Tentang Kalimat Efektif

Tentang Kalimat Efektif

Kalimat di katakakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan,gagasan,perasaan maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik,yaitu strukturnya benar,pilihan katanya tepat,hubungan antarbagiannya logis,dan ejaanya pun harus benar.
Dalam hal ini hendaknya di pahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh.kalimat yang di pandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu di pandang efektif jika di pakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang di ucapkan kepada tukang becak,” berapa, bang, ke pasar rebo?”kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap.”Berapa saya harus membayar, bang, bila saya menumpang becak abang ke pasar rebo?”
Yang perlu di perhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis, baik berupa essay,artikel,ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya di sadari bahwa susunan kata yangtidak teratur dan berbelit-belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna,dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif.
Konsep kalimat efektif di kenal dalam hubungan fungsi kalimat selaku alat komunikasi. Dalam hubungan ini, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa yang di sampaikan dan di terima itu mungkin berupa ide, gagasan, pesan, pengertian dan informasi. Kalimat di katakana efektif apabila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung denagan sempurna.

A. Unsur-Unsur kalimat
Dilihat dari sudut unsur struktur, kalimat terdiri dari unsur yakni berupa kata. Unsur itulah yang bersama-sama dan menurut system tertentu membangun struktur itu.

1. Subyek
Subyek adalah unsur yang di perkatakan dalam kalimat.
Contoh :
Aku adalah seorang artis.
2. Prediket
Kata yang dalam sebuah kalmat berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subyek itu di sebut prediket.
Contoh:
Aku sebetulnya seoarang artis
3. Pelengkap
Sering kali prediket sebuah kalimat harus di lengkapi lagi dengan unsur lain, sehingga terjadilah suatu pernyataan yang lebih lengkap. Unsur pelengakap biasanya berada di belakang prediket.
Contoh:
Aku tidak menyukai pekerjaan itu.
4. Kata Perangkai
Unsur ini berfungsi merangkaikan dua unsur subyek, dua unsur prediket, atau dua unsur pelengkap di dalam sebuah kalimat. Contoh:
Kegemaranku ialah menulis dan melukis.
5. Kata Penghubung
Kata penghubung berfungsi menghubungkan dua buah informasi di dalam satu kalimat.
Contoh:
Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan besar darinya.
6. Frase
Merupakan sebuah kelompok kata dan seringkali berfungsi sebagai keterangan prediket untuk keperluan-keperluan tertentu. Misalnya, keterangan waktu,tempat, sebab dan lain sebagainya.
Contoh:
Rapat akan di lakukan lagi sehabis makan siang.

B. Kalimat Dengan Beberapa Pola Kesalahan
Berikut ini akan disampaikan beberapa pola kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan sertaperbaikannya agar menjadi kalimat yang efektif:

1. Penggunaan dua kata yang sama artinya.
a. Sejak dari usia delapan tahun ia telah di tinggal kan ayahnya.
(Sejak usia delapan tahun ia telah di tinggalkan ayahnya.)
b. Hal itu di sebabkan karena perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan.
(Hal ini di sebabkan perilakunya sendiri yang kurang
menyenangkan.)
c. Ayahku rajin bekerja agar supaya dapat mencukupi kebutuhan hidup.
(Ayahku rajin bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.)

2. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku:

a. Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.
(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)
b. Gereja itu di lola oleh para rohaniawan secara professional.
(Gereja itu di kelola oleh para rohaniawan secara professional.)

3. Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ yang tidak tepat
a. Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik.
(Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik)
b. Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.
(Rumah sakit tempatorang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih).
4. Pilihan kata yang tidak tepat.
a. Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.
(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri
untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)
5. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti.
a. Sopir bus santoso yang masuk jurang melarikan diri.
(Bus santoso masuk jurang,sopirnya melarikan diri.)

6. Pengulangan kata yang tidak perlu:
a. Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku)

C. Membuat kalimat efektif
Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu.
Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:

1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang berlebihan, yang sebenarnya tidak perlu.
Contohnya:
– Banyak tombol-tombol yang dapat anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat anda gunakan.

2. Kontaminasi
Contoh:
– Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat ini seharusnya: Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

3. Salah pemilihan kata
Contoh:
– Saya mengetahui kalau ia kecewa
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa

4. Salah Nalar
– Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola idak masuk gawang

5. Kata depan yang tidak perlu
Contoh:
Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Seharusnya: Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

C. Ciri-ciri kalimat efektif

1. Kesatuan Gagasan
Memiliki subyek, prediket, serta unsur lain (O\K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yangdapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak di dukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsure itu merupakan keterangan di tanda oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus di hilangkan).

2. Kesejajaran
Penggunaan bentukan kata atau frasa berimbuhan yang memiliki kesamaan (kesejajaran) baik dalamfungsi maupun bentuknya.
Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di-pula.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara prediket-prediketnya. Yang satu menggunakan prediket aktif,yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan prediket pasif,yakni imbuhan di-. Kalimat itu harus di ubah.
a. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan.
b. Anak itu di tolong kakak dengan di papahnya ke pinggir jalan
3. Kehematan
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata-kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.

Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat di sukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu.
Dalam kata mawar, anyelir, dan melati terkandung makna bunga.

Seharusnya : Mawar, aynelir, dan melati sangat di sukainya

4. Penekanan
Kalimat yang penting harus di beri penekanan.
Caranya:
a. Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan
bagian yang penting di depan kalimat.
– Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
– Pada kesempatan lain,kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
b. Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.
– Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam hal ini.
– Kami pun turut dalam kegiatan itu.
– Bisakah dia menyelesaikannya?

c. Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
Contoh:
Dalam membina hubungan antar suami istri, antar guru dan murid, antara tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat,di perlukan adanya komunikasi dan sikap saling percaya memahami antara satu dan lainnya.

5. Kelogisan
Kalimat efektif harus mudah di pahami. Dalam hubungan ini unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis / masuk akal.

Contoh:
Waktu dan tempat kami persilakan.
Kalimat ini tidak logis / masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat di persilakan.kalimat tersebut harus di ubah.
Jadi, proses mamindahkan sesuatu mungkin dapat di beri nama secara lebih tepat dengan memilih salah satu di antara kata-kata di atas. Kalau obyeknya sebuah bola, terjadi dalam sebuah bola, itu namanya mengarak, bukan membawa atau melarikan.

a. Hindarkan kata yang klise
Kata klise adalah kata yang kadang-kadang agak sukar di mengeti sehingga sering menimbulkan problem. Peranan kata klise ini besar untuk membuat kalimat kurang efektif, kecuali agaknya pada tempat yang sunggu-sungguh istimewa dan dengan cara yang istimewa pula.
Contoh : Bapak kok gembira sekali, penaka baru terima gaji saja. Dalam hal ini, pembaca akan merasa lebih akrab bila kata penaka.

b. Konotasi dan Denotasi
Kata yang bersifat Denotasi lebih bersifat rasional dan konatasi lebih bersifat emosional. Kata setan, iblis, malaikat, bisa mempunyai arti denotative dan bisa pula konotatif,tergantung pada ada tidaknya unsur emosi dan sikap tertentu yang diberikan pada kata itu.

c. Kata yang tidak familier
Kata yang tidak familier itu pada umumnya adalah istilah asing atau kata yang berasal dari daerah. Pemakaian kata yang familier di kalangan umum, besar pengaruhnya terhadap tenaga sebuah kalimat.lebih-lebih kalau jumlahnya banyak. Tenaga kalimat bisa lemah karenanya. Kaya itu bisa membuat pembaca bosan,terutama kalimat itu menjadi kabur akibat kata tersebut.

D. Pola Yang Efektif
Pola yang efektif sebenarnya tidak ada. Yang ada cara ialah cara yang efektif dalam mengisi pola itu, guna merangkai maksud yang jelas.Dan cara yang efektif itu akan melahirkan kalimat yang efektif pula.
Unsur-unsurnya :

1. Paralelisme
Dalam kalimat yang efektif, gaya paralelisme menempatkan unsure yang setara dalam konstruksi yang sama. Konstruksi yang selarian dan sejalan itu biasanya menempatkan diri dalam hal-hal berikut: sama-sama berbentuk kata kerja, sama-sama berbentuk kata benda.kalau berawalan me sama-sama berawalan me.

Contoh:
Yang di lakukannya selama ini di kampong hanya mengurus pusaka,menyudahkan sawah, menjenguk sanak famili, dan membersihkan kuburan nenek.

2. Repetisi
Kekuatan sebuah kalimat dapat pula di bangkitkan dengan mengulang sebuah kata yang di anggap penting dalam bagian kalimat.
Contohnya:
Mengarang sebuah buku agama berbeda syaratnya dengan mengarang buku cerita fiksi, sedang mengarang untuk surat kabar berlainan ketentuannyadengan mengarang syair.
3. Inversi
Seringkali kalimat efektif dapat di ysahakan dengan membalikkan pola dasarnya. Kalau struktur biasa punya urutan subyek + prediket, maka dalam bentuk inverse jadi terbalik: prediket+subyek. Inversi termasuk sejenis gaya kalimat. Tujuanya sepeti juga tujuan gayakalimat yang lain ialah untuk memberikan efek yang lebih besar. Terjadinya bentuk inversi boleh jadi karena ingin memberi variasi, agar kalimat tidak terlalu menoton.
Contoh:
Besar rumah itu
Roni terkilir kakinya waktu bermain bola.

4. Posisi Frase dan Klausa
Posisi sebuah frase maupun klusa ada kalanya mempengaruhi sebuah kalimat. Sebuah frase atau klausa tang di taruh belakang sebuah kalimat, pengaruhnya akan lain daripada menaruhnya di bagian depan.
Contoh:
Harta bendanya di sita lantaran utangnya banyak di bank.
Lantaran uatangnya banyak di bank, harta bendanya di situ.
E. Kalimat Bervariasi
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea, kalimat yang bervariasi itu merupakan “ santapan” yang menarik. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahiminya mudah, tetapi karena sifatnya yang menyenangkan.
Jadi, variasi itu sangat penting. Bukan saja dalam kalimatkarya tulis, tapi juga dalam kehidupan pada umumnya; variasilah yang membuat segala sesuatunya terasa indah dan nikamat.

1. Variasi dalam cara memulai
Kalimat pada umumnya dapat di mulai dengan: subyek, prediket, sebuah kata modalitas, sebuah frase, sebuah klausa dan penekanan yang efektif. Penulis yang berpengalaman, pintar sekali menggunakan kalimat-kalimatnya bervariasi. Mereka bukan hanya berisi kalimat yang di mulai dengan subyek atau kata modalitas, prediket, dan sebagainya, akan tetapi mereka beri bervariasi.

2. Variasi dalam panjang-pendek kalimat.
Variasi kalimat bisa pula di usahakan dengan sekaligus mempekerjakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjan. Di sini kalimat singkat dan kalimat panjang mempunyai nilai tersendiri. Kedua jenis ukuran kalimat itu mesti bekerja sama. Lagi pula baik kalimat singkat maupun kalimat panjang punya fungsi tertentu dalam alinea.

3. Variasi dalam Struktur kalimat
Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya di lihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Karangan yang efektif mencerminkan keragaman struktur kalimat.

4. Variasi dalam jenis kalimat
Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat, anda juga dapat menghasilkan variasi. Itulah sebabnya mengapa penulis yang berpengalaman tidak menggunakan satu jenis kalimat saja dalam karangan mereka.
Patut di ketahui bahwa berdasarkan fungsinya, Ahli-ahli tata bahasa membedakan kalimat atas empat jenis. Pertama, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu, di sebut kalimat berita. Kedua, kalimat yang fungsinya menyatakan kehendak, harapan,dan sebagainya, di sebut kalimat pinta. Ketiga ,kalimat yang menyatakan pertanyaan, di namakan kalimat Tanya. Keempat, kalimat yang menyatakan perasaan yang kuat, bernama kalimat seru.

Mengusir Rasa Malas;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah;>>>> Baca

Karakteristik Anak Luar Biasa;>>>> Baca

Hakikat Membaca;>>>>>>>>> Baca

Tentang Surat

Tentang Surat

A. Pengertian Surat
Surat adalah jenis karangan komposisi atau dapat dikatakan paparan yang mengemukakan maksud dan tujuannya. ditinjau dari wujud peraturannya surat adalah percakapan tertulis .jadi sejenis dengan ragam percakapan atau dialog seperti yang bisa dipakai dalam kehidupan sehari –hari .ditinjau dari fungsinya ,surat adalah suatu alat atau sarana komunikasi tulis. surat dipandang sebagai alat komunikasi tulis yang paling efesien, efektif, dan praktis. di bandingkan dengan alat komunikasi lisan, surat mempunyai kelebihan – kelebihan. apa yang dikomunikasikan kepada pihak lain secara tertulis ,misalnya berupa pengumuman , pemberitahuan , keterangan dan sebagainya ,akan sampai pada alamat yang dituju sesuai dengan sumber aslinya. tidak demikian halnya jika disampaikan secara lisan. dengan cara tersebut sering -sering dialami perubahan –perubahan, terutama tentang isinya ,mungkin ditambah atau dikurangi ,meskipun tidak disadari. Kriteria surat yang baik mengunakan bahasa yang memiliki etika, estetika, logika, sebagai dokumen tertulis , sebagai alat pengingat. Sebagai pedoman kerja dan sebagai wakil penulis.

B. Jenis- Jenis Surat
1. Jenis surat berdasarkan isinya
Jenis surat berdasarkan isinya dapat dibedakan atas tiga jenis:
a. Surat pribadi
Surat pribadi adalah surat yang berisi masalah pribadi yang ditujukan kepada keluarga, teman, atau kenalan. Karena sifatnya akrab dan santai , dan surat pribadi biasa digunakan bahasa ragam akrab /ragam santai. Perlu diketahui bahwa surat lamaran,surat permohonan izin,dan sejenisnya dibuat atas nama diri sendiri.oleh karena itu ,surat tersebut tergolong surat pribadi meskipun ditujukan kepada instansi pemerintahan.
b. Surat Dinas /Resmi
Surat Dinas /Resmi adalah surat yang berisi masalah kedinasan atau administrasi pemerintahan. Surat Dinas /Resmi hanya dibuat oleh instansi pemerintahan dan dapat dikirimkan kepada semua pihak yang memiliki hubungan dengan instansi tersebut karena sifatnya resmi, surat resmi harus ditulis dengan ragam resmi.
c. Surat niaga
Surat niaga adalah surat yang berisi tentang masalah Perniagaan /Perdagangan. Surat dagang dibuat oleh suatu perusahaan yang ditujukan kepada semua pihak.
2. Jenis Surat Berdasarkan Keamanan Isinya Surat
Berdasarkan Keamanan Isinya Surat dibedakan atas empat jenis yaitu: Surat sangat rahasia, Surat Rahasi, Surat terbatas, dan Surat terbatas. Surat sangat rahasia adalah surat yang berisi dokumen /naska yang sangat penting yang berhubungan dengan rahasia keamanan negara .surat rahasia adalah surat yang berisi dokumen penting yang hanya boleh diketahui oleh pejabat yang berhak menerimanya .Surat Biasa adalah surat yang berisi masalah biasa, bukan rahasia yang bila diketahui orang lain tidak merugikan lembaga atau pejabat yang bersangkutan.
3. Jenis Surat Berdasarkan Derajat Penyelesaiannya
Berdasarkan Derajat Penyelesaiannya, surat dapat di bedakan atas tiga jenis yaitu :Surat sangat segera(kilat) Surat segera, Surat biasa. Surat sangat segera adalah surat yang isinya harus segera di ketahui oleh penerima surat dan harus segera mungkin diselesaikan atau ditanggap. Penyelesaian surat ini harus lebih diprioritaskan daripada surat-surat lainnya. Jadi, harus dilakukan pada kesempatan pertama. Contoh surat sangat segera (kilat) adalah surat pemberitahuan tenaga penguji surat tugas penyusun soal ujian, dan surat undangan rapat-rapat dinas. Surat segera adalah surat yang isinya harus segera diketahui dan ditanggapi. Penyelesaian surat ini tidak harus dilakukan pada kesempatan pertama, tetapi disesuaikan dengan pedoman yang berlaku pada instansi yang bersangkutan. contohnya surat lamaran pekerjaan, surat usul kenaikan pangkat, dan surat penawaran tugas belajar keluar negri. Surat biasa adalah surat yang isinya tidak harus segera diketahui, ditangapi. Meskipun demikian, surat yang kita terima harus segera kita balas agar komunasi dapat berjalan lancar. Contoh surat biasa, yaitu surat permohonan sumbangan, surat pemberitahuan, surat edaran dan pengumuman biasa.
4. Jenis Surat Berdasarkan Jangkauan Penggunaannya
Berdasarkan jangkuan penggunaannya surat di bedakan atas dua jenis yaitu surat intern, dan surat ekstern.
a. Surat intern ialah surat yang hanya di gunakan untuk berkomunikasi dalam satu kantor /instansi yang bersangkutan.contohnya surat intern, yaitu memo dan nota. memo adalah surat yang berisi catatan singkat tentang pokok-pokok persoalan. memo di buat oleh atasan untuk bawahan atau sebaliknya. nota adalah surat yang hanya di buat oleh atasan untuk bawahan, pada dasarnya isi nota sama dengan surat dinas, hanya lebih ringkas tetepi jelas.
b. Surat ekstren ialah surat yang di gunakan untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak di luar kantor /instansi yang bersangkutan.
5. Jenis Surat Berdasarkan Jumlah Penerima
Jenis Surat Berdasarkan Jumlah Penerima yang di tuju surat dapat di bedakan atas tiga jenis yaitu: (a) surat edaran (b) surat pengumuman dan (c) surat biasa.
a. Surat edaran ialah surat yang di luar kantor/instansi yang bersangkutan. isi surat ini adakalanya hanya di ketahui oleh pejabat yang bersangkutan (edaran khusus) dan adakalanya di sebarkan kepada lingkup yang lebih luas (edaran umum). surat ederan sering di sebut sirkuler.
b. Surat Pengumuman ialah surat yang di tujukan kepada para pejabat, para karyawan, dan masyarakat umum, pengumuman dapat di sebarluaskan dengan beberapa cara, yaitu dengan mengedarkan sebagai surat edaran ,memasang di papan-papan pengumuman dan memasangnya di Koran/majalah sebagai iklan
c. Surat biasa ialah surat yang khusus ditujukan kepada seseorang, pejabat, atau instansi tertentu.
C. Bagian-Bagian Surat
Bagian-Bagian yang terdapat dalam surat: Kepala Surat, Tanggal Surat, Nomor Surat, Lampiran Surat, Hal/Prihal, Alamat Surat, Salam Pembuka, Isi Surat, Salam Penutup,Tembusan.
Kepala Surat biasanya diketik di sebelah kiri atas. Boleh juga diketik di tengah-tengah. Kepala Surat disusun (biasanya sudah dicetak) dalam bentuk yang menarik, dan menyebutkan:
1. Nama kantor/Jawatan dan Perusahaan
2. Alamat
3. Nomor telpon
4. Nomor kotak Pos (jika ada)
5. Nama alamat Kawat (jika ada), dan Faksimile (jika ada)
Kepala Surat menunjukan resminya sebuah surat .oleh sebab itu jangan mengunakan belangko surat dinas untuk berkirim-kirim surat secara pribadi. kepala surat dapat berfungsi sebagai alat (identitas) pengingat surat .Tanggal Surat di ketik di sebelah kiri atas (bentuk lurus penuh ) dan kanan atas (Lurus Setengah Lurus dan Indonesia). Boleh juga diketik di sebelah kanan bawah. Dan perlu kita ingat bahwa tanggal surat itu dibubuhkan segera setelah surat itu ditandatangani oleh yang berwenang. Tanggal surat berguna untuk mengetahui batas waktu dan cepat lambatnya penyelesaian hal yang dipersoalkan dalam surat itu. dan Nomor surat dapat kita lihat pada surat resmi yang mana di dalamnya selalu diberi: Nomor urut surat yang dikirimkan (keluar), Kode dan tahun. Contoh yang dapat kita lihat yaitu:
NO:200/PBJJ-BI/1984
(PBJJ-BI=Program Belajar Jarak Jauh Bidang Studi Bahasa Indonesia)
NO:01/PT28.1/F’84
(PT28.=kode IKIP Malang
I=kode Rektor/Purek I, Purek II, dan Purek III
F=Kode Prihal Ketatausahaan
Bahkan nomor surat diketik diketik segaris dengan tanggal ,Bulan ,dan Tahun (Bentuk Luras ,Setengah lurus, dan Indonesia) .dan dalam penulisan nomor pada surat mempunyai guna yaitu:
a. memudahkan mengatur penyimpanan
b. memudahkan mencarinya kembali
c. mengetahui berapa banyaknya sursat yang keluar
d. mempercepat penyelesaian sursat –menyurat (membalas surat),dan memudahkan petugas kearsipan.
Lampiran pada surat juga dibutuhkan atau dalam melampirkan berarti menyertakan sesuatu dengan yang lain .jika bersama surat yang dikirimkan itu disertakan dengan surat –surat lain misalnya :
1. Salinan ijazah /STTB
2. Akte Kelahiran /Akte kenal Lahir ,
3. Surat Berkelakuan baik,dan
4. Surat keterangan kesehatan dari Dokter pemerintah.
Pada lampiran (lamp) dalam surat dituliskan seperti Lamp; empat helai ,bukan lampiran Lampiran 4 (empat) helai. jika tidak ada yang dilampirkan, kata lampiran (Lamp) tidak perlu dituliskan (demi kehematan ) dan kita harus ingat jika tidak ada surat yang dilampirkan ,jangan digunakan kalimat pembuka seperti, Bersama surat ini kami beritahukan bahwa kuliah semester 1 dimulai pada tanggal 7 September 1992. Yang seharusnya kita gunakan atau yang tepat ialah :Dengan ini kami beritahukan bahwa kuliah semester 1 di mulai pada tanggal 7 September 1992. adapun Hal/Perihal pada surat yang menunjukan isi atau inti surat secara singkat.dan dengan membaca Hal/Perihal secara cepat dapat diketahui masalah yang dituliskan dalam surat itu.Hendaknya Hal/Perihal dituliskan secara ringkas dan jelas .contohnya:Hal Jadwal ujian ulangan ,Bantuan tenaga pengajar.
Hal /Perihal dapat disampaikan dengan judul karangan biasa .oleh sebab itu, harus berujud frase (bukan kalimat ) dan pokok surat dimulai dengan huruf besar.Tidak ada tanda titik di belakangnya dan tidak di garis bawahi. Namun dalam surat undangan, sering hanya dituliskan Hal Undangan .tapi kenyataannya belum jelas sebab belum menyebutkan isinya sebaiknya dituliskan juga isinya, misalnya Hal : Undangan rapat penerimaan mahasiswa baru. Alamat Surat yang terdapat dalam surat ada dua macam alamat surat yaitu : alamat dalam (pada helai surat) dan alamat luar (pada amplop). Alamat dalam menyebutkanya berturut –turut yaitu :
1. Nama orang / Nama jabatan
2. Nama jalan dan nomor rumah / gedung dan
3. Nama kota
Nama orang /jabatan ditulis dengan huruf awalnya ialah huruf capital pada awal setiap unsur nama itu, tidak ditulis huruf capital semuanya.Nama orang hendaknya ditulis secara cermat dan lengkap, jangan disingkat, misalnya jalan Jenderal Rakhmat, disingkat /dipendekan Jend. B. Rakhmat,/Jl. Jend Basuki R. Nama kota tidak di dahului kata depan di, tidak dituliskan dengan huruf capital semua, tidak perlu digaris bawahi, dan tidak bertitik akhir atau tanda baca lainnya.Surat itu hendaknya dialamatkan kepada pejabatnya, bukan nama kantornya. Jika pejabat itu tidak diketahui dengan pasti namanya (misalnya Rektor, Dekan, dsb). Dapat dipakai sebutan Kepala atau Pemimpin (bukan pimpinan). Alamat itu ditujukan kepada nama orang yang disertai nama jabatanya bukan nama instansinya .penulisan alamat surat baik disebelah kiri maupun kanan, keduanya benar. Pusat pembinaan dan pengembangan Bahasa menuliskan alamat di sebelah kiri.Penulisan di sebelah kiri memiliki tempat yang cukup leluas ke sisi sebelah kanan sehingga kemungkinan pemengalan nama orang /instansi / organisasi, dan sejenisnya tidak terjadi. Nama alamat yang dituju haruslah nama orang, nama orang disertai nama jabatannya, atau nama jabatannya saja dan bukan nama instansi /perusahaan. Surat yang dialamatkan kepada Rektor itu dimintakan perhatian atau untuk perhatian (u.p.) pembantu rector 1 sebab masalah / hal yang dipaparkan dalam surat itu berkenaan dengan ruang lingkup tugas pembantu Rektor 1. Surat yang diminta perhatian pembantu Rektor 1 itu perlu diketahui oleh Rektor sebab rectorlah yang bertanggung jawab atas keluar- masuknya surat di lembaga itu.
Alamat luar pada surat dituliskan pada amplop yang berukuran 10,5 x23 cm. Alamat luarnya disusun sebagai brikut:
1. Nama orang / jabatan
2. Nama instansi
3. Nama jalan /gang/nomor rumah bangunan dan
4. nama kota dan nomor kode pos .
Kode pos perlu dicantumkan di belakang nama kota untuk memudahkan penyampaian dan mencega kekeliruan penyampaian surat kepada penerima surat tersebut .sesudah nomor kode pos tidak perlu lagi dituliskan keterangan lain misalnya nama propinsi (JAWA TIMUR, KALIMANTAN TIMUR, dsb) ,pulau (MADURA ,LOMBOK, HALMAHERA, dsb) atau kabupaten .Surat yang dikirimkan keluar negri cukup dituliskan kata INDONESIA di bawah nama kota dan nomor kode pos .Almat yang dituju terletak pada seperempat bagian sebelah kanan bawah sampul. Dan alamat pengirimnya dari lembaga pemerintah /organisasi / penerbit yang termasuk dalam surat resmi bukan surat pribadi karena surat pribadi tidak lazim di tuliskan di bagian kiri bawah atau di bagian samping. Selain alamat, pada sampul surat resmi juga di bubuhkan nomor surat,cap dinas ( di sebelah kiri bawah), derajat surat SEGERA /AMAT SEGERA (di sebelah kanan atas), dan teraan (di bagian kanan atas).
Salam pembuka pada surat merupakan tanda hormat pengirim surat sebelum ia berbicara secara tertulis dalam surat resmi yang biasa di gunakan sebagai salam pembuka ialah Dengan hormat, (jangan di singkat Dh.atau DH.) yang di tulis yang di tulis segaris lurus dengan baris-baris laninya.
Di belakang salam pembuka selalu di bubuhkan tanda koma (,) ini sudah merupakan suatu kebiasaan Dalam surat-menyurat pembuka selalu dui bubuhkan tanda baca(:). agaknya penulisan tanda baca di belakang pembuka surat, baik dengan, maupun titik dua, hanyalah menurut kebiasaan. Salam pembuka Dengan hormat jika tidak di gunakan secara sendiri-sendiri, sebaiknya di masukkan selalu ke dalam kalimat pertama pembuka surat (alenia pertama) contoh: kami kirimkan dengan hormat seberkas daftar nilai kepada saudara ketua jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
Isi terdapat dari dalam surat umumnya terdiri dari atas tiga bagian yaitu Pembukaan isi dan sesungguhnnya dan penutup.
Contohnya:
Membalas surat Saudara tertanggal 18 Agustus 1983 dengan ini kami kabarkan bahwa surat lamaran saudara sudah kami terima dengan selamat.
Sehubungan dengan itu .Kami telah mempertimbangkan semasak-masaknya dan merundingkan dengan anggota- anggota kami. Akan tetapi, sayang sekali lamaran saudara itu belum dapat kami kabulkan. Hal itu di sebabkan oleh belum adanya formasi yang saudara inginkan .
Demikianlah penjelasan kami, mudah – mudahan saudara dapat memakluminya.
Pada contoh di atas, isi surat (tubuh surat) itu lengkap dengan bagian- bagian pembukaanya, isi sesunguhnya dan penutup . Dengan jelasnya ditulis dalam tiga buah alinea (paragraf). Dalam pembukaan juga berguna untuk mengantar dan menarik perhatian pembaca terhadap pokok surat .Untuk itu digunakan kalinat- kalimat pembuka yang sesuai dengan maksud dan tujuan surat. Perhatikan contoh- contoh kalimat pembuka surat tersebut :

1. Untuk membalas / menjawab surat yang diterima ,digunakan kalimat- kalimat pembuka misalnya:
a. Membalas (menjawab) surat Saudara tertanggal 19 September 1983 No. 150 / DBSI.1983, Dengan ini kami beritahukan bahwa ……..
b. Memenuhi surat saudara tertanggal 19 September 1981 No.97/ Um /1983, bersama ini kami kirimkan ……..
c. Menunjukan surat saudara tertanggal ….. dengan ini kami beritahukan bahwa ………
d. Berhubungan dengan surat lamaran saudara tertanggal ……. Dengan ini kami beritahukan bahwa ………
2. Untuk surat- surat yang berisi suatu pemberitahuan, permintaan, pertanyaan dan yang sejenis dengan itu, digunakan kalimat pembuka sebagai berikut :
a. Dengan ini kami beritahukan bahwa …………..
b. Bersama ini kami sampaikan kepada saudara ………….
c. Dengan gembira kami kabarkan kepada saudara bahwa …………
d. Dengan sangat menyesal kami beritahukan kepada saudara bahwa ………….
3. Untuk menunjukan sesuatu yang menjadi dasar menyusun surat dipergunakan di perlukan kalimat pembuka sebagai berikut
a. Berdasarkan hasil rapat para Ketua jurusan pada tanggal 9 juli 1984, dengan ini diberitahukan bahwa …….
b. Berkenaan dengan surat edaran Inspektur Jendral Depdikbud tertanggal ….No….. dengan ini kami beritahukan bahwa …..
4. Untuk menyatakan tujuan yang akan dilaksanakan dapat dapat dipergunakan kalimat pembuka:
a. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 mei 1983, IKIP Malang akan mengadakan serangkaian acara sebagai berikut ….
b. Dalam usaha meningkatkan kemampuan dan keterampilan berbahasa inggris para dosen IKIP Malang, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia akan mengadakan kursus kilat Bahasa Inggris, yang akan di selengarakan….
Isi surat yang sesungguhnya berisi sesuatu yang diberitahukan, di kemukakan, di tanyakan, di minta, dan sebagainya yang di sampaikan kepada penerima surat
Untuk menyusun isi surat yang baik hendaklah di perhatikan pedoman-pedoman sebagai berikut:
1) Tetapkan dahulu maksud yang di beritahukan, di kemukakan, di tanyakan, di minta, dan sebagainya secara jelas.
2) Tetapkan urutan maksud surat itu secara sistematis dan logis.
3) Tuliskanlah maksud surat itu dalam alinea-alinea yang jelas.
4) Hindarkanlah pemakaian akronim dan singkatan-singkatan yang belum lazim, lebih-lebih yang di tulis hanya atas kemauan sendiri.
5) Hendaklah di gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sederhana, lugas, sopan, dan menarik.
6) Sedapat-dapatnya hindarkan pemakaian kata-kata asing / kata-kata daerah sehingga terasa keasing-asingan / ke daerah-daerahan, kecuali yang belum ada padananya dalam bahasa Indonesia.
7) Hendakalah di pakai bentuk surat yang tepat / cocok dan menarik
8) Hendaklah diketik serapinya – rapinya, hindarkan ketikan yang bertumpuk- tumpuk dan
9) Hendaklah dituliskan dengan ejaan yang betul
Penutup surat merupakan kewsimpulan yang berfungsi sebagai kunci isi surat. Umumnya berisi ucapan terima kasih terhadap semua hal yang dikemukakan dalam isi surat. Hendaknya penutup surat itu ditulis secara singkat dan jelas. Berikut ini diberikan contoh- contoh penutup surat yang sesuai dengan isinya
1. Untuk menyatakan rasa terima kasih dapat di pakai kalimat penutup:
a. Atas perhatian Bapak / Saudara, kami ucapkan terima kasih.
b. Atas perhatian dan perhatian dan bantuan Bapak/ Saudara, kami ucapkan terima kasih
c. Atas kehadiran Bapak/ Saudara, saudara kami ucapkan terima.
2. Untuk menunjukkan suatu kenyataan yang telah disebutkan sebelumnya, dapat di pakai kalimat-kalimat penutup sebagai berikut:
a. Demikian harapan kami dan atas perhatian saudara,kami ucapkan terima kasih.
b. Demikianlah laporan yang dapat kami sampaikan kepada Bapak, semoga mendapatkan perhatian sepenuhnya dari Bapak.
c. Demikianlah tugas ini di berikan untuk di laksanakan sebagai mestinya.
Salam Penutup Pada surat
Salam Penutup surat dinas atau formal pemerintah menyebutkan:
1) Nama jabatan (Rektor Pembantu Rektor 1, dekan dan sebagainya)
2) Tandatangan
3) Nama terang,terang dan
4) NIP (Nomor Induk Pegawai)

Tembusan Pada Surat
Tembusan di buat jika isi surat yang di kirimkan kepada pihak yang sebenarnya di tuju (asli) perlu di ketahui oleh pihak-pihak lain yang ada hubungannya dengan surat tersebut. dangan cara demikian yang di kirimi surat mengerti apa aja yang juga di beri tahu tentang isi surat itu.Tembusan di tulis di sebelah kiri bawah, lurus ke atas, dengan Nomor, lampiran dan Hal/ Perihal. sebaris dengan NIP atau momor lainnya. Tembusan hendaknya di susun berdasarkan urutan tingakat jabatan instansi yang bersangkutan.Pada tembusan tidak perlu di gunakan yang Yth atau kepada Yth. demi kehematan. Bentuk Surat Yaitu:
Dalam surat-menyurat resmi ada lima bentuk surat yaitu: Lurus penuh. Lurus, Setengah lurus, Resmi Indonesia lama, Resmi Indonesia baru
Bentuk Lurus Penuh yang terdapat pada surat dinas di susun dengan aturan sebagai berikut surat semua bagian surat di ketik nilai dari margin kiri yang yang sama.
a) batas-batas bagian surat di ketik dangan menambahkan jarak spasi.
b) setiap paragraph baru di mulai pada margin yang sama, dan antara paragraph yang satu yang lainnya berjarak satu spasin juga.

Bentuk Lurus Pada Surat
Bentuk Lurus Pada surat dasarnya dengan bentuk lurus penuh bedanya terletak pada pengetikan pada surat Nama jabatan (Rektor Kepala).Tandatangan, nama terang NIP (Surat dinas) atau salam penutup (Hormat kami,Wassalam) Tandatangan dan nama jabatan.
Bentuk Setengah Lurus
Bentuk Setengah Lurus dasarnya bedannnnnya hanya terletak pada pengetikan pada paragraphnya. setiap paragraph agak menjolok ke dalam, yaitu sesudah lima ketukan dari margin kiri antara paragraph yang satu lainnya tidak perlu berjarak.
Bentuk Resmi Indonesia Lama
Bentuk Resmi Indonesia Lama pada surat mirip dengan bentuk setengh lurus pada surat bedanya hanya dalam pengetikan dalam surat.
Bentuk Resmi Indonesia Baru
Bentuk resmi indonesai baru merupakan variasi setengah lurus atau Bentuk Resmi Indonesia.
Dapat kita ketahui yang membedakan bentuk resmi lama dan Indonesia baru. Resmi Indonesia lama letak tanggal suratnya di dahului oleh nama tempat, alamat suratnya di tulis sebelah kanan di bawah nama tempat dan tanggal dan jabatam pengirimannya di tuliskan tandatangan dan nama terang di artip oleh tanda kurung. Sedangkan bentuk resmi Indonesia baru letak nama tempat tidak dituliskan karena sudah tertera pada kepala surat , Alamat dituliskan di sebelah kiri agar dapat dituliskan lengkap tanpa penanggalan karena tempatnya cukup luas, dan jabatan pengirm dituliskan di bawah tanda tangan dan nama terang tidak diapit oleh tanda kurung.

Video Pembelajaran ICT yang Menyenangkan;>>>> LIHAT

Pengertian Menulis Wacana Fiksi;>>>> Baca

TPengembangan Kurikulum Bahasa Indonesia;>>>> Baca

Cara Menulis Laporan Kegiatan;>>>> Baca

Contoh Cerita untuk Anak-anak: Semut dan Kepompong;>>>>>>>>> Baca

Tentang Paragraf

Tentang Paragraf

A. Pengertian Paragraf

Paragraf disebut juga alinea. Kata paragraf diserap dari bahasa inggris “Paragraf”. Paragraf sedangkan kata alinea dari bahasa Belanda, dari kata Latin A LINEA yang berarti “ Mulai dari baris yang baru”. Kata Inggris paragraf terbentuk dari kata Yunani “PARA” yang berarti “Sebelum” ,dan “GRAFEIN” yang berarti, “Menulis atau menggores”.
Sehingga disimpulkan sedemikian, paragraf adalah satuan bahasa yang lengkap, yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Sebagai satuan bahasa yang lengkap artinya dalam paragraf tersebut terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh yang bias dipahami oleh pembaca. Sedangkan paragraf mempunyai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, berarti paragraf itu dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal.
Persyaratan gramatikal dalam paragraf dapat dipenuhi kalau dalam paragraf itu sudah terbina yang disebut kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam paragraf tersebut. Dalam paragraf kalimat-kalimat harus disusun dengan KOHESI (kesatuan dalam paragraf) memiliki koherensi (keterpautan makna), dan memiliki isi yang memadai sebagai pendukung gagasan utama dalam paragraf.
Paragraf yang baik biasanya berisi atau mempunyai pikiran utama yaitu topik yang dikembangkan menjadi sebuah paragraf dan berfungsi sebagai pengendali keseluruhan paragraf.
Ciri-ciri kalimat utama :
1. Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut.
2. Merupakan kalimat yang dapat berdiri sendiri.
3. Mempunyai arti yang jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain.
Ciri-ciri kalimat penjelas :
1. Dari segi arti sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.
2. Kadang arti kalimat baru jelas ketika dihubungkan dengan kalimat lain.
3. Pembentukannya sering membutuhkan kata sambung.
Sedangkan paragraf juga mempunyai ciri-ciri dan fungsinya sebagai berikut :
1. Ciri-ciri paragraf
a. Paragraf menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik.
b. Setiap paragraf memiliki satu kalimat topik dan yang lainnya merupakan kalimat penjelas.
c. Paragraf menggunakan pikiran penjelas (gagasan utama).
2. Fungsi paragraf
a. Mengekpresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam suatu kesatuan.
b. Menandai peralihan (pergantian), gagasan baru bagi karangan yang terdiri dari beberapa paragraf ganti. Paragraf ganti berarti ganti pikiran.
c. Memudahkan pemahaman bagi pembacanya.
d. Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.
e. Memudahkan pengendalian variabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa variabel.

B. Jenis-jenis Paragraf
1. Berdasarkan letak kalimat topiknya
Berdasarkan letak kalimat topiknya paragraf dibagi atas:
a. Paragraf Deduksi
Paragraf deduksi artinya paragraf yang memiliki pikiran utama pada awal alinea, sedangkan kalimat selanjutnya merupakan kalimat penjelas. Paragraf deduksi sering juga disebut paragraf umum, ke paragraf khusus. Contoh paragrafnya adalah paragraf yang memiliki isi kalimat penjelas, uraian, analisis, contoh-contoh, keterangan atau rincian kalimat topik.
b. Paragraf Induksi
Paragraf induksi (khusus ke umum) yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak pada akhir kalimat. Artinya, kalimat-kalimat awal merupakan kaimat penjelas, sedangkan kalimat akhir merupakan kalimat utamanya.
c. Paragraf Kombinasi
Kalimat utamanya pada sebuah paragraf pada hakekatnya hanya memiliki satu kalimat utama. Tapi, pada paragraf kombinasi, kalimat utamanya bisa terletak pada awal atau juga bisa terletak pada akhir paragraf. Jika dikatakan kombinasi, karena jika kalimat utamanya terletak pada awal kalimat, maka akan ditegaskan pada akhir kalimat, begitu juga sebaliknya. Sehingga, paragraf ini sering disebut paragraf deduktif-induktif.
d. Paragraf Penuh
Paragraf penuh maksudnya paragraf penuh dengan kalimat topik, seluruh kalimat yang membangun suatu paragraf sama pentingnya sehingga tidak satupun kalimat yang khusus menjadi kalimat topik. Paragraf ini sering dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif dan narasi terutama dalam karangan fiksi.

2. Berdasarkan sifat isinya (Bedasarkan bentuk pengembangannya)
a. Paragraf Argumentasi
Paragraf yang berusaha mengungkapkan pendapat dan sikap penulis. Sikap dan pendapat penulis diungkapkan dalam bentuk fakta. Ciri khas paragraf argumentasi terletak pada pendapat yang disertai dengan alasan yang mendukung. Contohnya karya ilmiah, makalah, skripsi, tesis dan disertasi.
b. Paragraf Persuasi
Paragraf persuasi adalah paragraf yang isinya berupa ajakan yang mengajak pembaca dengan mengemukakan alasan, contoh dan bukti yang kuat, untuk meyakinkan pembaca, atau pendengar sehingga pembaca membenarkan dan mengikuti ajakan penulis. Contohnya majalah, surat, surat kabar, radio, selebaran, kampanye dan lain-lain.
c. Paragraf Deskripsi/Deskriptif
Paragraf deskripsi adalah paragraf yang melukiskan atau menggambarkan objek yang sedang dibicarakan atau dituliskan sehingga pendengar atau pembaca seolah-olah melihat objek yang sedang dibicarakan. Atau dengan kata lain paragraf deskripsi menaruh harapan pada pembaca atau pendengar seolah-olah melihat keadaan peristiwa tersebut secara langsung. Biasanya digunakan dalam karya sastra dan biografi seseorang.
d. Paragraf eksposisi
Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bersifat memaparkan, menjelaskan, menerangkan, dan menguraikan sesuatu. Jenis paragraf ini bertujuan untuk memperluas atau menambah wawasan pembaca atau pendengar. Bentuk paragraf ini biasa dipakai untuk memaparkan cara membuat sesuatu, cara menggunakan sesuatu. Contohnya penulisan cara kerja sebuah mesin, cara mengkomsumsi obat-obatan dan sebagainya.
e. Paragraf Narasi/Naratif
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan kejadian atau peristiwa dari awal sampai akhir yang dikaitkan dengan kurun waktu tertentu dalam bentuk perceritaan. Paragraf narasi berusaha menceritakan atau menuliskan kejadian-kejadian yang ingin disampaikan penulis berdasarkan urutan waktu. Biasanya digunakan dalam bentuk riwayat hidup, novel, cerpen dan roman.
3. Berdasarkan posisi dan fungsinya dalam paragraf
Berdasarkan posisinya dan fungsinya dalam paragraf maka paragraf dibagi atas;
a. Paragraf Pembuka
Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berfungsi sebagai pengantar menuju masalah yang akan dibahas. Sebagai bagian yang mengawali sebuah karangan. Paragraf pembuka harus dapat difungsikan untuk mengantar pokok pembicaraan, menyiapkan pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan. Bentuk-bentuk berikut ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan menulis paragraf pembuka, yaitu;
1) Kutipan, pribahasa, anekdot atau cerita yang lucu, singkat dan mengesankan
2) Uraian mengenai pokok pembicaraan
3) Sesuatu tantangan atas pendapat atau pernyataan seseorang
4) Uraian tentang pengalaman pribadi
5) Uraian tentang maksud dan tujuan penulis
6) Sebuah pertanyaan
7) Memberikan latar belakang suasana atau watak
8) Melukiskan sejarah atau riwayat hidup seseorang
9) Memberi ringkasan isi karangan
b. Paragraf Penghubung atau Pengembang
Merupakan paragraf yang bertujuan mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang telah dirumuskan dalam paragraf pembuka. Paragraf pengembang dalam karangan dapat difungsikan sebagai berikut:
1) Mengemukakan inti persoalan
2) Memberi ilustrasi dan contoh
3) Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf berikutnya
4) Meringkaskan paragraf berikutnya
5) Mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan
c. Paragraf Penutup
Merupakan paragraf yang berfungsi mengakhiri bagian suatu karangan atau seluruh karangan. Paragraf ini biasanya berisi simpulan atau saran atau bahkan penegasan kembali paragraf pembukanya. Paragraf penutup harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Sebagai paragraf penutup, maka paragraf ini tidak boleh terlalu panjang
2) Isi paragraf harus berisi simpulan sementara atau simpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh uraian
3) Hendaknya paragraf ini dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya

C. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf
Suatu paragraf dikatakan baik apabila paragraf tersebut dapat memenuhi syarat-syarat paragraf yang baik yaitu kesatuan, kepaduan, kelengkapan, keruntutan, dan konsitensi penggunaan sudut pandang.
1. Kesatuan paragraf atau kohesi
Untuk membentuk kesatuan paragraf, setiap paragraf hanya berisi satu pokok pikiran. Paragraf terdiri atas beberapa kalimat. Tetapi, seluruhnya harus merupakan satu kesatuan, sehingga tidak ada kalimat yang sumbang yang tidak mendukung kesatuan paragraf.
2. Kepaduan paragraf atau koherensi
Satu paragraf dinyatakan padu apabila paragraf tersebut dibangun dengan kalimat-kalimat yang memiliki hubungan atau pikiran yang logis, yang dapat menghasilkan kejelasan struktur dan makna paragraf. Untuk memperoleh kepaduan yang baik suatu penulisan paragraf harus memperhatikan masalah kebahasaan dan perincian dari isi urutan alinea, sebagai berikut :
3. Masalah kebahasaan atau gramatikal
Masalah kebahasaan dapat dibangun melalui koherensi yaitu repetisi atau pengulangan kata kunci, kata ganti, kata transisi dan bentuk paralel, yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini :
1) Pengulangan kata kunci atau repetisi
Semua paragraf dihubungkan dengan kata kunci atau sinonimnya. Kata kunci yang telah disebut pada pertama diulang pada kalimat kedua dan kalimat seterusnya. Pengulangan tersebut, mengakibatkan suatu paragraf menjadi padu, utuh dan kompak. Bentuk pengulangannya dapat berupa pengulangan kata, Frasa, yang diletakan pada awal, tengah atau akhir kalimat.
2) Kata Ganti
Kepaduan suatu paragraf juga dapat dijalin dengan kata ganti (dia, -nya, mereka, ini, itu dll). Dengan menggunakan kata ganti sebagai kepaduannya, maka bagian kalimat yang lain yang sama tidak perlu diulang melainkan diganti dengan kata ganti dia. Hal tersebut juga dapat mengurangi kejenuhan atau dapat membangun variasi kalimat.
3) Kata Transisi atau frasa penghubung
Kata transisi yaitu kata penghubung, konjungsi, perangkai, yang menyatakan adanya hubungan. Dalam penggunaan kata transisi yang tepat dapat memadukan paragraf sehingga keseluruhan kalimat dapat menjadi padu, menyatu dan utuh. Contohnya :
a) Hubungan pertentangan
Lebih baik dari itu, oleh sebab itu, dengan demikian, jadi, dll.
b) Hubungan akibat atau hasil
Akibatnya, karena itu, oleh sebab itu, berbeda dengan itu, akan tetapi, bagaimanapun, meskipun begitu,namun, dll.
c) Hubungan pertambahan
Berikutnya, demikian juga, kemudian, selain itu, lagipula, lalu, selanjutnya, tambahan pula dll.
d) Hubungan perbandingan
Dalam hal yang sama, lain halnya dengan, sebaliknya, lebih baik dari itu, berbeda dengan itu.
e) Hubungan tempat
Berdekatan dengan itu, disini, seberang sana, tak jauh, dari sana, di bawah, di atas dll.
f) Hubungan tujuan
Agar, untuk, guna, untuk maksud itu, supaya dll.
g) Hubungan waktu
Baru-baru ini, beberapa saat kemudian, mulai sebelum, segera, sesudah, sejak, ketika dll.
h) Hubungan singkatan
Singkatnya, ringkasnya, akhirnya, sebagai simpulan, pendek kata dll.
4) Bentuk Paralel
Bentuk paralel atau kesejajaran yaitu bentuk-bentuk, artinya, bentuk kata yang sama, repetisi/pengulangan bentuk kata/kalimat yang sama.
a) Masalah pedrincian dan urutan hasil alinea
(1) Kelengkapan dan ketuntasan
Kelengkapan adalah kesempurnaan. Hal ini dapat diwujudkan dalam klasifikasi yaitu pengelompokkan secara merata atau lengkap dan kentuntasan bahasan yaitu kesempurnaan membahas materi secara menyeluruh dan utuh.
(2) Konsitenti sudut pandang
Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan diri dalam karangannya. Penulis sering menggunakan aku seolah-olah menceritakan dirinya sendiri. Kadang penulis menggunakan sudut pandang dia atau ia. Sekali menggunakan sudut pandang tersebut harus menggunakannya secara konsisten dan tidak boleh berganti sejak awal sampai akhir.
(3) Keruntutan
Keruntutan adalah penyusunan urutan gagasan dalam karangan. Gagasan disajikan secara beruntun, agar pembaca dapat dengan mudah memahami dan dapat menyenangkan pembacanya.
D. Asas-asas Paragraf Yang Baik
Dalam mengelola paragraf yang baik perlu menerapkan asas yang berkenan dengan gagasan. Keenam asas tersebut menyangkut tantatan dalam menyampaikan gagasan. Keenam asas dalam menuangkan gagasan dalam paragraf, adalah sebagai berikut :
1. Kejelasan
Kejelasan berarti sifat tidak samar-samar sehingga tiap butir fakta atau pendapat yang ditemukan seakan-akan tampak nyata oleh pembaca. Karangan tersebut mudah ditafsir dan tak mungkin disalah tafsirkan.
2. Keringkasan
Keringkasan berarti karangan tersebut idak pendek atau singkat, melainkan bahwa karangan itu tidak berboros kata, tidak berlebih-lebihan dengan ungkapan, tidak mengulang-ulang butir ide yang sama, tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
3. Ketepatan
Ketepatan berarti bahwa karangan dapat menyampaikan butir-bitur pengetahuan kepada pembaca dengan kecocokan sepenuhnya seperti maksud penulis. Ketepatan juga meliputi ketepatan menaati aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, peristilahan, kelaziman bahasa, dan sebagainya.
4. Kesatupaduan
Artinya segala sesuatu yang disajikan dalam karangan harus berkisar, bergayutan dan relevan pada suatu gagasan pokok atau pikiran utama karangan.
5. Pertautan
Pertautan atau koherensi asas yang menghendaki agar ada saing kait antara kalimat dalam paragraf dan antarparagraf. Pertautan menghendaki agar jangan sampai ada kata atau frasa yang tidak jelas rujukannya.
6. Harkat
Harkat asas yang menghendaki agar karangan benar-benar berbobot kita harus menerapkan hukum DM atau diterangkan menerangkan dalam membangun paragraf dengan satu (D) dan jumlah yang memadai atau yang lengkap.

E. Teknik Pengembangan Paragraf
Beberapa teknik yang digunakan oleh seorang penulis atau pengarang dalam mengembangkan suatu paragraf adalah :
1.Teknik alamiah
Teknik alamiah merupakan pengembangan paragraf berdasarkan urutan ruang dan waktu, bertujuan untuk memudahkan pemahaman pembaca.
2. Teknik klimaks dan antiklimaks
Antiklimaks dimulai dari informasi yang memilki gradasi tinggi atau penting menuju informasi yang gardasinya rendah, sedangkan klimakks merupakan kebalikan dari antiklimaks.
3. Teknik umum khusus dan khusus umum
Teknik umum khusus dimulai dari gagasan utama dan dilanjutkan dengan hal khusus sebagai pengembangannya. Sedangkan teknik khusus umum dimulai dari hal-hal khusus yang merupakan penjelasan, kemudian disimpulakan menjadi hal atau gagasan umum.
4. Teknik perbandingan dan pertentangan
Teknik ini mencoba memperjelas gagasan utama dengan jalan memperbandingkan dan mempertentangkan hal-hal yang dibicarakan. Dalam hal ini penulis menunjukkan persamaan dan perbedaan diantara dua hal.
5. Teknik analogi
Teknik ini digunakan untuk membandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang sudah dikenal dengan yang kurang dikenal. Tujuannya adalah untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal tersebut. Tetapi teknik analogi misalnya dalam karya ilmiah jarang dipakai karena teknik analogi tidak selamanya benar.
6. Teknik contoh-contoh
Teknik ini memberikan hal yang konkrit yang dapat memeberikan bukti atau penjelasan kepada pembaca yang bersifat lebih umum, untuk lebih memperjelas.
7. Teknik sebab akibat
Teknik sebab akibat dapat diwujudkan dengan melihat hubungan antar kalimat dalam paragraf. Hubungan kalimat yang satu dengan yang lainnya dapat berbentuk sebab akibat.
8. Teknik definisi luas
Teknik ini merupakan pemberian penjelasan tentang sesuatu, dengan beberapa kalimat untuk memperjelas definisi, bisa dituangkan dalam beberapa kalimat, dan bahkan beberapa alinea.
9. Teknik klasifikasi
Teknik klasifikasi merupakan penggunaan cara pengelompokkan hal-hal yang sama untuk memperjelas kalimat utama. Penulis mengelompokkan suatu hal berdasarkan persamaannya, kemudian diperinci lagi lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dan detail. Penggelompokkan yang didasarkan pada persamaan biasanya dapat memberikan sebuah kesimpulan yang tepat.

Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 1;>>>> Baca

Pengertian Menulis Wacana Fiksi;>>>> Baca

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah;>>>> Baca

Cara Menulis Laporan Kegiatan;>>>> Baca

Perkembangan Kognitif Anak Prasekolah;>>>>>>>>> Baca

KAJIAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD

KAJIAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD
Oleh Isah Cahyani

Salah satu tujuan utama pengajaran bahasa adalah mempersiapkan siswa untuk melakukan interaksi yang bermakna dengan bahasa yang alamiah. Agar interaksi dapat bermakna bagi siswa, perlu didesain secara mendalam program pembelajaran bahasa Indonesia. Desain yang bertumpu pada kontekstual, konstruktif, komunikatif, intergratif, dan kuantum yang didasari oleh kompetensi dasar siswa.
Kemampuan berbahasa Indonesia berarti siswa terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia. Menghayati bahasa dan sastra Indonesia berarti siswa memiliki pengetahuan bahasa dan sastra Indonesia, dan memiliki sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
1. Pengertian Metodologi Pembelajaran Bahasa
Strategi pembelajaran merupakan aspek penting dalam kemajuan pendidikan di sekolah. Apalagi saat ini, Indonesia mulai berbenah diri dalam pelaksanaan pendidikan bagi warganya mulai diversifikasi kurikulum yang dapat melayani kemampuan sumber daya manusia, kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya di daerah. Guru diharapkan menjadi seorang yang kaya akan teknik pembelajaran dan mampu menerapkan kapan, di mana, bagaimana, dan dengan siapa diterapkan metode tersebut. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan metode pembelajaran.
Strategi meliputi pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan adalah konsep dasar yang melingkupi metode dengan cakupan teoritis tertentu. Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Teknik adalah cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Pendekatan komunikatif menekankan pada bahasa sebagai alat berkomunikasi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah agar siswa terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Komunikasi tidak selalu bersifat formal atau resmi tetapi juga mungkin bersifat tidak formal. Karena itu bahan pengajaran tidak hanya ditekankan kepada ragam baku tetapi juga ragam lainnya. Bahan pengajaran bahasa harus sesuatu yang bermakna bagi siswa. Hal ini diwujudkan antara lain dalam pemilihan bahan pengajaran yang berkaitan dengan ragam-ragam komunikasi seperti tersebut di atas.
Guru bahasa Indonesia harus menyadari sungguh-sungguh bahwa keterampilan menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi akan tercapai bila siswa diberi kesempatan: memahami teori, mempraktikkan teori, serta berlatih menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Metode adalah cara-cara mengajar yang telah disusun berdasarkan prinsip dan sistem tertentu (Basennang, 1989:45). Hakikat metode pengajaran bahasa berdasarkan pendapat Basennang sesungguhnya tidak lain adalah persoalan pemilihan bahan yang akan diajarkan, penentuan cara-cara penyajiannya, dan cara mengevaluasinya. Orientasi pada tujuan pengajaran yang ingin dicapai.
Teknik merupakan satu rancangan menyeluruh untuk menyajikan secara teratur bahan-bahan pengajaran bahasa, tidak ada bagian-bagian yang saling bertentangan dan semuanya berdasarkan pada asumsi pendekatan (Parera,1993:93). Menurut Parera, sebuah metode ditentukan oleh:
1) Hakikat bahasa
2) Hakikat belajar mengajar bahasa
3) Tujuan pengajaran bahasa
4) Silabus yang digunakan
5) Peran guru, siswa, dan bahan pengajaran.
Metodologi adalah ilmu mengenai metode, dan istilah metode ini mencakup: silabus, pendekatan, strategi/teknik, materi, dan gaya guru. (H.G. Tarigan,1989:18). Jadi dalam setiap pengajaran diperlukan suatu metode untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut.
Setiap metode pengajaran bahasa pada dasarnya menginginkan hasil yang sama yaitu agar para siswa dapat membaca, berbicara, memahami, menerjemahkan, dan mengenali penerapan-penerapan tata bahasa yang dipelajari.
Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, metode, dan teknik secara spesifik.
3. Jenis-Jenis Metode Pengajaran Bahasa Indonesia
Proses belajar mengajar mencakup sejumlah komponen. Komponen proses belajar mengajar tersebut adalah siswa, guru, tujuan, bahan, metode, media, dan evaluasi. (C.E. Beeby, 1982 dalam Djago Tarigan, 1995:18) salah satu kelemahan dalam pengajaran, termasuk pengajaran bahasa, di SD adalah dalam komponen metode. Guru cenderung mengajar secara rutin, kurang bervariasi dalam menyampaikan bahan pengajaran.
Cara mengajar guru sangat berpengaruh kepada cara belajar siswa. Bila guru mengajar hanya dengan metode ceramah maka dapat diduga siswa belajar secara pasif dan hasilnya pun berupa pemahaman materi bersifat teoritis. Belajar melalui pengalaman semakin jauh dari kenyataan.
Untuk mengatasi hal itu maka setiap guru, juga guru bahasa Indonesia, di SD harus mengenal, memahami, menghayati, dan dapat mempraktikkan berbagai metode pengajaran bahasa. Minimal ada 14 metode yang pantas dikuasai oleh guru (Djago Tarigan, 1995:19). Metode yang dimaksud adalah:
1. metode penugasan
2. metode eksperimen
3. metode proyek
4. metode diskusi
5. metode widyawisata
6. metode bermain peran
7. metode demonstrasi
8. metode sosiodrama
9. metode pemecahan masalah
10. metode tanya jawab
11. metode latihan
12. metode ceramah
13. metode bercerita, dan
14. metode pameran
Mungkin sekali tidak semua metode tersebut di atas cocok digunakan sebagai metode pengajaran bahasa Indonesia di SD. Tetapi sebagian di antaranya dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa Indonesia di SD.
Proses pembelajaran bahasa Indonesia harus bertumpu ke siswa sebagai subjek belajar. Materi pembelajaran bahasa Indonesia terintegrasi dengan penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini. Pembelajaran diarahkan ke pemakaian sehari-hari baik lisan maupun tulis dalam konteks bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa indonesia tersebut di antaranya melalui wacana tulis dan lisan. Wacana tulis berkembang melalui buku pengetahuan, surat kabar, iklan, persuratan, dan lainnya. Sedangkan wacana lisan berkembang melalui percakapan sehari-hari, radio, televisi, pidato, dan sebagainya. Dengan begitu, siswa pembelajar bahasa Indonesia dapat mengikuti zamannya.
Yang belajar dalam kelas adalah siswa bukan guru. Siswa hendaklah diarahkan ke pengembangan potensi diri sendiri. Bukankah siswa hidup di zaman ini? Artinya, segala masalah kebahasaan yang perlu dimainkan di sekolah haruslah juga sesuai dengan zamannya. Kata, kalimat, paragraf, bahkan tulisan harus bernuansa kekinian. Sumber kebahasaan yang digunakan oleh guru juga harus mengacu ke minat dan harapan siswa. Dengan begitu, siswa dapat tertarik dengan pembelajaran bahasa Indonesia.
4. Aplikasi Teknik Pengajaran Bahasa Indonesia di SD
Bahasa Indonesia diajarkan pada setiap jenjang sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah, sampai ke perguruan tinggi. Walaupun pengajaran bahasa Indonesia sudah dilaksanakan secara ekstensif dalam lembaga pendidikan formal, hasilnya belum memuaskan. Kemampuan berbahasa Indonesia para siswa lulusan SD, SMP, ataupun SMA belum memadai. Bahkan para dosen pembimbing skripsi di perguruan tinggi pun sering mengeluh karena kemampuan berbahasa mahasiswanya kurang memuaskan.
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas dan diperkuat lagi oleh pentingnya bahasa bagi manusia maka wajarlah apabila guru membenahi dan memantapkan kembali pengajaran bahasa Indonesia. Pemantapan pengajaran ini harus berlangsung serempak pada setiap jenjang pendidikan pengajaran bahasa harus menghasilkan siswa-siswa yang terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi. Terampil berbahasa bermakna terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia.
Pengajaran bahasa di SD memiliki nilai strategis. Pada jenjang inilah pertama kalinya pengajaran bahasa Indonesia dilaksanakan secara berencana dan terarah. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk menanamkan tiga hal. Pertama, guru dapat menanamkan pengetahuan dasar bahasa Indonesia. Kedua, guru dapat menumbuhkan rasa memiliki, mencintai, dan bangga akan bahasa Indonesia pada diri siswanya. Ketiga, guru dapat meningkatkan keterampilan berbahasa para siswa-siswanya. Siswa yang sudah dibekali dengan landasan yang kuat mengenai pengetahuan sikap positif terhadap pengajaran bahasa Indonesia, dan keterampilan berbahasa yang bersangkutan akan lebih mudah menyelesaikan studinya.
Langkah awal yang harus dilalui oleh guru sebelum merencanakan dan melaksanakan pengajaran bahasa Indonesia di SD adalah memahami benar-benar pedoman petunjuk atau karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Pedoman ini dapat kita baca pada kurikulum dengan perangkatnya, buku-buku pengajaran bahasa, dan buku-buku mengenai bahasa dan sastra Indonesia.
Sebagian besar dari siswa SD tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, tetapi bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Melalui kegiatan belajar mengajar di SD mereka diperkenalkan dengan bahasa Indonesia. Melalui kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia ini pula dapat ditumbuhkan nasionalisme untuk mencintai Indonesia terhadap anak-anak daerah berlangsung secara formal.
Melalui pengajaran bahasa di SD diharapkan siswa mendapat bekal yang mantap untuk mengembangkan dirinya dalam pendidikan berikutnya dan hidup bermasyarakat. Dalam bidang pengetahuan siswa memiliki pemahaman dasar-dasar kebahasaan terutama bahasa baku. Dalam bidang afektif siswa harus diarahkan agar mempunyai sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Ahli pengajaran bahasa yang terkenal, (Macky,1972 dalam Djago Tarigan, 1995: 21) menyatakan bahwa metode bersifat netral, tidak ada metode yang baik dan dan tidak ada metode yang jelek . Baik atau buruknya sesuatu metode ditentukan oleh guru yang menggunakan metode tersebut. Bila guru dapat menggunakan metode tersebut maka maka metode itu menjadi baik. Sebaliknya, bila guru menggunakan metode itu secara tidak tepat maka metode itu pun menjadi tidak baik.
Metode yang digunakan dengan tepat, atau metode yang baik dapat memberikan dampak, antara lain:
1) Memikat, menantang atau merangsang siswa untuk belajar.
2) Memberikan kesempatan yang luas serta mengaktifkan siswa secara mental dan fisik dalam belajar. Keaktifan itu dapat berwujud latihan, praktek atau mencoba melaksanakan sesuatu.
3) Tidak terlalu menyulitkan fungsi guru dalam penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian program pengajaran.
4) Dapat mengarahkan kegiatan belajar ke arah tujuan pengajaran.
5) Tidak menuntut peralatan yang rumit, mahal, dan sukar mengoperasikannya.
6) Mengembangkan kreativitas siswa.
7) Menggali dan mengembangkan potensi siswa secara individu maupun secara kelompok.
8) Meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.
9) Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Berdasarkan pendapat Macky tersebut di atas dapat pula kita katakan bahwa metode pengajaran bahasa Indonesia pun bersifat netral. Ia menjadi baik di tangan guru yang tepat menggunakannya. Ia akan menjadi jelek di tangan guru yang salah menggunakannya. Guru diharapkan dapat memilih dan menerapkan metode pengajaran yang tepat dalam setiap proses belajar mengajar di kelas. Metode yang dipilih dan diterapkan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, keadaan siswa seperti kemampuan, minat, dan lingkungannya. Metode pengajaran itu harus pula bervariasi dan memberikan pengalaman berbahasa yang beraneka bagi siswa,
merangsang siswa untuk belajar, serta memudahkan siswa memahami bahan pembelajaran. Metode yang dipilih pun harus mudah dioperasikan dan tidak menuntut peralatan yang rumit.
Dengan demikian berbagai pendekatan dalam pembelajaran bahasa Indonesia seperti: menyimak, berbicara, membaca, menulis, apresiasi sastra, dan kebahasaan membutuhkan metodik khusus untuk menunjang terlaksananya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.
1. Teknik Pengajaran Menyimak
Menyimak atau mendengarkan adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa. Menyimak berkaitan erat dengan berbicara, membaca, dan menulis. Namun hubungan antara menyimak dan berbicara lebih erat bila dibandingkan dengan hubungan antara menyimak dan membaca ataupun menyimak dan menulis. Komunikasi lisan tidak akan berjalan bila menyimak tidak disertai berbicara atau sebaliknya berbicara mestilah disertai kegiatan menyimak.
Guru bahasa Indonesia di SD harus berupaya agar pengajaran menyimak disenangi oleh siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru benar-benar menguasai materi dan cara atau metode pengajaran menyimak. Khusus dalam metode pengajaran menyimak tersebut guru harus mengenal, memahami, menghayati, serta dapat mempraktikkan berbagai cara pengajaran menyimak. Teknik pengajaran menyimak yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, antara lain:
a. Teknik Simak – Ulang Ucap
Teknik simak – ulang ucap biasanya digunakan dalam melatih siswa melafalkan dengan tepat unit-unit bahasa mulai dari unit terkecil sampai unit terbesar misalnya fonem, kata, kelompok kata, kalimat, dan paragraf atau wacana pendek. Model ucapan yang akan diperdengarkan dan tiru oleh siswa harus dipersiapkan secara cermat oleh guru. Bila memungkinkan guru dapat merekam model itu dalam pita rekaman.
Di samping hal tersebut di atas, metode simak – ulang ucap sangat baik untuk melatih siswa mengucapkan kembali atau meniru lagu kalimat, tekanan kalimat, dan tekanan kata dalam puisi.
b. Teknik Simak – Kerjakan
Teknik simak-kerjakan dalam pengajaran menyimak digunakan dalam memperkenalkan dan membiasakan siswa akan suruhan atau perintah. Biasanya suruhan atau perintah itu tersirat dalam kata kerja dasar, kata kerja berakhiran –kan, -i, atau –lah. Model suruhan atau perintah dipersiapkan oleh guru lalu disampaikan secara lisan kepada siswa.
c. Teknik Simak – Tulis
Teknik simak – tulis dikenal juga dengan dikte. Latihan dikte menuntut keseriusan siswa seperti memusatkan perhatian, mengenali fonem, tanda-tanda baca, penulisan huruf besar, membedakan ujaran langsung dan tak langsung, memperhatikan permulaan atau akhir paragraf dsb.
2. Teknik Pengajaran Berbicara
Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik memberikan contoh yang dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara yang baik memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan. Keterampilan berbicara menunjang pula keterampilan menulis sebab pada hakikatnya antara berbicara dan menulis terdapat kesamaan dan perbedaan. Dua-duanya bersifat produktif. Dua-duanya berfungsi sebagai penyampai, penyebar informasi. Bedanya terletak dalam media. Bila berbicara menggunakan media bahasa lisan maka menulis menggunakan bahasa tulisan. Namun keterampilan menggunakan bahasa lisan akan menunjang keterampilan bahasa tulis. Begitu juga kemampuan menggunakan bahasa dalam berbicara jelas pula bermanfaat dalam memahami bacaan. Apalagi dalam cara mengorganisasikan isi pembicaraan hampir sama dengan cara mengorganisasikan isi bahan bacaan.
Keterampilan berbicara bersifat mekanistis. Semakin sering dilatihkan atau digunakan semakin lancar orang berbicara. Pembinaan dan pengembangan keterampilan berbicara harus melalui pendidikan atau pengajaran berbahasa. Hal ini dapat berlangsung di dalam dan di luar sekolah.
Pembinaan dan pengembangan keterampilan berbicara siswa di sekolah menjadi tanggung jawab guru-guru bahasa Indonesia. Mereka harus dapat menciptakan suasana dan kesempatan belajar berbicara bagi siswa-siswa. Mereka harus sabar dan tekun memotivasi dan melatih siswa berbicara. Karena itu guru bahasa Indonesia harus mengenal, mengetahui, menghayati, dan dapat menerapkan berbagai teknik, teknik atau cara mengajarkan keterampilan berbicara, sehingga pengajaran berbicara menarik, merangsang, bervariasi, dan menimbulkan minat belajar berbicara bagi siswa. Teknik pengajaran berbicara yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, antara lain:
a. Teknik Ulang-Ucap
Teknik ulang-ucap sangat baik digunakan dalam melatih siswa mengucapkan atau melafalkan bunyi bahasa kata, kelompok kata, kalimat, ungkapan, peribahasa, semboyan, kata-kata mutiara, paragraf, dan puisi yang pendek. Pada kelas-kelas rendah teknik ini biasa digunakan dalam melatih siswa mengucapkan fonem kata-kata, dan kalimat-kalimat yang pendek. Model ucapan harus jelas, jernih, dan tepat. Guru bahasa harus dapat menjadi model yang akan ditiru oleh siswa. Model ucapan ini dapat berupa ucapan langsung atau lisan dan dapat pula berupa rekaman. Berikut ini disajikan beberapa contoh dalam bentuk kegiatan guru dan siswa pada pembelajaran berbicara di Sekolah Dasar.
b. Teknik Lihat – Ucap
Teknik lihat-ucap digunakan dalam merangsang siswa mengekspresikan hasil pengamatannya. Yang diamati dapat berbagai hal atau benda, gambar benda, atau duplikat benda. Pada kelas-kelas rendah benda yang diperlihatkan untuk diamati sebaiknya benda-benda yang dekat dengan kehidupan siswa. Lebih baik lagi bila benda itu nyata. Jadi bukan benda atau hal yang bersifat abstrak. Bila benda atau hal yang bersifat abstrak dapat diberikan pada kelas-kelas lanjutan.
c. Teknik Deskripsi
Deskripsi berarti menggambarkan, melukiskan, atau memerikan sesuatu secara verbal. Teknik deskripsi digunakan untuk melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu. Melalui deskripsi ini, pembicara menggambarkan sesuatu secara verbal kepada para pendengarnya.
3. Teknik Pengajaran Membaca
Keterampilan membaca perlu sekali dikuasai oleh setiap siswa. Pertama, saat siswa dalam proses penyelesaian studinya keterampilan membaca diperlukan dalam mempelajari setiap mata pelajaran. Setiap mata pelajaran pasti memiliki buku teks yang harus dicerna oleh siswa. Kedua, bila siswa nantinya terjun dalam kehidupan bermasyarakat di luar sekolah keterampilan membaca itu tetap sangat diperlukan. Misalnya membaca koran, majalah, dsb. Bahkan dalam keadaan santai pun keterampilan ini tetap diperlukan. Misalnya membaca menu di restoran saat beristirahat, membaca teks film, dsb.
Pengembangan keterampilan membaca tersebut pertama-tama dibebankan kepada guru bahasa Indonesia di SD. Melalui pengajaran bahasa Indonesia, pokok bahasan membaca, guru harus mengarahkan siswanya agar dapat:
1) membaca atau melek huruf,
2) memahami pengertian dan peranan membaca,
3) memahami teori dasar membaca,
4) memiliki minat baca,
5) memiliki keterampilan membaca.
Melalui pokok bahasan membaca siswa mengenal, memahami, dan menghayati struktur bahasa mulai dari struktur yang terkecil sampai struktur yang terbesar. Struktur bahasa mencakup delapan aspek. Secara berjenjang struktur bahasa itu diurutkan sebagai berikut:
1) fonem,
2) morfem,
3) kata,
4) frasa,
5) klausa,
6) kalimat,
7) paragraf, dan
8) wacana.
Jenis kegiatan membaca ada bermacam-macam. Namun yang terpenting diantaranya adalah kegiatan membaca pemahaman. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang diikuti siswa semakin tinggi pula tuntutan penguasaan Keterampilan membaca pemahaman tersebut. Aktivitas siswa dalam membaca pemahaman selalu mengacu kepada pengecekan pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Termasuk di dalamnya pemahaman kata, ungkapan, kalimat, isi paragraf, bacaan. Termasuk di dalamnya pemahaman kata, ungkapan, kalimat, isi paragraf, dan isi wacana dan akhirnya siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan.
Guru harus berupaya agar pengajaran membaca disukai oleh siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru telah menguasai materi dan cara penyampaian materi. Dalam segi penyampaian materi guru harus sudah mengenal, mamahami, menghayati, dan dapat
menerapkan berbagai teknik pengajaran membaca. Berikut ini disajikan beberapa contoh dalam bentuk kegiatan guru dan siswa pada pembelajaran membaca di Sekolah Dasar.
a. Teknik Lihat dan Baca
Guru mempersiapkan dengan cermat bahan bacaan yang akan diperlihatkan kepada siswa. Bahan bacaan tersebut dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, semboyan, atau puisi-puisi pendek. Khusus dalam membaca permulaan bahan bacaan disertai bendanya atau gambar bendanya.
4. Teknik Pengajaran Menulis
Di sekolah pihak yang paling berkompeten menumbuhkan keterampilan menulis ini adalah guru bahasa Indonesia. Mereka harus melatih anak didiknya agar terampil menulis. Lebih-lebih guru bahasa Indonesia di SD harus dapat menumbuhkan keterampilan menulis ini pada setiap siswanya.
Menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimengerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti.
Keterampilan mengekspresikan pikiran melalui bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti itulah yang harus dilatih oleh guru bahasa Indonesia pada siswanya. Hal ini bisa dicapai melalui latihan menulis terarah dan berencana. Misalnya latihan menulis dalam bentuk yang paling sederhana, biasa, dan sukar. Berikut ini disajikan beberapa contoh dalam bentuk kegiatan guru dan siswa pada pembelajaran menulis di Sekolah Dasar.
a. Teknik Menggambar Garis
Menggambar garis digunakan dalam pengajaran pra-menulis. Tujuannya melatih otot-otot tangan agar terbiasa melakukan gerak dalam menulis. Garis-garis yang digambar adalah garis lurus, melengkung, membulat, dsb. Semua garis-garis tersebut relevan dengan penulisan huruf atau abjad. Dengan perkataan lain menggambar garis merupakan persiapan ke arah penulisan huruf.
Contoh kegiatan guru dan siswa pada saat menggambar garis tegak lurus:
Guru : Anak-anak lihat baik-baik garis berikut!
Siswa : (Melihat cara membuat garis dan gambar garis).
Guru : Sekarang anak-anak meniru Ibu menggambar garis lurus. Masing-masing menggambar di udara atau di awang-awang dahulu. Lihat baik-baik gerak tangan Ibu.
Siswa : Mengikuti dan meniru gerak tangan dari atas ke bawah membentuk garis lurus.
Guru : Sekarang lakukan hal tadi dalam bukumu masing-masing.
Siswa : (Menggambar garis-garis tegak di bukunya masing-masing).
Guru : (Berkeliling kelas memperhatikan siswa menggambar garis serta menolong siswa yang mengalami kesulitan).
b. Teknik Menyalin Huruf
Mengarahkan siswa agar dapat menyalin huruf harus berencana, terarah, selangkah demi selangkah. Mula-mula guru memperlihatkan gambar huruf yang cukup besar. Gambar itu dapat ditempelkan pada papan tulis. Atau setiap siswa mendapat kartu huruf tersebut.
Setelah mengamati gambar huruf siswa mengikuti garis-garis gambar dengan ujung pensil atau ujung jarinya. Petunjuk garis mana yang pertama diikuti dan arahnya ke mana sangat membantu siswa. Langkah berikutnya menghubungkan titik-titik pada gambar huruf yang sebagian garisnya dihilangkan. Sekali arah panah membantu siswa dalam bekerja. Setelah langkah pertama dan kedua dilakukan berulang-ulang siswa siap dan dapat menyalin huruf itu secara utuh. Begitu juga dengan huruf-huruf lainnya yang sama dilakukan oleh siswa. Akhirnya siswa dapat menuliskan huruf.
5. Teknik Pengajaran Apresiasi Sastra
Pengajaran apresiasi sastra di SD pada dasarnya ingin menanamkan hakikat apresiasi itu pada tingkat yang paling dasar. Itulah sebabnya materi pelajaran kadang-kadang diambil dari puisi atau prosa yang isinya sejalan dengan perkembangan jiwanya.
Sastra diajarkan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Materi pengajaran sastra untuk ketiga jenjang pendidikan tersebut di atas tersusun secara lengkap dan utuh. Khusus untuk Sekolah Dasar materi sastra itu mencakup:
1) mitologi, dongeng, dan hikayat dari berbagai daerah,
2) cerita (fiksi) asli dan edisi yang disederhanakan,
3) puisi anak dan puisi modern/lama yang sederhana, dan
4) drama anak atau drama sederhana.
Apresiasi adalah pengenalan terhadap tingkatan pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Artinya, seseorang yang memiliki apresiasi terhadap sesuatu, mampu menetapkan dengan tepat bahwa sesuatu itu baik, kurang baik, atau buruk. Meningkatkan apresiasi siswa berarti meningkatkan kemampuan memahami, menikmati, dan menilai suatu karya sastra. Dengan kata lain, kemampuan berapresiasi, dapat pula ditafsirkan sebagai tingkat kepekaan siswa terhadap nilai-nilai karya satra.
Berikut ini disajikan sejumlah teknik pengajaran sastra. Setiap teknik diberi penjelasan secara singkat. Kemudian disertakan juga contoh penggunaannya dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Teknik yang dimaksud antara lain:
a. Teknik Memperkenalkan
Teknik memperkenalkan biasa digunakan pada siswa kelas-kelas rendah. Melalui teknik ini siswa diarahkan kepada contoh-contoh karya sastra seperti puisi, prosa, dan drama sederhana. Pengenalan hasil sastra merupakan jembatan ke arah mencintai hasil sastra.
Proses pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai saluran. Misalnya pendengaran seperti menyimak pembacaan puisi-puisi pendek, kutipan prosa atau drama. Pengenalan itu dapat pula melalui menyimak dan mengucapkan kembali, menyimak dan menuliskan kembali, membaca dan menyalin atau menonton dramatisasi, pementasan, dan deklamasi. Jadi pengenalan hasil sastra dapat dilakukan melalui telinga mata, atau saraf (gerak tangan).
1). Simak
Bahan yang disampaikan harus dipilih dengan sebaik-baiknya. Taraf kesukaran, bahasa, struktur harus berimbang dengan kemampuan siswa. Bahasa tersebut akan lebih baik lagi apabila berada dalam pusat minat siswa.
2). Simak – Ulang Ucap
Pelaksanaannya adalah seperti berikut. Bahan itu disampaikan secara lisan kemudian siswa mengulangi ucapan guru. Atau bahan itu direkam dalam pita suara dan diperdengarkan kepada siswa. Kemudian siswa mengulangi ucapan seperti suara rekaman.
3). Simak-Tulis
Pada teknik simak-tulis kegiatan diikuti oleh menuliskan apa yang telah disimak. Karena itu bahan yang telah dipersiapkan dalam teknik simak – ulang ucap dapat digunakan sepenuhnya dalam pelaksanaan simak-tulis.
Guru : Di sini senang
Di sana senang
Di mana-mana kita senang.
Siswa : (Menulis, rekamannya seperti berikut)
Di sini senang
Di sana senang
Di mana-mana kita senang.
b. Teknik Menjawab Pertanyaan
Menjawab pertanyaan mengenai isi bacaan sering sekali dipraktekkan dalam pengajaran bahasa. Hal ini pun dapat dilakukan dalam pengajaran sastra. Salah satu cara untuk mengukur pemahaman siswa terhadap suatu karya sastra ialah melalui jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi karya sastra tersebut.
6. Teknik Pengajaran Kebahasaan
Pengajaran kebahasaan adalah salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia di SD yang meliputi: struktur kata, bentuk-bentuk kata, cara pembentukan kata, susunan kata dalam kelompok kata dalam klausa dan dalam kalimat, serta seluk beluk dalam kalimat. Tujuan pengajaran kebahasaan adalah agar siswa memahami struktur dasar bahasa serta dapat menerapkannya dalam kalimat baik secara lisan maupun tulisan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran kebahasaan tidak boleh berhenti pada pemahaman teori atau struktur dasar bahasa saja tetapi harus dilanjutkan sampai keterampilan menggunakan struktur itu. Mereka harus diberi kesempatan luas bagaimana menggunakan bahasa. Siswa belajar memahami makna kata serta penggunaannya dalam kalimat. Jadi siswa diberi kesempatan mempelajari aturan bahasa dan penerapan aturan itu dalam kegiatan berbahasa.
Melalui pengajaran kebahasaan guru mengarahkan siswanya agar:
1) memahami konsep struktur dasar bahasa Indonesia,
2) dapat membentuk kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat,
3) dapat menerapkan struktur dasar bahasa dalam kalimat baik secara lisan maupun tulisan,
4) dapat menerapkan struktur bahasa tersebut dalam penggunaan bahasa sebagai alat berkomunikasi.
Berikut ini dibahas sejumlah teknik pengajaran kebahasaan. Setiap teknik akan diberi penjelasan dan contoh penerapannya dalam bentuk kegiatan guru dan siswa dalam kelas. Teknik pengajaran kebahasaan yang dimaksud, antara lain:
a. Teknik Melengkapi Kalimat
Ada beberapa cara yang digunakan dalam melengkapi kalimat. Pertama menyempurnakan afiksasi pada kata yang belum sempurna bentuknya, misalnya awalan, sisipan, akhiran, atau awalan dan sisipan. Kedua mengalihkan kelas kata, misalnya dari kata benda menjadi kata sifat. Ketiga menjadikan kata dasar menjadi kata ulang. Keempat menggantikan kata kepunyaan dengan bentuk –ku, -mu, -nya.
b. Teknik Menjawab Pertanyaan
Tanya jawab atau menjawab pertanyaan adalah salah satu cara untuk memancing siswa berekspresi. Ekspresi atau jawab siswa dalam kalimat sempurna sangat efektif dalam melatih siswa menyusun kalimat. Secara tidak sadar mereka diarahkan menyusun kalimat yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi dkk. Quantum Learning. Bandung: Kaifa. 2002.
________________. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa. 2002.
Hernowo, Quantum Writing. Bandung: Mizan Learning Center. 2003.
Karsimin, Akung Keterampilan Dasar Mengajar (Modul Umum). Departemen Pendidkan Nasional, Direktoratt Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Dierktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, 2002.
Nasution. Berbagai Pendidikan dalam Proses Belajar dan Mengajar.. Jakarta : PT Bina Aksara. 1984.
Nurhadi, Agus Gerrad Senduk. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Surabaya: Universitas Negeri Malang. 2003.
Parera, J.D., Leksikon. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Popham, W. James dan Eva L. Baher. Bagaimana Mengajar Secara Sistematis. Yogyakarta: Kanisius, 1984.
Purwanto, Ngalim dan Djenian Alim. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Bandung: PT Rosda Jaya Putra, 1997.
Saliwangi, Basennang. Pengantar Strategi Belajar Bahasa Indonesia.
Malang: IKIP Malang, 1989.
Sudarmanto, Y.B. Tuntutan Metodologi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. 1993.
Sudaryanto, Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi di SMU, Diklat Instruktur Guru Bahasa Indonesia SMU. Pusat Pengembangan Penetaran Guru Bahasa, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

LATAR BELAKANG LAHIRNYA IPS DI INDONESIA

LATAR BELAKANG LAHIRNYA IPS DI INDONESIA
A. Latar Belakang Lahirnya IPS
Ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah social studies. Istilah tersebut pertama kali digunakan sebagai nama sebuah lembaga yang diberi nama committee of social studies.
Lembaga ini merupakan himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum ilmu-ilmu sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli ilmu sosial yang mempunyai minat yang sama. Nama lembaga ini kemudian dipergunakan untuk nama kurikulum yang mereka hasilkan, yakni kurikulum social studies. Nama social studies makin terkenal ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan
kurikulum tersebut. Kurikulum tersebut ahirnya dikembangkan dengan nama kurikulum social studies. Di Indonesia social studies dikenal dengan nama studi sosial. Dalam Kurikulum 1975, pendidikan ilmu sosial kemudian ditetapkan dengan nama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS merupakan sebuah mata pelajaran yang dipelajari dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi pada jurusan atau progrsam studi tertentu.
Agar uraian mengenai latar belakang lahirnya IPS lebih jelas, dalam paket ini dikemukakan pengalaman beberapa negara yang memasukan IPS ke dalam kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada siswa-siswi.
Pembahasan mengenai latar belakang lahirnya IPS akan dilihat dari dua
aspek, yakni latar belakang sosiologis dan pedagogis dengan
mempertimbangkan aspek kemasyarakatan dan ilmu-ilmu sosial yang dikaji dalam IPS.

Latar Belakang Sosiologis

Tinjauan terhadap latar belakang sosiologis difokuskan pada tempat lahirnya IPS yang pada awalnya bernama social studies. IPS dengan nama social studies pertama kali digunakan dalam kurikulum sekolah Rugby di Inggris pada tahun 1827. Dr. Thomas Arnold, direktur sekolah tersebut adalah orang pertama yang berjasa memasukkan IPS (social studies) ke dalam kurikulum sekolah.
Latar belakang dimasukkannya IPS ke dalam kurikulum sekolah berangkat dari kondisi masyarakat Inggris pada waktu itu yang tengah mengalami kekacauan akibat revolusi industri yang melanda negara itu. Masyarakat dan peradaban Inggris terancam dekadensi, karena mekanisasi industri telah menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat Inggris, terutama kaum buruh.
Kaum kapitalis dan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib kaum
buruh yang mengakibatkan terjadinya pemerasan dan penindasan. Selain itu, di Inggris juga terjadi persaingan di kalangan buruh sendiri, yang menyebabkan hidup kaum tidak punya (the haves not) menjadi sangat menderita. Kehidupan antar kaum buruh dan antara buruh dengan majikan digambarkan oleh filosuf Inggris Thomas Hobbes sebagai homo homoni lopus bellum omnium contra omnes ( manusia adalah srigala bagi yang lain, mereka saling berperang).
Singkatnya, manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi).Sebagai respon terhadap keadaan yang demikian ironis, Arnold memasukkan IPS ke dalam kurikulum sekolahnya. Upayanya kemudian ditiru oleh banyak sekolah lainnya, dan sekaligus menjadi awal berkembangnya IPS sebagai matapelajaran di sekolah.
Latar belakang munculnya IPS di Amerika Serikat berbeda dari Inggris. Setelah Perang Budak atau Perang Saudara antara penduduk Utara-Selatan (1861- 1865), di Amerika terjadi kekacauan sosial. Masyarakat Amerika Serikat yang sangat beragam belum merasa menjadi satu bangsa. Segregasi sosial masih kental dan lekat dengan kehidupan masyarakat Amerika pada saat itu.
Sebagai respon atas keadaan masyarakat tersebut, para ahli kemasyarakatan Amerika Serikat mencari upaya untuk membantu proses pembentukan bangsa Amerika Serikat, antara lain dengan mengembangkan IPS sebagai jawaban atas situasi sosial. IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, yang dipeopori oleh sekolahsekolah di negara bagian Wisconsin sejak 1892. Setelah
dipelajari secara terus menerus sampai awal dasa warsa abad
ke-20, pada tahun 1916 panitia nasional untuk pendidikan
menengah Amerika Serikat menyetujui pengembangan dan
pemasukan IPS ke dalam kurikulum sekolah.
Paparan tersebut menggambarkan bahwa situasi masyarakat di Inggris pada tahun 1827, yaitu awal industri modern, mirip dengan keadaan masyarakat Indonesia dewasa ini. Industri sedang berkembang dan tanda-tanda dehumanisasi nampak pula di Indonesia. Di antara indikator yang menunjukkan kemiripan tersebut adalah terjadinya berbagai tindak kejahatan, seperti perampokan yang disertai pembunuhan, kurang terjaminnya kaum buruh, individualisme yang mulai menggerayangi masyarakat perkotaan, tindakan mengobyekkan para penganggur dan pencari pekerjaan melalui
human trafficing, terdesaknya alat-alat produksi tradisional oleh alat produksi buatan negara asing, dan penumpukan kekayaan pada golongan minoritas.
Keadaan masyarakat yang demikian mengingatkan pada betapa pentingnya pembentukan jiwa sosial yang humanis sedini mungkin melalui pembelajaran IPS di sekolah-sekolah.
Latar belakang Pedagogis
Di samping sebagai reaksi atas keadaan masyarakat, seperti di Inggris,
Amerika, dan Indonesia, lahirnya IPS juga dilatarbelakangi oleh keinginan
untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang
bertanggungjawab, yakni dapat mewujudkan kewajiban dan hak-haknya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mempelajari IPS, peserta didik diharapkan akan menjadi warga
masyarakat yang tidak individualistik, yang hanya mementingkan kebutuhan sendiri, dan mengesampingkan kebutuhan orang lain atau warga masyarakat lainnya. Sebaliknya, mereka diharapkan menjadi warga masyarakat yang memiliki watak sosial yang selalu sadar bahwa hidupnya hanya dapat berlang
sung bersama dan bekerja sama dengan orang lain, dan orang lain
hanya mau hidup bersama dan bekerja sama bila mendapat perlakuan yang baik dari mereka.
Dalam kaitan ini, ilmu-ilmu sosial tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, karena sifat ilmiah yang dimiliki oleh ilmu-ilmu sosial tersebut. Peserta didik yang menjadi warga masyarakat, sementara mereka baru lulus dari jenjang pendidikan dasar dan menengah, memerlukan pengetahuan interdisipliner yang pragmatis dan praktis bagi kehidupan sosialnya. Dalam teori pendidikan digambarkan bahwa peserta didik dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh menyeluruh. Dalam kehidupan, mereka tidak memisahkan suatu aspek kehidupan dari aspek kehidupan yang lain. Aspek geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik dan sosial lainnya tidak terpisahkan dalam kehidupan sosial seseorang, bahkan saling terkait dan berhubungan. Oleh karena itu, dalam menggambarkan keadaan manyarakat sebaiknya para guru menggambarkan keadaan
masyarakat sebagai suatu kesatuan dan keutuhan.
Disiplin ilmu-ilmu sosial dipandang tidak mendukung prinsip pedagogis di atas, karena berbagai disiplin itu membawa masyarakat dalam keadaan terpisahpisah.
Pengajaran IPS juga lebih dekat dengan keadaan sekarang yang ada
dalam lingkungan hidupnya. Dengan demikian tidaklah terlalu sukar bagi
peserta didik untuk mengamati, menggambarkan dan memikirkannya, karena masih berada dalam jangkauan mereka, baik dari segi waktu maupun tempatnya.
Bahan dan materi IPS merupakan kenyataan hidup yang dialami oleh peserta didik saat ini (kontekstual). Peserta didik diharapkan tertarik dan berminat mempelajari IPS, karena mereka belajar dengan memperoleh pengalaman dari kehidupan mereka sendiri, dan pengalaman atas kehidupan nyata merupakan proses belajar yang paling baik. Dengan demikian, hasil belajar yang paling baikpun dapat diharapkan pula.
Pendapat lain menyatakan bahwa dengan IPS, pengajaran tentang kehidupan sosial dapat berlansung secara lebih efisien, karena seluruh aspek kehidupan disajikan sekaligus. Dalam satu kali jangkau, seluruh segi kehidupan dapat dipelajari oleh peserta didik. Kebenaran yang diperoleh peserta didik akan lebih besar pula, karena mereka tidak melihat masyarakat bagian per-bagian, tetapi menyeluruh.
Itulah latar belakang pedagogis dikembangnya IPS. Mengingat berbagai
kemiripan dan kegunaanya bagi pembinaan masyarakat Indonesia, maka
pengembangan IPS di dunia pendidikan di Indonesia merupakan kebutuhan pedagogis sebagaimana halnya pengalaman di Inggris dan Amerika Serikat sebagai wahana pembinaan sikap sosial bagi peserta didik.
B. Tiga Tradisi Pembelajaran IPS
Pembelajaran IPS memiliki tiga tradisi yang berbeda satu dengan yang lain. Ketiga tradisi tersebut adalah:
• Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan,
• Pembelajaran IPS sebagai ilmu sosial, dan
• Pembelajaran IPS sebagai inkuiri yang reflektif.
Gambaran tentang ketiga tradisi pembelajaran IPS tersebut akan dipaparkan dalam bahasan berikut.
Pembelajaran IPS sebagai Transmisi Kewarganegaraan
Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan merupakan strategi
pengajaran IPS yang berhubungan dengan penanaman tingkah laku,
pengetahuan, pandangan, dan nilai yang harus dimiliki oleh peserta didik.
Tingkah laku, pengetahuan, pandangan dan nilai yang akan diajarkan harus sesuai dengan kekayaan nilai-nilai budaya yang berkembang di lingkungan peserta didik dan guru yang mengajarkan IPS. Hal ini dimaksudkan agar nilainilai budaya yang ada dalam masyarakat dapat ditransmisikan dari generasi ke generasi.
Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan merupakan proses
pewarisan budaya dalam suatu masyarakat tertentu. Pewarisan budaya ini merupakan budaya yang memilki nilai-nilai yang baik dan disepakati oleh masyarakat.
Pembelajaran IPS model transmisi kewarganegaraan di Amerika Serikat
bertujuan membina warga negara agar dapat memenuhi kewajiban dan
tanggung jawab yang baik, taat kepada hukum, membayar pajak, memenuhi kewajiban belajar, dan memiliki dorongan diri yang kuat untuk
mempertahankan negara (Sumaatmadja,1980). Pembelajaran IPS sebagai transmisi kewarganegaraan juga merupakan suatu proses pewarisan budaya dalam suatu masyarakat tertentu. Pewarisan budaya ini tentu merupakan budaya yang memilki nilai-nilai yang baik dan disepakati oleh masyarakat, sehingga dapat membentuk warga negara yang dapat memenuhi kewajiban, taat pada hukum, dan bertanggung jawab dalam pembelaan negara.
Tradisi pembelajaran IPS model transmisi kewarganegaaraan ini, oleh
sebagian ahli dipandang sebagai bentuk proses pendidikan yang statis,
bahkan konservatif. Hal ini dikarenakan di tengah kehidupan masyarakat
yang dinamis di tengah perkembangan dunia yang terus mengalami
perubahan, setiap anak manusia dituntut untuk memiliki kemampuan,
pemikiran, dan keterampilan yang lebih luas dan kompleks. Jika dikaitkan
dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, maka pembelajaran model transmisi kewarganegaraan ini kurang relevan. Oleh karena itu, proses pembelajaran IPS yang relevan untuk masyarakat Indonesia saat ini perlu terus dikembangkan.

Pembelajaran IPS sebagai Ilmu Sosial

Pembelajaran IPS sebagai ilmu sosial didasarkan pada asumsi bahwa
peserta didik dapat berpikir secara kritis, mampu mengobservasi dan
meneliti seperti apa yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial.

Tujuan pengajaran IPS sebagai ilmu sosial adalah menciptakan warga negara yang mampu belajar dan berpikir secara baik, seperti yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial.
Cara berpikir demikian harus menjadi landasan untuk menanggapi,
menginterpretasikan dan menggunakan pengetahuan sosial. Peserta didik harus mampu berpikir sesuai dengan bidang keilmuan ilmu sosial yaitu berpikir sesuai dengan struktur ilmu sosial. Cara berpikir demikian penting untuk menyusun generalisasi pada suatu bidang ilmu sosial dalam rangka memperoleh dan menemukan pengetahuan yang baru. Dalam hal ini tiap bidang keilmuan memiliki teknik untuk melakukan penelitian yang memerlukan pengujian suatu hipotesis.
Guru yang mengajarkan IPS sebagai ilmu sosial harus memiliki keyakinan
bahwa cara ini merupakan sarana yang baik untuk mempersiapkan warga negara yang dapat berpikir seperti ahli ilmu sosial. Mereka dapat
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, melakukan analisa data, dan dapat menarik simpulan sesuai dengan berbagai bidang keilmuan ilmu sosial. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat menjadi warga negara yang demokratis, dan dapat berpikir seperti apa yang dilakukan oleh para ahli ilmu sosial.
Kondisi tersebut sesuai dengan keinginan para ahli ilmu sosial bahwa
anggota masyarakat sejak usia muda dapat mengamati dunia sekitarnya
melalui penglihatan seperti ahli ilmu sosial, mengajukan berbagai
pertanyaan, dan menerapkan metode analisis serta konsep-konsep yang
digunakan para ahli ilmu sosial. Dengan cara demikian, para peserta didik
dapat memahami struktur dan proses sosial di sekitarnya.
Pembinaan warga negara atau warga manyarakat tidak hanya ditekankan pada aspek kemampuan intelektuanya, tetapi diseimbangkan dengan aspek kemampuan emosional dan keterampilannya. Pengajaran IPS yang bersifat akademis terhadap ilmu sosial seperti digambarkan di atas seolaholah tidak memperhatikan aspek emosional, sementara kehidupan
bermasyarakat sarat dengan ungkapkan dan gejala-gejala sosial yang
bersifat emosional. Pembelajaran IPS sebagai Inkuiri Reflektif
Sebelum meninjau pembelajaran IPS sebagai inkuiri reflektif, terlebih dahulu dibahas apa yang dimaksud dengan inkuairi reflektif agar mudah
memahami bahasan selanjutnya.
Inkuiri dalam bahasa Indonesia berarti pertanyaan atau pemeriksaan,
sedangkan inkuiri pada konteks IPS tidak hanya berarti pertanyaan atau
pemeriksaan, tetapi lebih luas dari pada pengertian tersebut. Sehubungan
dengan itu, John Jarolimek mengemukakan hal berikut.
The Major goal of inquiry oriented teaching is to develop in pupils those
attitudes and skills that will enable them to be independent problem solvers.
This involves more than simply knowing where to go to get needed
information. It requires an attitude of curiosity, the ability to anylize a
problem, the ability to make and test “hunches” (hypotheses), and the ability to use information in validating conclusion, inquairy always involves a search for information that is problem related, such problem being in part generated by the pupils themselves.
Jadi, pengertian inkuiri tidak hanya terbatas pada pertanyaan atau
pemeriksaan, tetapi meliputi pula proses penelitan, keingintahuan, analisis sampai dengan penarikan simpulan tentang hal-hal yan diperiksa atau diteliti.
Dalam rangka pengajaran IPS, wawasan inkuiri ini diarahkan kepada
kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis dan menjadi orang yang
secara bebas dapat memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.
Berkenaan dangan inkuiri ini, James L. Barth & S.Samuel Shomis juga
mengemukakan penjelasan sebagai berikut: Inquiry as a method means
that a teacher & his student will identify a problem that is of considerable concern to them and to our society and that relevant facts & values will be examined in the light of criteria.
Pada penjelasan ini, pengertian inkuiri juga meliputi pengidentifikasian
masalah sosial yang harus ditelaah. Jadi, proses inkuiri merupakan proses bepikir yang lebih kritis dan lebih mendalam. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, yang dimaksudkan dengan inkuiri reflektif adalah proses berpikir yang mendalam dan merefleksikan pengalaman, atau dengan perkataan lain dapat dikatakan sebagai proses merenung. Oleh karena itu, proses inkuairi reflektif atau berpikir dan merenung tidak hanya berpikir untuk memeriksa atau meneliti sesuatu persoalan, tetapi berhubungan pula dengan sikap penilaian pengungkapan pengalaman.
Konsep inkuiri reflektif yang diterapkan pada IPS sebagai inkuiri reflektif
diambil dari filsafat John Dewey yang mulai berkembang pada permulaan
abad ke-20. Kunci proses inkuiri reflektif tardapat pada konsep-konsep,
minat, nilai, berpikir kritis, dan terlibat ke dalam ha-hal yang janggal di
sekitar. Pembelajaran IPS sebagai inkuiari reflektif berlangsung ketika
peserta didik dilibatkan ke dalam suasana kehidupan yang nyata, yang
penuh dengan persoalan yang harus diteliti dan dipikirkan secara kritis.
Peserta didik dilatih untuk membuat suatu keputusan tentang hal-hal yang berkenaan dengan kebijakan dan kehidupan demokrasi, mereka harus mampu mengelola dirinya sendiri, serta mampu berlaku dan bertindak sebagai anggota masyarakat.
Pengajaran IPS sebagai inkuiri reflektif atau sebagai proses penelaahan dan pemikiran yang mendalam, merupakan teknik atau strategi pembelajaran yang bermanfaat dalam membina peserta didik menjadi kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Secara lebih jauh lagi, peserta didik dapat diarahkan mampu membuat keputusan yang berkaitan dengan hal-hal yang dialaminya sehari-hari. Dengan demikian, model pembelajaran inkuairi merupakan salah satu model yang tepat untuk menciptakan manusia sebagai cendekia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.