Kesiapan Membaca Permulaan

Kesiapan Membaca Permulaan

A. Konsep Kesiapan Membaca

Periode prereading sangat panjang mulai dari lahir sampai saat seorang anak diajarkan untk mengenali dan membaca kata-kata. Selama periode inni anak belajar untuk memahami dan
mengucapkan kata-kata, mengikuti arah cerita, mempelajari dan menginterpretasi gambar, dan sebagainya. Minat dan kemampuan membaca siswa tumbuh secara bertahap dampai anak mencapai tahap kesiapan untuk membaca pada awal pembelajaran.
Konsep modern berpendapat bahwa kesiapan terdiri atas berbagai faktor, tidak hanya faktor fisik dan kematangan saja, tetapi faktor tingkat pengetahuan. Kesiapan dalam membaca berfokus
pada kesiapan membaca awal meskipun pada dasarnya kesiapan sangatlah penting di semua tingkatan. Mengembangkan kesiapan membaca pada setiap jenjang merupakan tugas penting guru.

Konsep umum “kesiapan “adalah beberapa hal yang harus diupayakan dan dikuasai sebelum hal lain ditangani. Belajar membaca sebagai suatu kegiatan juga melibatkan penguasaan
keterampilan tertentu. Secara umum konsep kesiapan membaca diterima sekalipun persepsi tentang kesiapan membaca berbeda-beda dan meluas. Perbedaan pandangan tersebut terutama
disebabkan kerumitan membaca itu sendiri.

Terlepas dari interprestasi yang berbeda mengenai kesiapan membaca, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar anak-anak mencapai posisi siap membaca jika mereka ternyata tidak
menunjukkan kesiapan membaca.Pertanyaan yang dapat diajukan adalah, “Aspek membaca apakah yang siap pada anak ini ?” bukan, “Apakah anak ini siap memulai belajar keterampilan
pengenalan kata ?” Secara luas, kesiapan membaca bukan hanya masalah untuk suatu usia atau tingkat kelas, namun untuk semua usia dan tingkat Ada sejumlah keterampilan yang menjadi prasyarat untuk pengajaran membaca formal.
Prasyarat yang dimaksud meliputi :pengalaman dasar, perkembangan kognitif, perkebmangan bahasa, kesadaran metalinguistik, minat dan sikap, deskriminasi visual dan auditori, serta kemampuan orientasi arahan.

B. Menilai Kesiapan
Prosedur untuk menilai kemampuan kesiapan membaca beragam mulai dari observasi guru sampai penggunaan tes standar. Pengalaman menunjukkan bahwa guru yang berpengalaman
sering mengembangkan kepekaan dan kemampuan dalam mengidentifikasi anak-anak yang bergerak ke dalam pengajaran membaca formal. Menilai kesiapan membaca siswa dapat
dilakukan dengan beberapa cara di antaranya berikut ini.

Penilaian Informal

Para guru sering menyatakan bahwa anak-anak telah siap membaca dengan bekerja bersama mereka dan secara sistematis meneliti pola tingkah laku dan prestasinya. Simpulan dibuat
berdasarkan apa yang lebih tampak sebagai pola. Dalam kaitan ini observasi merupakan cara yang dilengkapi daftar pemeriksaan dan catatan anekdot.

Mengamati Pengalaman Dasar

Pengalaman dasar dapat diamati dengan melihat respon anak pada bacaan-bacaan yang dibagikan, pada aktivitas permainan bebas, dan aktivitas bahasa tutur.

Mengamati Perkembangan Kognitif

Guru dapat mencatat aktivitas anak-anak dalam permainan untuk menentukan kemampuan mereka dalam merepresentasikan objek yang tak hadir dengan objek lain.

Mengamati Perkembangan Bahasa

Dengan masuknya ke sekolah, anak-anak telah mengembangkan kemampuan bahasa baik kemampuan reseptif maupun kemampuan produktif. Akan tetapi, guru seharusnya memberikan perhatian untuk mengamati kelemahan dan kekuatan semua kemampuan.

Mengamati Arah dan Orientasi

Orientasi bisa diamati ketika seorang anak mengenali urutan huruf, susunan kata, penggunaan papan tulis dan kemampuan berpindah.

Meneliti Minat dan Sikap

Minat seorang anak dalam membaca dapat diperkirakan dengan mengajukan pertanyaan mengenai identifikasi kata, meneliti minat anak untuk membaca majalah dan buku.

Diskriminasi Auditori

Penilaian dapat dilakukan melalui permainan diskriminasi auditori yang bisa membuat anak-anak merespon dengan sinyal yang sudah ditentukan.

Diskriminasi Visual

Diskriminasi visual dapat diamati dengan menyuruh anak-anak melakukan kegiatan :

mengidentifikasi huruf yang sama, menemukan kata, dan menandai huruf

Catatan Anekdot

Catatan anekdot dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu bidang. Teknik ini bisa digunakan untuk observasi yang didaftar sebelumnya. Catatan tersebut dapat berupa buku harian
(diary) karena tingkah laku seharusnya diteliti selama satu periode.
Menggunakan Cheklist
Observasi dapat dilengkapi daftar cek yang digunakan untuk pengajaran membaca tetapi bisa juga dilengkapi untuk kemampuan yang lain.

Tes Standar

Beberapa tes standar yang diterbitkan meliputi sub-subtes untuk mengukur prestasi dalam kemampuan seperti diskriminasi visual huruf dan kata, diskriminasi auditori bunyi awal dan akhir. Sedangkan yang lain meliputi pengukuran mendengar, pemahaman, arahan, koordinasi visual-motorik, dan kemampuan memahami bahasa lisan. Di antara tes kesiapan yang umum
dipakai adalah:

Tes membaca Cates-Macginitie : Keterampilan Kesiapan Membaca, Kelas TK.

Tes kesiapan Metropolitan , Kelas I
Analisis Kesiapan Membaca Murphy-Durrel, Kelas I.
Ketika menggunakan tes standar, para guru seharusnya memperhatikan apakah tes berguna sebagai alat penilaian. Serangkaian pertanyaan dapat diajukan untuk menguji tingkat
keterpercayaan hasil tes. Misalnya tentang pengambilan sampel dari populasi yang heterogen dan tidak memadai. Beberapa kemampuan penting seperti rentang perhatian, model belajar kognitif, dan latar belakang pengalaman dihilangkan dari semua tes standar.
Tujuan utama tes kesiapan standar adalah memprediksi kemungkinan keberhasilan dalam membaca permulaan. Akan tetapi riset menunjukkan bahwa tes tersebut “bukan peramal yang
sangat baik”. Karlin (1980:171) melaporkan bahwa peneliti independen melaporkan bahwa rentang korelasi antara 0,30 sampai 0,75 dan sebagian besar antara 0,40 dan 0,60. Hal ini berarti bahwa hanya 40 – 60 dari 100 merupakan tes peramal yang baik.
Kesulitannya adalah dimana didapat tes standar yang baik. Karenanya perlu diupayakan upayaupaya seperti : menyeleksi tes, menggunakannya sebagai indikator kebutuhan, catatlah sub tes yang baik, dan yang kurang baik.

C. Program Pengajaran Membaca Permulaan

Materi pengajaran bisa merupakan sebagai ancaman bagi kreatifitas guru. Guru dapat menjadi terlalu tergantung atau didominasi oleh materi. Jika seseorang berangkat dari premis
bahwa pengajaran yang jelek itu adalah merek dagang sekolah kita, maka materi contoh dari gurulah yang tampaknya diinginkan. Di lain pihak bila sesorang percaya bahwa para pengajar
merupakan variabel yang penting di dalam situasi belajar di kelas, maka orang mungkin mengharapkan guru tersebut menjadi sumber utama input dalam strategi mengajar.
Kini jelaslah bahwa para guru tidaklah dapat dan seharusnya tidak mengembangkan semua bahan yang mereka perlukan di dalam mengajar membaca. Selain itu juga jelas bahwa materi
yang diduga keras sama-sama berguna bagi semua anak ternyata tidaklah demikian. Pembelajar
yang berbeda memerlukan pengajaran yang berbeda pula.

Berikut akan dibahas materi-materi yang dipersiapkan di luar sekolah tetapi didesain secara khusus untuk mengajar membaca di sekolah-sekolah. Setiap perangkat materi mewakili suatu filsafat pengajaran. Materi yang berbeda akan memiliki beberapa tujuan pengajaran yang bersifat umum dan beberapa premis filsafat dan tujuan pengajaran yang bersifat umum dan beberapa premis filsafat dan tujuan pengajaran yang membedakan mereka dari pendekatan lain. Mungkin salah satu perbedaan utama antara materi yang tersedia akan bisa ditemukan dalam derajat penekanan yang ditempatkan dalam mengajar keterampilan-keterampilan khusus.

Pendekatan Buku Bacaan Basal

Sudah lama seri buku bacaan basal ini dipergunakan di kelas-kelas dasar untuk mengajar
membaca. Namun telah muncul sejumlah kritik bahwa :
1. Bahan ini membosankan, tak bermutu, dan terlalu repetitif
2. Bahasa yang dipergunakan sedikit menyimpang dari kegunaan bahasa anak
3. Bahan ceritanya seringkali kekurangan manfaat sastra.
4. Pada kelas satu terlalu kurang penenkanannya pada pengajaran tentang hubungan antara
bunyi dan huruf.
5. Isinya hampir selalu berkaitan dengan karakter dan insiden yang berasal dari strata kelas
menengah, dan dari kelompok minoritas secara praktis diabaikan.
Dengan adanya kritik tersebut penerbit dan pengarang telah mengadakan perubahanperubahan
yang dirasa perlu untuk meningkatkan nilai materi itu. Namun ada kritik lain yang kenyataannya tidak ditujukan pada materi basal, melainkan pada kesalahan pemakaian materi tersebut. Misalnya ketika mempergunakan basal guru :

1. Menyuruh sekelompok siswa membaca ‘round robin’ pada setiap cerita yang mereka baca.
Setiap anak disuruh memfokuskan perhatiannya pada baris yang sama pada saat tertentu.
2. Mengambil jalan tanpa perkecualian pada tiga kelompok dalam kelas itu, dan kelompok
tersebut tetap statis sepanjang tahun.
3. Tidak membuat ketentuan akan perbedaan-perbedaan individual diluar pola tiga kelompok
ini.
4. Bertahan pada pembaca yang lebih lancar hanya untuk materi biasa saja, dengan
memaksanya bergerak pada langkah yang berada jauh dibawah kapasitasnya.
5. Melarang anak-anak memilih dan membaca buku lain yang dia sukai.
Itulah tadi uraian singkat tentang kritik terhadap pendekatan buku bacaan basal. Berikut ini
akan diuraikan tentang materi yang biasanya ditemukan pada seri membaca basal. Materi
tersebut disusun untuk sejajar dengan sistem level kelas dan kisaran kesulitan bahan tersebut dari
buku kesiapan tipe kerja (berisi gambar, bentuk-bentuk geometri, dan latihan penjodohan huruf)
sampai antologi yang agak banyak untuk level kelas tujuh dan delapan.
Buku-buku Kesiapan
Pada level kesiapan bukunya berisi gambar, atau serangkaian gambar, yang berisi kisah
yang berpusat pada anak. Dari gambar tersebut, guru dan anak mengembangkan suatu cerita.
Semakin terampil guru dalam memberikan latar belakang dan melibatkan siswa untuk berpartisipasi dan melakukan interprestasi, maka penggunaan material itu semakin berhasil.
Buku-buku kesiapan lainnya memerintahkan siswa untuk megidentifikasi dan menandai kata,
huruf, atau obyek yang mirip, untuk memudahkan perkembangan visual anak. Untuk memperkuat pembedaan auditory, anak diminta mengidentifikasi dua gambar di dalam suatu
kelompok yang kata-kata penamaannya ‘rima. Dengan mengidentifikasi pasangan-pasangan gambar lainnya yang mulai dengan bunyi yang sama akan memberi praktek di dalam pembedaan bunyi awal.

Preprimer

Buku-buku kesiapan diikuti oleh serangkaian tiga atau empat preprimer yang mana karakternya sama dengan yang dijumpai dan diperbincangkan anak dalam buku-buku kesiapan
itu. Preprimer tersebut memperkenalkan anak kepada kata-kata cetak bersama-sama dengan gambar. Beberapa halaman pertama memiliki kata-kata tunggal yang berupa ‘kata-kata penamaan’ (naming words) bersama-sama dengan gambar itu.
Banyak materi basal yang dicoraki oleh kontrol kosa kata yang agak kaku. Kontrol ini tidak melibatkan kata-kata mana yang diperkenalkan, namun agaknya tingkat perkenalannya tersebut.
Selain itu karena cerita pada preprimer pertama itu hanya terbatas pada dua dosen kata yang berbeda, cerita itu kekurangan kegunaan sastra, maka para kritikus mengatakan materi ini membosankan, tak bermutu, tak tersusun, dan ofensif kepada mata dan telinga.

Primers

Primer merupakan buku hardback pertama dalam seri itu. Dia dengan cermat membangun cerita dari apa yang telah terjadi sebelumnya, dengan mempergunakan karakter yang sama yang
telah dikenal anak dan mengulang kembali kata-kata yang telah mereka dijumpai. Selanjutnya, diperkenalkan 100 sampai 150 kata-kata baru.

Pembaca Pertama

Beberapa seri berisi pembaca pertama tunggal : lainnya memiliki dua (level I-1 dan level I-2). Seri yang berbeda juga berbeda dalam hal beban kosa kata yang diperkenalkannya, namun
kisarannya untuk kelas pertama ialah antara 350 dan 400 kata.

Pembaca yang Digradasikan

Setiap level kelas berikutnya memperkenalkan satu atau lebih buku membaca basal. Banyak seri menyediakan dua buku pada setiap level kelas, kedua sampai keempat, dan satu buku pada
kelas lima atau lebih. Buku-buku tersebut biasanya ditandai dengan nomor kelas plus tulisan di bawah garis yang menunjukkan paruh tahun pertama atau kedua.

Buku Kerja

Tersedia buku kerja yang paralel dengan setiap level preprimer, primer, pembaca pertama, 2-1, dsb). Buku kerja tersebut mewakili materi yang disusun sebagai latihan mengajar, latihan tersebut biasanya didesain sedemikian rupa sehingga satu konsep atau keterampilan berhubungan dengan yang ada pada setiap halaman. Latihan tersebut memperkuat pengajaran keterampilan.
Materi-materi Pelengkap
Sudah menjadi semakin umum semua level kelas seri pembaca dasar disertai beberapa buku
pelengkap yang dipergunakan berkaitan dengan seri yang digradasikan secara reguler. Ada buku tambahan yang lebih sulit maupun yang lebih mudah dari seri yang digradasikan secara ajeg.
Sekarang ada materi-materi pelengkap yang meliputi bagan dinding yang berukuran besar atau bagan buku spiral yang benar-benar duplikat dari suatu premier. Dan juga tersedia filmstrip
khusus dipergunakan dengan seri pembaca dasar.
Buku Pedoman Guru
Setiap level membaca misalnya untuk tingkatan preprimer, primer, begitu pula setiap level berikutnya disertai dengan buku pedoman yang berisi tentang penggunaan secara efektif materi itu.

Mempergunakan Seri Buku Bacaan Basal

Tujuannya disini ialah membahas hal-hal berkaitan dengan kerangka kerja program basal seperti yang didesain untuk tahun pertama pengajaran. Adapun keuntungan utama
mempergunakan seri yang baik adalah :
1. Seri buku bacaan yang baik oleh penggunaan gambar dan karya seni yang baik.
2. Jumlah buku-buku pertama yang dipergunakan berkaitan dengan karakter yang sama, dengan tujuan memberi anak-anak rasa keberkenalan dengan materi itu dan menambah kepercayaan
diri mereka dalam membaca.
3. Buku-buku tersebut digradasikan dengan tujuan untuk memberikan pengajaran yang sistematis dari level pra-kesiapan sampai kelas dasar atas.
4. Materi yang digradasikan tersebut memberikan fleksibilitas jkepada guru terhadap
perbedaan-perbedaanindividu dan terhadap penanganan anak-anak yang dikelompokkan
sesuai dengan keterampilan membaca yang telah dicapai.
5. Setiap level atau buku disertai buku pedoman guru yang baik. Hal ini untuk memberi saransaran
untuk program pengajaran langkah-per langkah.
6. Jika dipergunakan dengan benar, seri pembaca dasar tersebut berkaitan dengan semua fase
program membaca, menjaga tidak sampai terjadi penekanan yang terlalu berlebihan pada
beberapa aspek dan mengabaikan yang lainnya.
7. Diperkenalkan keterampilan baru dengan urutan yang logis
8. Diberikan tinjauan dengan prosedur yang dipikirkan dengan baik.
9. Kosa katanya dikontrol dengan cermat untuk menghindari frustasi pada membaca permulaan.
10. Penggunaan materi yang telah dipersiapkan sangat menghemat waktu guru.
Program yang diseimbangkan dengan baik
Memberikan suatu program yang diseimbangkan dengan baik adalah sifat yang baik seri basal, terutama dalam tahap membaca permulaan. Dia dilengkapi dengan membaca dalam hati (silen reading) dan membaca bersuara (oral reading) dan melalui kerja individu, guru dapat memberikan variasi penekanan untuk anak yang berbeda-beda. Dalam periode kesiapan, anaktelah
mempergunakan buku pra membaca (prereading book) yang memuat sejumlah gambar.
Melalui gambar-gambar tersebut, anak diperkenalkan pada karakter yang akan mereka jumpai lagi dalam premier, primer, dan pembaca pertama. Beberapa halaman pertama premier mungkin hanya berupa gambar, namun segera diperkenalkan kata-kata. Dalam gambar tersebut disebutkan beberapa kata yang diulang-ulang. Pengulangan kata-kata pada membaca permulaan dapat
menghilangkan selera membaca anak. Untuk itu guru haruslah membimbing anak ke dalam bangunan imaginasi akan ide-ide dan cerita-cerita.
Pemahaman dan makna ditekankan saat anak memilih judul yang terbaik untuk paragraf atau cerita pendek atau saat mereka mengintai kembali urutan peristiwa. Konsep tentang waktu,
jumlah, ukuran dan arah dikembangkan melalui kegiatan yang memerlukan anak mengikuti ide,
menanggapi hubungan, mengambil pikiran utama, dan mengantisipasi peristiwa. Latihan pembedaan auditory diberikan dalam bentuk latihan penerimaan dan penekanan pada bunyi awal.
Koordinasi motor akan otot-otot kecil dikembangkan dengan latihan seperti pelacakan, bentukbentuk outline berwarna, menggambar garis hubung antara kata-kata yang sesuai dan menyalin kata-kata dari suatu model.
Salah satu keuntungan terbesar dalam menggunakan seri yang baik ialah tersedianya buku petunjuk guru yang baik. Buku petunjuk ini dibuat oleh orang yang sangat ahli, dan berisi
kaidah-kaidah pembelajaran bunyi, teknik-teknik khusus, perencanaan pengajaran yang terinci, dan alasan-alasan penggunaan pendekatan tertentu.
Penggunaan Buku Kerja
Seperti yang telah disebutkan tadi, buku kerja merupakan salah satu buku pelengkap yang penting dari seri pembaca basal. Memang diperdebatkan tentang penggunaan buku kerja ini,
namun dengan adanya macam bimbingan yang baik paling tidak siswa akan dapat mengembangkan kepercayaan diri dan ketergantungan pada kebiasaan kerja. Selain itu buku
kerja yang dipergunakan dengan benar akan memiliki nilai pendidikan yang sangat tinggi.
Karena banyaknya keterampilan yang dilatihkan maka latihan tersebut dapat memberikan praktek yang bermakna untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang penting. Buku kerja
juga dapat berfungsi sebagai instrumen diagnostik, karena akan mengidentifikasi anak-anak yang tidak memahami langkah khusus dalam proses membaca.

Hemat Waktu

Faktor utama meluasnya penggunaan seri basal ialah karena menghemat waktu guru. Hal ini sangat erat kaitannya dengan masalah program membaca yang seimbang tadi. Tidak ada guru yang memiliki waktu untuk mengadakan perencanaan yang cermat yang direfleksikan dalam total program seri basal yang baik. a seorang guru memiliki materi yang siap untuk mengajar
dan melatih setiap segi membaca, dia akan memiliki waktu yang lebih banyak untukmempersiapkan latihan-latihan pelengkap bila diperlukan.

Menangani Perbedaan-perbedaan Individu

Karena suatu seri basal meliputi banyak level kesukaran, maka guru yang paham akan
siswanya akan bisa mengambil keuntungan dalam mempergunakan materi tersebut. Pembaca
yang fasih dapat menyelesaikan materi level kelasnya jauh lebih cepat daripada anak-anak lain.
Pembaca macam ini kemudian didorong untuk membaca buku-buku pelengkap. Pembaca yang
tidak lancar jangan diharapkan membaca buku tambahan tersebut setelah sebulan atau setahun.
Ada materi basal lainnya. Pembaca yang kurang akan lebih berhasil mempergunakan materi
yang digradasi daripada buku-buku yang merefleksikan kontrol kosa kata.

Kemampuan Berbahasa

Membaca merupakan bagian terpadu dari kemampuan berbahasa. Membaca sangat bersandar
pada kemampuan berbahasa. Pendekatan pengalaman berbahasa dapat digunakan dalam
pengajaran membaca. Menurut pendekatan ini, pengalaman, kekuatan konseptual dan linguistik yang dibawa anak ke sekolah harus digunakan secara penuh.
Kemampuan mendengar, berbicara, menulis dan kesadaran metalingnistik merupakan kemampuan berbahasa yang penting bagi keberhasilan anak dalam membaca. Kemampuan yang
lain, seperti : kemampuan tentang huruf, diskriminasi auditori dan visual, orientasi kiri kanan, dan minat dalam membaca acapkali digabungkan dengan kesiapan untuk pengajaran membaca
formal.

Tinjauan

Di dalam seri basal diberikan tinjauan yang sistimatis. Anak-anak tidak mempelajari kata-kata yang kelihatan (sight words), bunyi huruf, gabungan awal, akhiran infleksi, dsb, sebagai akibat dari satu atau dua pengalaman. Pengenalan kata-kata baru dikontrol dengan cermat, dan segera setelah diperkenalkannya satu kata, kata tersebut akan diulang-ulang. Pada buku kerjanya
dilengkapi dengan tes yang khusus didesain untuk penguasaan anak terhadap semua keterampilan yang sudah diperkenalkan sebelumnya.
Guru dapat bergantung pada materi-materi seri basal program dan masih mengajar membaca
melalui penggunaan bulletin, obyek yang diberi label, gambar, tabel pengalaman (experience chart), puisi dan cerita. Pengalaman membaca ini tidaklah bersifat insidentil namun
direncanakan dengan sengaja.

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, seri pembaca basal mencoba memberikan program pengajaran untuk keseluruhan periode “ belajar membaca”. Akhir-akhir ini tersedia banyak
materi lain yang sebagian besar memiliki kisaran tujuan yang lebih sempit. Secara umum, materi-materi tersebut menekankan satu segi khusus pengajarannya dan memfokuskan pada satu
tahap perkembangan yang disebut mambaca permulaan (beginning reading).

Materi Pengajaran dan Filsafat Pengajaran

Materi yang tersedia untuk pengajaran membaca awal merefleksikan filsafat yang berbedabeda
yang dalam ukuran yang besar menentukan strategi pengajaran awal. Perbedaan utama
dalam materinya dapat dilacak pada cara perlakuan terhadap persoalan pedagogis berikut :
1. Cara pengontrolan kosa kata dalam membaca awal
2. Jumlah fonik (hubungan bunyi – huruf) yang diajarkan
3. Penekanan pada makna dalam pengajaran permulaan
4. Derajad integrasi berbagai segi total program seni bahasa, terutama penekanan pada menulis
(writing).
5. Penggunaan sementara pengejaan kembali (respelling) atau modifikasi alpabet.
6. “Isi” materi (ditentukan oleh keputusan sebelumnya berkaitan dengan item no.1, 2, 3, diatas).
Dalam bahasan berikut akan diketengahkan tentang i/t/a (Alpabet untuk mengajar Permulaan)
I / t / a
(Alpabet untuk Mengajar Permulaan)

Penemu ortografik baru yang terdiri dari 42 karakter alpabet yaitu Sir James Pitman.
Alpabet ini memasukkan Q dan X dan menambahkan 18 karakter baru pada alpabet bahasa Inggris tradisional. Materi yang dicetak dalam alpabet mengajar ‘permulaan’ (i/t/a) ini dipergunakan secara experimental pada sekolah-sekolah Inggris tertentu mulai tahun 1980.
Adapun tujuan di belakang pengembangan sistem ortografik ini ialah untuk memperbolehkan suatu karakter khusus untuk mewakili satu bunyi Bahasa Inggris atau fonem.

Pokok-pokok Persoalan

Ada beberapa permasalahan berkaitan dengan i/t/a ini antara lain :

1. Transfer kepada tulisan bahasa Inggris tradisional. Pertanyaan yang sering muncul berkaitan
dengan pendekatan ini pada membaca permulaan ialah apa yang dikerjakan oleh pembaca
ketika dia menstransfer dari hubungan satu per satu bunyi-huruf yang ditemukan dalam
materi i/t/a dan menemui representasi (ejaan) grafis yang seringkali tidak konsisten. Ada
yang mengatakan ‘tidak ada permasalahan dengan transfer’. Hal ini berkaitan dengan
penelitian yang dilakukan di Inggris.

2. Jumlah pengajaran fonik yang dilibatkan dalam i/t/a. Dari eksperimen yang ada menunjukkan
bahwa pengajaran yang ditekankan pada fonik pada gradasi satu (kelas satu) menunjukkan
efek yang bermanfaat pada pengajaran membaca.

3. Penekanan pada menulis anak dalam program i/t/a. Dalam program pengajaran i/t/a, terdapat
penekanan pada menulis anak dengan mempergunakan simbol i/t/a itu. Integrasi antara menulis dan membaca menurut hipotesa yang ada meningkatkan pembelajaran proses membaca.

4. Pengejaan kembali (respelling) kata-kata Bahasa Inggris yang dieja secara tidak teratur.
Dalam materi i/t/s, terdapat derajad kecocokan yang tinggi antara ejaan dalam i/t/a dan
otografi tradisional. Masalah dalam belajar membaca permulaan tidak berasal dari alpabet
tradisional melainkan dari ejaan kata-kata. Dengan i/t/a, pengejaan kembali menjadi logis dan
anak dapat membaca kata yang tidak ajeg dengan lebih mudah.
5. Hasil-hasil pengajaran i/t/a. Dari kajian yang ada ternyata gagal untuk menunjukkan
keunggulan yang signifikan dalam prestasi membaca anak. Para peneliti tersebut antara lain
Fry yang mengkaji prestasi membaca oral dan membaca dalam hati anak kelas satu, Tannyzer
dan Alpert yang membandingkan kemujaraban i/t/a, program basal Lippinocott, dan program
basal Foresman Scoot dalam prestasi membaca anak, Heyes dan Nementh yang
membandingkan empat pendekatan pengajaran i/t/a, seri basal Lippinocoot, basal Scott
Foresman, plus penggunaan Phonic dan Word Power dan basal Scott Foresman sendiri.

Materi membaca yang diprogram
Materi membaca yang diprogram ini memiliki dua kategori yaitu : 1. materi yag tujuannya
untuk mengajarkan fakta-fakta dan pemahaman dalam salah satu dari banyak bidang subyek, dan
2) materi yang tujuan utamanya untuk mengajarkan bagaimana membaca.
Banyak tersedia materi seperti itu, yang diantaranya yang cukup representatif ialah
Programmed Reading (Webster Division, McGraw-Hill Book Company). Sebelum mulai belajar
dengan materi yang diprogram ini, anak harus sudah menguasai sejumlah keterampilan fonik
berikut :
1. Nama-nama huruf alpabet (huruf besar dan kecil)
2. Bagaiman mencetak semua huruf besar dan kecil tersebut
3. Huruf-huruf itu singkatan dari bunyi
4. Bunyi-bunyi apa yang berhubungan dengan huruf-huruf : a, f, m, n, p, t, th, dan I yang
dipergunakan sebagai titik pemberangkatan bagi pembaca terprogram itu.
5. Huruf-huruf itu dibaca dari kiri ke kanan
6. Kelompok huruf-huruf itu membentuk kata-kata
7. Kata-kata Yes dan No dengan cara memandang saja guna membedakan kata ant dan man,
dan bagaimana membaca kalimat I am an ant dan I am a man, dsb.
8. Keterampilan yang diajarkan dalam tahap pertama disebut programmed prereading, yang
menggambarkan saturasi analisa fonik awal dalam membaca permulaan. Dan salah satu
kekuatan membaca terprohgram ini ialah memungkinkannya pengajaran individualisasi.

Kata-kata dalam Warna

Sistem mengajarkan membaca permulaan ini dikembangkan oleh Caled Gattegno.
Pengajaran awalnya melibatkan penggunaan stimuli visual yang memberikan dua clue visual
yaitu (1) konfigurasi huruf tradisional, (2) warna. Didalam pendekatan ini dipergunakan 39
warna dimana setiap warna menggambarkan suatu bunyi ujaran dalam bahasa Inggris. Huruf
atau kombinasi huruf yang menggambarkan suatu ujaran tertentu akan digambarkan sebagai
suatu stimulus dalam warna khusu yang diberikan pada bunyi ujaran itu. Misalnya bunyi vokal
panjang A digambarkan oleh kombinasi : a – ble, ey – they, aigh – straight, dsb. Setiap keompok
kata yang dicetak miring tersebut adalah warna biru.
Adapun pengajaran yang sebenarnya dalam kode warna ini ialah dengan mempergunakan
peta/gambar dinding yangbesar. Dua puluh satu gambar dinding berisi kata-kata, dan delapan
gambar kode fonik berisi huruf-huruf dan kombinasi huruf. Berikut ini beberapa fakta penting
berkaitan dengan kata-kata dalam warna :
1. Pendekatan ini memberi penekanan pada pengajaran fonik
2. Pada saat pelajaran menulis, dari riset yang ada penambahan warna pada bentuk kata-kata
tidak memiliki efek positif terhadap pembelajaran.
3. Penggunaan 39 warna dapat membuat proses pembelajaran cukup membingungkan.
4. Sulit membenarkan penekanan pada huruf berwarna mengingat anak tidak akan pernah
membaca materi (tulisan) berwarna.
5. Anak yang belajar dengan menggantungkan pada cue warna tidak dapat membaca diluar
kelas.
Pendekatan Pengejaan Reguler Linguistik
Pada terbitan bulan April dan Mei 1942 The Elementary English Review, Leonard Bloomfield mengutarakan suatau pendekatan untuk pengajaran membaca permulaan. Pada intinya, Bloomfield menyatakan suatu kontrol kosa kata yang sangat cermat dimana usaha pertama anak untuk membaca terbatas pada ‘kata-kata dengan pengejaan yang reguler’.
Pengejaan yang reguler adalah kata-kata dimana setiap grafen (huruf tertulis) mewakili satu bunyi yang paling sering berkaitan dengan huruf itu. Jadi kata-kata cat dan hum menikmati
pengejaan yang reguler, sementara cent dan come adalah irreguler (c dalam cent mewakili s : o
dalam kode mewakili bunyi pendek u)
Oposisi terhadap Pengajaran Fonik
Metodologi ini menekankan pengajaran fonik (mengajar secara sistematis hubungan bunyihuruf)
dan Bloomfield tidak sependapat dengan pendekatan ini. Para pengikut metode
Bloomfield tetap loyal kepada keputusan ini.
Ketidak sepakatan Bloomfield atas pengajaran fonik berdasarkan pada dua premis yang
keliru. Pertama, ialah miskonsepsi yang disuarakan oleh Bloomfield bahwa tujuan pengajaran
fonik adalah untuk mengajar anak tentang bagaiman mengucapkan kata-kata dengan fonik yang bisa ditemukan dalam karya Bloomfield bisa ditentukan dalam kepercayaannya bagaiman fonik diajarkan.

Program

Materi dan program yang diuraikan disini diuraikan oleh Bloomfield dan Barnhart dalam bukunya: Let’s Read : A Linguistic Approac. Program tersebut terdiri dari 246 pelajaran terpisah
yang mewakili lima ribu kata. Sembilan puluh tujuh pelajaran pertama berkaitan dengan pengucapan reguler sebelum mendapat pengajaran membaca, ana harus sudah mengembangkan
keterampilan pra membaca (prereading) yang meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi
(menamai) huruf alpabet Bahasa Inggris. Huruf besar dipelajari dulu, kemudian bentuk-bentuk
kasus yang lebih endah, Huruf diajarkan dalam urutan alpabet yang menekankan kemajuan dari
kiri ke kanan.
Mengajarakan Kata-kata dengan Pengejaan yang Reguler
Setiap pelajarandari 1- 36 memperkenalkan rangkaian kata yang berbeda mengandung
fonogram akhir (at, an, ag, ip, ed, un, ot, dsb). Jadi kata-kata dalam pelajaran tertentu berbeda
satu dengan yang lain dalam huruf awal (bunyi) cat, bat, mat, hat. Mengajar kata-kata konsonan,
vokal konsonan, vokal) diikuti oleh pelajaran yang berkaitan dengan pola lain seperti CVCC
(lamp), CVVC (snap), CCVCC (stamp, dsb)
Bloomfield cukup jeli tentang apa yang dipelajari babak itu dari presentasi dua kata seperti can dan fan. Tujuannya ialah untuk membuat anak tersebut membedakan antara dua kata tersebutyaitu membuatnya supaya dapat membaca kata-kata itu dengan tepat, untuk mengatakan kata dengan tepat ketika guru atau orang tua menunjukkannya, dan menunjuk kata yang benar jk etika orang tua atau guru mengucapkannya.

Mengajar Kata-kata Ireguler

Perlu ditunjukkan bahwa kata-kata dengan ejaan yang reguler adalah kurang dari 40 proses dari lima ribu kata-kata yang dimasukkan dalam daftar program Let’s Read. Saran Bloomfield
untuk mengajar dengan ejaan yang ireguler sedikit mengherankan : “Bila saat mengajar kata-kata
reguler dan irreguler tiba, setiap kata akan menuntut usaha terpisah dan praktek terpisah pula.
Makna dan Membaca
Keputusan metodologis untuk mengeja kata-kata ejaan reguler secara definitif membatasi isi
cerita atau materi yang bermakna kepada siswa. Bloomfield dkk. Menolak thesis yang
menyatakan bahwa pengajaran membaca permulaan haruslah dikaitakan dengan makna.
Penolakan atas makna ini bukanlah tidaklah terlalu banyak berupa prinsip pedagogis yang
ditetapkan dengan baik karena hal itu merupakan kegunn bila dibatasi pada penggunaankata-kata
yang berkualifikasi sebagai ejaan reguler. Kalimat Bahasa Inggris yang normal sulit dibuat bila
orang memutuskan kata-kata yang mengikuti pola ejaan yang reguler.

Pengajaran yang dibantu oleh Komputer.

Karena pengajaran diprogram oleh komputer itu cukup berbeda dengan materi dan
metodologi yang baru saja dibahas, pengajaran tersebut dapat memenuhi kriteria menjadi suatu
pendekatan yang lebih baru. Sampai saat ini (dalam membaca) dia telah dipergunakan untuk
pengajaran awal, dan telah menitikberatkan terutama pada mengajar keterampilan memecahkan
kode (code-cracking skills).
Beberapa dasawarsa yang lalu memang sudah diramalkan komputer memegang peran yang
sangat penting di dalam pengajaran kelas. Dan sekarang telah banyak dipergunakan untuk
program-program pengajaran. Namun masalahnya ialah bukan pada program pengembangannya,
melainkan masalah penyampaian kepada anak.
Berkaitan dengan pengajaran membaca, ternyata teknologi komputer secara ideal cocok
untuk mengajar sejumlah keterampilan yang penting berkenaan dengan pengajaran permulaan.
Pengajaran itu termasuk pengenalan huruf, pengenalan kata yang mengalami perubahan struktural (jamak, afiks, majemuk), dan mengajar kata-kata yang dieja secara tidak teratur.
Komputer juga memiliki potensi untuk menjembatani gab pengajaran antara dialek penutur dan bahasa Inggris standar di sekolah.
Kapabilitas Komputer untuk Mengajar Membaca
Para guru pelajaran “membaca” hendaknya mengerti kapabilitas pengajaran yang dibantu oleh komputer yang dihubungkan dengan membaca. Tujuannya disini ialah tidak untuk menjelaskan hardware, penulisan program, dsb. Bila program itu telah ditulis, sistem itu bekerja, dan anak sedang duduk di terminal (komputer), maka sistem pengajaran ini memiliki kapabilitas berikut. Terminal tempat anak bekerja dapat terdiri dari :

1. Anak tersebut memandang perangkat TV yang memperlihatkan :
a. Segala sesuatu yang muncul di buku atau materi lain,
b. Anak dapat ‘mendaftarkan’ tanggapan secara langsung dengan menggunakan pulpen cahaya yang tidak meninggalkan tanda namun secara elektronis mendaftar respon yang diberikan.
c. Keyboard ketik juga bisa merupakan bagian dari perangkat itu.
2. Komponen suara (auditory) dapat memberikan penjelasan, arah, atau menyajikan data-data pelengkap.
3. Komputer memiliki kapasitas untuk berfungsi seperti cratoon yang dianimasikan.
4. Jika semuanya berjalan dengan baik, pembelajar dapat menerima tanggapan terhadap tanggapannya.
5. Setiap tanggapan yang dibuat pembelajar dapat direkam atau disimpan.
6. Bila seorang anak lama absen, komputer dapat memperlihatkan sampai dimana dipelajari sebelumnya.

Batasan-batasan
Pengajaran komputer melibatkan sistem elektronik yang sangat kompleks. Maka jika rusak perlu ahli untuk memperbaikinya. Selain itu jika sistem itu penuh, feedback yang diberikan bisa
agak lama. Selain itu kadang-kadang siswa sengaja membuat kesalahan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan komputer. Dan hal ini merupakan persoalan yang rawan dalam proses
pendidikan

Inggin Baca Tulisan yang Lain Silakan Klik

Perbedaan Virus dengan Organi;>>>> Bacasme lainnya

Variasidan Jenis Morfem;>>>> Baca

Pentingnya pendaftran Tanah;>>>> Baca

Riset dalam Dunia Pendidikan;>>>> Baca

STRATEGI PENGAJARAN MEMBACA DAN MENULIS BAGI PEMBELAJAR PEMULA;>>>> Baca

Sepuluh Harus dan Sepuluh Jangan Dilakukan Bagi Pelamar Kerja Saat Wawancara;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.