Menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

Menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition atau Pengajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis, termasuk salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pada awalnya, model CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil, para siswa diberi suatu teks atau bacaan (cerita atau novel), kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisi, dan menulis ikhtisar cerita, atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita, atau untuk mempersiapkan tugas tertentu dari guru (Muhammad Nur) (dalam Suyitno Amin, 2005).

Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini sterdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/ bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya.
“In addition to solving the problems of management and motivation in individualized programmed instruction, CIRC was created to take advantage of the consciderable socialization potential of coopretive learning” (Slavin, 1995: 5).
Kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, (2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan yang ditanyakan dengan variabel tertentu , (3) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, (4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), dan (5) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/ penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi)

Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC untuk melatih siswa meningkatkan ketrampilannya dalam menyelesaikan soal cerita (Suyitno Amin, 2005), maka langkah yang ditempuh seorang guru matematika adalah sebagai berikut:

a. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika tertentu kepada para siswanya ( misalnya dengan metode ekspositori).
b. Guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita
c. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan CIRC.
d. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (Learning Society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa.
e. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk.
f. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan yang spesifik sebagai berikut.
1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal cerita tersebut.
2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita termasuk menuliskan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu.
3) Saling membuat rencana penyelesaian soal cerita.
4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut.
5) Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.
g. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (team study). Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok.
h. Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami oleh anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberi bantuan kepada kelompok secara proporsional.
i. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami, dan dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru.
j. Guru meminta perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.
k. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilisator jika diperlukan.
l. Guru memberikan tugas/ soal cerita secara individual kepada para siswa tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari.
m. Guru bisa membubarkan keompok yang dibentuk dan para siswa kembali ketempat duduknya masing-masing.
n. Menjelang akhir waktu pembelajaran, guru dapat mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita.
o. Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan kompetensi yang diperlukan.

Dalam hal ini, keterlibatan setiap siswa untuk belajar secara aktif merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Eggen dan Kauchack yang menulis bahwa “Effective learning occur when students are actively involved in organizing and finding relationships in the information”.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.