Proses Membaca dan Hubungannya dengan Proses Berpikir

Proses Membaca dan Hubungannya dengan Proses Berpikir

Membaca biasanya dipergunakan sebagai langkah awal untuk memahami text yang dibaca. Sekarang, film dan televisi menantang kemampuan membaca untuk ditempatkan pada tempat yang istimewa dalam kehidupan para orang tua. Di sekolah, bagaimanapun, membaca mulai kehilangan fungsi utamanya sebagai alat manakala guru dan murid telah melibatkan diri dalam kesusastraan. Bagimana para murid membaca, tiada lain bergantung pada perhatian yang diberikan para guru sewaktu berkesusastraan. Kira-kira lima belas tahun yang lalu, para peneliti diguncangkan oleh perkembangan perkembangan pandangan dalam bidang psikologi kognitif dan temuan-temuan dalam pemerolehan bahasa, para peneliti dibidang “membaca” mengalihkan perhatian mereka dari pemerolehan hasil suatu instruksional membaca ke aktivitas membaca itu sendiri. Mereka mempertanyakan bagaimana para pembaca dari berbagai tingkatan mampu menyimak/memahami berbagai jenis sumber wacana. Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diberikan pembaca menjadi kurang begitu penting dibandingkan dengan bagaimana proses memperoleh atau mendapatkan jawaban-jawaban itu.

Beberapa jawaban yang diberikan pembaca, khususnya jawaban-jawaban yang diluar dugaan atau perkiraan, telah memicu para peneliti untuk segera bertindak atau melangkah lebih jauh dalam kegiatan penelitiannya, atau mencocokkan dengan hasil-hasil penelitian atau teori-teori yang berhubungan denga hal-hal apa yang terjadi sewaktu para pembaca memahami pesan tertulis. Penelitian model baru dalam membaca ini, pelik/teliti dan mahal, bahkan lebih menyerupai penelitian yang dilakukan oleh case studi jika dibandingkan denganpenelitian yang menggunakan “statistik” sebagai pembuktiannya. Kenyataannya, banyak sekali hal-hal yang harus terjadi sewaktu seseorang berkosentrasi melakukan aktivitas membaca. Sekalipun demikian, tanpa harus berpihak, pengamatan peneliti dalam proses membaca telah mampu menyegarkan pemahaman para guru tentang bagaimana para murid membaca kesusastraan khususnya yang berkaitan pengambilan kesimpulan dan penguatan intuisi dari pengalaman mereka sendiri dan dari pengetahuan mereka yang berkaitan dengan teori kesusastraan.

Para guru kesusastraan mengemukakan bahwa penelitian model baru dalam membaca banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada mereka selama mereka mau memanfaatkan hasil-hasil temuannya. Pada saat yang bersamaan, saran titik penekanan, keragaman, perubahan petunjuk/perintah dalam kegiatan membaca merupakan salah satu ciri pembaharuan dan penyegaran. Jika tidak hal ini dianggap sebagai suatu yang mengejutkan, kendati para peneliti
membaca dan para guru kesusastraan jarang meggunakan gagasan secara keseluruhan, tapi mereka telah menunjukkan keragaman. Sebagai contoh, sewaktu pengajar membaca membicarakan tentang “urutan pandangan umum”. Para guru kesusastraan kemungkinan akan membeicarakan “keterkaitan dari masing-masing bagian seting”, atau “unsur imaginasi”. Dimana kedua hal itu akan diarahkan untuk membantu murid pada apa yang telah mereka ketahui (pengetahuan bawaan) yang dihubungkan pada bahan bacaan baru. Sebagai peneliti membaca banyak mempelajari tentang bagaimana para pembaca menyimak, mereka akan lebih menyadari, juga bagaimana penulis membagi aktivitas membaca, dan para peneliti mempertanyakan “bagaimana pertimbangan pembaca terhadap text. Sekarang para guru juga, menjadi lebih berhati-hati dalam menyatakan bagaimana kemampuan membaca si Joni. Membaca tentang apa, dan kondisi-kondisi apa yang mempengaruhinya. Oleh karenanya para peneliti telah menambahkan bagian “konteks” untuk mempelajari para pembaca dan text. Dalam kelas, sekolah, komunitas, dan ragam interaksi apa para siswa belajar? Bagaimana para guru memberikan seruan, petunjuk, pengecualian yang mempengaruhi bagaimana para pembaca menyimak?

Dalam bab ini, akan dibicarakan tiga masalah yang menjadi objek penelitian membaca, yaitu: pembaca, text dan konteks. Disini tidak akan menyajikan ulang tentang hasil penelitian, namun beberapa kutipan akan berhasil dipilih dan dianggap layak. Di samping itu kami akan menyajikan dasar-dasar umum penelitian, yang secara luas banyak dipergunakan para pelajar dalam membaca pada dekade ini, yang mana hal itu berpengaruh pada bagaimana kita mengajarkan kesusastraan.

1. Para pembaca membuat makna. Mereka menggunakan pengetahuan tentang dunia yang ada pada mereka, dan isyarat-isyarat yang diberikan oleh text.

Isu baru yang disuarakan oleh para peneliti membaca, yakni masalah yang berhubungan dengan “prior knowledge” (pengetahuan laten / pengetahuan bawaan) dalam menyimak yang harus disadari oleh para guru pengajar kesusastraan. Pengetahuan laten yang ada pada pembaca dapat melebihi ragam teks yang dibacanya, juga kadar kesusastraan yang ada di dalamnya; pengetahuan laten pembaca dapat menggambarkan kesusastraan yang berhubungan dengan manusia dan tempat, periodesasi sejarah dan budaya, bahasa lisan dan tulisan, peradaban manusia, sejarah tata bahasa, dan bentuk sastra.

Konsep “pengetahuan laten” dikembangkan dari “teori schema”, yang mempunyai hipotesa bahwa pengetahuan manusia tentang dunia dihimpun atau tersusun dalam suatu struktur yang saling berhubungan , yang kemudian disebut “Schemata” (Rumelhart, 1980). Para pembaca akan menggunakan schemata mereka dalam menyimak apa yang sedang mereka baca. Apa yang para pembaca ketahui tentang isi dalam cerita maka pemahaman tentang pemandangan disebuah ruang pengadilan, bergantung juga sejauh mana tingkat pemahaman tentang apa yang mereka ketahui tentang hal itu. Hal ini mereka mulai memfungsikan “schema” nya khususnya tentang pemeriksaan di pengadilan. Demikian juga halnya apabila pembaca membaca cerita rakyat, maka schemata-nya harus dihubungkan dengan kehidupan di sebuah ladang peternakan, hubungan kekerabatan antara anak dengan orang tua dan tentang kuda.

Teori schema menghipotesakan dua proses yang saling mengisi: pembaca akan menerima informasi baru dari teks yang kemudian disimpan pada schemata (mereka akan membentuk suatu bekas yang permanen) dan mereka memodifikasi susunan schemata untuk mengakomodasikan informasi dari teks, juga memilih hal yang dianggap tidak sesuai. Keberhasilan pembaca mengatur proses asimilasi dan akomodasi, ditentukan sejauh mana pembaca merekomendasikan makna yang dikorespondensikan dalam text dan kemungkinan makna yang dimaksudkan oleh penulis melalui textnya. Maka langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah untuk merangsang aktivitas kemampuan laten yang ada pada para siswa, pada suatu waktu dan tempat tertentu atau bagaimana orang mau berperilaku tertentu dibawah keadaan tertentu. Guru mempunyai dua alasan untuk melakukan diskusi pramembaca: yakni pertama membantu para siswa menata sumber-sumber yang ada pada mereka, dan kedua, untuk menguji kesenjangan pada pengetahuan laten sebelum melakukan aktivitas membaca.

Seorang guru di sekolah menengah, melalui aktivitas membaca tentang “My Brother Sam is Dead”, akan mengajak para siswanya untuk berbicara atau membicarakan tentang kehidupan pada masa kolonial Amerika semalam sebelum terjadi revolusi. Dia menemukan bahwa banyak diantara mereka akan membayangkan keadaan masyarakat pada zaman itu dengan para cowboy, Indian, dan petualang-petualang bersenjata seperti yang terlihat dalam televisi. Koloni Inggris Baru yang berada jauh dari kehidupan di Kansas, dan kedelapan tahap studi sosial tidak mampu merubah keberadaan schemata sesuai dengan kemampuan yang diasumsikan oleh guru bahasa Inggris. Untuk menanggulangi kesenjangan itu maka guru dapat membantunya melalui gambargambar, peta, urutan kronologis kejadian, filmstrips, atau film-film lebar; singkatnya sebuah buku yang mudah untuk direkomendasikan oleh setiap individu; yang sarat dengan informasi yang ada hubungannya dengan sajian. Hal yang tidak kalah pentingnya, pengetahuan yang dikandung dalam sebuah novel ringkas itu harus mampu mengantarkan keterikatannya pada hal familiar, hal-hal yang susah dan mudah untuk dipahami. Guru hendaknya mampu mengarahkan aktifitasnya dengan hal-hal yang akan ada hubungannya dengan pokok bahasan, dia bisa menggunakan penyajian melalui teknik role playing singkat. Untuk beberapa pembaca, nilai novel itu bisa dijadikan informasi induk untuk memahami Revolusi Amerika; untuk yang lain novel itu dapat menumbuhkan emosi yang kuat dan kenangan yang indah. Kebanyakan para pembaca muda akan mempunyai pandangan yang bervariasi terhadap masanya Louise Rosenblatt dari segi aesotiknya jika mereka dikehendaki untuk mendefinisikan tujuan-tujuan mereka sesuai dengan keinginan gurunya. (Rosenblatt, 1987, pp 22-47).

Satu aspek penting yang bertalian dengan masalah “pengetahuan laten (prior knowledge)” adalah kefamiliaran para siswa dengan pola-pola bahasa dan ragam “discourse”. Pembaca yang baik akan mengatisipasi kata-kata dan prase-prase sebab mereka memahami bagaiman fungsifungsi bahasa pada abad pertengahan, demikian yang berhubungan dengan gagasan yang disampaikan melalui bahasa. (Penelitian terhadap proses menyimak menggunakan teknik “cloze” – siswa diminta untuk mengisikan kata-kata secara sistematis yang dibatasi kesesuaiannya oleh pernyataan untuk menguatkan bahwa keterampilan pembaca diarahkan oleh pengetahuan laten mereka sewaktu mereka membaca, ketepatan pengambilan kata-kata kunci dapat membantu mereka membuat prediksi yang tepat tentang apa yag akan muncul berikunya.) Text dari abad yang berbeda, bagaimanapun, akan membatasi kemampuan membuat ramalan-ramalan, sekalipun dia seorang pembaca yang baik, dan hal itu akan menurunkan kemampuan penyimakan mereka. Hal lain yang tidak kalah penting berkaitan dengan “schemata” adalah kosakata dan konsep, para pembaca juga mempunyai schemata, atau seperangkat pengetahuan dan pengharapan, untuk bentuk-bentuk kesusastraan (Applebee, 1978; Ericson 1985; Galda; 1982; Mauro 1984) dan untuk memperlancar kegiatan membaca. Sebagai contoh pengharapan siswa untuk cerita fiksi akan dikembangkan dari pengalaman mereka yang paling awal berdasarkan cerita-cerita yang mereka dengan, lihat di televisi, dan yang dibacanya sendiri. Demikian juga pengharapan mereka terhadap “puisi”, dimungkinkan beberapa di antara itu ada yang salah dan tidak sesuai.

Pengharapan-pengharapan untuk karya-karya sastra, menyikapi tujuan-tujuan yang diinginkan oleh penulis dan tujuan-tujuan yang diinginioleh para siswa dalam melakukan aktivitas membaca akan dapat mempengaruhi kualitas penyimakan. Frank Smith mendeskripsikan proses membaca kedalam dua sumber informasi; yakni visual dan non-visual, (1978). Informasi visual adalah apa yang seorang pembaca dapat lihat dan kemudia dikirimkan ke otaknya – yakni kata-kata yang tercetak pada suatu halaman. Informasi non-visual adalah apa yang seorang pembaca telah ketahui dan berhubungan dengan bahan bacaan yang dibacanya. Jika seorang membaca memiliki ketidak seimbangan terhadap kedua hal tersebut, apakah itu informasi visual, maupun nonvisualnya akan menurunkan tingkat keberhasilan dalam menyimak. (Hal ini dapat dibuktikan oleh keberhasilan seseorang/seorang murid sewaktu membaca hal yang kontenporer dan text berisikan sejarah).
Kita tentunya pernah mengamati para siswa yang mendapat kesulitan untuk memahami kalimat, kesulitan-kesulitan itu terjadi lebih diakibatkan karena ketidak familiaran terhadap pemahaman “kosa kata” mana kala mereka melakukan penyandian informasi non-visualnya.

Salah satu upaya untuk menyikapi kenyataan ini maka pemilihan text hendaknya disesuaikan dengan tingkatan kemampuan pengembangan kosa kata siswa dan kemampuan memaknai kata-kata itu sesuai dengan keinginan mereka. Hasil bukti penelitian yang mempelajari keterpahaman kosa kata terhadap penyandian informasi visual dan non visual dapat mempengaruhi daya simak. Kesusastraan banyak menuntut kejambaran pemahaman kosa kata, jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain yang terdapat dalam kurikulum, pengembangan kosa kata adalah non teknikal dan perluasan melalui penerapan.

Cara terbaik belajar membaca adalah melalui membaca

Untuk merealisasikan yang hampir dianggap sebagai suatu slogan: “cara terbaik belajar membaca adalah melalui membaca”, suatu hasil temuan dari penelitian dalam membaca permulaan adalah suatu peringatan bagi para guru kesusastraan dalam perlunya memperluas daya baca pada tingkat-tingkat yang lebih atas. Demikian juga slogan yang lainnya, yang ini memang nampaknya lebih sederhana, namun kebenarannya mempunyai bukti tersendiri sewaktu kami meneliti profil para murid yang mendemonstrasikan penguasaan terhadap keterampilan membaca pada tingkatan yang lebih tinggi untuk Nasional Assesment of educational Progress (1981).Di antara hasilnya banyak para murid yang telah membaca dengan luas, memilih buku-buku yang bersifat fiksi dan buku-buku non-fiksi yang dianjurkan oleh sekolah.

Pengaruh dari pengetahuan laten (prior knowledge) dalam menyimak bahan bacaan memberikan gambaran kepada kita bahwa mengapa para murid harus belajar membaca melalui membaca. Untuk menambahkan bukti yang cukup perlunya pengetahuan laten untuk menambahkan bukti yang cukup perlunya pengetahuan laten untuk membaca teks baru, para siswa harus mampu membaca dengan luas sebab hanya friksasi pengetahuan tentang dunia dapat mendatangkan pengalaman-pengalaman yang lain dari aneka sumber yang ada disekitar kehidupan mereka. Mulanya pengetahuan laten meliputi keterpahaman atau kefamilitasan terhadap berbagai model discourse demikian juga terhadap konsep-konsep dan label-label yang ada disekitar mereka, kami menyadari mengapa para murid yang tidak membaca (sekalipun mereka tidak mendapatkan kesulitan dalam penyandian kata-kata) adalah mendapatkan kesulitan sewaktu memasuki pendekatan kesusastraan (khususnya yang pemilihan materinya ditentukan oleh orang lain) melalui kegiatan membaca yang harus mereka lakukan sendiri. Dampak-dampak yang ditimbulkan untuk para guru kesusastraan kini nampak jelas.

Khususnya bagi kelas-kelas tingkat menengah dan pada kelas-kelas awal tingkat lanjutan, keseimbangan antara bacaan yang tidak umum dan bacaan yang bersifat perorangan harus disajikan kemudian atau diakhir. Bacaan yang tidak umum hendaknya dipilihkan oleh guru dan diarahkan kepada hal-hal yang sekiranya sudah dikenal siswa yang berkaitan dengan konsep dan bentuk kesusastraan termasuk pengembangan sesibilitasnya hendaknya relatif ringkas. Kemampuan membaca perorangan hendaknya dibimbing oleh guru dengan memperhatikan kemampuan-kemampuan membaca, sikap, dan minat yang dimiliki oleh masing-masing pribadi siswa. Pembimbingan kemampuan membaca individu harus tersedianya waktu yang cukup lama/luang baik di kelas maupun diluar kelas. Pengorganisasian hal-hal yang mendukung theme, merupakan bentuk sumbangan dari membaca untuk tujuan-tujuan yang khusus dan hal ini tidak berarti tidak dilakukan secara struktural dan acak. Apa yang sedang sekarang diperdebatkan disini, tentu tentang “the matic unit (pembentukan unit thema)”, merupakan sumbangan dari hasil penelitian dan teori yang sudah berlangsung lebih dari enam puluh tahun dan kenyataannya secara luas masih tetap diingkari atau tidak mau dilanggar oleh para guru penerbit, dan para perancang kurikulum.
Dikarenakan anak-anak dan para remaja belajar membaca melalui membaca, maka program kesusastraan yang menghendaki pengembangan keterampilan membaca hampir semua bergantung kepada para guru dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya untuk membimbing para siswanya.

Kesenangan membaca yang tumbuh pada para siswa adalah merupakan syarat mutlak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dalam hidupnya termasuk kesusastraan. Namun kebiasaan membaca juga akan dipengaruhi pula oleh ragam buku yang dibacanya, murid yang mempunyai kesempatan membaca yang lebih luas hal ini akan berpengaruh manakala harus menginterprestasikan karya-karya sastra secara resonabel. Mereka juga akan belajar merespon secara utuh terhadap kesusastraan. Tanpa pengalaman membaca dengan luas selama atau sewaktu mereka masih dalam masa sekolah, para siswa rasa-rasanya tidak akan mampu mencapai satupun dari tiga tujuan yang saling berkaitan.

Untuk membentuk makna, pembaca membutuhkan pengalaman untuk seluruh text

Hasil dari penelitian terhadap membaca permulaan dapat juga berpengaruh strategi pembelajaran membaca pada tahap-tahap selanjutnya. Kepada para guru pengajar membaca pada tingkat rendah, ini merupakan peringatan tegas bahwa mereka terlalu menekankan perhatiannya untuk memisah-misahkan keterampilan dan terlalu kecil perhatiannya untuk melakukan suatu proses yang holistik dimana terjadi perpaduan antara pengetahuan dengan berbagai strategi.

Untuk para guru kesusastraan yang juga masih melakukan cara yang sama dengan dimaksudkan di atas sewaktu para siswa diharapkan memahami karya sastra, menurut hasil temuan penelitian disarankan: fokuskan ke dalam/kepada keseluruhan text kapanpun selama itu memungkinkan. Hal ini merupakan suatu yang bisa dilakukan, hanya saja bergantung pada panjang – pendeknya text. Maka, khususnya berhubungan dengan para pembaca kesusastraan yang belum cukup matang, baik itu dari faktor usia ataupun tingkat para guru kesusastraan lebih senang memilih cerpen, puisi atau drama.Setelah diberikan pengarahan pengantar seperlunya, para siswa membaca seluruh bagian secara singkat berdasarkan caranya masing-masing sehingga diharapkan akan mudah menemukan masalah-masalah atau kendala-kendala awal. Mereka kemudian dapat mengulangi kegiatan membacanya lagi secara keseluruhan atau pada bagianbagian yang mereka anggap kurang terpahami, mengapa atau bagaimana penulis berbuat hal itu, sewaktu mereka melakukan kegiatan membaca yang pertama tadi.

Kadang-kadang tidak semua atau setiap text karya sastra dapat diperlakukan secara holistik.
Sewaktu-waktu, sebagaimana kami sajikan berikut ini, para guru berkeinginan untuk memberikan tertentu pada bagaimana memprediksikan dan menguji hasil penilaian menurut hasil penyimakan sendiri. Mereka juga mengingini para siswa untuk memiliki pengalaman yang permanen, tentang seluk beluk novel atau lima kegiatan dalam drama seperti yang disampaikan oleh Shakespear. Untuk bisa memenuhi tujuan tersebut tentunya mereka membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mempelajari bagian demi bagian, pelatihan, pengenalan masing-masing bagian melalui kegiatan-kegiatan pra-baca. Para guru sebaiknya menghindari untuk mempertanyakan bagian-bagian yang sekecil-kecilnya dari keseluruhan text, terkecuali bila dianggap sangat diperlukan, maka bisa ditempuh dengan pendemonstrasian, hal ini dimaksudkan agar tidak kembali kepada keterpahaman yang sebagian-sebagian.

4. Para Pembaca yang baik mengerti bagaimana mereka harus memaknai dan menyadari bahwa mereka akan luluh dalam proses itu.

Banyak alasan peneliti dalam bidang membaca yang dihubungkan dengan pemahaman/penyimakan yang dilakukan oleh monitoring. Para pembaca yang baik akan mengetahui kapan harus membaca dengan pemahaman dan kapan bila tidak. Sewaktu pemahaman telah mereka peroleh, maka mereka akan melakukan kegiatan membaca sekilas, namun apabila terjadi sebaliknya, mereka belum mendapatkan pemahaman, maka mereka akan mencurahkan strateginya dengan sangat seksama (Brown 1980 ; Olshavsky 1977; Wagoner; 1983).

Ada dua aspek yang mempengaruhi kerja penyimakan melalui monitoring. Pertama adalah kesadaran penentuan yang dianggap mudah dan mana yang dianggap sulit. Ketika seorang pembaca diharapkan pada soneta buah karyanya Shakespear, sebagai contohnya, para siswa barangkali berkomentar :”Saya tidak memahami itu,” atau”Dia tidak dapat mengartikan itu” atau “Oh, sekarang saya tahu tentang apa ini.” Penentuan tentang hasil simakan, walaupun tanpa disadari, telah mengarahkan pada tujuan membaca. Jika para siswa dihadapkan pada bahan bacaan berjudul apa yang terjadi pada Kino, Juanan, dan Coyotito, mereka akan mulai diingatkan pada alur ceritanya, mereka akan dengan cepat dapat mengurutkan pada bagian-bagian yang lebih detail dari keseluruhan bahan itu. Dengan kata lain, jika tujuan mereka adalah untuk memahami motivasi untuk masing-masing karakter yang berbeda atau menguji makna tersirat dari the Pearl, keputusan yang akan mereka buat tentunya tinggal menguji apa kesimpulan dan keputusan yang mereka buat tentang hal itu.

Aspek kedua yang berhubungan dengan penyimakan melalui monitoring adalah penerapan berbagai ragam strategi yang tepat, sehingga akan bisa membimbing kesadaran pemahaman pada bagian mana yang dianggap perlu dan bagian mana yang tidak. Peneliti telah mengidentifikasi peranan pemilihan strategi untuk kegiatan membaca, apakah perlu diadakan pengulangan membaca atau kembali lagi kebagian tertentu di bagian belakang atau kegiatan membaca itu dilanjutkan, penggunaan konteks guna memaknai kata-kata, penyimpulan, menghubungkan pada pengalaman seseorang, dan membuat dugaan-dugaan. Berdasarkan dokumen hasil penelitian kami berasumsi bahwa pembaca yang lincah atau mahir tiada lain adalah mereka yang mahir dalam penggunaan aneka “corrective Strategies” dibandingkan dengan mereka yang kurang mahir atau lincah, dan kecenderungan penggunaannya akan lebih sering bagi mereka yang lincah (Garner Reis 1981; Olshavsky 1977).

Para pembaca yang kurang mahir dalam membaca biasanya tidak menyadari bahwa mereka memiliki kekurangan dalam pemahaman, atau sekalipun mereka menyadari kekurang mampuan dalam menerapkan suatu strategi korektif yang tepat. Banyak murid yang tidak bisa dikatagorikan kedalam kelompok ini sebab mereka tidak mengetahui bagaimana menerapkan hal itu. Dan para guru biasanya mendapatkan kesulitan untuk mengelompokkannya sebab mereka sendiri kurang begitu terampil dalam menggunakan penyimakan monitonya yang benar-benar tidak mereka sadari akan bisa mempengaruhi pada proses seperti itu.
Bagaimana para guru mampu menyediakan strategi-strategi penyimakan monitor (demikian juga untuk aspek-aspek lain dalam proses membaca) yang telah banyak dijadikan obyek penelitian, hanyalah terserah pada generasi yang akan datang.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.