BAB II Kalimat Imperatif dalam Bahasa Tidung

BAB II Kalimat Imperatif dalam Bahasa Tidung

Fungsi utama bahasa manusia adalah sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat pemiliknya yang diwujudkan secara lisan, tulisan, atau isyarat. Bahasa berwujud lisan dipakai secara langsung oleh pembicara dan lawan bicara ketika berhadap-hadapan. Wujud bahasa ini kita temukan dalam forum komunikasi lisan seperti dialog, pidato, diskusi, pembacaan berita melalui radio dan televise, dan Iain-lain. Bahasa berwujud tulisan dipakai oleh penulis dan pembaca yang tidak berhadapan secara langsung. Wujud bahasa seperti ini kita temukan dalam forum komunikasi seperti surat-menyurat, tulis-menulis atau karang-mengarang serta bentuk media tulis lainnya seperti reklame, pamphlet, brosur, dan Iain-lain. Bahasa berwujud isyarat dipakai oleh penindak bahasa dan penanggap bahasa melalui kode-kode tertentu yang sudah disepakati bersama. Wujud bahasa seperti ini kita temukan dalam forum komunikasi seperti pramuka dengan kode morse, rambu-rambu lalulintas, gerakan anggota badan, dan Iain-lain.
Komunikasi dalam wujud bahasa apapun selalu berupa penyampaian pesan, perasaan, dan pikiran. Pesan, perasaan, atau pikiran itu diungkapkan dengan ujaran atau kalimat seperti yang dikatakan oleh Nababan (1992 : 26)

bahwa fungsi bahasa ialah alat komunikasi atau penyampaian pesan/makna dari pembicara kepada lawan bicara. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa makna dalam komunikasi diungkapkan dengan kalimat. Berdasarkan pandangan pakar tersebut, penulis dapat menarik suatu kesimpulan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi dalam wujud apa pun selalu dalam bentuk kalimat. Kalimat itu pasti bermakna karena membawakan pesan, perasaan, dan pikiran pembicara(bahasa lisan), penulis(bvahasa tulis), atau penindak bahasa(bahasa isyarat) kepada lawan bicara, pembaca, atau penanggap bicara.
Penyampaian pesan, pikiran, dan perasaan itu karena manusia didorong oleh kebutuhan psikologis baik secara individual maupun secara sosial. Singkamya, lahirnya bahasa dari seseorang itu karena dorongan kejiwaannya berdasarkan kebutuhan individu dan didukung oleh lingkungan social di sekelilingnya. Karena bahasa manusia selalu berkaitan dengan kejiwaannya dan kehidupan sosialnya, penulis ingin menjelaskan serba singkat mengenai hal-hal berikut.
1. Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah suatu ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari segi kejiwaan manusia dikaitkan dengan jenis-jenis bahasa yang dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya seperti jengkerik, kodok, burung,

kambing, dan Iain-lain. Bahasa itu begitu penting bagi kehidupan manusia seperti dikatakan oleh Nababan (1992 : 1) bahwa seandainya tidak ada bahasa dan kita tidak melakukan tindakan berbahasa maka identitas kita sebagai genus manusia (homosapien) akan hilang. Selanjutnya dijelaskan bahwa adanya bahasa membuat kita menjadi makhluk yang bermasyarakat. Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkan dengan bahasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa yang dilahirkan sebagai alat komunikasi adalah perwujudan jiwa pembicara, penulis, atau pelaku tindak bahasa yang lainnya dan dapat direspon oleh lawan bicara, pembaca atau penanggap bahasa lainnya berdasarkan suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama itu ber sifat arbitrer/mana suka.
2. Sosiolinguistik
Di samping berkaitan dengan jiwa manusia, bahasa itu juga berkaitan dengan kehidupan sosial manusia. Dalam berinteraksi dengan orang lain seseorang dapat menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa seperti bunyi-bunyian, atau kode-kode yang lain. Namun, Chaer (1995 : 14) mengatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik,

paling sempurna dibandingkan dengan alat komunikasi lain termasuk alat komunikasi hewan.
Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari segi social kemasyarakatan. Oleh karena itu, bidang kajian yang paling utama adalah mengenai hakikat bahasa berdasarkan faktor-faktor sosiologis. 2.1 Hakikat Bahasa
Bahasa itu adalah lambing bunyi. Bahasa hewan juga berupa lambing bunyi hanya tidak selengkap lambing bunyi bahasa manusia. Chaer (1995 : 14) mengatakan bahwa bahasa itu sebuah system lambing, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Jadi dengan kata lain bahwa bahasa itu dibentuk oleh unsur-unsur yang berpola tetap yang bersifat arbitrer dan tidak dapat dijelaskan mengapa demikian. Orang Tidung tidak akan bisa menjelaskan mengapa tempat tinggal mereka namakan ‘baley’ atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘rumah’
2.2 Hakikat Komunikasi
Bahasa adalah alat komunikasi atau alat interaksi, baik lisan, tulisan, maupun isyarat. Suatu komunikasi itu bisa terjadi karena ada dua

pihak yang menggunakan bahasa atau lambing/simbol tertentu sebagai alatnya. Dalam KBBI (2003 : 585) dikatakan bahwa komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Jadi boleh dikatakan bahwa komunikasi adalah terjadinya hubungan dua pihak yaitu si pengirim bahasa/kode dan si penerima bahasa/kode, sehingga terjadi pula interaksi dari kedua belah pihak berupa pemaknaan pesan.
Di dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun secara tulis, unsur bahasa yang paling utama adalah kalimat. Kalimat dapat mewakili maksud pembicara atau penulis yang dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bila disampaikan secara tertib sesuai dengan sistem bahasa itu. Untuk lebih jelasnya perlu dibahas sedikit mengenai kalimat.
3. Kalimat
Kalimat adalah suatu kondtruksi kebahasaan yang terdiri atas unsur segmental dan suprasegmental dan intonasi atau puntuasi akhirnya menunjukkan bahwa konstruksi itu sudah lengkap atau sudah selesai. Unsur segmental adalah kata atau kata. Unsur supra segmental adalah tekanan-tekanan (nada, tempo, dan dinamik), kesenyapan awal, kesenyapan akhir, dan perhentian-perhentian yang menyertai arus ujar itu yang kalau dalam bahasa

tulis dilambangkan dengan tanda baca berupa tanda koma, dan tanda titik. Intonasi berkaitan dengan lagu kalimat yaitu lagu berita akan berbeda dengan lagu perintah atau lagu Tanya. Misalnya : Ngakan muyu ! Orang Tidung akan segera melakukan suatu tindakan berupa ‘makan’ sesuai dengan perintah itu minimal dijawab “Ya!” atau “Tidak !”, sama dengan penutur bahasa Indonesia mendengar perintah “Makanlah !” Mulyana (2005 : 8) mengatakan bahwa kalimat memiliki serangkaian kata yang menyatakan pikiran dan gagasan yang lengkap dan logis . Bahkan Fokker (1980 : 11) dalam Mulyana (2005 : 8) menyatakan bahwa kalimat adalah ucapan bahasa yang memiliki arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh intonasi. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa unsur bahasa yang paling dominant di dalam berkomunikasi adalah kalimat dan kalimat itu bermakna lengkap ditentukan oleh intonasi sedangkan intonasi itu bergantung pada isi kalimat itu sehingga Kosasih (2004 : 108) mengatakan bahwa transformasi suatu kalimat dapat dilakukan dengan cara mengubah intonasi kalimat itu, dari intonasi berita menjadi intonasi perintah atau intonasi tanya.

BAB I KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA TIDUNG TINJAUAN DESKRIPTIF BAHASA TIDUNG DI DESA TANA LIA

BAB I KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA TIDUNG
TINJAUAN DESKRIPTIF BAHASA TIDUNG DI DESA TANA LIA
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia memiliki multifungsi bagi seluruh warga masyarakat Indonesia Salah satu flingsi di antaranya adalah sebagai alat komunikasi bagi berbagai penutur dengan berbagai latar belakang budaya dan bahasa daerahnya. Dalam fungsinya sebagai alat komunikasi ini, bahasa Indonesia sangat terbuka untuk menerima pengaruh dari bahasa daerah . Pengaruh itu dengan mudah diterima karena penutur bahasa daerah juga adalah penutur bahasa Indonesia dengan segala macam karakter dan kebiasaannya bertutur.Akibatnya, dalam pemakaian bahasa Indonesia secara lisan, muncul berbagai aksen atau logat dalam bahasa Indonesia. Nababan (1992 : 104) membenarkan bahwa sering para penutur bahasa daerah yang juga penutur bahasa Indonesia menggunakan bahasa daerahnya yang bersifat informal.
Semua bahasa daerah di seluruh wilayah NKRI ikut memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perkembangan bahasa Indonesia hingga saat ini. Kontribusi itu pada umumnya berupa kosa kata yang masuk ke dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Bahkan bangun/struktur

kalimat bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh struktur kalimat bahasa daerah. Hal ini terjadi karena sifat keterbukaan bahasa Indonesia di samping kebiasaan penutur. Ibrahim (1995 : 40) mengatakan bahwa kajian tentang dialek dari dulu sudah dipusatkan pada kebiasaan ujar ( speech habit) dari kelompok-kelompok sosial yang berbeda dengan komunitas lain yang menggunakan bahasa dalam sistem standar. Pendapat ini mempertegas hubungan antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia, bahwa bahasa daerah mempengaruhi bahasa Indonesia yang memiliki sistem standar.
Bahasa daerah selalu hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia yang selalu saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Karena hubungan yang erat antara keduanya ini, bahasa daerah harus dikaji untuk mengetahui perkembangan sistemnya. Dengan mengetahui perkembangan sistem bahasa daerah, kita dapat menentukan sikap kita terhadap sistem bahasa Indonesia terutama dalam perbedaan antara sistem yang baku/standar dan sistem tidak baku. Setiap orang yang mengetahui dengan jelas tentang sistem bahasa Indonesia dia akan memberikan sikap positif khususnya terhadap pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan himbauan pemerintah kita.

Bahasa Tidung adalah salah satu bahasa daerah yang hidup subur dan terus berkembang di wilayah Indonesia yaitu di pulau Kalimantan, khususnya provinsi Kalimantan Timur. Secara historis, bahasa Tidung ini juga ikut memberikan kontribusi yang cukup banyak untuk perkembangan bahasa Indonesia. Sama halnya dengan bahasa daerah yang lain, bahasa Tidung pun memiliki kemiripan dengan bahas Indonesia baik dalam hal struktur kalimat, maupun dalam hal kosa kata atau unsur kebahasaan lainnya. Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk membuat suatu penelitian untuk mendeskripsikan sejauh mana hubungan antara sistem bahasa Tidung dan sistem bahasa Indones
B. Alasan Pemilihan Judul
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis ingin mengemukakan alasan-alasan mengapa masalah bahasa Tidung harus diangkat menjadi suatu bahan kajian. Alasan-alasan itu sebagai berikut: 1. Bahasa Tidung memiliki tempat yang wajar sepertibahasa daerah yang lain di samping pembinaan bahasa Indonesia. Nababan (1992 : 104) mengatakan bahwa bahasa-bahasa daerah mempunyai tempat yang wajar di samping pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan hidonesia.

1. Bahasa Tidung merupakan salah satu bahasa daerah yang hidup subur di
wilayah NKRI, yang harus kita lestarikan bersama sabagai khasanah
bahasa Indonesia.
2. Bahasa Tidung juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan bahasa
hidonesia seperti bahasa daerah-bahasa daerah yang lain, yang harus dikaji perkembangan sistemnya demi kepentingan bahasa hidonesia.
3. Sepengetahuan penulis, belum ada penelitian tentang bahasa Tidung,
khususnya mengenai pemakaian partikel -lah.dalam kalimat imperatif.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam alasan pemilihan judul di atas, masalah utama penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana variasi pemakaian kalimat imperative dalam bahasa Tidung ? 2. Sejauh manakah hubungan antara kalimat imperatif bahasa Tidung dengan kalimat imperatif bahasa hidonesia ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan urain di atas, tujuan penelitian adalah : 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan hubungan antara sistem bahasa hidonesia dan sistem bahasa Tidung.

2. Tujuan Khusus
Untuk mendeskripsikan korelasi antara kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia dan kalimat imperatif dalam bahasa Tidung. £. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Untuk kepentingan pengembangan bahasa Indonesia
Karena bahasa Tidung sebagaimana layaknya bahasa-bahasa daewrah yang lain selalu hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia, bahasa Tidung perlu dikaji untuk mengetahui sistemnya yang jelas agar dapat memberikan kontribusi kepada pengembangan bahasa hidonesia secara lebih ilmiah dan berkelanjutan.
2. Untuk kepentingan hubungan linguistik
Linguistik bahasa Indonesia dan linguistik bahasa Tidung perlu dikaji korelasinya sehingga dapat diketahui kewajaran hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Tidung dalam kaitannya dengan pengembangan bahasa dan budaya Tidung secara ilmiah.
3. Untuk kepentingan komunikasi
Dalam situasi komunikasi tertentu, seorang penutur bahasa Indonesia bisa saja secara spontan menggunakan bahasa daerahnya untuk

maksud-maksud tertentu, seperti yang dikatakan Nababan (1992 : 105) bahwa seseorang yang bilingual dapat membuat alih kode , umpamanya dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia atau sebaliknya karena dalam pikiran pembicara terlintas alasan-alasan yang dapat diterima oleh pembicara dan lawan bicara seperti suatu yang bersifat rahasia, sopan santun, dan sebagainya.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini ditulis dalam lima bab yaitu :
1. Bab I Pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, batasan
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional
2. Bab II Landasan Teori, terdiri atas kajian mengenai hal-hal yang relevan dengan
masalah penelitian yaitu psikolinguistik, sosiaolinguistik, sintaksis, dan sedikit tentang
morfologi bahasa Indonesia.
3. Bab III Metode Penelitian yang membicarakan metode yang dipakai dalam
memperoleh data, metode analisis data, populasi dan sample.
4. Bab IV Pembahasan yang mencakup penyajian data, pengolahan data secara kualitatif
dan kesimpulan sementara.
5. Bab V Penutup yang terdiri atas kesimpulan penelitian, solusi, dan saran-saran.

It’s Important to Listening

It’s Important to Listening

There are some elements of pronunciation that will help you make your English sounds really English. Furthermore, the knowledge upon the elements of pronunciation is important in studying the emotion or the feelings of either a speaker. Nevertheless, understanding elements of pronunciation is not only helpful in revealing the feeling and emotion of a real speaker, but also it is helpful in understanding a text, and/or an oral text, for instance a poem. Stress is applied in words, word groups and phrases, and sentences.

Rhythm

A verse is an arrangement of lines with regular stress pattern. In some cases, the stress pattern adopted in a verse creates rhythm that later on determines the type of a verse. In studying rhythm, we too study about verse at once since rhythm is an almost inseparable part of verse. There are three types of verse which are presented in this unit, they are Free Verse, Sprung Rhythm, and Metrical Rhythm. In addition to that, there are six types of Metrical Rhythm commonly known to be used in English verse, and among those six, only two or three of them are generally applied by writers.

Facts and Figures

We are dealing with tables almost everyday. Tables are meant to be easy to read and concise. Tables consist of rows and columns which present different classifications or variables, the most important ones are the first row and the first column. They introduce the content of the table by the classification so that anyone who reads the table knows what information they can get from the table.
When you read a table, do not forget to read the additional explanation about the table, which can take the form of sentences above or below the table. You also have to pay attention to the symbols and measurement system used in the table.

Graphs, Diagrams and Charts

Graph, diagram and chart are ways of presenting facts and figures in a simple and concise way. There are many kinds of graphs. In this unit we only discuss three of them, i.e., line graphs, bar diagram/graphs and pie charts or circle graphs. There are still many other kinds of diagram but these two are the most commonly used ones.
Bar and line graphs have two axis which are called X and Y axis. Each axis represents different category or variables, therefore when you have a bar or line graph to read, don’ t forget to check the variables represented by each axis.
Pie chart is different from bar and line graphs. It is usually used when we want to divide one big thing into smaller pieces or parts. It is called pie because the shape is just like a pie. And one pie is cut into several slices. Each slice represents certain amount or percentage. So, the total percentage of one pie is always 100%, but the amount included in one pie is unlimited.

Interview

Family is one of the commonest topics raised in everyday life because it is inseparable from everyday conversations. When interviewing someone’s family, we raise some common questions. The questions people raise vary from questions which take short answers to questions that give more chance for the interviewee to describe what s/he thinks is important.
Some of the typical questions raised are: How many brothers and sisters do you have? Do you still live with your family? Are you married? Do you have any children? Could you tell me something about your family? or Tell me about your family.

When people talk about food, what do they talk about? Right. They talk about the taste, color, ingredients, and also how to make it or even how you like it. The focus for this unit is the keywords found in interviews about food. When talking about food or cooking, we use some common words which might have different meaning when appear in different context. Some are less common words that we have to learn since they might not exist in our culture or traditional cuisine. Therefore, do not hesitate to consult your dictionary when you don’t know some new vocabulary, especially the ones related to ingredients. And some verbs related to cooking.
The word bring, for example, when we use it in different context might mean: to cause to come into a particular state or carry something. Which one is correct? Both are, only you have to learn to recognize them in their context.

Famous Person

Who are not interested in singers, artists, politicians, athletes or even scientists? Most of us are interested in knowing about famous people, people who are famous of their works and they are so good at what they do that people want to know all about them, their work, career, personal life, etc. They also appear quite often in the media that people actually see and read about them everyday. So famous people have become our everyday interests.
In talk shows on TV or the radio, we often listen to famous people being interviewed. Not only famous people who are often interviewed. Sometimes people who have met famous people are asked to share their experience of meeting famous people.
What do people ask about famous people? Well, where and when they were born, their interest and what they don’t like, their best moments in career, their life, and many others.
When you do an outline exercise you should try to understand the points of the outline first before you scan for the appropriate information while listening to the interview. Listen to the questions raised by the interviewer to get to know the idea of the questions then fill in the outline. When the exercise is in the form of detail questions about the interview, then you should try to identify the questions raised by the interviewer then get the answer that follows from the interviewee. Sometimes you couldn’t find help from the questions raised by the interviewer since s/he doesn’t really ask many questions. For this type of interview, you need to get to know the details from the keywords, phrases or sentences of the interviewee

Project Journalism

In project journalism, we are talking about journalism in wider perspective, there will be wider range of topics to be explored because we are talking about project journalism. The topics range from everyday habits to people’s political beliefs. Project journalism is conducted by not only journalists but also for students and common people.
When you can’t find clues from the questions of an interview, you can find help from the phrases or sentences that are talking about the points mentioned in the exercises. So, first of all you have to understand the points in the exercises then find similar phrases or sentences from the interview.

JOB

When you want to draw a conclusion on someone’s occupation or job you need to find the keywords related to what s/he does. However, you have to remember that one word can have more than one meaning. From the example above you have a word “coat”. It can have the meaning of an outer garment with sleeves, covering at least the upper part of the body as well as a coat of paint on a surface.
Keywords are not the only source of information you can use to draw a conclusion on someone’s job. The chronological order of his/her job is sometimes an important clue for you. Besides job description, we can also recognize someone’s job through his/her uniform or working clothes.

Lectures

Lectures are usually formal and well organized so that it is easier for the audience of a lecture to follow the explanation given by the lecturers. One thing which is very important is to find the topic of the lectures. It’s usually located in the first line of the lecture. Once you have identified the topic it is easier for you to follow the lecture since it will explain more about the topic. Some detail questions about a lecture can be answered directly by quoting the lecture while some others can only be answered after you draw your own conclusion by using the information given in the lecture.

Advertisements

Advertisement is part of our modern life. We see and hear them almost anytime anywhere. There are columns dedicated for advertisement in newspapers. There are advertisement pages in magazines. TV commercials are breaking one TV program into several sections. Radio ads are heard every few minutes. No one would be able to say that they don’t know anything about advertisements.

Prose Passages

As what we have in written text, oral texts may also suggest what are named by Comparison and Contrast. Comparison text is a kind of text that compares two things (or more) by giving its emphasizes on the similarities, while contrast is a kind of text that contrasts two things (or more) by giving stresses on the differences.
Comparison and Contrast texts may perform in a form of comparison text that talks about similarities only, contrast text that speaks mainly about differences, or the combination of both, comparison and contrast that stress on both similarities and differences.
For contrast text, especially, there are two models of text, that is point by point presentation, in which characters are placed one after another in every point of features being contrasted, or completely describing one aspect before the other, in which one aspect is thoroughly explained before moving on the other subject. Here, the later allows less repetition of names.
Some terms used for Comparison text are:
the same, the same as, as, similar to, like, and…too, and so, and…either, and neither, both…and, neither…nor, not as…so, similarly, correspondingly, likewise, in the same way, by the same token, etc.

While the terms used for Contrast text are:
to be+adj-er+than, more…than, less…than, as…as, unlike, on the contrary, contrary to, as supposed to, although, whereas, while, contrasts with, differs from, is different from, however, on the other hand, etc

Cause and Effect
In cause and effect texts, one part of the text describes the cause(s), and another part describes the effect(s). Sometimes one cause may have more than one effect, and one effect may be the result of several causes.
There are certain words/expressions to indicate causes and certain other words to indicate effects.

Illustrattion and Examples
Illustration and Examples are used to support explanation in an Expository paragraph. Illustrations give us a situational context where the writer/speaker make his point clearer. Examples usually give several things in clarifying the point. They are often preceded by the words/phrases “like”, “as”, “such as”, “for example”, “for instance”, “e.g.” (example gratia).

Talk Show

In this unit your have learned about talk shows. A talk show is a program on radio or TV which presents current topics in the society.
The current topics are usually introduced and questioned by the host to the guest (s) britly.
Sometimes talk shows are interactive so that the audience can ask (questions, give comments and suggestions) about the topic through telephone.

Testimony

In this unit you learned about testimony, which is defined as “proofs”, “evidence”, or “declaration or statement of fact”, or “affirmation”. You need testimonies to support a statement or argument, to show that what you are saying is strongly supported by facts, and not just your subjective opinion.

Sumber buku Listening Karya Miryani

Pengembangan Kurikulum Bahasa Indonesia

Pengembangan Kurikulum Bahasa Indonesia

Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Ada 4 bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Ke-4 bagian/komponen penting kurikulum ini saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan/dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional.
Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula dalam memilih isi/materi yang harus dikuasai, strategi yang akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur ketercapaian kurikulum.
Hierarki perumusan tujuan kurikulum dimulai dari tujuan umum pendidikan, kemudian tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
Materi/isi kurikulum menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaan, pemecahan masalah yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan pemecahan masalah.
Strategi pembelajaran berkaitan dengan bagaimana menyampaikan isi/materi kurikulum agar tujuan tercapai dan komponen evaluasi kurikulum adalah untuk menilai apakah tujuan kurikulum telah tercapai. Hasil dari evaluasi kurikulum adalah berupa umpan balik apakah kurikulum ini akan direvisi atau tidak.

Kurikulum adalah apa yang akan diajarkan sedangkan pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan apa yang diajarkan. Menurut McDonald & Leeper kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan melaksanakan rencana tersebut. Kurikulum dan pembelajaran pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem yang lebih besar, yaitu sistem persekolahan. Kurikulum dan pembelajaran adalah dua sistem yang saling terkait satu sama lain secara terus-menerus dalam suatu siklus.
Menurut Gagne dan Briggs pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk mempengaruhi proses belajar dalam diri siswa. Menurut Gredler proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa pada dasarnya terjadi dalam satu lingkungan buatan dan sangat sedikit bergantung pada situasi alami, ini artinya agar proses belajar siswa berlangsung optimal guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Proses menciptakan lingkungan belajar yang kondusif ini disebut pembelajaran.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola kegiatan pembelajaran adalah:
1. harus berpusat pada siswa yang belajar
2. belajar dengan melakukan,
3. mengembangkan kemampuan sosial,
4. mengembangkan keingintahuan,
5. imajinasi dan fitrah anak
6. mengembangkan keterampilan memecahkan masalah
7. mengembangkan kreativitas siswa,
8. mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
9. menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik, dan
10. belajar sepanjang hayat.

Pengembangan kurikulum adalah suatu istilah yang ada dalam studi kurikulum, yaitu sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa. Kegiatan pengembangan kurikulum ini perlu dilakukan untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan berikut, yaitu merespons perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di luar sistem pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan-kemajuan dalam pendidikan.
Masalah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum biasanya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana memilih materi yang diajarkan, apa yang harus dilakukan bila ada pandangan yang bertolak belakang dengan pengembang dan bagaimana menerapkan kurikulum secara meyakinkan.

Landasan Pengembangan Kurikulum

Landasan pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosiologis.
Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landasan filosofis ini ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.
Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar (psychology/theory of learning) dan psikologi perkembangan (developmental psychology). Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar dan acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia iptek.

Prinsip, Pendekatan, dan Langkah-langkah dalam Pengembangan Kurikulum

Setiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati.
Secara umum prinsip-prinsip pengembangan kurikulum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, serta efisiensi dan efektivitas.
Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Prinsip efisiensi dan efektivitas berkenaan dengan pendayagunaan semua sumber secara optimal untuk mencapai hasil yang optimal.
Sementara itu, prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Apabila dianalisis secara mendalam beberapa prinsip khusus yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan penjabaran dari empat prinsip umum pengembangan kurikulum.
Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yaitu pendekatan administratif dan akar rumput. Pendekatan administratif adalah suatu pendekatan dalam pengembangan kurikulum di mana ide atau inisiatif pengembangan muncul dari para pejabat atau pengembang kebijakan seperti Menteri Pendidikan, Kepala Dinas dan lain-lain. Sedangkan pendekatan akar rumput, ide pengembangan muncul dari keresahan para guru-guru yang mengimplementasikan kurikulum di sekolah di mana mereka menginginkan perubahan atau penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan di sekolah.
Ada beberapa langkah dalam pengembangan kurikulum, yaitu analisis dan diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi.
Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu: kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah. Adapun caranya dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas.
Langkah pengembangan kurikulum selanjutnya setelah seperangkat kebutuhan tersusun adalah perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, serta pengembangan alat evaluasi.

Landasan, Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan Sistem Persekolahan, dan Standar Kompetensi

Adanya perkembangan dan perubahan yang terus-menerus dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang dipengaruhi oleh perubahan global, perkembangan pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya menuntut perlunya perubahan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.
Perbaikan sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk memperoleh masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, dan keterampilan dari peserta didik agar nantinya memiliki kompetensi untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan kemajuan yang ada.
Penyempurnaan kurikulum dilandasi oleh kebijakan yang ada dalam peraturan UU, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.
Prinsip pengembangan kurikulum meliputi peningkatan keimanan dan budi pekerti, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika, penguatan integritas nasional, perkembangan pengetahuan dan IT, kecakapan hidup 4 pilar pendidikan dan belajar sepanjang hayat.
Prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada kesamaan memperoleh kesempatan, berpusat pada anak, pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Jenjang pendidikan terdiri dari Pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan pada jalur formal dan nonformal.
Standar nasional pendidikan meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana pengelolaan dan penilaian.
Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan satuan pendidikan. Tolok ukur kompetensi di tentukan dalam indikator.
Standar kompetensi lulusan dijabarkan dalam standar isi yang memuat bahan kegiatan, mata pelajaran, dan kegiatan belajar pembiasaan.
Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar secara berkesinambungan

Life Skills (Pendidikan Kecakapan Hidup)

Life skills atau pendidikan kecakapan hidup (PKH) adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dapat membantu siswa belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan dalam hidupnya.
PKH perlu dikenalkan pada siswa karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), karena kecakapan ini diperlukan oleh semua orang. Makna kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja karena diharapkan dengan kecakapan ini, seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dengan baik.
PKH terdiri dari:
1. kecakapan personal GLS (kecakapan hidup general),
2. kecakapan sosial GLS,
3. kecakapan akademik SLS (kecakapan hidup spesifik),
4. kecakapan vokasional SLS.

Keempat pilar pendidikan dari UNESCO adalah perwujudan dari siswa yang memiliki kecakapan hidup sesuai standar UNESCO. Keempat pilar ini kemudian diwujudkan dalam berbagai kompetensi yang ada dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Pelaksanaan PKH di sekolah perlu kerja sama semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di sekolah, misalnya persetujuan dan bantuan kepala sekolah, guru dan siswanya, guru-guru di kelas lain atau guru mata pelajaran lain, guru perpustakaan, orang tua siswa, staf administrasi sekolah dan lainnya. PKH perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Keterampilan Melek Informasi (Information literacy)
Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan keterampilan melek informasi adalah serangkaian kemampuan untuk menyadari kebutuhan informasi dan kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang dibutuhkan, memanfaatkan informasi secara kritis dan etis, kemudian mengkomunikasikannya secara efektif dan efisien. Keterampilan melek informasi juga berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan. Siswa yang mempunyai keterampilan melek informasi adalah siswa yang independent dan competent, yang dapat beradaptasi dengan perubahan apapun secara mandiri dan fleksibel.
Manfaat keterampilan melek informasi adalah dapat membiasakan siswa untuk selalu belajar untuk meneliti sesuatu dengan menggunakan strategi ilmiah, mengajak mereka untuk rajin membaca dan menulis untuk menambah pengetahuan, wawasan, maupun kecerdasan siswa sebagai bekal menuju manusia berkualitas.
Pelaksanaan keterampilan melek informasi di kelas dapat menggunakan metode ilmiah. Penilaian keterampilan ini juga perlu penilaian menyeluruh yang dapat menilai kemampuan dan hasil kerja siswa.

Model Pengembangan Rencana Pembelajaran

Ada banyak model pengembangan rencana pembelajaran di antaranya model Gagne, model Kemp, model Gerlach & Ely, model Dick dan Carey, model Banathy, dan model PPSI. Masing-masing model memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaan dari model tersebut adalah mengandung 3 kegiatan pokok, yaitu: mengidentifikasikan masalah; mengembangkan pemecahannya; dan menilai pemecahan, dan mengandung unsur dasar yang sama yaitu siswa, tujuan, metode dan kegiatan belajar-mengajar.
Ada 5 kriteria untuk memilih model, yaitu harus sederhana, lengkap, dapat diterapkan, luas, dan teruji.
Langkah-langkah pengembangan model Banathy adalah:
1. Merumuskan tujuan belajar secara spesifik dan objektif,
2. Menyusun tes untuk mengukur ketercapaian tujuan,
3. Menentukan tugas-tugas yang akan diberikan agar tujuan dicapai, dan
4. Menganalisis sistem yang meliputi analisis fungsi tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana, siapa yang akan melakukannya, membagi fungsi pada tiap komponen, dan menentukan jadwal kapan pelaksanaannya dan di mana tempatnya.

Adapun langkah pengembangan model Dick & Carey meliputi:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran.
2. Menentukan macam kegiatan belajar/keterampilan yang memungkinkan tujuan pembelajaran tercapai.
3. Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa untuk menentukan pola strategi pembelajaran.
4. Merumuskan tujuan khusus.
5. Menyusun butir-butir tes berdasarkan acuan patokan.
6. Mengembangkan strategi pembelajaran, berupa pengalaman belajar yang akan dialami siswa.
7. Mengembangkan dan memilih materi/bahan pembelajaran.
8. Mengadakan evaluasi formatif.
9. Mengadakan revisi sistem hasil evaluasi formatif.
10. Mengadakan evaluasi sumatif.

Adapun langkah-langkah mengembangkan model Gerlach & Ely adalah:
Pertama: menentukan materi yang akan diajarkan serta merumuskan tujuan pembelajaran.
Kedua: menilai perilaku siswa yang belajar.
Ketiga: melakukan lima hal secara simultan, yaitu: menentukan strategi; mengatur pengelompokan siswa; mengalokasikan waktu; menentukan tempat atau ruangan mengajar, dan memilih sumber belajar yang akan digunakan.

Perencanaan Kegiatan Ekstrakurikuler

1. Dari beberapa sumber, terdapat beberapa kesamaan pengertian ekstrakurikuler, yaitu pertama, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diprogramkan di luar jam pelajaran sekolah; kedua, kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk membantu ketercapaian program kurikuler.
2. Perbedaan antara kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan kurikuler dapat ditinjau dari sifat kegiatan, waktu pelaksanaan, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, teknis pelaksanaan, serta kriteria evaluasi keberhasilan.
3. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh kegiatan ekstrakurikuler di antaranya adalah memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan/kompetensi yang relevan dengan program intrakurikuler, memberikan pemahaman terhadap hubungan antarmata pelajaran, menyalurkan minat dan bakat siswa, mendekatkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat/lingkungan, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
4. Dalam upaya mencapai tujuan kegiatan ekstrakurikuler, ada sejumlah kegiatan yang dapat diprogramkan di antaranya adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, pembinaan kedisiplinan dan hidup teratur, pembinaan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan, pembinaan keterampilan, hidup mandiri dan kewiraswastaan, pembinaan hidup sehat dan kesegaran jasmani, serta pembinaan apresiasi dan kreasi seni. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu secara langsung program kurikuler sekolah.
5. Keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya, sumber daya manusia yang tersedia seperti kepala sekolah, guru-guru; dana, sarana dan prasarana; serta perhatian orang tua siswa.
6. Perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler perlu disusun oleh kepala sekolah bersama guru agar memperoleh hasil yang maksimal. Terdapat sejumlah komponen yang harus dirumuskan dalam perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di antaranya bidang atau materi kegiatan, jenis kegiatan, tujuan atau hasil yang diharapkan, sarana penunjang, kendala atau hambatan yang mungkin muncul, waktu pelaksanaan, dan penanggung jawab. Sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan, perlu diperhatikan beberapa prinsip di antaranya berorientasi pada tujuan, prinsip sosial dan kerja sama, prinsip motivasi, prinsip pengkoordinasian dan tanggung jawab, serta prinsip relevansi.

Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran berarti penyusunan langkah-langkah pelaksanaan suatu kegiatan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari kemampuan mendeskripsikan kompetensi pembelajaran, memilih dan menentukan materi, mengorganisasi materi, menentukan metode/strategi pembelajaran, menentukan perangkat penilaian, menentukan teknik penilaian, dan mengalokasikan waktu. Komponen-komponen itu merujuk pada apa yang akan dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, sebelum kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya dilaksanakan.
Manfaat perencanaan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1. sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2. sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
3. sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun siswanya.
4. sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat dapat diketahui ketepatan dan kelambatan kerjanya.
5. sebagai bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
6. perencanaan pembelajaran dibuat untuk menghemat waktu, tenaga, alat, dan biaya.

Pengembangan Silabus dan Rencana atau Satuan Pelajaran

Silabus adalah garis besar ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok materi pelajaran. Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada kelas dan jenjang tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.
KBK atau Kurikulum 2004 menyebutkan silabus sebagai:
1. Seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar.
2. Komponen silabus menjawab 1) kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa? 2) bagaimana cara mengembang-kannya? 3) bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dicapai siswa?
3. Tujuan pengembangan silabus adalah membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan pembelajaran.
4. Sasaran pengembangan silabus adalah guru, kelompok guru mata pelajaran di sekolah, kelompok kerja guru, dan dinas pendidikan.

Isi silabus minimal harus mencakup unsur:
1. tujuan mata pelajaran,
2. sasaran mata pelajaran,
3. keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik,
4. uraian topik-topik yang akan diajarkan,
5. aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan pembelajaran,
6. berbagai teknik evaluasi yang akan digunakan.

Komponen silabus terdiri dari: 1) bidang studi yang akan diajarkan, 2) tingkat sekolah dan semester, 3) pengelompokan standar kompetensi, kompetensi dasar, 4) indikator, 5) materi pokok, 6) strategi pembelajaran, 7) alokasi waktu, dan 8) bahan/alat/media. Komponen pokok silabus terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran.
Manfaat silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan seluruh kegiatan pembelajaran.
Prinsip pengembangan silabus adalah: ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, dan relevan.
Proses pengembangan silabus berbasis kompetensi terdiri atas tujuh langkah utama, yaitu: 1) penulisan identitas mata pelajaran, 2) perumusan standar kompetensi, 3) penentuan kompetensi dasar, 4) penentuan materi pokok dan uraiannya, 5) penentuan pengalaman belajar, 6) penentuan alokasi waktu, dan 7) penentuan sumber bahan.
Rencana mengajar merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam penentuan pengalaman belajar. Guru dapat mengembangkan rencana pembelajaran dalam berbagai bentuk.
Perencanaan pembelajaran dapat dibagi menjadi rencana mingguan dan harian. Rencana harian adalah rencana pembelajaran yang disusun untuk setiap hari mengajar.
Dalam menyusun rencana pembelajaran harian ini guru perlu selalu berpusat pada siswa, dan semua kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar baik secara fisik maupun mentalnya.
Prinsip-prinsip persiapan mengajar adalah harus sederhana, dan fleksibel, kegiatan yang dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan, persiapan pembelajaran harus utuh dan menyeluruh serta jelas indikatornya, kemudian, harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program sekolah.

Analisis Komponen Kurikulum

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, sosial, dan budaya memberikan dampak bagi dunia pendidikan. Kurikulum sebagai pedoman pendidikan harus merespons segala perkembangan tersebut. Kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat, dan globalisasi menuntut adanya perubahan kurikulum pendidikan di negara kita.
Kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum 2004 atau disebut juga kurikulum berbasis kompetensi. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan program untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu: 1. sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa; 2. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya; 3. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; 4. sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah; 5. sarana pengembangan penalaran, dan; 6. sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.
Tujuan pengajaran Bahasa Indonesia yaitu; 1. siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara; 2. siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat untuk bermacam-macam keperluan dan keadaan; 3. siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual , kematangan emosional dan sosial; 4. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis); 5. siswa mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; 6. siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Kompetensi adalah kemampuan yang dapat dilakukan oleh siswa yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Standar kompetensi adalah kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu pelajaran. Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal yang harus dicapai siswa. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran. Indikator merupakan rincian hasil belajar dan yang menjawab pertanyaan” Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa peserta didik sudah dapat mencapai hasil pembelajarannya.”

Analisis Kompetensi dan Hasil Belajar

Prinsip pembelajaran bahasa Indonesia tidak bertujuan untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa, tetapi siswa memiliki kemampuan berbahasa untuk pelbagai keperluan komunikasi. Kemampuan berbahasa yang dimaksud adalah kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Di dalam kurikulum 2004 baik di SMP ataupun di SMU, kemampuan tersebut dirumuskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar Kemampuan tersebut di dalam pembelajaran dilaksanakan secara terpadu dan saling menunjang satu dengan yang lainnya. Dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan di setiap jenjangnya dapat dilihat hasil belajar yang diharapkan setelah proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut dirinci kembali menjadi indikator-indikator pembelajaran.
Analisis Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Aspek pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terdiri atas 1) kemampuan berbahasa Indonesia yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, 2) bersastra baik sastra lisan maupun sastra tulis. Kedua aspek ini (berbahasa dan bersastra) tidak memiliki perbedaan di dalam pelaksanaan. Materi yang berupa sastra lisan dipelajari dengan cara mengapresiasinya secara lisan yaitu didengarkan dan dibicarakan atau dibahas secara lisan dan tertulis. Materi yang berupa sastra tulis diapresiasi dengan cara dibaca dan dibahas secara tertulis atau secara lisan. Dengan demikian pada hakikatnya belajar bahasa Indonesia adalah belajar berkomunikasi, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat secara lisan dan tertulis.
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) berisi muatan yang mengacu pada perolehan kemampuan siswa di akhir pelajaran. Jabaran dari kompetensi berbentuk indikator-indikator. Perbedaan antara indikator dan kompetensi dasar terletak pada luasnya cakupan isi atau muatan. Cakupan muatan indikator lebih sempit dibandingkan dengan kompetensi dasar. Sebab, indikator merupakan rincian dari kompetensi dasar.
Untuk mengukur seberapa jauh siswa dapat mencapai indikator materi pembelajaran tertentu digunakan alat evaluasi. Alat evaluasi dapat berupa tes, pemberian tugas, atau ulangan harian. Tes atau tugas dapat berupa tes teori atau pun praktek. Dengan adanya pemberuan dalam bidang pendidikan, evaluasi proses sangat baik untuk dilaksanakan. Untuk melakukan evaluasi pembelajaran bahasa secara baik, Indikator memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Perbuatan atau responsi yang dapat dilakukan siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi dasar tertentu.
2. Rincian hasil belajar yang lebih spesifik.
3. Dikembangkan berdasarkan materi pembelajaran dan kompetensi dasar.
4. Dirumuskan dengan kata kerja operasional.
5. Petunjuk pencapaian kompetensi dasar.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi beberapa indikator adalah dengan terlebih dulu mempelajari kompetensi. Penjabaran indikator harus berfokus pada kompetensi apa yang akan dimiliki siswa setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Setelah itu lakukan kegiatan berikut ini.
1. Tentukan berapa lama kompetensi tersebut akan dicapai serta seberapa jauh tingkat kemampuan yang ingin dicapai.
2. Keselarasan antara kompetensi dasar dan indikator perlu diutamakan dalam penjabaran ini.
3. Penyusunan indikator diawali dari indikator yang sederhana ke indikator yang lebih sulit.
4. Perbuatan atau tindakan yang dijabarkan pada indikator harus jelas terukur. Pernyataan indikator harus konkret.

Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator kemampuan telah tersedia di dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis kompetensi baik SMP maupun SMA. Namun, seyogianya para guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengetahui bahkan mampu mengembangkan indikator-indikator kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sendiri. Kemampuan para guru ini menjadi modal untuk menyusun model pembelajaran atau mengembangkan desain pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan baik.
Hal yang penting di dalam model pembelajaran adalah pengalaman belajar yaitu kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan siswa di dalam proses belajar mengajar dalam rangka mencapai kompetensi atau indikator-indikator kemampuan siswa. Pengalaman belajar dikem-bangkan berdasarkan indikator-indikator tersebut.
Berikut ini adalah tahapan yang dilalui dalam mengembangkan indikator menjadi pengalaman belajar.
1. Langkah awal apa yang harus dilakukan untuk mencapai kompetensi indikator 1?
2. Apakah ada kegiatan pendukung lain yang dapat digunakan untuk mencapai indikator 1?
3. Jika ada, lakukan!
4. Jika tidak ada lagi kegiatan pendukung untuk mencapai kemampuan yang ada pada indikator maka lakukanlah kegiatan (sebagai pengalaman belajar) sesuai kata kerja operasional yang ada dalam indikator.
5. Demikian pula dengan indikator-indikator berikutnya.

Melalui indikator dan pengalaman belajar yang akan dilakukan siswa itulah model pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dikembangkan. Jika guru ingin memiliki persiapan mengajar yang lebih rinci, guru dapat menyusun desain pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan mengacu pada model pembelajaran tersebut.

Analisis Komponen-komponen Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Kegiatan analisis terhadap desain pembelajaran perlu kita lakukan untuk mengetahui kelemahan yang terdapat di dalam desain yang telah kita susun. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah desain pembelajaran tersebut kita laksanakan. Terlebih lagi jika kita mendapatkan kekurangan atau hasil pembelajaran yang kurang memuaskan. Setelah beberapa kelemahan kita temukan sebagai hasil analisis, kegiatan berikutnya adalah memperbaiki desain pembelajaran tersebut agar proses dan hasil pembelajaran yang harapkan mencapai tingkat maksimal dapat dicapai.
Pemahaman terhadap desain pembelajaran Bahasa Indonesia tidak menggunakan pengertian terhadap istilah yang memiliki arti sempit. Apapun nama atau bagaimanapun bentuknya, sebuah rancangan yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran seperti silabus, satuan pelajaran, atau rencana pembelajaran dapat disebut sebagai desain pembelajaran.
Kegiatan analisis desain pembelajaran ini dilakukan dengan mengkaji penerapan 4 komponen penting yaitu, 1) tujuan atau kompetensi pembelajaran dalam hal ini adalah kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia; 2) aspek-aspek pembelajaran Bahasa Indonesia; 3) komponen-komponen pembelajaran Bahasa Indonesia; dan 4) prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia. Kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia dikutip langsung dari kurikulum yang kemudian dijabarkan ke dalam indikator-indikator. Demikian pula halnya dengan aspek-aspek pembelajaran Bahasa Indonesia, dikutip langsung dari kurikulum. Dalam pelaksanaannya aspek-aspek pembelajaran ini disajikan secara terpadu. Komponen-komponen pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki ciri khas pada penggunaan pendekatan, metode/ teknik pembelajaran. Demikian pula halnya dengan evaluasi atau pelaksanaan penilaian yang lebih menekankan pada keterampilan berbahasa dibandingkan dengan pengetahuan tentang bahasa. Prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki banyak persamaan dengan prinsip-prinsip pembelajaran pada umumnya, hanya perhatian kepada siswa memiliki nilai lebih terutama pada saat latihan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi atau berbahasa

Analisis Kegiatan Pembelajaran
Analisis terhadap kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan yang disusun di dalam desain pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut adalah kegiatan awal atau kegiatan membuka pembelajaran, kegiatan inti atau kegiatan melaksanakan pembelajaran, dan kegiatan akhir atau kegiatan menutup pembelajaran. Ketiga kegiatan tersebut memiliki jalinan yang erat yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Artinya antara kegiatan melaksanakan pembelajaran merupakan lanjutan dari kegiatan membuka pembelajaran sehingga hubungan keduanya tidak boleh terputus, demikian juga dengan kegiatan menutup pembelajaran tidak boleh lepas dari kegiatan inti pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan tujuan mencapai kompetensi yang diharapkan. Hal ini mempersyaratkan adanya kaitan atau relevansi antara kompetensi, proses pembelajaran, dan evaluasi. Dengan demikian dalam kegiatan analisis hal utama yang harus diperhatikan adalah relevansi antarkomponen tersebut (kompetensi, kegiatan pembelajaran dan evaluasi).
Pembaruan pembelajaran bahasa Indonesia menuntut digunakannya pendekatan komunikatif, integratif, dan CBSA. Komponen ini juga harus menjadi perhatian di dalam melakukan analisis desain pembelajaran. Salah satunya adalah dalam susunan kegiatan inti pembelajaran. Siswa adalah subjek di dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, sebaiknya pengalaman belajar benar-benar menjadi miliki siswa, sehingga kalimat-kalimat yang disusun di dalam kegiatan tersebut memberi penekanan pada siswa, bukan pada guru.
Evaluasi merupakan bagian integral di dalam desain pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk melihat ada tidaknya integrasi tersebut, sebaiknya alat atau instrumen evaluasi disertakan di dalam desain pembelajaran, yaitu pada kegiatan menutup pembelajaran. setelah evaluasi dilaksanakan dan diperoleh hasil atau diketahui pencapaian kompetensi yang diperoleh siswa, guru memberikan umpan balik agar siswa mengetahui kekurangannya sehingga dapat memperbaiki kekurangan tersebut. Setelah umpan balik diberikan, guru juga perlu melakukan pengukuhan atas pengetahuan yang disampaikannya agar siswa tidak melupakan apa-apa yang telah diperolehnya.
Penguatan atau pujian sangat diperlukan oleh setiap orang untuk meningkatkan prestasinya. Oleh sebab, kegiatan ini perlu dilakukan guru agar para siswa selalu bersemangat di dalam menjalani pengalaman belajar bahasa Indonesia setiap saat.
Sumber buku Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa
Indonesia Karya Drs. Asep Herry Hernawan, M. Pd. Dan Dra. Dewi Andriyani, M. Pd.

Contoh Cerita untuk Anak-anak: Semut dan Kepompong

Contoh Cerita untuk Anak-anak: Semut dan Kepompong

Hikmah cerita ini : Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina

Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak! terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.

Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam, “Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!”. “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya. Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam. “Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong! tolong,” teriak si semut.
“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat! sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” “Yah, aku sadar. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang?” kata si semut pada kupu-kupu.
Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya?” Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.

Cerita di atas di cuplik dari buku Kumpunan Dongeng Anak
Jika Anda ingin ambil buku tersebut selengkapnya silakan langsung klik download ini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.