Jenis-Jenis Penelitian Pendidikan

Jenis-Jenis Penelitian Pendidikan

Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kegiatan yang kita lakukan di kelas memiliki ciri penelitian formal. Misalnya ketika kita mencoba metode mengajar yang baru, bahan ajar yang baru, atau menggunakan buku yang belum pernah kita gunakan sebelumnya, lalu kita bandingkan dengan apa yang kita lakukan tahun sebelumnya. Kita melakukan pengamatan, menganalisis, membuat hipotesis, mengevaluasi. Tetapi kita jarang melakukannya secara sistematis. Jarang mengobservasi dalam kondisi terkendali, jarang menggunakan instrumen yang tepat dan sahih. Jarang menggunakan variasi teknik penelitian dan metodologi yang tepat. Istilah „penelitian‟ atau “research” dapat diartikan sebagai sesuatu yang “sistematis, hati-hati, studi dan investigasi yang teliti dalam area keilmuan tertentu, mengungkapkan fakta dan prinsip”. Betapapun juga dalam penelitian ilmiah selalu ada penekanan untuk mendapatkan „bukti‟ untuk menunjang fakta atau prinsip. Oleh karena itu diperlukan METODOLOGI dalam melakukan penelitian. Secara umum terdapat bebera jenis penelitian pendidikan yaitu:

1. Penelitian eksperimental
2. Penelitian korelasional
3. penelitian kausal komparatif
4. Penelitian survey
5. Penelitian kualitatif
6. Penelitian historis
7. Penelitian Tindakan Kelas

Masing-masing jenis penelitian di atas dapat dibahas sebagai berikut:
1. Penelitian Eksperimental
Merupakan penelitian yang paling mendekati metode ilmiah
Peneliti memberikan perlakuan yang berbeda pada dua kelompok, dan kemudian mempelajari efek perlakuan. Hasil dari penelitian ini interpretasi yang jelas dan lugas
Misalnya: Seorang guru biologi ingin mengetahui metode mengajar manakah yang efektif untuk mengajarkan konsep yang abstrak (misalnya fotosintesis). Maka ia dapat merancang suatu penelitian untuk membandingkan efektivitas dari dua macam metode mengajar untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Metode mengajar yang digunakan ini disebut Variabel bebas Atau variabel perlakuan (misalnya metode inkuairi dan praktikum). Variabel ini tidak dapat dikuantifikasi langsung, namun kedua metode ini diuji efektivitasnya melalui tes hasil belajar siswa untuk konsep fotosintesis tsb. Nilai tes yang dicapai siswa disebut variabel tak bebas (dependent variable). Dalam eksperimen yang sederhana ini ada dua metode yang kontras untuk dibandingkan satu sama lain. Dalam hal ini diperlukan pula variabel pembanding atau pengendali yang disebut extraneous variable, misalnya tingkat kemampuan siswa, usia, jenjang kelas, bahan ajar, dan karakteristik guru, yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar selama berlangsungnya investigasi. Metode ini juga menghendaki adanya kesamaan dalam cara pengelolaan kelas selama periode waktu tertentu, dan kesamaan bahan ajar pada kedua kelompok, kesamaan usia, dan jenjang kelas siswa.
Bila hal di atas sulit dilaksanakan, peneliti dapat pula menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol di sekolah yang sama. Namun hasilnya seringkali meragukan, karena ada berbagai kondisi yang berpengaruh terhadap jalannya penelitian.

2. Penelitian Korelasional
Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara dua variabel.
Misalnya: Seorang guru matematik ingin mengetahui individu yang bagaimana yang sering mengalami kesulitan dalam mempelajari aljabar. Bila kita dapat memprediksi secara tepat, maka kita dapat menganjurkan saran koreksi terhadap guru tersebut untuk menggunakan metode tertentu, sehingga anak senang belajar aljabar.
Untuk itu kita perlu mengumpulkan sejumlah informasi yang diperkirakan ada kaitannya dengan konsep aljabar seperti kinerja siswa dalam tugas logik mempelajari konsep aljabar (kemampuan menghitung, pemahaman konsep matematika, memecahkan soal-soal), kemampuan verbal, kebiasaan belajar, pengalaman siswa dalam belajar matematika atau pengalaman dengan guru matematika, dan informasi lain yang menyebabkan adanya siswa yang senang pelajaran aljabar, dan siswa yang membenci pelajaran aljabar.
Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki hubungan yang bermakna. Oleh karena itu dalam penelitian ini diharapkan tidak ada intervensi atau manipulasi yang dapat mempengaruhi hasilnya, kecuali instrumen penelitian yang diperlukan untk mengumpulkan data. Sampel haruslah individu yang sama

3. Penelitian Kausal Komparatif
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki akibat dari perbedaan diantara kelompok atau orang-orang
Misalnya guru ingin membandingkan apakah hasil belajar siswa dari keluarga dengan orang tua tunggal (single parent) lebih buruk dari pada siswa dari keluarga utuh. Untuk menyelidiki hal ini, guru harus memilih secara sistematis dua kelompok siswa (orang tua tunggal dan orangtua lengkap) – yang sesungguhnya (bukan manipulasi)
Setelah itu guru membandingkan hasil belajar mereka. Setelah nyata berbeda, guru tidak boleh segera menyimpulkan bahwa situasi keluarga mempengaruhi prestasi belajar siswa, sebab masih ada factor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa
Interpretasi dari penelitian kausal komparatif adalah terbatas, karena peneliti tidak boleh menyimpulkan bahwa faktor tertentu dapat mempengaruhi tingkah laku yang diobservasi. Dalam contoh ini, guru tidak mengetahui (1) bahwa perbedaan prestasi mungkin disebabkan karena situasi rumah (2)status orangtua juga dapat menyebabkan perbedaan prestasi (3)adanya faktor lain yang berpengaruh.

4. Penelitian Survei
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data yang menentukan sifat spesifik dari suatu kelompok
Misalnya seorang kepala sekolah ingin mengetahui dampak dari kebijakan administrasi yang dilakukannya. Apakah siswa suka atau tidak suka terhadap kebijakannya? Kebijakan mana yang paling disukai, dan yang paling tidak disukai.
Suatu survey deskriptif perlu menyiapkan sejumlah pertanyaan yang dikemas dalam bentuk kuesioner atau angket untuk sejumlah besar responden atau individu, melalui surat, telepon, e-mail, sms, atau diberikan langsung. Jika menghendaki jawaban langsung dari responden, dapat melalui wawancara. Jawabannya kemudian ditabulasi, umumnya dalam bentuk frekuensi atau persentase dari setiap jawaban pertanyaan.
Kesulitan penelitian survey adalah (1) ada keraguan terhadap jawaban yang diberikan; apakah murni/jujur, tidak asal-asalan (2) pengembalian semua kuesioner secara lengkap agar dapat dianalisis dengan benar.
Manfaat dari penelitian survey adalah kemungkinan memperoleh sejumlah informasi dari sampel besar
Jika peneliti mengharapkan jawaban yang lebih rinci, maka dapat dilakukan melalui wawancara. Keuntungan wawancara adalah dapat membuat pertanyaan terbuka (melalui daftar pertanyaan), sehingga dapat diperoleh jawaban yang rinci dan mendalam.

5. Penelitian Kualitatif
Seorang peneliti dapat berharap untuk memperoleh potret lengkap dari proses pendidikan melalui penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti dapat memperoleh gambaran holistic yang terjadi dalam situasi atau setting khusus.
Misalnya: Bagaimana cara guru olahraga mengajarkan suatu materi? Apa yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan rutin sekari-hari? Apa yang dilakukan oleh siswa setiap hari? Kegiatan apa yang dilakukan setiap hari?
Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, maka peneliti dapat melakukan ethnographic research, yang menekankan pada dokumentasi dan gambaran kegiatan atau apa yang dialami oleh individu, melalui observasi dan interview. Sebagai contoh, dapat dilakukan di suatu kelas di SD, di mana peneliti melakukan observasi atas kegiatan guru dan siswa secara penuh, utuh, dan kemudian mendeskripsikannya secara sangat rinci. Deskripsi ini merupakan potret dari suasana sosial di kelas tersebut; pengalaman intelektual dan emosional siswa; cara guru menghadapi siswa dari berbagai ras, etnik, jenis kelamin, kemampuan. Bagaimana peran siswa dan guru di kelas dipelajari, dimodifikasi, dan dimunculkan sebagai hal yang unik, pertanyaan guru, pertanyaan siswa dan sbagainya
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang detail terhadap individu atau kelompok yang diteliti, sehingga dapat disebut sebagai studi kasus.

6. Penelitian Sejarah
Penelitian ini berkaitan dengan aspek yang terjadi di masa lalu. Data diperoleh melalui penelitian dokumen, atau wawancara dengan individu yang hidup pada masa itu. Penelitian ini berupaya untuk merekonstruksi setepat mungkin tentang apa yang terjadi pada masa itu dan menjelaskannya.
Misalnya, Seorang koordinator kurikulum di sekolah, ingin mengetahui tentang argumentasi yang terjadi di masa lalu tentang kurikulum kelas 12. Untuk itu ia harus membaca berbagai hasil penelitian sosial dan teori kurikulum yang kemudian perlu diperbandingkan

7. Penelitian Tindakan kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bersifat situasional, berkaitan dengan mendiagnosis masalah dalam konteks tertentu, misalnya masalah di kelas atau di sekolah. Masalah berangkat dari praktek pembelajaran sehari-hari yang benar-benar dirasakan oleh guru atau siswanya. Kemudian diupayakan penyelesaiannya demi peningkatan mutu pendidikan, prestasi siswa, profesi guru, dan mutu sekolahnya dengan jalan merefleksi diri sebagai praktisi dalam pelaksanaan tugas-tugasnya dan sekaligus secara sistematik meneliti praksisnya sendiri
Penelitian tindakan kelas merupakan upaya kolaboratif antara guru dengan siswanya, bersifat „self evaluative‟ yaitu modifikasi praksis yang dilakukan secara kontinyu dan dievaluasi dalam situasi yang terus berjalan di samping memperbaiki praksis pembelajarannya.

Semua Penelitian Mempunyai Nilai

Perlu ditekankan bahwa setiap metodologi penelitian memiliki nilai dalam dunia pendidikan. Masing-masing mempunyai cara tersendiri untuk mengkaji realita yang terjadi di sekolah atau di kelas, dan kemudian menjadi gagasan pemikiran guru, konselor, administrator untuk melakukan sesuatu.
Masing-masing menggambarkan alat berbeda yang digunakan untuk memahami apa yang terjadi atau apa yang akan dikaji di sekolah.
Efektivitas suatu metodologi tergantung pada masalah, pertanyaan penelitian, dan konteks khusus dari investigasi yang akan dilakukan. Diperlukan wawasan (insight) untuk memahami apa yang sedang terjadi di sekolah dengan berbagai perspektif.

Tipe Penelitian Pada Umumnya:

Studi deskriptif menggambarkan peristiwa sebagai sesuatu yang utuh, rinci dan teliti. Contoh studi deskriptif sering dijumpai dalam biologi, di mana setiap varietas tanaman dan spesies hewan dideskripsikan secara rinci, dan informasi ini diorganisasi menjadi kategori taksonomi dalam botani dan zoology.
Dalam penelitian pendidikan, metode deskriptif yang paling umum adalah survey. Peneliti menyimpulkan karakteristik (kemampuan, tingkah laku, pola dsb.) dari individu, kelompok, atau kadang-kadang lingkungan fisiknya (sekolah), atau seperti dalam penelitian sejarah yang meneliti perubahan dari waktu ke waktu. Contoh studi deskripif dalam pendidikan adalah mengidentifikasi hasil belajar dari berbagai kelompok siswa, mendeskripsikan perilaku guru, administrator, sikap orangtua, lingkungan fisik sekolah.
Peneliti pendidikan juga dapat melakukan penelitian tentang pencapaian hasil belajar siswa yang dikaitkan dengan perilaku guru, pola makan siswa, minat siswa, atau sikap orangtua. Penelitian ini menghubungkan hal-hal atau fenomena yang dianggap bermakna untuk dikaji. Penelitian yang mengkaji adanya hubungan sering disebut penelitian asosiasi, misalnya studi korelasional atau studi kausal komparatif. Contoh studi korelasional misalnya:
(a) antara hasil belajar dengan sikap; pengalaman masa kecil dengan karakteristik perilaku orang dewasa; atau karakteristik guru dan hasil belajar siswa
(b) antara metode dengan hasil belajar (dua kelas yang diajar dengan metode berbeda); antara gender dengan sikap (membandingkan sikap pria dan wanita)
Studi intervensi, merupakan studi di mana terdapat perlakuan yang diharapkan dapat mempengaruhi hasil yang diharapkan. Contohnya: efektivitas dari berbagai metode mengajar; model kurikulum; susunan kelas, dan berbagai upaya untuk mempengaruhi karakteristik kelompok atau individu. Studi intervensi dapat menghasilkan teori umum melalui pembuktian-pembuktian . Metode utama dalam studi intervensi adalah metode eksperimen.
Beberapa tipe penelitian dapat pula mengkombinasikan tiga pendekatan umum. Metode Penelitian sejarah (historis) dan penelitian kualitatif sebenarnya adalah deskriptif, kadang-kadang asosiasional jika peneliti mengkaji suatu hubungan. Misalnya studi deskriptif sejarah mengkaji hubungan antara konsep prasyarat dengan hasil belajar matematika dari waktu ke waktu, merupakan metode asosiasional. Suatu studi etnografi yang menggambarkan kegiatan harian secara rinci dari suatu sekolah dan kemudian menemukan ada hubungan antara media dengan moral guru di sekolah tersebut, berarti menggunakan studi deskriptif dan aosiasional.

Proses Penelitian

1. Perumusan masalah penelitian
Perumusan masalah harus didahului oleh latar belakang masalah, uraikan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah, dan rasional atau pertimbangan tentang pentingnya masalah tersebut untuk diteliti. Masalah hukum dan penjelasan etik yang berkaitan dengan masalah perlu didiskusikan dan dicari pemecahannya.
2. Merumuskan pertanyaan penelitian atau Hipotesis
Masalah penelitian umumnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, dan kadang-kadang hipotesis. Hipotesis adalah dugaan, karena itu kalimatnya harus jelas, lugas, dan menggambarkan variabel yang akan diuji.
3. Definisi
Semua istilah dalam perumusan masalah dan hipotesis harus diuraikan dengan jelas
4. Kajian pustaka
Studi lain yang berkenaan dengan perumusan masalah harus diuraikan secara singkat dan jelas. Kajian pustaka (jurnal, laporan penelitian, kutipan atau saduran) harus diuraikan dengan jelas mengenai apa yang telah diketahui dan secara logic dapat dijadikan pengetahuan awal bagi peneliti.
5. Sampel
Subjek penelitian atau sampel harus diidentifikasi, dan kelompok besar dari mana sampel itu berasal (populasi) harus diidentifikasi dengan jelas, juga prosedur pengambilan sampel tersebut
6. Instrumen penelitian
Instrumen pengukuran yang digunakan untuk koleksi data dari subjek harus dideskripsikan secara rinci dan juga rasional penggunaannya

7. Prosedur penelitian
Uraikan prosedur penelitian yang sesungguhnya, yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian (bukan prosedur teoretis)
8. Analisis Data
Penjelasan tentang cara menganalisis, teknik statistik yang digunakan, baik deskriptif maupun inferensial yang digunakan untuk menganalisis

Silakan Bca Tulisan yang lain

Teka, Tekstologi dan Kritik Teks;>>>> Baca

Pembelajaran Menulis Naskah Drama;>>>> Baca

DIAGNOSIS KESULITAN MEMBACA PERMULAAN SISWA SD/MI MELALUI ANALISIS READING READINESS;>>>> Baca

Konsepsi Membaca dan…;>>>> Baca

Riset dalam Dunia Pendidikan;>>>>>>>>> Baca buka semua

Penentuan Sampel dalam Penelitian;>>>>>>>>> Baca buka semua

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Makasih semua infonya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.