Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

Seorang fasilitator harus menguasai berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan agarmampu memberikan fasilitasi yang optimal kepada peserta pelatihan. Secara garis besar, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh fasilitator yang efektif yaitu (1) Tahap persiapan; (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap pasca-pelaksanaan.
Pada tahap persiapan, seorang fasilitator harus mampu menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk memperlancar pelaksanaan pelatihan. Persiapan di sini termasuk penyiapan dari segi fisik maupun non fisik yang digunakan selama proses pelatihan. Persiapan yang baik dan matang akan sangat mempengaruhi keberhasilan tahap berikutnya sekaligus memberikan kontribusi yang berarti terhadap keberhasilan pelatihan secara menyeluruh.

Walaupun perencanaan sudah dilakukan dengan baik, namun apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan rencana, maka sangat mungkin tujuan pelatihan tidak akan bisa dicapai dengan baik.
Banyak hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh fasilitator selama
pelaksanaan pelatihan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, bukan berarti semua proses telah selesai. Fasilitator masih mempunyai tugas lain yang harus dilakukan. Fasilitator harus mengetahui sejauh mana ketercapaian pelatihan, menemukenali berbagai permasalahan yang muncul selama pelatihan, menindaklanjuti hasil dan masalah yang terjadi selama pelatihan, dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang fasilitator dalam melaksanakan program pelatihan:

1. Sedapat mungkin patuhilah rencana sekuen panduan pelatihan

Setelah sekuen panduan disusun dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang mungkin timbul dan mempengaruhi tercapai tidaknya program panduan. Karena itu, hindarilah penyimpangan dari rencana sekuen panduan, terutama bagi pemandu pemula. Pemandu yang telah berulang kali menjalankan program panduan, sering kali mampu menyiapkan dan mengembangkan alternatif sekuen panduan, menukar sekuen latihan karena melihat peluang-peluang belajar yang
timbul selama proses pelatihan berlangsung.

2. Hafalkan nama peserta

Berusahalah untuk memanggil peserta dengan nama mereka (siapkan label nama peserta yang
terbaca). Hal ini mengurangi rasa formil yang seringkali menimbulkan ketegangan dan secara tidak
langsung menghambat proses pembelajaran.

3. Libatkan peserta secara aktif
Usahakan agar peserta terlibat aktif mulai mencari, menggali data, menganalisis alternatif temuan,memecahkan masalah, mengambil keputusan atau simpulan. Biarkan peserta mengambil simpulan
sendiri, pertanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu, kuatkan dan
tekankan simpulan itu.
4. Jangan tergesa-gesa menjawab pertanyaan

• jangan jawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya.
•• jangan jawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya.
•• jangan jawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh pemandu. Bila jawaban itu
mungkin diberikan oleh peserta lain, biarkan peserta lain menjawab pertanyaan itu. Bila
jawaban terhadap pertanyaan itu dapat diberikan peserta dan mereka tidak menyadari
data tertentu, ingatkan peserta pada data tersebut, dan biarkan mereka menjawab itu.

5. Hindari perdebatan dengan peserta

Hal ini dimaksudkan agar sekuen panduan yang telah disusun dapat tercapai tidak menyimpang
dan waktu habis untuk berdebat. Selain itu, aktivitas peserta akan terhambat gara-gara kita terpancing perdebatan. Lemparkan saja pada peserta lain bila ada perbedaan persepsi terhadap
suatu masalah tertentu.

6. Ajukan pertanyaan sesering mungkin

Kenyataan bahwa peserta dapat belajar melalui kegiatan menjawab pertanyaan, dan hal ini memberikan peserta lebih banyak kepuasan daripada jika ia langsung diberitahukan materi pembelajaran yang harus ia terima begitu saja. Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan.
•• Ajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta. Jangan mengajukan pertanyaan yang terlalu sulit, sehingga peserta menjadi “resah” karena tidak bisa menjawab.
•• Jangan ajukan pertanyaan yang terlalu mudah. Dengan pertanyaan yang terlalu mudah
mengurangi motivasi peserta untuk memberikan jawabannya, dan seringkali peserta jadi ragu
apakah jawaban yang ia pikirkan adalah jawaban yang benar.
•• Ajukan pertanyaan secara sistematis. Jawaban terhadap pertanyaan pertama hendaknya
merupakan data yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan kedua, dan jawaban
terhadap pertanyaan kedua hendaknya merupakan data bagi jawaban terhadap pertanyaan
ketiga demikian seterusnya. Sebaliknya, bila suatu pertanyaan tidak dapat segera dijawab oleh
para peserta, ajukan pertanyaan lain yang lebih mudah. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan
untuk menjawab pertanyaan yang lebih sukar.

7. Gunakan umpan balik (feed back)

Dalam melaksanakan program pelatihan, kita perlu mencari tahu apakah peserta telah menangkap
hal-hal yang telah kita sampaikan. Karena itu, kita perlu mencari dan memanfaatkan umpan balik
(feed back). Umpan balik bisa berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta, sikap
mereka dalam mengikuti program pelatihan, saran-saran yang mereka kemukakan, bahkan dari ’air muka’ mereka.

8. Sadari keterbatasan Anda

Jangan melakukan hal-hal di luar batas kemampuan Anda. Jangan mencoba menjelaskan hal-hal
yang tidak Anda pahami. Persiapkan diri Anda sebelum memulai kegiatan dan yang paling penting:
Jangan Pernah Mengira bahwa Andalah Orang Terpandai di dalam Kelas. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin ada peserta yang lebih menguasai bahan dari pada Anda. Jangan musuhi orang ini, gunakan dia sebagai pembantu Anda.

Sebagai koordinator dan anggota tim pelatihan, seorang fasilitator mempunyai tugas yang sangat kompleks. Mulai dari tugas menyiapkan bahan pelatihan, melaksanakan pelatihan, mengevaluasi hasil pelatihan dan jurnal. Adakalanya seorang fasilitator memberi perintah, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, melakukan pencatatan, mengundang tanggapan, memberi konfirmasi, memancing data, merangkai induksi, memberi konsekuensi.
Tugas dan Aktivitas Fasilitator

1. Menyiapkan bahan pelatihan.
Banyak fasilitator pemula yang mengira bahwa tugas menyiapkan bahan pelatihan hanya terbatas pada pengecekan peralatan yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan mereka memasuki ruang pelatihan tampak sungguh-sungguh siap untuk memandu proses belajar, yang sebetulnya membutuhkan persiapan yang betul-betul matang.

Berikut ini ada beberapa tugas minimal yang seharusnya dikerjakan fasilitator sebagai bagian dari persiapan pelatihan.
a. Mempelajari rencana pelatihan
Karena tidak semua tujuan pelatihan telah terumuskan secara baik, fasilitator tidak cukup hanya membaca apa yang yang tersurat dalam tujuan pelatihan. Fasilitator harus mempelajari rencana
pelatihan dengan lebih seksama untuk mengantisipasi berbagai hal yang mungkin muncul selama kegiatan pelatihan berlangsung. Antisipasi itu perlu agar fasilitator tidak mengalami kesulitan dalam memandu pelatihan sesuai rencana.

b. Menyiapkan kerangka diskusi
Diskusi yang berlangsung antara fasilitator dengan peserta, peserta dengan peserta selama
pelatihan, bukan diskusi bebas tetapi bertujuan. Untuk itu, diskusi (pasangan, kelompok, kelas/
pleno) seharusnya mengikuti alur yang sudah direncanakan, yaitu:
•• mengumpulkan fakta-fakta / temuan-temuan.
•• penyaringan fakta/temuan yang relevan dengan tujuan pelatihan
• mengaitkan fakta/temuan menjadi suatu simpulan
•• mengaitkan simpulan dengan kehidupan sehari-hari Agar diskusi berjalan sesuai dengan alur yang direncanakan, maka fasilitator bertugas menyiapkan kerangka diskusi dengan mempertimbangkan:
•• fakta / temuan apa yang seharusnya dimunculkan/terungkap dalam diskusi?
• pertanyaan-pertanyaan apa yang perlu dikemukakan untuk memperbesar terungkapnya fakta/temuan tersebut?
• bagaimana cara menghubungkan fakta/temuan tersebut menjadi suatu simpulan?
•• mengungkap contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari peserta untuk memperjelas
pemahaman terhadap konsep yang dibahas.

c. Menyiapkan kerangka observasi
Penyiapan kerangka observasi akan lebih mudah dilakukan bila fasilitator benar-benar memahami struktur dari kegiatan yang akan berlangsung.
d. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Di kalangan fasilitator senior ada pomeo yang berbunyi “Seorang fasilitator harus mampu menggunakan peralatan apapun untuk menjalankan ide-idenya”. Hal ini tidak salah, karena seorangfasilitator tidak boleh terlalu tergantung pada peralatan. Akan tetapi, bila peralatan itu tidaksukar untuk diperoleh, sebaiknya tidak menggunakan pomeo itu untuk menutupi kemalasannya.

2. Melaksanakan pelatihan fasilitator
Dalam melaksanakan pelatihan tugas fasilitator dapat dirinci a.l. sebagai berikut: memberiperintah/instruksi, mengamati kegiatan peserta, memimpin diskusi dan memberi ceramah singkat, memberikan komentar, mempertanyakan pendapat, memuji, memberi penguatan, dan memberi umpan balik.

3. Memberi instruksi/perintah
Karena progam pelatihan umumnya merupakan progam belajar melalui kegiatan, maka dengan
sendirinya ada sejumlah besar kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta. Kegiatan yang akan
dilakukan peserta sesungguhnya kegiatan-kegiatan yang sengaja diberikan dengan harapan agar
muncul sejumlah temuan/fakta yang dapat digunakan untuk mendukung simpulan-simpulan
tertentu. Untuk memperbesar kemungkinan munculnya temuan/fakta yang diharapkan, fasilitator harus memberikan instruksi (untuk melakukan kegiatan ybs.) secara seksama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian instruksi al:

a. peserta perlu tahu hasil (out-put) yang diharapkan dari mereka.
b. peserta perlu tahu sistem-skoring yang berlaku (kalau ada perhitungan nilai)
c. peserta perlu tahu tata-tertib yang berlaku, baik yang menyangkut batas waktu, maupun
aturan lain seperti boleh tidaknya mereka berbicara dengan teman, boleh tidaknya bertanya
pada fasilitator setelah mulai bekerja dsb.
d. Peserta harus mendapat jawaban/penjelasan mengenai hal-hal yang mereka tanyakan.
e. Instruksi perlu disampaikan sesingkat mungkin tanpa mengurangi kelengkapan dan kejelasannya.
f. Bila mungkin, instruksi sebaiknya disampaikan secara tertulis
g. Sedapat mungkin jangan menggabungkan dua atau lebih satuan instruksi yang sesungguhnya
dapat dipisahkan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan satu satuan instruksi adalah sejumlah
penjelasan yang dibutuhkan peserta agar mereka dapat mengerjakan tugas yang tidak boleh diinterupsi oleh informasi baru.

4. Mengawasi Kegiatan Pelatihan
Selama peserta melakukan kegiatan yang diintruksikan kepada mereka fasilitator harus aktif melakukan pencatatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan ini antara lain:

a. Fasilitator harus ingat bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan fakta/ temuan yang akan digunakan dalam pembahasan konsep atau prinsip-prinsip.
b. Fasilitator harus mengingat tujuan dari kegiatan dan fakta/temuan apa saja yang diharapkan muncul untuk dijadikan bahan pembahasan.
c. Fasilitator sebaiknya mencatat fakta/temuan yang berhasil dijumpainya. Catatan harus meliputi: kapan suatu tingkah laku masing-masing peserta, dan mengapa mereka mereka menampilkan tingkah laku tersebut.
d. Fasilitator sudah harus membayangkan cara-cara yang akan digunakan. Untuk mengolah fakta/temuan tersebut dalam diskusi kelas yang seharusnya dilakukan sebagai lanjutan kegiatan ini.

5. Memimpin diskusi
Memimpin diskusi (pasangan, kelompok, kelas) merupakan salah satu tugas utama fasilitator. Selama memimpin diskusi, fasilitator sesungguhnya melakukan sejumlah interaksi dengan peserta.
Kalau diperhatikan lebih seksama, maka unit-unit interaksi dapat dihimpun ke dalam unit-unit aktivitas. Satu unit interaksi adalah serangkaian interaksi yang dimulai dengan suatu persoalan/pertanyaan baik yang diajukan oleh fasilitator atau peserta yang berakhir dengan munculnya persoalan baru.

Suatu unit interaksi bisa saja berakhir secara tidak mulus/tuntas, yakni bila interaksi berakhir tanpa terpecahkannya persoalan yang diajukan. Tuntas tidaknya unit-unit interaksi dalam diskusi, merupakan salah satu faktor yang turut menentukan efektif tidaknya fasilitator dalam memimpin diskusi (proses dan hasil pelatihan).

Satu unit interaksi dalam pembelajaran dapat tersusun dari sejumlah unit aktivitas (unitas) yaitu kesatuan terkecil dari tingkah laku seorang fasilitator.

Ada sejumlah besar unit aktivitas yang mungkin dilakukan seorang fasilitator, diantaranya;

a. Memberi instruksi
Fasilitator memerintahkan peserta untuk melakukan aktivitas tertentu. Misal, “tutup mata anda
dan bayangkan anda berada di padang pasir”. Contoh lain, “sekarang jumlahkan kolom ketiga dan
ke empat, kemudian tuliskan hasilnya di kolom lima”.
b. Menjawab pertanyaan
Fasilitator memberikan jawaban langsung/melemparkan ke peserta lain terhadap pertanyaan yang diajukan peserta.
Contoh, “motivasi itu apaan sih pak? Adakah diantara kalian yang tahu arti
motivasi? Jadi, motivasi itu artinya ……
c. Mengundang tanggapan
Aktivitas fasilitator melontarkan pertanyaan yang umum atau memberi kesempatan peserta
mengajukan komentar. Biasanya aktivitas ini berupa pertanyaan tentang kesan-kesan peserta
yang dilanjutkan dengan kata-kata, “ada komentar lain, ada yang mau menambahkan?
Undangan untuk memberi tanggapan dapat ditujukan pada salah satu fasilitator (tim teaching),
atau kepada peserta lain yang dinilai kurang aktif.
Contoh, Bu Siska barangkali punya pandangan
lain? Mba Siti punya pendapat?
d. Menjelaskan definisi
Fasilitator menguraikan arti suatu istilah/konsep/pengertian dari sesuatu yang kurang dipahami
peserta, tanpa memberi contoh konkret.
Contoh, “Jadi, yang dimaksud prestasi adalah.. Perbedaan antara asessment dengan evaluasi adalah …….
e. Mengajukan contoh
Aktivitas ini umumnya merupakan kelanjutan dari aktivitas menjelaskan definisi. Fasilitator berusaha mengajukan contoh dari hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya.
f. Memberikan konfirmasi
Aktivitas fasilitator meng-iya-kan atau penguatan, baik dugaan suatu konsep, tindakan yang harus dilakukan, atau dugaan hubungan kausalitas.
Peserta : Kalau begitu, Pakem identik dengan belajar kelompok?
Fasilitator : Salah satu prosesnya iya, bisa juga berpasangan.
g. Menanyakan maksud peserta
Aktivitas fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dari hal-hal yang
dilontarkan peserta. Dapat pula untuk menemukan latar belakang dari pertanyaan itu.
Peserta : Jadi, dalam Pakem lebih mengaktifkan fisik daripada mental-intelektual?
Fasilitator : Yang kamu maksud aktif fisik dan mental-intelektual itu apa?
Peserta : Dalam Pakem yang penting karya siswa (pajangan)?
Fasilitator : Ehm, mengapa kamu menyimpulkan begitu?
h. Mengendalikan arah diskusi
Seringkali fasilitator terbawa arus oleh perdebatan yang berlarut-larut antar peserta, atau bila jawaban peserta lain menyimpang. Untuk itu, fasilitator harus berusaha mengembalikan arah diskusi ke jalur yang direncanakan.
Contoh 1: “mengapa kita harus berlarut-larut membicarakan hal yang sebetulnya tidak bermakna?
Contoh 2: “ yang saya minta, buat diagram, bandingkan, dan uraikan dengan menggunakan katakata anda sendiri kan?
i. Menekankan jawaban peserta
Unit aktivitas ini merupakan usaha fasilitator agar peserta memusatkan perhatian atau
meningkatkan kesadaran pada suatu simpulan/temuan oleh peserta lain. Penekanan ini biasanya
diiringi dengan penulisan inti pertanyaan/jawaban peserta di papan tulis.
j. Memancing data
Aktivitas fasilitator yang berusaha memperoleh fakta/temuan yang nantinya dibutuhkan untuk pembuktian suatu simpulan. ‘Unitas’ ini biasanya berupa rangkaian pertanyaan yang “menggiring”
peserta ke arah jawaban tertentu. Boleh jadi, rangkuman/simpulan bukan datang dari fasilitator.
Contoh:
Fasilitator dari hasil observasinya telah mencatat bahwa peserta membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan soal A daripada waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal B. Padahal, soal lebih banyak mengandung unsur yang tidak diketahui.
Fasilitator : Tugas mana yang memerlukan waktu lebih?
Peserta: Tugas A
Fasilitator : Tugas mana yang mengandung lebih banyak unsur yang tidak diketahui?
Peserta: Tugas B
Fasilitator: Apa yang bisa anda simpulkan dari kedua fakta itu?
Peserta : ………. (tidak menjawab)
Fasilitator : Apakah tugas yang lebih banyak unsur yang tidak diketahui selalu membutuhkan lebih banyak waktu?
Peserta : Tidak
Fasilitator : Jadi……….?

k. Merangkai induksi
Aktivitas monolog fasilitator yang menghubungkan berbagai temuan yang diperoleh peserta untuk merancang simpulan.
Contoh: tadi kalian sudah menyimpulkan bahwa A lebih besar dari B. Kita juga sudah buktikan bahwa A lebih kecil dari C. Simpulannya: (bahwa C > dari B … peserta yang menyimpulkan).
l. Memberi konsekuensi
Aktivitas fasilitator yang secara khusus diberikan untuk menghargai atau “mencela” tindakan tertentu dari peserta/kelompok peserta, bisa juga diberikan pada seluruh peserta. Aktivitas ini dilakukan secara khusus, agar peserta benar-benar merasa dipuji/dicela. (pujian bisa acungan jempol/tepuk tangan. Aktivitas ini mirip dengan konfirmasi, kalau konfirmasi hanya membenarkan dugaan peserta, tanpa memberikan penghargaan pada temuanya.
Dari berbagai unit aktivitas, unitas yang sebaiknya dikurangi (menjelaskan definisi, menjawab pertanyaan, memberi konfirmasi). Ada unitas yang sebaiknya ditambah (memancing data,
mengendalikan arah diskusi, menanyakan maksud peserta). Ada pula unitas yang sangat tergantung
dari respons peserta, walau stimulus sudah cukup diberikan.

6. Memberi ceramah singkat
Berbeda dengan kegiatan memimpin diskusi, ceramah singkat merupakan kegiatan monolog, untuk
menjelaskan konsep/prinsip yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Satu ceramah
sesungguhnya terdiri dari sejumlah unit penjelasan yang bertujuan menjelaskan memberikan
pemahaman terhadap satu prinsip/konsep.
Satu ceramah singkat yang utuh sebaiknya terdiri dari:
a. Rumusan : inti dari konsep/prinsip yang diajukan.
Contoh: Persepsi bersifat subyektif
b. Elaborasi : penjelasan lebih jauh dari rumusan yang diajukan
Contoh: artinya persepsi itu tidak tergantung pada objek yang dipersepsikan, melainkan
dari subjek yang mempersepi.
c. Argumentasi : pembuktian terhadap rumusan yang diajukan.
Bila pembuktian ini tidak dapat dilakukan dengan mudah, fasilitator dapat meminjam
otoritas para ahli yang membuktikan rumusan tersebut. Menurut hasil penelitian R.J.Marzano, bahwa persepsi….
d. Contoh : yang konkret dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan konsep/
prinsip yang dibahas.
e. Humor : digunakan bilamana perlu untuk lebih menguatkan habits of mind.
Untuk mengingat ke lima unsur ini, ingatlah bahwa setiap ceramah singkat seharusnya
berusaha untuk menjangkau (R-E-A-C-H) para peserta (pendengarnya).

Jadi ceramah singkat tidak diharamkan dalam pelatihan, justru penting karena berfungsi
menjelaskan konsep yang sulit untuk dipahami melalui pengalaman terkendali/diskusi kelompok. Di samping itu, ceramah singkat dapat digunakan sebagai media untuk meminjam otoritas para ahli dalam mendukung kebenaran yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman terkendali.

7. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran serta jurnal belajar

Salah satu cara untuk mengevaluasi proses dan hasil pelatihan (dalam waktu yang singkat) adalah
mengevaluasi kegiatan pelatihan (walaupun sesungguhnya evaluasi itu harus dilakukan terhadap
hasil pelatihan). Caranya dengan melihat adakah perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan
norma dalam wujud tingkah laku yang ditampilkan oleh peserta dalam waktu pendampingan (3
bulan setelah pembelajaran).

Ada beberapa cara untuk mengevaluasi efektivitas fasilitator dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya:

a. Sejauh mana fasilitator menyimpang dari rencana panduan (hasil rapat koordinasi tim
fasilitator sebelum pelatihan).
b. membandingkan proporsi modus-modus panduan pelatihan.
Gunakan rumus:
• waktu instruksi harus lebih singkat dari waktu kerja (pasangan-klp)
• • waktu kerja harus lebih singkat dari waktu diskusi
• • waktu diskusi harus lebih panjang dari waktu ceramah.
c. Beri kesempatan kepada peserta untuk setiap akhir pertemuan menuliskan jurnal belajar (apa yang sudah diketahui, apa yang ingin diketahui lebih lanjut, dan kesulitan apa yang dihadapi selama pelatihan).
d. sejauh mana fasilitator telah memberikan instruksi, memimpin diskusi, dan memberi
ceramah dengan baik.
.

About these ads

2 Tanggapan

  1. wah …. info yang sangat menarik … boitier électronique voiture … dahsyat

  2. Sangat baik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 305 pengikut lainnya.