Psikolinguistik Sebagai Disiplin Psikologi

Psikolinguistik Sebagai Disiplin Psikologi


Oleh: Tedi Permadi

Kalau linguistik merupakan disiplin akademis yang mengenai kompetensi linguistik, maka psikolinguistik merupakan disiplin yang melibatkan dirinya dengan performansi atau pelaksanaan linguistik. Psikolinguistik adalah cabang dari psikologi kognitif. Istilah kognitif ini membedakan pandangan kita dari pandangan behavioris terhadap bahasa, yang telah dianut oleh sejumlah psikolog dan linguis. Kalau kita menyebut bagian ini “performansi (pelaksanaan) linguistik,” maka kaum behavioris akan menyebutnya “linguistic behavior” atau “perilaku (perbuatan) linguistik.”
Untuk memahami perbedaan antara pendekatan kognitif dan pendekatan behavioris terhadap bahasa, maka kita akan meninjau secara singkat psikologi dan linguistik –terutama di Amerika Serikat– selama abad keduapuluh ini.

6.1 Psikologi Behavioris

6.1.1 Introspeksionisme

Pada awal abad ini, psikologi sebagai suatu disiplin eksperimental mulai mendapat perhatian. Para psikolog seperti Wundt di Jerman dan Titchener di Amerika Serikat melukiskan psikologi sebagai “science of the mind” dan mereka tertarik sekali mengadakan penelitian mengenai “keadaan kesadaran manusia” atau “the state of human consciuosness” Tujuan ini diperkecil di laboratorium menjadi suatu telaah mengenai seluk-beluk persepsi warna, bentuk, tanda-tanda bunyi dan sebagainya. Metode telaah ini disebut introspeksi. Ini berarti bahwa seorang introspeksionis haruslah memusatkan perhatian benar-benar pada beberapa stimulus (perangsang) dan melaporkan seluk-beluk keadaan-dalamnya dan juga imaji-imaji yang ditimbulkan oleh perangsang tersebut. Masalah yang paling besar yang dihadapi bahkan oleh para instrospeksionis yang ulung sekalipun adalah amat sedikitnya persesuaian pendapat mengenai perasaan-perasaan dalam yang berhubungan dengan stimulus tertentu. Oleh karena pertentangan pendapat antara kaum instrospeksionis ini terus berlarut-larut, maka psikologi pun siap menanti datangnya revolusi.

6.1.2 Revolusi Behavioris

Revolusi timbul pada tahun 1920-an, dipimpin oleh John Watson di Amerika Serikat. Para pengikut Watson, yang terkenal sebagai kaum behavioris, mcngikuti kaum empiris radikal sebagai leluhur falsafahnya, seperti filsuf-filsuf John Loeke dan David Hume. Para empiris radikal menganut keyakinan bahwa satu-satunya cara mengetahui sesuatu adalah dengan cara mengalami-nya secara fisik. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa satu-satunya jenis data yang dianggap valid, (benar, atau sah) oleh kaum behavioris radikal ini adalah data yang dapat diperoleh dengan bantuan tes yang obyektif serta dapat diamati. Dengan segala kekuatan yang ada padanya, revolusi behavioris menyelamatkan psikologi dari introspeksionisme; hal ini memungkinkan psikologi menjadi suatu disiplin ilmiah. Akan /tetapi dengan segala kekuasaan yang ada padanya pun revolusi behevioris ini membatasi keterangan atau eksplanasi psikologi; hal ini menghalangi perkembangan psikologi sebagai suatu ilmu yang dewasa, ilmu yang dapat berdiri sendiri. Tuntutan lain dari kaum empiris radikal dan kaum behavioris adalah bahwa dalam menjelaskan fenomena fisik seseorang hanya dapat mempergunakan fenomena yang dapat diamati. Jadi, psikologi bukan hanya menjadi ilmu pengetahuan behavior sebab hanya aspek-aspek fungsi organik yang dapat diamati saja yang diakui/diterima sebagai data, tetapi juga karena perilaku yang harus dijelaskan oleh psikologi itu haruslah dapat dijelaskan dengan bantuan lain-lainnya
Dalam suasana ini perilaku-perilaku kasar dianalisis sebagai rangkaian-rangkaian kesatuan-kesatuan perilaku yang lebih kecil, yang dihubungkan oleh prinsip-prinsip umum perkumpulan atau assosiasi (yang juga telah diterima oleh para introspeksionis). Penyebab utama untuk menyatukan kedua kejadian (atau kesatuan-kesatuan perilaku) ini dengan cara ini adalah kemunculannya yang berbarengan dalam ruang dan waktu, maka persatuan-persatuan yang lebih kuat akan dibentuk kalau dua aksi seringkali terjadi bersama-sama. Penelitian-penelitian eksperimental mengenai asal-usul pertalian-pertalian hubungan antara kesatuan-kesatuan perilaku membimbing kita ke arah penemuan bahwa sesungguhnya assosiasi-assosiasi itu dapat dibentuk antara kesatuan-kesatuan perilaku yang tidak berpasangan sebelumnya, melalui suatu proses yang disebut conditioning (persyaratan).Sebenarnya ada dua jenis persyaratan yang saling berbeda, yaitu: (a) persyaratan klasikal (classical conditioning) dan (b) persyaratan operant atau instrumental (operant or instru-mental conditioning). Karena banyak teori behavioris yang berhubungan erat dengan proses-proses ini, maka ada baiknya diadakan tinjauan singkat mengenai dasar-dasarnya. Pembicaraan singkat berikut ini hanya-lah sekedar usaha untuk menunjukkan bagaimana teori persyaratan atau teori “belajar” itu diterapkan pada analisis “perilaku” linguistik belajar yang jauh lebih rumit daripada yang disajikan di sini. Salah satu tinjauan yang sangat bagus mengenai teori belajar ini adalah karya E.R. Hilgard and D.G. Marquis “Conditioning and Learning,” New York : Appleton * Century-Crofts, 1961.

6.1.2.1 Persyaratan Klasikal

Persyaratan klasikal ada sangkut pautnya dengan Pavlov seorang fisiolog Rusia abad 20. Dalam percobaannya yang terkenal pada tahun 1902, Pavlov membunyikan lonceng dan segera sesudah itu menyemprotkan bubuk daging pada mulut anjing, membuat anjing itu mengeluarkan air liur. Kemudian Pavlov menemui bahwa anjing-anjing itu akan mengeluarkan air liur sebaik mendengar bunyi lonceng walaupun sebelum itu bubuk daging telah disodorkan. Jadi melalui persyaratan klasikal itu telah diutarakan suatu hubungan antara mendengar bunyi lonceng dan pengeluaran air liur yang belum dikenal sebelumnya. Lonceng itu disebut perangsang bersyarat (conditioning stimulus). Sedangkan bubuk daging (dihubungkan dengan pengeluaran air liur tanpa latihan) disebut perangsang tidak bersyarat (unconditioned stimulus). Pengeluaran air liur adalah jawaban bersyarat (conditioning response) terhadap lonceng, dan meru-pakan jawaban tak bersyarat terhadap bubuk daging.
Hubungan yang dibentuk oleh persyaratan klasikal tersebut mengandung sejumlah hal-ihwal yang menarik hati. Untuk meng-hasilkan hubungan yang diinginkan, maka lonceng itu haruslah segera mendahului penyodoran bubuk daging. Kalau jaraknya terlalu jauh atau kalau lonceng itu mengikuti bubuk daging, maka prosedur itu tidak jalan. Sekali terjadi, maka hubungan itu akan berlangsung terus beberapa kali tanpa penyodoran bubuk daging. Yaitu, si anjing akan mengeluarkan air liur bila mendengar bunyi lonceng buat beberapa kali, tetapi pengeluaran air liur itu secara bertahap berkurang intensitasnya sampai jawaban tersebut meng-hilang; ini dikenal sebagai pemadaman terhadap jawaban itu. Sebelum pemadaman kita dapat mengamati generalisasi perangsang (stimulus generalization), yang mengandung penger-tian bahwa lonceng lain pun, yang bernada sama terhadap perangsang bersyarat itu, akan mengakibatkan pengeluaran air liur yang sama (walaupun tidak sebanyak yang dihasilkan oleh lonceng yang asli). Paradigma persyaratan klasikal telah memper-lengkapi psikologi behavioris dengan orientasi dasarnya sebagai psikologi rangsangan-jawaban (atau stimulus-response-psychology), suatu pemerian kesatuan-kesatuan tingkah laku dan bagian-bagiannya.

6.1.2.2 Persyaratan Instrumental

Persyaratan instrumental (atau operant conditioning) dikembangkan oleh B.F. Skinner pada pertengahan pertama abad 20, dengan penekanan yang tidak begitu berat pada hubungan dua kesatuan tingkah laku seperti yang terjadi pada penambahan frekuensi serta intensitas sesuatu kesatuan tingkah laku dan yang diberi imbalan atau hadiah, maka organisme itu cenderung meng-hasilkan perilaku itu dengan frekuensi serta intensitas yang lebih besar daripada yang sebenarnya dihasilkannya. Contoh nyata dari laboratorium binatang adalah seekor tikus yang lapar dalam sebuah kandang kecil yang berjeruji besi. Walaupun menekan jeruji bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh tikus (para behavioris akan mengatakan bahwa responsi penekanan jeruji itu pada dasarnya tidak ada dalam daftar responsi tikus), namun tikus itu mungkin saja akan menekan jeruji it.u secara kebetulan waktu men jelajahi kandang tersebut. Kalau pendorongan jeruji itu segera diikuti oleh makanan, dan kalau setiap pendorongan jeruji berikutnya diikuti oleh makanan, maka tikus itu akan memperbesar kese-ringan perilaku pendorongan jerujinya itu. Pernyataan bahwa ganjaran atau hadiah akan memperbesar intensitas serta frekuensi sesuatu responsi disebut hukum pengaruh (law of effect). Ada beberapa istilah baru yang berhubungan dengan persyaratan instrumental ini. .Responsi dikatakan seba-gai suatu contoh perilaku instrumental. Butir-butir makanan itu disebut penguatan positif (positive reinforcement) dan diper tentangkan dengan perlengkapan persyaratan lain yang disebut penguatan negatif (negative reinforcement), suatu perangsang berbahaya yang akan dihindari oleh binatang. Kalau lantai kandang tikus itu dialiri aliran listrik, untuk membebaskan sedikit kejutan kepada binatang itu, dan penekanan jeruji dijalankan oleh listrik, maka binatang itu belajar menekan jeruji itu. Kejutan yang sedikit dalam hal ini akan merupakan contoh penguatan negatif. Kalau kita ingin memadamkan responsi penekanan-jeruji sesudah latihan butir makanan tersebut, maka kita dapat mengejuti/menakut-nakuti tikus itu setiap kali dia menekan jeruji itu. Kejutan kecil ini disebut hukuman (punishment) dan dipergunakan untuk memadamkan (bukan mendorong) sesuatu responsi. Seperti juga halnya pada persyaratan klasikal pemadaman terhadap responsi itu mungkin juga tercapai dengan jalan menghentikan kerjasama antara responsi instrumental dengan hadiah yang sudah dibiasakan itu. Telah banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui dengan pasti bagaimana prosedur-prosedur persyaratan berhubungan dengan perkembangan perilaku instrumental. Pernah ditemui misalnya, bahwa tidaklah perlu menghadiahi setiap responsi. Nyatanya sesuatu responsi yang telah dihadiahi hanyalah seben-tar-sebentar saja akan lebih lama padam daripada suatu responsi yang dipaksakan setiap kali dilancarkan. Aspek persyaratan yang sangat penting adalah hadiah yang selektif (selective reward). Ini berarti bahwa bila kita ingin mencoba memancing suatu responsi tertentu, maka kita tidak akan pernah memberi hadiah bagi yang berlawanan dengan responsi yang diharapkan itu.

6.1.2.3 Pengantara

Prinsip lain yang lebih belakangan dikembangkan pada abad ini adalah prinsip pengantara atau prinsip mediasi. Secara sederhana, prinsip ini mengatakan bahwa dua hal/benda yang berhubungan dengan hal/benda ketiga, akan cenderung berhubungan satu sama lain (melalui unsur biasa). Suatu contoh daftar yang dipelajari oleh manusia akan menjelaskan prinsip ini. Sejumlah psikolog telah mempergunakan banyak waktu dalam usaha untuk menemukan prinsip-prinsip umum dalam pelajaran manusia dengan meneliti cara yang dipergunakan orang mempelajari beraneka ragam jenis daftar: kata, suku kata yang omong kosong, angka, dan sebagainya. Salah satu daftar seperti itu disebut paired assosiate list (daftar pasangan jodoh), yang dalam mempelajarinya memberi kita suatu contoh yang baik mengenai pengantara atau mediasi. Suatu daftar pasangan jodoh adalah seperangkat (-katakanlah 20) pasangan kata (yang brasanya tiada hubungan apa-apa), seperti “sapi — gambar”, “buku —jamur”, dan sebagainya. Tugas subyek dalam percobaan ini adalah meresponsi unsur kedua pada setiap pasangan sebaik melihat/mendengar anggota pertama, yang bertin-dak sebagai perangsang. Seandainya Anda merupakan subyek dalam percobaan serupa itu, maka Anda akan belajar meresponsi “gambar” setiap kali Anda melihat kata “sapi”. Penelitian ter-hadap jenis belajar ini telah memperlihatkan bahwa bila Anda mempelajari daftar kedua yang memuat pasangan “gambar — da-pur”, maka Anda akan mempelajari pasangan “sapi — dapur” dengan sangat cepat pada daftar ketiga. Prinsip pengantara menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa hubungan antara “sapi” dan “dapur” diantarai oleh kata “gambar” walaupun “gambar” tidak ada pada daftar ketiga itu. Rangkaian hubungan yang nyata adalah “sapi-gambar-dapur”, tetapi responsi “gambar” merupakan mata rantai dalam, mata rantai penghubung yang disusun serta ditetapkan melalui (proses) belajar terdahulu.Bagi psikolog behavioris abad 20, responsi-responsi (perilaku) sesuatu organisme yang dapat diamati merupakan data yang harus dijelaskan, dan rangkaian-rangkaian asosiatif itu merupakan bagian teoritis dasar untuk menjelaskannya. Teori yang sedemikian mpa telah memberi pengaruh yang nyata pada psikolinguistik, yang akan dibicarakan pada bab terakhir.

6.1.3 Dasar-dasar Falsafah Behaviorisme

Istilah filosofis bagi “teori ilmu pengetahuan” adalah epistemologi. Para behavioris memakai epistemologi para empiris sebelum mereka. Epistemologi tersebut mengatakan bahwa tidak ada yang dapat diketahui yang tidak di alami. Bagi ummat manusia sebagai kelompok ini berarti bahwa ilmu pengetahuan yang ilmiah terbatas kepada apa yang telah diteliti oleh para ilmuwan secara langsung. Bagi individu-individu ini berarti hahwa segala pengetahuan perorangan haruslah merupakan hasil langsung dari penga-laman individu tersebut. Bagi teori ilmu pengetahuan ini maka ilmuwan dan perorangan sama saja merupakan penerima pasif dari ilmu pengetahuan yang dilimpahkan kepada mereka oleh lingkungan mereka. Sang ilmuwan haruslah bijaksana dan menga-dakan percobaan-percobaan sedemikian rupa sehingga dia dapat meneliti jenis-jenis fenomena yang ingin ditelaahnya; sebaliknya pukul rata perorangan berada didalam kekuasaan lingkungan hidupnya. Demikianlah keempirisan atau empirisme para psikolog behavioris itu ada dua yaitu ; pertama, mereka merupakan para empirisis sebagai ilmuwan, yang mengizinkan diri mereka sendiri menjelaskan fenomena fisik hanya dalam kejadian-kejadian fisik lainnya yang secara langsung dapat diteliti/diamati ; dan kedua, mereka merupakan para empirisis karena mereka meman-dang organisme-organisme perorangan yang mereka telaah, yaitu mereka memandang perilaku-perilaku yang mereka nyatakan sebagai komponen-komponen rantai-rantai assosiatif yang ditetap-kan pada organisme tersebut oleh lingkungan. Pada dasarnya behaviorisme ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu behaviorisme yang radikal dan behaviorisme yang tidak radikal. Berikut ini akan dibicarakan satu per satu secara ringkas.

6.1.3.1 Behaviorisme Radikal

Behaviorisme radikal, yang disebut juga psikologi kotak hitam (black box psychology), terkenal kepada banyak orang awam karena karya B.P. Skinner. Skinner telah berusaha menghubung-kan prinsip-prinsip persyaratan instrumental (yang ditemui dalam laboratorium binatang) dengan bahasa manusia (1957) dan lebih akhir lagi dengan perkembangan sosial manusia (1973). Prinsip dasar atau ajaran utama behaviorisme radikal ini ialah bahwa selama kita tidak dapat melihat ke dalam organisme yang hidup, maka kita tidaklah dapat meneliti pernyataan-pernyataan-dalamnya. Selama kita tidak dapat meneliti pernyataan-pernyataan dalam itu, maka kita tidak dapat mengetahui apa-apapun mengenai hal itu. Selama kita dapat mengetahui segala sesuatu mengenainya maka setiap pernyataan yang kita buat mengenai sifat-sifat dalam atau proses-proses internal itu pada galibnya tidak berarti apa-apa. Oleh karena itu, setiap organisme hendaklah diperlakukan/diang-gap sebagai sebuah kotak hitam yang tidak dapat dibuka bagi observasi/pengamatan. Satu-satunya pernyataan yang berarti yang dapat kita buat mengenai organisme itu adalah yang berkenaan dengan apa-apa yang datang masuk ke dalamnya (yaitu stimulus atau perangsang) dan apa-apa yang keluar dari dalamnya (responsi atau jawaban). Penjelasan bagi seperangkat perilaku khusus dapat ditemui dalam pola hadiah dan hukuman yang ada sangkut-pautnya dengan peri-laku-perilaku tersebut. Kita menjelaskan dorongan/tekanan tikus terhadap jeruji dengan frekuensi dan intensitas yang besar dengan melukiskan keadaan-keadaan di sekitar hadiah yang telah dihu-bungkan dengan responsi khusus ini. Tujuan para behavioris radikal adalah untuk menemukan serta menciptakan hubungan-hubungan yang (besar kemungkinan) dapat diramalkan antara perangsang dan jawaban, antara stimulus dan responsi. Perlu juga dicatat bahwa psikologi behavioris sering pula ditandai sebagai psikologi yang ada kaitannya dengan penga wasan atau kontrol terhadap perilaku. Terminologi ini hanya ber-laku dan tepat di dalam pengertian yang amat sempit yang bersifat teknis belaka.

6.1.3.2 Behaviorisme Yang Tidak Radikal

Karena tujuan-tujuan tradisional penelitian ilmiah berkisar di seputar penjelasan yang lebih mendalam daripada yang diizin-kan oleh para behavioris radikal, maka tidak usah kita heran bila banyak psikolog yang mulai mencoba mengisi “kotak hitam.” Skinner itu dengan struktur-struktur serta proses-proses psikologis internal yang telah dirumuskan untuk menjelaskan perilaku organisme-organisme yang diteliti itu. Adalah sulit untuk me-rumuskan pernyataan-pernyataan atau sifat-sifat internal serta terus menerus meyakini sepenuhnya epistemologi kaum em-piris, selama epistemologi tersebut berpendapat bahwa hanya unsur-unsur yang dapat diamati sajalah yang dapat diketahui. Untuk memecahkan masalah ini, maka para behavioris yang tidak radikal menganggap struktur-struktur internal yang telah dipatokkan itu merupakan tiruan-tiruan yang diperas dari perang-sang-perangsang dan jawaban-jawaban yang nyata. Hal ini mengi-ngatkan kita kembali akan jawaban -jawaban pengantara yang telah dibicarakan pada 6.1.2.3. di muka. Prinsip gabungan pengantara sebenarnya merupakan prinsip yang dikembangkan oleh para behavioris yang tidak radikal, dan jawaban pengantara dianggap sebagai suatu tiruan internal dari jawaban yang “nyata.” Jadi responsi internal “gambar” mempu-nyai banyak komponen tetapi tidak semuanya merupakan responsi eksternal “gambar” ini. Responsi internal serupa itu disebut responsi fraksional atau responsi pengantara internal (internal mediating responses). Kebanyakan psikolog behavioris adalah yang termasuk tipe tidak radikal dan menaruh perhatian besar pada pengembangan teori-teori mengenai sifat-sifat internal organisme-organisme yang mereka teliti. Akan tetapi bagian-bagiannya yang bersifat menjelaskan itu jelas terbatas pada konstruksi-konstruksi yang merupakan bayangan-bayangan perilaku yang nyata. Nah, oleh karena itu maka teori-teori yang tersedia bagi mereka masih ketat diawasi oleh epistemologi kaum empiris. Uraian singkat di atas hanyalah sekedar batu loncatan ke arah pembicaraan kita mengenai bagaimana caranya mereka menghu-bungkan bahasa dan psikolinguistik.

6.1.4 Linguistik Pada Awal Abad 20

Pembicaracm di sini terutama sekali ditekankan pada linguistik di Amerika. Begitu revolusi behavioris melanda Amerika Serikat, maka para linguis Amerika mengikuti aliran linguistik “taksono-mi’fe” yang pada gilirannya digantikan pula oleh linguistik generatif transformasi. Para taksonomis memandang bahasa sebagai untaian bunyi-bunyi ujaran yang dapat direproduksi secara tepat dalam transkripsi fonetik oleh linguis yang terlatih. Data kepentingan primer yang terdiri atas perangkat-perangkat transkripsi seperti tipe ini, agaknya menggambarkan perilaku linguistik si pembicara dengan tepat,, Tugas utama linguis adalah memotong-motong, membagi-bagi serta menggolong-golongkan bunyi-bunyi bicara itu satu persatu dan dengan cara demikian menemukan struktur fonemik bahasa yang sedang diteliti. Konsepsi Bahasa ini sangat bersesuaian benar-benar dengan pandangan behavioris mengenai analisis psikologi. Para psikolog itu hanya tertarik pada perilaku yang jelas dari subyek mereka (yaitu ujaran), dan para linguis tertarik pada hasil-hasil yang dapat diamati, dapat diteliti dari perilaku tersebut (yaitu bunyi-bunyi ujaran). Pendekatan behavioris pada penggunaan Bahasa, yang jelas berbagai ragam bentuk-nya itu, akan dibicarakan secara singkat berikut ini.

6.1.5 Kalimat Sebagai Perangsang dan Jawaban.

Pertama-tama, para psikolog dan para linguis sama-sama tertarik pada penggunaan Bahasa, yaitu memandang ucapan-ucapan sebagai perangsang atau jawaban holistik, yang rada menyeluruh, dari segi mereka masing-masing. Mari kita kutip contoh dari sebuah buku linguistik taksonomik yang terkenal hal-hal yang menyangkut pandangan seorang behavioris, sebagai berikut : “Andaikan Jack dan Jill berjalan menelusuri jalan kecil; Jill lapar. Dia melihat buah apel di pohon. Dia membuat suara dengan tenggorokan, lidah, dan bibirnya. Jack meloncati pagar, memanjat pohon, memetik apel itu, membawanya kepada Jill, dan menaruhnya di tangan Jill. Jill memakan apel itu.” (Blommfield; 1955: 24).
Berdasarkan pemerian kejadian-kejadian tersebut, Blommfield menyajikan suatu analisis rangkaian perangsang dan jawaban lisan yang dipergunakan oleh mereka sehingga Jill berhasil memperoleh apel itu. Analisis tersebut diikuti oleh kesimpulan: “Language enables one person to make a Reaction (R). When mother person has the Stimulus (S)” atau : “Bahasa memungkinkan seseorang membuat suatu Jawaban (J) apabila orang lain memiliki Perangsang (P)”. Linguis Blommfield mempergunakan karakteristik bahasa para behavioris dalam dua hal; yaitu: pertama, sebagai seorang linguis taksonomis yang menelaah bunyi-bunyi yang dibuat orang dengan mulutnya, dan kedua, dalam pengertian psikologis yang lebih tradisional mengenai pemeriksaan fungsi, bahasa. Skinner (1957) memperdebatkan bahwa berbicara hendaklah dianggap sebagai suatu jawaban instrumental bersyarat (yang, satu bagi setiap jawaban, perangsang yang nyata tidak segera kelihatan) terhadap beberapa perangsang yang datangnya dari dalam maupun dari luar. Dia mengembangkan seperangkat kecil kategori jawaban-jawaban lisan yang pada galibnya ada hubungan-nya dengan fungsi ucapan-ucapan tersebut. » Jawaban permintaan (mand response) berupa sejenis permintaan yang diajukan karena perangsang paksaan. Misalnya orang haus yang meminta “air.” Jawaban instrumental lisan lainnya adalah: Jawaban kebijaksanaan (tact response), suatu jawaban yang telah merupakan suatu etiket pada benda-benda/hal-hal pada lingkung-an, seperti mengatakan “sapi” kalau seseorang dirangsang oleh penglihatan terhadap sapi; .;; jaluaban gema atau tiruan (echoic or imitative response) seperti menggemakan “sapi” kalau seseorang dirangsang oleh orang lain yang mengatakan “sapi,” jawaban instrumental tekstual (textual operant response), kalau memhaca kata “sapi:” jawaban instrumental antar-lisan (interverbal operant response), suatu jawaban yang-sering diucapkan pada beberapa perangsang lisan, seperti mengatakan “Baik-baik saja” kalau seseorang menanyakan “Apa kabar?” (Cf. Sebeok; 1960 : 300).
Jelas analisis-analisis seperti yang dibuat oleh Blommfield dan Skinner itu tidak tertuju pada masalah-masalah seperti misal-nya bagaimana pengetahuan linguistik tersimpan dalam otak dan bagaimana caranya dipakai dalam penyandian dan pemba-caan sandi pesan-pesan yang diterima. Pendekatan yang dilakukan oleh Skinner dan para psikolog yang lainnya itu malahan merupa-kan suatu analisis sederhana terhadap fungsi ujaran manusia. Ana-lisis serupa itu mungkin saja menarik hati kalau mencakup lebih banyak lagi fungsi-fungsi linguistik yang biasa dipakai sehari-hari seperti percakapan, persesuasi, godaan, pengajaran, dan sebagai-nya.

6.1.6 Kalimat Sebagai Rangkaian Asosiasi

Para psikolog behavioris melukiskan ajaran yang sesungguhnya sebagai suatu rangkaian kejadian-kejadian yang berhubung-hubung-an satu sama lain. Oleh karenaitu kalimat tersusun sebagai suatu untaian kata-kata, yang masing-masing bertindak sebagai jawaban mengikutinya. Selanjutnya, bunyi-bunyi pada kata-kata dianggap sebagai untaian-untaian perangsang-jawaban. Asal-usul untaian-un-taian tersebut dianggap sebagai situasi-situasi yang beraneka-rona, tempat asosiasi-asosiasi antara perangsang dan jawaban dapat ter-bentuk termasuk kekerapan terjadinya bersama-sama pada ling-kungan itu. “Anak ini” sering terdengar; .jadi suatu asosiasi akan ter-bentuk antara “anak” dan “ini”, dengan “rumah” dianggap sebagai perangsang dan “itu” sebagai jawaban. Asosiasi serupa itu tidak akan terbentuk antara “untuk” dan “karena,” selama “untuk karena” bukan merupakan suatu kejadian ujaran wajar apalagi sering terpakai. Tuntutan agar kalimat-kalimat hendaklah dipandang sebagai rangkaian-rangkaian asosiatif merupakan tuntutan utama psikolinguistik kaum behavioris.

6.1.7 Kalimat Sebagai Perlengkapan Bersyarat.

Paradigma persyaratan klasikal telah membangkitkan perhatian untuk menjelaskan pemerolehan arti kata-kata satu persatu, dan selanjutnya, pergantian arti pada kata-kata lainnya via bahasa. Ada baiknya kita membicarakan teori ini memperlihatkan bagai-mana caranya persyaratan klasikal dimasukkan ke dalam pemerian bahasa behavioris, tetapi juga karena teori ini menggambarkan konsep dasar para psikolog behavioris, yaitu bahwa arti sebagai tiruan internal dari jawaban eksternal.
Menurut teori Mowrer, sebuah kata merupakan suatu perang-sang bersyarat (seperti bunyi lonceng bagi anjing Pavlov), sedang-kan benda/hal yang ditunjuk oleh kata tersebut merupakan perangsang tidak bersyarat (seperti bubuk daging pada percobaan Pavlov). Jawaban eksternal yang biasa terhadap penunjukan itu merupakan jawaban tidak bersyarat (seperti air liur dan jawaban makan dari anjing Pavlov), dan jawaban bersyarat —— bagi kata tersebut ——merupakan suatu fraksi atau pecahan dari jawaban eksternal (tidak bersyarat), yang dialami secara internal (hal ini tidak mempunyai kesejajaran yang nyata dalam prosedur Pavlov). Contoh-contoh Mowrer adalah persyaratan arti bagi kata-kata “Tom” dan “thief”. Dengan prosedur yang bersifat hipotetis itu kata “Tom” menjadi perangsang bersyarat yang menimbulkan pada pendengar jawaban bersyarat yaitu arti Tom” yang pada gilirannya merupakan suatu pecahan dari responsi-Tom yang sempurna (yaitu jawaban tak bersyarat bagi orang yang bernama “Tom,” yang merupakan perangsang tidak bersyarat). Begitu pula “thief” datang menimbulkan (bagi si pendengar) bagian dari jawaban-thief (ketidak percayaan; keprihatinan) dengan cara “………… menghubungkannya dengan pencuri yang sesungguhnya.” Proses-proses dasar pemerolehan arti ini disebut pengalaman-pengalaman bersyarat urufcan pertama. Langkah berikutnya ialah bahwa kali mat “Tom is a thief” dapat menjadi suatu per-lengkapan bersyarat dan mencetuskan proses bersifat “urutan kedua” yang membuat arti “thief” menjadi jawaban bersyarat bagi perkataan “Tom” dan (secara analogi) kepada orang yang bernama Tom itu. Singkatnya, Mowrer menyarankan agar penger-tian sesuatu kalimat hendaknya dibatasi sebagai pergantian arti dengan pertolongan persyaratan klasikal ini. (Mowrer; 1954 : 15).

6.1.8. Revolusi Chomsky

Penerbitan karya Chomsky “Syntactic Structures” pada tahun 1957 mengantar abad baru dalam linguistik. Segera terlihat bahwa linguistik baru itu tidaklah sesuai dengan psikologi behaviors, baik dari segi alasan-alasan filosofis maupun empiris. Data serta metode analisis linguistik pun mengalami perobahan besar-besaran. Lebih jauh lagi konsepsi-konsepsi baru dalam linguistik mempunyai implikasi-implikasi yang amat besar bagi psikologi, sebagian disebabkan semua konstruksi linguistik baru tersebut (struktur-dalam, kaidah linguistik, tingkatan analisis, penanda-frase, dan lain-lain) adalah abstrak, dan pada prinsipnya bentuknya tidak dapat disamakan dengan setiap struktur yang merupakan subyek bagi penelitian langsung. Lebih daripada itu, para linguis generatif transformasi menuntut agar konstruksi-konstruksi yang tidak dapat diamati ini menggambarkan pengetahuan linguistik pemakai bahasa. Tuntutan yang sedemikian rupa seluruhnya bertentangan dengan epistemologi berhavioris: “bahwa yang tidak dapat diamati/diteliti tidak dapat diketahui, baik oleh perorangan maupun oleh ilmiawan.” Linguistik baru itu menjalankan bid’ah/kedustaan epistemologis pada dua tingkatan: Secara serentak dituntut agar si individu mengetahui hal-hal yang tidak dapat diamati dan lebih jauh lagi sang linguis (sebagai ilmuwan) dapat menemukan hal-hal tersebut. Dalam istilah-istilah pemerolehan bahasa, kedustaan filosofis tersebut menjadi bertambah parah, selama linguis-linguis baru itu juga mempunyai anak yang sebenarnya mempelajari hal-hal yang tidak dapat diamati, bahkan lebih dari itu akhirnya. Dari sudut pandangan teoritis maka analisis bahasa sebagai perangkat-perangkat unsur yang berurutan secara hirarki yang dapat digerakkan berkeliling dalam cara-cara yang telah mempunyai kaidah tertentu merupakan suatu penyelewengan hipotesis yang mengatakan bahwa kalimat adalah rangkaian kejadian asosia-tif, yang berhubungan satu sama lain. Perhatikanlah hipotesis behavioris yang mengatakan bahwa dalam kalimat seperti “George picked up the ba&;y”asosiasi terdapat di antara “picked” dan “up” (yang masing-masing merupakan verba dan partikel). Jelas bahwa hipotesis ini sangat diperlemah oleh pengamatan bahwa terdapat suatu parafrase yang berbentuk “George picked the baby up.” Unsur-unsur yang tidak berkesinambungan yang di-pecah-pecah seperti ini jelas menyusahkan bagi hipotesis para asosiasionis, tetapi proses pencakupan linguistik itu jelas akan membawa malapetaka. Apa yang akan kita katakan mengenai asosiasi antara “the man” dan “picked” kalau keseluruhan kalimat (katakanlah dalam bentuk anak kalimat) yang dicakup antara mereka seperti dalam “the man who just returned from a long bussines trip happily picked the baby up?”
Kita harus menyimpulkan bahwa tidaklah tepat menggolong-kan hubungan antara “the man” dan “picked” ke dalam istilah-is-tilah tradisional kaum asosiasionis ataupun kita harus menyetujui bahwa suatu assosiasi diperbolehkan melenturkan serta meren-tang-panjangkan suatu kalimat cakupan yang tidak terbatas panjangnya, sedangkan kata-kata yang berdekatan seperti “man” dan “who ” tidaklah berhubungan erat satu sama lain. Nah, kelong-garan serupa itu memperlemah kekuatan teoritis konstruksi tersebut dan membuat konsep asosiasi sama sekali tiada mengan-dung nilai yang bersifat menjelaskan. Dengan demikian jelaslah bahwa prinsip-prinsip linguistik baru itu haruslah dikembangkan untuk menghadapi linguistik baru tersebut.

6.1.8.1 Jawaban Para Behavioris

Ada dua jenis usaha utama untuk mengembangkan prinsip-prinsip baru yang dikehendaki itu. Yang pertama datang dari dalam tradisi behavioris dalam psikologi dan yang pada pokoknya merupakan psikolinguistik behavioris tidak radikal. Yang kedua adalah psikolinguistik kognitif yang secara eksplisit bersifat non-behavioristik, yaitu seperti yang kita anut dalam buku ini. Para behavioris yang tidak radikal berusaha mendamaikan linguistik generatif transformasi dengan laporan-laporan pengan-tara terhadap gambaran-gambaran linguistik. Sekalipun usaha-usaha seperti itu umum selama tahun 1960-an, kita akan memusat-kan perhatian pada dua laporan teoritis itu, yang satu oleh Osgood (1963) dan yang satu lagi oleh Jenkins (1964), karena di samping mereka merupakan ciri dari laporan-laporan pengantara mengenai proses-proses psikolinguistik, juga mereka termasuk pencetus teori-teori yang agak terkenal pada tahun enampuluhan. Karya Osgood yang berjudul Three-Stage Mediational Model merumuskan perangkaian perangsang dan jawaban dalam tiga tingkatan yang berbeda, yaitu:

a) sensory level (tingkatan yang berhubungan dengan panca-indera; yang menggarap jawaban-jawaban yang tanpa sengaja);
b) integrational level (tingkatan yang bersifat penggabungan);
c) representational level (tingkatan yang bersifat pelukisan);

Kedua tingkatan terakhir inilah yang selalu kritis bagi psikoli-nguistik. Pada tingkatan integrasi ini asosiasi-asosiasi antara kata-kata satu persatu digantikan oleh asosiasi-asosiasi antara unsur-unsur urutan teratas seperti frase nomina dan frase verba. Osgood menyarankan agar kaidah-kiadah yang menyerupai struktur frase itu menggambarkan susunan asosiasi yang beraneka ragam pada tingkatan-tingkatan yang berada di dalam tingkatan integrasi. Pada tingkatan pelukisan, jawaban-jawaban internal yang bersifat fraksi itu (seperti jawaban-jawaban internal Mowrer) menggambarkan arti-arti, dan terdapat suatu sistem yang terpisah mengenai asosiasi-asosiasi antara gambaran-gambaran arti secara individual. Pada pokoknya Osgood mencoba memecahkan masalah aso-siasionisme ini, tetapi ternyata teorinya sekaligus terlalu kuat dan juga terlalu lemah. Teorinya itu terlalu kuat karena sebenarnya mengizinkan apa saja digabungkan dengan apa saja tanpa dipaksa oleh prinsip dasar asosiasionisme agar dapat digabungkan, maka benda-benda atau sesuatu itu haruslah terjadi atau muncul di dunia fisik, di dunia nyata. Tiada bagian dari imajinasi teoritis itu yang dapat membuat frase-frase nomina, frase-frase verba, atau morfem-morfem jamak ke dalam gambaran-gambaran fenomena yang dapat diteliti, yang dapat diperhatikan. Teorinya itu terlalu lemah karena tidak berusaha menangani konsep transformasi sebagai suatu sarana linguistik. Sebagai contoh yang agak berbeda, skema-nya itu tidak dapat menyelamatkan asosiasionisme dari kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan baginya oleh transformasi-transformasi pencakupan. Kalau teori Osgood merupakan suatu usaha untuk menda-maikan asosiasionisme dengan prinsip-prinsip tata bahasa genera-tif, maka teori Jenkins merupakan suatu upaya untuk menjelaskan fenomena kreativitas linguistik (dalam pengertian kemampuan menggarap kalimat-kalimat baru) di dalam kerangka behavioris.

6.1.8.2 Penolakan Terhadap Psikolinguistik Behavioris
Tantangan bagi psikolinguistik behavioris memang berat dan bertubi-tubi. Bukan sampai di situ saja, bahkan penolakan terhadapnya sering diajukan. Salah satu dari penolakan tersebut tertuang dalam karya G.A. Miller yang berjudul “Some preliminaries to psycholinguistic” yang dimuat di dalam “American Psychologist” (Januari 1965; pp. 15 – 20). Dalam karya yang singkat tetapi padat ini Miller mengemukakan kepada para psikolinguis seluruh kegagalan prinsip-prinsip behavioris untuk menangani serta menjelaskan perilaku linguistik manusia. Beliau mengutarakan serta memperdebatkan 7 aspek bahasa manusia yang bersifat lumrah yang tidak luar biasa yang membuktikan bahwa penjelasan behavioris itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Ketujuh aspek yang dikemukakan oleh Miller itu adalah sebagai berikut :
(1). “Tidak semua ciri-ciri fisik ujaran penting dan berarti bagi komunikasi lisan, dan tidak semua ciri-ciri ujaran yang penting mempunyai gambaran fisik.” Aspek bahasa ini menunjukkan bahwa dapatnya sesuatu itu diamati (atau observability) tidaklah perlu dan juga tidak memadai bagi kepentingan linguistik.
(2). “Makna sesuatu ucapan hendaknya janganlah dikacaukan dengan referensinya.” Kita tahu bahwa makna-makna merupakan antar hubungan lambang-lambang yang sangat rumit masalahnya; suatu jawaban yang bersifat pecahan atau fraksi yang terlalu sederhana untuk menggarap serta menjelaskan kekayaan arti yang berlimpah ruah itu.
3). “Makna sesuatu ucapan tidaklah sama dengan jumlah linear arti kata-kata yang membangunnya.” Masalah ini menunjukkan ketidakmampuan buah pikiran seorang asosiasionis menjelaskan bahasa — bahkan makna kalimat tersebut secara sederhana. Pantulan sekilas mengenai bahasa menunjukkan bahwa makna kalimat jelas sangat ditentukan oleh sarana-sarana sintaksis yang rumit seperti struktur yang bertingkat, hubungan-hubungan ketatabahasaan dan hubungan-hubungan antara kalimat-kalimat (yang bersifat atomik) itu.
4). “Struktur sintaksis sesuatu kalimat menentukan pengelompokan-pengelompokan yang mengendalikan interaksi-interaksi ataupun pengaruh timbal-balik antara makna-makna kata-kata dalam kalimat itu.” Kita harus ingat bahwa bukan hanya sintaksis yang mengendalikan ekspresi makna sesuatu kalimat, tetapi organisasi sintaksis pun bersifat abstrak dan tidak dapat diamati. Namun anehnya dengan cara yang dapat dibuktikan dipergunakan secara tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap insan yang normal.
5). “Tidak ada batas jumlah kalimat atau jumlah makna yang dapat diungkapkan, diekspresikan.” Dalam hal ini Miller menunjuk pada kemampuan yang tiada terbatas yang dimiliki oleh setiap insan untuk menghasilkan bahasa. Pengakuan terhadap kapasitas tak terbatas serupa itu menuntut pula pengakuan serentak terhadap suatu sistem prinsip-prinsip yang justru terbatas, yang mendasari kapasitas tadi. Jadi kita dituntut untuk ikut serta dengan linguis untuk merumuskan suatu sistem kaidah yang abstrak yang tidak dapat diamati, yang merupakan bagian dari setiap mesin rokhaniah/mental manusia. 6). “Pemerian sesuatu bahasa haruslah dibedakan dengan tegas dengan pemerian pemakai bahasa tersebut.” Dalam hal ini Miller menyatakan kepercayaannya bahwa psikolinguis kognitif hendaknya menelaah perbedaan kompetensi/performansi, pembedaan kemampuan/pelaksanaan di dalam segala implikasi teoritisnya.
7). “Terdapat komponen biologis yang besar bagi kemampuan insan itu untuk mengartikulasikan ujaran.” Seperti yang akan kita lihat nanti waktu membicarakan pemerolehan bahasa, maka suatu epistemologi yang merupakan suatu alternatif bagi empirisme harus menerima serta mengakui ilmu pengetahuan dari sumber-sumber selain daripada lingkungan. Salah satu sumber lainnya itu adalah kemampuan-kemampuan memproses informasi yang dibawa sejak lahir yang dimiliki oleh otak manusia itu sendiri, yang kelihatan membuatnya secara unik, secara khas serasi untuk belajar — atau merekonstruksi — bahasa manusia. Pada akhir tulisannya itu Miller melukiskan bidang baru yang disebut psikolinguistik kognitif itu. Dia antara lain mengatakan :
“Kalau kita menerima pernyataan realistis masalah tersebut, maka saya percaya bahwa kita juga akan dipaksa untuk menerima pendekatan yang lebih kognitif terhadap hal itu; lebih baik berbicara mengenai pengujian hipotesis dari pada mempelajari perbedaan; berbicara mengenai penilaian hipotesis daripada penguatan terhadap jawaban-jawaban; mengenai kaidah-kaidah daripada mengenai kebiasaan-kebiasaan; mengenai produktivitas daripada mengenai penyamarataan; mengenai kesanggupan-kesanggupan bawaan sejak lahir serta bersifat kesemestaan daripada mengenai metode-metode khusus mengajarkan jawaban-jawaban lisan; mengenai lambang-lambang daripada mengenai perangsang-perangsang bersyarat; mengenai kalimat-kalimat daripada mengenai kata-kata atau bunyi-bunyi lisan; mengenai struktur linguistik daripada mengenai perangkaian-perangkaian jawaban; pendek kata lebih baik kita berbicara mengenai bahasa daripada mengenai mempelajari teori.” (Cairns and Cairns; 1976 : 107-108).
6.2 Psikolinguistik
Kognitif Pada tahun-tahun berikutnya setelah Miller menulis kata-kata tersebut maka banyak psikolog yang telah berusaha melaksanakan apa yang telah disarankannya itu: lebih baik berbicara mengenai bahasa daripada mengenai belajar teori. Seperti yang telah sama-sama kita maklumi maka linguistik generatif transformasi memberi dorongan utama bagi perkembangan psikolinguistik yang non-behavioris. Hal ini sungguh benar karena linguistik baru tersebut membuat tuntutan mengenai hakekat dan kerumitan Bahasa dan karenanya juga mengenai pemakai Bahasa, yang belum pernah diutarakan sebelumnya. Memang Chomsky telah berulangkali mengatakan bahwa teorinya mengenai bahasa itu mengubah linguistik menjadi suatu cabang psikologi kognitif. Informasi ini muncul sebagai sesuatu yang mengejutkan bagi semua angkatan psikolog kognitif yang belum pernah mendengar mengenai kaidah transformasi ataupun struktur-dalam. Di bawah kepemimpinan Miller yang bijaksana maka banyak psikolog seperti itu mulai meluangkan banyak waktu untuk maju ke arah pengasimilasian linguistik baru tersebut dan ke arah penentuan cara-cara menguji tuntutan tersebut di laboratorium di bawah kondisi-kondisi yang diawasi; jadi ilmu baru psikolinguistik itu telah lahir dengan nyata.
Ingatlah bahwa kita telah membuat perbedaan yang penting antara teori kompetensi linguistik dan teori performansi linguistik. Teori kompetensi linguistik dianggap sebagai teori linguis mengenai pengetahuan linguistik. Sebaliknya teori psikolinguistik adalah suatu teori yang diharapkan oleh para psikolog dapat dikembangkan buat menjelaskan kemampuan-kemampuan, bakat-bakat pribadi dalam proses linguistik yang sesungguhnya. Perbedaan antara kompetensi dan performansi antara kemampuan dan pelaksanaan telah memainkan peranan penting sejak permulaan linguistik generatif. Sementara adalah merupakan keyakinan para linguis generatif bahwa teori kompetensi secara logika lebih tua dari pada teori performansi, maka mudahlah memahami mengapa perkembangan-perkembangan dalam teori linguistik telah mendahului perkembangan-perkembangan dalam psikolinguistik kira-kira selama satu dasawarsa. Setuju atau tidak, senang atau tidak senang, linguistik dianggap sebagai ibunda ilmu pengetahuan tersebut. Memang percobaan-percobaan terdahulu dalam psikolinguistik terutama sekali berkenaan dengan pengujian terhadap hal-hal yang diyakini oleh para psikolog sebagai tuntutan-tuntutan psikologis dari linguistik aliran Chomsky. Percobaan-percobaan pada masa itu meneliti variabel-variabel yang telah dibatasi dalam teori linguistik. Mereka mulai dengan hipotesis kerja bahwa teori-teori kompetensi dan teori-teori performansi amat bersamaan dan mempergunakan banyak konstruksi hipotesis yang sama dalam bentuk tingkatan-tingkatan serta kesatuan-kesatuan analisis. Begitu psikolinguistik berkembang, maka terjadilah tiga perubahan penting secara bersamaan. Para psikolog menemukan bahwa terdapat perbedaan besar antara teori kompetensi dan teori performansi; variabel-variabel yang telah dibatasi secara linguistik tadi mulai digantikan oleh variabel-variabel kognitif dalam teori psikolinguistik dan percobaan psikolinguistik; dan psikolinguistik pun menyerahkan kekerabatan pendirian filialnya itu kepada linguistik.
Pada hari-hari awal psikolinguistik kognitif, menuruti penerbitan Syntactic Structures pada tahun 1957, para psikolog mulai mengajukan pertanyaan yang agak sederhana. Apakah konstruksi-konstruksi teori linguistik — seperti struktur-dalam kaidah transformasi, struktur permukaan — mengandung kenyataan psikologis ? Kita akan melihat bahwa jawaban terhadap pertanyaan ini samar-samar; penelitian psikolinguistik secara serentak menjawab “ya” dan “tidak.” Hampir-hampir segera nyata bahwa konstruksi-konstruksi linguistik bukanlah merupakan komponen-komponen dasar teori performansi. Begitu penelitian maju, maka nyatalah bahwa kalau kita berbicara mengenai penyandian serta pembacaan sandi bahasa-bahasa, maka kita harus berbicara mengenai pemrosesan informasi. Kita memang tertarik pada pemerian jenis-jenis informasi yang tersedia bagi pemakai bahasa pada berbagai tingkatan pemrosesan. Lebih jauh lagi kita ingin agar kita mampu menentukan tingkatan-tingkatan pemrosesan yang relevan dan operasi-operasi kognitif campur tangan antara sesamanya. Penekanan pada aspek-aspek pemrosesan informasi performansi linguistik sama sekali tidaklah bermaksud untuk mencemarkan pentingnya arti konstruksi-konstruksi linguistik dalam psikolinguistik Hal itu hanyalah ingin mendemonstrasikan bahwa selama kegiatan-kegiatan psikolinguistik pemakai bahasa harus dengan tegas didasarkan pada pengetahuan linguistik yang telah dijiwainya, maka hal itupun berdasarkan banyak hal pula. Memang ada selalu harapan dan dugaan bahwa kalau kita maju dengan teori-teori linguistik dan psikolinguistik, maka keduanya sekali lagi akan bertemu, dan kita akan menemukan bahwa tingkatan-tingkatan, kesatuan-kesatuan informasi, beserta proses-proses psikolinguistik dapat ditunjukkan (serta dapat diramalkan sebelumnya) saling pengaruh-mempengaruhi dengan tingkatan-tingkatan, unsur-unsur, serta kaidah-kaidah deskriptif linguistik. Dalam karyanya “Psychological Explanation” (1968). Fodor meneliti bahwa “tujuan utama penelitian psikologi adalah penemuan jenis-jenis baru peristiwa-peristiwa rokhaniah.” Justru hal inilah yang hendak dicoba dilaksanakan oleh psikolinguistik kognitif. Kita mencoba menemukan jenis-jenis operasi mental yang tersedia pada para pemakai bahasa kalau mereka merasakan ujaran, kalau mereka menghasilkan serta memahami pesan-pesan lisan, dan kalau mereka mengembangkan sistem linguistik mereka pada masa kanak-kanak. Kita akan melihat bahwa pada saat kita berhasil menemukan beberapa proses mental yang baru, kita belum mengembangkan/menghasilkan suatu teori komprehensif yang akan menggabungkan semuanya itu ke dalam suatu cara yang sistematik. Oleh karena itu maka tidaklah dapat dikatakan bahwa suatu revolusi kognitif, beranalogi dengan revolusi behavioris pada tahun tigapuluhan, telah dicetuskan. Akan tetapi memang telah banyak kemajuan yang dicapai, dan kita mempunyai cukup alasan optimis mengenai masa depan psikolinguistik kognitif teoritis ini.
6.2.1. Dasar-dasar Falsafah Psikolinguistik Kognitif.
Kalau behaviorisme mempunyai akar-akar falsafahnya tumbuh dari dan di dalam empirisisme David Hume dan John Locke, maka psikolinguistik kognitif mempunyai akar-akar falsafah di antara para filsuf rasional seperti Plato dan Descrates. Perbedaan utama terletak pada epistemologi : epistemologi rasional lawan epistemologi empirisis. Kalau para empirisis percaya bahwa hanya data yang dapat diinderai sajalah yang dapat diketahui, maka para rasionalis percaya bahwa intelek manusia menggabungkan banyak prinsip abstrak organisasi dan proses-proses kognitif yang secara kualitatif berbeda dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia nyata, dunia yang dapat diamati. Sesungguhnya, para rasionalis percaya bahwa justru dengan pertolongan prinsip-prinsip dan proses-proses kognitif yang abstrak serupa itulah para individu dapat mengatur dan menggarap serta menangani peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, peristiwa-peristiwa nyata dalam lingkungan mereka. Dalam dunia Bahasa, psikolinguistik kognitif sungguh-sungguh beranggapan bahwa struktur-struktur serta proses-proses linguistik yang abstrak tersebut mendasari produksi dan komprehensi ucapan-ucapan. Hipotesis-hipotesis yang dimajukan oleh para psikolinguistik kognitif selalu beranggapan bahwa ada prinsip-prinsip yang mendasari organisasi linguistik yang dipergunakan oleh pemakai bahasa sebagai alat untuk menafsirkan serta mengoperasikan lingkungan linguistiknya. Jadi, persepsi serta komprehensi para pemakai bahasa terhadap ucapan-ucapan dianggap sebagai hasil dari suatu interaksi yang rumit antara peristiwa-peristiwa ekstern dan intern : tanda akustik ekstern, dan proses-proses persepsi intern serta komprehensi. Walaupun psikolinguistik kognitif bersifat rasionalistik seperti yang telah diutarakan di atas, tetapi perlu dicatat bahwa komprehensi adalah teori-teori materialistik. Dengan ini dimaksudkan bahwa proses-proses kognitif yang telah dipatokkan itu dipercayai dipengaruhi oleh kegiatan fisik di dalam otak manusia. Dengan kata-lain, operasi-operasi yang telah dipatokkan itu, walaupun jelas tidak diamati, semuanya dianggap mempunyai dasar fisik.
Jawaban pertama yang timbul dari benak kita ialah mempertanyakan mengapa semua ini dibicarakan — bagaimana mungkin proses-proses kognitif gagal memiliki suatu asal-usul yang bersifat kesyarafan (a neurological origin). Alasannya yang terpenting mengadakan pembedaan itu ialah bahwa Descrates, salah seorang dari para rasionalis yang paling berpengaruh, percaya bahwa tubuh dan jiwa merupakan substansi-substansi yang terpisah, dan bahwa jiwa sebenarnya memiliki suatu substansi non-fisik (metafisik) yang secara kualitatif berbeda dari substansi tubuh. Konsep ini dikenal sebagai dualisme dan diabaikan oleh semua ilmuwan yang tidak ingin menganggap eksistensi itu sebagai fenomena supernatural (fenomena gaib) ataupun sebagai fenomena metafisik. Beberapa teori metafisik sebenarnya bersifat dualistik, tetapi hal itu bukan merupakan soal bagi kita di sini. Psikolinguistik kognitif dan tata bahasa generatif transformasi adalah bersifat mentalistik dalam pengertian bahwa proses-proses kognitif (mental) dipercayai ada berupa yang tidak dapat diamati dan tidak menyerupai setiap fenomena yang dapat diamati. Proses-proses mental dibayangkan sebagai yang secara kualitatif berbeda dari perilaku yang dapat diamati yang dipergunakan sebagai dasar. Demikianlah, proses-proses psikolinguistik bersifat mental sebagai lawan dari behavioral, tetapi jelas bahwa proses-proses tersebut bukan bersifat metafisikal. Ini merupakan perbedaan yang penting karena para psikolinguis kognitif kerapkali ditunjuk sebagai para mentalis, dan hal ini membingungkan beberapa orang yang menyamakan mentalisme dengan dualisme. Di samping itu perlu pula dipahami bahwa para psikolinguis kognitif menolak perumusan-perumusan teoritis para behavioris walaupun mereka menyetujuinya dalam penggunaan metodologi eksperimental yang keras. Psikolinguistik kognitif adalah ilmu pengetahuan eksperimental. Dalam bab-bab berikut, khususnya yang mengenai performansi fonologi dan performansi tata bahasa, akan terlihat bahwa para psikolinguis kognitif mempergunakan teknik-teknik eksperimental yang tepat dan keras untuk menguji hipotesis-hipotesis serta menilai teori-teori. Tidak ada keuntungan kembali ke introspeksionisme dalam metodologi para psikolinguis kognitif. Sebagai kesimpulan dari pembicaraan yang telah kita adakan di atas (6.2) kita berharap bahwa kita telah berhasil menjelaskan bahwa penggunaan istilah “linguistic performance” (performansi linguistik) sebagai pengganti istilah “linguistic behavior” (perilaku. linguistik ; kelakuan linguistik) bukanlah pilihan semena-mena yang tidak beralasan sama sekali. Kedua konsep itu secara kualitatif memperlihatkan perbedaan epistemologi yang dianut dan secara tidak langsung seluruhnya membedakan konsepsi-konsepsi mengenai studi bahasa yang harus dilakukan.
Diambil dari buku “PSIKOLINGUISTIK” Karya Prof. Dr. Henry Guntur Tarihan

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Hakikat Membaca;>>>> Baca

Kesetaraan Gender dalam Pendidikan;>>>> Baca

Memahami Pendidikan dan Belajar Orang Dewasa;>>>> Baca

Polusi Memicu Perilaku Aneh pada Binatang;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Puyeng bacanya… Kagak ngarti. BTW, thanx infonya gan. Pertamax
    :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.