Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas

Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas

Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan. Dalam prosesnya aktivitas yang menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun demikian bukanlah berarti peran guru tersisihkan; melainkan diubah. Guru berperan bukan sebagai penyampai informasi, tetapi bertindak sebagai director dan facilitator of learning – pengarah dan pemberi fasilitas untuk terjadinya proses belajar. Beberapa prinsip umum tentang mengajar:
1) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa
2) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis
3) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa
4) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar
5) Tujuan pengajaran harus diketahui siswa
6) Mengajar harus mengikuti rpinsip psikologis tentang belajar.
Arti belajar; Belajar adalah sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Perubahan perilaku dalam proses belajar adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi ini biasanya berlangsung secara sengaja. Kesengajaan itu sendiri tercermin dari adanya faktor-faktor berikut:
a) Kesiapan (readiness); yaitu kapasiti baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu
b) Motivasi; yaitu dorongan dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu
c) Tujuan yang ingin dicapai.

Beberapa prinsip umum tentang belajar:
1) Proses belajar adalah kompleks namun terorganisasi
2) Motivasi penting dalam belajar
3) Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks.
4) Belajar melibatkan proses perbedaan dan penggeneralisasian berbagai proses.
Prinsip-prinsip Belajar
– Untuk dapat belajar dengan baik, siswa membutuhkan suasana yang wajar, tanpa tekanan.
– Untuk dapat belajar dengan baik, siswa membutuhkan suasana yang merangsang
– Dalam proses belajar mengajar, siswa sering membuthkan bimbingan dan bantuan guru
– Dalam Proses Belajar mengajar, siswa membuthkan kesempatan untuk berkomunikasi, baik dengan guru, teman, maupun dengan lingkungannya
– Kebutuhan siswa akan poin 1,2,3 dan 4 berbeda dalam ragam dan kadarnya.

Keterampilan Dasar Mengajar

Jenis-jenis keterampilan mengajar terbatas, mempunyai rentangan dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang mengimplementasikan guru sebagai pusat keaktifan sampai kepada penciptaan situasi yang memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara optimal. Jenis–jenis keterampilan mengajar tersebut meliputi:
1. Keterampilan Bertanya (Dasar dan Lanjutan)
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Mengadakan Variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
7. Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
8. Keterampilan Mengelola Kelas

Yang dimaksud dengan keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.

Tujuan

1) Tujuan untuk siswa
Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk: Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya. Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.

2) Tujuan untuk Guru
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam: Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar secara efektif. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa. Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus melawan di kelas.
Komponen-Komponen
Pada garis besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;

1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.

Menunjukan sikap tanggap,
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.

Membagi perhatian,
Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.

Memusatkan perhatian kelompok,
Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.

Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.

Menegur,
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran tidak merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya. memberi penguatan, penguatan adalah Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.

2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik. Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru. Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaiant ujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh dampak pengiring yang besar bila tidak bias diselesaikan. Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
Hal-hal yang harus dihindari
Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari guru dalam mempraktekkan keterampilan mengelola kelas adalah :

1) Campur tangan yang berlebihan, campur tangan yang berlebihan dari guru kepada setiap perilaku kedirian siswa akan memberikan damapak yang kurang baik, oleh karena itu campur tangan dilakukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik di kelas.

2) Kesenyapan, proses kesenyapan memang diperlukan di kelas tapi tidak merupakan kegiatan yang berjalan dengan akumulasi yang cukup panjang, karena dapat menimbulkan perilaku yang berlebihan dari siswa dan dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan teman lainnya.

3) Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan, awal dan akhir kegiatan adalah hal yang krusial bagi guru. Awal adalah pembuka jalan dalam mengorganisasikan pikiran anak untuk menemukan dan melakukan berbagai hal di kelas terutama kaitannya dengan tugasnya dan akhir adalah bentuk akumulasi tentang pemahaman atas kegiatan dan kegiatan lanjutan yang akn dilakukan siswa.

4) Penyimpangan, bentuk perilaku yang menyimpang baik secara individual maupun kaitannya dalam pelaksanaan pembelajaran.

5) Bertele-tele, kata atau kalimat yang bertele-tele dan kegiatan yang bertele-tele akan menimbulkan kebosanan dan ketidak nyamanan ketika hal itu tertuju pada satu orang saja atau pada satu pokok bahasan saja.

6) Pengulangan penjelasan yang tidak perlu, banyak hal yang baru bagi siswa yang dapat disampaikan, dan banyak hal lainnya yang juga memerlukan pengulangan. Prinsipnya adalah dimana ketika terjadi proses pengulangan adalah bentuk untuk mengkaitkan pokok bahasan, menegaskan, dan mencontohkan. Karena pengulangan bisa memunculkan persepsi yang kurang baik pada diri siswa, mungkin akan muncul anggapan bahwa guru tidak bias mengajar.
Fungsi Guru dalam Pembelajaran (Manajemen Kelas)

1. Fungsi Instruksional
Sepanjang sejarah keguruan, tugas atau fungsi guru yang sudah tradisional adalah mengajar (to teach), yaitu ; 1) menyampaikan sejumlah keterangan-keterangan dan fakta-fakta kepada murid, 2) memberikan tugas-tugas kepada mereka, dan 3) mengoreksi atau memeriksanya. Fungsi intruksional inilah yang masih selalu diutamakan oleh hampir semua orang yang disebut guru, dan fungsi instruksional ini masih dominan dalam karier besar guru.

2. Fungsi Edukasional
Fungsi guru sesungguhnya bukan hanyalah mengajar, akan tetapi juga harus mendidik (to educate). Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru harus berusaha mendidik murid-muridnya menjadi manusia dewasa.

3. Fungsi Managerial
Fungsi kepemimpinan atau managerial guru ini dalam administrasi sekolah modern tidak hanya terbatas di dalam kelas, akan tetapi juga menyangkut situasi sekolah dimana ia bekerja, bahkan menynangkut pula kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat.

Bentuk-Bentuk Tes

Bentuk-Bentuk Tes

Bentuk tes yang digunakan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non-objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non-objektif yang juga sering disebut tes uraian adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya objektif, sedang tes nonobjektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor.
Bentuk soal tes yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Pilihan ganda :

Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan komputer.
Kelemahannya:
*membuat butir soal pilihan ganda yang berkualitas baik cukup sulit,
*adanya peluang kerja sama peserta antar tes sangat besar.
Oleh karena itu, bentuk ini dipakai untuk ujian yang melibatkan banyak peserta didik dan waktu untuk koreksi relatif singkat.

Penggunaan bentuk ini menuntut agar pengawas ujian teliti dalam melakukan pengawasan saat ujian berlangsung. Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi tergantung pada kemampuan pembuat soal (Ebel, l979).

Soal pilihan ganda memiliki beberapa tipe yaitu :

a. melengkapi pilihan ( dengan 4 atau 5 option )

Soal obyektif jenis ini terdiri dari pokok soal (stem) yang berupa pernyataan yang belum lengkap atau suatu pertanyaan yang dilengkapi dengan 4 atau 5 kemungkinan jawaban yang disebut option. Tugas siswa adalah memilih jawaban yang benar ( sesuai kunci ). Option selain kunci jawaban disebut sebagai pengecoh (distractor). Contoh :
Di antara pernyataan di bawah ini, yang benar mengenai kepemimpinan adalah..
1. kegiatan mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan
2. kegiatan memaksa bawahan untuk berupaya mencapai tujuan
3. orang yang mampu mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan
4. seni memaksa bawahan untuk meningkatkan motivasi
5. merupakan kegiatan non utama untuk mencapai tujuan

b. analisis hubungan antar hal

Soal jenis ini terdiri dari 2 kalimat pernyataan , yang dihubungkan dengan kata SEBAB. Kedua kalimat bisa merupakan sebab akibat, bisa juga keduanya benar tetapi tidak berhubungan, bisa salah satu benar, dan bisa juga keduanya salah. Contoh :
Motivasi adalah salah satu seni penting yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan SEBAB Kemampuan memotivasi bawahan adalah salah satu cara untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang mau dan mampu bekerja

c. melengkapi berganda

Soal jenis ini hampir sama dengan tipe soal melengkapi pilihan, hanya saja diikuti dengan empat kemungkinan jawaban benar dan siswa diminta untuk memilih jawaban-jawaban yang benar. Contoh :
Kegiatan evaluasi terdiri dari:
1) mengukur
2) menilai
3) memberikan hasil
4) persiapan

Uraian objektif :

Agar hasil penskorannya objektif diperlukan pedoman penskoran, Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian. Tingkat berpikir yang diukur bisa sampai pada tingkat yang tinggi.
Penskoran dilakukan secara analitik, yaitu setiap langkah pengerjaan diberi skor. Misalnya, jika peserta didik menuliskan rumusnya diberi skor, menghitung hasilnya diberi skor, dan menafsirkan atau menyimpulkan hasilnya, juga diberi skor.
Penskoran bersifat hierarkhis, sesuai dengan langkah pengerjaan soal. Bobot skor untuk tiap butir soal ditentukan oleh tingkat kesulitan butir soal, yang sulit bobotnya lebih besar dibandingkan dengan yang mudah.

Uraian non-objektif/uraian bebas :

o Bentuk ini cocok untuk bidang studi ilmu-ilmu sosial.
o Walau hasil penskoran cenderung subjektif, namun bila disediakan pedoman penskoran yang jelas, hasilnya diharapkan dapat lebih objektif.
o Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi.
o Bentuk ini bisa menggali informasi kemampuan penalaran, kemampuan berkreasi atau kreativitas peserta didik, karena kunci jawabannya tidak satu.

Jawaban singkat atau isian singkat :

Bentuk ini cocok digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik jumlah materi yang diuji bisa banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah.

Menjodohkan :

Bentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berpikir yang terlibat cenderung rendah.
Performans : Bentuk ini cocok untuk mengukur kemampuan seseorang
dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktek di laboratorium. Peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan.

Portfolio :

Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik, dengan menilai kumpulan karya-karya, atau tugas yang dikerjakan peserta didik.
Portfolio berarti kumpulan karya atau tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik (Popham, 1985).
Karya-karya ini dipilih kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan peserta didik. Cara ini bisa dilakukan dengan baik bila jumlah peserta didik yang dinilai tidak banyak.

Fitur Umum Anak Anak dalam Mempelajari Bahasa Inggris di SD

 

Fitur Umum Anak Anak dalam Mempelajari Bahasa Bahasa Inggris di SD

 

Mengingat perkembangan intelektual anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik. Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD

1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.

2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar. Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.

3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan
tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.

4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.

1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan
semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.

5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna

Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini
bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.

6. Bakat

Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.

7. Sifat Pemelajar

Beberapa siswa usia sekolah dasar, beberapa ahli mencirikan kategori tipe pemelajar yang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.

Ada pula yang menambahkan karakteristik pemelajar yang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu

Perilaku Sosial

Perilaku Sosial

Macam-macam perilaku sosial dibagi menjadi tiga yaitu:
Perilaku sosial (social behavior).
Yang dimaksud perilaku sosial adalah perilaku ini tumbuh dari orang orang yang ada pada masa kecilnya mendapatkan cukup kepuasan akan kebutuhan inklusinya. Ia tidak mempunyai masalah dalam hubungan antar pribadi mereka bersama orang lain pada situasi dan kondisinya. Ia bisa sangat berpartisipasi, tetapi bisa juga tidak ikutikutan,
ia bisa melibatkan diri pada orang lain, bisa juga tidak, secara tidak disadari ia merasa dirinya berharga dan bahwa orang lain pun mengerti akan hal itu tanpa ia menonjolkan-nonjolkan diri. Dengan sendirinya orang lain akan melibatkan dia dalam aktifitas-aktifitas mereka.

Yang dimaksud perilaku yang kurang sosial (under social behavior).
Timbul jika kebutuhan akan inklusi kurang terpenuhi, misalnya: sering tidak diacuhkan oleh keluarga semasa kecilnya. Kecenderungannya orang ini akan menghindari hubungan orang lain, tidak mau ikut dalam kelompok-kelompok, menjaga jarak antara dirinya dengan
orang lain, tidak mau tahu, acuh tak acuh. Pendek kata, ada
kecenderungan introvert dan menarik diri. Bentuk tingkah laku yang
lebih ringan adalah: terlambat dalam pertemuan atau tidak datang
sama sekali, atau tertidur di ruang diskusi dan sebagainya. Kecemasan
yang ada dalam ketidak sadarannya adalah bahwa ia seorang yang
tidak berharga dan tidak ada orang lain yang mau menghargainya.

Yang dimaksud perilaku terlalu sosial (over social behavior).
Psikodinamikanya sama dengan perilaku kurang sosial, yaitu
disebabkan kurang inklusi. Tetapi pernyataan perilakunya sangat
berlawanan. Orang yang terlalu sosial cenderung memamerkan diri
berlebih-lebihan (exhibitonistik). Bicaranya keras, selalu menarik
perhatian orang, memaksakan dirinya untuk diterima dalam kelompok,
sering menyebutkan namanya sendiri, suka mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang mengagetkan.

Orang Yang Sosial dan Yang Non Sosial

Orang yang sosial adalah mereka yang perilakunya mencerminkan
keberhasilan di dalam proses sosialaisasi, sehingga mereka cocok
dengan kelompok tempat mereka menggabungkan diri dan diterima
sebagai anggota kelompok.
Orang yang non sosial adalah orang yang perilakunya tidak
mencerminkan keberhasilan dalam proses sosialisasi yang menjadi ciri
khas seorang yang mempunyai sifat sosial.

Perilaku Sosial
Perilaku sosial adalah aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap
orang lain atau sebaliknya dalam rangka memenuhi diri atau orang lain
yang sesuai dengan tuntutan sosial.
Seseorang agar bisa memenuhi tuntutan sosial maka perlu adanya
pengalaman sosial yang menjadi dasar pergaulan.

a. Pentingnya pengalaman sosial
Banyak peristiwa atau pengalaman sosial yang dialami pada masa
anak-anak. Beberapa pandangan pengalaman

1). Pengalaman yang menyenangkan
Pengalaman yang menyenangkan mendorong anak untuk mencari
pengalaman semacam itu lagi.

2). Pengalaman yang tidak menyenangkan
Pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan sikap
yang tidak sehat terhadap pengalaman sosial dan terhadap orang
lain. Pengalaman yang tidak menyenangkan mendorong anak
menjadi tidak sosial atau anti sosial.

3). Pengalaman dari dalam rumah (keluarga)
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk
perkembangan sikap sosial yang baik, kemungkinan besar anak
akan menjadi pribadi yang sosial atau sebaliknya.

4). Pengalaman dari luar rumah
Pengalaman sosial awal anak di luar rumah melengkapi
pengalaman di dalam rumah dan merupakan penentu penting bagi
sikap sosial dan pola perilaku anak.
Berdasarkan pemahaman diatas, pengalaman sosial pada masa
anak-anak baik itu yang menyenangkan, tidak menyenangkan,
diperoleh dari dalam rumah atau dari luar rumah adalah sangat
penting.

b. Mulainya perilaku sosial
Perilaku sosial dimulai pada masa bayi bulan ketiga. Karena pada waktu lahir, bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama kebutuhan fisik mereka terpenuhi, maka mereka
tidak mempunyai minat terhadap orang lain. Sedangkan pada masa usia bulan ketiga bayi sudah dapat membedakan antara manusia dan
benda di lingkungannya dan mereka akan bereaksi secara berbeda
terhadap keduanya. Penglihatan dan pendengaran cukup berkembang
sehingga memungkinkan mereka untuk menatap orang atau benda
juga dapat mengenal suara. Perilaku sosial pada masa bayi merupakan
dasar bagi perkembangan perilaku sosial selanjutnya.

Pola Perilaku Sosial
Bentuk-bentuk perilaku soaial anak menurut Hurlock (1991: 263)
yaitu:

a. Kerjasama. Sejumlah kecil anak belajar bermaian atau bekerja secara
bersama dengan anak lain sampai mereka berumur 4 tahun. Semakin
banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu
bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan
cara bekerja sama.

b. Persaingan. Jika persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak
untuk berusaha sebaik-baiknya, hal ini akan menambah sosialisasi
mereka. Jika hal itu diekspresikan dalam pertengkaran dan
kesombongan, akan mengakibatkan timbulnya sosialisasi yang buruk.

c. Kemurahan hati. Kemurahan hati, sebagaimana terlihat pada
kesedihan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain, meningkatkan dan
sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak
belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.

d. Hasrat akan peneriamaan sosial. Jika hasrat untuk diterima kuat, hal
ini mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial.
Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal
dibandingakan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya .

e. Simpati. Anak kecil tidak mampu berperilaku simpati sampai mereka
pernah mengalami situasi yang mirip dengan duka cita. Mereka
mengekspresikan simpati dengan berusaha dengan menolong atau
menghibur seseorang yang sedang sedih.

f. Empati.

Empati kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi
orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini hanya
berkembang jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud
pembicaraan orang lain.

g. Ketergantungan.
Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal
bantuan, perhatian dan kasih sayang mendorong anak untuk
berperilaku dengan cara yang diterima secara sosial. Anak yang
berjiwa bebas kekurangan motivasi ini.

h. Sikap ramah.
Anak kecil memperlihatkan sikap ramah melalui
kesediaan melakukan sesuatu untuk bersama anak atau orang lain dan
dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka.

i. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Anak yang mempunyai
kesempatan dan mendapat dorongan untuk membagi apa yang mereka
miliki dan yang tidak terus menerus menjadi pusat perhatian keluarga,
belajar memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain dan
berbuat untuk orang lain dan bukannya hanya memusatkan perhatian
pada kepentingan dan milik mereka sendiri.

j. Meniru. Dengan meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompok
sosial, anak-anak mengembangkan sifat yang menambah penerimaan
kelompok terhadap diri mereka.

Pola perilaku yang tidak sesuai:

a. Negativisme. Negativisme adalah berlawanan terhadap tekanan dari
pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal ini dimulai pada
usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara 3 dan 6 tahun.
Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara
bertahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menurut
perintah.

b. Agresi. Agresi adalah tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman
permusuhan, biasanya tidak ditimbulkan oleh orang lain. Anak-anak
mungkin mengekspresikan sikap agresif mereka berupa penyerangan
secara fisik atau lisan terhadap pihak lain, biasanya terhadap anak
yang lebih kecil.

c. Pertengkaran . Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat yang
mengandung kemarahan yang umumnya dimulai apabila seseorang
melakukan penyerangan yang tidak beralasan. Pertengkaran berbeda
dari agresi, pertama karena pertengkaran melibatkan dua orang atau
lebih sedangkan agresi merupakan tindakan individu, dan kedua
karena merupakan salah seorang yang terlibat di dalam pertengkaran
memainkan peran bertahan sedangkan dalam agresi peran selalu
agresif.

d. Mengejek dan menggertak. Mengejek merupakan serangan secara
lisan terhadap orang lain, tetapi menggertak merupakan serangan yang
berupa fisik. Dalam kedua hal tersebut si penyerang memperoleh
keputusan dengan menyaksikan ketidak enakkan korban dan usahanya
untuk membalas dendam.

e. Perilaku yang sok kuasa Perilaku sok kuasa adalah kecenderungan
untuk mendominasi orang lain menjadi majikan. Jika diarahkan secara
tepat hal ini dapat menjadikan sifat kepemimpinan, tetapi umumnya
tidak demikian, dan biasanya hal ini mengakibatkan timbulnya
penolakan dari kelompok sosial.

f. Egosentrisme. Hampir semua anak kecil bersifat egosentrik dalam arti
bahwa mereka cenderung berfikir dan berbicara tentang diri mereka
sendiri. Kecenderungan ini akan hilang, menetap atau berkembang
semakin kuat, sebagian tergantung pada kesadaran anak bahwa hal itu
membuat mereka tidak popular dan sebagian lagi tergantung pada kuat
lemahnya keinginan mereka untuk menjadi popular.

g. Prasangka. Landasan prasangka terbentuk pada masa kanak-kanak
awal yaitu pada waktu anak menyadari bahwa sebagian orang berbeda
dari mereka dalam hal penampilan dan perilaku, bahwa perbedaan ini
oleh kelompok sosial diangap sebagai tanda kerendahan. Bagi anak
kecil tidaklah umum mengekspresikan prasangka dengan bersikap
membedakan orang-orang yang mereka kenal.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Contoh Perjanjian Pinjam Meminjam Rumah ;>>>> Baca

Bab 2 Kesalahan Ejaan pada Krangan SiswaKelas IX ;>>>> Baca

Metode ceramah dalam pembelajaran ;>>>> Baca

Pendekatan Konsep dalam pembelajaran Bahasa ;>>>>>>>>> Baca

Download Contoh soal dan Pembahhasan Sistem Akuntansi ;>>>>>>>>> Baca

Mengenal Pembelajaran Problem Posing

Mengenal Pembelajaran Problem Posing

Problem posing mulai dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lynn D. English dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Kemudian model ini dikembangkan pada mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran problem posing mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2000.
Problem Posing mempunyai beberapa arti, problem posing adalah perumusan masalah yang berkaitan dengan syarat-syarat soal yang telah dipecahkan atau alternatif soal yang masih relevan (Suharta, 2000: 93). “problem posing essentially means creating a problem with solutions unknown to the target problem solver the problem create for” (Leung, 2001). “Dunker describe problem posing in mathematics as the generation of a new problem or the formulation of a given problem (Dunker, 1945)” (dalam Abu-Elwan).
Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar (berlatih soal) secara mandiri. Problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang masalah yang ada dengan perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai.
Dalam pembelajaran matematika, sebenarnya pengajuan masalah (problem posing) menempati posisi yang strategis. Dalam hal ini siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan tercapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tidak hanya dari guru melainkan perlu belajar mandiri.
Amin Suyitno menjelaskan bahwa problem posing diaplikasikan dalam tiga bentuk aktifitas kognitif matematika sebagai berikut.
a. Presolution posing, siswa membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru.

Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?
b. Within solution posing, siswa memcah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.

Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit. Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?”

Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
a) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
b) Berapa banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
c. Post solution posing, siswa membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru.
Jika guru memberikan pertanyaan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?”

Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
Dari 42 siswa, 45 siswa menyukai atletik, 38 siswa menyukai senam, dan hanya 8 siswa yang tidak menyukai atletik dan senam.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai atletik?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai senam?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai atletik dan senam?
Dalam penelitian ini, peneliti memakai model pembelajaran problem posing bentuk post solution posing yang dilakukan secara kelompok.

Penerapan model pembelajaran problem posing bentuk post solution posing yang dilakukan secara kelompok adalah sebagai berikut
1) Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa.
2) Guru memberikan latihan soal secukupnya
3) Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelopok terdiri atas 4-5 siswa.
4) Setiap kelompok diminta menyelesaikan soal pada lembar kerja kelompok
5) Setiap kelompok diminta mengajukan soal yang menantang, dan kelompok yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya.
Suatu masalah mengandung tantangan dan memerlukan tindakan dalam menanganinya jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan melalaui prosedur rutin yang telah diketahui oleh siswa.
6) Secara acak guru menyuruh perwakilan kelompok untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan kelompok secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan.
7) Guru bisa membubarkan keompok yang dibentuk dan para siswa kembali ketempat duduknya masing-masing.
8) Guru memberikan tugas rumah secara individual.

Menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

Menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition atau Pengajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis, termasuk salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pada awalnya, model CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil, para siswa diberi suatu teks atau bacaan (cerita atau novel), kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisi, dan menulis ikhtisar cerita, atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita, atau untuk mempersiapkan tugas tertentu dari guru (Muhammad Nur) (dalam Suyitno Amin, 2005).

Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini sterdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/ bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya.
“In addition to solving the problems of management and motivation in individualized programmed instruction, CIRC was created to take advantage of the consciderable socialization potential of coopretive learning” (Slavin, 1995: 5).
Kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, (2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan yang ditanyakan dengan variabel tertentu , (3) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, (4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), dan (5) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/ penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi)

Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC untuk melatih siswa meningkatkan ketrampilannya dalam menyelesaikan soal cerita (Suyitno Amin, 2005), maka langkah yang ditempuh seorang guru matematika adalah sebagai berikut:

a. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika tertentu kepada para siswanya ( misalnya dengan metode ekspositori).
b. Guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita
c. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan CIRC.
d. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (Learning Society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa.
e. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk.
f. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan yang spesifik sebagai berikut.
1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal cerita tersebut.
2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita termasuk menuliskan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu.
3) Saling membuat rencana penyelesaian soal cerita.
4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut.
5) Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.
g. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (team study). Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok.
h. Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami oleh anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberi bantuan kepada kelompok secara proporsional.
i. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami, dan dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru.
j. Guru meminta perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.
k. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilisator jika diperlukan.
l. Guru memberikan tugas/ soal cerita secara individual kepada para siswa tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari.
m. Guru bisa membubarkan keompok yang dibentuk dan para siswa kembali ketempat duduknya masing-masing.
n. Menjelang akhir waktu pembelajaran, guru dapat mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita.
o. Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan kompetensi yang diperlukan.

Dalam hal ini, keterlibatan setiap siswa untuk belajar secara aktif merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Eggen dan Kauchack yang menulis bahwa “Effective learning occur when students are actively involved in organizing and finding relationships in the information”.

Mengenal Edward Lee Thorndike

Mengenal Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike (1874 – 1949): Thorndike yang lahir di Wiliamsburg pada tanggal 31 Agustus 1874 dan meninggal di Montrose, New York, pada tanggal 10 Agustus 1949, adalah tokoh lain dari aliran fungsionalisme Kelompok Columbia. Setelah ia menyelesaikan pelajarannya di Harvard, ia bekerja di Teacher’s College of Columbia di bawah pimpinan James Mckeen Cattell. Di sinlah minatnya yangbesar timbul terhadap proses belajar, pendidikan, dan intelegensi. Pada tahun 1898, yaitu pada usia 24 tahun, Thorndike menerbitkan bukunya yang berjudul Animal Intelligence, An Experimental Study of Association Process in Animal. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung, mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut
Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi. Suatu stimulus (S), akan menimbulkan suatu respons (R) tertentu. Teori ini disebut sebagai teori S-R.
Dalam teori S-R dikatan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) belajar dengan cara coba-salah (trial and error). Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentetan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu, dan berdasarkan pengalaman itulah, maka pada kali lain kalau ia menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yangharus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing, misalnya, yang dimasukkan dalam kandang yang terkunci, akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, mengeong, dan sebagainya, sampai pada suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.
Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-salah ini ada beberapa hukum yang
dikemukakan Thorndike:
1. Hukum Efek (The Law of Effect): Intensitas hubungan antara S dan R meningkat apabila
hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, hubungan itu akan berkuran, kalau diikuti oleh keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, maka setiap tingkah laku yang menghasilkan keputusan tertentu, akan diasosiasikan dengan situasi tersebut. Jadi, apabila situasi tampil lagi, maka tingkah laku akan tampil lagi.
Dalam contoh kucing dalam kandang di atas, tingkah laku injak pedal akan diasosiasikan dengan situasi menyenangkan karena terbebas dari kandang. Dengan teorinya ini Thorndike dapat dikatakan sebagai penganut paham asosiasionisme baru. Berbeda dengan asosiasionisme lama yang dianut oleh John Locke dan Mills bapak beranak, maka asosiasionisme baru tidak menghubungkan antara ide dengan ide, melainkan menghubungkan antara stimulus dengan respons atau respons dengan respons.

2. Hukum Latihan (The Law of Exercise) atau hukum guna-tak guna (The Law od Use and Disuse): Hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan
yangberulang-ulang. Dengan demikia, ini berarti pula, hubungan S-R juga dapat
ditimbulkan atau didorong melalui latihan yang berulang-ulang. Dengan demikian, ini
berarti pula, hubungan S-R dapat melemah kalau tidak dilatih atau dilakukan berulangulang.
Karena kegunaan R terhadap suatu S tertentu dalam hal yang terakhir ini tidak bisa
lagi dirasakan atau makin lama makin menghilang pada organsime yang bersangkutan. Sehubungan dengan teorinya tentang Hukum Efek di atas, Thorndike sampai pada bukunya yang ditulis bersama tokoh Kelompok Columbia lain bernama Woodworth, Thorndike mengemukakan bahwa apa yang telah dipelaajri terdahulu akan mempengaruhi apa yang dipelajari kemudian.
Apabila hal yang dipelajari kemudian mempunyai banyak persamaan dengan hal yang dipelajari terdahulu, maka akan terjaid transfer yang positif di mana hal yangbaru itu tidak akan terlalu sulit dipelajari. Misalnya orang yang sudah pernah belajar menunggang kuda, tidak akan terlalu sulit belajar mengemudikan kereta berkuda. Sebaliknya, kalau antara hal yang dipelajari kemudian dan hal yang dipelajari terdahulu terdapat banyak perbedaan, maka akan sulitlah mempelajari hal yang kemudian itu, dan di sini terjadi transfer yang negatif. Misalnya, seorang
yang sudah biasa menulis dengan tangan kiri, karena menulis dengan tangan kiri sama sekali lain caranya daripada menulis dengan tangan kanan. Prinsipnya mengenai transfer ini kemudian diamalkannya ke dalam dunia pendidikan dan ditulisnya dalam buku Educational Psychology (1903) dan karena prestasi-prestasinya itulah Thorndike akhirnya diangkat menjadi guru besar di Teacher’s College of Columbia.

Disadur dari: Sarlito W. Sarwono, 2002, Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (PT Bulan Bintang: Jakarta)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.