Obedience dan Compliance


Obedience dan Compliance

Penelitian tentang obedience (Kepatuhan) dilakukan oleh Stanley Milgram (1963) yang menggunakan suatu alat yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh menimbulkan efek yang dikenakan pada subjek. Penelitian ini menggunakan 3 orang, yaitu Subjek, Eksperimenter dan Learner (orang yang berpasangan dengan Subjek).

Eksperimenter meminta Subjek untuk membacakan soal-soal yang akan dijawab oleh Learner. Bila salah, harus dihukum oleh Subjek dengan sengatan listrik. Setiap kali membuat kesalahan, hukuman dinaikkan 15 volt. Sebelum eksperimen berlangsung, alat ini dicobakan pada Subjek agar dapat merasakan bagaimana rasanya sengatan listrik.
Ketika sengatan mencapai tegangan tinggi, biasanya Subjek meminta pertimbangan Eksperimenter untuk menghentikan, sedangkan Eksperimenter tetap meminta Subjek untuk terus melanjutkan sehingga hukuman itu berakhir pada saat mencapat 450 volt.

Pemberian hukuman itu tidak sungguh-sungguh terjadi karena semuanya sudah direkayasa. Yang ingin diteliti dalam eksperimen ini adalah seberapa jauh kepatuhan Subjek terhadap Eksperimenter. Hasil penellitian ini, hanya 12,5% Subjek yang berhenti sesudah memberikan hukuman pada batas 300 volt sehingga sampai pada akhir eksperimen, lebih dari 60% mematuhi perintah Eksperimenter.

Pada penelitian kemudian yang dimodifikasi, dengan memperdengarkan jeritan atau keluhan dari Learner, ternyata hasilnya 37,5% tidak lagi mematuhi perintah Eksperimenter.
Bila Subjek dan Eksperimenter berada dalam satu ruangan (dekat sekali), 60% tidak mematuhi perintah, 75% Subjek tidak mematuhi perintah bila dia harus memegangi alat eksperimennya. Dalam keadaan demikian, hanya 5% Subjek yang mau memberikan hukuman di atas 150 volt. Sedangkan dalam keadaan berkelompok, 67,5% mau meneruskan percobaan.
Ada beberapa hal lain yang mempengaruhi obedience, yaitu jenis kelamin dan tingkat otoritas orang yang memberi perintah. Untuk hal-hal yang mengerikan, wanita biasanya lebih tidak patuh sehingga di dalam penelitiannya Milgram ditemukan wanita yang lebih banyak menolak perintah. Tingkat otoritas memang berpengaruh pada kepatuhan.
eg. Orang lebih patuh diperintah atasannya daripada diperintah temannya sendiri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepatuhan

Ada orang-orang yang mematuhi perintah karena ia memang tahu bahwa hal itu perlu/benar, namun ada juga orang yang melakukan perintah itu karena paksaan. Yang terakhir inilah yang menjadi masalah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi patuh (terpaksa) :

•Status yang tinggi dari figur yang memiliki otoritas.
•Adanya suatu keyakinan bahwa yang bertanggungjawab terhadap perilaku kepatuhan adalah sumber otoritas.
•Terbatasnya peluang untuk tidak patuh.
•Meningkatnya situasi yang menuntut kepatuhan.

Compliance

Merupakan suatu perilaku yang sebagai persetujuan atas permintaan orang lain. Memang di dalam mengabulkan permintaan orang lain bisa disebabkan karena adanya kekuatan sosial, adakalanya seseorang itu mengabulkan permintaan tanpa alasan tertentu. Artinya, dia hanya ingin memberi dan kalau ada permintaan. Keadaan seperti ini disebut Mindlessness (kerelaan tanpa pamrih).

Menurut Equity Theory (Teori Tentang Keadilan), hubungan interpersonal cenderung terbentuk oleh adanya perasaan bahwa mereka itu diperlakukan secara fair (adil). Eg. Apabila kita tertarik pada seseorang, kita akan berbuat sesuatu yang disukainya.
Orang akan mengabulkan permintaan apabila sedang senang hatinya. Perasaan senang berkaitan dengan moodnya pada saat itu. Pendapat ini terbukti dalam penelitian oleh Regan (1971) yang menemukan apabila orang itu dalam masalah, cenderung menolak permintaan, sebaliknya apabila dia dalam situasi rileks/menyenangkan, cenderung mengabulkan permintaan.

Macam-macam Teknik :
1. Foot-in-the-door;
Teknik ini diajukan apabila kita bermaksud mendapatkan sesuatu yang besar dengan terlebih dahulu meminta sesuatu yang kecil.
Pada teknik ini, orang mengabulkan suatu permintaan apabila dia pernah memberikan sesuatu terhadap orang yang sama sebelumnya.

2. The-door-in-the-face;
Kebalikan dari yang pertama. Permintaannya besar dulu, karena tidak dapat dipenuhi baru yang kecil hingga bisa dikabulkan.
Teknik ini bisa berhasil dengan syarat :

a)Tenggang waktu permintaan satu dengan yang berikutnya tidak jauh (harus saat itu juga)
b)Pemintaan pertama jauh lebih banyak daripada kedua dan seterusnya
c)Kedua permintaan itu harus dilakukan oleh satu orang.

3. Low-Ball;
Menurut teknik ini, agar bisa memperoleh sesuatu yang lebih tinggi, orang bisa mendapatkannya setelah ada permintaan yang terkabul. Namun permintaan berikutnya itu adalah permintaan ralat. Teknik ini pernah diteliti dengan cara memberikan harga yang lebih rendah untuk sebuah mobil yang dipasarkan. Setelah pembeli menyepakati harga yang ditawarkan, salesman-nya beberapa saat kemudian mengatakan kepada pembeli bahwa harga yang disepakati itu keliru dan harus diubah. Ternyata, beberapa orang masih mau membeli dengan harga yang sudah dinaikkan tersebut. Dengan kata lain, teknik ini berhasil dilakukan. Syaratnya adalah harus ada persetujuan atau kesepakatan dulu (tentang harga yang ditawarkan pertama kali).

4. Even-a-penny-will-help-technique;
Teknik ini seringkali dipakai oleh para pencari derma. Hasilnya sungguh-sungguh luar biasa. Mengapa ???……..Karena si pemberi derma, secara psikologis memiliki kebebasan dari ketentuan dan terdorong untuk memberikan dalam jumlah yang lebih besar dengan harapan bisa membantu pihak yang dibantu.

5. Teknik Menanamkan Rasa Bersalah (Guilty Feeling);
Dengan menanamkan rasa bersalah menyebabkan orang ingin memberikan lebih banyak daripada orang yang tidak merasa bersalah. Dengan memberikan derma, diasumsikan sebagai cara untuk menghilangkan atau mengurangi dosa yang telah diperbuat meskipun pemberian itu tidak selalu berhubungan dengan perbuatan salahnya.

6. Teknik Sentuhan; Pernah diteliti oleh Smith (1992).
Kepada calon pembeli ditawarkan suatu produk makanan dengan jalan memberi kesempatan kepada calon pembeli untuk mencicipi makanan itu. Selama memberi sampel makanan, sebagian orang disentuh tangannya dan diminta untuk membeli sedangkan sebagian lagi tidak disentuh tangannya namun diminta untuk membeli. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang disentuh tangannya lebih banyak membeli daripada yang tidak disentuh tangannya.

7. Pemberian Atribusi ;
Di dalam Teknik Persuasi dengan jalan memberikan atribut positif (sanjungan) kepada seseorang, ternyata juga menunjukkan hasil yang lebih baik agar orang tersebut lebih mudah mengabulkan permintaan daripada tanpa memberi atribusi apapun. Teknik ini akan sangat efektif apabila orang tersebut membutuhkan atribusi positif, namun bagi mereka yang punya kepercayaan diri yang tinggi maka teknik ini tidak kena sasaran atau tidak tepat.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

ETOLOGI Studi Obyektif tentang Perilaku Hewan;>>>> Baca

Pengertian Discovery, Invention, dan Innovation;>>>> Baca

Pengertian Etika, Moral dan Etiket;>>>> Baca

Hakekat Ilmu Ekonomi Regional;>>>> Baca

Konsep Dasar Sosiologi Simmel Serta Max Weber;>>>> Baca

Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Tks….tulisan anda memberikan inspirasi bagi tesisku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.