BAB II PENGGUNAAN RAGAM BAHASA GAUL DIKALANGAN REMAJA DI TAMAN OVAL MARKONI KOTA TARAKAN

BAB II PENGGUNAAN RAGAM BAHASA GAUL DIKALANGAN REMAJA DI TAMAN OVAL MARKONI KOTA TARAKAN
Oleh: LISTA NOVITAYANTI
BAB II
LANDANSAN TEORI
A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem lanuang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur unti’k bekerja sama. berkornunikasi, dan mengindenfikasi diri (Chaer, 2000:1). Menurut pendapat di atas rnaka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi.
Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.
B. Fungsi Bahasa
Fungsi Bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia berrnasyarakat (Chaer, 2000:2).
Bahasa Indonesia sendiri, yang mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi Negara di tengah-tengali berbagai rnacain bahasa daerah, mempunyai fungsi sebagai berikut:

(1) Alat untuk menjalankan adminislrasi negara. ini bcrarti, segala
kegiatan administrasi kenegaraan, seperti surat-menyurat dinas,
rapat-rapat, pendidikan dan sebagai.iya harus disslenggarakan
dalam bahasa Indonesia.
(2) Alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia. Komunikasi
diantara anggota suku bangsa yang berbeda kurang mungkin
dilakukan dalam salah satu bahasa daerah dari anggota suku
bangsa itu. Komunikasi lebih mungkin diiakukan dalam bahasa
Indonesia. Karena komunikasi antarsuku ini dilakukan dalam
bahasa Indonesia, maka akan terciptaJah perasaan “satu bangsa”
di antara anggota suku-suku bangsa itu.
(3) Media untuk menampung kebudayaan nasiorial. Kebudayaan
daerah dapat ditampung dengan media bahasa daerah, tetapi
kebudayaan nasional Indonesia dapat dan harus ditampung
dengan media bahasa Indonesia
C. Variasi Bahasa
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi bukan hanya penuturnya yang tidak homogen tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.
Chaer dan Agustina (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan

10
peniitur berarti, siapa yang mengunakan oahasa itu, dirnana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunanya berarti, bahasa itu
\
digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya. Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Variasi bahasa dari segi penutur
a. Variasi bahasa idiolek
Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Variasi bahasa dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekclompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tenipat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Bayumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya
c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal
bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Umpamanya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada ma^a kini.
d. Variasi bahasa sosiolek

II
Variasi bahasa sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini inenyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
1. Variasi bahasa berdasarkan usia
masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam b’dang kosakata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedar.gkan para raja menggunakan kata mangkat.
2. Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekcnomi para penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken (Chaer, dan Agustina, 2004:66). Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:

12
1. akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih
bergengsi dari variasi sosial lainya misalnya: Bokap (panggilan untuk
Ayah);
2. basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau
bahkan dipandang rendah;
3. vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai
bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak
berpendidikan, misalnya: reselc;
4. slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5. kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan
sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan
bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), dl!;
6. jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara lerbatas oleh
kelompok sosial tertentu. Misalnya, para tukang batu dan bangunan
dengan istilah disiku, ditimbang, dll;
7. argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi
tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang
copet daun dalam arti uang;
8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-
rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para
pengemis.
2. Variasi bahasa dari segi pemakaian

13
N;ibab;m (IWI) dal;im chacr dun Agiisliiiii (200<l:68) meiigalukan
o bahwa Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut
fungsiolek atau register adalah vatiasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnaiistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mcmpunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya mcnekan penggunaan kata dari segi estetis sehirigga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat.
Ragam bahasa jurnaiistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karer.a harus dipahami dengan mudah komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berila secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud diatas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut. 3. Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu: a. Gaya atau ragam beku (frozen);

14
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah dimesjid, dan sebagainya.
b. Gaya atau ragam resmi (formal);
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, dan lain sebagainya.
c. Gaya atau ragam usaha (konsultatij);
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsullatif adalah variasi bahasa yang lazim dalarn pembicaraan biasa di sekolah, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
d. Gaya atau ragam santai (casual);
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
e. Gaya atau ragam akrab (intimate);
Gaya atau ragam akrab adalah vaiiasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab antar anggota keluarga atau antar teman yang sudah karib. 4. Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukkan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan, salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa

15
lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
D. Sosiolinguistik
Fishman (1972) dalam Chaer dan Agustina (2004:3) mengatakan bahwa Sosiolinguistik adalah kajian tentang oiri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selaiu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa. fungsi-fungsi bahasa dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini berkaitan satu sama lain dalam masyarakat tutur.
Chaer dan Agustina (2004:2) mengatakan bahwa Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitar.nya dengan penggunaan bahasa itu didalam masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolinguistik ada’ah ilmu yang mernpclajari bahasa dalam hubungan dengan pengunaan bahasa didalam masyarakat.
E. Morfologi
Morfologi adalah bagian dari tata ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata (Ramlan, 1985:21) Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu.

16
F. Sintaksis
Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang sudah sangat tua, menyelidiki stuktur kalimat dan kaidah penyusunan kalimat (Suhardi, 1998:1). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sintaksis adalah ilmu bahasa yang menyelidiki struktur kalimat dan penyusunan kalimat.
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara kata atau frase atau klausa atau kalimat yang satu dengan kata atau frase atau (clause atau kalimat yang lain atau tegasnya mempelajari seluk-beluk frase, klause, kalimat dan wacana (Ramlan. 1985:21). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sintaksis adalah ihnu bahasa yang menyelidiki struktur kalimat dan penyusunan kalimat.
G. Leksikal
Leksikal merupakan bagian dari cabang ilmu semantik yang berkaitan dengan makna kata atau yang disebut makna ieksikal atau semantik leksikal. Ramlan (1985:289) menyatakan bahwa leksikal adalah makna yang dimiliki atau yang ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Maksud yang terdapat pada penjelasan tersebut pada dasarnya menyatakan tentang makna kata walaupun bukan dalam suatu konteks tertentu.

Baca Artikel Lain

Lahirnya Bahasa Indonesia;>>>> Baca

Alat Bantu Mengukur Dan Menghitung;>>> Baca

Prefiks{ Ma- } Dan {a-} Dalam Bahasa Ahasa Bugis;>>>>>>>> Baca

Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (sms) Di Kalangan Remaja Kota Tarakan;>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

BAB I PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN

BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Dpemakainnya bahasa
Indonesia sangat beragam, keragaman tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan.
Penggunaan bahasa secara tulisan perlu lebih cermat, hal ini karena pihak yang diajak komunikasi tidak berhadap-hadapan secara langsung. Untuk menjamin efektifnya penyampaian pesan, fimgsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek,dan hubungan diantara fungsi itu harus lengkap dan nyata. Namun berdasarkan kenyataan sekarang dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa tulisan tidaklah digunakan lagi secara cermat, dengan adnya teknologi penggunaan telpon genggam atau handphone (hp) lebih sering dimanfaatkan masyarakat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
Penggunaan bahasa tulisan dalam telpon genggam atau handphone, lebih dikenal dengan short message service (sms), merupakan terobosan baru untuk menyampaikan pesan, informasi secara ringkas dan cepat. Penggunaan bahasa secara tulisan dalam short message service (sms) umumnya pendek-pendek, terputus-putus, penyingkatan-penyingkatan dan terdapat fungsi-fungsi kalimat yang dilesapkan, khususnya di kalangan remaja yang lebih sering menggukan bahasa tulis dalam short message service (sms)

dengan penyingkatan-penyingkatan kosakata. Penggunaan bahasa tulis dalam short message service (sms) oleh kalangan remaja cenderung memunculkan kosakata percakapan, seperti : ” y, t’rah z pi g da mslh k” “lyalah, terserah kamu tapi tidak ada masalah kah ?” , “u knp g dtng, u dah tan to, qt meeting mlm ini, tp ga pal, mngkin u Ig sbuk, mt bb” (Kamu kenapa tidak datang, kamu sudah tahu kan, kita pertemuan malam ini, tapi tidak apa-apa, mungkin kamu lagi sibuk, selamat bobo) dan sebagainya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, penulis berusaha untuk meneliti punggunaan bahasa terutama dalam short message service (sms) di kalangan remaja Kota Tarakan
B. Alasan Femilihan Judul
Peneliti memilih judul Penggunaan Bahasa Dalam Short Mesagge Service (SMS) Di
Kalangan Remaja Kota Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Judul tersebut dipilih karena Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS) di Kalangan Remaja merupakan bahasa tulis yang menarik untuk diteliti, karena bahasa dalam Short Message Service (SMS) tersebut tidak terdapat dalam bahasa tulisan-tulisna lainnya. Sepengetahuan peneliti, pula belum pernah ada penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Penggunaan Dalam Short Message Service (Sms) Di Kalangan Remaja Kota Tarakan.

C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang berkaitan dengan lingkup penggunaan bahasa
khususnya dalam Short Message Service (SMS), perlu adanya pembatasan masalah. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat lebih terpusat pada tujaun yang ingin dicapai dan mencegah meluasnya kajian penelitian. Masalah dalam kajian ini dibatasi pada :
1. Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS) Di Kalangan Remaja
Kota Tarakan.
2. Penggunaan kata dan kalimat dalam bahasa Short Message Service (SMS)
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan bahasa dalam
Short Message Service (SMS) di kalangan remaja Kota Tarakan.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menegtahui penggunaan bahasa dalam Short
Message Service (SMS) di kalangan remaja Kota Tarakan.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis, sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian teoritis
yang mendukung penelitian lebih lanjut dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang penggunaan bahasa tulis Short Message Service (SMS).

2. Manfaat Praktis, penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam mengembangkan kemampuan menggunakan kosa kata agar mewujudkan percakapan bahasa tulis yang akrab dan menarik.
G. Penegasan Judul
Judul penelitian ini adalah Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS)
Di Kalangan Remaja Kota Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Penegasan judul perlu dilaksanakan untuk mempertegas maksud judul penelitian. Adapun penegasan judul dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Aslinda, 2007:1)
2. Short Message Service (SMS)
Short Message Service (SMS) adalah layanan inovasi handphone yang memudahkan siapa saja untuk mengirimkan pesan kesemua pemakai handphone.
3. Remaja
Remaja adalah usia yang mulai beranjak dewasa dari imur 17-20 tahun. Usia yang mulai tahap emosionalnya mulai labil (KBBI, 1895:813)

4. Kota Tarakan
Kota Tarakan berada di wilayah Kalimantan Timur bagian Utara, tempat peneliti akan mengadakan penelitian mengenai penggunaan bahasa dalam Short Message Service (SMS) di kalangan remaja.
5. Sosiolinguiistik
Sosiolinguistik yang dimaksud dalam penelitian ini adallah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2)
H. Sistematika Pen ulisan
Skripsi ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikat:
Bab I pendahuluan, Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan memilih judul, batasan maslah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul dan sistematika penulisan.
Bab II landasan teori, Bab ini terdiri ata pengertian bahasa, fungsi bahasa, pengertian sosiolinguistik, variasi bahasa dalam tinjauan sosiolinguistik, fonologi, morfologi, leksikal.
Bab III metode penelitian, Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, variabel penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, sumber data dan data penelitian, pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV pembahasan, Bab ini terdri atas penyajian data, analisis data, dan hasil penelitian.
Bab V penutup, Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran.

PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN

PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS)
DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

Oleh:  Muhammad Ikram Syakir

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa bunyi suara atau tanda/isyarat atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi hatinya kepada manusia lain (Soekono, 1984:1). Menurut pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah bunyi suara beruapa lambang atau tanda yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan informasi.
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi ujaran, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1990:1). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.
Chaer (2004:1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia. Menurut pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang berupa lambang dan bunyi bersifat arbitrer sebagai alat komunikasi.
Berdasarkan pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki mahluk hidup yang disebut manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahluk hidup yang lain tidak memiliki bahasa sebagai alat komunikasi.

B. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa seperti alat komunikasi dapat diperinci lebih lanjut dan dapat pula dikajakan balrwa bahasa memiliki fungsi (Keraf, 1991:3). Adapun fungsi bahasa sebagai berikut:
1. Fungsi Informasi
Yaitu uatuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota masyarakat.
2. Fungsi Ekspresi diri
Yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, dan tekanan-tekanan dalam diri pembicara seperti tampak dari kata ketukan atau tanda seru.
3. Fungsi Adaptasi dan Integrasi
Yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat sekitar.
C. Pengertian Sosiolinguistik
Aslinda (2007:2) sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat. Kridalaksana dalam Rafiek (2005:1) mendefmisikan sosiolinguistik berdasarkan pendapat Fishman adalah ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara bahasanya dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Dengan demikian sosiolinguistik mempelajari hubungan variasi bahasa dan fungsi bahasa memilki makna tersendiri.
Bedasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa defmisi sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari berbagai variasi bahasa dan fungsi bahasa di dalam masyarakat.

D. Variasi Bahasa
Aslindgf (2007:17) menyatakan bahwa variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya.
Chaer dan Agustina dalam Aslinda (2007:17) membedakan variasi bahasa antara lain : 1. Variasi bahasa dari segi penutur
Variasi dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari kelompok individu yang jumlahnya relatif yang berada pada satu tempat wilayah atau area.
Variasi bahasa dari segi penutur dapat dibedakan menjadi:
a. Variasi bahasa idiolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep
idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing.
Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan
kalimat dan sebagianya.
b. Variasi bahasa dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya
relativ, yang berada pada suatu tempat, wilayah atau area tertentu.
c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan
oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
d. Variasi bahasa sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan
status, golongan dan kelas sosial para para penuturnya.

g. Variasi bahasa tingkat golongan
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari
variasi sosial lainya misalnya: mami (panggilan untuk ibu);
2. basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah;
3. vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang
kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan, misalnya: sialan;
4. slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5. kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang
cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok
(dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll;
6. jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial
tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll;
7. argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan
bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata artinya
polisi;

8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh
dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis. h. Variasi bahasa dari segi penggunaan
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fimgsinya disebutfungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. i. Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan, salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
E. Fonologi
Adalah bagian dari tata bahasa atau ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa disebut fonologi (Keraf, 1990:19).
F. Morfologi
Morfologi Adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf, 1990:40). Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menyelidiki peristiwa-peristiwa umum mengenai seluk beluk bentuk kata terhadap fungsi (tugas) dan arti kata (Soekono, 1984:86). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk beluk kata dan perubahannya.

G. Leksikal
Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata, perbendaharaan kata) (Chaer, 1989:60). Leksikal mempelajari seluk beluk kata, ialah perbendaraan kata dalam suatu bahasa, pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh pemakai bahasa (Ramlan, 2001:19). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa leksikal adalah seluk beluk kata dalam perbendaraaan kata dalam suatu bahasa.

Baca Artikel Lain

Bab 2 Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Siswa Kelas Iv SDN 005 Kampung Satu Tarakan Melalui Pendekatan Kontekstual;>>>> Baca

Bab I Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja Di Taman Oval Markoni Kota Tarakan;>>> Baca

Nilai Dan Sikap Serta Keterampilan Intelektual Personal Dan Sosial Dalam Kurikulum Ips Sd;>>>>>>>> Baca

Peranan Fisioterapi Dalam Gangguan Perkembangan Anak;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

PREFIKS{ ma- } dan {a-} DALAM BAHASA AHASA BUGIS

PREFIKS{ ma- } dan {a-} DALAM BAHASA AHASA BUGIS
Tinjauan Deskriptif Bahasa Bugis Dialek Sinjai di Selumit Pantai
Oleh: Darmawati

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Morfologi
Morfologi ialah ilnui bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata baik fungsi gramatik maupun semantlk (Ramlan, 1985:14). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilnui bahasa yang mempelajari kata serta fungsi perubahan bentuk kata secara gramatik dan semantik. Morfologi ndalah bagian dan lala bahasa yang membicarakan berinacam-inacani bcntuk bahasa alau morl’em, serta bagaimana nieinbenliik kala deiigan ineiiggiinakaii moifem-morlem iln (Kciaf, 1991 A2). Licrdasarknn pendapat tersebut maka dapat disimpulkan balnva inorfologi merupakan bagian dari tata bahasa yang mempelajari bentuk-beiituk kata atau mortem. Morfologi adalah cabang ilnui bahasa yang menyelidiki peristiwaperistiwa umum mengenai seluk beluk bentuk kata terhadap fungsi (tugas) dan arti
kata (Soekono, 1984:86). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menyelidiki seluk-beluk bentuk kata khususnya mengenai fungsi dan arli kata. Berdasarkan beberapa pendapat di alas maka dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilmu bahasa yang memepelajari seluk beluk bentuk kata khususnya mengenai fungsi dan aiti kata.

B. Proses Morfologis
Proses morfologis ialah proses pembentukkan kata-kala dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1985:46). Proses morfologis ialah peristiwa-peristiwa morfologi yang terjadi dari input yaitu Ieksem , afiksasi, reduplikasi, serta output berupa kata (Kridalaksana, 2007:12).
Proses morfologis ialah bidang bentuk yang memberi ciri khusus terhadap kata yaitu bidang kesamaan membentuk kata-kata atau kesamaan ciri iinluk membenluk kelompok kata (Putrayasa, 2008:84). Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses morfologis ialah peristiwa perubahan bentuk kata melalui proses yaitu afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
Dari definisi atau pengertian tersebut, dapat kita uraikan tiga proses yaitu:

a. Peristiwa Afiksasi adalah peristiwa perubalian bentuk kata dcngcn perubahan afiks pada bentuk dasar. Peristiwa ini menghasilkan kata jadian berimbuhan seperti:

Prefiks + KD Prefiks + KD + Sufiks
KD + Sufiks KD + Infiks
b. Proses Reduplikasi adalah peristiwa perubalian bentuk kata melalui
pengulangan bentuk dasar. Proses Reduplikasi menghasilkan kata ulang.
Dalam bahasa Indonesia ada 6 jenis kata ulang
1. KU Murni/Ku Ululi/KU Dwilingga
Contoh: meja-meja rumah-rumah
2. KU Senui adalah kata ulang yang tidak mempunyai bentuk dasar
Contoh: kupu-kupu laba-laba
3. KU Berimbuhan
Prefiks + KU = ber + jalan-jalan = berjalan
KU + Sufiks = membagi-bagi -i kan = membagi-bagikan
KU + Infiks = giri – gerigi
4. KU Variasi/Dwilingga Salin Suara
KU berubah bunyi
Contoh: lauk-pmik
morat-marit
5. KU Suku Depan/Dwi Purvva
Contoh: dedaun, rerumput, pepohon
6. KU Kompleks

Contoh: – tendang-menendang
– bersalam-salarnan
– sekali-sekali
c. Proses pemajemukan (Koinposisi)
Dalam bahasa Indonesia kerap kali gabungan dua kata yang ineniinbulkan suatu kata barn. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata ini lazim di sebut kata majemuk. Kata majemnk ialah kata yang terdiri dari dua kata scbagai iinsurnya (Ramlan, 1985:69).
Contoh: kolam renang kamar tunggu
Berdasarkan pendapat Ramlan, dan Kridalaksana dapat disimpulkan bahwa proses morfologis dalam bahasa Indonesia adalah

1. Proses pembubuhan afiks (Afiksasi)
2 Proses pengulangan (Recliiplikasi)
3 Proses pemajeimikan (Komposisi).
Di samping liga proses morfologis lersebut di alas dalam bahasa Indonesia masih ada sain proses lagi yang cli scbut |)i’oses penibubulian /.cio. Proses ini hanya meliputi sebagian kata tertentu. (Ramlan, 1985:47).
Contoh: kata-kata makan, minum termasuk golongan kata verbal yang transitif.
Saya makan merupakan kalimat transitif.

C. Afiks
Afiks ialah suatu bentuk yang di dalam suatu kata mernpakan unsur langsnng yang bukan benluk bebas, yang mempunyai leksem melekal pada bentnk lain untuk membentuk kata baru (Soekono, 1984:92).
Afiks ialah suatu satuan gramatikal terkecil yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata atau pokok kata yang memiliki kesanggupan inelekat pada satiian-satuan dari untuk mernbentuk kata pada pokok kata (Ramlan,1985:50).
Afiks yaitu benluk alau modern tenkal yang dipakai untuk inenurunkan kala cliscbul afiks alau inibuhan (Alwi, I99X:3!)

Afiks (imbuhan) terdiri atas:
!. Prefiks (awalan) ialah imbuhan yang menempel di awal kata dasar, seperti :
meng, per, di, yang ber, ter, se, ke.
2. Infiks (sisipan) ialah imbuhan yang mcnempel di tengah kata dasarnya
seperti: er, el, em, in. gerigi, telapak, gemetar, kinerja
3. Sufiks (akhiran) ialah imbuhan yang menempel di akhir kata dasamya
seperti : kan, i, an,
4. Konfiks (imbuhan gabungan) ialah gabungan awalan akhiran yang melekat
pada awal dan akhir kata dasamya yang membentuk satu fungsi dan satu
makna, seperti : peng-an, per-an, ber-an, ber-kan.
5. Siinulfiks, yaitu inorl’eni belah (salu inorl’em) melekat bersama-sama,
seperti: ke+ KD+ an

D. Prefiks dalam Bahasa Bugis
Prefiks adalah unsur afiks yang melekat pada posisi awal kata dasar
(Sikki, 1991:47).
1. Prefiks {Ma-}
a. Bentuk prefiks {ma-} ada dua macam yaitu :
Prefiks {ma-} yang tidak dipengaruhi oleh kondisi fonologis ialah
prefiks {ma-} yangkhusus berfungsi sebagai pembentuk adjektiva.
Contoh :

ma- + pule’ —> mapute1 putih
ma- i lotong -> malotong = hi tain
b. Prefiks {ma-} yang dipengaruhi kondisi fonologis ialah prefiks {ma-}
yang inengalami penibahan bcnluk sesuai dengan Ibnem asal kala dasar
yang dilekatinya.
c. Apabila prefiks {ma-} inelekat pada kata dasar yang berfonem awal
vokal /a/, /i/, /u/, /e’,/o/ dan Id. Prefiks tersebut mempunyai variasi
bentuk (alomorf) sebagai berikut:
1. Prefiks \nui-} dapat muncul dalam bentuk man- yang bcrvariasi
dengan {ma-} apabila inelekat pada kala asal yang berfonem awal
/a/,/i/,/u/,/e’,/o/dan/e/.
Contoh :
man- + ampo —» mangampo —> menabur
man- + itte’ -> mangitte’ -> memungut
2. Prefiks {ma-} dapat mengalami persandian apabila dilekatkan pada
bentuk dasar yang berfonem awal /a/, /i/, /e’,/o/.
Contoh :
ma- + akka -> makka —> mengangkat
ma- i lining > miming -> m i i u im
3 Prefiks {ma-} dapat muncii] dalam bentuk {mar-} apabila dilekatkan
pada kata asal yang berfonem awal /a, /i/, Ai/, /e /, dan lot.
mar- + ambok —> marambok -» Bapak
mar- ^- induk —> marindok -» Ibu

b. Fungsi Prefiks {Ma-}
iMingsi prcfiks {IIKI-} adaiah n n l n k iTicinbcnliik verbal dan adjekliva.
1 . Scbagai pembentuk verba
Contoh :
lipak sailing —» inallipak incniakai sarung
bola = runiah -» inabbola = membuat rumah
pute = putih —* mapute = menjadi putib
Kata lipak dan bola termasuk nomina, sedangkan pule
termasuk adjektiva. Akan tetapi setelah prefiks {ma-} melekat pada
kali) kipak, ho/a dan pule kala-kalii lerscbut mengalami Iranslormasi
menjadi verba.

2. Sebagai pembentuk adjektiva
Contoh :
Bnsa busa — > niabbiis:) -: berbusa
Ban = ban -> mabbau = berbau
Calla = pukiil —> macalla = memukul
Kata hiisa dan hcni termasuk nomina, sedangkan culla
tergolong verba, akan tetapi, setelall mendapat prefiks {ma-}, katakata
tersebut mengalami transformasi menjadi adjektiva.
c. Makna Prefiks {Ma-}
Makna prefiks {ma-} sebagai akibat dari proses penggabunganjya
dengan kata dasar adaiah sebagai berikut:
1. Melakukan pekerjaan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
Massering -» menyapu
Mannasn —> incinasak
2. Melakukan pcrbuatan dengan alat.
Misalnya:
Mammeng —> n.cmancing
Mappuka -> ineniukat
3. Mcinakai scsuatu yang disebutkan dalam bentuk dasar.
Misalnya:
Macciccing –> meniakai cincing
Manggeno —> memakai kalung
4. Menyatakan tindakan yang berbalasan.
Misalnya:
Majjamak -» bersulaman
Mabbitte —» berlaga
2. Prefiks {a-}
a. I3cn!uk I’refiks {^-|
1 . Apabila prefiks {«-} melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal
vokal, prefiks tersebut mempunyai variasi bentuk {an-},{ag-} atau
{ar-}
Contoh:
an + ampo -» angampo -> menabur
an + itle -> angitte —» memungut

2. Apabila prefiks {a-} melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal konsonan /b/, Id, /d/, /bg/, /k/, /!/, /m/, /n/, /n/, /p/, /s/ an /t/, prefiks tersebul akan bernbali bentuk sesuai dengan fonem awal kata dasarnya sehmgga terjadi penebalan konsonan atau geminasi.

Contoh:
ag + baca —> abbaca -> membaca
ag + camming -» accamming -> membaca
b. Fungs! Prefiks ) < v – j
Prefiks {a-} berfungsi membentuk verba, khususnya dalam bentuk kalimat imperatif, larangan meiiyangkut, dan kalimat tanya.

Contoh:
aniki kik ! (silahkan anda menulis !)
a j a miianiki (jangan anda menulis)
c. Makna Prefiks { Makna prefiks {a-} ialah menyatakan perintah atau larangan yang
disebut dalam kata dasar.
Contoh :
Asserrikko !
Menyapu kamu!
(kamu menyapu !)
Aja muannasu! Jangan kamu memasak!

Baca Artikel Lain

Penggunaan Bahasa Dlm SMS Di Kalangan Remaja Kota Tarakan;>>>> Baca

Bab I Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja Di Taman Oval Markoni Kota Tarakan;>>> Baca

Bab 1 Interferensi Bahasa Indonesia Oleh Penutur Bahasa Toraja Di Sdn 013 Tarakan;>>>>>>>> Baca

Peranan Fisioterapi Dalam Gangguan Perkembangan Anak;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

SAP Komputer Dasar

Untuk Kalangan Terbatas

Pert. 1 dan 2 MS WORD
Mengatur halaman, mengaktifkan ruler, memasukkan dan memformat teks, mengatur paragraf, menyalin tek atau gambar, memindahkan teks atau gambar, membatalkan kesalahan, menemukan dan mengganti teks

Pert 3 dan 4 Print View dan pencetakan dokumen, menggunakan find and replace, menggunakan foot note dan header.Mengedit naskah.

Pert 5 dan 6 MS EXCEL
Menambah dan menyembunyikan worksheet, memasukkan dan mengedit data, mengenal format data,

Pert 7 dan 8 Menggunakan cells style, SUM, Multiply dan Average
Pert 9 dan 10 MS Power Point
Menambah slide dan memilih lay out, menentukan template design dan back ground, mengelola slide, menggunakan bullet numbering,
Pert 11 dan 12 Intenet
Browsing, search engine, e-mail, e-trading. Download
13 dan 14 Membuat Blog

Baca Artikel Lain

Teori-teori Dalam Kepemimpinan;>>>> Baca

Konsep Penting dalam Distribusi;>>> Baca

Meningkatkan Efektivitas Kepemimpinan;>>>>>>>> Baca

Pentingnya Promosi;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif dalam Iklan

Komunikasi Persuasif dalam Iklan

Oleh Drs. Yanis Rusli, M.Si.

Komunikasi persuasif banyak dimanfaatkan dalam kegiatan pemasaran antara lain dalam pemasaran. Periklanan merupakan bagian dari promotion mix (bauran promosi), bersama-sama dengan kegiatan promotion selling, publisity, dan sales promotion. Sedangkan promotion mix merupakan bagian dari kegiatan marketing mix(product, price, Place dan Promoion). Dengan kata lain iklan merupakan bagian kecil dari kegiatan pemasaran yang lebih luas.

Iklan adalah salah satu bentuk komunikasi persuasif yang merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang bermaksud membujuk khalayak untuk memanfaatkan barnga atau jasa. Banyak jenis-jenis iklan yang dapat digunakan untuk membujuk persuade guna mengenal pesan yang disampaikan melalui iklan. Hanya saja komunikasi persuasif dalam periklanan memiliki audien yang tidak mengetahui secara pasti sumber pengirim, keputusan yang mereka buat, tergantung pada seberapa besar komunikator mempengaruhi atau meyakinkan mereka. Untuk itu diperlukan analisis yang terencana berdasarkan kaidah peneltian, guna mengukur seberapa besar efektivitas pesan melalui iklan dapat mempengaruhi keputusan audien/persuade.

Dalam prakteknya kegiatan pemasaran tidak hanya diperlukan pruduk yang baik, penetapan harga yang sesuai dan menata (display) pada tempat yang menarik tetapi diperlukan komunikasi yang baik dengan konsumen. Salah satu bentuk kegiatan komunikasi adalah komunikasi persuasi, yang mana komunikasi tersebut melibatkan pengirim (sumber) dan penerima berinteraksi. Hanya saja komunikasi persuasif dalam periklanan memiliki audien yang tidak mengetahui secara pasti sumber pengirim, keputusan yang mereka buat, tergantung pada seberapa besar komunikator mempengaruhi atau meyakinkan mereka. Efektivitas komunikasi persuasif sangat tergantung pada kedua faktor pengirim dan penerima pesan termasuk pesan yang disampaikan dalam periklanan.

Ruang Lingkup Komunikasi
1. Sumber (source) adalah yang berinisiatif untuk berkomunikasi. Dalam periklanan sumber dapat dilakukan oleh sponsor tertentu yang membayar.

2. Pesan (massage) adalah informasi yang akan dipindahkan antara sumber dan penerima. Pesan yang disampaikan oleh sebuah iklan, dapat berbentuk perpaduan antara pesan verbal dan pesan non verbal.

3. Saluran/Media (channel) adalah sarana dimana pesan mengalir antara sumber dan penerima. Contoh, media pesan suara disalurkan melalui gelombang udara sedangkan pesan gambar disalurkan melalui gelombang cahaya.

4. Penerima (receiver) adalah individu atau kelompok yang merupakan sasaran dari sumber komunikasi. Sasaran yang menerima informasi dari periklanan diharapkan akan mengubah jalan pikiran (state of mind) calon konsumen untuk membeli.

5. Efek (effect) adalah perubahan yang terjadi pada diri penerima sebagai akibat diterimanya pesan melalui proses komunikasi. Dalam komunikasi persuasif terjadinya perubahan, baik dalam aspek sikap, pendapat atau perilaku pada diri receiver/persuadee merupakan tujuan yang utama. Begitu juga periklanan menghendaki adanya perubahan jalan pikiran (state of mind) dari receiver/persuadee.

6. Umpan balik adalah jawaban atau reaksi yang datang dari sumber atau dari pesan itu sendiri.

7. Konteks Situasional Lingkungan atau atmosfir komunikasi persuasif merupakan konteks situasional untuk terjadinya proses komunikasi tersbut. Konteks tersebut berupa kondisi latar belakang dn fisik, dimana tindakan persuasi tersebut berlangsung.

Iklan

Dalam bahasa Inggris dikenal dengan advertising yang berasal dari bahasa latin ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada orang lain, sebagaimana halnya pengertian komunkasi. Di Perancis disebut dengan reclamare yang berarti meneriakan sesuatu secara berulang-ulang. Sementara bangsa Arab menyebutkan I’lan. Istilah dalam bahasa Arab inilah yang diadopsi oleh bahasa Indonesia dengan melafalkan menjadi kata ’iklan’.

Dalam perspektif iklan cenderung menekankan pada aspek penyampaian pesan kreatif dan persuasif yang disampaikan melalui media khusus. Dan perspektif pemasaran lebih menekankan pemaknaan iklan sebagai alat pemasaran. Sedangkan perspektif psikologi lebih menekan perspetif persuasif pesan.

Beberapa pandangan tentang iklan telah dituliskan oleh beberapa ahli antara lain :

1. Liiweri,1992:20 secara lengkap menuliskan bahwa iklan merupakan suatu proses komunikasi yang mempunyai kekuatan sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu menjual barang, atau memberi layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif.

2. Kotler (1991:237) mengartikan iklan sebagai semua bentuk penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh sponsor tertentu yang dibayar. Artinya dalam menyampaikan pesan tersebut, komunikator memang secara khusus melakukannya dengan cara membayar kepada pemilik media atau membayari orang yang mengupayakannya.

Walaupun pengertian iklan terdapat perbedaan perspektif yang berbeda-beda namun sebagaian besar memiliki kesamaan dalam bentuk prinsip pengertian iklan, dimana dalam iklan mengandung enam prinsip dasar yaitu ;

1. adanya pesan tertentu
2. dilakukan oleh komunikator (sponsor)
3. dilakukan dengan cara non personal
4. disampaikan untuk khalayak tertentu
5. dalam menyampaikan pesan dilakukan dengan cara membayar.
6. penyampaian pesan tersebut, mengharapkan dampak tertentu.

Jenis-jenis Iklan

Untuk memetakan jenis-jenis iklan tidaklah mudah, sebab antara satu iklan dangan iklan lainnya sering tumpang tindih. Berikut jenis-jenis iklan yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan sudut pandang masing ;

A. Jenis-jenis iklan berdasarkan manfaat (Kotler)
B. Jenis-jenis iklan menurut berdasarkan klasifikasi pengelompokan (Richard E. Stanley)
C. Jenis jenis iklan berdasarkan (Liliweri (1992):

1. Umum yaitu iklan standar dan layanan masyarakat
2. Iklan khusus yaitu didasarkan pada pembagian jenis iklan, seperti :

a. Berdasarkan media yang digunakan
b. Berdasrkan tujuan komersil dan layanan masyarakat.
c. Berdasarkan Bidang Isi pesan.
d. Berdasarkan wujud produk yang diiklankan.
e. Berdasarkan khalayak sasaran iklan

Analisis Komunkasi Persuasif Dalam Periklanan

Analisis komunikasi persuasif dalam periklanan sangat perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas dari iklan. Tujuan analisis komunikasi persuasi periklanan adalah untuk melakukan pengidentifikasian dan pemerikasaan terhadap pesan ditinjau dari sudut isi, tujuan, dukungan dan konteks sosial suatu iklan.

Masalah komunikasi persuasif periklanan dapat timbul dari sumber, saluran, pesan, media, sasaran, lingkungan sosial, serta efek dan dampak periklanan.

Untuk itu diperlukan rancangan analisis yang merupakan kerangka untuk melaksanakan analisis komunikasi persuasif dalam periklanan.

Baca Artikel Lain

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media Dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan (bab 1 );>>>> Baca

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media Dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan Bab 2;>>>>> Baca

Pendekatan Inquiri Dalam Mengajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Metode Terjemahan Dalam Pengajaran Bahasa;>>>>>>>>> Baca

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan bab 2

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan bab 2
oleh Rohani A.

A. Kcsalahan Berbahasa
Menurut Dulay (dalam Tarigan, 1995: 142) kesalahan adalah bagian konversi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku atau norma terpilih dari performansi bahasa orang dewasa.
Menurut Tarigan (1990: 35) kesalahan adalah upaya sang pembelajar mengikuti kaidah-kaidah yang diyakininya, atau yang diharapkannya, benar atau tepat tetapi sebenarnya salah atau tidak tepat dalam beberapa hal.
Menurut KBBI (2005: 983) kesalahan adalah suatu perihal yang tidak betul atau tidak benar; kekeliruan; kealpaan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa adalah suatu hal yang menyimpang dari kaidah-kaidah berbahasa yang benar.
Menurut Tarigan (1995: 196) unsur-unsur yang termasuk ke dalam kategori kesalahan berbahasa Indonesia sebagai berikut. I. Kesalahan Fonologi a. Kesalahan Ucapan
Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga
menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan
makna.

b. Kesalahan Ejaan
Kesalahan ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca.
2. Kesalahan Morfologi
Kesalahan morfologi adalah kesalahan inemakai bahasa disebabkan oleh salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bcntuk kata.
3. Kesalahan Sintaksis
Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel.
4. Kesalahan Leksikon
Kesalahan leksikon adalah kesalahan memakai kata yang tidak atau kurang tepat.
B. Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia
Menurut Chaer (2006: 36) ejaan adalah konvensi grafts, perjanjian di antara anggota masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya, yang berupa pelambangar fonem dengan huruf, mengatur cara penulisan kata dan penulisan kalimat, beserta dengan tanda-tanda bacanya.
Wirjosoedarmo (1984: 61) berpendapat bahwa ejaan adalah aturan menuliskan bunyi ucapan dalam bahasa dengan tanda-tanda atau lambang-lambang.
Menurut Arifin (2004: 170) ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara lambang-

lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Selanjutnya secara teknis, ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
Keraf (1984: 47) berpendapat bahwa ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang-larnbang bunyi-ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa.
Kridalaksana (2008: 54) mengemukakan bahwa ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis menulis yang distandarisasikan. yang la/irn mempunyai 3 aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad, aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfcmis, dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.
Menurut KBBI (2005: 285) ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi bahasa dengan kaidah dalam bentuk tulisan yang mempunyai 3 aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonern dengan huruf dan penyusunan abjad, aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfeinis, aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.

C. Beberapa Hal yang Terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia
Menurut EYD (1996: 1), hal-hal yang terdapat dalam ejaan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Pemakaian Huruf
a. HurufAbjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf a sampai dengan z.
b. Hurufvokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan n.
c. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d,J\ g, h, j, k, I, r/i, n, p, q, r, ,v, /, v, w, x, y, dan z.
d. HurufDiftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, an, dan oi.
e. Gabungan-HurufKonsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
f. Pemenggalan Kata
1). Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

]
a) Jika di tcngah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah.
Huruf diftong ai, cm, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misalnya: an-la bukan a-u-la, sau-dara bukan sa-u-da-ra, am-boi bukan am-bo-i.
b) Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan-huruf
konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Misalnya: ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir.
c) Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Gabungan-huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa.
d) Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama
dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: in-stru-inen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las. 2). Imbuhan akhiran dan imbuhan avvalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis

serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya: makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah 3). Jika suatii kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan di antara unsur-unsur itu. Misalnya: a), bio-grafi, bi-o-gra-fi.
b).foto-grafi, fo-to-gra-fi. 2. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring a. Huruf Kapital
Huruf kapital digunakan dalam berbagai kesempatan sebagai berikut. !). Huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya: .Vaya mandi di sungai. 2). Huruf pertama petikan langsung.
Misalnya: Ibu berkata,”A^emarin saya sakit kepala”. 3). Huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya: Allah, A’atolik, Alkitab, /slam, dan sebagainya. 4). Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan kcagamaan yang diikuti oleh nama orang. Misalnya: Raden Ajeng Kartini, vVabi Musa, dan sebagainya.

5). Huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti oleh nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya: Jfakil Presiden Adam Malik, Perdana A/enteri Nehru, Profesor Supomo, laksamana Mida Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya. 6). Huruf pertama nama orang.
Misalnya: Rohanl 7). Huruf pertama nama suku, bangsa, dan bahasa.
Misalnya: suku Sunda, bangsa Indonesia, bahasa /nggris. 8). Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: bulan April, hari A/inggu, tahun Masehi, Proklamasi
ATemerdekaan Indonesia, Perang Candu. 9). Huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya: Pulaii Ba\\, Pulau Sebatik, Z,aut Merah.
10). Huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya: /tepublik Indonesia: Mijelis Permusyavvaratan /?akyat, Departemen Pendidikan dan A’ebudayaan; Badan A’esejahteraan /bu dan Anak; ATeputusan Presiden /?epublik /ndonesia, yVomor 57, Tahun 1972.

II). Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat
pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan. serta
dokumen resmi.
Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa, (7ndang-f/ndang Dasar
Republik Indonesia. 12). Huruf pertama semua kata di dalam buku, majalah, surat kabar, dan
judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dan, dan, yang, untitk
yang tidak terletak di posisi awal.
Misalnya: C/ntuk /bunda Jersayang, Slirat-menyurat di dalam $ahasa
Indonesia. 13). Singkatan nama, gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya: M. Dea /., Ir. Soekarno, Sdr. Budiono. 14). Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak,
ibu, paman, nenek, yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya: a). Silakan masuk, Z)ik! b).Kapan Nenek datang. 15). Huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya: SudahkahyJnda tahu? b. Huruf Miring
Huruf miring biasanya hanya ditemui dalam tulisan-tulisan yang berbentuk cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dia tak miring diberi tanda satu garis di bawahnya. Adapun huruf miring digunakan pada hal-hal berikut ini.

I). Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

2), Cmbuugan kata -*- ttwalan /nkhiran ditulis dengan cara seperti berikut
ini.
Misalnya: Z>ertanggung jawab, wemamah biak, lipat gandakan, garis
bawah/. 3). Apabila salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: swadaya, dasawarsa, antarkota. 4) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai, Misalnya: we/7£garisbawah/, menyebar\uas/utn.
c. Kala Ulang
Bentuk kata ulang baik pada kata ulang murni, kata ulang semu, kata ulang
berubah bunyi, dan kata ulang berimbuhan, penulisannya menggunakan
tanda hubung di antara kedua kata tersebut, kccuali pada kata ulang
sebagian.
Misalnya: gedung-gedung, bangku-bangku, rumah-rumah.
d. Gabungan Kala
Penulisan penggabungan kata dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1). Gabungan kata yang biasa disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, bagian-bagiannya urnumnya ditulis terpisah.
Misalnya: orang tua, meja tulis, mata pelajaran.

2). Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkiri menimbulkan
salad baca, ciapat dibcri tanda hubung un’.nk mencgaskan pcrtalian di
antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya: anak-istri, buku sejarah-baru. 3). Gabungan kata yang sudah dianggap satu ditulis serangkai.
Misalnya: matahari, manakala, daripada, peribahasa.
e. Kata Ganti
Kata ganti ku, mu, kau, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang diikuti
maupun yang mengikuti.
Misalnya: bukufo/, bukuww, miliknya, kubawa.
f. Kata Depan (di, ke, dari)
Kata depan di, ke dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang digunakan sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: Pak Darto mengail di kolam.
g. Partikel
Penulisan partikel-partikel dalam bahasa Indonesia mengikuti ketentuan
berikut ini.
1). Partikel /ah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnyr;: Periji/c^, Nak!, Rngf imarutla// keadaannya?, Apa/n/7 artinya aku ini?

2). Partikel/7w« ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. iviisainya: jangankan geaung, guougpw/s axu tax punya.
3). Partikel per yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah dari
bagian-bagian ka’imat yang mendampinginya.
Misalnya: Silakan masuk satuper satu. h. Angka dan Lam bang Biiangan
Lambang biiangan dapat dinyatakan dengan angka, baik angka Arab (1,2,
3, dan seterusnya) maupun angka Romawi (I, II, III, dan seterusnya).
i). AngKa aigunaKan untuk menyatakan iambang biiangan atau nomor. Di
dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab: 0, 1,2, dan seterusnya.
Angka Romawi: I, II, III, dan seterusnya. 2). Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan
isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya: 0,5 sentimeter, 5 kilogram, 4 meter persegi, 10 liter, / jam 20
menit, Rp5.000,00, 27 orang. 3). Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah.
apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya: Jalan Tanah Abang /No. 15., Hotel Indonesia, Kamar 169. 4). Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab
suci.
Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252., Surah Yasin: 9.

Baca Artikel Lain

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media Dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan (bab 1 );>>>> Baca

Belajar, Mengajar Dan Pembelajaran;>>>>> Baca

Pendekatan Inquiri Dalam Mengajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Profesi Keguruan;>>>>>>>>> Baca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.