jalan yaitu mendatangkan fasilitator atau nara sumber kelas awal. Tetapi setelah rencana akan mendatangkan fasilitator kelas awal sekolah tidak memiliki dana untuk mengadakan pelatihan tersebut, maka jalan keluarnya adalah mengadakan kerja sama dengan beberapa sekolah untuk mendatangkan fasilitator tersebut. Masalah pendanaan sudah barang tentu dipikul bersama-sama.

• Curhat Nonformal

Curhat nonformal adalah mencurahkan isi hati atau uneg-uneg yang dilakukan secara
nonformal. Waktu dan tempat sudah barang tentu tidak terikat. Waktu bisa dilakukan pada jam-jam santai atau waktu luang. Masalah tempat bisa di sekolah maupun di luar sekolah.
Topik bahasannya berkisar aktivitas sekolah. Jika kepala sekolah ingin menyampaikan ide-ide tentang model pembelajaran atau aktivitas sekolah, kepala sekolah tidak langsung menyampaikannya pada pertemuan/rapat resmi dewan guru. Tetapi kepala sekolah dapat melakukan lobi-lobi ke beberapa guru untuk didiskusikan terlebih dahulu.

• Kolaborasi Atas-Bawah

Kolaborasi ‘Atas – Bawah’ merupakan model kerja sama antara kepala sekolah selaku
supervisor dan guru selaku yang disupervisi. Bentuk kerja sama itu contohnya adalah jika ada salah satu guru sulit dalam menerapkan model PAKEM/CTL pada materi tertentu, maka kepala sekolah bersama-sama membuat skenario pembelajaran. Setelah selesai, skenario tersebut dijalankan secara bersama-sama oleh guru dan kepala sekolah. Jika sekali pelaksanaan ternyata belum cukup bagus, maka perlu dilakukan kolaborasi sekali lagi, sampai diperoleh hasil yang bagus.

• Who am I

Jika kepala sekolah dalam melakukan supervisi melihat ada beberapa guru telah berhasil melakukan model PAKEM/CTL dan manajemen kelas yang kreatif, kepala sekolah segera memberitahu kepada guru tersebut bahwa kelasnya akan dijadikan sasaran studi banding antarkelas. Dalam acara studi banding antar kelas tersebut para pengunjungnya adalah teman-temannya sendiri. Setelah harinya disepakati, guru yang menjadi sasaran studi banding tersebut menjelaskan berbagai hal yang telah dilakukan, baik itu tentang model pembelajarannya, skenario pembelajarannya, manajemen kelasnya, dan hasil karya anak, terutama yang dilakukan selama satu minggu sebelumnya. Selain itu, guru tersebut diminta untuk menyampaikan berbagai hal dan ide-ide satu minggu ke depan. Masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya juga turut disampaikan pada acara tersebut. Dalam acara ini kepala sekolah posisinya sebagai pendamping guru yang menjadi sasaran studi banding.
Tetapi pembicaraan hak penuh guru tersebut.

• Fleksi diri

Hampir jarang dilakukan oleh kebanyakan guru adalah melakukan refleksi diri setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Cara untuk melakukan refleksi diri ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, jika sekolah memiliki perangkat keras seperti handy cam, kepala sekolah dapat mengambil gambar beberapa kegiatan guru, khususnya dalam melakukan pembelajaran. Setelah itu, hasil rekaman tersebut diamati bersama-sama. Hal-hal apa saja yang seharusnya perlu dilakukan dan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, biar guru yang bersangkutan yang merefleksi dirinya sendiri. Guru-guru yang lain mencoba membahas hal-hal positif yang dapat diadopsi dan diterapkan di kelasnya.

• Kontes Hasil Karya Siswa dan Kelas

Untuk memotivasi agar guru-guru dan para siswanya kreatif maka dalam setiap minggu
sekolah perlu mengadakan kontes. Macam-macam kontes di antaranya adalah lomba pidato, bercerita, drama, menggambar, mengarang, menyanyi/karaoke, kerapian dan kebersihan kelas, dan display atau pameran hasil karya siswa. Para pemenang dapat diumumkan pada saat upacara bendera hari Senin.

• Kultum Bergilir

Dalam setiap pertemuan/rapat dewan guru atau kegiatan apa saja selalu diawali kegiatan santapan rohani atau dinamakan kultum (kuliah tujuh menit). Orang yang menyampaikan kultum tersebut tidak harus guru agama atau guru senior. Kultum ini disampaikan siapa saja secara bergilir, baik guru senior maupun junior. Tujuannya agar semuanya dapat belajar atau mendidik diri sendiri sebelum memberitahu orang lain. Materi kultum bebas, bisa masalah agama, rumah tangga, sekolah, pekerjaan, dan kehidupan lainnya.

• Go Public atau Open School

Untuk memperkuat dan mendorong guru-guru agar mau berbuat lebih meningkat lagi,
kepala sekolah dapat bekerja sama dengan sekolah lain. Artinya sekolah lain diminta untuk mengadakan kunjungan ke sekolahannya. Tapi ingat: guru-guru tidak perlu diberitahu strategi ini, karena ini merupakan rahasia strategi kepala sekolah dengan kepala sekolah lain. Mereka diharapkan melakukan kunjungan, khususnya berkunjung ke kelas mengamati model PAKEM/CTL yang diterapkan oleh guru-gurunya. Dengan demikian guru-guru yang akan dikunjungi akan berbenah diri, karena mereka akan dikunjungi oleh sekolah lain.

• Retreat

Makan biasanya dilakukan di rumah pada tempat dan situasi yang sama. Suatu saat dilakukan di tempat lain dengan suasana lain pula. Jika perlu dilakukan dengan seluruh anggota keluarga (anak dan istri/suami mereka). Di sini biasanya muncul ide-ide segar dan fress. Retreat merupakan wisata di waktu liburan yang dilakukan kepala sekolah, guru, dan staf lainnya di suatu tempat. Di sana mereka merancang suatu kegiatan tentang pendidikan di sekolah sambil berlibur.

• Napak Tilas

Sekolah dan kelas sering mendapat kunjungan guru-guru hampir di seantero nusantara. Suka duka telah banyak dialami guru-guru dan warga sekolah lainnya. Kecapekan dan kebosanan kadang-kadang menghantui guru-guru dan warga sekolah lainnya. Mengapa tidak? Karena hampir setiap saat mereka dituntut harus menemukan berbagai hal inovasi dalam pembelajarannya. Hal ini tampak di saat awal tahun pelajaan baru tiba. Guru-guru seakan tampak tidak bergairah lagi untuk berinovasi, seakan kehabisan daya kreativitas lagi.

Maka kepala sekolah di saat-saat inilah sangat dibutuhkan daya kreativitasnya. Melalui
diskusi kelompok, guru-guru diajak untuk mengingat kembali berbagai inovasi dan hal-hal positif yang dulu pernah sukses dilakukannya. Lalu mereka membuat kesepakatan untuk pengembangan inovasi dan bahkan mencoba inovasi baru lagi. Hasilnya sungguh luar biasa. Guru-guru bergairah kembali, karena mereka merasa tersuntik dan termotivasi kembali untuk melakukan tugasnya.

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang
penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuhk; Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :

a. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama

Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan
pada fungsi-fungsi divergen ini antara lain menggunakan teknik
pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan
penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan.

Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:

1) Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban.
Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.

2) Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.

3) Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.

4) Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
mungkin dalam setiap situasi.

Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan sebagai berikut:

1) Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan
prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap
pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran
pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar
sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.

2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka

Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku
divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan
pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala
peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
a) Andaikata
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang
situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan
fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
b) Peningkatan suatu produk.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapn
pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi
yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
c) Permulaan yang tidak selesai.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu
kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan
kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh:
penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
sebagainya.
d) Pengguna baru dari objek-objek umum.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda
atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim.
Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
e) Alternatif judul.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu
stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada
pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan
atau gambar-gambar tentang sesuatu.
f) Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan.
Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa
beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan
dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan
banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi
pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan
menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

3) Sumbang Saran
Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh
Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka,
lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan
gagasan-gagasan.
Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang
lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan
sebagai berikut:
a) Kritik harus tepat waktu
Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran
ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap
pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan
tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
b) Kebebasan dalam memberikan gagasan
Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang
saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari
kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan
sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara
murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang
beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau
kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal
seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi
rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan
tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya.
c) Penekanan pada kuantitas
Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan.
d) Kombinasi dan peningkatan gagasan

Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik
ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan
yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang
lebih bermutu.
e) Penekanan pada kualitas
Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan
yang lebih berkualitas.
f) Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.

4) Daftar penulisan gagasan
Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agar
pembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubunganhubungan
baru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran
teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
a) Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
b) Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide
dan sebagainya.
c) Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
d) Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu,
bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
e) Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti :
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
f) Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
5) Penyusunan sifat
Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini
memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya
banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek.
Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
a) Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa
perkotaan dan siswa pedesaan.
b) Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak
reformasi terhadap mutu pendidikan.
c) Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
d) Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
6) Hubungan yang dipaksakan
Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.

b. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua

Dalam teknik-teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta
melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif.
Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik
kreatif tingkat kedua, antara lain: Teknik analisis morfologis, bermain peran dan sosiodrama, serta synectics.
1) Teknis analis morfologis
Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik
kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat.
Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur
masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari
masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau
gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.

2) Teknik bermain peran dan sosiodrama
Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran
untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk
secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat
menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman
dalam kehidupanya.

3) Synectics
Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik
synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai
macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk
memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam
teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya
melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau
gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.

c. Teknik kreatif tingkat ketiga

Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan
pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar
kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif.
PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi
dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus
bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini.
Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus
memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang
optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
1) Seleksi dan latihan guru;
2) Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang
untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni;
3) Prosedur identifikasi jamak;
4) Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi;
5) Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama;
6) Rencana evaluasi
7) Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri
dari kepala sekolah, guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini.
Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
1) Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya;
2) Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan
intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif;
3) Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua;
4) Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya;
5) Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya;
6) Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.

Mengenal Kreativitas Anak Sejak Dini

Mengenal Kreativitas Anak Sejak Dini

Mungkin hal yang paling penting disadari oleh orang tua dan guru ialah bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif. Beberapa orang memilikinya lebih dari orang lain, tetapi tak ada orang yang tidak kreatif sama sekali. Terutama anak-anak usia prasekolah sebetulnya sangat kreatif, mereka memiliki kreativitas alamiah.
Sayangnya banyak orang tua dan guru yang kurang menyadari atau kurang dapat menghargai kreativitas anak. Mereka lebih menginginkan anak yang selalu patuh dan melakukan hal-hal yang diinginkan orang tua atau melakukan hal-hal yang sama seperti anak lain. Orisinalitas kurang dapat diterima, dianggap menyulitkan, dan bahkan dapat berbahaya. Tanpa menyadarinya, orang dewasa yang bermaksud baik, dengan dalih menanamkan disiplin dan kepatuhan, tidak memberi kesempatan benih-benih kreativitas anak tumbuh dan berkembang.
Ini tidak berarti bahwa disiplin dan kepatuhan tidak penting. Di sinilah sering terjadi kesalah pahaman tentang arti dan makna dari kreativitas. Kreativitas tidak bertentangan dengan disiplin dan mengikuti peraturan yang ditentukan.

Pengertian kreativitas menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti hasil dari kemampuan mencipta. Banyak hal yang dilakukan manusia ada unsur kreativitasnya. Hal ini sesuai dengan program kegiatan yang dikembangkan di TK, yaitu pengembangan daya cipta. Kreativitas terjadi karena kebiasaan mencipta sesuatu yang baru.
Dunia Taman Kanak-kanak adalah dunia pendidikan kreativitas, artinya aktivitas guru senantiasa dituntut kreativitasnya. Secara ideal konseptual, pendidikan di TK adalah proses pembelajaran yang dirancang secara sadar dan sistematis untuk memberi peluang kepada anak didik agar dapat mengembangkan potensi daya ciptanya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam diri ataupun apa yang ada diluar dirinya.
Kreativitas sebagai suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku manusia. Kreativitas dapat pula dilihat sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih esensial dan yang perlu dibina pada anak didik sejak dini untuk bersibuk diri secara kreatif

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu
komposisi, produk atau gagasan yang pada dasarnya baru.
Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imaginative atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya rangkuman, tapi mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperolah dari pengalaman sebelumnya, yang dihubungakan dengan situasi baru. Kreativias ini mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan bukan fantasi semata, tetapi merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Kreativitas ini dapat berupa produk, kesusastraan, seni produk ilmiah bahkan bisa bersifat metodologis dan prosedural.
Pendapat lain menyatakan bahwa kreativitas adalah merupakan
kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkanya
dalam pemecahan masalah. Kreativitas ini meliputi fleksibilitas atau keluwesan, kelancaran, keaslian atau orisinalitas dalam pemikiran. Kreativitas ini juga memiliki ciri lain yaitu afektif, seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan ingin mencari pengalaman baru. Dari pendapat ini menunjukkan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, yang berupa gagasan atau berupa suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan baru. Kreativitas sebagai konsep baru dari dua konsep tersebut dapat berupa sesuatu yang abstrak atau benda konkrit yaitu berupa produk atau jasa, cara serta tehnik atau berupa metodologi.

Kreativitas dapat ditinjau dari emat aspek, yaitu :

a. Kreativitas dari aspek pribadi, muncul dari keunikan pribadi individu dalam interaksi dengan lingkunganya. Setiap anak mempunyai bakat kratif, namun masing-masing dalam bidang dan kadar yang berbeda-beda.
Kreativitas sebagai kemampuan berpikir meliputi kelancaran, kelenturan, orisinalitas dan elaborasi. Kelancaran disini berkaitan dengan kemampuan untuk membangkitkat sejumlah besar ide-ide. Seseorang yang kreatif dapat memiliki banyak ide, dengan hal tersebut akan semakin besar kesempatan untuk menemukan ide-ide yang baik. Kelenturan atau fleksibilitas adalah mampu melihat masalah dari beberapa sudut pandang.
Orang yang kreatif memiliki kemampuan untuk membangkitkan banyak
ide. Fleksibilitas secara tidak langsung, menunjukkan kemudahan
mendapatkan informasi tertentu atau berkurangnya kepastian dan
kekakuan. Fleksibilitas merupakan basis keaslian, kemurnian, dan
penemuan. Orisinalitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide luar biasa, memecahkan problem dengan cara yang luar biasa, atau menggunakan hal-hal atau situasi dalam cara yang luar biasa. Individu yang kreatif membuahkan tanggapan yang luar biasa, membuat asosiasi jarak jauh, dan membuahkan tanggapan yang cerdik serta mempunyai gagasan-gagasan yang jarang diberikan orang lain. Elaborasi adalah dapat merinci dan memperkaya suatu gagasan. Orang yang kreatif dapat mengembangkan gagasan-gagasannya secara luas. Penilaian merupakan kemampuan dalam mengapresiasikan sebuah ide. Orang yang kreatif memiliki cara-cara sendiri dalam menilai sebuah ide dan hal itu berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Kreativitas ditinjau dari aspek.

b. Pendorong menunjuk pada perlunya dorongan dari dalam individu
(berupa minat, hasrat, dan motivasi) dan dari luar (lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat) agar bakat kreatif dapat diwujudkan. Sehubungan dengan hal ini pendidik diharapkan dapat memberi dukungan, perhatian, serta sarana prasarana yang diperlukan.

c. Kreativitas sebagai proses ialah proses bersibuk diri secara kreatif. Pada anak usia prasekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan, dan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi.

d. Kreativitas sebagai produk, merupakan suatu ciptaan yang baru dan bermakna bagi individu dan /atau bagi lingkunganya. Pada seorang anak, hasil karyanya sudah dapat disebut kreatif, jika baginya hal itu baru, ia belum pernah membuat itu sebelumnya, dan ia tidak meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain. Dan yang penting, produk kreativitas anak perlu dihargai agar ia merasa puas dan tetap bersemangat dalam berkreasi.
Kegiatan kreatif ini bertujuan membentangkan alam pikiran dan
perasaan anak, menjangkau masa lalu, masa kini, dan masa depan, menantang maka menjajaki bidang-bidang baru, memikirkan hal-hal baru yang belum terpikir sebelumnya, mengantisipasi akibat-akibat dari kejadian-kejadian hipotesis, menggunakan daya imajinasi dan firasatnya dalam memecahkan masalah.

2. Ciri-ciri Kreativias
Ciri kreativitas dapat dibedakan dalam ciri kognitif dan ciri non
kognitif. Menurut munandar (1990:51) menyatakan bahwa pemaduan ciri kognitif dan ciri afektif dalam pengembangan kreativitas dimaksudkan agar kreativitas yang dimiliki individu itu dapat terwujud secara nyata.
Pengembangan kreativitas individu tidak hanya membutuhkan ketrampilan untuk berpikir kreatif saja, tetapi juga memerlukan pengembangan pembentukan sikap, perasaan dan kepribadian yang mencerminkan kreativitas.

Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan afektif dan kognitif antara lain :

a. Ciri kreativitas yang berhubungan dengan affektif meliputi : rasa ingin tahu, bersifat imaginativ, merasa tergantung oleh kemajemukan, sikap berani mengambil resiko, sikap menghargai.

b. Ciri kreativitas yang berhubungan dengan kognitif meliputi : ketrampilan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes atau fleksibel, ketrampilan berpikir orisional, ketrampilan merinci atau mengelaborasi serta ketrampilan menilai.

Ciri kreativitas digolongkan kedalam dua bagian yaitu anak yang
kreativitasnya tinggi dan anak yang kreativitasnya rendah. Anak yang kreativitasnya tinggi cenderung lebih ambisius, mandiri, otonom, cenderung percaya diri, efisien dalam berpikir, tertarik pada hal-hal yang komplek dan perspektif, mampu mengambil resiko. Sedangkan anak yang rendah kreativitasnya kurang memiliki kesadaran diri akan arti hidup sehat dan sejahtera, kurang bisa mengendalikan dirinya dan kurang efisien dalam berpikir.

Pada dasarnya seorang anak selalu mencotoh orang tua dan ingin
mandiri seperti apa yang diperbuat orang tua. Dengan meniru orang tua, anak akan menunjukkan kreativitasnya, anak yang kreatif biasanya lebih percaya diri, penuh inisiatif, terbuka terhadap pengalaman yang baru, luwes dalam berpikir dan selalu ingin mandiri. Anak yang ingin mandiri pada dasarnya ingin mendapatkan pengakuan dari orang tua bahwa pada diri anak sudah tumbuh menuju kearah kedewasaan. Anak sudah mulai tidak senang diatur dan dikekang apalagi dipaksa. Kebebasan merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam diri anak. Bahwa tujuan anak melakukan sesuatu yang menarik perhatian orang lain karena anak ingin mengetahui bagaimana reaksi orang lain karena anak tersebut ingin memperhatikan kepada orang tua maupun orang yang ada disekelilingnya bahwa kehadiranya perlu
diperhatikan dan diakui. Hal itu mencerminkan kreativitas alamiah anak usia dini.

Adapun ciri-ciri perilaku yang mencerminkan kreativitas alamiah anak khususnya pada anak usia prasekolah, seperti:
a. Senang menjajaki lingkunganya.
b. Mengamati dan memegang segala sesuatu, mendekati segala macam
tempat atau pojok, seakan-akan haus akan pengalaman.
c. Rasa ingin tahu mereka besar, karena itu mereka suka mengajukan pertanyaan, dan seakan-akan tidak pernah puas dengan jawaban yang diberikan.
d. Anak usia prasekolah bersifat spontan dan cenderung menyatakan pikiran dan perasaannya sebagai mana adanya, tanpa merasakan hambatan, seperti tampak pada orang dewasa.
e. Anak usia prasekolah selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru; ia senang “berpetualang”, dan terbuka terhadap rangsanganrangsangan baru yang mana sering mencemaskan orang tuanya.
f. Mereka senang melakukan “eksperimen” hal ini tampak dari perilakunya senang mencoba-coba dan melakukan hal-hal yang sering membuat orang tuanya atau gurunya keheran-heranan dan tidak jarang pula merasa tidak berdaya menghadapi tingkah laku anaknya.
g. Anak usia prasekolah jarang merasa bosan, ia senang melakukan macammacam hal, dan ada-ada saja yang ingin dilakukan.
h. Biasanya anak usia prasekolah mempunyai daya imajinasi tinggi, yang nyata jika orang dewasa menyempatkan untuk mendengar ungkapanungkapan dan mengamati perilakunya.

Ada pula cirri-ciri kreativitas yang lain yaitu memiliki rasa ingin tahu yang mendalam, sering mengajukan pertanyaan yang berbobot (tidak asal tanya), memberikan banyak gagasan (usul-usul terhadap suatu masalah), mampu menyatakan pendapat secara spontan, mempunyai/ menghargai rasa keindahan, menonjol dalam satu atau lebih bidang studi, dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai segi, mempunyai rasa humor, mempunyai daya imajinasi (memikirkan hal-hal baru dan tidak biasa), mampu mengajukan pikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil), kelancaran dalam menghasilkan bermacam-macan gagasan, serta mampu menghadapi masalah dari berbagai sudut pandangan.
Dari beberapa pandangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dapat menghasilkan keadaan yang baru, yang berupa gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikiran yang masih abstrak serta dapat pula benda-benda yang konkrit. Hal ini dilakukan oleh anak agar mendapat pengakuan tentang keberadaan dirinya dan dianggap sejajar dengan orang dewasa, sehingga anak akan selalu menampilkan
kreativitas yang sangat membantu perkembangan jiwanya. Dari kreativitas
tersebut anak mampu berpandangan jauh kedepan dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk hidup mandiri tanpa selalu menggantungkan diri pada orang lain.

Perkembangan Kreativitas

Hidup dalam suatu masa di mana ilmu pengetahuan berkembang
dengan pesat, suatu adaptasi kreatif merupakan satu-satunya kemungkinan bagi suatu bangsa yang sedang berkembang, untuk dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi, untuk dapat menghadapi problemaproblema yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pengembangan kreativitas sejak usia dini menjadi sangat penting untuk terus dipupuk dalam diri anak didik, mengapa demikian ?
Pertama, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan
(mengaktualisasikan) dirinya, dan aktualisasi merupakan kebutuhan pokok dalam hidup manusia (Maslow, 1967). Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya.
Kedua, kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk
melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu
masalah.
Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat (bagi diri pribadi dan bagi lingkungan) tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan
kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru.

Perkembangan kreativitas antara anak yang satu dan yang lain berbedabeda baik jenis maupun derajadnya. Karena perkembangan kreativitas muncul dalam setiap tahapan perkembangan manusia dari bayi sampai tahap perkembangan lanjut usia. Karena munculnya kreativitas sejak bayi maka kreativitas ini perlu dirangsang dan dikembangkan sejak awal mungkin.
Pengembangan kreativitas ini harus sesuai dengan tahapan individu. Oleh karena itu rangsanganya perlu disesuaikan dan jangan dipaksakan. Karena pemaksanan kreativitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan justru akan membebani individu, sehingga individu tersebut tidak bekembang normal.

Kreativitas akan tampak pada awal kehidupan dan pertama-tama
terlihat dalam permainan anak, lalu secara bertahap menyebar keberbagai kehidupan lainya, seperti sekolah atau pendidikan, rekreasi dan pekerjaan.
Kreativitas mencapai puncaknya pada masa usia tiga puluhan sampai empat puluhan. Pada diri anak sering terjadi kegelisahan dan gejolak, karena pada masa ini anak akan mulai menemukan identitasnya. Pada saat yang demikian, anak membutuhkan kreativitas untuk menemukan identitasnya. Dalam mencapai identitas tersebut, anak dituntut untuk berkarya melalui daya cipta kreativitasnya. Dari kegiatan tersebut diperoleh jati diri serta hal yang cocok maupun yang bertanggung jawab bagi anak. Secara tidak langsung anak akan belajar mengendalikan diri dari kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat.
Oleh karena itu perlu terus dikembangkan kreativitas pada diri anak, perlu dipelihara rasa ingin tahu dan disalurkan melalui kesempatan mendapatkan pengalaman berharga dan melalui model atau tiruan yang ada di lingkungan anak sehingga akan memunculkan pengalaman-pengalaman baru pada diri anak.
Tugas perkembangan anak yang mendukung kreativitas adalah bahwa
anak harus mampu mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru, anak
diharapkan jika berlatih dan mengembangkan ketrampilan baru sesuai dengan tuntutan hidup. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengembangkan kreativitas atau ketrampilan akan menunjukkan cenderung sikap mudah putus asa, merasa tidak aman sehingga menarik diri dari kegiatan dan takut memperlihatkan usaha-usahanya. Seorang anak yang mampu memperhatikan kreativitasnya akan mencapai masa produktif dan mempunyai peluang yang baik untuk mengembangkan diri lebih jauh yang disertai keterlibatan yang terus menerus dalam kegiatan kreatif disegala bidang .
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas
mempunyai peran yang penting dalam menentukan perkembangan manusia. Karena anak yang dapat menyalurkan kreativitasnya akan mempunyai makna pada tahap perkembanganya.

Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Kreativitas

Faktor yang mempengaruhi munculnya kreativitas pada anak adalah
jenis kelamin, urutan kelahiran, intelegensi dan tingkat pendidikan orang tua

a. Jenis kelamin
Jenis kelamin akan berpengaruh terhadap kreativitas. Anak laki-laki cenderung lebih besar kreativitasnya dari pada anak perempuan, terutama setelah masa kanak-kanak. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki dituntut untuk lebih mandiri, sehingga anak laki-laki biasanya lebih berani mengambil resiko dibandingkan anak perempuan.

b. Urutan kelahiran
Anak sulung, anak tengah dan anak bungsu akan berbeda tingkat
kreativitasnya. Anak yang lahir ditengah, belakang dan anak tunggal cenderung lebih kreatif dari pada anak anak yang lahir pertama. Hal ini terjadi karena biasanya anak sulung lebih ditekan untuk lebih menyesuaikan diri oleh orang tua sehingga anak lebih penurut dan kreativitasnya mati.

c. Intelegensi
Anak yang intelegensinya tinggi pada setiap tahapan perkembangan
cenderung menunjukkan tingkah kreativitas yang tinggi dibandingkan anak yang intelegensinya rendah. Anak yang pandai lebih banyakmempunyai gagasan baru untuk menyelesaikan konflik sosial dan mampu merumuskan penyelesaian konflik tersebut.

d. Tingkat pendidikan orang tua
Anak yang orang tuanya berpendidikan tinggi cenderung lebih
kreatif dibandingkan pendidikanya rendah. Hal ini disebabkan karena banyaknya prasarana serta tingginya dorongan dari orang tua sehingga memupuk anak untuk menampilkan daya inisiatif dan kreativitasnya.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kreativitas
tumbuh dan berkembang karena faktor internal dan faktor eksternal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 305 pengikut lainnya.