Perlukah Periodisasi Sastra Populer

Perlukah Periodisasi Sastra Populer


Oleh Nenden Lilis A.

Era reformasi, yang terhitung sejak jatuhnya rezim Orde Baru tahun 1998, telah memunculkan banyak fenomena dalam kesusastraan Indonesia. Di antara fenomenafenomena
itu adalah terangkat dan tergalinya kembali jenis-jenis dan karya-karya sastra yang selama ini terpinggirkan, termasuk sastra populer.
Fenomena yang ditunjukkan era ini yang terkait dengan sastra populer adalah maraknya keberadaan sastra ini, yang menjadi ciri penting kesusastraan pasca orba.. Selain marak, sastra populer era ini menunjukkan keberagaman dan secara mencolok memperlihatkan karakteristik berbeda dengan sastra populer era-era sebelumnya. Fenomena ini tentunya mengusik kita untuk memikirkan persoalan seputar pemetaan sastra populer.
Perlukah sastra populer dipetakan?
Selama ini, seiring dengan pemikiran modernisme yang menjadi bangunan utama dunia beberapa abad ini, cara pandang kita terhadap kesusastraan pun mengikuti arus tersebut. Modernisme cenderung berpijak pada apa yang diistilahkan Jean Francois
Lyotard sebagai grand narrative (narasi besar), yakni universalitas, totalitas, keutuhan organis, pensisteman, dan legitimasi. Karakteristiknya ini telah menyebabkan
terabaikannya pluralitas. Apa yang disebut pusat pun bersifat tunggal, sehingga segala sesuatu yang dianggap bukan pusat termarjinalkan. Akan halnya dalam kesusastraan, cara pandang modernisme ini telah menyebabkan apa yang dianggap sebagai sastra, hanyalah misalnya, sastra elit (tinggi/adiluhung), sastra nasional, dan sastra-sastra yang sebelumnya telah ditahbiskan
sebagai sastra utama. Cara pandang ini telah menyebabkan sastra-sastra di luar itu, semisal: sastra populer, sastra lokal, dan sastra perempuan, dianggap bukan sastra dan terabaikan dalam penyusunan sejarah sastra.
Terkait dengan sastra populer, sejarah sastra Indonesia termasuk yang seolah “meniadakan” keberadaannya. Sejarah sastra Indonesia telah merumuskan periodisasi sastra Indonesia. Perumusan periodisasi sastra ini dilakukan karena melihat bahwa sastra Indonesia telah berkembang dalam beberapa kurun waktu, dan setiap kurun waktu itu diisi oleh konvensi, norma, standar, dan tema sastra tertentu yang dominan yang kemudian membentuk kekhasan periode tersebut. Kekhasan setiap periode inilah yang kemudian membentuk apa yang dalam kesusastraan diistilahkan angkatan-angkatan sastra. Upaya penyusunan ini antara lain telah dilakukan H.B. Jassin, Boejoeng Saleh,
Nugroho Notosusanto, Ajip Rosidi, Rachmat Djoko Pradopo, dan Korrie Layun Rampan (sekalipun penyusunan dari setiap ahli sastra itu tidak selalu sama).
Gejala yang segera dapat terlihat dari perumusan-perumusan tersebut adalah sama, yakni bahwa korpus-nya hanya didasarkan pada karya-karya sastra yang dianggapsastra tinggi. Sastra populer tidak ditilik dalam melihat ciri setiap periode tersebut
sehingga karakteristik dan kekhasan yang dimilikinya tidak tertelaah, terdeskripsikan, dan terangkumkan.
Apakah dengan demikian perlu periodisasi tersendiri untuk sastra populer?
Munculnya pemikiran posmodernisme, postrukturalisme, dan studi kultural telah mengoreksi pengabaian terhadap keberadaan sastra populer. Posmodernisme dan posstrukturalisme sebagai paham sekaligus gerakan kultural berupaya membongkar cacat-cacat modernisme dan kelemahan strukturalisme dengan lebih menghargai
deotorisasi, destrukturisasi, pluralisme, fragmentasi, keanekaragaman, kontradiksi, dan kerelatifan. Dengan kata lain, posmodernisme mengembalikan kesadaran pada semua
wacana yang berada di luar hegemoni, atau pada the other. Dengan demikian, sastra populer yang selama ini berada di luar hegemoni, didudukkan secara semestinya. Hal ini diperkuat pula dengan lahirnya studi kultural (cultural studies). Kajian yang berawal dari Inggris ini melihat kebudayaan sebagai aktivitas sehingga menurutnya tidak ada kebudayaan yang mesti dikesampingkan. Kajian ini telah berkontribusi dalam
menghancurkan batas antara sastra (kebudayaan) tinggi dan sastra (kebudayaan) populer yang selama ini dipandang secara dikotomis dan hierarkis.
Dengan paradigma di atas, karena selama ini sastra populer tersisihkan dalam penyusunan sejarah sastra Indonesia (seperti terlihat dari periodisasi sastra seperti dijelaskan di atas), maka menjadi penting periodisasi sastra populer dirumuskan/
dipetakan. Hal ini tidak untuk tujuan mendikotomikan antara sastra tinggi dengan sastra populer, tapi lebih sebagai affirmatif action.
Affirmatif action adalah tindakan yang sengaja diambil dengan cara
memperlihatkan perbedaan suatu kelompok dari kelompok lainnya dengan tujuan mengangkatnya dari ketidakadilan kesempatan. Tindakan afirmatif dilakukan jika ada suatu kelompok yang terpinggirkan. Contoh dari tindakan afirmatif dapat dilihat dari apa
yang terjadi dengan sastra perempuan. Selama ini karya sastra yang ditulis perempuan (berikut penulisnya) dimarjinalkan dari kesusastraan umum. Untuk menggugat keadaan tersebut, para perempuan membentuk komunitas sastra khusus perempuan, menerbitkan karya-karya khusus perempuan, menyusun sejarah sastra perempuan, dan sejenisnya.
Dengan cara ini, pada akhirnya, karya sastra yang mereka hasilkan berikut penulisnya didudukkan secara lebih objektif dan proporsional.
***
Dari berbagai pustaka yang ada, dapat kita lihat bahwa sastra populer telah tumbuh dan menempati kurun-kurun waktu tertentu, yang setiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri tertentu yang khas.
Dari kekhasan setiap kurun waktu itu periodisasi sastra populer dapat dideskripsikan , yaitu: 1) Periode Zaman Kolonial; 2) Periode 1950-1968-an; 3) Periode 1970- 1990-an; dan 4) Periode Era Reformasi.
Sastra populer di Indonesia telah tumbuh sejak abad 19, terutama pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sastra populer pada masa ini ditulis, baik oleh kaum Indo-Belanda, peranakan Cina, maupun kaum pribumi, dengan menggunakan bahasa Melayu
Pasar. Sastra populer yang ditulis pada masa ini meliputi cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita-cerita kriminal yang diangkat dari kisah-kisah nyata di pengadilan, cerita silat, cerita-cerita hantu (gaib), dan cerita percintaan (yang tak jarang dibumbui sex). Di samping itu, di balik cerita-cerita tersebut, tak jarang para pengarangnya menyelipkan ideologi tertentu. Cerita-cerita yang ditulis R.M.Tirto Adhi Soerjo dan Marco
Kartodikromo misalnya, ditengarai mengandung ideologi komunis.
Jenis sastra di atas mengalami masa surut pada zaman pendudukan Jepang (1942-1949). Surutnya hal ini, seperti pernah dicatat Jakob Sumardjo, dikarenakan zaman itu penuh pergolakan politik dan sosial. Untuk menulis dan membaca dibutuhkan ketenangan khusus yang sulit diperoleh pada masa seperti ini. Dari berbagai literatur, tak banyak terdeskripsikan sastra populer pada masa ini sehingga untuk sementara dapat dikatakan bahwa masa ini tidak masuk dalam periodisasi sastra populer.
Sastra populer baru merebak kembali pada masa kemerdekaan, yakni 1950 – 1968-an. Dalam kurun waktu ini muncul novel-novel dan cerpen-cerpen dengan cerita cerita percintaan yang dibumbui sensualitas, detektif, dan cowboy.
Tahun 1970-an sastra populer mengalami pergeseran dari ciri sebelumnya. Sastra populer pada masa ini banyak ditulis kaum perempuan. Cerita-cerita yang mendominasi masa ini adalah masalah rumah tangga. Kemudian berkembang pula cerita-cerita remaja, (baik berupa cerita petualangan, maupun cinta remaja). Hal ini berlangsung hingga 1990-an (akhir masa orba).
Pasca Orde Baru, yang sering disebut era reformasi, berkembang pesat karyakarya sastra populer dengan motif-motif keagamaan atau yang diistilahkan Moh. Irfan Hidayatullah sebagai Ispolit-Islam Popular Literature (jenis ini telah dirintis sejak sebelum reformasi). Berkembang pula novel dan cerpen-cerpen remaja yang
menceritakan perempuan kosmopolitan dengan keseharian kehidupan perkotaan dalam karya-karya chicklit dan teenlit. Jenis-jenis cerita yang ada pada era sebelumnya memang masih berkembang sekalipun tidak mendominasi. Hanya, pada periode ini sastra populer tidak banyak diwarnai tema-tema kekerasan (kriminalitas). Hal itu terjadi barangkali karena tayangan-tayangan berita kriminal di televisi telah cukup “memuaskan”
masyarakat.
Ada yang bisa dicatat dari fenomena sastra populer era mutakhir ini, yakni munculnya pergeseran dalam bobot tema yang diangkat. Sastra populer era ini lebih menunjukkan muatan intelektual. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta yang banyak mengandung wawasan keagamaan yang tidak ringan. Atau novelnovel chicklit dan teenlit, yang mengusung apa yang diistilahkan Aquarini Prabasmoro, feminisme lunak.
Dari uraian di atas, sekalipun bersifast global, terlihat bahwa setiap periode dalam perkembangan sastra populer memiliki ciri-ciri khusus. Kekhususan ini tentulah dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik-ekonomi-budaya, dll yang menandai masyarakat
dan zamannya. Dari situ kita melihat bahwa karakteristik dan arah sastra populer mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Seperti yang terjadi pada era sekarang, sastra populer tidak hanya ditujukan untuk kepentingan hiburan, dan bukan hanya jadi objek industrialisasi. Kenyataan ini bukan tidak mungkin menimbulkan pergeseran dalam pendefinisian sastra populer, sekaligus cara pandang terhadapnya.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Perilaku “Spontan” dan “Reaktif” pada Hewan;>>>> Baca

Perbedaan Inovasi dan Modernisasi;>>>> Baca

Jika Anak Suka Mencuri;>>>> Baca

Sejarah Matematika dan Perkembangannya;>>>> Baca

Pemenuhan IKKM (Komponen Standar Nasional Pendidikan) untuk Mencapai Standar Mutu Pendidikan Bertaraf Internasional;>>>> Baca

Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Satu Tanggapan

  1. artikel bagus pak.. boleh tahu referensinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.