Membaca Pemahaman

Membaca Pemahaman

Tulisan ini secara khusus membahas proses pengajaran membaca pemahaman untuk siswa sekolah dasar. Agar pengajaran membaca tersebut dapat benar-benar berhasil maka guru perlu memahami bagaimana cara mengajarkannya. Mengingat pentingnya pengajaran membaca, khususnya membaca pemahaman perlu diajarkan di sekolah dasar dengan baik. Guru sebelum melaksanakan proses pengajaran membaca terlebih dahulu perlu memahami subketerampilan-subketerampilan membaca pemahaman. Apabila keterampilan membaca pemahaman sudah dikuasai siswa, diharapkan mereka mampu memahami teks bacaan mata pelajaran lain.

Definisi Membaca Pemahaman

Memahami bahan tertulis bergantung pada karakteristik bahan itu dan pembacanya. Faktor yang mempengaruhi membaca pemahaman antara lain kemampuan mengurai pesan (decoding), pengetahuan tentang kosakata, pengetahuan tentang konsep-konsep dan perkembangan kognitif. Membaca pemahaman merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang perlu dipahami dan menerapkan informasi yang ada dalam bahan-bahan tertulis. Proses membaca itu sulit didefinisikan secara tepat karena proses itu dipengaruhi banyak faktor. Terdapat sejumlah teori tentang proses pemahaman dengan memperhatikan perbedaan berbagai faktor. Sebagai contoh, penelitian Geyer (1972) menemukan sejumlah 77 model membaca. Model-model itu dapat digolongkan dalam dua kategori :

(1) Komponen-komponen yang digabung bersam-sama dan tidak memiliki identitas individual didalam keseluruhan proses membaca yang disebut dengan proses total.
(2) Komponen-komponen yang merupakan bagian-bagian yang berfungsi dalam hubungannya dengan bagian lainnya tetapi dapat dengan mudah dilacak dari mana asalnya, yang disebut dengan proses membaca disusun atas kombinasi sub keterampilan yang dapat dipisah-pisahkan.

Membaca dipandang sebagai proses total

Peneliti seperti Thorndike (1973) percaya bahwa membaca merupakan proses berfikir dan upaya untuk meningkatkan pemahaman harus memusatkan pada keterampilan berfikir itu. Beery (1967) menyatakan bahwa keterampilan itu ada tetapi tidak dapat digunakan secara terpisah. Seorang pembaca tidaklah membaca hanya untuk memperoleh gagasan utama atau gagasan rincian tetapi menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara bersama-sama, berpindah dari satu keterampilan ke keterampilan yang lain agar ia dapat memperoleh pemahaman.

Goodman (1973) mendeskripsikan membaca sebagai proses psikolinguistik, yakni pikiran dan bahasa saling berhubungan tetapi keduannya tidaklah sama. Pembaca mengalami siklus berfikir reflektif dalam menanggapi kata-kata yang tercetak, siklus ini bukanlah dipandang sebagai bagian dari proses membaca itu sendiri. Membaca merupakan pemrosesan informasi. Pembaca berinteraksi dengan masukan yang berupa tulisan dan pembaca berupaya untuk merekontruksi pesan yang disampaikan oleh penulis. Pembaca mengkonsentrasikan keseluruhan pengalaman dan belajar yang dimiliki pada tugas membaca ini, menggambarkan pengalamanpengalaman dan konsep yang telah dia peroleh dan juga kompetensi bahasa yang telah dicapai. Keberhasilan pemahaman bergantung kepada seberapa jauh pesan yang direkonstruksi pembaca itu cocok dengan pesan yang dimaksudkan penulis.

Smith (1973) yang juga psikologis, menyatakan bahwa membaca itu merupakan kegiatan
visual dan non visual. Kegiatan visual berasal dari apa-apa yang dilihatnya, yakni halaman yang tercetak. Kegiatan nonvisual datang dari apa yang dipikirkan otak. Informasi nonvisual adalah apa yang telah diketahui pembaca tentang membaca, bahasa dan dunia pada umumnya. Selanjutnya terjadi tukar-menukar antara visual dan nonvisual. Semakin banyak yang diketahi otak, semakin sedikit informasi visual yang disyaratkan untuk mengidentifikasi huruf, kata, atau makna dan sebaliknya.

Membaca dipandang sebagai subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan

(1) Definisi subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan Kategori kedua teori membaca pemahaman menyatakan bahwa subketerampilan atau tugas terpisah dapat diidentifikasi, baik digunakan secara sendiri-sendiri maupun gabungan yang mengarah kepada pemahaman bahan-bahan tertulis. Perhatian penelitian selama tiga puluh tahun terakhir ini mengarah kepada verifikasi keberadaan keterampilan yang dapat dipisah-pisah. Salah satu karya yang penting dalam membaca pemahaman dilakukan oleh Davis (1968). Dia menyusun butir-butir tes untuk mengukur delapan keterampilan membaca pemahaman dan menganalisisnya dengan teknik statistik. Delapan komponen utama membaca pemahaman yang dapat dipisah-pisahkan itu adalah :
a. Mengingat kembali makna kata
b. Menggambarkan inferensi makna kata dari konteks.
c. Menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dijawab secara eksplisit atau
dengan parafrase.
d. Merangkai gagasan dalam konteks.
e. Menggambarkan inferensi dari konteks.
f. Mengenali tujuan, sikap, nada dan mood penulis.
g. Mengikuti struktur bacaan.

(2) Pengorganisasian subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan untuk tujuan pengajaran
Berkaitan dengan keterampilan khusus yang dapat diidentifikasikan diatas kalau
keterampilan memahami dikelompokkan agar keterampilan itu mudah diajarkan pada anak-anak, keterampilan itu umumnya dimasukkan dalam tiga sistem klasifikasi utama yakni panjangnya unit, urutan taksonomi, dan sekumpulan keterampilan. Panjangnya unit, menekankan teknik pengajaran yang melibatkan pertama-tama pemahaman kata, kemudian kalimat, dan terakhir paragraf dan unit-unit yang lebih panjang. Makna masing-masing unit itu bebas sebagai bagian dari makna kata yang mengelilinginya. Sebagai contoh, mula-mula anak harus memahami bahwa kata lari memiliki makna yang
beragam sebelum anak itu dapat memahami maksud dari suatu kalimat. Selanjutnya, anak-anak harus memahami kata lari dalam kalimat agar keseluruhan paragraf dapat terpahami. Artinya, kata lari akan memiliki makna yang berbeda jika kata-kata lain dalam kalimat itu menyangkut permainan baseball dibandingkan jika kalimat itu mendeskripsikan balapan kuda.
Urutan taksonomi mencakup pembagian ketrampilan ke dalam kelompok-kelompok yang
hirarkis. Walaupun tidak ada perbedaan tingkat kesulitan ketrampilan dalam masing-masing kelompok setiap kelompok dalam hirarki itu dipandang lebih sulit dari pada kelompok sebelumnya. Setiap kelompok keterampilan dirancang untuk diajarkan sebelum salah satu kelompok itu berhasil dipahami. Sebagai contoh ketrampilan “mereorganisasi rincian” dalam kelompok “pemahaman literal” harus diajarkan sebelum ketrampilan “mengklasifikasi rincian” dalam kelompok reorganisasi (lihat taksonomi Barret).
Sistem klasifikasi sekumpulan ketrampilan menyajikan ketrampilan-ketrampilan dalam satu tampilan, tetapi suatu hirarki dalam arti satu ketrampilan harus dipelajari setelah ketrampilan yang lain tidak dilukiskan. Sebagai contoh, walaupun “memahami gagasan utama” ditempatkan lebih dulu dalam daftar taksonomi dibandingkan dengan “memahami urutan waktu, tempat, gagasan, atau tanggapan” itu tidak berarti bahwa “gagasan utama” harus dipelajari sebelum “urutan” dipahami lebih dahulu.

Pandangan dalam tulisan ini

Tulisan ini mengkombinasikan pandangan total maupun subketrampilan dalam membaca
pemahaman. Pemahaman dipandang sebagai proses total akan menjadi lebih mudah untuk diajarkan jika dapat dibagi menjadi unit-unit atau subketrampilan tertentu. Untuk memperoleh proses pemahaman setotal mungkin subketrampilan dibawah ini perlu dipahami.

Dua Belas Subketrampilan Pemahaman

(1) Memahami makna kata
(2) Identifikasi rincian
(3) Identifikasi gagasan utama
(4) Identifikasi urutan
(5) Identifikasi sebab-akibat
(6) Membuat inferensi
(7) Membuat generalisasi dan simpulan
(8) Identifikasi nada dan suasana (mood)
(9) Identifikasi tema
(10) Identifikasi perwatakan
(11) Identifikasi fakta, fiksi dan opini
(12) Identifikasi Propaganda

Strategi Pengajaran Ketrampilan Memahami

Penelitian menunjukkan bahwa bertanya yang efektif dapat digunakan sebagai alat untuk
meningkatkan berfikir anak (Piaget, 1967, Taba dan Elzey, 1964). Oleh karena ada hubungan yang jelas antara membaca pemahaman dan berfikir, masuk akal jika menggabungkan strategi bertanya pada pengajaran membaca pemahaman. Pertanyaan yang baik dapat mengidentifikasikan kebutuhan ketrampilan khusus anak dalam pengajaran, memberikan suatu cara bagi cara mengajar ketrampilan tertentu, dan mendorong ketrampilan yang telah diketahui siswa. Perlu diketahui perbedaan tiga tujuan berikut ini saat merancang pertanyaan membaca pemahaman, yakni : (a) penilaian (assesment), (b). mendorong (reinforcement), (c) pengajaran (instruction).

a) Pertanyaan yang menilai dan mendorong

Seorang murid yang mengetahui bagiaman menggunakan suatu ketrampilan misalnya,
gagasan utama yang mungkin bisa diidentifikasi dengan jawabannya yang benar diberi
pertanyaan penilaian “cerita ini berbicaratentang apa ?” Bagi siwa yang telah siap memiliki ketrampilan membaca, pertanyaan penguasaan/dorongan seperti “bagaimana kamu tahu bahwa yang kamu katakan itu merupakan gagasan utama ?” dapat memperkuat kemampuan siswa tentang ketrampilan itu.

b) Pertanyaan untuk menilai dan mengajar

Siswa yang menjawab tidak tepat terhadap pertanyaan penilaian berarti dia tidak belajar ketrampilan itu kecuali kalau guru mampu mengenali apa yang menjadi latar belakang siswa agar dapat menjawab pertanyaan itu dengan benar. Guru perlu menyusun pertanyaan yang secara khusus dirancang untuk mengajar ketrampilan itu. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyederhanakan pertanyaan dan memandu berfikir siswa yang akan mengarah kepada jawaban benar, yakni dengan menanyai siswa agar menemukan dukungan pertanyaan yang mungkin mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang benar.

Sajian dan Bahasan 12 Subketrampilan Memahami

Untuk memahami dengan baik subketrampilan memahami dan strategi yang disajikan untuk mengajarkan masing-masing subketrampilan itu, aspek-aspek berikut ini harus diperhatikan, yakni urutan pertanyaan, muatan ketrampilan dan perkembangan kognitif, prinsip-prinsip belajar, dan format penyajian setiap ketrampilan.

(1) Urutan Pertanyaan
Perlu dikemukakan lagi bahwa pertanyaan dalam strategi ini adalah diurutkan dari yang paling sulit sampai yang paling sederhana. Secepat siswa mampu menjawab dengan benar terhadap suatu pertanyaan, mereka diasumsikan mengetahui ketrampilan itu dan tidak perlu diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa dalam urutan itu. Jika anak-anak belum menjawab dengan benar sesuai dengan urutan pertanyaan itu, guru harus berupaya untuk merumuskan konteks yang lain yang mungkin lebih dikenal siswa bukan sekedar mengatakan “katakan jawabannya.”

(2) Muatan Ketrampilan dan Perkembangan Kognitif
Meskipun dua belas ketrampilan telah dikemukakan, anak-anak yang lebih kecil haus diharapkan untuk belajar semuanya. Jika anak-anak itu bertambah dewasa, kemampuan bernalarnya juga semakin dewasa. Perkembangan ini telah didiskripsikan oleh Piaget dalam teori perkembangan kognitif.

(3) Prinsip-prinsip Belajar

Fokus strategi bertanya adalah membantu anak menghubungkan ketrampilan membaca dengan kata-kata dan gagasan yang telah dimiliki anak-anak. Proses ini berkaitan dengan konsep psikolinguistik yang dikemukakan pada awal bab ini, yakni membaca merupakan pemrosesan informasi dengan cara pembaca menggunakan pengalaman dan konsep yang telah dia peroleh dan juga menggunakan kompetensi bahasan yang telah mereka miliki (Goodman 1973). Contoh yang sederhana pengaruh pengalaman dapat digambarkan dengan menanyai anak yang masih kecil untuk megemukakan makna kata paling tua. Anak umur 6-7 tahun akan menjawab paling tua adalah seperti saya yang paling tua sedangkan Erik yang paling muda. Anak yang lebih dewasa akan lebih abstrak dan dapat merangkai konsep-konsepnya bahwa hidupnya paling lama. Anak-anak kecil harus menerjemahkan sesuatu dengan istilah yang langsung dan konkret. Cara yang paling baik bagi guru adalah melakukan terjemahan ini, yakni menghubungkan ketrampilan baru dnegan latar belakang yang telah diketahui anak.

(4) Format Penyajian Ketrampilan.

Pada bagian berikut ini masing-masing dari 12 ketrampilan memhami dideskripsikan. Ketrampilan-ketrampilan membaca umumnya diajarkan secara langsung dalam kelas membaca tetapi ketrampilan itu harus digunakan anak dalam berbagai bidang pelajaran yang mempersyaratkan mereka harus membaca. Guru bidang studi harus secara langsung mengatakan bahwa ketrampilan memahami sangat perlu pada pelajaran bidang studi yang lain. Melalui penyajian 12 ketrampilan itu sudut pandang teoritis yang menggambarkan teknikteknik yang digunakan akan dibahas. Teori yang disajikan pada format ini didasarkan pada asumsi bahwa teknik yang digunakan pada butir-butir tertentu sangat penting dan perlu ditekankan. Sebagai contoh, saat “memahami makna kata” dideskripsikan. Disini pembaca buku teks didorong untuk mencari sudut pandang teoritis selama membaca bagian berikut ini.
Setelah setiap ketrampilan dideskripsikan, pertanyaan yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi anak yang menyangkut ketrampilan itu dikemukakan. Untuk mempermudah, semua pertanyaan didasarkan pada buku Josita’s Dancing cleaner. Akan tetapi guru tidak harus menilai 12 ketrampilan itu pada pelajaran yang sama, tetapi guru hendaknya menilai 2 atau 3 ketrampilan pada satu waktu untuk menjamin diagnosis guru.

Deskripsi dari 12 ketrampilan memahami bacaan adalah sebagai berikut :

(a) Memaknai kata, yakni menanyakan makna denotatif, konotatif, bahasa berkias, ciri
khas bahasa itu (kata-kata pinjaman, singkatan, akronim)
(b) Mengidentifikasi rincian, yakni mencatat isi bacaan, misalnya mencatat ide-ide
penjelas.
(c) Identifikasi gagasan utama, yakni mencari ide pokok bacaan
(d) Identifikasi urutan, yakni menggunakan kata-kata kunci untuk urutan, baik urutan
waktu maupun tempat.
(e) Mengidentifikasi hubungan sebab akibat, yakni menyangkut pertanyaan mengapa dan
bagaimana
(f) Membuat inferensi
Untuk membuat inferensi, pembaca harus mengenali dan memahami hubungan rincian
dengan pesan yang tidak disampaikan oleh penulis. Guru dapat membantu proses ini dengan menyusun pertanyaan yang memusatkan perhatian siswa tentang (1) kata kunci dalam bacaan (2) kemungkinan implikasi makna dibalik kata-kata yang dinyatakan, (3) inferensi yang mungkin dibuat tentang orang atau siuasi yang diambil dari deskripsi yang menyertainya, sekelilingnya, atau tindakannya.
(a) Membuat generalisasi/konklusi, yakni kesimpulan umum
(b) Identifikasi nada dan suasana
Nada dan suasana diciptakan pengarang untuk membantu menyampaikan gagasannya dan
ini umumnya penting pada bidang studi seni sastra dan kajian sosial. Nada didefinisikan secara berbeda-beda oleh para penulis namun umumnya dapat dikatakan bahwa nada itu meyangkut gaya penlis dalam mengekspresikan sikapnya terhadap pokok persoalan pembaca. Nada bukanlah sikap itu sendiri tetapi menyangkut gaya tulisan pengarang yang mencerminkan sikapnya, misalnya keseriusannya, kesimpatikannya, atau ketidaksimpatikannya. Sedangkan mood/suasana, menyangkut karakteristik bahan yang berkaitan dengan perasaan pembacanya, apakah karya itu dapat menciptakan emosi pembaca.

(a) Mengidentifikasi tema, yakni menentukan tema bacaan.
(b) Mengidentifikasi perwatakan, yakni diidentifikasi melalui apa yang dikatakan tokoh, apa yang dilakukan tokoh, apa yang dikatakan pelaku lain tentang tokoh, dan apa yang dikatakan penulis tentang tokoh.
(c) Identifikasi fakta, fiksi, dan opini, yakni mencari dan membedakan hal-hal yang bersifat nyata (fakta), khayalan (fiksi) atau pendapat (opini).
(d) Identifikasi propaganda, yakni mencari kata-kata atau kalimat yang berupa piranti
persuatif dalam bacaan.

3. Simpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, berikut ini akan dikemukakan beberapa
kesimpulan :

(1) Keterampilan memahami dapat dibagi ke dalam subketrampilan agar proses pengajarannya dapat direncanakan dan diajarkan dengan baik

(2) Jika anak sudah siap untuk mempelajari subketrampilan membaca pemahaman, bagianbagian subketrampilan itu harus diajarkan. Anak-anak perlu memahami setiap istilah dari bagian subketrampilan itu agar mereka dapat berkomunikasi secara efektif dengan para guru mereka. Sebagai contoh, mereka harus mengetahui apa itu makna istilah tema, sebelum mereka menyelesaikan kegiatan mengidentifikasi tema bacaan.

(3) Ketrampilan-ketrampilan tersebut harus diajarkan dalam beberapa waktu.

Penyajiannya didasarkan pada prasyarat keterampilan yang harus dipelajari lebih dahulu disamping berdasarkan hakikat bahan yang harus dibaca.

(4) Meskipun pemahamana itu dipisah-pisah ke dalam sub ketrampilan, tetapi keterampilan-keterampilan itu harus diajarkan berdasarkan keterkaitan antar subetrampilan dan hakikat keseluruhan pemahaman. Hubungan antara ketrampilan membaca, gagasan, dan kata-kata yang telah dimiliki sudut pandang psikolinguistik, yakni membaca selalu ditafsirkan sesuai dengan pengalaman pembacanya.

(5) Membaca pemahaman dan berpikir itu merupakan proses yang sama. Dengan demikian pertanyaan yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dapat digunakan juga untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman.

(6) Pertanyaan dapat dirancang sesuai dengan rentangan dari pertanyaan sederhana sampai yang rmit. Untuk memaksimalkan keefektifan pengajaran dengan proses bertanya itu guru hendaknya mencoba memodifikasi dan menyederhanakan pertanyaan sehinggaanak mampu menjawab secara benar, bukan hanya menuntut jawaban benar dari anak. Rentangan pertanyaan yang lebih sederhana.

(7) Teknik bertanya harus diajarkan kepada anak sebagai strategi belajar ketrampilan. Ini
merupakan salah satu cara bagi anak untuk belajar menjadi pembaca yang baik.

(8) Pelajaran yang relevan dapat bermanfaat untuk membantu anak dalam rangka menginteralisasi ketrampilan membaca.

(9) Anak-anak pada semua umur tidak dapat belajar 12 subketrampilan itu secara keseluruhan. Beberapa ketrampilan terlalu rumit untuk anak-anak yang lebih kecil. Guru hendaklah selalu menyadari perkembangan kognitif anak saat mengajarkan ketrampilan itu. Secara umum anak yang lebih dewasa dapat diberi ketrampilan yang memiliki tingkat abstraksi lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya.

(10) Karena anak harus membaca bukan hanya buku teks membaca, tetapi juga buku teks mata pelajaran lain, contoh-contoh bagaimana ketrampilan membaca harus ditekankan pada semua bidang studi. Walaupun ketrampilan membaca sebagian besar pada awalnya hanya dalam pelajaran membaca, guru harus mendorong penggunaan ketrampilan itu kapan saja selama ada pelajaran bidang studi yang lain.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.