Kajian Pokok Ekonomi Mikro

Kajian Pokok Ekonomi Mikro


Preferensi dan Utilitas

Tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia dinamakan dengan utilitas. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
Dengan asumsi kesukaan (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
Slope kurva IC menunjukkan laju substitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).

Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah. Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slope-nya berubah.

Permintaan Individual

Kepuasan maksimum tercapai pada titik persinggungan antara kurva indiferen dengan garis anggaran. Pada saat itu slope garis anggaran sama dengan slope kurva indiferen. Syarat ini merupakan syarat tercapainya kepuasan maksimum.
Syarat maksimisasi kepuasan adalah , sedangkan slope kurva indiferen, maka . Jadi, untuk maksimisasi dengan kendala anggaran, nilai kepuasan marginal setiap rupiah yang dibelanjakan pada masing-masing barang harus sama.

Apabila pendapatan berubah maka garis anggaran akan bergeser. Pergeseran ini juga akan menghasilkan titik persinggungan antara kurva indiferen dengan garis anggaran. Dengan mengubah tingkat pendapatan berkali-kali dan menemukan keseimbangan konsumen maka kita memperoleh kurva konsumsi pendapatan (income consumption curve, ICC). Kurva ICC merupakan titik-titik persinggungan antara IC dengan garis anggaran atau juga merupakan titik-titik keseimbangan konsumen pada berbagai tingkat pendapatan. Dari kurva ICC ini kita dapat menurunkan kurva Engel.

Kurva Engel menunjukkan pengaruh perubahan pendapatan terhadap pembelian suatu barang. Slope kurva Engel positif menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan diikuti kenaikan jumlah barang yang dibeli. Fenomena ini merupakan gambaran barang normal. Kurva Engel yang tegak menggambarkan bahwa perubahan pendapatan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan jumlah barang yang dibeli. Hal ini menunjukkan bahwa barang tersebut termasuk kelompok barang kebutuhan pokok. Kurva Engel yang semakin landai, menunjukkan kenaikan pendapatan lebih rendah dibandingkan kenaikan
jumlah barang yang dibeli. Kurva seperti ini, menunjukkan bahwa barang yang dibicarakan merupakan barang lux. Kurva Engel mungkin ber-slope negatif, menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan diikuti penurunan jumlah barang yang dibeli. Kasus ini terjadi untuk barang inferior.
Apabila kita mengubah harga barang X, namun harga barang Y tetap, pendapatan dan preferensi konsumen tetap, kita dapat menggambar kurva konsumsi harga (price consumption curve, PCC). Kita menganggap bahwa harga barang X berubah berkali-kali, kemudian kita catat titik persinggungan antara kurva IC dengan garis anggaran yang berotasi. Kurva PCC diperoleh dari titik-titik keseimbangan konsumen apabila kita mengubah tingkat harga barang X, sedangkan harga barang Y, pendapatan dan preferensi konsumen tetap. Dari kurva PCC ini kita dapat menurunkan kurva permintaan barang X.

Permintaan Pasar

Permintaan pasar merupakan penjumlahan horizontal dari permintaan individu dari semua konsumen yang ada di pasar. Kurva permintaan pasar menunjukkan berbagai jumlah barang yang diminta di pasar pada suatu waktu tertentu pada berbagai tingkat harga, ceteris paribus.
Elastisitas adalah persentase perubahan jumlah yang diminta akibat perubahan harga atau %DQ/%DP. Elastisitas harga permintaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu banyaknya barang pengganti (substitusi), dan waktu yang diberikan kepada konsumen untuk melakukan penyesuaian. Apabila konsumen diberi waktu untuk melakukan penyesuaian maka fungsi permintaan akan semakin elastis.
Elastisitas pendapatan permintaan (income elasticity of demand) menunjukkan persentase perubahan jumlah yang diminta akibat perubahan pendapatan sebesar 1 persen atau (DQ/Q)/(DI/I), di mana I adalah pendapatan. Suatu barang termasuk barang normal apabila memiliki elastisitas pendapatan positif (elastis), dan inferior bila elastisitas pendapatannya negatif. Jika elastisitas pendapatannya positif dan kurang dari 1 maka barang tersebut termasuk kebutuhan pokok, sedangkan apabila elastisitas pendapatan lebih dari 1 termasuk barang lux.
Dua buah barang bisa saling menggantikan (substitusi) maupun saling melengkapi (komplementer). Hubungan ini ditentukan oleh nilai elastisitas silang, yang mengukur persentase perubahan jumlah barang X yang diminta akibat perubahan harga barang Y sebesar I persen atau (DQx/Qx)/(DPy/Py).
Permintaan berpengaruh terhadap penerimaan produsen karena pengeluaran konsumen merupakan penerimaan produsen. Penerimaan total perusahaan (produsen) adalah TR (Total Revenue) = P.Q, di mana P adalah harga per unit produk dan Q adalah banyaknya produk. Penerimaan Marjinal (Marginal Revenue, MR) adalah perubahan penerimaan total karena perubahan jumlah yang dijual (DTR/DQ).
Efek Substitusi dan Efek Pendapatan
Apabila harga suatu barang turun, ada dua kekuatan yang menyebabkan jumlah barang yang diminta berubah, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan.
Untuk barang normal, efek pendapatan dan efek substitusi akan mendorong konsumen untuk menambah jumlah barang yang turun harganya.
Untuk barang inferior, efek substitusi akan mendorong konsumen menambah jumlah barang tersebut karena sekarang harganya relatif lebih murah disanding harga barang lain. Efek pendapatan akan berakibat negatif, adanya pendapatan ekstra mendorong konsumen mengurangi pembelian barang yang turun harganya dan berusaha menggantikannya dengan barang yang lebih baik kualitasnya
Apabila harga suatu barang turun, ada dua kekuatan yang menyebabkan jumlah barang yang diminta berubah, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan.
Untuk barang normal, efek pendapatan dan efek substitusi akan mendorong konsumen untuk menambah jumlah barang yang turun harganya.
Untuk barang inferior, efek substitusi akan mendorong konsumen menambah jumlah barang tersebut karena sekarang harganya relatif lebih murah disanding harga barang lain. Efek pendapatan akan berakibat negatif, adanya pendapatan ekstra mendorong konsumen mengurangi pembelian barang yang turun harganya dan berusaha menggantikannya dengan barang yang lebih baik kualitasnya.

Teori revealed Preference

Jika sebuah bundel dipilih ketika bundel lain dapat dipilih maka dikatakan bahwa bundel pertama adalah revealed preference terhadap bundel kedua. Jika pilihan konsumen selalu pada sebuah bundel yang paling dipilih dari bundel yang dapat dipilihnya maka berarti pilihan bundel tersebut harus dipilih daripada bundel lainnya yang dapat dipilih (tetapi tidak dipilih). The Weak Axiom of Revealed Preference (WARP) dan the Strong Axiom of Revealed Preference (SARP) adalah kondisi yang harus ditaati konsumen jika konsumen tersebut konsisten terhadap model ekonomi mengoptimalkan pilihan
Tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia dinamakan dengan utilitas. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
Dengan asumsi kesukaan (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
Slope kurva IC menunjukkan laju substitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).
Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah.
Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slope-nya berubah.
Produksi dalam Jangka Pendek
Perusahaan memiliki input tetap dalam jangka pendek dan menentukan berapa banyaknya input variabel yang harus dipergunakan. untuk membuat keputusan, pengusaha akan memperhitungkan seberapa besar dampak penambahan input variabel terhadap produksi total.
Produksi Marginal (MP), yaitu tambahan output karena tambahan input sebanyak satu satuan. Produksi rata-rata (AP) adalah rasio antara total produksi dengan input atau produksi per tenaga kerja. Total Produksi (TP) yaitu jumlah seluruh produk yang dihasilkan.
Law of Diminishing Return, LDR adalah hukum pertambahan hasil yang semakin menurun. Apabila input variabel dipergunakan (ditambahkan) pada input tetap terus-menerus maka hasil yang diperoleh akan semakin rendah dengan semakin banyaknya input variabel yang dipergunakan

Produksi dalam Jangka Panjang

Jangka panjang suatu proses produksi adalah jangka waktu, di mana semua input atau faktor produksi bersifat variabel. Dalam jangka panjang tidak ada input tetap.Berbagai kombinasi input yang menghasilkan tingkat output yang sama digambarkan dengan kurva isokuan (isoquant curve). Bentuk kurva isokuan serupa dengan bentuk kurva indiferen. Semakin ke kanan atas kurva isokuan menunjukkan tingkat output yang semakin tinggi. Demikian sebaliknya, semakin ke kiri bawah semakin rendah tingkat outputnya. Apabila isokuan produsen bergerak ke kanan atas, berarti produsen menaikkan skala produksinya atau melakukan perluasan usaha (ekspansi).
MRTSL for K = Marginal Rate of Technical Substitution L for K adalah laju substitusi marginal L terhadap K secara teknis. MRTS ini menunjukkan apabila produsen menambah satu unit L, berapa unit K dapat, dikurangi (digantikan) tanpa mengurangi tingkat produksi. Secara grafis MRTS ini menunjukkan kemiringan (slope) kurva isokuan.
Return to Scale (RTS) adalah suatu ciri dari fungsi produksi yang menunjukkan hubungan antara perbandingan perubahan semua input (dengan skala perubahan yang sama) dan perubahan output yang diakibatkannya. IRTS: Increasing Return to Scale: tambahan output lebih tinggi dibandingkan dengan tambahan input. DRTS: Decreasing Return to Scale: tambahan output lebih rendah dibandingkan dengan tambahan input. CRTS: Constant Return to Scale: tambahan output sama dengan tambahan input .

Teori Biaya

Produksi merupakan kegiatan mengombinasikan input untuk menghasilkan output secara efisien. Biaya produksi perusahaan diperoleh dari penggunaan input dalam proses produksi dan informasi mengenai harga input. Fungsi biaya menunjukkan biaya minimum yang harus ditanggung oleh pengusaha untuk memproduksi berbagai tingkat output. Fungsi biaya tersebut minimum mengingat bahwa pengusaha bekerja secara efisien.
Biaya eksplisit adalah biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh perusahaan untuk membeli atau menyewa input yang dipergunakan dalam proses produksi, termasuk gaji pegawai, sewa tanah atau bangunan, pembelian bahan dan lain-lain. Biaya implisit adalah biaya yang dicerminkan oleh nilai input yang dimiliki dan digunakan sendiri oleh perusahaan di dalam proses produksinya. Perbedaannya adalah perusahaan tidak perlu membayar atas penggunaan input tersebut karena sudah milik sendiri. Meskipun demikian, nilainya perlu diperhitungkan dalam penghitungan biaya. Biaya privat adalah biaya yang ditanggung oleh individu atau perusahaan di dalam proses produksi barang dan jasa. Biaya sosial adalah biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat secara keseluruhan, termasuk misalnya biaya polusi akibat kegiatan perusahaan. Biaya sosial ini dapat menjadi biaya privat melalui peraturan pemerintah, misalnya pemerintah mengatur supaya perusahaan memiliki instalasi pengolah limbah.
Berbagai kombinasi input yang membebani perusahaan dengan biaya dalam jumlah yang sama dinamakan isokos (isocost). Untuk meminimumkan biaya produksi sejumlah output tertentu, perusahaan harus memilih kombinasi input yang membebani biaya minimum (Least Cost Combination). Kombinasi ini terjadi pada saat garis isokos menyinggung kurva isokuan.
Dalam jangka pendek karena minimal terdapat satu input yang bersifat tetap maka akan terdapat biaya yang bersifat tetap. Biaya ini dina makan biaya tetap total (Total Fixed Cost, TFC). Biaya-biaya untuk penggunaan input yang bersifat variabel dinamakan biaya variabel total (Total Variable Cost, TVQ). Biaya total, TC = TFC + TVC.

Biaya jangka panjang

Hukum penambahan hasil yang semakin berkurang (Law of Diminishing Return, LDR), yaitu apabila semakin banyak input variabel dipergunakan pada input tetap maka tambahan output semakin lama semakin rendah.
Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost, AFC) = TFC/Q. Biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost, AVC) adalah biaya variabel total dibagi dengan output total, AVC = TVC/Q. Biaya marginal (Marginal Cost, MC) adalah perubahan biaya total dibagi dengan perubahan output yang diproduksi, MC = DTC/DQ. Biaya rata-rata (Average Cost, AC) adalah biaya total dibagi tingkat output yang dihasilkan, AC = TC/Q.
Kenaikan hasil (increasing returns to scale) berarti output meningkat dengan proporsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi kenaikan penggunaan input sehingga biaya per unit output menurun (dengan anggapan harga input tetap). Penurunan hasil (decreasing returns to scale) berarti output meningkat dengan proporsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi kenaikan penggunaan input sehingga biaya per unit output menurun (dengan anggapan harga input tetap). Increasing returns to scale ditunjukkan oleh LAC yang menurun, sedangkan decreasing returns to scale ditunjukkan oleh kurva LAC yang menaik.
Penerimaan total produsen adalah TR (Total Revenue) = P.Q. Kurva biaya total jangka panjang merupakan kumpulan titik-titik minimum biaya jangka pendek. Keseimbangan produsen tercapai apabila kemampuan teknis dan kemampuan ekonomis sama. Isokuan menggambarkan kemampuan (kendala) produsen secara teknis dan isokos menggambarkan kemampuan (kendala) produsen secara ekonomis maka keseimbangan produsen dicapai dengan menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan ekonomis. Keseimbangan produsen tercapai jika isokuan bersinggungan dengan isokos. Persinggungan isokuan dengan isokos terjadi pada saat slope isokuan sama dengan slope isokos

Perilaku Menghadapi Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh pelaku ekonomi, baik itu konsumen maupun produsen. Perilaku konsumen menghadapi ketidakpastian digambarkan oleh hubungan antara pendapatan dan utilitas konsumen. Pendapatan merupakan unsur pokok yang membuat permintaan konsumen menjadi bersifat efektif. Pembelian yang dilaksanakan memungkinkan konsumen menguasai barang yang dapat dikonsumsikannya. Tindakan konsumen ini memberikan utilitas pada konsumen. Dengan demikian, ada hubungan yang khas antara pendapatan dan utilitas. Perilaku konsumen dalam ketidakpastian bisa diamati dengan menggunakan teori probabilitas. Ilmu statistik dapat membantu untuk menghitung besarnya probabilitas.
Dalam menghadapi ketidakpastian perilaku produsen mirip dengan perilaku konsumen. Hal yang membedakan antara keduanya adalah pada pay off dari perilakunya. Apabila konsumen menginginkan utilitas maka produsen menginginkan pay off dalam bentuk pendapatan (revenue).

Ketidakpastian harga

Teori ekonomi mikro mengasumsikan bahwa dalam kepastian dan dengan mengabaikan struktur pasar, tujuan suatu perusahaan adalah untuk memaksimalkan laba (profit) dengan batasan tertentu. Output optimal diperoleh pada saat marjinal cost perusahaan sama dengan marjinal revenue-nya. Jika ketidakpastian terjadi, tidak ada alasan yang dapat dipercayai bahwa prinsip maksimasi dapat dipertahankan.
Dari model Sandmo dan Leland dapat diambil beberapa kesimpulan utama dari teori perusahaan yang beroperasi di bawah ketidakpastian.
1. Jika suatu perusahaan adalah “penghindar/penolak risiko” output optimalnya lebih kecil dari output nyatanya/pada kondisi kepastian (certainty output).
2. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan biaya tetapnya.
3. Jika suatu perusahaan kompetitif memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, hal tersebut mempunyai suatu kurva penawaran miring ke atas.
4. Jika suatu perusahaan adalah penghindar/penolak risiko, suatu ekulibrium akan terjadi, bahkan dalam biaya marjinal yang konstan atau menurun.
5. Jika suatu perusahaan adalah penghindar/penolak risiko, ekuilibrium memerlukan adanya profit yang positif.
6. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan tingkat risiko yang dirasakannya;
7. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan biaya variabelnya.
8. Dalam ketidakpastian perusahaan yang kompetitif akan memproduksi output yang lebih tinggi daripada perusahaan non- kompetitif, yang dijual pada tingkat harga yang sama.

oligopoly

Salah satu hal membedakan bentuk oligopoli dengan bentuk organisasi pasar lainnya adalah ketergantungan atau tingginya persaingan di antara perusahaan anggota yang disebabkan oleh sedikitnya anggota. Dalam menentukan kebijakan harga, iklan, diferensiasi produk, dan lain-lain, perusahaan harus memperhitungkan kemungkinan adanya reaksi perusahaan pesaingnya. Perusahaan pesaing dapat menentukan kebijakan balasan dalam bentuk apa pun maka tidak ada model oligopoli yang standar (unik). Masing-masing kemungkinan reaksi dari pesaing merupakan model oligopoli tersendiri.
Model-model oligopoli, yaitu oligopoli model Cournot, oligopoli model Bertrand, oligopoli model Edgeworth, oligopoli model Chamberlain, oligopoli model Sweezy (kinked demand), oligopoli Berkolusi: model Kartel, oligopoli berkolusi, yaitu kepemimpinan harga (price leadership).

Teori oligopoly

Pasar oligopoli bercirikan jumlah penjual sedikit yang membuat persaingan di antara oligopolis menjadi sangat intensif. Oligopoli adalah bentuk struktur pasar yang relatif banyak dalam sektor manufaktur atau industri suatu perekonomian. Beberapa industri oligopoli adalah mobil, rokok, semen, pupuk, penerbangan, dan lainnya. Berdasar jenis barang yang dijual oligopoli dibedakan 2 macam. Jika produknya homogen disebut oligopoli murni (pure oligopoly). Jika produknya berbeda corak disebut oligopoli beda corak (differentiated oligopoly).
Asumsi yang mendasari kondisi di pasar oligopoli adalah pertama, penjual sebagai price maker. Penjual bukan hanya sebagai price maker, tetapi setiap perusahaan juga mengakui bahwa aksinya akan mempengaruhi harga dan output perusahaan lain, dan sebaliknya. Kedua, penjual bertindak secara strategik. Asumsi ketiga, kemungkinan masuk pasar bervariasi dari mudah (free entry) sampai tidak mungkin masuk pasar (blockade), dan asumsi keempat pembeli sebagai price taker. Setiap pembeli tidak bisa mempengaruhi harga pasar.

Menurut Sweezy (1939), salah satu ciri reaksi oligopolis jika terjadi perubahan harga adalah
(1) jika suatu oligopolis menurunkan harga maka oligopolis cenderung juga akan menurunkan harga karena tidak mau kehilangan konsumen dan
(2) jika oligopolis menaikkan harga maka akan kehilangan konsumen karena oligopolis lain tidak menaikkan harga dan akan mendapat tambahan konsumen dengan tanpa melakukan reaksi apapun. Hal ini menyebabkan kurva permintaan yang dihadapi oligopolis merupakan kurva yang patah (kinked demand curve).

Teori Persaingan Monopolistik
Pasar persaingan monopolistik memiliki karakteristik yang sama dengan yang ada dalam persaingan sempurna, kecuali perusahaan menjual produk diferensiasi dan bukannya produk yang homogen.
Teori persaingan monopolistik didasarkan pada 3 asumsi pokok, yang pertama adalah setiap perusahaan memproduksi satu jenis atau satu merek khas dari produk diferensiasi dalam industri. Asumsi yang kedua, dalam pasar industri monopolistik berisi begitu banyak perusa¬haan yang masing-masing saling bersaing secara ketat sehingga masing-masing mengabaikan reaksi yang mungkin timbul dari para pesaingnya bila ia membuat keputusan terhadap harga output-nya. Asumsi ketiga adalah adanya kebebasan untuk masuk dan keluar dari industri.
Perusahaan dalam persaingan monopolistik menghadapi kurva permintaan yang kemiringannya menurun dan dapat menghasilkan keuntungan monopolis dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, perusahaan baru memasuki industri bila keuntungan bisa diperoleh dan titik keseimbangan mensyaratkan setiap perusahaan memperoleh laba sebesar nol. Kurva permintaan setiap perusahaan menyinggung kurva biaya rata-ratanya. Hal ini berarti bahwa setiap perusahaan berproduksi kurang dari tingkat output yang biayanya minimum.

Ada tiga alternatif penting bagi perusahaan persaingan monopolistik dalam melakukan kegiatan usahanya. Jika biaya total sama dengan pendapatan total maka keuntungan ekonomi perusahaan adalah nol. Perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal. Apabila harga lebih kecil dibandingkan dengan biaya total rata-rata namun lebih besar dibandingkan biaya variabel rata-rata maka perusahaan mengalami kerugian namun masih mampu meneruskan produksi karena perusahaan akan mengalami kerugian yang lebih besar apabila menghentikan produksi. Sementara jika harga lebih kecil dibandingkan biaya variabel rata-rata maka lebih baik perusahaan memutuskan untuk gulung tikar atau menutup usahannya.
Persaingan monopolistik tidak harus mengakibatkan terjadinya inefisiensi. Meskipun setiap perusahaan berproduksi dengan biaya yang lebih mahal daripada biaya seminimum mungkin, produknya akhirnya akan dinilai oleh konsumen sehingga perlu dipikirkan untuk menambah biaya.

Persaingan Monopolistik
Persaingan monopolistik merupakan gabungan antara persaingan sempurna dan monopoli. Seperti persaingan sempurna, dalam persaingan monopolistik terdapat beberapa penjual, masing-masing penjual terlalu kecil sehingga tidak bisa mempengaruhi penjual lainnya. Perusahaan juga bisa masuk dan keluar dari pasar dengan agak mudah. Namun, seperti dalam monopoli, perusahaan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga produknya. Kemampuan ini muncul karena adanya diferensiasi produk.
Dalam jangka pendek, perusahaan dalam persaingan monopolistik mungkin memperoleh laba ekonomis, break even atau merugi. Dalam jangka panjang perusahaan bisa mengubah skala produksinya dan ke luar atau masuk industri. Dalam persaingan monopolistik, perusahaan dapat mengubah karakteristik produk untuk mempengaruhi selera konsumen.

Teori Permainan (Game Theory)
Teori permainan merupakan metode analisis ekonomi mikro pada tingkat menengah mengenai pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan terdapat strategi yang bersifat interaktif di antara pelaku-pelaku ekonomi. Proses tersebut dapat dianalisis dalam berbagai model permainan.

Model-model dalam teori permainan, antara lain berikut ini.
1. Model permainan statis dengan informasi lengkap (static games of complete information). Bentuk normal permainan bisa berupa matriks atau tabel. Metode lain untuk melukiskan permainan adalah bentuk ekstensif, yaitu diagram pohon. Setiap strategi dilukiskan sebagai cabang, sedangkan posisi masing-masing pemain dilukiskan sebagai titik simpul.
2. Model permainan dinamis dengan informasi lengkap (dynamic games of complete information). Dalam model ini, diasumsikan kedua pemain mengambil strategi secara bergantian, masing-masing mempunyai informasi yang lengkap, dan hasil yang diperoleh kedua pemain merupakan kombinasi dari strategi yang diambil kedua pemain.
3. Model dynamic games of complete but imperfect information. Dalam model ini, para pemain bergerak dalam satu sequence, semua gerakan diketahui secara umum sebelum gerakan berikutnya dipilih, dan pay-off dari para pemain, dari semua kombinasi gerakan yang feasible telah diketahui secara umum.
3. Dynamic games of incomplete information. Kasus permainan ini sering dijumpai dalam dunia nyata. Dalam model ini terdapat informasi yang tidak simetris di antara para pelaku.
4. Mixed Strategy. Dalam model ini pemain menghadapi dua macam ketidakpastian yaitu ketidakpastian apa strategi yang akan diambil oleh lawan (pesaing) dan ketidakpastian oleh dirinya sendiri dalam arti strategi apa yang akan diambil oleh dirinya sendiri.
5. Two-stages game of complete but imperfect information. dalam model ini perlu dibedakan antara imperfect information dengan incomplete information. Imperfect information digunakan untuk kasus static atau permainan simultan sedangkan incomplete information dipergunakan pada kasus, di mana pemain tidak yakin mengenai pay-off.

Keseimbangan Umum

Suatu perekonomian dikatakan dalam keadaan keseimbangan umum, apabila ada suatu himpunan harga yang dapat menyamakan permintaan dan penawaran sehingga terjadi keseimbangan dalam tiap produk dan faktor pasar serta saling konsisten.
Yang pertama kali mempersoalkan ada atau tidaknya keseimbangan umum itu ialah Leon Walras, akhir abad ke-19.
Secara matematika dapat dibuktikan bahwa titik keseimbangan umum itu memang ada dengan syarat pasar harus kompetitif sempurna.

Ekonomi Kesejahteraan

Kriteria Pareto tak dapat mengevaluasi suatu perubahan yang membuat seseorang sejahtera dan yang lainnya menderita. Oleh karena banyak kebijaksanaan mengenai perubahan cenderung membuat seseorang sejahtera dan lain menderita maka kegunaan criteria Pareto amat terbatas. Keterbatasan ini dicoba untuk dikoreksi oleh Kaldor dengan menggunakan kriteria kompensasi. Oleh yang sejahtera kepada yang menderita.

DAFTAR PUSTAKA
Awh. R.Y. (1976). Microeconomic: Theory and Applications. Santa Barbara: John Wiley & Sons Inc.
Arrow and Debreu. (1954). Econometrica. July 1954.
Catur Sugiyanto. (1995). Ekonomika Mikro, Ringkasan Teori, Soal, Trik, dan Jawaban. Ed. ke-1. Yogyakarta: BPFE.
Quirk and Sapoonik. (1954). Econometrica. July 1954.
Kaldor N. (1939). Welfare Propositions of Economics and Interpersonal Comparisons of Utility. Economic Journal. Vol. 49.
Hicks J.R. (1939). The Foundation of Welfare Economics. Economic Journal Vol. 49.

About these ads

4 Tanggapan

  1. Trima kasih banyak……………… saya terbantu banget dalam mendalami materi kuiah yang sesuai dengan jurusan saya.

    • ass…mas q jga ngambl jursn ekonomo di unindra,boleh q mnta no hp ny ?atau g zmz aj knmer q ne 085714354354….q mash ank bru buth bantuan bimbingan.maksh mz

  2. makash banyak,,.

  3. Oke Trims Banget…….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.