MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK MELALUI PENSINERGIAN PENDIDIKAN RUMAH DAN SEKOLAH

MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK MELALUI PENSINERGIAN PENDIDIKAN RUMAH DAN SEKOLAH
M. Solehuddin

Globalisasi dan desentralisasi yang akhir-akhir ini menjadi arus kehidupan yang terjadi secara simultan di Indonesia dapat menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi setiap warga masyarakat untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.
Kehidupan global dengan segala kemajuan ilmu dan teknologinya telah menyediakan berbagai fasilitas belajar dan kehidupan yang memungkinkan masyarakat untuk belajar lebih banyak dan mencapai kondisi kehidupan yang lebih sejahtera dan berkualitas.
Begitupun, desentralisasi telah memberi peluang kepada masyarakat, khususnya di daerah, untuk membangun daerahnya secara lebih maksimal sesuai dengan permasalahan, kebutuhan, karakteristik, dan norma-norma masing-masing (Solehuddin, 2000).
Namun, fakta berbicara lain. Gejala perilaku masyarakat dewasa ini, termasuk perilaku remaja dan anak-anak, sudah sangat mengakhawatirkan. Globalisasi yang sejatinya diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, masih melahirkan berbagai persoalan kehidupan yang sangat pelik. Begitupun, desentralisasi
yang semula dirancang untuk lebih memberi peluang kepada masyarakat untuk memberdayakan diri, juga masih melahirkan ekses-ekses kehidupan yang belum
sepenuhnya teratasi. Pemerintah sendiri (Pemerintah Republik Indonesia, 2010)
mengakui akan adanya persoalan kehidupan bangsa yang krusial ini seperti dituturkan pada Latar Belakang Kebijakan Nasional tentang Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2015, yakni bahwa pada saat ini masih terjadi kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang masih besar, kerusakan lingkungan yang terjadi dimana-mana, ketidakadilan
hukum, pergaulan bebas dan pornografi di kalangan remaja, kekerasan dan kerusuhan serta tindakan anarkis di mana-mana, konflik sosial, serta korupsi yang semakin merambah ke berbagai sektor kehidupan. Semua ini mengindikasikan adanya pergeseran ke arah ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa.
Kondisi perilaku masyarakat yang sangat mengkhawatirkan tersebut telah mengusik perhatian pemerintah sehingga pada tahun ini dikeluarkan suatu kebijakan yang sangat memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Namun, tidaklah mungkin permasalahan tersebut hanya ditangani oleh pemerintah. Semua kita, apalagi pendidik,
perlu turut berperan serta dalam memberikan sumbangan pemikiran dan upaya maksimal dalam mengatasi persoalan bangsa seperti itu.
Sebagai akademisi pendidikan, melalui makalah ini penulis bermaksud untuk berurun rembuk merumuskan pemikiran-pemikiran yang diharapkan bermanfaat dalam memformulasikan kebijakan dan program-program pendidikan karakter. Secara lebih
operasional, makalah ini dimaksudkan untuk melakukan kajian tentang pengertian karakter, terbentuk dan berkembangnya karakter pada anak, masalah pendidikan karakter di Indonesia, menjadikan rumah sebagai lembaga pendidikan karakter yang pertama dan utama, pendekatan pendidikan karakter di sekolah, serta bagaimana mensinergikan pendidikan rumah dan sekolah untuk membangun dan mengembangkan karakter anak.

Apakah Karakter Itu?

Untuk melakukan kajian tentang pendidikan karakter adalah penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan karakter. Watak atau karakter (character) adalah suatu konsep yang merupakan subjek dari berbagai
disiplin, mulai dari filsafat hingga ke teologi, dari psikologi hingga ke sosiologi (http://en.wikipedia.org). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila istilah karakter didefinisikan secara beragam sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masingmasing disiplin. Kadang-kadang, istilah karakter dipahami secara keliru. Misalnya,
seseorang dipandang memiliki karakter atau tidak memiliki karakter; atau karakter disamakan dengan kepribadian (personality).
Sesuai dengan perspektif yang digunakan dalam kajian makalah ini—perspektif psikopedagogis, watak atau karakter dipandang sebagai salah satu aspek kepribadian yang terkait dengan penilaian tingkah laku individu berdasarkan standar-standar moral atau etika. Dalam pengertian ini, seseorang bisa dinilai berkarakter (memiliki sikap dan
perilaku) baik atau jelek, terpuji atau tercela (Sukmadinata & Surya, 1975).
Sejalan dengan pengertian karakter di atas, istilah karakter sering digunakan dengan merujuk pada seberapa baik seseorang (how ‘good’ a person is) (http://en.wikipedia.org). Dengan kata lain, seseorang yang menunjukkan kualitas pribadi yang
cocok dengan yang diinginkan oleh masyarakat bisa dianggap memiliki karakter yang baik. Sebaliknya, bila seseorang menujukkan kualitas pribadi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka ia dipandang memiliki karakter yang jelek.
Suatu sumber (www.charactercounts.org) menyatakan ada enam pilar dari karakter,yakni kejujuran (trustworthiness), respek (respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring), dan kewarganegaraan (citizenship). Namun, perihal pilar karakter ini bisa berbeda antara yang berlaku di suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap baik oleh masing-masing masyarakat.

Lebih lanjut, Lickona (http://www.goodcharacter.com) menjelaskan bahwa
karakter yang baik melibatkan mengetahui, menginginkan, dan melakukan kegiatankegiatan
yang baik dan ditunjukkan dengan kebiasaan berpikir, merasa, dan berbuat.
Josephson (http://www.goodcharacter.com) memperluas definisi ini dengan mengatakan
bahwa karakter adalah bagaimana seseorang berbuat ketika yang bersangkutan berpikir tak ada orang lain yang melihatnya atau bagaimana seseorang berbuat ketika yang bersangkutan berpikir orang lain tidak dapat membantu dan tidak pula menyakitinya.
Gagasan kunci dari apa yang diungkapkan oleh Lickona dan Josephson tersebut adalah bahwa perbuatan baik (sebagai wujud dari karakter yang baik) itu dilakukan bukan karena orang lain (tidak bersifat instrumental), melainkan semata-semata dilakukan karena pelaku meyakini bahwa hal tersebut memang merupakan suatu kebaikan.
Pembentukan Karakter Anak dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya Seperti telah dijelaskan di atas bahwa pengertian karakter merujuk pada kualitas
pribadi yang terkait dengan standar moral atau etika. Oleh karena itu, pembahasan tentang karakter tidak bisa lepas dari pembahasan tentang nilai (value) dan perilaku moral (moral behavior). Begitupun ketika kita berbicara tentang pendidikan karakter,
maka itu akan interchangeable dengan pendidikan nilai atau pendidikan moral. Dalam pemahaman ini, pendidikan karakter bisa berarti penanaman nilai-nilai dasar atau pembentukan perilaku moral yang diharapkan.

Karakter, yang dalam wujud konkritnya berupa perilaku yang terkait dengan moral (moralitas), memiliki komponen afektif, kognitif, dan perilaku. Dengan demikian,
meskipun wujud konkrit dari karakter itu akan berupa perilaku (perilaku moral), perkembangan karakter akan melibatkan tiga komponen dari karakter tersebut— afektif, kognitif, dan perilaku. Secara singkat, Sigelman & Rider (2006) menjelaskan perkembangan karakter atau perilaku moral pada anak sebagai berikut.
Pada awalnya, bayi memang kurang atau tidak bermoral, khususnya ketika ia harus membuat pertimbangan benar dan salah. Namun, sosialisasi moral mereka telah mulai. Kelekatan (attachment) yang aman dan orientasi yang saling responsif antara orang tua dan anak berkontribusi ke perkembangan kata hati (conscience). Menjelang
usia 2 tahun, anak telah menginternalisasi aturan berperilaku, dan mereka menjadi cemas ketika mereka melanggar aturan. Mereka juga menunjukkan bibit empati (suatu motivator penting dari perilaku moral) ketika melihat yang lain cemas atau bersedih.
Lebih lanjut, Sigelman & Rider menjelaskan bahwa walaupun anak mampu menimbang tindakan-tindakan baik dan buruk menurut maksud pelakunya, mereka
tidak memandang semua aturan itu suci, menantang otoritas orang dewasa ketika mereka meyakini hal itu tidak legitimate, dan menggunakan cara-cara berpikir mereka untuk menganalisis motif-motif orang dan konsekuensi emosional dari tindakantindakan mereka. Tentunya, anak dini belum menyelesaikan pertumbuhan moral mereka, tetapi mereka tampak di jalurnya untuk menjadi makhluk yang bermoral jauh sebelum masa anak akhir dan awal remaja. Ketika berlangsungnya proses pembentukan perilaku moral, pengaruh-pengaruh situasional berkontribusi terhadap inkonsistensi moral selama masa anak. Penguatan, modeling, dan pendekatan disiplin induksi dapat
mendukung pertumbuhan moral, namun histori sosialisasi anak dan temperamen juga
mempengaruhi responsnya terhadap pendidikan moral.

Menambahi penjelasan di atas, McDevitt & Ormrod (2002) menjelaskan beberapa
faktor yang turut mendukung perkembangan moral anak, yakni penggunaan nalar,
pengalaman interaksi dengan teman sebaya, contoh-contoh perilaku moral dan sosial,
serta kajian akan isu-isu dan dilema moral.

Penggunaan nalar. Telah dikemukakan di atas bahwa karakter atau perilaku moral
bukan semata-mata berupa perilaku tanpa melibatkan unsur afeksi dan kognisi. Oleh
karena itu, pengembangan nalar (aspek kognisi) menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pendidikan karakter. Dalam hal ini, orang tua atau pendidik bisa menunjukkan kepada anak tentang bahaya atau akibat-akibat buruk dari perilaku tak bermoral. Cara lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nalar moral anak ini adalah dengan cara induksi (induction), yakni menjelaskan kepada anak mengapa suatu perilaku itu
diterima atau tidak diterima. Induksi adalah bagian integral dari gaya pengasuhan yang
otoritatif (authoritative parenting style) yang bercirikan kehangatan emosional serta standar dan harapan yang tinggi terhadap perilaku
Pengalaman interaksi dengan teman sebaya. Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak bisa belajar banyak tentang moralitas. Dalam kegiatan atau bermain kelompok, misalnya, anak bisa memperoleh pengalaman-pengalaman seperti sharing,
kerja sama, penyelesaian konflik, dan negosiasi. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat merupakan latihan yang baik bagi pengembangan karakter anak.
Model-model perilaku moral dan sosial. Meniru adalah salah satu cara anak dalam mengembangkan perilaku sosial atau moralnya. Anak lebih suka menunjukkan perilaku moral dan prososial ketika mereka melihat orang lain berperilaku dalam caracara yang tepat secara moral. Jika melihat yang baik, mereka akan meniru perilaku yang
baik tersebut. Tapi celakanya, bila mereka melihat perilaku yang tidak baik, mereka juga
menirunya. Di sinilah pentingnya, orang tua dan guru berperan sebagai model karakter
yang diharapkan.

Kajian tentang isu-isu dan dilema moral. Berkenaan dengan nalar moral, Kohlberg mengemukakan bahwa anak berkembang secara moral ketika nalar mereka dilatih untuk menganalisis dan menimbang dilema-dilema moral yang berada sedikit di atas kapasitas nalar moral mereka pada saat itu. Dengan bantuan pendidik atau guru,
riset menujukkan bahwa melakukan kajian tentang topik-topik dan isu-isu moral yang
kontroversial dapat meningkatkan transisi ke nalar moral yang lebih tinggi.
Masalah-masalah dalam Pendidikan Karakter di Indonesia Pendidikan karakter sesungguhnya sudah sejak lama diselenggarakan di Indonesia,
mungkin sejak kegiatan pendidikan itu diselenggarakan. Meskipun tidak disebut
sebagai pendidikan karakter, tetapi program-program pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan agama, atau program pengembangan diri sesungguhnya merupakan pendidikan karakter atau sekurang-kurangnya terkait dengan upaya pembentukan karakater anak. Jadi, sesungguhnya kita tidak pernah berhenti
menyelenggarakan pendidikan karakter, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan formal. Tapi, mengapa program-program pendidikan karakter yang selama ini kita lakukan seperti tidak memberikan dampak positif yang berarti bagi pembangunan dan
pengembangan karakter anak-anak didik kita?
Secara singkat, penulis melihat adanya persoalan pendidikan karakter yang mendasar, baik di lembaga pendidikan sekolah, lembaga pendidikan rumah, maupun lingkungan pendidikan masyarakat. Di sekolah, pendidikan karakter umumnya lebih
“dipercayakan” pada beberapa bidang studi tertentu, seperti pendidikan kewarganegaraan
dan pendidikan agama. Di samping pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan,penyelenggaraannya yang kurang berkualitas juga menambah semakin kurang bermaknanya program-program pendidikan karakter yang diselenggarakan. Pengamatan
penulis di sejumlah SD menujukkan bahwa guru (guru kelas) cenderung mengajar dengan cara yang sama untuk hampir semua mata pelajaran, menekankan aspek kognitif (termasuk dalam pendidikan kewarganegaraan), dan cenderung dominan. Materi yang diajarkan juga cenderung terbatas pada apa yang ada dalam kurikulum tertulis dan buku teks yang digunakan. Sejalan dengan apa yang diamati oleh penulis, studi yang
dilakukan Wardani (1994) di beberapa provinsi menyimpulkan bahwa aktivitas belajar mengajar di SD kurang memperhatikan aspek sikap dan keterampilan anak. Rumah yang sejatinya harus menjadi laboratorium kehidupan yang paling subur
untuk membangun dan mengembangkan karakter anak juga sudah banyak kehilangan fungsinya. Kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan edukatif orang tua mendorong mereka untuk memperlakukan (belum tentu mendidik) anak semaunya.
Belum lagi himpitan tekanan sosial ekonomi yang menimpa banyak keluarga menambah semakin tidak keruannya perlakuan orang tua terhadap anak. Rumah pun akhirnya tidak lagi menjadi lahan yang subur bagi perkembangan karakter anak yang baik; malah sebaliknya, rumah menjadi pembinaan karakter anak yang keras dan membangkang.
Lebih rumit lagi kondisi kehidupan masyarakat yang carut marut semakin menambah persoalan dalam pendidikan karakter anak. Tindak kekerasan, perilaku anarkis, pornografi, dan berbagai tindakan amoral lainnya yang hampir setiap saat berada pada pandangan mata dan pendengaran telinga anak semakin memperkuat inkonsistensiinkonsistensi pada pemikiran anak yang dapat menghambat terbentuknya karakter yang baik pada anak. Pemerintah pun tampak seolah-olah tak berdaya, membiarkan, dan galau dalam menyikapi situasi-situasi tidak kondusif tersebut.
Singkatnya, persoalan pendidikan karakter yang dihadapi sekarang sudah sangat krusial dan menyeluruh sehingga perlu perombakan dalam strategi penyelenggaraannya secara menyeluruh pula.

Menciptakan Rumah sebagai Lembaga Pendidikan Karakter yang Pertama dan
Utama

Pandangan penulis bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan karakter yang
pertama dan utama tampaknya tidak perlu diperdebatkan lagi. Pandangan ini didasarkan
pada beberapa argumen berikut. Pertama, keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan perlakuan pendidikan terhadap anak. Kedua, sebagian besar waktu anak lajimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Ketiga, hubungan orang tua-anak bersifat khusus sehingga memiliki kekuatan yang lebih daripada hubungan anak dengan yang lain. Keempat, interaksi dalam kehidupan orang tua-anak lebih bersifat alamiahi (seadanya) sehingga sangat kondusif untuk membangun karakter anak.

Selanjutnya, agar rumah bisa berfunsgi sebagai lembaga pendidikan karakter yang pertama dan utama, maka rumah harus menjadi laboratorium kehidupan yang memungkinkan terbangunnya karakter anak yang baik dengan subur. Untuk kepentigan
ini, kehidupan rumah perlu dilandasi dan dicirikan dengan beberapa hal berikut.

Di rumah perlu ada struktur dan aturan berperilaku yang manusiawi dan jelas. Keberadaan struktur dan aturan berperilaku ini sangat penting untuk dijadikan rujukan dalam berperilaku oleh setiap anggota keluarga. Struktur kehidupan dan aturan berperilaku ini tidak harus tertulis, tetapi yang penting adalah dipahami dan diwujudkan
dalam kehidupan berkeluarga oleh setiap anggotanya. Tak adanya struktur dan aturan
beperilaku dapat menyebabkan perilaku anak menjadi liar. Auran berperilaku juga perlu wajar dan manusiawi sehingga memungkinkan untuk dipatuhi. Sebaliknya,
aturan perilaku yang tidak wajar akan mengundang orang untuk menentang dan melanggarnya.

Kalau aturan berperilaku itu sudah ada, maka setiap anggota keluarga perlu menegakkan aturan itu secara konsisten dan bijaksana. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga perlu berdisiplin dalam menegakkan aturan-aturan yang sudah
disepakati. Namun, karena anak adalah individu yang sedang tumbuh kembang, dan upaya pembentukan karakter anak itu merupakan suatu proses yang on going, maka diperlukan kearifan orang tua dalam menerapkan disiplin itu sesuai dengan tahap dan
kapasitas perkembangan anak.

Ketegasan tanpa kekerasan adalah hal lain yang diperlukan untuk menegakkan aturan berperilaku. Karena rasa sayang yang berlebihan terhadap anak, orang tua kadangkadang merasa tidak tega untuk menolak permintaan-permintaan anak sesungguhnya tidak perlu. Orang tua kadang-kadang memberikan toleransi yang berlebihan sehingga mendorong anak menjadi manja dan egois. Jika kondisi seperti ini terus-menerus berlangsung, maka anak akhirnya akan bertindak semaunya tanpa menghiraukan
struktur dan aturan perilaku yang ada.

Pembiasaan (conditioning) juga merupakan hal yang diperlukan untuk membangun karakter anak yang diharapkan. Membangun karakter anak bukan pekerjaan sesaat yang sekali jadi, melainkan merupakan suatu proses bertahap dan memakan waktu
seiring dengan perkembangan anak. Oleh karena itu, pembiasaan ini juga merupakan hal yang dibutuhkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai dan perilaku moral yang diharapkan.

Keselarasan sikap dan perlakuan antara kedua orang tua dalam mendidik anak merupakan hal lain yang juga diperlukan untuk menfasilitasi terbentuknya karakter anak yang baik. Inkonsistensi perilaku orang tua dalam memperlakukan anak dapat menimbulkan konflik pada anak sehingga dapat menghambat proses pembentukan
karakter yang terintegrasi.

Adanya jalinan komunikasi dengan anak yang berlandaskan kasih sayang dan penerimaan, bukan kekerasan dan penolakan. Kasih sayang adalah ikatan emosional yang erat antara orang tua dengan anak yang dapat diekspresikan dengan berbagai cara seperti kehangatan dalam berkomunikasi, kesegeraan merespons kebutuhan anak,
dan menghibur anak di saat sedih. Meskipun pada dasarnya semua orang tua akan menyayangi anak, dalam prakteknya kualitas dan intensitas kasih sayang mereka bisa berbeda. Jika orang tua berhasil mengekspresikan kasih sayangnya kepada anak secara wajar, maka anak akan memiliki kompetensi sosial yang baik serta bersifat kooperatif, patuh, dan kurang mengalami masalah sosial. Kebalikan dari kasih sayang adalah
kekerasan dan penolakan terhadap anak. Kekerasan umumnya melibatkan hukuman fisik yang dapat menghambat terbentuknya kasih sayang. Terlepas dari di sengaja atau tidak, perlakuan-perlakuan kekerasan itu akan cenderung dipersepsi oleh anak sebagai penolakan dan ketidaksenangan orang tua terhadapnya. Pada akhirnya, perlakuan keras
dan penolakan seperti itu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan
kognisi dan sosioemosi anak. Si anak bias menjadi kurang bergairah untuk bereksplorasi,
penuh ketakutan dan kecurigaan, serta mungkin juga memiliki sikap atau perasaan yang
ambivalen antara sayang dan benci.

Orang tua lebih banyak memberikan alasan-alasan yang wajar berikut alternatif
pilihannya daripada hukuman. Dampak positif dari hukuman biasanya bersifat sesaat;
sedangkan dalam jangka panjang, hukuman itu lebih cenderung banyak dampak negatifnya. Hukuman biasanya dilakukan dengan luapan emosi agresif yang kadangkadang dilakukan secara tidak terkendali. Perlakuan seperti ini bisa mengkondisikan anak untuk memiliki berbagai perasaan negatif (tidak senang, benci, bahkan dendam terhadap orang tua). Selain itu, penggunaan hukuman juga berarti mengajarkan
kekerasan kepada anak sebagai cara penyelesaian masalah. Karena itu perlu diupayakan
agar penggunaan hukuman itu direduksi seminimal mungkin. Jika terpaksa harus menerapkan hukuman, maka pertimbangkanlah cara-cara berikut: (a) jelaskan kepada anak mengapa ia dihukum; (b) berilah anak alternatif yang positif bagi perilakunya yang tidak diharapkan; (c) batasi hukuman secara verbal dan hindari hukuman yang bersifat fisik; dan (d) berikan hukuman pada saat awal perilaku yang tidak diharapkan terjadi,
bukan pada akhir setelah perilaku itu menjadi kronis.

Orang tua berupaya “melindungi” anak dari pengaruh negatif media massa.
Kecenderungan lain yang dewasa ini sangat mengkhawatirkan adalah adanya kemungkinan pengaruh negatif dari media informasi, khususnya televisi. Banyaknya program TV membuat anak semakin tersita waktunya untuk menonton TV. Yang
menjadi persoalan bukan sekadar berkurangnya waktu belajar anak dengan menontot TV, tapi juga kemungkinan adanya pengaruh negatif dari apa yang ditonton oleh anak tersebut. Dalam hal ini orang tua hendaknya berupaya mengembangkan kebiasaan
menonton TV yang baik pada anak dengan cara: (a) doronglah anak untuk menonton program-program khusus secara terencana (bukan menonton sembarang program) dan aktiflah bersama anak di saat menonton program-program yang terencana tersebut; (b) carilah program-program yang menonjolkan peran anak dalam usianya; (c) menonton
TV hendaknya tidak digunakan sebagai pengganti dari kegiatan-kegiatan lain; (d) lakukanlah pembicaraan dengan anak tentang tema-tema televisi yang sensitif dan berilah anak kesempatan untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang menarik perhatiannya; dan (e) seimbangkan antara aktivitas belajar dan menonton TV.

Orang tua lebih banyak menerapkan gaya pendidikan yang otoritatif daripada yang otoriter dan permisif. Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan bukti yang meyakinkan bahwa gaya pendidikan yang otoriter bisa memberikan pengaruh-pengaruh yang negatif terhadap perkembangan anak, dan begitu pula gaya pengasuhan yang permisif. Sebaliknya, gaya pendidikan yang otoritatif cenderung memberikan pengaruhyang positif terhadap perkembangan perilaku anak.

Sekali-kali anak diajak bicara untuk memecahkan masalah atau isu-isu moral bersama yang memang layak dibicarakan dengan mereka. Misalnya, anak diminta pendapatnya tentang bagaimana kehidupan orang-orang miskin—Di tempat seperti apa
mereka tinggal? Bagaimana mereka bisa makan? Bagaimana kalau mereka sakit? Dan seterusnya. Di samping cara seperti ini bisa menjalin komunikasi dengan anak, juga penting untuk menumbuhkan rasa memiliki pada anak.

Orang tua berperan sebagai sosok model manusia yang diharapkan. Maksudnya, jika pendidik mengharapkan anaknya jujur, jadilah orang tua yang jujur; jika mengharapkan supaya anaknya rajin, jadilah orang tua yang rajin; dan jika mengharapkan anaknya disiplin, maka jadilah orang tua yang disiplin. Contoh kehidupan nyata dari
pihak orang tua ini sangat penting artinya sebagai objek imitasi dan figur bagi anak.
Memberdayakan Sekolah dalam Pendidikan Karakter dengan cara Memperbaiki dan Melengkapi Pendekatan Pendidikan yang Diterapkan

Ada sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter di sekolah, yakni Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai (Explicit Instruction in Character and Values), Diskusi Kelas (Class Discussions), Pengajaran Nilai-nilai melalui Kurikulum (Teach Values Through the Curriculum), Belajar Memberikan Layanan (Service Learning), Smorgasbord (Smorgasbord), dan Holistik (Holistic) (http://www.goodcharacter.com). Secara singkat, deskripsi dari masing-masing pendekatan adalahsebagai berikut.

Pelajaran yang Eksplisit tentang Karakter dan Nilai (Explicit Instruction in Character and Values). Pendidikan karakter melalui pelajaran yang eksplisit tentang karakter dan nilai ini dilakukan dengan cara menyelenggarakan suatu pelajaran tersendiri tentang pendidikan karakter. Pendekatan ini sering diorganisasikan sekitar
kualitas-kualitas kepribadian tertentu seperti respek, tanggung jawab, dan integritas.
Melalui pelajaran tentang karakter ini, anak dilibatkan untuk membaca, menulis, diskusi,
bermain peran, dan jenis-jenis aktivitas lainnya yang membantu mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut.

Diskusi Kelas (Class Discussions). Dengan pendekatan diskusi kelas, anak dilibatkan dalam diskusi dan refleksi yang jujur dan menarik tentang implikasi-implikasi moral dari apa yang mereka lihat di sekitar mereka, apa yang mereka katakan, serta apa yang mereka lakukan dan alami secara personal. Bila difasilitasi dengan tepat,
kegiatan-kegiatan diskusi seperti ini dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis anak, memberikan suatu pengelaman yang mengikat kelompok, dan melibatkan anak dalam suatu refleksi yang mendalam dan bermakna tentang gambaran diri mereka sendiri saat ini dan ingin menjadi seperti apa. Lazimnya, anak haus akan kesempatan untuk mendiskusikan pikiran, perasaan, dan keyakinan mereka. Diskusi yang produktif
tidak hanya dapat membuat anak terlatih secara nalar moral, tetapi juga mereka sering sampai pada mengalami kontradiksi sendiri secara langsung.

Pengajaran Nilai-nilai melalui Kurikulum (Teach Values Through the Curriculum).
Dalam pendekatan ini, pendidikan karakter dilakukan dengan cara diintegrasikan ke
dalam berbagai mata pelajaran yang relevan. Ketika menyelenggarakan suatu mata
pelajaran, guru berupaya untuk melibatkan anak dalam melakukan kajian-kajian tentang karakter dari suatu peran atau tokoh atau dengan melakukan kajian terhadap dilemadilema moral. Dalam pelajaran sejarah, misalnya, anak tidak hanya belajar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau dalam urutan waktu, tetapi mereka
harus diberi kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan etis berkenaan
dengan peristiwa-peritiwa tersebut. Dengan demikian, sejarah bukan sekadar urutan peristiwa secara kronologis. Namun, sejarah adalah tentang bagaimana orang membuat pilihan-pilihan yang mempengaruhi orang lain. Pilihan-pilihan tersebut memiliki dimensi etis dan moral serta sering menghasilkan akibat-akibat yang besar, seperti
sejarah tentang Nazi di Jerman.

Belajar Memberikan Layanan (Service Learning). Dalam pendekatan ini, tujuantujuan akademik dikerjakan melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan layanan masyarakat. Dalam hal ini, anak-anak berlatih menyelenggarakan layanan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan kesehatan, kemiskinan, isu-isu sosial,
dan lingkungan. Mereka memilih kegiatan layaan yang akan dilakukan, merencanakannya, melakukannya, dan kemudian merefleksi keseluruhan pengalaman mereka. Di samping mempelajari isi akademik, anak-anak mempraktekkan keterampilan-keterampilan praktis yang bermanfaat seperti mengorganisasikan, bekerja sama, dan memecahkan
masalah. Mereka melatih sifat-sifat karakter yang penting seperti memperlihatkan respek, mengambil tanggung jawab, empati, kerja sama, kewarganegaraan, dan ketekunan.

Pendekatan Smorgasbord (Smorgasbord Approach). Pendekatan pendidikan karakter ini dilakukan dengan cara membangun suatu komunitas yang peduli (caring community). Setiap orang di sekolah—siswa, guru, dan staf administrasi lainnya—
memperlakukan setiap orang yang lain dengan baik dan respek. Untuk memenuhi tujuan yang mulia tersebut, siswa perlu memainkan peran aktif dalam membangun kultur dan lingkungan kelas dan sekolah secara luas. Untuk menciptakan suasana seperti itu dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.

1. Menyelenggarakan pertemuan kelas yang mengkondisikan siswa merumuskan tujuan-tujuan kelompok, mengambil keputusan berdasarkan aturan berperilaku, merencanakan kegiatan-kegiatan, dan memecahkan masalah.
2. Mengkondisikan siswa berkolaborasi pada tugas-tugas akademik dengan bekerja
dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif; memberi mereka kesempatankesempatan
untuk merencanakan dan merefleksi cara-cara mereka bekerja sama.
3. Mengorganisasikan suatu program yang memungkinkan anak-anak dengan berbagai
usia bekerja sama dalam mengerjakan tugas-tugas akademik dan jenis-jenis aktivitas
lainnya.
4. Mengajarkan resolusi konfilk dan keterampilan-keterampilan sosial lainnya
sehingga anak menjadi terampil memecahkan konflik secara adil dan damai.
Cara-cara di atas membantu anak belajar membangun dan mempertahankan hubungan positif dengan yang lain, di samping juga mengkondisikan sekolah menjadi suatu laboratorium kehidupan yang mengkondisikan anak mempraktekkan berbagai
jenis peran serta mengatasi tantangan-tantangan yang akan mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya.

Pendekatan Holistik (Holistic Approach). Seorang tokoh pendekatan holistik,Berkowitz, mengatakan, “Effective character education is not adding a program or set of programs to a school. Rather it is a transformation of the culture and life of the
school.” Pendidikan karakter yang efektif tidak dilakukan dengan menambah suatu atau seperangkat program, melainkan dilakukan melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Pendidikan karakter dilakukan dengan mengintegrasikan upaya pengembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Sekolah yang menerapkan pendekatan ini memiliki ciri-ciri berikut.

1. Segala sesuatu di sekolah diorganisasikan sekitar perkembangan hubungan antara
dan antar siswa, staf, dan komunitas.
2. Sekolah adalah komunitas yang peduli terhadap pelajar yang dalam komunitas itu
terdapat ikatan kuat yang menghubungkan siswa, staf, dan sekolah.
3. Belajar sosial and emosional mendapat penekanan setara dengan belajar akademik.
4. Kerja sama dan kolaborasi antar siswa lebih ditekankan daripada kompetisi.
5. Nilai-nilai seperti keadilan, respek, dan kejujuran adalah bagian dari pelajaran
harian di dalam dan di luar kelas.
6. Siswa diberi kesempatan yang cukup untuk mempraktekkan perilaku moral melalui aktivitas-aktivitas seperti belajar menyelenggarakan layanan (service learning).
7. Disiplin dan manajemen kelas lebih banyak dilakukan melalui problem-solving daripada melalui ganjaran dan hukuman.
8. Menerapkan kelas demokratis yang memungkinkan guru dan murid melaksanakan
pertemuan-pertemuan kelas untuk membangun kesatuan (unity), norma, dan memecahkan masalah.

Bila dilihat di sekolah-sekolah kita, pendekatan pendidikan karakter yang sekarang
diselenggarakan lebih terbatas pada Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai
(Explicit Instruction in Character and Values) yang mungkin sebagian sekolah telah
melengkapinya dengan pendekatan Diskusi Kelas dan Pengajaran Nilai-nilai melalui
Kurikulum. Sekolah-sekolah kita belum menjadi laboratorium kehidupan diperlukan
untuk tumbuh dan berkembangnya karakter anak secara subur. Pendekatannya yang
belum lengkap dan praktek penyelenggaraannya yang masih kurang tepat serta pengaruh kehidupan di luar yang semakin kuat membuat pendidikan karakter di sekolah-sekolah kita semakin tidak bertaji. Maksudnya, pendidikan-pendidikan yang terkait dengan pendidikan karakter (seperti pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan)
lebih terbatas pada kajian-kajian formalitas sekitar pengetahuan. Memang, karakter
melibatkan aspek kognisi dan afeksi, tapi pada akhirnya esensi dari karakter adalah
perilaku. Dan dari perilaku itulah oran lain dapat menilai perilaku seseorang. Dalam
beberapa prinsip pendidikan karakter dikatakan (http://www.goodcharacter.com)
bahwa karakter seseorang didefinisikan oleh apa yang ia perbuat, bukan oleh apa yang ia katakan atau yang ia yakini; dan karakter yang baik memerlukan berbuat sesuatu dengan benar, bahkan dalam situasi yang sangat berharga atau beresiko.

Untuk membuat sekolah-sekolah kita semakin powerful dalam penyelenggaraan
pendidikan karakter, di samping kita perlu memperbaiki metode-metode pembelajaran
yang terkait dengan pendidikan karakter (bukan dengan cara menambah mata pelajaran),
juga kita perlu melengkapinya dengan menerapkan pendekatan-pendekatan lainnya dalam pendidikan karakter. Kita perlu melengkapinya dengan menerapkan pendekatan Belajar Memberikan Layanan, Smorgasbord, dan bahkan dengan pendekatan Holistik.
Bila kita berupaya untuk menerapkan berbagai pendekatan pendidikan karakter itu
dengan tepat dan konsisten, tidaklah mustahil sekolah-sekolah kita menjadi bengkel
dan laboratorium kehidupan yang subur bagi pembentukan dan pengembangan karakter
anak.

Mensinergikan Pendidikan Rumah dan Sekolah sebagai Salah Satu Jalan Keluar
Di Indonesia di kenal tripusat pendidikan, yakni pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Tiga pusat pendidikan tersebut sama-sama penting dan berperan saling melengkapi satu sama lain. Pemokusan pembahasan pada pendidikan rumah dan sekolah pada makalah ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengabaikan peran pendidikan masyarakat. Pemokusan ini semata-mata karena keterbatasan kapasitas penulis, di samping secara manajerial dalam prakteknya pensinergian pendidikan rumah
dan sekolah akan lebih mudah untuk dikelola dan diselenggarakan. Pengembangan pendidikan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang lebih massif.
Namun, keberhasilan dalam upaya pendidikan rumah dan sekolah dengan
sendirinya akan berkontribusi terhadap perbaikan perilaku masyarakat secara luas.
Warga rumah dan warga sekolah adalah bagian dari warga masyarakat juga, sehingga keberhasilan pendidikan rumah dan sekola akan memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kehidupan masyarakat.

Terkait dengan upaya mensinergikan pendidikan rumah dan sekolah, hal yang terpenting adalah adanya jalinan komunikasi dan kolaborasi antara pihak keluarga dan sekolah. Jalinan komunikasi dan kolaborasi ini diperlukan untuk membangun kesejalanan langkah dan program-program sekolah dengan harapan dan dukungan orang tua. Programprogram sekolah dipahami dan didukung oleh pihak orang tua; sebaliknya, harapanharapan orang tua juga dipahami dan dipertimbangkan oleh pihak sekolah. Tidaklah benar, bila orang tua menitipkan anaknya ke sekolah dalam pengertian orang tua menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah dan lepas tangan. Yang benar adalah bahwa orang tua dan
sekolah sama-sama mendidik anak. Fungsi sekolah adalah membantu orang tua dalam
mendidik anak, bukan mengambil alih tanggung jawab orang tua.

Dengan adanya tenaga-tenaga pendidik profesional (guru dan konselor)
di sekolah, penulis memposisikan sekolah sebagai lembaga yang harus proaktif membangun komunikasi dan kolaborasi dengan rumah. Sekolah perlu memanfaatkan setiap kesempatan—melalui pertemuan periodik (seperti pertemuan awal tahun, akhir
semester, dan akhir tahun) dan insidental—dan sarana (termasuk melalui media tulis dan bahkan internet) untuk menginformasikan kemajuan belajar dan perkembangan anak serta berbagai kebijakan dan program sekolah sehingga dipahami oleh orang tua.
Sekolah juga perlu menghimpun dan mempelajari harapan-harapan orang tua, termasuk menerima masukan tentang kualitas penyelenggaraan layanan pendidikan yang selama ini diselenggarakan oleh sekolah. Lebih luas lagi, di samping memperbaiki dirinya sendiri, sekolah juga harus berfungsi sebagai agen yang dapat memberi masukanmasukan
kepada orang tua untuk meningkatkan dan memperbiki cara pendidikan anak di rumah.
Di pihak lain, orang tua perlu aktif memberikan informasi-informasi yang diminta oleh sekolah, termasuk melaporkan kemajuan belajar anak yang teramati di rumah. Bila orang tua mengidentifikasi adanya perilaku anak yang perlu mendapat perhatian serius,mereka juga perlu segera mengkomunikasikannya kepada pihak sekolah. Orang tua juga perlu mencek dan membimbing anak dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah di
rumah serta memberikan perhatian dan apresiasi kepada anak.

Kesimpulan dan Rekomendasi
Perilaku masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak, yang sudah sangatmengkhawatirkan sekarang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak,
khususnya dari pemerintah dan warga masyarakat pendidikan. Kondisi demikian, salah satunya, mengimplikasikan perlunya perombakan dalam pendekatan dan cara pendidikan karakter secara mendasar. Cara-cara pendidikan karakter yang selama ini dilakukan, baik di rumah maupun di sekolah, tampaknya sudah tidak berdaya lagi
dalam membentengi anak dari pengaruh negatif arus kehidupan yang berjangkit di era globalisasi dan desentralisasi sekarang ini. Rumah dan sekolah perlu memperbaikicara-cara pendidikan karakter yang selama ini diterapkan dengan cara-cara yang lebih tepat, di samping mereka juga perlu melengkapinya dengan cara-cara dan pendekatanpendekatan lainnya secara lebih menyeluruh. Secara lebih operasional, akhirnya sekolah dan rumah direkomendasikan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan berikut dalam
pendidikan karakter.

1. Dengan segala keterbatasan yang ada, setiap rumah perlu mengupayakan
terciptanya rumah sebagai laboratorium kehidupan yang memungkinkan tumbuh dan terbentuknya karakter anak yang baik. Para orang tua perlu meningkatkan pengetahuan dan cara pendidikan mereka sehingga dapat menciptakan interaksi
pendidikan yang lebih berkualitas dengan anaknya. Di rumah perlu ada struktur dan aturan berperilaku yang manusiawi, jelas, dan ditegakkan oleh setiap anggota keluarga. Bahkan orang tua dituntut untuk memainkan peran sebagai model dalam
menerapkan aturan-aturan tersebut.

2. Sekolah-sekolah yang selama ini lebih terbatas menerapkan pendekatan Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai dalam pendidikan karakakter perlu memperbaiki penerapan pendekatan tersebut, alih-alih menambah pelajaran baru,
di samping melengkapinya dengan pendekatan-pendekatan lain yang lebih tepat.
Bila memungkinkan, dan mengapa tidak, sekolah bisa menerapkan pendekatan
Smorgasbord dan Holistik sehingga peran sekolah (seperti halnya juga rumah) sebagai laboratorium kehidupan yang memfasilitasi pembentukan karakter anak dapat terpenuhi.

3. Sekolah dan rumah tidak boleh jalan sendiri-sendiri, apalagi saling bertentangan.
Mereka perlu berada dalam suatu sinergi melalui jalinan komunikasi dan kolaborasi yang harmonis. Sekolah perlu merancang berbagai program yang mengundang dan mengkondisikan orang tua terlibat aktif dalam mendukung program-program sekolah. Sekolah juga perlu menyelenggarakan layanan konsultasi yang dapat meningkatkan dan meperbaiki wawasan pengetahuan dan perlakuan pendidikan
orang tua. Sebaliknya, orang tua juga perlu mendukung program-program sekolah, di samping memberikan balikan-balikan untuk perbaikan program sekolah.

Rujukan

http://en.wikipedia.org

http://www.goodcharacter.com

McDevitt, T.M. & Ormrod, J.E. (2002). Child Development and Education. Upper Saddle River, N.J.: Merill Prentice Hall.
Pemerintah Republik Indonesia (2010). Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025.
Sigelman, C.K. & Rider, E.A. (2006). Life-Span Human development. 5th Ed. Belmont,
CA: Thomson Wadsworth.
Solehuddin, M. (2000). Globalisasi dan Desentralisasi serta Implikasinya terhadap
Pembelajaran di Sekolah. Makalah. Bahan Seminar yang Diikuti oleh Para Guru di
Lingkungan Yayasan Istiqomah Bandung.

About these ads

2 Tanggapan

  1. bagaimana perkembangan pendidikan karakter di jawa timur?

  2. bagaimana mengukur karakter?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.