Konsep Diri

Konsep Diri

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar istilah konsep diri. Konon ada lebih dari 15 istilah yang bisa ditemukan dalam literatur untuk konsep tentang diri. Ada yang menyebut konsep diri, ada yang menyebut harga diri (self-esteem), ada yang menyebut nilai diri (self-worth), dan ada pula yang menyebut penerimaan diri (self- acceptance). Akan tetapi, ada pula yang membedakan istilah harga diri dengan konsep diri, dengan memandang konsep diri merupakan bagian dari harga diri dan harga diri merupakan konsep diri yang bersifat umum. Untuk kepentingan kegiatan belajar kita, kita gunakan saja istilah konsep diri.

Dengan konsep diri ini, kita bisa membayangkan bagaimana kita becermin untuk mengetahui siapa sesungguhnya diri kita. Menurut Rakhmat (1985:124) menjelaskan proses becermin diri itu melalui tahapan-tahapan berikut ini.

· Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain.

· Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita.

· Ketiga, kita mengalami rasa bangga atau kecewa pada diri kita sendiri.

Sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya kita merumuskan dulu, apa yang dimaksud dengan konsep diri. Debes merumuskan konsep diri dengan mengutip Devito, “merupakan gambaran siapa diri kita sebenarnya.” Menurut Debes, konsep diri bisa juga dinyatakan sebagai keseluruhan gambaran tentang diri kita. Maksud keseluruhan gambaran di sini mencakup diri psikologis, diri fisik, diri spiritual, diri sosial, dan diri intelektual. Dengan demikian, konsep diri merupakan persepsi kita pada bagian-bagian tadi untuk dipadukan dan membentuk keseluruhan gambaran. Penting diingat, konsep diri ini bukan pandangan orang lain pada kita melainkan pandangan kita sendiri atas diri kita.

Sedangkan William D. Brooks (dalam Rakhmat, 1985:125) menyebut konsep diri sebagai “persepsi-persepsi fisik, sosial, dan psikologis atas diri kita sendiri yang bersumber dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”. Berdasarkan definisi dari Brooks tersebut, kita bisa menguraikannya sebagai berikut.

1. Persepsi fisik, yang berkaitan dengan bagaimana kita mempersepsi diri kita secara fisik. Apakah kita ini termasuk orang yang tampan/cantik, biasa-biasa saja atau jelek? Apakah badan kita terlihat gagah atau tidak menarik?

2. Persepsi sosial, yang berkaitan dengan bagaimana pandangan orang lain tentang diri kita. Apakah kita ini termasuk orang yang mudah bergaul, cenderung menyendiri, disukai orang lain atau orang yang ingin menang sendiri.

3. Persepsi psikologis, yang berkaitan dengan apa yang ada pada “dalam” diri kita. Apakah saya ini orang yang keras pendirian atau keras kepala? Apakah saya termasuk orang yang berbahagia karena apa saya bahagia?

4. Pengalaman, yang terkait dengan sejarah hidup kita. Sejak mulai kita dilahirkan hingga usia saat ini tentu mengalami berbagai hal yang berpengaruh pada diri kita. Misalnya, kita menjadi keras kepala karena sering diperlakukan sebagai anak yang berada pada pihak yang kalah.

5. Interaksi dengan orang lain, yang terkait bagaimana lingkungan pergaulan kita akhirnya membentuk persepsi kita atas diri sendiri. Apa yang dialami Sumadi di atas menunjukkan bagaimana interaksi dengan orang lain akhirnya membentuk persepsi psikologis bahwa dirinya termasuk orang yang tidak bisa bekerja.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa melihat bahwa konsep diri itu ternyata bukan sekadar persepsi kita atas diri sendiri. Karena di dalamnya ada juga unsur penilaian. Misalnya, saya cantik/tampan atau saya bodoh/pandai merupakan penilaian. Kita menilai diri sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Pasangan persepsi dan penilaian terhadap diri sendiri ini penting untuk diperhatikan. Oleh karena kedua hal itulah yang akan mempengaruhi bagaimana kita mengalami kehidupan ini dan berinteraksi dengan orang lain. Lebih dari itu, penilaian akan terkait dengan standar penilaian yang dipergunakan. Barangkali kita membuat standar cantik/tampan itu berdasarkan apa yang kita lihat dalam sinetron di televisi sehingga kita kemudian mempersepsi diri kita tak cantik/tampan karena tak seperti mereka yang tampil dalam sinetron itu atau kita kemudian berusaha meniru dandanan dan potongan rambut, seperti artis sinetron itu agar kita bisa disebut sebagai cantik/tampan.

Dalam konsep diri tergabung beberapa dimensi tentang diri. Mengingat di dalamnya ada 4 (empat) dimensi dasar konsep diri. Keempat dimensi konsep diri tersebut, menurut Allen (2000) terdiri atas

1) konsep diri aktual,

(2) konsep diri ideal,

(3) konsep diri pribadi (private), dan

(4) konsep diri sosial.

Selanjutnya, kita bahas keempat dimensi konsep diri tersebut. Kita awali dengan konsep diri aktual. Konsep diri ini dapat dinyatakan sebagai persepsi yang realistis terhadap diri kita sendiri. Ada juga yang menyatakan, konsep diri aktual itu adalah persepsi atas siapa diri kita saat ini. Konsep diri aktual juga merupakan persepsi nyata kita pada diri kita sendiri dan persepsi yang saya gambarkan pada orang lain, seperti status sosial, usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Ketika kita menyatakan, misalnya “saya mahasiswa UT semester 3” maka kita sedang mengungkapkan konsep diri aktual kita.

Konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang atas dirinya harus seperti apa tampaknya. Ketika kita memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Universitas Terbuka ini merupakan keputusan yang berupaya untuk menunjukkan konsep diri yang ideal. Dengan konsep diri ideal itulah kita berusaha dan berjuang untuk terus memperbaiki kemampuan dan kehidupan kita. Usaha memperbaiki dan meningkatkan itu bisa dilakukan dalam bidang pekerjaan, keterampilan atau pendidikan. Tindakan-tindakan yang kita lakukan itu bisa dipandang sebagai upaya untuk mendekatkan pada kondisi yang mendekati konsep diri yang ideal tadi.

Allen (2000) menulis bahwa individu biasa membandingkan konsep diri ideal itu dengan nilai konsep diri aktualnya. Oleh karena manusia pada dasarnya ingin agar konsep diri aktualnya memiliki karakteristik yang sama atau mendekati konsep diri idealnya. Apabila kedua konsep diri ini berjauhan maka individu akan berupaya untuk mencapai konsep diri yang ideal. Misalnya, mengikuti pendidikan lanjutan di Universitas Terbuka karena kita mengidealkan konsep diri yang baik itu antara lain diwujudkan dalam bentuk bisa menyelesaikan pendidikan S-1 atau memiliki gelar sarjana.

Konsep diri pribadi (private) merupakan gambaran bagaimana kita menjadi diri kita sendiri. Kita berusaha untuk menunjukkan bahwa kita bertindak sebagai orang yang ramah, bersahabat, kreatif atau menyukai tantangan. Misalnya, dalam konsep diri pribadi kita digambarkan diri kita menggemari tantangan sehingga mengikuti pendidikan ilmu komunikasi di UT. Kita merasa tertantang untuk menggeluti disiplin ini karena banyak diperlukan di dunia kerja atau mendekatkan kita pada dunia yang kita dambakan yakni berkecimpung dalam karier sebagai profesional komunikasi.

Konsep diri sosial pada dasarnya berkaitan dengan relasi kita pada sesama. Kita ingin agar orang lain memandang kita sebagai orang yang cerdas, menarik, baik hati, peduli pada nasib orang atau memiliki kemampuan menjalankan tugas-tugas pelik. Keinginan kita untuk menjadi seperti itu merupakan wujud konsep diri sosial. Dalam konsep diri sosial ini tercermin bagaimana kita ingin dipandang oleh orang lain sebagai bagian dari satu kelompok masyarakat.

Dengan demikian, konsep diri merupakan satu proses. Ini merupakan bagian dari diri kita dalam proses menjadi (becoming). Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan informasi. Dalam Kisah Sumadi di atas, informasi itu terkumpul dari komentar, kritik, dan saran rekan-rekan kerjanya. Informasi yang terkumpul tersebut pada dasarnya merupakan pengalaman yang kita lalui dalam kehidupan. Selanjutnya, kita memberi makna, maksud atau sifat tertentu pada pengalaman tersebut. Inilah yang kemudian membentuk kesan dalam diri kita. Berdasarkan kesan itulah kita pun mempelajari siapa diri kita, siapa orang lain, dan bagaimana dunia ini. Siapa diri kita itulah yang kemudian menjadi konsep diri kita.

Ada dua kelompok yang dianggap mempengaruhi konsep diri kita.

· Pertama, orang lain yang kita anggap penting atau biasa dinamakan the significant others. Sepanjang hidup kita, selalu saja ada orang yang kita anggap penting dan berpengaruh pada diri kita. Pertama-tama, jelas, orang tua kita. Semua manusia akan memandang penting orang tua sehingga orang tua bisa dikatakan sebagai pemberi pengaruh yang pertama dan utama bagi pembentukan konsep diri kita. Ketika mulai memasuki usia TK, kita mengenal significant others lain, biasanya guru. Begitu seterusnya, sepanjang hidup kita bertemu dengan orang-orang yang kita anggap berpengaruh besar pada diri kita.

· Kedua, kelompok acuan (reference group) yang memberi arahan dan pedoman agar kita mengikuti perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku dalam kelompok tersebut. Ini terkait dengan salah satu sifat manusia yang selalu hidup dalam kelompok. Tidak ada manusia yang hidup menyendiri, kecuali karena terpaksa. Semua manusia membutuhkan orang lain. Kelompok-kelompok tersebut kita ikuti secara sukarela. Kelompok acuan itu mempengaruhi pembentukan konsep diri kita. Misalnya, kelompok pecinta alam yang kita ikuti, kelompok penggemar motor tua, dan kelompok yang memiliki hobi yang sama. Semua itu akan memberi pengaruh pada pembentukan konsep diri.

Baca Artikel Lain

Dimensi Self-disclosure;>>>> Baca

Metode Berlizt Dalam Pengajaran Bahasa ;>>>> Baca

Makna Pertanyaan Dan Rasa Ingin Tahu;>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Strategic Management Untuk Humas;>>>>>>>>> Baca

Anatomi Krisis

Anatomi Krisis

Seorang konsultan krisis terkenal dari Amerika Steven Fink, mengembangkan konsep anatomi krisis. Fink mendeskripsikan krisis seperti layaknya penyakit yang menyerang tubuh manusia, dan membagi tahapan krisis sesuai dengan terminologi kedokteran yang dipakai untuk melihat stadium penyakit yang menyerang manusia sebagai berikut:
1.tahap prodromal
2.tahap akut
3.tahap kronik
4.tahap resolusi (penyembuhan)
Menurut Fink keempat tahap tersebut saling terkait dan membentuk suatu siklus. Lama waktu yang ditempuh oleh setiap tahap sangat dipengaruhi oleh sejumlah variabel seperti di bawah ini
1. Tubuh manusia
jenis virus
usia pasien
Kondisi kesehatan pasien
Potensi untuk menerima pengobatan
Keterampilan dokter

2. Perusahaan
jenis bahaya
usia perusahaan
Kondisi perusahaan
Potensi untuk menerima treatment
Keterampilan para manajer

Apabila krisis yang terjadi tidak terlalu parah, maka waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing fase tidak akan terlalu lama. Sebaliknya, apabila krisis yang terjadi termasuk krisis yang berat, dan juga tidak tertangani dengan baik, maka kemungkinan terburuk yang bisa dialami perusahaan adalah colapsnya perusahaan.

Sebagai elemen yang sangat berperan dalam menangani krisis yang terjadi pada suatu perusahaan/organisasi, maka praktisi humas harus berupaya mempercepat masa turning point krisis dari tahap prodromal ke tahap resolusi

Kita akan bahas satu persatu dari keempat tahap krisis di atas.

1.Tahap Prodromal
Krisis yang terjadi pada tahap ini kadang diabaikan karena perusahaan (sepertinya) masih berjalan secara normal. Tahap ini disebut juga dengan warning stage karena sesungguhnya pada krisis ini sudah muncul gejala-gejala yang harus segera diatasi. Tahap ini merupakan tahap yang menetukan. Apabila perusahaan mampu mengatasi gejala-gejala yang timbul, maka krisis tidak akan melebar dan memasuki fase-fase berikutnya. Naumn seandainya pada tahap ini krisis juga tidak berhasil ditangani, palin tidak perusahaan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi tahap akut. Tahap prodromal bisa muncul dalam tiga bentuk:
a.jelas sekali, misalnya karyawan meminta kenaikan upah
b.samar-samar karena sulitnya menginterpretasikan dan memprediksi luasnya suatu kejadian. Misalnya adanya peraturan pemerintah yang baru, munculnya pesaing baru, dsb.
c.sama sekali tidak kelihatan. Gejala-gejala krisis tidak terlihat sama sekali. Perusahaan tidak dapat membaca gejala ini karena kelihatannya tidak ada masalah dan kegiatan perusahaan berjalan dengan baik. Pada bentuk ini, ada kalanya perusahaan mempunyai asumsi bahwa “sulit untuk memuaskan semua pihak”, maka merupakan hal yang wajar apabila kemudian ada pihak tertentu yang dirugikan. Namun yang membahayakan dari asumsi tersebut adalah perusahaan tidak memikirkan kerugian tersebut bisa merugikan perusahaan secara perlahan namun pasti.

2.tahap akut
Banyak perusahaan beranggapan pada tahap inilah krisis mulai terjadi karena tidak berhasil mendeteksi gejela krisis yang terjadi pada tahap prodromal. Pada tahap ini gejala yang semula samar atau bahkan tidak terlihat sama sekali mulai tampak jelas. Krisis akut sering disebut sebagai the point of no return, artinya apabila gejala yang muncul pada tahap peringatan (tahap prodromal) tidak terdeteksi sehingga tidak tertangani, maka krisis memasuki tahap akut yang tidak akan bisaa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, isu menyebar luas. Namun demikian, seberapa jauh krisis menimbulkan kerugian sangat tergantung dari para akktior yang mengendalikan krisis.

3.Tahap Kronis.
Apabila diibaratkan badai, pada tahap ini badai telah berlalu, yang tinggal adalah reruntuhan bangunan akibat badai. Berakhirnya tahap akut dinyatakan dengan langkah-langkah pembersihan. Tahap ini disebut juga sebagai the clean up phase atau the post mortem atau tahap recovery atau selfanalysis. Tahap ini ditandai dengan perubahan struktural, seperti penggantian manajemen, penggantian pemilik, atau bahkan mungkin juga perusahaan dilikuidasi. Perusahaan harus segera mengambil keputusan apakah akan mau hidup terus atau tidak. Kalau ingin hidup terus tentu perusahaan harus sehat dan mempunyai reputasi yang baik.

4.Tahap resolusi (penyembuhan)
Merupakan tahap pemulihan kembali kondisi perusahaan. Namun yang perlu diingat, karena tahap-tahap krisis ini merupakan siklus yang berputar, maka bila telah memasuki tahap resolusi perusahaan tetap harus waspada bila proses penyembuhan tidak benar-benar tuntas, krisis akan kembali ke tahap prodromal

Baca Artikel Lain

Apa Harus Dilakukan Guru Dalam Pelaksanaan Proses Belajar-mengajar;>>>> Baca

Metode Berlizt Dalam Pengajaran Bahasa ;>>>> Baca

Krisis Dalam Organisasi/perusahaan;>>>>>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Krisis dalam Organisasi/perusahaan

Krisis dalam Organisasi/perusahaan

Krisis, sebuah kata yang sangat ditakuti oleh setiap organisasi/ perusahaan, merupakan fenomena yang terjadi pada hampir setiap organisasi/perusahaan, besar maupun kecil, baik yang menerapkan manajemen modern ataupun sederhana.
Pada dasarnya, ada dua macam kemungkinan krisis, yakni
1.kemungkinan yang paling diperhitungkan
2.kemungkinan yang paling tidak diperhitungkan.
Kemungkinan krisis yang paling diperhitungkan biasanya berkaitan erat dengan karakteristik atau bidang kegiatan yang digeluti oleh suatu organisasi atau perusahaan. Sedangkan kemungkinan yang paling tidak diantisipasi adalah krisis-krisis eksternal yang kemungkinan terjadinya sangat kecil namun konsekuensinya tidak kalah berbahayanya. Sebagai contoh, kemungkinan krisis yang paling diperhitungkan oleh sebuah hotel adalah ancaman kebakaran gedung atau ancaman teracuninya makanan yang hendak disajikan kepada para tamu. Sedangkan kemungkinan yang paling tidak diperhitungkan adalah gempa bumi, pergolakan sosial, atau pertempuran bersenjata.
Bentuk-bentuk kedua kemungkinan krisis tersebut boleh dikatakan tidak terbatas. Hal-hal yang paling kecil sekalipun bisa berkembang menjadi sumber ancaman yang mengerikan. Oleh karena itu, sekecil apa pun kemungkinan krisis itu, kita tidak boleh mengabaikannya.
Suatu krisis yang tidak ditangani secara terbuka akan berakibat buruk pada perusahaan yang bersangkutan. Organisasi/perusahaan yang berusaha menutupi krisis yang melandanya, atau berupaya menanganinya secara tertutup, justru akan mengundang lebih banyak kecaman.
Sebaliknya, apabila suatu organisasi/perusahaan mampu mengatasi krisis yang melanda dengan baik secara terbuka, mampu menerima kritikan yang dituju kepada organisasi/perusahaannya dengan lapang dada, kemudian berusaha mencari jalan keluar atas permasalahan yang terjadi, organisasi/perusahaan tersebut akan lebih mudah mendapatkan kembali kepercayaan publik.
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, krisis dapat terjadi karena faktor internal dan faktor eksternal perusahaan. Dari faktor internal perusahaan, sesungguhnya krisis memang selalu menyertai pertumbuhan perusahaan, yang berarti krisis timbul sebagai hal yang alami dan muncul pada setiap fase pertumbuhan suatu perusahaan. Seperti halnya manusia, perusahaan juga mengalami tahap-tahap pertumbuhan yang dimulai dari lahir, muda, dewasa, dan mati. Pada masa kanak-kanak, seperti halnya manusia, perusahaan akan banyak melakukan kesalahan. Pada usia lanjut, perusahaan juga menjadi kaku, loyo, dan tidak lagi sportif seperti ketika muda. Tahapan-tahapan yang dilalui perusahaan mulai dari lahir hingga masa perkembangannya disebut dengan daur hidup organisasi atau organization life cycle. Praktisi humas perlu memahami tahapan-tahapan inii untuk membedakannya dengan krisis lain yang timbul di luar garis normal, yang memerlukan penanganan khusus.

Daur Hidup Organisasi dan Krisis yang Menyertainya

1.Pada tahap kewirausahaan krisis yang biasanya muncul adalah krisis cara memimpin. Pada tahap ini para pendiri perusahaan tengah berkonsentrasi pada kreativitas produk, teknik produksi, dan pemasaran, sedangkan jumlah karyawan terus bertambah. Jumlah karyawan yang terus membesar ini sudah mulai perlu dikelola secara profesional. Pada tahap pertumbuhan ini praktisi humas umumnya belum ada karena dianggap belum diperlukan dan fungsi humas masih dilakukan oleh pimpinan puncak. Krisis yang timbul adalah masalah manajemen internal.
2.Pada tahap prapembentukan, krisis yang terjadi adalah masalah pendelegasian dan pengendalian. Pada tahap ini biasanya perusahaan sudah mulai melakukan klasifikasi departemen sesuai kebutuhan lengkap dengan deskripsi tugas, hierarki, wewenang, dan struktur gaji yang pasti. Namun, pemilik atau pendiri perusahaan enggan mendelegasikan kegiatannya kepada staf, padahal ada sebagian staf yang ikut dalam proses lahirnya perusahaan sudah merasa senior, memiliki keahlian dan pengalaman di bidangnya masing-masing, sudah merasa memiliki hak untuk diberi otonomi dan ikut andil dalam mengatur perusahaan. Organisasi pada tahap ini membutuhkan mekanisme untuk mengendalikan departemen tanpa supervisi langsung dari atas.
3.Pada tahap pembentukan, krisis yang terjadi adalah terlalu banyaknya titik rawan (red tape)yang harus dibenahi dengan kaca mata yang jernih dan objektif. Pada tahap ini organisasi terlampau birokratis yang mengakibatkan perusahaan kehilangan kepercayaan dari stakeholdersnya karena terganggunya komitmen perusahaan keluar.
4.Pada tahap perluasan krisis yang terjadi adalah kondisi perusahaan yang semakin menurun dan kurang berdaya menghadapi serangan dari luar. Maka yang diperlukan adalah revitalisasi di mana tugas praktisi humas adalah melobi semua pihak (stakeholders) agar tetap percaya pada perusahaan dan para eksekutifnya

Baca Artikel Lain

Apa Harus Dilakukan Guru Dalam Pelaksanaan Proses Belajar-mengajar;>>>> Baca

Anatomi Krisis;>>>>> Baca

Fungsi Motivasi Dalam Belajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Strategic Management untuk Humas

Strategic Management untuk Humas

Selain berkonotasi jangka panjang, strategic management juga menyandang konotasi “strategi”. Kata strategi sendiri mempunyai pengertian yang terkait dengan hal-hal seperti kemenangan, kehidupan, atau dayajuang. Artinya, menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan mampu atau tidaknya perusahaan atau organisasi menghadapi tekanan yang muncul dari dalam maupun dari luar. Kalau dapat, maka organisasi/perusahaan tersebut akan terus hidup, kalau tidak, ia akan mati seketika. Hidup yang dipertaruhkan sendiri merupakan suatu cakupan waktu yang panjang, bukan sekadar bertahan lalu mati. Maka itu strategi membenarkan perusahaan atau organisasi melakukan tindakan pahit seperti amputasi (pengurangan unit usaha, dirumahkannya karyawan, pemangkasan, dan lain-lain) sepanjang hal itu dilakukan demi kehidupan perusahaan/organisasi dalam jangka panjang.
Strategic management juga dimaksudkan agar perusahaan atau organisasi dapat dikendalikan dengan baik untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu hal yang paling dasar bagi setiap manajer di dalam perusahaan adalah mengetahui dengan pasti arah yang sedang dituju oleh perusahaan dan arah bagian yang dipimpinnya.
Perjalanan sebuah perusahaan menuju sasarannya adalah lebih dari sekadar bepergian dengan kapal pesiar, karena di sepanjang perjalanannya banyak perubahan yang mungkin timbul. Mungkin nakhodanya diganti di tengah jalan, mungkin para awaknya mundur, mungkin ada badai sehingga kapal harus berlabuh di ternpat lain atau mungkin perlu ada sasaran lain yang lebih menarik. Yang jelas perjalanan sebuah perusahaan lebih banyak menemui hal-hal yang tidak pasti di tengah perjalanannya ketimbang mengemudikan sebuah kapal. Lebih jauh, para awak kapal dan nakhoda lebih sering terpaku dengan hal-hal operasional dari hari ke hari daripada memikirkan arah kapalnya dan mempertimbangkan kapasitas yang dimiliki. Yang lebih celaka lagi, mereka semua mempunyai mimpi yang berbeda-beda kendati sudah tidur di atas kapal yang sama. Dan mereka menganggap bahwa mimpi mereka sama dan seakan-akan orang lain mengerti apa isi mimpinya.
Itu semua tidak benar. Dalam sebuah perusahaan atau kapal yang tengah berlayar, bahkan di mana lokasi perusahaan atau organisasi itu hari ini berada saja, tidak banyak yang tahu.
Strategic management memulai pekerjaannya dengan mencari tahu di rnana lokasi perusahaan atau organisasi berada pada hari ini dan menyatukan mimpi-mimpi itu dalam suatu kesepakatan bersama. Mimpi itu dalam istilah strategic management disebut mission/misi
Humas, sebagai salah satu komponen kapal itu, diadakan untuk tuiuan strategis, yaitu untuk membaca rintangan yang muncul dari luar (ketentuan pemerintah yang mematikan, ketidakpahaman karyawan atas sikap penduduk di sekitar pabrik sehingga penduduk bersikap melawan, tindakan pesaing, boikot dari konsumen, sampai pada kesalahan perusahaan yang dibuat tanpa sengaja terhadap publiknya) maupun dari dalam (pemogokan karyawan, pengrusakan, sikap tidak terpuji, dan lain-lain) agar kapal dapat berlayar dengan selamat ke tuiuannya. Humas memberi sumbangan yang sangat besar bagi perusahaan dengan mengembangkan hubungan-hubungan yang harmonis dengan stakeholdersnya agar perusahaan dapat mengembangkan kemampuannya mencapai misinya.

Pearce dan Robinson mengernbangkan langkah-langkah strategic management sebagai berikut:

1.menentukan misi perusahaan termasuk di dalamnya adalah pernyataan yang umum mengenai maksud pendirian, filosofi, dan sasaran.
2.mengembangkan company profile yang mencerminkan kondisi internal perusahaan dan kemampuan yang dimilikinya.
3.penilaian terhadap lingkungan eksternal perusahaan, baik dari segi semangat kompetitif maupun secara umum.
4.analisis terhadap peluang yang tersedia dari lingkungan (yang melahirkan pilihan-pilihan).
5.identifikasi atas pilihan yang dikehendaki yang tidak dapat digenapi untuk memenuhi tuntutan misi perusahaan.
6.pemilihan strategi atas tujuan jangka panjang dan garis besar strategi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
7.mengembangkan tujuan tahunan dan rencana jangka pendek yang selaras dengan tujuan jangka panjang dan garis besar strategi.
8.implementasi atas hal-hal di atas dengan menggunakan sumber yang tercantum pada anggaran (budget) dan memadukan rencana tersebut dengan sumber daya manusia, struktur, teknologi, dan sistem balas jasa yang memungkinkan.
9.review dan evaluasi atas hal-hal yang telah dicapai dalam setiap periode jangka pendek sebagai suatu proses untuk melakukan kontrol dan sebagai input bagi pengambilan keputusan di masa depan.
Maka jelaslah, langkah yang perlu dilalui melibatkan sejumlah pihak di dalam perusahaan yang terdiri atas berbagai latar belakang. Tujuannya sebenarnya sederhana sekali, yakni menyelaraskan program dan tindakan setiap komponen (bagian) perusahaan menuju suatu sasaran yang sama. Selain itu kegiatan ini terkadang melibatkan ahli-ahli dari luar perusahaan untuk mendapatkan gambaran atas hal-hal yang terjadi di luar kendali perusahaan. Misalnya:
1.Gambaran tentang arah deregulasi dari para perencana ekonomi atau pengamat ekonomi.
2.Gambaran tentang suplai uang atau kredit dari para bankir.
3.Gambaran tentang arah ekonomi secara menyeluruh dari pakar ekonomi.
4.Gambaran tentang perubahan gaya hidup dari para peneliti sosial.
5.Gambaran tentang perubahan sikap masyarakat dari pengamat sosial.
6.Gambaran tentang arah perkembangan teknologi dari pemasok teknologi.
7.Gambaran tentang pasokan tenaga kerja, kualitas dan tuntutan kerja dari ahli kependudukan atau konsultan di bidangnya.
8.Gambaran tentang situasi politik nasional, regional, dan internasional dari pakar ilmu politik.
9.Gambaran tentang sikap pers terhadap perusahaan dari kalangan media, dan sebagainya.
Unsur-unsur yang berada di luar perusahaan itu memang tidak mudah untuk dikendalikan, akan tetapi hal itu menjadi amat berbahaya bila tidak diketahui keberadaan dan perkembangannya. Di kebanyakan perusahaan, para manajer sering memelihara asumsi bahwa mereka sudah cukup tahu dengan membaca perkembangan dari media massa umum. Sikap ini tentu perlu dikoreksi.

Humas dapat memberikan kontribusinya dalam proses strategic management melalui dua cara:

1.melakukan tugasnya sebagai bagian dari strategic management keseluruhan organisasi dengan melakukan survei atas lingkungannya dan membantu mendefinisikan misi, sarana, dan tujuan organisasi/perusahaan. Keterlibatan humas dalam proses menyeluruh ini akan memberi manfaat yang besar bagi perusahaan dan sekaligus bagian humas itu sendiri, khususnya pada level korporat. Tanpa keterlibatan itu humas akan melakukan kegiatannya secara membabi-buta. la hanya menjadi penghias perusahaan yang menghabiskan uang dengan sia-sia.
2.Humas dapat berperan dalam strategic management dengan mengelola kegiatannya secara strategis. Artinya bersedia mengorbankan kegiatan jangka pendek demi arah perusahaan secara menyeluruh.
Kedua sumbangan itu akan dapat dimengerti bila disadari bahwa strategic management mempunyai area kegiatan dalam 3 lapisan, yakni pada
1.lapisan korporat atau organisasi secara menyeluruh;
2.lapisan bisnis atau lapisan khusus, dan
3.lapisan fungsional.
President, chairman, CEO (Chief Executive Officer), direktur utama, direktur, atau pejabat teras atas lainnya adalah orang-orang yang mengambil keputusan strategis pada lapisan pertama. Horison mereka adalah horison korporat secara menyeluruh. Mereka membuat kebijakan umum yang mencerminkan aspirasi para pernegang saham dan stakeholders lainnya. Di perusahaan besar yang menyadari betapa kompleksnya masalah yang dihadapi dan besar kemungkinan menjadi sorotan masyarakat atas segala aktivitasnya, kedudukan humas idealnya ditempatkan pada posisi ini. Artinya, humas amat strategis dan mempunyai jalur yang langsung kepada pemegang saham, top eksekutif, dan masyarakat.
Pada lapisan kedua, duduk para kepala cabang dengan kebijakan yang menyangkut segmen pasar atau jasa khusus. Pada lapisan yang terakhir (fungsional) terdapat fungsi operasi, seperti keuangan, akunting, sumber daya manusia, pemasaran, dan bahkan humas.
Pada lapisan yang terakhir inilah sering kali dalarn prakteknya humas ditempatkan. Karena kedudukannya yang tidak sesuai dengan peranannya, di masa-masa lalu sering sekali terlihat humas tidak dapat menjalankan peranannya secara strategis. Bagian ini diberi tugas melaksanakan tujuan perusahaan, tanpa mengikutkannya dalam perumusannya.
Pada lapisan ini seorang praktisi humas memang menjadi sangat serba salah. la dituntut menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang strategis dan sering dianggap sebagai juru bicara. Tetapi sebenamya ia tak lebih dari sekadar pelaksana biasa yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapisan atas dan bahkan tidak tahu apakah yang dilakukannya itu sesuai dengan aspirasi mereka. Oleh karena itu efektivitas pekerjaan humas amat tergantung pada persepsi pemimpin perusahaan yang tercermin dari penempatan dan ruang lingkup pekerjaan yang didelegasikan kepadanya.
Akhirnya, untuk menjernihkan masalah, perlu didiskusikan kata management dalam strategic management. Dalam bahasa sehari-hari management mengandung arti yang bermacam-macam. Manajemen bisa diartikan sebagai birokrasi, yakni keteraturan, sistem, dan prosedur standar untuk menstandarisasikan perilaku dan kontrol terhadap tindakan. Manajemen juga bisa berarti staf perusahaan yang duduk berdasi di belakang meja manajemen (untuk membedakannya dengan karyawan yang bekerja di lapangan). Ada pula yang menyebut manajemen sebagai suatu sistem yang mengatur kegiatan sehari-hari (operasional).
Dalam materi ini ada baiknya kita menyamakan persepsi kita mengenai pengertian manajemen sebagai berpikir ke depan (atau perencanaan) daripada sekadar sistem atau keteraturan. Karena itu, dalam konsep humas, seorang praktisi humas sangat tidak dianjurkan melakukan hubungan tanpa pertimbangan strategis yang menyangkut analisis terhadap situasi masa depan.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, model strategic management untuk humas dikembangkan. Di bawah ini menjelaskan model strategic management dalam kegiatan humas (untuk menggambarkan dua peran humas dalam strategic management secara menyeluruh dan dalam kegiatan humas itu sendiri). Tiga tahapan yang pertarna mempunyai cakupan luas, sehingga lebih bersifat analisis. Empat langkah selanjutnya merupakan penjabaran dari tiga tahap pertama yang diterapkan pada unsur yang berbeda-beda.

1.Tahap Stakeholders
Sebuah perusahaan/organisas! mempunyai hubungan dengan publiknya bilamana perilaku organisasi tersebut mempunyai pengaruh terhadap stakeholdersnya atau sebaliknya. Humas harus melakukan survei untuk terus membaca perkembangan lingkungannya, dan membaca perilaku organisasinya serta menganalisis konsekuensi yang akan timbul. Komunikasi yang dilakukan secara kontinu dengan stakeholders ini membantu organisasi untuk tetap stabil.
2.Tahap Publik
Publik terbentuk ketika perusahaan/organisasi menyadari adanya problem tertentu. Pendapat ini berdasakan hasil penelitian Grunig dan Hunt yang menyimpulkan bahwa publik muncul sebagai akibat adanya problem dan bukan sebaliknya. Dengan kata lain publik selalu eksis bilamana ada problem yang mempunyai potensi akibat (konsekuensi) terhadap mereka. Maka publik bukanlah suatu kumpulan massa umum biasa, mereka sangat selektif dan spesifik terhadap suatu kepentingan tertentu (problem tertentu).
Oleh karenanya humas perlu terus-menerus mengidentifikasi publiknya yang muncul terhadap berbagai problem. Biasanya dilakukan melalui wawancara mendalam pada suatu focus group.
3.Tahap Isu
Publik yang muncul sebagai konsekuensi dari adanya problem selalu mengorganisasi dan menciptakan ‘isu’. Yang dimaksud dengan ‘isu’ di sini bukanlah isu dalam arti kabar burung atau kabar tak resmi yang berkonotasi negatif (bahasa aslinya rumor), melainkan suatu tema yang dipersoalkan. Mulanya pokok persoalan demikian luas dan mempunyai banyak pokok, tetapi kemudian akan terjadi kristalisasi sehingga pokoknya menjadi jelas karena pihak-pihak yang terkait saling melakukan diskusi.
Humas perlu mengantisipasi dan bersifat responsif terhadap isu-isu tersebut. Langkah ini di dalam manajemen dikenal sebagai Issues Management. Pada tahap ini media memegang peranan yang sangat penting karena media akan mengangkat suatu pokok persoalan kepada masyarakat dan masyarakat akan menanggapinya. Media mempunyai peranan yang sangat besar dalam perluasan isu dan, bahkan, membelokkannya sesuai dengan persepsinya. Media dapat melunakkan sikap publik atau sebaliknya, meningkatkan perhatian publik, khususnya bagi hot issue, yakni yang menyangkut kepentingan publik yang lebih luas,
Issues Management pada tahap ini perlu dilakukan secara simultan dan cepat, dengan melibatkan komunikasi personal dan sekaligus komunikasi dengan media massa.
Humas melakukan program komunikasi dengan kelompok stakeholders atau publik yang berbeda-beda pada ketiga tahap di atas. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah 4-7 berikut ini:
4.Humas perlu mengembangkan tujuan formal seperti komunikasi, akurasi, pemahaman, persetujuan, dan perilaku tertentu terhadap program-program kampanye komunikasinya.
5.Humas harus mengembangkan program resmi dan kampanye komunikasi yang jelas untuk menjangkau tujuan di atas.
6.Humas, khususnya para pelaksana, memahami permasalahan dan dapat menerapkan kebijakan kampanye komunikasi.
7.Humas harus melakukan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaan tugasnya untuk memenuhi pencapaian objective dan mengurangi konflik yang mungkin muncul di kemudian hari.
Tahap 1 sampai tahap 3 di atas adalah tahap strategis, sedangkan empat tahap selanjutnya merupakan tahap reguler yang biasanya dilakukan oleh praktisi humas

Baca Artikel Lain

Apa Harus Dilakukan Guru Dalam Pelaksanaan Proses Belajar-mengajar;>>>> Baca

Anatomi Krisis;>>>>> Baca

Krisis Dalam Organisasi/perusahaan;>>>>>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Kebijaksanaan Pemerataan Pendapatan Bagian dari Pengelolaan Keuangan Negara

Kebijaksanaan Pemerataan Pendapatan Bagian dari Pengelolaan Keuangan Negara

Pemerataan pendapatan (redistribusi pendapatan/ distribution of income) merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah agar pendapatan masyarakat terbagi semerata mungkin diantara warga masyarakat. Pengertian merata di sini tidak berarti bahwa semua warga masyarakat pendapatannya dibuat sama, tetapi kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk memperoleh pendapatan.. Tujuannya adalah agar tidak terjadi ketimpangan pendapatan dalam masyarakat sehingga dapat menimbulkan keresahan dan kecemburuan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas nasional.

Ukuran pokok distribution of income dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu

1. The size distribution of income (The personal distribution of income)

Pengukuran atas dasar ini biasanya dilakukan oleh ahli ekonomi. Cara mengukurnya adalah masing-masing individu dicatat penghasilan per tahunnya dari sejumlah individu yang diteliti secara sampling. Penghasilan dinyatakan dalam satuan uang. Kemudian dikelompokkan berdasar urutan penghasilan dari terendah sampai tertinggi. Dari hasil pengelompokan tersebut akan diketahui kelompok golongan berpenghasilan rendah memperoleh berapa persen dari seluruh penghasilan nasional dan kelompok golongan paling kaya memperoleh berapa persen, selanjutnya dapat diketahui ada ketimpangan atau tidak.

2. The functional distribution of income (share distribution)

Ukuran ini menjelaskan tentang bagian pendapatan yang diterima oleh setiap faktor produksi (berapa yang diterima oleh buruh (upah), pengusaha (keuntungan), pemilik tanah (sewa), pemilik modal (bunga/jasa) sesuai dengan fungsi masing-masing faktor produksi)

Teknik Pemerataan Pendapatan

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk redistribusi pendapatan, antara lain :

1. transfer uang tunai (NIT, demogrant, WRS);

transfer uang tunai merupakan pemberian subsidi berupa uang tunai kepada orang yang termasuk berpenghasilan rendah. Model transfer tunai dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu

a. Model pajak pendapatan negatif (Negative Income Tax/NIT), maksudnya adalah bahwa pemerintah memberikan subsidi kepada penduduk yang dianggap tidak mampu. Persyaratannya adalah bahwa keluarga yang diberi subsidi merupakan keluarga yang penghasilannya di bawah pas-pasan dan nilai yang disubsidi adalah selisih antara penghasilan pas-pasan dengan penghasilan riil keluarga itu. Model NIT menguntungkan jika penghasilan keluarga yang bersangkutan itu rendah. Semakin besar keluarganya semakin menguntungkan. Oleh karenanya pemerintah membatasinya misalnya maksimum 5 jiwa dalam suatu keluarga. Dengan menggunakan angka persentase subsidi bagi tiap jiwa, maka mudah untuk menetapkan besarnya subsidi Formula untuk pemberian subsidi pada program NIT adalah T = r (YB – Yi).

T = besar transfer
r = tingkat pajak marginal, dinyatakan dalam persen (%)
YB = pendapatan pas-pasan (ditetapkan pemerintah)
Yi = pendapatan keluarga
YG = besar subsidi maksimum

Contoh :

Penghasilan pas-pasan yang ditetapkan pemerintah adalah Rp 100.000/jiwa/bulan. Subsidi bagi mereka yang berpenghasilan di bawah pas-pasan 10 % / jiwa, dengan subsidi maksimum 5 jiwa ( YG). Jika suatu keluarga terdiri dari 5 jiwa ( ayah, ibu dan 3 anak). Pendapatannya Rp 200.000/ bulan. Dari contoh kasus ini dapat dihitung besar transfer yaitu

r = 5 x 10 % = 50 % atau 0,5
YB = 5 x Rp 100.000 = Rp 500.000
Yi = Rp 200.000
YG = 5 x 10 % x Rp 500.000
T = 0,5 ( 500.000 – 200.000) = Rp 150.000

Besar subsidi = Rp 150.000 < Rp 250.000. Besar penghasilan setelah disubsidi (Yd) adalah Rp 200.000 + Rp 150.000 = Rp 350.000

b. Model demogrant, yaitu suatu program subsidi uang tunai di mana semua anggota kelompok demografi menerima subsidi uang tunai yang sama, tanpa membedakan tingkat penghasilan mereka. Kelompok demografi adalah kelompok penduduk yang pendapatannya berada di bawah penghasilan pas-pasan. Persyaratannya adalah bahwa batas penghasilan pas-pasan ditetapkan pemerintah, yang disubsidi adalah keluarga di bawah penghasilan pas-pasan dan subsidi dihitung per jiwa dalam bentuk rupiah. Model ini menguntungkan jika penghasilannya tetap, dan pemerintah menetapkan besarnya subsidi per jiwa tinggi. Namun sulit menetapkan dengan tepat besarnya subsidi per jiwa dalam rupiah. Contoh :

Penghasilan pas-pasan yang ditetapkan pemerintah adalah Rp 200.000 untuk keluarga 5 jiwa. Besar subsidi per jiwa adalah Rp 50.000. Suatu keluarga dengan 5 jiwa mempunyai penghasilan Rp 150.000/bulan. Besar subsidi untuk keluarga tersebut adalah 5 x Rp 50.000 = Rp 250.000. Dengan demikian, penghasilan keluarga tersebut seluruhnya (setelah ditambah subsidi) adalah Rp150.000 + Rp 250.000 = Rp 400.000.

Contoh lain : Pemerintah akan memberikan subsidi bagi masyarakat yang penghasilannya di bawah pas-pasan. Setelah diadakan penelitian, pemerintah menetapkan bahwa keluarga 5 jiwa yang berpenghasilan pas-pasan adalah Rp 50.000/kapita/bulan. Jika subsidi yang diberikan adalah 10/kapitanya atau Rp 5000/jiwa. Untuk keluarga yang penghasilan per kapita per bulan Rp 50.000, maka subsidi untuk 5 jiwa = 5 x Rp 5000 = Rp 25.000 dan jumlah penerimaan seluruhnya adalah Rp 250.000 + Rp 25.000 = Rp 275.000

c. Model Subsidi Upah (Wages Rate Subsidies/WRS), yaitu subsidi yang diberikan kepada buruh yang bekerja harian dan penghasilannya di bawah upah pas-pasan. Semakin banyak upah buruh (sepanjang masih di bawah upah pas-pasan, semakin sedikit subsidinya). Namun subsidi maksimum juga ditetapkan dan upah minimum juga harus ditetapkan oleh pemerintah, selanjutnya setiap tambahan upah minimum disubsidi. Contoh : Pemerintah menetapkan upah minimum Rp 15.000/hari. Bagi perusahaan yang memberi upah di bawah minimum supaya disubsidi. Karena pemberian upah pada masing-masing buruh berdasarkan prestasinya, maka bagi buruh yang lain juga perlu diberi subsidi supaya adil. Misal setiap upah harian Rp 10.000 subsidinya Rp 5000. Upah terendah pada suatu perusahaan adalah Rp 10.000. Supaya mencapai upah minimum sesuai yang diwajibkan pemerintah, maka subsidinya adalah Rp 15.000 (ini merupakan subsidi maksimun)

2. transfer uang dan barang;

Dalam realisasinya, transfer uang tunai sebagaimana tersebut di atas, dapat juga diberikan sebagian dalam bentuk barang. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir penyimpangan maksud pemberian subsidi yang sesungguhnya.

3. program kesempatan kerja (PEP).

Kesempatan kerja merupakan hal yang sangat didambakan bagi orang yang belum bekerja. Pemerintah harus menyediakan lapangan kerja dengan tingkat upah tertentu. Tetapi dalam kenyataan program penciptaan kesempatan kerja pada sektor pemerintah maupun swasta di negara berkembang bahkan di negara maju sekalipun mengalami kesulitan. Di beberapa negara maju, mereka yang menganggur mendapat tunjangan atau subsidi.
Sumber Buku Administrasi Keuangan Publik Karya Enceng

Baca Artikel lain

Teori Biaya Produksi>>> Baca

Pendekatan dlm Pemasaran Hasil Pertanian >>>>>> Baca

Teori Penawaran dan Permintaan dalam Pertanian>>> Baca

Pasar Persaingan Sempurna dan tidak Sempurna >>>>>>> Baca

Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja >>> Baca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.