Riset dalam Dunia Pendidikan

Riset dalam Dunia Pendidikan

A. Pengertian Pendidikan
Dalam Dictionary of Education dinyatakan bahwa pendidikan adalah a) sebagai proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku di dalam masyarakat dimana ia hidup, b) sebagai proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terawasi (contohnya : sekolah ), sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan emosional yang optimum.

B. Karakteristik Ilmu Pendidikan

Ilmu pendidikan adalah ilmu yang secara sistematis dan sistemik mempelajari interaksi sosial budaya antara peserta didik sebagai subyek dan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dikehendaki yang menekankan pada pembentukan kemandirian dalam rangka belajar sepanjang hayat.
Ditunjau dari sifatnya, ilmu pendidikan merupakan disiplin keilmuan tersendiri yang otonom. Artinya ilmu pendidikan mengkaji sendiri dan menghasilkan konsep/teori tentang pendidikan seperti : belajar dengan berbuat (learning by doing), belajar mandiri, belajar sepanjang hayat. Disamping itu ilmu pendidikan menerapkan konsep atau teori yang dikembangkan dalam ilmu lain seperti : filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, administrasi/manajemen dan ekonomi yang diperlukan baik untuk memperkaya konsep kependidikan maupun untuk meningkatkan rekayasa pendidikan itu sendiri.
Ilmu pendidikan lebih tepat digolongkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu perilaku dan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya yang bersifat deskriptif dan reflektif. Apa yang menjadi obyek studi ilmu pendidikan ?
Yang menjadi obyek studi ilmu pendidikan ialah berbagai aspek interaksi sosial budaya antara peserta didik dengan pendidik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Bertitik tolak dari filosofis, psikologis dan sosial budaya yang menggambarkan obyek studi ilmu pendidikan, maka terdapat (5) lima komponen inti ilmu pendidikan yang membentuk batah tubuh ilmu pendidikan. Kelima komponen itu adalah:

1. Kurikulum; yaitu komponen yang berkenan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Konsep yang dikembangkan dalam teori kurikulum ini antara lain teori tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum, isi kurikulum dan model-model pengembangan kurikulum.
2. Belajar; yaitu komponen yang berkenaan dengan proses pelaksanaan interaksi yang ditinjau dari sudut peserta didik. Teori yang dikembangkan dalam komponen ini antara lain : jenis dan cara belajar, hierarkis proses belajar dan kondisi-kondisi belajar.
3. Mendidik/mengajar ; yaitu komponen yang berkenaan dengan pelaksnaan interaksi yang ditinjau dari sudut pendidik. Teori yang dikembangkan antara lain bagaimana model mendidik/mengajar, metode/teknik mendidik dan sistem pengelolaan kelas.
4. Lingkungan Pendidikan; yaitu komponen yang berkenaan dengan bagaimana situasi interaksi pendidikan berlangsung beserta unsur-unsur penunjangnya. Teori yang dikembangkan antara lain : perencanaan dan pengelolaan pendidikan, bimbingan konseling, media pendidikan.
5. Penilaian; yaitu komponen yang berkenaan dengan cara mengetahui bagaimana/seberapa jauh tujuan yang diinginkan dicapai melalui interaksi belajar itu terwujud. Teori yang dikembangkan antara lain: model-model penilaian, metode/teknik menilai dan instrumen-instrumen penilaian.

Bidang-bidang spesialisasi dari batang tubuh ilmu pendidikan dapat dikembangkan menurut :
1. Komponen inti, yaitu kurikulum, belajar, mengajar, bimbingan, pengelolaan pendidikan dan penilaian.
2. Lingkungan (setting), yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah.
3. Jenjang dan jenis antara lain : pendidikan dasar, menengah, tinggi, pendidikan guru dan kejuruan.
4. Bidang studi, antara lain, IPS, MIPA Bahasa dan seni.
5. Kategori peserta didik.
6. Tenaga Kependidikan antar lain : Tenaga struktural, tenaga fungsional dan tenaga teknis.

C. Riset Dalam Pendidikan

Dalam rangka mengkaji dan mengembangkan teori-teori dalam berbagai komponen ilmu pendidikan, digunakan berbagai pendekatan baik secara deduktif maupun induktif/empirik. Pendekatan deduktif diterapkan dalam penetapan konsep dan cara-cara kependidikan yang bersifat umum dan mendasar. Sedangkan pendekatan induktif diterapkan dalam rangka pengkajian dan pengembangan konsep dan cara-cara kependidikan yang bersifat khusus dan teknik.
Penerapan pendekatan induktif/empirik dapat berupa pengujian hipotesis (positivistik), grounded research atau naturalistik serta studi pengembangan.
Bagaimana metode kerja yang dapat diterapkan dalam pengembangan ilmu pendidikan, dapat digunakan berbagai metode seperti content analisis, fenomenologis, ex-post facto, eksperimen, analisis masalah, studi kasus dan field testing.

Sumber:
1. Ikatan sarjana Pendidikan Indonesia, Jurnal Pendidikan No. 2 Mei 1989.
2. Rochman Nata wijaya dan R. Ibrahim, 1992, Ilmu Pendidikan Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan. (Kertas kerja disampaikan dalam temu karya FIP se-Indonesia).

Contoh Judul Skripsi untuk Pendidikan dan Olah Raga

Contoh Judul Skripsi untuk Pendidikan dan Olah Raga

1. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Layanan Pembelajaran terhadap Motivasi Belajar di kelas II SLTP Negeri 1 Doro Pekalongan Tahun Pelajaran 2003/2004

2. Hubungan Antara Sikap Remaja Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005

3. Efektivitas Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Tahun 2004/2005.

4. Meningkatkan Prestasi Belajar Melalui Pembelajaran Quantum Teaching Bidang Studi IPA Kelas III Di SD Negeri Gunungsari 01 Kecamatan Batangan Kabupaten Pati

5. Efektifitas Layanan Pembelajaran Bidang Bimbingan Belajar Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas II SMP Negeri 16 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005

6. Efektivitas Metode Pembelajaran Inkuiri Berbasis KBK Terhadap Hasil Belajar dalam Proses Pembelajaran Biologi pada Siswa Kelas VII Semester I SMP Negeri 24 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005

7. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (Studi Kasus di SD Negeri Barusari 03 Semarang )

8. Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas II Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri I Brangsong Kota Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005

9. Keefektifan Metode PQRST Dalam Membaca Pemahaman Teks Bacaan Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I SMP Negeri I Brangsong Kendal Tahun Ajaran 2004/2005

10. Efektivitas Penggunaan Kartu Akselerasi Dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas III Semester I SD Negeri Petompon I dan II Semarang Tahun Ajaran 2004/2005

11. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SLTP Negeri 2 Klaten

12. Pembelajaran Matematika Pada Kelas Unggulan di SMP Negeri I
Wanadadi Kabupaten Banjarnegara Tahun Ajaran 2004/2005.

13. Profil Guru Ideal Menurut Siswa di SMA Teuku Umar Semarang

14. Implementasi Kurikulum SMK Edisi 2004 Melalui Pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi pada Matadiklat Siklus Akuntansi di
SMK Yapek Gombong kebumen Tahun Ajaran 2004/2005.

15. Hubungan antara Keharmonisan Keluarga dengan Konsep Diri Siswa kelas II SMA Negeri 1 Kejobong Tahun Pelajaran 2004/2005

16. Keefektifan Pembelajaran Keterampilan di SMP Terbuka Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang”.

17. Studi Deskriptif Tentang Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Sebagai Sumber Belajar dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Pangudi Luhur Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005

18. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus.

19. Pemilihan dan Pemanfaatan Buku Penunjang Bahan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia oleh Siswa Kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus

20. Pengaruh Bimbingan Belajar Orang Tua TerhadapTanggung Jawab Belajar Anak Kelas IV SD Pangudi Luhur Don Bosco

21. Pola Pendidikan Anak Pada Keluarga Miskin Di Desa Klidang Lor Kecamatan Batang Kabupaten Batang

22. Profil Kehidupan Anak Jalanan Perempuan (Studi Kasus anak jalanan di Komplek Tugu Muda Semarang).

23. ASPIRASI DAN PARTISIPASI ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK (Kasus pada Komunitas Pedagang Kakilima di Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan)

24. Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

25. Hubungan Antara Pola Pembinaan Dengan Perilaku Sosial Anak Di Panti Asuhan Sunu Ngesti Tomo Kabupaten Jepara.

26. Profil Pembinaan Penitipan Anak Usia Dini di Taman Pengasuhan Anak Melati Semarang

27. Ketrampilan Guru dalam Mengelola Kelas pada Pembelajaran Matematika di SD Negeri I Kertek Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.

28. POLA PENDIDIKAN ANAK DARI KELUARGA MISKIN (Kasus Keluarga Miskin Pada Keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja -Kendal)

29. Pola Pengasuhan Anak pada Keluarga Nelayan di Kabupaten Pekalongan” (Studi Kasus pada 9 Keluarga Nelayan Desa Wonokerto Wetan Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan

30. Kontribusi Tata Tertib Sekolah dan Sikap Disiplin Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Pangudi Luhur Ambarawa Semester I Tahun Pelajaran 200412005.

31. Perbedaan Prestasi Belajar Huruf Jawa antara Pembelajaran Menggunakan Program SWiSH dengan Metode Konvensional pada
Siswa Kelas VII Semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2004/2005

32. peningkakan aspek perkembangan kreativitas anak didik di
Taman Kanak-kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran setelah dilakukan percobaan sains ?”

33. Pengembangan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris Pada Siswa Kelas IV Madrasyah Ibtidaiyyah Negeri (MIN) Bawu Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara”

34 Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Disiplin Belajar Siswa Pada Saat Layanan Pembelajaran Kelas II SMU Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005

35. Perbedaan kemandirian antara Anak Sulung dengan Anak Bungsu pada Siswa Kalas II SMA Negeri 11 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.

36. Perbedaan Kadar Haemoglobin Darah pada Pegawai Tekstil Sukuntex yang Perokok dan Tidak Perokok di Kudus.

37. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian Alat Pelindung Telinga (Ear Plug) Pada Tenaga Kerja Bagian Produksi Divisi PM 6 PT. Pura Barutama Kudus Tahun 2005

38. Hubungan Antara Kualitas Udara Pada Ruangan Ber-AC Sentral Dan Sick Building Sindrome Di Kantor Telkom Divre IV Jateng-DIY

39. Hubungan Antara Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Konsumsi Energi dan Status Gizi Balita di Desa Tawangharjo Kecamata Wedarijaksa Kabupaten Pati

40. Faktor-Faktor Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Persepsi Karyawan Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepuasan Karyawan Di PT. Sinar Sosro Ungaran

41. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Penderita KEP Berat Pasca Rawat Inap di Rumah Sakit Dokter Kariadi
Semarang

42. Pengaruh Penerapan Lingkaran Diet Rendah Kalori (DRK) 1500 Kkal terhadap Penurunan Berat Badan pada Wanita Dewasa Penderita Obesitas

43. Hubungan Antara Kenaikan Berat Badan, Lingkar Lengan Atas, dan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Bayi Lahir di Puskesmas Ampel I Boyolali Tahun 2005

44. Hubungan antara Frekuensi Jajan di Sekolah dan Status Gizi Siswa Kelas IV dan V SD Negeri Wonotingal 01-02 Candisari Semarang Tahun Ajaran 2004/2005

45. Hubungan Teknik mengangkat Beban dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada Pekerja Pengangkut Barang Di Jalan Beteng Semarang Tahun 2005

46. Hubungan Teknik mengangkat Beban dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada Pekerja Pengangkut Barang Di Jalan Beteng Semarang Tahun 2005

47. Hubungan Kesegaran Jasmani dengan Ketrampilan Taeguk Pada Taekwondoin Putra Pra Yunior Sabuk Biru Kota Bogor Tahun 2009

48. Pengaruh Latihan Berangkai 4 Pos terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putri Kelas IV dan V SD Mangkangkulon 02 Kecamatan Tugu Kota Bekasi.

49. Pengaruh latihan berangkai 4 pos terhadap tingkat kesegaran jasmani siswa putra klas V SD Perumnas Tandes Surabaya

50. Pengaruh Latihan Senam Ayo Bersatu terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putera Kelas IV dan Kelas V Sekolah Dasar Tlogosari Kulon 05 Semarang Tahun Pelajaran 2009/2010

51. Hubungan Kekuatan (Strenght) Otot Lengan dan Kekuatan (Strenght) Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Kemampuan Melakukan Teknik Angkatan Kaki Pada Pegulat Kota Balikpapan

52. Hubungan Antara Faktor Fisik Dengan Kelelahan Kerja Karyawan Produksi Bagian Selektor Di PT. Sinar Sosro Markoni Tarakan.

53. Perbandingan Hasil Tendangan Bola antara Tungkai Panjang dan Tungkai Pendek Pada Pemain Sepak bola Senior Klub PERSEBA Bangsri Jepara Tahun 2004

54. Hubungan Strength Otot Lengan dan Strength otot tungkai dengan Kemampuan Melakukan Forehand Drive dalam Permainan Tenis Lapangan pada Siswa SMU N 2 Jombang

55. Perbedaan Hasil Latihan Forehand Drive Menggunakan Arah Bola Depan Belakang dan Posisi Pemain Maju Mundur terhadap Kemampuan Melakukan Forehand Drive Tenis Lapangan pada Petenis Putra Klub VTC Pekalongan Tahun 2005

56. Hubungan antara Sikap Kerja Duduk terhadap Produktivitas Kerja Pada Penjahit Konveksi Rumah Tangga Panca Daya Sakti Samarinda Tahun 2005.

57. Survai Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Guru Pendidikan Olah raga dan Kesehatan di Kota Menado tahun 2010.

58. Status Gizi Dan Tingkat Kesegaran Jasmani Anak Dari Keluarga Pra-Sejahtera Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri Se-Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes Tahun 2006/2007

59. Manajemen pada Pengurus Daerah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Pengda PSSI) Jawa Tengah tahun 2008

60. Motivasi Penderita Diabetes Mellitus Tipe II dalam Mengikuti Kegiatan Olahraga pada Anggota PERSADIA (Persatuan Diabetes Indonesia) Cabang Pekalongan

61. Manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah Sebagai Koordinator dan Pembina Kegiatan Olahraga Prestasi Di Jawa Tengah Tahun 2009

62. Pengaruh Latihan Shuttle Run dan Three Corner Drill terhadap Kelincahan Bagi Atlet Hockey Putra Klub PUTRA MANDIRI Mojoroto Kota Kediri Tahun 2009

63. Tingkat Kesegaran Jasmani Lanjut Usia Di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Candisari Semarang

64. Survei Kondisi Fisik bagi Siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) New Pelita Solo di Kabupaten Sukoharjo Tahun 2005

65. Pengaruh Latihan Awalan 9 dan 11 Langkah terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putri Kelas V dan VI SD Negeri Banjarejo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005

66. Hubungan Kekuatan Otot, Daya Ledak Otot, dan Panjang Tungkai dengan Kemampuan Menendang Jarak Jauh Pada Pemain Sepakbola ASA Kedungwuni Kabupaten Pekalongan Tahun 2005

67. Hubungan Antara Kekuatan Otot Perut, Dan Ketrampilan Timang-timang Bola terhadap Ketepatan Tendangan Bola Ke arah Gawang

68. Hubungan Kekuatan Otot Tungkai, Panjang Tungkai Dan Kecepatan Dribel Berlari Dengan Hasil Lay Up Shoot Pada Anggota Bola Basket SMP N Long Pesso

69. Pengaruh Latihan Jump Shoot Dari Sisi Kanan dan Kiri Posisi 150 terhadap Hasil Tembakan pada Siswa Putra Ekstrakurikuler Bola Basket SMA N I Bawang Banjarnegara Tahun Ajaran 2004/2005.

70. Hubungan Kekuatan Otot Tungkai, Kekuatan Otot Lengan dan Kelentukan Pergelangan Tangan Dengan Hasil Tembakan Bebas Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putra Ektrakurikuler SMA I Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005

71. Pengaruh Latihan Loncat Katak dan Loncat Naik Turun Bangku Terhadap Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri 01 Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2007/2008.

72. Pengaruh Latihan Senam Ayo Bersatu terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Puteri Kelas IV Sekolah Dasar Gayam 01 Gresik Tahun Ajaran 2009/2010

73. Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005

74. Perbandingan Pengaruh Frekuensi Latihan Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar Antara Tiga Kali dan Empat Kali Dalam Satu Minggu Terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putri Kelas VI SD Negeri Gunungpati 4 dan Nongkosawit Tahun
Ajaran 2004/2005

75. Pengaruh Latihan Lompat Dengan Rintangan dan Meraih Sasaran Di Atas Terhadap Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005

76. Hubungan Kekuatan Otot Tungkai Dengan Start Renang Gaya Kupu-kupu Pada Atlet Perkumpulan Renang Spectrum Tulungagung

77. Hubungan Antara Kekuatan Otot Tungkai dan Kelentukan Pergelangan Kakai dengan Keterampilan Menggiring Bola Pada Permainan Sepakbola Bagi Pemain Klub Investindo Purbalingga Tahun 2004

78. Hubungan antara Kadar Hemoglobin dengan Prestasi Belajar Siswi SMP Negeri 25 Jakarta

79. Perbedaan latihan smesh kedeng antara bola digantung dan diumpan dengan kaki terhadap kemampuan smesh sepak takraw bagi pemain yunior putera klub Padang Jagad Kabupaten Demak tahun 2005

80. Hubungan Antara Kekuatan Otot Tungkai dan Kelincahan dengan Kecepatan Menggiring Bola Pada Siswa SMP N 1 Grogol Kediri
81. ada..

Hakikat Penelitian Kuantitatif


Hakikat Penelitian Kuantitatif

Prasetya Irawan

Apa sebenarnya penelitian kuantitatif? Mengapa kita menyebutnya “penelitian kuantitatif”? Ternyata, dalam konteks ilmu sosial, ini sangat sulit menjawabnya. Dalam konteks ilmu alam (eksakta) kata kuantitatif jelas sekali berhubungan dengan angka (kuantita), baik hasil pengukurannya, analisis datanya, maupun penafsiran dan penarikan kesimpulannya, semuanya dalam bentuk angka.

Tetapi dalam ilmu sosial, banyak sekali hasil pengukuran terhadap variabel penelitian sangat bersifat kualitatif dan arbitrer (meskipun bentuk luarnya adalah angka). Misalnya, kita mengukur “disiplin pegawai”, atau “motivasi pegawai”, atau “tingkat loyalitas pegawai” dengan menggunakan skala likert (skala 1 sampai 5, misalnya). Maka hasilnya adalah beberapa angka yang menunjukkan kualitas variabel yang diukur itu. Dengan pengukuran yang sangat lemah seperti ini, kita (terpaksa) rnenyebut pengukuran ini (bagian) dari penelitian kuantitatif.

Tentu saja kita bisa mendapat:kan data yang lebih “kuantitatif” tentang disiplin atau motivasi. Misalnya, kita menghitung berapa hari seseorang masuk kantor tepat pukul 8:00 pagi, dan berapa hari orang itu terlambat masuk kantor. Lalu kita mengambil kesimpulan kuantitatif bahwa 62% pegawai, misalnya, memiliki disiplin bagus dan sisanya 28% tidak memiliki disiplin. Biasanya, proses kuantifikasi dalam masalah seperti ini harus berhenti begitu saja.

Begitu pun, masih jauh lebih banyak variabel ilmu sosial yang tidak mungkin diukur secara kuantitatif seperti ini. Walhasil, kita sering “memaksakan diri” untuk mengkuantitatifikasi pengukuran suatu variabel dengan cara yang sangat lemah. Bahkan jika Anda teliti, angka 62% atau 28% itu tidak sepenuhnya menggambarkan variabelnya, tetapi hanya indikatornya saja.

Kalau begitu, penelitian kuantitatif (dalam ilmu sosial) harus ditafsirkan lain. Ternyata, apa yang dimaksud dengan “kuantitatif” di sini sebenarnya lebih mengacu kepada “keakuratan” deskripsi setiap variabel dan keakuratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Inilah yang disebut oleh Krathwohl (1982) sebagai internal validity atau Linking Power. Maka jika seorang peneliti, misalnya, mampu menunjukkan hubungan antara disiplin pegawai dan kinerja pegawai dengan amat meyakinkan dan tanpa menggunakan satu angka pun, maka ia telah menerapkan penelitian kuantitatif.

Tetapi itu baru separuh jalan. Selanjutnya, bila peneliti tersebut mampu menunjukkan bahwa hubungan disiplin-kinerja itu juga berlaku di tempat lain, maka ia telah mencapai apa yang disebut External Validity atau Generalizing Power. Dua karakter inilah yang akan menjadi karakter terpenting yang membedakan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Jadi, ini bukan sekedar soal angka atau non angka.

Kesimpulannya, penelitian kuantitatif sebenarnya tidak hanya berurusan dengan “kuantita”. Paling tidak dalam ilmu sosial, kata “kuantitatif” ditafsirkan secara bebas sebagai “keakuratan” deskripsi suatu variabel dan keakuratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, serta memiliki daerah aplikasi (generalisasi) yang luas.

Tetapi, bagaimana dengan penelitian deskriptif (yang juga kuantitatif), yang hanya melibatkan satu variabel (univariat), atau banyak variabel tetapi tidak saling berhubungan satu-sama lain (misalnya hubungan korelasional, atau kausal)?

Jawabannya, ini juga sah disebut sebagai penelitian kuantitatif. Tetapi penelitian deskriptif seperti ini tetap terbatas pada kemampuannya untuk menjelaskan realitas seperti apa adanya saja. Paling jauh penelitian deskriptif hanya menjelaskan hubungan korelasional, bukan hubungan kausal.

Jika begitu, maka yang dimaksud “internal validity” di dalam penelitian deskriptif-kuantitatif (non-kausal) tidak mengacu pada hubungan satu variabel dan lain variabel. ”internal validity” dalam hal ini hanya menunjuk pada validitas “instrumen” untuk mengumpulkan data. Jika instrumen telah valid (dan reliabel), maka data diharapkan juga valid dan reliabel. Jika proses analisis dan penyimpulan juga valid maka penelitian deskriptif ini telah dianggap valid.

Ciri-ciri Utama Penelitian Kuantitatif

Beberapa ciri penelitian kuantitatif berikut ini mudah-mudahan memperjelas pemahaman kita tentang penelitian kuantitatif. Ciri-ciri tersebut adalah:
1. Permasalahan penelitian terbatas dan sempit
Sejak awal peneliti kuantitatif telah berusaha membatasi lingkup penelitiannya, dengan mengidentifikasikan satu atau beberapa variabel saja. Peneliti berusaha keras untuk memilih variabel yang menurutnya paling penting untuk diteliti. Obsesinya adalah menemukan sesedikit mungkin variabel, tetapi yang mungkin menjelaskan realitas kebenaran sebanyak mungkin.
Di kalangan ilmuwan eksakta, dipercayai bahwa alam semesta ini diatur oleh hukum-hukum yang sederhana. Jika mereka menemukan suatu penjelasan yang melibatkan banyak variabel, mereka menjadi gelisah, dan merasa ada yang salah. Misalnya, mereka percaya ada satu hukum “sederhana” yang menyatukan empat kekuatan besar di alam semesta (interaksi lemah, elektromagnetik, gravitasi, dan interaksi kuat) dalam satu hukum (mereka menyebutnya “The Grand Unified Theory”).

Jika menggunakan rumus regresi, dikenal satu pemeo “less is more”. Maksudnya, semakin sedikit prediktor (variabel X) semakin baik dan semakin besar kekuatan memprediksi variabel Y. Pendeknya, menemukan gambaran luas dan umum tentang sesuatu bukanlah cita-cita peneliti kuantitatif. Tetapi ia memilih satu aspek realitas yang sangat spesifik dan “kecil” untuk diteliti.

2. Mengikuti pola berpikir deduktif
Secara umum, pola berpikir deduktif berjalan seperti ini:

Pengamatan a Hipotesis a Pengumpulan Data a Pengujian Hipotesis a Kesimpulan

Albert Einstein percaya betul pada superioritas metode deduktif ini dan mengatakan (dalam Suriasumantri, 1981)
Tak ada metode induktif yang mampu menuju pada konsep fundamental dari ilmu alam. Kegagalan dalam menyadari hal ini merupakan kesalahan dasar filosofis dari banyak sekali peneliti dalam abad 19. Sekarang kita sadari dengan sepenuhnya betapa salahnya para ahli teori yang berpendapat bahwa teori datang secara induktif dari pengalaman.

Sekedar untuk diingat, jumlah bab di dalam skripsi/tesis/disertasi pada umumnya adalah lima. Jumlah bab ini bukan sekedar urusan administrasi, tetapi merupakan cerminan struktur logis pengembangan sains.
3. Mempercayai angka (statistika atau matematika) sebagai instrumen untuk menjelaskan kebenaran.
Ketika suatu saat seseorang mengomentari Albert Einstein tentang teorinya yang rumit (dalam bentuk hitungan-hitungan matematika) bahwa “itu hanya teori, tidak ada gunanya bila tidak cocok dengan realitas di lapangan”. Einstein menjawab “Anda benar, hanya observasi yang mampu membimbing kita menuju ke kebenaran. Saya tidak percaya pada matematika”.

Tentu saja kita tak pernah tahu apakah dialog ini benar-benar terjadi. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa semua peneliti kuantitatif (termasuk Einstein) selalu menggunakan bahasa angka untuk mengungkapkan pikiran-pikiran mereka. David Hume pernah mengatakan, pemikiran abstrak tanpa kuantitas dan angka adalah khayalan dan debat kusir belaka (dalam Lawrence, 1989).

Karena tradisi kuantitatif yang sangat kuat inilah, maka peneliti ilmu sosial pun merasa “kurang ilmiah” jika tidak menjelaskan penemuan-penemuannya dalam bentuk angka.

Tetapi kadang-kadang hal ini terjadi secara berlebihan. Banyak peneliti ilmu sosial, misalnya, memaksakan diri menggunakan rumus regresi (y = a+bx) pada hal data yang dia miliki hanya berskala ordinal atau bahkan nominal. Angka yang dihitung pasti muncul. Tetapi angka-angka dalam rumus itu sebenarnya “statistically nonsense”.

4. Membangun validitas internal dan validitas eksternal sebaik mungkin
Menghitung korelasi antara dua variabel adalah mudah. Tetapi meyakinkan bahwa satu variabel benar-benar membuat variabel yang lain berubah-ubah, ini yang sangat sulit. Validitas internal tercapai jika peneliti berhasil meyakinkan bahwa variabel Y benar-benar dipengaruhi oleh variabel X (bukan oleh variabel W,K, atau Q).

Selanjutnya, peneliti berpikir, Apakah temuan saya ini juga berlaku di konteks lain (selain penelitian yang saya lakukan?) Bila ternyata ya, berlaku, maka peneliti telah mencapai validitas eksternal. Dalam hal ini, peneliti yang teliti tidak hanya senang karena dia telah mencapai validitas eksternal dalam penelitiannya. Tetapi dia juga khawatir terhadap kasus-kasus yang bisa mendiskonfirmasi temuannya. Maka, sebelum orang lain yang mendiskonfirmasi temuannya, peneliti itu sendiri mencari kasus-kasus yang berpotensi mendiskonfirmasi temuannya itu.

Dalam hal ini ada beberapa variabel penting yang berpotensi merusak validitas internal. Variabel-variabel ini (disebut Extraneous Varable) seperti misalnya History, Maturation, Regression Effect, dan lain-lain) harus dikontrol dengan sebaik-baiknya oleh peneliti.

Metode-Metode Penelitian Kuantitatif

Beberapa metode penelitian kuantitatif yang cukup sering digunakan adalah survei dan eksperimen.
Metode survei adalah metode penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama untuk mengumpulkan data. Metode ini adalah yang paling sering dipakai di kalangan mahasiswa. Desainnya sederhana, prosesnya cepat. Tetapi bila dilakukan dengan sembrono, temuan survei ini cenderung superficial (dangkal) meskipun dalam analisisnya peneliti menggunakan statistik yang rumit.

Penelitian survei dengan kuesioner ini memerlukan responden dalam jumlah yang cukup agar validitas temuan bisa dicapai dengan baik. Hal ini wajar, sebab apa yang digali dari kuesioner itu cenderung informasi umum tentang fakta atau opini yang diberikan oleh responden. Karena informasi bersifat umum dan (cenderung) dangkal maka diperlukan responden dalam jumlah cukup agar “pola” yang menggambarkan objek yang diteliti dapat dijelaskan dengan baik.

Sebagai ilustrasi, lima orang saja kemungkinan tidak mampu memberikan gambaran yang utuh tentang sesuatu (misalnya tentang profil kesejahteraan pegawai). Tetapi 250 orang mungkin akan lebih mampu memberi gambaran yang lebih baik tentang profil kesejahteraan pegawai itu. Perlu dicatat, jumlah responden saja belum cukup memenuhi syarat “keterwakilan”. Teknik memilih responden (“teknik sampling”) juga harus ditentukan dengan hati-hati.

Karena validitas data sangat tergantung pada “kejujuran” responden maka peneliti sebaiknya juga menggunakan cara lain (selain kuesioner) untuk meningkatkan keabsahan data itu. Misalnya, peneliti mungkin bertanya kepada responden tentang pendapatan per bulannya (dalam rupiah). Dalam hal ini, peneliti juga mempunyai sumber data lain untuk meyakinkan kebenaran data yang diberikan responden (misalnya dengan melihat daftar gaji si responden di kantornya). Jika hal ini sulit ditemukan maka peneliti terpaksa harus berasumsi bahwa semua data yang diberikan responden adalah benar. Kita tahu, asumsi semacam ini sering kali menyesatkan.

Kesalahan yang sering dibuat oleh peneliti dalam penelitian survei ini adalah terletak pada analisis data. Peneliti sering kali lupa bahwa apa yang dikumpulkan melalui kuesioner ini adalah sekedar “persepsi tentang sesuatu”, bukan “substansi dari sesuatu”. Karena itu, kalaupun peneliti menggunakan analisis statistik yang cukup kompleks (misalnya korelasi atau regresi) maka peneliti harus ingat apa yang dianalisisnya itu tetaplah sekumpulan persepsi, bukan substansi.

Beberapa tema penelitian dengan menggunakan metode survei adalah sebagai berikut.

Survei tentang alokasi anggaran untuk pengembangan pegawai di semua perguruan tinggi negeri.
Survei tentang kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan di Bank XY. Analisis terhadap potensi penerimaan calon konsumen terhadap produk baru yang akan diluncurkan. Jajak pendapat masyarakat terhadap metode baru dalam hal penetapan Pajak Pembangunan I.

Dari contoh-contoh di atas, kita sadar bahwa tidak mudah menggolongkan suatu penelitian ke jenis penelitian tertentu dengan hanya melihat judul atau tema penelitian itu. Jika hanya judul yang kita baca maka kita sebenarnya bisa memasukkan suatu penelitian ke jenis penelitian mana pun. Karena itu, kita harus bisa membaca seluruh desain penelitian untuk mengetahui jenis penelitian atau metode yang digunakan seorang peneliti.

Masalah Populasi – Sampel dalam Penelitian Kuantitatif

Masalah populasi-sampel menempati posisi yang sangat penting di dalam penelitian kuantitatif. Hal ini terutama pada penelitian yang bertujuan membuat generalisasi temuannya. Sebagai catatan, generalisasi adalah “pengembalian” temuan di dalam sampel ke populasi. Inilah “validitas eksternal” yang dimaksud Krathwohl (1982) dan yang lain-lain. Maka, populasi dalam kaitan ini (validitas eksternal) didefinisikan sebagai keseluruhan objek atau subjek yang menjadi sasaran akhir generalisasi. Peneliti mengambil sampel dan menelitinya. Tetapi harus selalu diingat, bukan sampel yang sebenarnya ingin dia teliti, tetapi populasi. Peneliti mengambil sampel karena satu dan lain alasan sehingga ia tidak mampu meneliti seluruh populasi.

Tetapi ada juga sampel yang sejak semula tidak diniatkan untuk digeneralisasikan. Maka dalam hal ini, urusan samplingnya menjadi lebih sederhana.

Untuk sampel yang digunakan untuk generalisasi, maka sampling atau sampelnya disebut sampling probabilitas. Sampel yang tidak digunakan dan tidak bisa digunakan untuk melakukan generalisasi disebut sampel non probabilitas.

Sampel probabilitas harus dihitung dengan rumus-rumus statistika dengan memperhitungkan tingkat kesalahan sampling (sampling error), derajat kepercayaan, proporsi, dan sebagainya tergantung sifat populasi dan rumus yang digunakan.

Tetapi satu hal harus dicatat. Sampel probabilitas bisa digunakan untuk generalisasi jika dan hanya jika sampel itu diambil secara random (acak). Sampel random adalah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap anggota dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Sampel bisa langsung diambil secara random atau tidak langsung, tergantung pada sifat populasinya yaitu, homogen atau heterogen. Sampel random bisa langsung diambil dari populasi jika populasi bersifat homogen. Sampel diambil dari populasi heterogen setelah heterogenitas populasi dijelaskan.

Populasi heterogen bisa berpola hierarki (terstrata), cluster (berkelompok atau gabungan strata dan cluster). Pola hierarki, misalnya, adalah populasi pegawai negeri sipil, yang distrata menurut pangkatnya (golongan I, II, III, IV). Populasi berkelompok (cluster), misalnya adalah mahasiswa di suatu perguruan tinggi yang dikelompokkan menurut fakultas (Eksakta – Ilmu Sosial). Populasi strata-cluster, misalnya, adalah PNS menurut jabatan (fungsional – struktural) dan sekaligus golongan I, II, III, IV. Sampel bisa juga diambil secara sistematis (disebut juga quasi-random sampling).

Sampling non probabilitas tidak perlu dihitung tetapi dipilih, di kira-kira, diambil sekenanya. Contohnya adalah sampel purposif (sampel sengaja dipilih karena memiliki ciri-ciri khusus). Atau sampel accidental/convenient yang diambil begitu saja dari populasi yang kebetulan terlihat (misalnya mengambil sampel pengunjung super¬market, siapa saja yang mau diambil menjadi sampel). Atau bisa juga sampel yang sengaja dipilih oleh orang yang dianggap pakar dalam suatu hal (expert sampling).

Instrumen Penelitian Kuantitatif

Jika dalam penelitian kualitatif, instrumen penelitian adalah penelitinya sendiri, maka dalam penelitian kuantitatif, instrumen harus dibuat dan menjadi perangkat yang “independent” dari peneliti. Peneliti harus mampu membuat instrumen sebagus mungkin, apapun instrumen itu.

Semua instrumen (baik yang tes maupun non tes) harus memiliki dua syarat yaitu reliabel dan valid. Reliabel berarti hasil pengukuran konsisten dari waktu ke waktu. Valid berarti instrumen secara akurat mengukur objek yang harus diukur.

Reliabilitas mempunyai tiga dimensi yaitu Stabilitas, Ekivalensi, dan Konsistensi Internal (O’Sullivan & Rassel, 1995). Stabilitas mengacu pada kemampuan instrumen untuk menghasilkan data yang sama dari waktu ke waktu (dengan asumsi objek yang diukur tidak berubah).

Ekivalensi mengacu pada kemampuan dua atau lebih macam instrumen yang dibuat dua atau lebih peneliti untuk mengukur satu hal yang sama. Misalnya, dua peneliti mengukur penggunaan listrik di suatu aula. Dua peneliti ini menggunakan dua instrumen yang berbeda. Tetapi jika temuan kedua peneliti ini sama, maka instrumen mereka memilki sifat “ekivalen”.

Konsistensi internal tercapai jika semua item dalam instrumen mengukur satu hal yang sama. Jika terdapat 10 pertanyaan tentang motivasi, maka ke 10 pertanyaan itu mengukur hal yang sama (motivasi).

Instrumen yang baik juga harus valid. Ada beberapa macam validitas yaitu face validity, content validity, dan criterion validity. Face validity (validitas muka) tercapai jika suatu instrumen nampaknya sudah valid (dari penglihatan sepintas lalu). Tentu saja validitas semacam ini sangat superficial. Tetapi kadang-kadang peneliti cukup memerlukan validitas jenis ini. Caranya, peneliti meminta beberapa orang membaca atau mengisi instrumen tersebut, dan meminta pendapat mereka untuk keperluan revisi.

Content validity (validitas isi) tercapai jika suatu instrumen telah mencakup seluruh hal yang perlu diukur. Jika satu tes ujian akhir telah mencakup seluruh isi mata kuliah satu semester, maka instrumen ini dianggap memiliki validitas isi. Sebagai catatan, ini jangan dikacaukan dengan “konsistensi internal” dalam bahasan tentang reliabilitas. Soal tes ujian yang hanya mencakup 50% bahan kuliah satu semester mungkin memiliki sifat konsistensi internal, tetapi instrumen ini tidak memiliki validitas isi.

Criterion validity (validitas kriteria) mengacu pada kemampuan item-item instrumen untuk mengukur hal yang sama atau memprediksi suatu hal di masa depan. Dalam hal ini kita mengenal dua macam validitas, yaitu concurrent validity dan predictive validity. Concurrent validity tercapai jika suatu instrumen buatan kita misalnya, berkorelasi secara signifikan dengan instrumen lain yang mengukur hal yang sama. Jika kita mempunyai alat tes bahasa Inggris lalu kita uji cobakan kepada sejumlah siswa, dan hasilnya ternyata berkorelasi dengan nilai TOEFL mereka, maka tes kits telah memiliki concurrent validity.

Sedangkan predictive validity tercapai jika suatu instrumen mampu meramalkan apa yang terjadi di masa depan sesuai dengan hasil tes. Berikut adalah peta reliabilitas dan validitas instrumen.

Prosedur Penelitian Kuantitatif

Proses yang secara umum terjadi dalam penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut:
Pengamatan a Hipotesis a Pengumpulan Data a
Pengujian Hipotesis a Kesimpulan a Hukum/Teori/Prinsip a
Pengamatan a Hipotesis a ……

Dengan proses deduktif seperti ini, seorang peneliti kuantitatif akan bekerja di suatu sitem yang tertutup (closed system) di mana proses penelitian berjalan secara linear, algoritmik, dan output penelitian telah ditentukan sebelumnya.

Dengan logika berpikir seperti di atas, maka kita bisa mengerti bila jumlah bab dalam skripsi/tesis/disertasi adalah lima. Lima bab tersebut biasanya seperti berikut (tanpa menutup kemungkinan adanya variasi dari masing-masing perguruan tinggi).

Bab I : Permasalahan Penelitian
A : Latar Belakang
B : Pokok Permasalahan
C : Tujuan Penelitian
D : Manfaat Penelitian

Bab II : Kerangka Teoritik
A : Definisi Variabel-variabel
B : Definisi Operasional Variabel
C : Indikator
D : Model Penelitian
E : Pertanyaan Penelitian/Hipotesis

Bab III : Metodologi
A : Metode
B : Populasi-Sampel
C : Instrumentasi
D : Analisis Data

Bab IV : Analisis Data Temuan
A : Deskripsi tentang Objek/Subjek Penelitian
B : Temuan dan Analisis

Bab V : Kesimpulan & Saran
A : Kesimpulan
B : Saran

Tetapi, sebagai catatan terakhir, perlu disinggung sedikit tentang desain penelitian kuantitatif. Tidak seperti desain penelitian kualitatif yang bersifat “longgar” dan ‘fleksibel”, desain penelitian kuantitatif sangat bersifat “kaku” dalam arti tidak mudah dirubah begitu selesai dibuat. Variabel-variabelnya jelas dan ditentukan dengan sangat hati-hati. Metodologinya di rancang sampai ke detil-detil terkecil. Tetapi isi desainnya sama saja dengan penelitian kualitatif (pokok permasalahan, kerangka teori, dan metodologi). Ingat dalam penelitian kualitatif, digunakan istilah “fokus”.

Karena itu, peneliti kuantitatif dituntut berpikir tajam dan spesifik sejak awal. Kesalahan kecil saja bisa mempengaruhi seluruh proses penelitian. Kadangkala peneliti kuantitatif harus menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum desain penelitiannya disetujui oleh dosen pembimbing untuk dilaksanakan di lapangan.

Masalah Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kualitatif

Populasi di dalam penelitian kualitatif tidak dijadikan tujuan generalisasi dari temuan penelitian. Populasi dalam konotasi kuantitas (keseluruhan objek yang diteliti) tidak dikenal/diperlukan dalam penelitian kualitatif.

Istilah sampel (sampling) di dalam penelitian kualitatif masih dapat digunakan, misalnya sampel purposif, sampel internal (internal sampling), dan sampel waktu (time sampling). Sampel purposif adalah sampel yang “secara sengaja” dipilih oleh peneliti, karena sampel ini dianggap memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat memperkaya data penelitian. Sampel internal adalah keputusan yang diambil oleh peneliti tentang siapa yang perlu diwawancarai, kapan melakukan observasi, atau dokumen apa atau sebanyak apa dokumen yang perlu dikaji. Sementara itu, sampel waktu (time sampling) adalah waktu-waktu tertentu yang sengaja dipilih peneliti untuk mengumpulkan data. Waktu di sini boleh hari minggu ke-berapa, bulan apa, atau tahun berapa.

Instrumen dalam Penelitian Kualitatif

Satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Peneliti mungkin menggunakan alat-alat bantu untuk mengumpulkan data seperti tape recorder, video kaset, atau kamera. Tetapi kegunaan atau pemanfaatan alat-alat ini sangat tergantung pada peneliti itu sendiri.

Peneliti sebagai instrumen (disebut “Paricipant-Observer”) di samping memiliki kelebihan-kelebihan, juga mengandung beberapa kelemahan. Kelebihannya antara lain, pertama, peneliti dapat langsung melihat, merasakan, dan mengalami apa yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dengan demikian, peneliti akan lambat laut “memahami” makna-makna apa saja yang tersembunyi di balik realita yang kasat mata (verstehen). Ini adalah salah satu tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian kualitatif.

Kedua, peneliti akan mampu menentukan kapan penyimpulan data telah mencukupi, data telah jenuh, dan penelitian dihentikan. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dibatasi oleh instrumen (misalnya kuesioner) yang sengaja membatasi penelitian pada variabel-variabel tertentu saja.

Ketiga, peneliti dapat langsung melakukan pengumpulan data, menganalisanya, melakukan refleksi secara terus menerus, dan secara gradual “membangun” pemahaman yang tuntas tentang sesuatu hal. Ingat, dalam penelitian kualitatif, peneliti memang “mengkonstruksi” realitas yang tersembunyi (tacit) di dalam masyarakat.

Sementara beberapa kelemahan peneliti sebagai instrumen adalah pertama, sungguh tidak mudah menjaga obyektivitas dan netralitas peneliti sebagai peneliti. Keterlibatan subjek memang bagus dalam penelitian kualitatif, tetapi jika tidak hati-hati, peneliti akan secara tidak sadar mencampuradukkan antara data lapangan hasil observasi dengan pikiran-pikirannya sendiri.

Kedua, pengumpulan data dengan cara menggunakan peneliti sebagai instrumen utama ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan peneliti dalam menulis, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian. Peneliti juga harus memiliki sensitifitas/kepekaan dan “insight” (wawasan) untuk menangkap simbol-simbol dan makna-makna yang tersembunyi. Lyotard (1989) mengatakan “lantaran pengalaman belajar ini sifatnya sangat pribadi, peneliti seringkali mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya dalam bentuk tertulis”.

Ketiga, peneliti harus memiliki cukup kesabaran untuk mengikuti dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian dianggap selesai jika kesimpulan telah diambil dan hipotesis telah diketahui statusnya, diterima atau ditolak. Tetapi peneliti kualitatif harus siap dengan hasil penelitian yang bersifat plural (beragam), sering tidak terduga sebelumnya, dan sulit ditentukan kapan selesainya. Ancar-ancar waktu tentu bisa dibuat, tetapi ketepatan jadwal (waktu) dalam penelitian kualitatif tidak mungkin dicapai seperti dalam penelitian kuantitatif.
selengkapnya tulisa di atas
Download di sini

Beban Kerja Guru;>>>> Baca

Klasifikasi Bank;>>>> Baca

Teori Belajar Konsep dan Strategi Penerapannya di Kelas;>>>> Baca

Langkah-langkah dalam Memberikan Bimbingan Konseling di Sekolah;>>>> Baca

Syarat untuk Menjadi Guru yang Baik;>>>>>>>>> Baca buka semua

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah

Input dalam proses membaca ialah bahan tertulis yang dibaca, sedangkan output-nya adalah pemahaman terhadap bahan tertulis tersebut. Input lainnya dalam kegiatan membaca ialah kondisi yang mempengaruhi pembaca. Kondisi tersebut di antaranya ialah kondisi internal pembaca yang meliputi pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
Pengetahuan pembaca terhadap kata berhubungan dengan aspek semantik, sintaktik, dan pragmatik dari kata tersebut. Aspek semantik berkaitan dengan makna luas dari sebuah kata itu. Aspek sintaktik terkait dengan pengkategorian kata. Pengetahuan pembaca mengenai aspek pragmatik memungkinkan pembaca memahami arti kata dalam tulisan berdasarkan arti secara keseluruhan dari tulisan tersebut.
Pemaknaan kata dijelaskan dalam dua teori berikut. Pertama, makna kata merujuk pada objek yang dinyatakan oleh kata tersebut. Misalnya, makna kata “kursi” terkait dengan objek yang digunakan untuk duduk. Namun, tidak semua kata memiliki objek sebagai rujukannya. Teori lain menyatakan bahwa kata tidak merujuk kepada objek tetapi pada konsep. Oleh karena itu, kata tertentu tetap digunakan meskipun objeknya telah berganti.
Proses membaca dipengaruhi oleh empat kondisi pembaca, yaitu (1) kemampuan pembaca dalam memproses kata dan kalimat, (2) kemampuan pembaca memahami apa yang tersirat, (3) kemampuan pembaca menangani kata-kata baru, dan (4) kemampuan pembaca untuk memilih informasi dalam tulisan berdasarkan kebutuhannya.

Pemahaman terhadap target pembaca dan karakteristiknya merupakan kunci untuk membuat tulisan ilmiah yang berhasil. Penulis perlu mencari tahu hal-hal yang terkait dengan target pembaca melalui pertanyaan (1) siapa yang akan membaca tulisan ini, (2) apa yang mereka ketahui mengenai subjek yang ditulis ini, (3) mengapa mereka akan membaca tulisan ini, dan (4) bagaimana mereka akan membaca tulisan ini?
Target pembaca digolongkan dalam (1) masyarakat akademis, (2) masyarakat ilmiah, (3) penyandang dana, dan (4) masyarakat umum.
Karakteristik dari target pembaca masyarakat akademis ialah bersifat menguji terhadap tulisan ilmiah yang dibacanya. Pembaca memfokuskan pada keakuratan informasi serta cara memperoleh informasi tersebut.
Karakteristik target pembaca ini ialah mereka membaca untuk menambah pengetahuan keilmuan dalam bidangnya. Laporan ilmiah untuk target pembaca masyarakat ilmiah mementingkan unsur kebaruan dan keaslian. Informasi ilmiah yang baru dan orisinal sangat dihargai oleh target pembaca masyarakat akademis.
Laporan ilmiah untuk target pembaca penyandang dana menekankan pada kekonsistenan terhadap TOR. Informasi dalam laporan ilmiah perlu konsisten dengan yang disyaratkan pada TOR. Meskipun laporan ilmiah merupakan “pesanan” penyandang dana, namun objektivitas perlu dijaga sesuai dengan etika ilmiah. Pengertian pesanan dalam hal ini, hanyalah menyangkut tujuan kegiatan ilmiah, bukan pada hasilnya.
Penulisan yang ditujukan pada target pembaca masyarakat umum memerlukan cara mengomunikasikan hasil penelitian yang hati-hati, cermat, dan teliti. Pengungkapan harus lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam dengan cara pengungkapan bahasa sehari-hari yang populer. Istilah teknis sedapat mungkin dihindari agar memudahkan pembaca memahaminya. Topik yang diangkat dalam tulisan difokuskan pada informasi yang sudah pasti saja yang sudah disepakati oleh kebanyakan pakar. Laporan ilmiah dengan target pembaca masyarakat umum perlu menekankan pada informasi yang praktis dan terkait dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Sumber buku Teknik Menulis Karya Ilmiah Karya I.G.A.K. Wardani, dkk
Jika Anda ingin ambil rangkuman buku tersebut selengkapnya dalam file PDFsilakan langsung klik download ini

BAB II Kalimat Imperatif dalam Bahasa Tidung

BAB II Kalimat Imperatif dalam Bahasa Tidung

Fungsi utama bahasa manusia adalah sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat pemiliknya yang diwujudkan secara lisan, tulisan, atau isyarat. Bahasa berwujud lisan dipakai secara langsung oleh pembicara dan lawan bicara ketika berhadap-hadapan. Wujud bahasa ini kita temukan dalam forum komunikasi lisan seperti dialog, pidato, diskusi, pembacaan berita melalui radio dan televise, dan Iain-lain. Bahasa berwujud tulisan dipakai oleh penulis dan pembaca yang tidak berhadapan secara langsung. Wujud bahasa seperti ini kita temukan dalam forum komunikasi seperti surat-menyurat, tulis-menulis atau karang-mengarang serta bentuk media tulis lainnya seperti reklame, pamphlet, brosur, dan Iain-lain. Bahasa berwujud isyarat dipakai oleh penindak bahasa dan penanggap bahasa melalui kode-kode tertentu yang sudah disepakati bersama. Wujud bahasa seperti ini kita temukan dalam forum komunikasi seperti pramuka dengan kode morse, rambu-rambu lalulintas, gerakan anggota badan, dan Iain-lain.
Komunikasi dalam wujud bahasa apapun selalu berupa penyampaian pesan, perasaan, dan pikiran. Pesan, perasaan, atau pikiran itu diungkapkan dengan ujaran atau kalimat seperti yang dikatakan oleh Nababan (1992 : 26)

bahwa fungsi bahasa ialah alat komunikasi atau penyampaian pesan/makna dari pembicara kepada lawan bicara. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa makna dalam komunikasi diungkapkan dengan kalimat. Berdasarkan pandangan pakar tersebut, penulis dapat menarik suatu kesimpulan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi dalam wujud apa pun selalu dalam bentuk kalimat. Kalimat itu pasti bermakna karena membawakan pesan, perasaan, dan pikiran pembicara(bahasa lisan), penulis(bvahasa tulis), atau penindak bahasa(bahasa isyarat) kepada lawan bicara, pembaca, atau penanggap bicara.
Penyampaian pesan, pikiran, dan perasaan itu karena manusia didorong oleh kebutuhan psikologis baik secara individual maupun secara sosial. Singkamya, lahirnya bahasa dari seseorang itu karena dorongan kejiwaannya berdasarkan kebutuhan individu dan didukung oleh lingkungan social di sekelilingnya. Karena bahasa manusia selalu berkaitan dengan kejiwaannya dan kehidupan sosialnya, penulis ingin menjelaskan serba singkat mengenai hal-hal berikut.
1. Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah suatu ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari segi kejiwaan manusia dikaitkan dengan jenis-jenis bahasa yang dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya seperti jengkerik, kodok, burung,

kambing, dan Iain-lain. Bahasa itu begitu penting bagi kehidupan manusia seperti dikatakan oleh Nababan (1992 : 1) bahwa seandainya tidak ada bahasa dan kita tidak melakukan tindakan berbahasa maka identitas kita sebagai genus manusia (homosapien) akan hilang. Selanjutnya dijelaskan bahwa adanya bahasa membuat kita menjadi makhluk yang bermasyarakat. Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkan dengan bahasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang dilahirkan sebagai alat komunikasi adalah perwujudan jiwa pembicara, penulis, atau pelaku tindak bahasa yang lainnya dan dapat direspon oleh lawan bicara, pembaca atau penanggap bahasa lainnya berdasarkan suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama itu ber sifat arbitrer/mana suka.
2. Sosiolinguistik
Di samping berkaitan dengan jiwa manusia, bahasa itu juga berkaitan dengan kehidupan sosial manusia. Dalam berinteraksi dengan orang lain seseorang dapat menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa seperti bunyi-bunyian, atau kode-kode yang lain. Namun, Chaer (1995 : 14) mengatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik,

paling sempurna dibandingkan dengan alat komunikasi lain termasuk alat komunikasi hewan.
Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari segi social kemasyarakatan. Oleh karena itu, bidang kajian yang paling utama adalah mengenai hakikat bahasa berdasarkan faktor-faktor sosiologis. 2.1 Hakikat Bahasa
Bahasa itu adalah lambing bunyi. Bahasa hewan juga berupa lambing bunyi hanya tidak selengkap lambing bunyi bahasa manusia. Chaer (1995 : 14) mengatakan bahwa bahasa itu sebuah system lambing, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Jadi dengan kata lain bahwa bahasa itu dibentuk oleh unsur-unsur yang berpola tetap yang bersifat arbitrer dan tidak dapat dijelaskan mengapa demikian. Orang Tidung tidak akan bisa menjelaskan mengapa tempat tinggal mereka namakan ‘baley’ atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘rumah’
2.2 Hakikat Komunikasi
Bahasa adalah alat komunikasi atau alat interaksi, baik lisan, tulisan, maupun isyarat. Suatu komunikasi itu bisa terjadi karena ada dua

pihak yang menggunakan bahasa atau lambing/simbol tertentu sebagai alatnya. Dalam KBBI (2003 : 585) dikatakan bahwa komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Jadi boleh dikatakan bahwa komunikasi adalah terjadinya hubungan dua pihak yaitu si pengirim bahasa/kode dan si penerima bahasa/kode, sehingga terjadi pula interaksi dari kedua belah pihak berupa pemaknaan pesan.
Di dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun secara tulis, unsur bahasa yang paling utama adalah kalimat. Kalimat dapat mewakili maksud pembicara atau penulis yang dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bila disampaikan secara tertib sesuai dengan sistem bahasa itu. Untuk lebih jelasnya perlu dibahas sedikit mengenai kalimat.
3. Kalimat
Kalimat adalah suatu kondtruksi kebahasaan yang terdiri atas unsur segmental dan suprasegmental dan intonasi atau puntuasi akhirnya menunjukkan bahwa konstruksi itu sudah lengkap atau sudah selesai. Unsur segmental adalah kata atau kata. Unsur supra segmental adalah tekanan-tekanan (nada, tempo, dan dinamik), kesenyapan awal, kesenyapan akhir, dan perhentian-perhentian yang menyertai arus ujar itu yang kalau dalam bahasa

tulis dilambangkan dengan tanda baca berupa tanda koma, dan tanda titik. Intonasi berkaitan dengan lagu kalimat yaitu lagu berita akan berbeda dengan lagu perintah atau lagu Tanya. Misalnya : Ngakan muyu ! Orang Tidung akan segera melakukan suatu tindakan berupa ‘makan’ sesuai dengan perintah itu minimal dijawab “Ya!” atau “Tidak !”, sama dengan penutur bahasa Indonesia mendengar perintah “Makanlah !” Mulyana (2005 : 8) mengatakan bahwa kalimat memiliki serangkaian kata yang menyatakan pikiran dan gagasan yang lengkap dan logis . Bahkan Fokker (1980 : 11) dalam Mulyana (2005 : 8) menyatakan bahwa kalimat adalah ucapan bahasa yang memiliki arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh intonasi. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa unsur bahasa yang paling dominant di dalam berkomunikasi adalah kalimat dan kalimat itu bermakna lengkap ditentukan oleh intonasi sedangkan intonasi itu bergantung pada isi kalimat itu sehingga Kosasih (2004 : 108) mengatakan bahwa transformasi suatu kalimat dapat dilakukan dengan cara mengubah intonasi kalimat itu, dari intonasi berita menjadi intonasi perintah atau intonasi tanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 297 pengikut lainnya.