MENCARI PRINSIP PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA YANG KOKOH

MENCARI PRINSIP PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA YANG KOKOH
Oleh: Gunawan

Komunikasi antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional telah, sedang, dan akan terus terjadi. Untuk itu, warga masyarakat tersebut perlu menguasai satu atau lebih bahasa asing, khususnya bahasa internasional.
Kebutuhan ini akan makin meningkat dengan makin luasnya hubungan kerja sama antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional yang telah makin
sadar akan arti penting kerjasama itu sendiri. Konsep globalisasi merupakan salah satu bentuk perumusan sifat saling ketergantungan tersebut.
Dengan makin meluasnya hubungan kerjasama antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional, maka terasa makin perlu pula untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi komunikasinya. Peningkatan tersebut antara lain
adalah sarana komunikasi. Ditinjau dari proses pembelajarannya bagi warga masyarakat
dunia, maka pembelajaran bahasa internasional akan jatuh pada bentuk pembelajaran bahasa kedua/asing. Selanjutnya, usaha peningkatan penguasaan
bahasa kedua/asing ini menuntut tersedianya metode atau pendekatan yang makin efektif dan efisien. Namun, seberapa jauh hal itu dapat dijangkau selama ini Tulisan ini mencoba melihat kedudukan metode, pendekatan, dan atau prinsip
pembelajaran bahasa kedua/asing ditinjau dari aspek keefektifan dalam pembelajarannya.

B. Telaah Brown
H. Douglas Brown, yang dengan jelas menggunakan kata principles of yang dikaitkan dengan pembelajaran bahasa, bagi bukunya yang berjudul Principles of Language Learning and Teaching (1987) ternyata sarna sekali tidak menyediakan
prinsip-prinsip yang jelas untuk membangun metode, teknik, atau cara melaksanakan pembelajaran bahasa. Hal itu, menurut Brown, memang belum dimungkinkan, mengingat sifat pembelajaran bahasa sendiri yang sangat
kompleks di satu pihak, dan masih terlalu mudanya pengetahuan manusia
tentang pemerolehan bahasa, khususnya bahasa kedua, di pihak yang lain.
Belajar bahasa kedua merupakan proses rumit yang menyertakan jumlah faktor yang boleh dikata tak terbatas (Brown, 1987: 1). Isi buku Brown tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai teori mengajar atau pembelajaran, melainkan
sebagai bahan pertimbangan utama dalam merumuskan suatu toori atau prinsip pembelajaran (Brown, 1987: 7).
Setiap pembelajar, pengajar, dan hubungan pengajar pembelajar adalah unik, dan tugas guru adalah menemukan, memahami, dan memanfaatkan
keunikan-keunikan tersebut dalam kegiatan pembelajarannya. Jadi, menurut Brown, bagaimanapun menarik, peka, dan praktisnya suatu metode yang di,tawarkan namun bagi soorang guru, metode yang terbaik tetap juga metode
yang dirumuskannya sendiri secara cermat berdasar pengalaman mencobakan, merevisi, mwemperhalus, serta mempertajamnya. Kalau tidak demikian maka
guru akan menjadi budak dari suatu pola berfikir tertentu bagai bayangan tanpa kendali-diri (self-control) (Brown, 1987: 13).
Setelah mengupas secara panjang lebar hal-hal yang terkait dengan pembelajar,
di bagian akhir bukunya, Brown menuliskan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua yang utuh masih harus dikembangkan. Hasil penelitian hingga
waktu ini baru mengarah pada ditemukannya pokok-pokok pikiran menuju terbentuknya teori umum pembelajaran bahasa kedua (Brown, 1987: 240).
Mekanismebarapannya adalah basil penelitian yangmenyaran pada pembelajaran yang lebih efektif akan mendorong munculnya berbagai metode baru yang
makinbaik, sedang praktik-praktik penggunaan metode tersebut, akan memberikan dataesensial yang berkelanjutan untuk melaksanakanpenelitian lebih lanjut (Brown, 1987: 246).
Semacam revolusi dalam bidang pengetahuan pembelajaran bahasa kedua yang tetjadi pada waktu ini adalah, penama, munculnyapandang eklektik yang
mengakuiadanya variasi yang sangat beragam dalam diri pembelajar, sebingga tersimpul bahwa tidak akan ada satu metode tunggal yang dapat menjawab
seluruh kebutuhan belajar bagi seluruh pembelajardan di setiap waktu. Kedua, iImuwan tidak lagi berusaha melibat adanya kemungkinan hubungan langsung antara linguistik, psikologi, dan pendidikan dengan pembelajaran bahasa,
melainkanmembangun hubungan tak langsung melalui pandang dalam (insight) terhadap bahasa, perilaku manusia, dan pendidikan yang melandasi praktik praktik pembelajaran bahasa. Ketiga, para iImuwan telah mencapai kesamaan kerangka penelitian yang tepat dalam mengamati proses pemeroleban bahasa
kedua. Keempat, pembelajaran bahasa memperhatikan perbedaan individu, sehinggaranab afektif, sebagai faktor penting dalam komunikasi antarindividu dalam interaksi sosial, mendapat perhatian yang besar. Kelima, terakhir dan
nampaknya terpenting, adalah praktik- praktik pembelajaran bahasa kini memfokus pada aspek komunikasi sehingga fungsi bahasa yang alami dan
autentik masuk dalam kegiatan pembelajaran di kelas, walaupun cara mengajarkan semua sisi komunikasi babasa ini masih sangat kabur (Brown, 1987:246). Sisi khusus yang diajukan oleh Brown pada bagian akhir bukunya adalah arti penting intuisi dalam meneari kesesuaian (the search of relevance) antara dunia teori dan praktik. Dikatakan bahwa intuisi dapat mendukung penanganan
metode dalam situasi yang kritis. Situasi kritis di sini diartikan sebagai suatu keadaanyang menuntut diambilnya tindakan ataukeputusan dalam suatu sistem
kegiatan, namun kemampuan dan data analisis tidak mencukupi untuk membangun pertimbangan yang matang. Pada waktu atau keadaan seperti ini intuisi tepat danbams digunakan. Kedudukan intuisi, pada hakikatnya, sejajar dengan
analisis dalam memecahkan suatu masalah. Bedanya adalah babwa analisis memerIukan waktu relatif lama dan data pendukung yang akurat serta harus
tersedia pula kemampuan untuk melakukan analisis itu sendiri, sedangkan bila keadaanberada dalam situasi sebaliknya pemecahanmasalah menuntut digunakannya dan memang hanya menggunakan intuisi saja yang mungkin dalam menyelesaikan masalah tersebut (Brown, 1987: 248-250). Dalam bal ini tersimpul babwa penggunaan intuisi dalam mengembangkan dan menerapkan suatu metode adalah sah adanya.
Uraian di atas menunjukkan bah~¥9buku Brown, terbitan tahun 1987 yang menyertakan kutipan clan 591 publikasi dan 313 ::.hIi,menyatakan bahwa prinsip yang baku dalam pembelajaran bahasa kedua belum bisa dengan demikian, metode yang memadai yang diturunkannya juga belum ada. Dalam keadaan
seperti ini, guru dipersilakan memilih sendiri metode yang ada dan melakukan modifikasi seperlunya berdasar situasi dan kondisi nyata kelas yang diasuhnya.

c. Telaah Subyakto
Buku Metodologi PengajaranBahasa araban Sri Utari Subyakto-N (1987) menunjukkan, walaupun tidak sangat menonjol, aspek reaktif atau antisipatif
kebadiran suatu metoda terhadap metoda lain yang telah ada sebelumnya. Subyakto menuJiskan, misalnya, menjelang abad ke 19 ada beberapa faktor
yang menyebabkan penolakan atau ketidakpuasan terhadap metode tata bahasalterjemahan atau the Grammar-Translation Method. … dst. Hal ini
membuka jalan bagi usaha penggunaan Metode baru yang disebut “Metode Langsung” atau Direct Method (Subyakto, 1987: 12). Menjelang tahun 1920-
an, penggunaan Metode Langsung mulai berkurang. Di Amerika, Metode Langsung dianggap kurang memuaskan karena waktu yang tersedia untuk
bahasa tujuan hanya sedikit. Karena itu tujuan utama program digeser ke ketrampilan mambaca. Dan sini muncullah Metode Membaca (Reading Method)
(Subyakto, 1987: 16-17). Pada waktu yang bersamaan, di negeri Inggris dikembangkan Pendekatan Lisan (Oral Aproach) dan Pengajaran Bahasa Menurut Situasi (Situasional Language ‘leaching) (Subyakto, 1987: 18).
Alinea di atas menunjukkan bahwa para ahli metode telah banyak mencoba mendapatkan metode-metode pembelajaran bahasa kedua yang lebih baik.
Namun, cara yang ditempuh masih bersifat reaktif atau antisipatif terhadap kelemahan metode yang telah ada sebelumnya, dan bukan mencari atau
mengembangkan pril1sip-prinsip umum pembelajaran bahasa kedua secara komprehensif. Tentu saja metode yang dibasilkan masih bercorak sangat spesifik dan relatif sempit.

D. Telaah Larser-Freeman
Buku berjudul Techniques and Principles in Language Teaching (1986) araban Diane Larser-Freeman mencoba memunculkan pnnsip-prinsip pembelajaran bahasa secara lebih operasional, dengan cara menarik jawaban dari sepuluh peitanyaan penggali prinsip pembelajaran yang digunakan berbagai metode atau pendekatan. Dalam buku tersebut Larsen-Freeman mengamati delapan metode, yaitu, The Grammar-TranslationMethod, TheDirect Method, The Audio-Lingual Method, The Silent Way, Suggestopedia, Commullity
Language Learning, The Total Physical Response Method, dan The Communi-cative Approach (Larsen-Freeman, 1986: 4-138). Masing-masing metode
dikenai sepuluh pertanyaan yang sarna. Jawaban atas sepuluh pertanyaan ini dianggap sebagai prinsip pembelajaran yang digunakan oleh masing-masing metode tersebut (Larsen-Freeman, 1986: 2). Jadi, yang didapat bukanlah prinsip umum pembelajaran bahasa kedua.
Sepuluh pertanyaan penggali termaksud adalah: (1) Apa sasaran pembelajaran yang hendak dicapai guru dengan menggunakan metode tersebut?; (2) Apa
peranan guru dan apa peranan murid dalam metode tersebut?; (3) Apa ciri khusus pengajaran guru dan belajar siswa dalam metode tersebut?; (4) Bagaimana sifat interaksi guru-murid dan murid-murid dalam metode tersebut?; (5) Bagaimana perasaan pembelajar dilayani dalam metode tersebut?; (6) Bagaimanakah pandangan dasar metode tersebut terhadap bahasa dan terhadap budaya?; (7) Bagian bahasa dan ketrampilan bahasa yang mana yang mendapat tekanan dalam metode tersebut?; (8) Apa peranan bahasa pertama pembelajar dalam metode tersebut?; (9) Bagaimana evaluasi dilakukan dalam metode tersebut?;
dan (10) Bagaimana cara guru menanggapi kesalahan pembelajar? (Larsen- Freeman, 1986: 2-3). Dengan memberikanjawaban terhadap sepuluh pertanyaan
tersebut berdasar data pengamatan di kelas, Larsen-Freeman bukanlah bermaksud menunjukkan kelebihan dan/atau kelemahan masing-masing metode
ataupun untuk membujuk guru agar menggunakan salah satu dari metode yang ditampilkan, melainkan untuk memberikan berbagai informasi tentang prinsip pembelajaran berbagai metode yang ada agar kemudian yang bersangkutan dapat memetik manfaat dari padanya untuk memperkuat keyakinan terhadap perilaku pembelajarannya selama ini (Larsen-Freeman, 1986: 1). Di sini tampak lagi bahwa buku termaksud, walaupun mencantumkan kata
principles pada judulnya, ternyata tidak menyediakan prinsip umum pembelajaran bahasa kedua, melainkan prinsip pembelajaran yang digunakan oleh masingmasing metode yang diamati. Sedangkan landasan umum digunakannya prinsip
tertentu dalam suatu metode, nampaknya, merupakan hak prerogatif pengembang metode itu sendiri.

E. Telaah Palmer
Prinsip Pembelajaran Bahasa Palmer tertulis dalam bukunya berjudul The Pri1lciples of Language Study edisi cetak ulang tahun 1974 yang hampir tidak berubah dari terbitan pertamanya pada tahun 1921, dibliwaheditor R. Mackin. Alasan penerbitan ulang buku tersebut dalam bentuk yang sangat dekat dengan aslinya, seperti yang dinyatakan sendiri oleh editornya, adalah karena relevansinya
yang sangat kuat dengan masalah yang justru sekarang baru muncul dan banyak dibicarakan para abli. Editor buku tersebut menyatakan betapa tajam
am..!!in Palmer yang 50 tahun lebih dulu dapat menjelaskan masalah prinsip pembelajaran bahasa kedua. Dalam buk.u ters.e..b”ut Palm.er menyatakan bahwa pengetahuan yang masih muda. Namun, prinsip-prinsip yang telah banyak
disetujui oleh mereka yang telah melaksanakan studi-studi yang terkait dengan penyelenggaraan pengajaran bahasa adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan penyiapan awal bagi para pembelajar dalam hal melatih kemampuan bahasa spontannya untuk mengasimilasi bahasa lisan yang dipelajari.
b. Melaksanakan pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru seeara tepat dengan memanfaatkankebiasaan-kebiasaan yang telah dimiliki sebelumnya.
e. Melaksanakan latihan-Iatihan dengan eermat untuk menghindari terjadinya pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
d. Melaksanakan penjenjangan, penahapan, dan pembobotan kegiatan sedemikian sehingga dapat menghasilkan kemajuan yang terus meningkat.
e. Memberikan proporsi pelatihan yang berimbang dalam berbagai aspek dan eabang-cabang dari bahan ajar.
f. Mengutamakan presentasi bahan bahasa yang konkret dan sedapat mungkin menjauhi yang bersifat abstrak.
g. Memastikan adanya dan menjaga minat pembelajar agar dapat mempereepat kemajuan belajamya.
b. Memegang urutan pertumbuhan kemajuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip psikologi percakapan.
1. Menggunakan berbagai pendekatan terhadap materi pembelajaran secara
simultan yang diambil dari berbagai sisi seeara tepat (Palmer, 1974: 131-132).
Uraian yang lebih rinei dari masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
Penyiapan Awal (Initial Preparation). Pembelajar dewasa yang kemampuan spontannya dalam membangun kebiasaan baru telah beku dapat dibangunkan
kembali dengan menggunakan latihan-Iatihan yang tepat. Latihan-Iatiban tersebut adalah sebagai berikut.
a. Latihan mendengar, yang akan memberikan penguasaan penerimaan seeara tepat apa yang didengar.
b. Latihan artikulasi, yang melatih kegiatan otot-otot alat bieara bekerja secara benar.
e. Latihan mimikri, yang akan membangkitkan kemampuan untuk dapat meniru dan mereproduksi seeara baik kata atau sekelompok kata yang
diueapkan oleh penutur asli yang dijadikan model pada proses pembelajaran.
d. Pemahaman langsung, yang melatih pembelajar untuk mengira-ira arti atau maksud hal-hal yang didengarnya tanpa melakukan kegiatan penerjemahan
secara mental atau melakukan analisis sebelumnya.
e. Latihan membentuk hubungan yang benar antara kata dan arti yang dikandungnya sehingga pembelajar mampu untuk mengekspresikan ide yang ada dalam pikirannya.
Gabungan dari kelima ragam latihan tersebut akan mengembangkan kemampuan pembelajar dalam hal menggunakan bahasa lisan. (Palmer, 1974: 133)
Pembentukan Kebiasaan (Habit-forming and Habit-adapting). Seorang pembelajar belum dapat dikatakan menguasai suatu kata atau kalimat bahasa
asing kecuali bila dia telah dapat menggunakannya secara otomatis atau spontan.
Pembelajar dewasa umumnya tidak menyukai latihan-Iatihan menguasai kebiasaan-kebiasaan baru, dan berusaba menggantikannya dengan bentukbentuk
pembelajaran yang lebih berg antung pada kemampuan intelektual, karena mereka khawatir akan terjerumus dalam kegiatan yang hanya bersifat
mekanistik. Kekhawatiran ini tentu saja tidak beralasan, karena walaupun keotomatisan memang barus dicapai melalui pengulangan-pengulangan, namun tidak perlu berarti bahwa pengulangan-pengulangan tersebut akan selalu monoton seperti peniruan oleh burung boo atau kakaktua, karena banyak sekali cara-cara pengulangan yang secara psikologis dapat dipertanggungjawabkan
dan bervariasi sedemikian sehingga dapat menjamin terbentuknya keotomatisan namun teIjaga tetap menarik.
Pembelajar jangan hanya dituntut untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan bam, melainkanjuga hams dibantu untuk menggunakan kemampuan-kemampuan
yang telah ada pada dirinya; bahkan hal ini merupakan kuajiban pengajar untuk membantu para pembelajar untuk dapat memilih bagian-bagian kebiasaan yang telah dimiliki sebelumnya itu yang dirasakan dapat berguna sebagai pendukung proses belajarnya (Palmer, 1974: 134).
Kecermatan (Accuracy). Prinsip kecermatan atau accurac.ymengarah kepada pembel~ar jangan sampai berkesempatan membuat kesalahan sebelum mereka
sampai pada keadaan yang memaksa hal itu harus terjadi. Bila guru memaksa siswa mengucapkan kata asing sebelum mereka cukup menguasai bunyi-bunyi
yang membentuk kata tersebut, atau bila guru memaksa siswa untuk menulis karangan sebelum siswa cukup menguasai cara membuat kalimat, atau guru memaksa siswa berbicara sebelum siswa mendapat cukup latihan berbicara, maka berarti guru tersebut memaksa siswa tersebut berbahasa yang buruk (pidgin form the language). Dalam memberikan latihan-Iatihan khusus untuk
menanamkan kecermatan terhadap bagian-bagian bahasa tertentu, guru harus mempertimbangkan sejumlah aturan umum yang terkait dengan hal penahapan bobot (gradation). (Palmer, ]974: 135)
Tahapan Bobot (Gradation). Pada suatu program pembelajaran memiliki penahapan yang baik maka kecepatan kemajuan belajar pembelajar akan seiring
dengan kesertaannya dalam program tersebut. Dalam suatu program pembelajaran dengan penahapan yang ideal maka pembelajar seharusnya cukup melihat
pertumbuhan, yang kalau dapat diasiniilasikan secara sempuma nantinya akan berkembang sendiri mengikuti semacam hukum bola salju yang menggelinding.

Prinsip-prinsip dalam penahapan adalah sebagai berikut.
a. Telinga sebelum Mata
b. Resepsi sebelum Reproduksi
c. Pengulangan Lisan sebelum Membaca
d. Ingatan Sesaat sebelum Ingatan Berlanjut
e. Latihan Bersama sebelum Latihan Perseorangan
f. Latihan Terpimpin sebelum Latihan Bebas

Masing-masing butir potongan pembelajaran harus ditahapkan, dan demikian pula pembelajaran secara keseluruhan harus ditahapkan menjadi tingkatan
atau fase-fase sedemikain sehingga kegiatan pada suatu fase selalu mendukung kegiatan pada fase atau fase-faseberikutnya. (Palmer, 1974: 135-136)
Proporsi (Proportion). Tujuan akhir pembelajar ada empat lapis, yaitu,
a.memahami apa yang dikatakan dalam bahasa asing oleh penutur aslinya,
b.berbicara dalam bahasa asing seperti penutur aslinya,
c. memahami tulisan seperti yang ditulis penutur aslinya, dan
d. menulis dalam bahasa asing seperti penutur aslinya. Peogertian proporsi di sini mengarah kepada perhatian secara cukup terbadaP masing-masing dari keempat bal tersebut di atas tanpa melebihlebihkan yang satu terhadap yang lain.
Kekonkretan (Co1lcrete1less).Araban prinsip kekonkretan dalam pembelajaran bahasa kedua adalah sebaiknya pengajaran lebih ban yak menggunakancontoh daripada menggunakan penjelasan mentalistik. Namun hal ini pun belum cukup,
karena contoh~ontoh sendiri masih dapat beragam dalam hal kekonkretannya, dan karena itu guru harus menyeleksi berbagai cara memberi contoh yang palingjelas dan menjelaskan masalah yang diajarkan dan cenderung menggunakan pengertian
seman tis yang terdekat. Guru harus menggunakan sebanyak mungkin lingkungan siswa yang nyata, misalnya, tata bahasa bagi kata benda akan paling mudah dipahami bila menggunakankata-katabuku, pensil, kursi, dsb.; tata bahasa bagi kata
ketja akan paling mudah ditangkap bila contoh~ontohnya menggunakan kata-kata
kerja yang dapat dicobakan; demikian pula tata bahasa kata keadaan, maka misalnya,
kata-kata hitam, putih, bulat, bujursangkar akan lebih konkret daripada katakatakaya, miskin, bebal, rajin, dsb.

Ada empat cara untuk mengajarkanarti kata, yaitu, sebagai berikut.
a. Dengan asosiasi langsung, seperti misalnya, menunjuk ke benda-benda yang
dimaksud oleh kata-kata benda yang diajarkan
b. Dengan terjemahan, seperti misalnya, memberikan kata dalam bahasa si
pembelajar yang mempunyai arti paling dekat dengan kata yang dipelajarinya.
c. Dengan mendefinisikan, seperti misainya, mendeskripsikan kata tersebut
menggunakan kata-kata lain yang bercorak sinonim terhaditp kata yang dipelajari. .
d. Dengan menggunakan konteks, seperti misalnya, memasukkan kata yang dipelajari ke dalam suatu kalimat contoh sehingga artinya dapat ditangkap
oleh siswa.
Keempat cara tersebut ditunjukkan di sini sesuai dengan tingkat kekonkretannya;
dan perlu dicatat bahwa arti terjemahan dalam hal ini tidaklah sedekat seperti teljemahan (kata per kata) yang sangat dikhawatirkan oleh para
pengikut direct method. Maka gurulah yang harus memutuskan manakah yang perlu digunakan dari keempat cara tersebut sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi di kelas. (Palmer, 1974: 137)
Kemenarikan (Interest). Nampaknya tidak akan ada hasil yang baik yang dapat dicapai bila pembelajar tidak tertarik akan pekeljaan yang dilakukannya, namun dalam usaha pengajar untuk menarik pembelajar ini haruslah selalu
menjaga jangan sampai usaha tersebut sempat menodai kualitas dari pengajarannya sendiri.
Ada enam unsur yang dapat diketengahkan untuk membuat pengajaran yang menarik yang seiring dengan delapan prinsip yang lain, yaitu:
a. Menekan kebingungan. Kebingungan tidak sarna dengan kesulitan. Pembelajar harus, dalam kegiatan umumnya,. dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, tetapi mereka jangan sekali-kali menghadapi masalah yang tak terpecabkan.
Penjelasan yang beralasan dan penahapan kegiatan secara baik akan menekan teljadinya kebingungan dan, dengan demikian, akan membuat program
menjadi menarik.
b. Merasa Mencapai Kemajuan. Bila pembelajar merasa bahwa mereka mendapat kemajuan, mereka jarang tidak menyukai atau tidak tertarik
dengan kegiatannya.
c. Lomba atau Persaingan Sehat. Semangat berlomba menambah kenikmatan dalam segala bentuk pembelajaran.
d. Latihan berbentuk lomba. Banyak bentuk latihan-Iatihan ketrampilan yang digarap sedemikian sehingga dirasakan oleh pembelajar sebagai hal yang menarik semenarik berrnain catur atau permainan-perrnainan pengisi waktu yang lain.
e. Hubungan Pengajar dan Pembelajar. Sikap yang positif antara pengajar terhadap pembelajar akan menyumbang kemenarikan yang sangat besar
dalam kegiatan belajar.
f. Bervariasi. Pergantian kegiatau umumnya juga menambah kemenarikan program: memvariasikan pcJaksanaankegiatan yang sesungguhnya bercorak
monoton. Pelaksanaan kegiatan dril misalnya, haruslah disisipi dengan kegiatan-kegiatan lain yang berwrak tidak atau kurang monoton. (Palmer,
1974: 138)
Urutan Pefigembangan yang Rasional (A Rational Order Progression).
Pengajar dapat me!a..lcukanpelatihan dari bentuk lisa..ike bentuk tuEs atau sebaliknya dari tertulis ke lis:n; mulai dari latihan mendengar dan latihan-latihan artikulasi atau lebih suka meiaks3nakanl1ya nanti dibagian akhir program;
menganggap latihan penguasaan intonasi sebagai hal penting untuk didahulukan atau sebaliknya menunggu hingga tingkatan yang lebih lanjut; memulai pengajaran dari kalimat baru kata atau sebaliknya; memasukkan ketidakteraturan
dalam latihan-Iatihan awal atau menyisihkannya; melatihkan terlebih dahulu kecepatan dan kelancaran baru kemudian memperlambatnya atau sebaliknya.
Pedagogi modern cenderung memilih yang depan dari masing-masing pasangan tcrsebut (Palmer, 1974: 139- 140).
Pendekatan Beragam (The Multiple Line Approach). Istilah pendekatan beragam mengandung arti menuju kesatu akhir yang sama melalui berbagai titik awal secara serentak; menggunakan masih asing cara, proses, latihan, dril, atau unsur-unsur lain yang akan membawa ke pencapaian tujuan-tujuan
antara dan mendekatkan ke arah tujuan akhir; memanfaatkan setiap ide yang bagus dan tetap terbuka untuk segala kemungkinan pengembangan; tidak menolak bentuk-bentuk kt:giatan apapun kecuali kegiatan yang tidak berguna atau memsak.
Pendekatan beragam memberi bentuk bagi prinsip- prinsip eklektik, karena mendorong pengajar untuk memilih secara bijak tanpa prasangka semua hal
yang dirasakan mungkin dapat membantu mereka dalam tugas. Baik untuk tujuan penguasaan yang tuntas, ataupun tujuan-tujuan yang lebih khusus tampaknya prinsip tersebut akan sangat bermanfaat; pengajar mengadopsi cara-cara
yang terbaik untuk mencapai hasil yang direncanakan (Palmer, 1974: 140).

F. Kesimpulan
1. Prinsip yang kokoh pembelajaran bahasa kedua/asing masih dalam keadaan berkembang.
2. Prinsip pembelajaran bahasa kedua/asing yang umumnya digunakan untuk mengembangkan metode atau pendekatan ada selama ini cenderung memberikan
tekanan yang berlebihan pada aspek bentuk atau fungsi bahasa tertentu.

3. Semacam prinsip umum pembelajaran bahasa kedua yang telah ada adalah sembiIan prinsip pembelajaran bahasa kedua/asing karya Palmer, walaupun kehadirannya belum didukung oleh teori-teori yang dibangun dari hasil penelitian.
4. Sebelum prinsip umum yang kokoh tentang pembelajaran bahasa kedua/asing ada maka penerapan metode dan kualitas pembelajarannya sangat tergantung pada semangat dan tanggungjawab guru yang langsung menangani proses belajar-mengajar di kelas dan tidak tergantung pada metode atau pendekatan apa yang digunakan.

Kepustakaan
Brown, H.D. (1987). Principles of Language Lear1ling and 1eaching. Englewood
Clifts, N.J.: Prentice-Hall.
Larsen-Freeman, Diane. (1986). Techniques and Principles in Language Teaching,
New York: Oxford University Press.
Palmer, H.E. (1974). The Principles of Language Study. Oxford: Oxford University Press.
Subyakto, Sri Utari N. (1988). Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Dikti P2LPTK.

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang
penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuhk; Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :

a. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama

Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan
pada fungsi-fungsi divergen ini antara lain menggunakan teknik
pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan
penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan.

Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:

1) Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban.
Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.

2) Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.

3) Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.

4) Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
mungkin dalam setiap situasi.

Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan sebagai berikut:

1) Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan
prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap
pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran
pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar
sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.

2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka

Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku
divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan
pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala
peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
a) Andaikata
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang
situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan
fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
b) Peningkatan suatu produk.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapn
pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi
yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
c) Permulaan yang tidak selesai.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu
kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan
kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh:
penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
sebagainya.
d) Pengguna baru dari objek-objek umum.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda
atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim.
Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
e) Alternatif judul.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu
stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada
pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan
atau gambar-gambar tentang sesuatu.
f) Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan.
Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa
beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan
dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan
banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi
pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan
menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

3) Sumbang Saran
Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh
Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka,
lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan
gagasan-gagasan.
Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang
lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan
sebagai berikut:
a) Kritik harus tepat waktu
Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran
ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap
pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan
tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
b) Kebebasan dalam memberikan gagasan
Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang
saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari
kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan
sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara
murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang
beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau
kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal
seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi
rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan
tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya.
c) Penekanan pada kuantitas
Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan.
d) Kombinasi dan peningkatan gagasan

Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik
ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan
yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang
lebih bermutu.
e) Penekanan pada kualitas
Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan
yang lebih berkualitas.
f) Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.

4) Daftar penulisan gagasan
Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agar
pembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubunganhubungan
baru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran
teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
a) Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
b) Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide
dan sebagainya.
c) Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
d) Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu,
bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
e) Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti :
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
f) Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
5) Penyusunan sifat
Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini
memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya
banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek.
Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
a) Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa
perkotaan dan siswa pedesaan.
b) Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak
reformasi terhadap mutu pendidikan.
c) Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
d) Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
6) Hubungan yang dipaksakan
Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.

b. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua

Dalam teknik-teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta
melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif.
Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik
kreatif tingkat kedua, antara lain: Teknik analisis morfologis, bermain peran dan sosiodrama, serta synectics.
1) Teknis analis morfologis
Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik
kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat.
Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur
masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari
masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau
gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.

2) Teknik bermain peran dan sosiodrama
Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran
untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk
secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat
menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman
dalam kehidupanya.

3) Synectics
Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik
synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai
macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk
memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam
teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya
melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau
gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.

c. Teknik kreatif tingkat ketiga

Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan
pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar
kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif.
PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi
dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus
bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini.
Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus
memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang
optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
1) Seleksi dan latihan guru;
2) Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang
untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni;
3) Prosedur identifikasi jamak;
4) Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi;
5) Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama;
6) Rencana evaluasi
7) Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri
dari kepala sekolah, guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini.
Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
1) Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya;
2) Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan
intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif;
3) Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua;
4) Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya;
5) Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya;
6) Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.

Components of Teaching and Learning Process

Components of Teaching and Learning Process

Teaching may be defined as showing or helping someone to learn how to do something, giving instruction, guiding in the study of something, providing with knowledge, causing to know or understand
Dictionaries also give a variety of definitions about teaching. According to Cambridge International Dictionary of English, teaching means to give someone knowledge or train someone; mean while the Longman Dictionary of Contemporary English defines teaching as to show someone how to do something or to change somebody’s idea.
As Brown’s definition about teaching explained above, there is no exact rule that teaching is done by the teacher to the students. Teaching itself is always related to the term of teacher-centered. It is when the teaching activity depends on the teacher only. The students are considered as objects that just receive what the teacher says without having any feedback. Whereas, teaching activity does not only depend on the teacher, but also on the learners, or known as leaner-centered.
From all of the definitions above, it can be concluded that the main point of teaching is that it is to guide and to facilitate learning, to enable the learner to learn and to set the conditions for learning, no matter it depends on the teacher or the learners.
Learning
Learning is the process by which an activity originated or changed through training procedures whether in the laboratory or in the natural environment
According to Concise Macquarie dictionary, the word learning is defined as: knowledge acquired by systematic study.

The components of teaching and learning process are very essential in order to run a teaching and learning process, other wise the teaching and learning process will not be able to run.
The components of teaching and learning process are learners or students and teachers (Edge, 1993:1)
The definition of learner and teacher are stated as follow:
1. Learner or student
A learner or a student is one who studies a subject systematically or detail Student is one who engages in a course of study and instruction, as at a college, university, or professionals, or technical school.
2. Teacher
The definition of teacher according to Concise Macquarie dictionary is one who teaches or instructs.

Factors Affecting Language Acquisition Process
In learning language, some factors may affect the language acquisition process. Those factors are:
1. The internal factor
The internal factor is the learner’s personal condition. The factors are:
 Age
As adolescents, learners are mostly excited of learning new things. Therefore, they have already had a supporting aspect on learning something.
 Motivations
Motivation is the most important factor of all, without motivation; there would be no effort to reach the target. Motivation is the main factor to force the students to achieve their goals.
 Intelligent.
Learners with high intelligent tend to achieve better than those who have low intelligent.
2. The external factor
The external factor is the factor outside of learner’s personal condition that may affect the teaching process. The factors are macro and microenvironment, teacher educational background and experience, teaching and learning methodology, facilities, and physical facilities.
(Samiati,1998:1).
The learners or students who have a good external factor condition are tending to achieve better result in studying or learning.
Those above factors are very essential for the running of teaching and learning process. It is because those factors may influence learner’s progress and learner’s learning outcome.

Tulisan Lain

  • Konsep Dan Kegiatan Manajemen Kelas;>>>baca
  • Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas;>>>baca
  • Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Moral Bangsa;>>>baca
  • Fitur Umum Anak dlm Mempelajari Bhs Ing di SD;>>>
  • Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik dan lain lain;>>>baca
  • Konsep Dan Kegiatan Manajemen Kelas

    Konsep Dan Kegiatan Manajemen Kelas

    Siapapun yang menjalankan usaha tentu telah melaksanakan serangkaian kegiatan merencanakan, melaksanakan dan menilai keberhasilan dan kegagalan usahanya. Disadari atau tidak, mereka telah menempuh proses manajemen. Akan tetapi, alangkah lebih baik apabila dalam praktek usahanya Mereka menerapkan pemahaman yang mendalam tentang ilmu manajemen, tentu usahanya akan lebih terarah dan lebih mudah mencapai tujuan. Ilmu manajemen apabila dipelajari secara komprehensif dan diterapkan secara konsisten memberikan arah yang jelas, langkah yang teratur dan keberhasilan dan kegagalan dapat mudah dievaluasi dengan benar, akurat dan lengkap sehingga dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi tindakan selanjutnya. Organisasi sekolah sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetapi juga mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. tentu saja memerlukan manajemen yang professional. Dalam proses belajar mengajar di kelas, sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ada hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu mengelola kelas. Mengelola kelas adalah kegiatan mengatur sejumlah sumber daya yang ada di kelas sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien.
    Kegiatan pengaturan sumber daya yang dilakukan di dalam kelas mencakup unsur manusia dan non-manusia, kedua unsure tersebut memiliki kedudukan yang sama penting guna mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Unsur non-manusia mencakup keseluruhan unsur fisik kelas, ruangan dan seluruh fasilitas yang ada di kelas baik yang akan dipergunakan langsung dalam proses pembelajaran maupun yang tidak langsung. Unsur yang mendukung langsung seperti meja, kursi dan media pembelajaran yang akan digunakan, sedangkan yang tidak langsung seperti keadaan ruangan kelas, pentilasi dan unsur fisik lainnya. Unsur manusia, adalah sejumlah perilaku yang
    mungkin muncul dan akses-akses yang memungkinkan terjadinya gangguan dari sikap dan perilaku siswa di dalam kelas. Kedua unsur tersebut menjadi perhatian utama guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Karena keberlangsungan kegiatan pembelajaran berhasil tidaknya akan sangat ditentukan oleh keteraturan dari kedua unsur tersebut. Pengaturannya harus disesuaikan dengan bahan dan tujuan yang akan dicapai dari kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Secara garis besar kondisi fisik kelas dan sosio-emosional siswa akan mempengaruhi jalannya kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru. Untuk itu diperlukan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengatur kedua unsur tersebut, pemahaman yang dimaksudkan adalah guru harus mempelajari dan mendalami teori-teori dari kegiatan manajemen kelas yang dimaksudkan. Sedangkan keterampilan adalah kemampuan yang dapat dipraktekan oleh guru, untuk dapat memiliki keterampilan tersebut maka guru harus terus menerus mencoba dan mempraktekan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dirasakannya serta mencari bentuk-bentuk baru sebagai bentuk inovasi dalam kegiatan manajemen kelas. Dalam modul kedua ini disajikan sejumlah konsep dan teori tentang manajemen kelas yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan guru dalam mempelajari apa dan bagaimana manajemen kelas itu. Selanjutnya diharapkan guru dapat mempraktekannya secara langsung di dalam kelas sehingga dapat memahami secara jelas tentang manajemen kelas itu.
    Setiap ahli memberi pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah memberi arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pikiran-pikiran ahli tentang definisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain. Dengan demikian terdapat tiga fokus untuk mengartikan manajemen yaitu:
    a) manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan/keterampilan teknikal, manusiawi dan konseptual.
    b) manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.
    c) manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
    Berikut ini merupakan definisi manajemen dari beberapa ahli yang mencerminkan ketiga fokus tersebut.
    a) Encyclopedia of the social sciences (1957); management may be defined as the process by which the execution of a given purpose is put into operation and supervised.
    b) Rue dan Byars (1996:9); management is a process that invalesguiding or directional group of people toward organizationl goals or objectivitas.
    c) Hersey dan Blanchard (1988:144): merupakan suatu proses bagaimana pencapaian sasaran organisasi melalui kepemimpinan.
    d) Stoner (1992:8) manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
    e) Millet (1954); management in the process of directing and facilitating in the work of people organization in formal group to achiave a desired goal.
    f) Balderton (1957) management is stimulating, and directing of human effort to utilize effectively materials and facilities to attain an objective.
    g) Terry (1972); management is getting things done through the effort of other people.
    h) Blanchard (2001:3); sebagai management as working with and through individuals and growth to accomplish organizational goals.
    i) Sudjana (2000:77); manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan dan saling keterkaitan dengan lainnya. Hal tersebut dilaksanakan oleh orang atau beberapa orang yang ada dalam organisasi dan diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
    j) Manajemen sebagai suatu seni yang tercermin dalam pengertian yang dikemukakan American Society of mechanical Engineers; manajemen merupakan ilmu dan seni mengorganisasi dan memimpin usaha manusia, menerapkan pengawasan dan pengendalian tenaga serta memanfaatkan bahan alam bagi kebutuhan manusia. Management is the art and science of organizing and directing human effort applied to control the forses utilizes the materials of nature for the benefit of man.
    Dengan demikian manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif dan efisien.
    Manajemen atau pengelolaan diartikan proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan kelas diartikan secara umum sebagai sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dalam arti sempit kelas menunjukan suatu ruangan (dibatasi 4 dinding) atau tempat dimana murid-murid belajar, tiap bangunan sekolah di bagi kedalam ruangan-ruangan bagunan yang menunjukan ruangan kelas. Dalam arti luas kelas dapat pula diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada murid-murid dalam sutau ruangan untuk sutau tingkat tertentu pada jam tertentu. Kelas yang dimaksudkan disini adalah mencakup kedua pengertian tersebut, yaitu hanya sebagai ruangan yang menunjukan tingkatan tertentu, akan tetapi juga menunjukan kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
    Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan dapat tercapai.
    Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah :
    1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
    2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
    3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
    4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
    Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah penempatan individu, kelompok, sekolah dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Tugas guru seperti mengontrol, mengatur atau mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang kurang tepat lagi untuk saat ini. Sekarang aktivitas guru yang terpenting adalah memanaj, mengorganisir dan mengkoordinasikan segala aktivitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran. Mengelola kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manjemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif. Manajemen Kelas adalah rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yaitu meliputi : tujuan pengajaran, pengaturan waktu, pengaturan ruangan dan peralatan, dan pengelompokan siswa dalam belajar. (Alam S : 1B) Pengelolaan kelas adalah segala kegiatan guru di kelas yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar. (Raka Joni : 1) Pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang senagaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. (M Entang : 1) Manajemen Kelas adalah kegiatan pengelolaan perilaku murid-murid, sehingga murid-murid dapat belajar, manajemen kelas adalah :
    - Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalaui penggunaan disiplin (pendekatan otoriter)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi pendekatan intimidasi)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (pendekatan permisif)
    - Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (pendekatan buku masak)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (pendekatan instruksional)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (pendekatan perubahan perilaku)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional)
    - Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (pendekatan sistem sosial)
    Pengelolan sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sesuai dengan kemampuan.
    Pengelolaan kelas yang mengharuskan guru melaksanakan berbagai tugas :
    1. Perencanaan
    2. Mengorganisir
    3. Mengkoordinasi
    4. Mengarahkan
    5. Mengendalikan
    6. Mengkomunikasikan
    7. Merawat
    8. Memupuk

    Melibatkan penggunaan unsure variable tertentu
    1. Waktu
    2. ruang
    3. Personel
    4. bahan
    5. Kewenangan + Tanggungjawab
    6. Imbalan dan hukuman
    Dalam berbagai konteks
    1. Di luar sekolah
    2. Di sekolah di luar kelas
    3. Di kelas tanpa murid
    4. Dengan murid peraturan tapi tanpa perintah
    5. Dengan murid memupuk perkembangan pengendalian diri tanpa perintah
    6. KBM di kelas
    Dalam mewujudkan nilai-nilai tertentu
    1. Pencapaian tujuan secara efektif
    2. Efisiensi
    3. Antara kelompok dan individu-individu
    4. Antar peran
    5. Antar kepribadian
    6. Antar tujuan jangka pendek dan jangka panjang
    Melalui pemecahan sejumlah ketegangan
    1. Antar sekolah dengan kebudayaan
    2. Antar pesan dan kepribadian
    3. Antar kelompok dan individu
    4. Antar peran
    5. Antar kepribadian
    6. Antar keadaan sekarang dan yang akan datang
    Yang berbeda sifat dan keseriusannya menurut factor-faktor situasional
    1. Besarnya kelompok
    2. Usia dan latar belakang murid
    3. Kesetiakawanan kelompok
    4. Konteks organisasi
    5. Tujuan
    6. Kecukupan ruang dan sumber
    Menurut cara-cara yang dipengaruhi oleh pandangan ideologis sekolah dan guru-guru
    1. Orientasi tugas
    2. Orientasi individu
    3. Orientasi Kelompok
    Model Konseptual Pengelolaan Kelas (M.C. Wrag : 1997)

    Tulisan Lain

  • Mengenal Pembelajaran Kooperatif;>>>baca
  • Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas;>>>baca
  • Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Moral Bangsa;>>>baca
  • Fitur Umum Anak Anak dalam Mempelajari Bahasa Inggris di SD;>>>baca
  • DownLoad E-Book Kumpulan Cerpen AA Navis dan lain lain;>>>baca
  • Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas

    Fungsi Guru dalam Manajemen Kelas

    Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan. Dalam prosesnya aktivitas yang menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun demikian bukanlah berarti peran guru tersisihkan; melainkan diubah. Guru berperan bukan sebagai penyampai informasi, tetapi bertindak sebagai director dan facilitator of learning – pengarah dan pemberi fasilitas untuk terjadinya proses belajar. Beberapa prinsip umum tentang mengajar:
    1) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa
    2) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis
    3) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa
    4) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar
    5) Tujuan pengajaran harus diketahui siswa
    6) Mengajar harus mengikuti rpinsip psikologis tentang belajar.
    Arti belajar; Belajar adalah sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Perubahan perilaku dalam proses belajar adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi ini biasanya berlangsung secara sengaja. Kesengajaan itu sendiri tercermin dari adanya faktor-faktor berikut:
    a) Kesiapan (readiness); yaitu kapasiti baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu
    b) Motivasi; yaitu dorongan dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu
    c) Tujuan yang ingin dicapai.

    Beberapa prinsip umum tentang belajar:
    1) Proses belajar adalah kompleks namun terorganisasi
    2) Motivasi penting dalam belajar
    3) Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks.
    4) Belajar melibatkan proses perbedaan dan penggeneralisasian berbagai proses.
    Prinsip-prinsip Belajar
    - Untuk dapat belajar dengan baik, siswa membutuhkan suasana yang wajar, tanpa tekanan.
    - Untuk dapat belajar dengan baik, siswa membutuhkan suasana yang merangsang
    - Dalam proses belajar mengajar, siswa sering membuthkan bimbingan dan bantuan guru
    - Dalam Proses Belajar mengajar, siswa membuthkan kesempatan untuk berkomunikasi, baik dengan guru, teman, maupun dengan lingkungannya
    - Kebutuhan siswa akan poin 1,2,3 dan 4 berbeda dalam ragam dan kadarnya.

    Keterampilan Dasar Mengajar

    Jenis-jenis keterampilan mengajar terbatas, mempunyai rentangan dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang mengimplementasikan guru sebagai pusat keaktifan sampai kepada penciptaan situasi yang memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara optimal. Jenis–jenis keterampilan mengajar tersebut meliputi:
    1. Keterampilan Bertanya (Dasar dan Lanjutan)
    2. Keterampilan Memberi Penguatan
    3. Keterampilan Mengadakan Variasi
    4. Keterampilan Menjelaskan
    5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
    6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
    7. Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
    8. Keterampilan Mengelola Kelas

    Yang dimaksud dengan keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.

    Tujuan

    1) Tujuan untuk siswa
    Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk: Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya. Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.

    2) Tujuan untuk Guru
    Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam: Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar secara efektif. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa. Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus melawan di kelas.
    Komponen-Komponen
    Pada garis besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;

    1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.

    Menunjukan sikap tanggap,
    Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.

    Membagi perhatian,
    Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.

    Memusatkan perhatian kelompok,
    Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.

    Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
    Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.

    Menegur,
    Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran tidak merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya. memberi penguatan, penguatan adalah Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.

    2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal Memodifikasi tingkah laku
    Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik. Pengelolaan kelompok
    Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru. Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaiant ujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
    Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh dampak pengiring yang besar bila tidak bias diselesaikan. Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
    Hal-hal yang harus dihindari
    Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari guru dalam mempraktekkan keterampilan mengelola kelas adalah :

    1) Campur tangan yang berlebihan, campur tangan yang berlebihan dari guru kepada setiap perilaku kedirian siswa akan memberikan damapak yang kurang baik, oleh karena itu campur tangan dilakukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik di kelas.

    2) Kesenyapan, proses kesenyapan memang diperlukan di kelas tapi tidak merupakan kegiatan yang berjalan dengan akumulasi yang cukup panjang, karena dapat menimbulkan perilaku yang berlebihan dari siswa dan dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan teman lainnya.

    3) Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan, awal dan akhir kegiatan adalah hal yang krusial bagi guru. Awal adalah pembuka jalan dalam mengorganisasikan pikiran anak untuk menemukan dan melakukan berbagai hal di kelas terutama kaitannya dengan tugasnya dan akhir adalah bentuk akumulasi tentang pemahaman atas kegiatan dan kegiatan lanjutan yang akn dilakukan siswa.

    4) Penyimpangan, bentuk perilaku yang menyimpang baik secara individual maupun kaitannya dalam pelaksanaan pembelajaran.

    5) Bertele-tele, kata atau kalimat yang bertele-tele dan kegiatan yang bertele-tele akan menimbulkan kebosanan dan ketidak nyamanan ketika hal itu tertuju pada satu orang saja atau pada satu pokok bahasan saja.

    6) Pengulangan penjelasan yang tidak perlu, banyak hal yang baru bagi siswa yang dapat disampaikan, dan banyak hal lainnya yang juga memerlukan pengulangan. Prinsipnya adalah dimana ketika terjadi proses pengulangan adalah bentuk untuk mengkaitkan pokok bahasan, menegaskan, dan mencontohkan. Karena pengulangan bisa memunculkan persepsi yang kurang baik pada diri siswa, mungkin akan muncul anggapan bahwa guru tidak bias mengajar.
    Fungsi Guru dalam Pembelajaran (Manajemen Kelas)

    1. Fungsi Instruksional
    Sepanjang sejarah keguruan, tugas atau fungsi guru yang sudah tradisional adalah mengajar (to teach), yaitu ; 1) menyampaikan sejumlah keterangan-keterangan dan fakta-fakta kepada murid, 2) memberikan tugas-tugas kepada mereka, dan 3) mengoreksi atau memeriksanya. Fungsi intruksional inilah yang masih selalu diutamakan oleh hampir semua orang yang disebut guru, dan fungsi instruksional ini masih dominan dalam karier besar guru.

    2. Fungsi Edukasional
    Fungsi guru sesungguhnya bukan hanyalah mengajar, akan tetapi juga harus mendidik (to educate). Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru harus berusaha mendidik murid-muridnya menjadi manusia dewasa.

    3. Fungsi Managerial
    Fungsi kepemimpinan atau managerial guru ini dalam administrasi sekolah modern tidak hanya terbatas di dalam kelas, akan tetapi juga menyangkut situasi sekolah dimana ia bekerja, bahkan menynangkut pula kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat.

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.