Konsepsi Membaca dan Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca

Konsepsi Membaca dan Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca.

Membaca adalah kegiatan berinteraksi dengan bahasa yang dikodekan ke dalam cetakan
(huruf-huruf). Pengertian di atas merupakan pengertian yang paling umum. Adapun pengertian
yang lebih khusus adalah sebagai berikut.
(a) Membaca adalah kegiatan decoding print into sound atau aktivitas menguraikan kode kode cetakan (tulisan) ke dalam bunyi; dengan kata lain membunyikan kode-kode cetakan/tulisan.
(b) Membaca merupakan decoding a graphic representative of language into meaning atau aktivitas menguraikan kode-kode grafis yang mewakili bahasa ke dalam arti tertentu.
Dua definisi di atas berhubungan dengan dua fase membaca yang perlu diperhatikan guru apabila ingin membimbing pertumbuhan/perkembangan anak dalam membaca. Membaca merupakan rangkaian kegiatan yang bertahap dan berkesinambungan. Adapun rangkaian kegiatan membaca dapat dibedakan menjadi tahapan berikut.
1. Tahap prabaca, pembaca menyiapkan sumber atau bahan bacaan.
2. Tahap baca, pembaca melaksanakan kegiatan membaca di suatu ruang (tempat) dengan alokasi waktu tertentu.
3. Tahap pascabaca, pembaca memberikan respons atau tanggapan terhadap isi atau pesan yang dibacanya (Tarigan, 1986; Rofi’uddin, 1999; Supriyadi, 1994; Zuchdi, 1997; Syafi’ie, 1981).

b. Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca
Berkaitan dengan pelaksanaan pengajaran membaca, Burns (1982) mengemukakan 14 prinsip pengajaran membaca. Prinsinsi-prinsip yang dikemukakan didasarkan pada generalisasi hasil penelitian tentang pengajaran membaca dan pada hasil observasi praktik membaca. Prinsipprinsip ini diharapkan dapat mengarahkan guru dalam merencanakan pengajaran membaca.
Berikut dipaparkan keempat belas prinsip tersebut.

Prinsip 1 Membaca adalah tindakan kompleks dengan banyak faktor yang harus dipertimbangkan Guru harus memahami semua aspek yang berkaitan dengan proses membaca sehingga dia
dapat merencanakan pengajaran membaca secara bijaksana. Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan proses membaca adalah sebagai berikut.
1. Memahami sebuah simbol tertentu (aspek sensori)
2. Menerjemahkan apa yang mereka lihat dari simbol-simbol atau kata-kata (aspek persepsi)
3. Mengikuti alur (linear), logika, dan pola tata bahasa dari kata yang ditulis (aspek sekuensi)
4. Menghubungkan kata-kata sebelumnya yang disesuaikan dengan pengalaman langsung untuk memberi makna terhadap kata yang dibaca (aspek pengalaman)
5. Membuat kesimpulan dan evaluasi sebuah material (aspek berpikir)
6. Mengingat apa yang telah mereka pelajari di waktu lampau dan menghubungkan ide baru dan fakta (aspek pembelajaran)
7. Memahami hubungan antara simbol dan bunyi, antara kata dengan apa yang mereka maksudkan (aspek asosiasional)
8. Berhubungan dengan ketertarikan personal atau individu dan sikap yang memengaruhi tugas membaca (aspek afektif)
Melihat semua aspek di atas, jelas bahwa proses membaca merupakan proses yang sangat kompleks. Dengan demikian, dalam membaca siswa harus menguasai aspek-aspek di atas.

Prinsip 2 Membaca merupakan proses interpretasi terhadap makna dari simbol-simbol yang tertulis

Jika seseorang tidak memahami sebagian makna dari teks, maka ia belum membaca, bahkan jika seseorang itu melafalkan setiap kata dengan tepat.

Prinsip 3 Membaca melibatkan kegiatan mengkonstruksi makna dari passage makna dari bagian yang tertulis

Di samping untuk memahami informasi dari huruf-huruf dan kata-kata dalam teks, membaca melibatkan kegiatan memilih dan menggunakan pengetahuan tentang orang, tempat, sesuatu, dan pengetahuan tentang teks dan organisasi teks.
Sebuah teks tidak banyak mengandung makna seperti sumber dari informasi yang memungkinkan pembaca untuk melibatkan pengetahuan yang telah dimilikinya sehingga dapat menentukan makna yang terkandung di dalam teks (Anderson dalam Burns, 1992:23).
Pembaca mengkonstruksi makna dari bagian teks yang mereka baca dengan menggunakan dua informasi yang berkaitan dengan teks dan pengetahuan awal mereka, yang didasarkan pada pengalaman masa lalu mereka. Cara pembaca dalam mengkonstruksi makna berbeda-beda bergantung pada latar belakang pengetahuan dan pengalaman mereka yang
bervariasi. Beberapa pembaca tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup untuk memahami teks, dan yang lainnya merasa gagal untuk memanfaatkan pengetahuan yang telah
mereka miliki.

Prinsip 4 Tidak ada satu cara yang paling tepat untuk mengajarkan membaca

Beberapa metode pengajaran membaca lebih cocok bagi beberapa siswa dari pada siswa lainnya. Sebagian siswa merupakan individu yang belajar dengan cara mereka sendiri. Beberapa siswa merupakan pebelajar yang visual, beberapa lainnya merupakan pebelajar auditor dan yang lainnya merupakan pembelajar yang kinestetik.
Guru harus membedakan pengajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Tentu saja, beberapa metode akan tepat bagi beberapa guru. Guru memerlukan pemahaman mengenai variasi metode
sehingga mereka dapat menolong semua muridnya.

Prinsip 5 Belajar membaca merupakan proses yang berkelanjutan

Anak-anak belajar membaca dalam beberapa periode waktu yang panjang, memperoleh kemampuan membaca lanjutan setelah mereka menguasai keterampilan prasyarat. Bahkan setelah mereka menguasai semua jenis membaca, latihan membaca masih harus terus berlanjut.
Dengan tidak memandang seberapa tua usia atau seberapa lama mereka telah meninggalkan bangku sekolah, mereka tetap melanjutkan meningkatkan kemampuan membacanya.
Keterampilan membaca membutuhkan latihan yang terus-menerus. Jika seseorang tidak berlatih, maka kemampuan membacanya tidak berkembang. Oleh karena itu, latihan membaca perlu dikembangkan secara terus-menerus.

Prinsip 6 Siswa harus diajari pengenalan kata yang memungkinkan mereka dapat mengenali pelafalan dan makna kata-kata sulit secara independen

Siswa tidak dapat mengingat semua kata yang mereka baca dalam teks. Oleh karena itu mereka membutuhkan untuk mempelajari teknik-teknik untuk memahami kata-kata yang tidak
dikenal sehingga mereka dapat memahami isi bacaan meskipun tanpa bantuan guru, orang tau, atau teman.

Prinsip 7 Guru harus mendiagnosis kemampuan membaca siswa dan menggunakan hasil diagnosisi tersebut sebagai dasar untuk merencanakan pengajaran

Mengajari semua siswa dengan bahan ajar dan metode yang sama serta berharap dapat menangani kesulitan siswa yang berbeda dalam waktu yang bersamaan adalah hal yang perlu dihindari. Setiap siswa mempunyai kesulitan yang berbeda, sehingga penanganannya pun tidak akan sama. Guru perlu mengecek kelemahan membaca siswa dan kelebihannya. Selanjutnya
dapat menentukan kelompok siswa yang melakukan bimbingan dan yang tidak melakukan bimbingan

Prinsip 8 Membaca dann keterampilan berbahasa lainnya sangat berkaitan

Membaca – interaksi antara pembaca dan bahasa tulis saat dimana pembaca berusaha untuk merekonstruksi pesan penulis – sangat berhubungan erat dengan keterampilan berbahasa
lainnya (menyimak, berbicara, dan menulis). Hubungan erat antara menulis dan membaca adalah keduanya merupakan kemampuan berbahasa reseptif, yang bertolak belakang dengan dua keterampilan membaca ekspresif yaitu berbicara dan menulis. Kemampuan menyimak yang baik sangat penting dalam meningkatkan kemampuan membaca.
Hubungan antara membaca dan menulis sangat kuat, keduanya merupakan proses yang konstruktif. Pembaca harus mengkonstruksi pesan dibalik teks yang tertulis, sementara itu
menulis merupakan kegiatan untuk menyampaikan ide dan mengekspresikan gagasan yang disampaikan secara tertulis. Pesan yang disampaikan lewat tulisan, dikodekan oleh pembaca
melalui kegiatan membaca. Dengan demikian keempat keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan.

Prinsip 9 Membaca merupakan bagian integral dari semua area isi pengajaran dalam program pendidikan.

Guru harus mempertimbangkan hubungan antara membaca dengan mata pelajaran lain dalam kurikulum sekolah dasar. Untuk memahami semua materi pelajaran dibutuhkan keterampilan membaca. Bahan ajar yang dikembangkan dalam mata pelajaran lain menjadi area isi dalam teks yang harus dibaca siswa. Dengan demikian, membaca menjadi bagian integral dalam pembelajaran di sekolah dasar.

Prinsip 10 Siswa perlu untuk mengetahui mengapa membaca itu penting

Anak-anak yang tidak bisa melihat keuntungan yang akan diperoleh dalam belajar membaca tidak akan termotivasi untuk belajar membaca. Belajar membaca memerlukan usaha,
dan siswa yang melihat nilai lebih membaca sebagai aktivitas personal akan lebih cenderung bekerja keras dalam membaca dari pada siswa yang tidak melihat manfaat tersebut. Guru harus
menekankan kepada siswa tentang kebutuhan membaca di masa depan.

Prinsip 11 Kesenangan membaca harus dianggap sebagai hal yang penting

Membaca merupakan kegiatan yang bisa menghibur dan juga informatif. Guru harus dapat membantu siswa menyadari fakta ini melalui kegiatan memberi contoh kegiatan membaca
yang dapat mereka amati. Guru dapat melakukan kegiatan membaca rekreatif seperti membaca cerita atau puisi. Pemodelan seperti ini sangat penting bagi siswa.

Prinsip 12 Kesiapan membaca harus dipertimbnagkan dalam semua level pembelajaran

Kesiapan membaca siswa tidak hanya dilihat saat pengajaran membaca dimulai, tetapi selama proses pengajaran membaca berlangsung dan pada semua jenjang kelas. Hal ini dapat
dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa.

Prinsip 13 Membaca harus diajarkan melalui cara yang menngarahkan siswa untuk mengalami kesuksesan

Meminta siswa untuk belajar membaca dari bahan yang terlalu sulit bagi mereka merupakan langkah menuju kegagalan yang sangat besar. Guru harus memberi pengajaran kepada siswa sesuai dengan level masing-masing, sesuai dengan penempatan tingkatannya. Jika siswa diberi tugas membaca yang mengarahkan mereka pada kesuksesan, mereka akan dengan percaya diri melaksanakan tugas-tugas membaca yang mengarah pada kesuksesan. Guru harus menyesuaikan tingkat keterbacaan teks dengan level atau jenjang kelas yang tepat.

Prinsip 14 Pentingnya dorongan untuk mengarahkan dan memantau diri dalam proses Membaca

Pembaca yang baik mengarahkan sendiri kegiatan membacanya, membuat keputusan untuk menentukan pendekatan yang tepat untuk memahami isi teks, menetukan kecepatan membacanya, dan menentukan tujuan membacanya. Mereka memiliki kemampuan untuk memutuskan kapan mereka menemukan kesulitan untuk memahami isi teks dan dapat mengambil langkah untuk meremisi kesulitan membacanya.

Pada saat mengajarkan membaca, dengan tidak mempermasalahkan pendapat apa yang dipakai atau pola pengajarn yang dipakai, prinsip-prinsip di atas harus diaplikasikan.
Selain keempat belas prinsip yang dikemukakan Burns di atas, terdapat 17 prinsip pengajaran membaca yang dikemukakan Heilman. Ketujuh belas prinsip tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan pandangan-pandangan psikologi, psikologi pendidikan, dan perencanaan kurikulum. Juga disusun berdasarkan hasil kajian pertumbuhan dan perkembangan anak, serta psikologis klinisnya.

Adapun ketujuh belas prinsip tesebut adalah sebagai berikut.

1) Membaca adalah proses bahasa: anak yang akan belajar membaca harus memahami hubungan antara membaca dan bahasanya. Membaca dikatakan sebagai suatu proses karena
salah satu langkah yang esensial adalah dengan bahasa yang dilisankan. Siswa memfokuskan membaca pada kata-kata tunggal dan huruf-huruf dalam kata kemudian membunyikannya.

2) Selama setiap periode pengajaran membaca, siswa harus membaca dan mendiskusikan sesuatu yang dipahaminya. Siswa dapat memberi penjelasan berkaitan dengan membacanya
melalui pengalaman siswa, dari kekuatan dan keindahan bahasa yang dibacanya. Misalnya penggunaan kata-kata yang tidak tepat, menebak makna kata.

3) Pengajaran akan membawa anak untuk memahami bahwa membaca harus “berarti”. Prinsip ini tidak mengimplikasikan bahwa sejumlah periode pengajaran tidak dapat memfokuskan
pada keterampilan yang terisolasi seperti hubungan bunyi-bunyi huruf. Menurut prinsip ini, membaca lebih dari sekedar sebagai proses mekanis, walaupun bukan termasuk membaca kritis.

4) Perbedaan siswa harus jadi pertimbangan utama dalam pengajaran membaca. Dalam mengajarkan membaca, guru harus memperhatikan dan menerapakan philosofi pendidikan.

5) Sepantasnya pengajaran membaca bergantung pada diagnosis pada setiap kelemahan dan kebutuhan anak/siswa. Prinsip ini dapat diaplikasikan untuk pengajaran kelas-kelas “khusus”
untuk pengajaran remedial membaca. Dalam banyak kasus, diagnosis ini sebaiknya dilakukan guru sebelum muncul kebiasaan buruk/reaksi-reaksi emosional yang tidak baik.

6) Diagnosis yang baik tidak akan berguna kecuali bila dilaksanakan dalam rancangan. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan membaca, guru perlu melakukan tes sehingga kelemahankelemahan siswa dalam aktivitas membaca.

7) Beberapa teknik, latihan atau prosedur yang diberikan mungkin lebih baik dikerjakan dengan sejumlah siswa. Karena itu, guru membaca harus menggunakan pendekatan yang bervariasi.
Tidak ada metode yang paling tepat, bergantung/disesuaikan dengan karakteristik siswa dan didasarkan pada perbedaan-perbedaan individual yamg signifikan.

8) Pada awalnya proses belajar anak harus mendapat cara/kebebasan dalam mengidentifikasikan kata-kata yang maknanya diketahui dan yang tidak diketahui anak. Pada awalnya dalam
membaca, siswa hanya membunyikan kata-kata.

9) Belajar membaca merupakan proses perkembangan yang panjang dalam periode tahunan.

Ada dua premis yang mendukung prinsip ini yaitu :

1) Setiap aspek program pengajaran dihubungkan dengan tujuan akhir untuk menghasilkan pembaca yang efisien.
2) Sikap-sikap awal siswa dalam membaca penting (misalnya membaca terlalu cepat)

10) Konsep kesiapan membaca seharusnya dibina secara bertahap untuk meningkatkan ke seluruh tingkatan.
Kesiapan harus dimulai dari tingkat yang paling rendah, walaupun sudah mencapai tingkat lebih tinggi tetapi tetap harus mengacu/berpedoman pada yang permulaan. Permulaan yang baik merupakan faktor penting dalam proses belajar, tetapi permulaan yang baik bukanjaminan untuk sukses, karena membaca adalah proses perkembangan yang terus-menerus.

11) Perhatian seharusnya ditekankan pada pencegahan bukan pada penyembuhan. Masalah-masalah membaca seharusnya sudah diketahui/dideteksi sejak awal dan dibenahi sebelum mereka gagal. Hal itu untuk keefektifan pengajaran.

12) Tak ada siswa yang harus dipaksa mencoba membaca pada saat dia merasa tidak mampu.
Prinsip ini dihubungkan dengan fakta bahwa anak-anak mempunyai tahap perkembangan dan pertumbuhan berbeda. Pola perkembangan anak tidak seragam, baik perkembangan fisik, sosial emosional dan intelektual. Suatu saat anak merasa lebih pada satu pelajararan dan merasa rendah atau kurang mampu pada yang lain. Hal itu mungkin saja karena emosi, sosial atau pertumbuhan pendidikannya terganggu.

13) Seorang anak mempunyai kemampuan untuk naik pada level membaca yang lebih tinggi, seharusnya tidak dicegah. Pada tingkat menengah atau tinggi mungkin ada di antara anak yang berkemampuan lebih daripada pembaca rata-rata (biasa saja). Atau mungkin dia juga tidak tertarik atau tidak merasa perlu materi tersebut. Anak seperti ini seharusnya dibina dan didorong untuk mengubah perilakunya dan diberi kebebasan memilih sendiri.

14) Belajar membaca merupakan proses yang rumit (peka untuk memberikan variasi-variasi tekanan). Ini berkaitan dengan anggapan bahwa membaca merupakan fungsi bahasa yang di
dalamnya telah dimanipulasikan simbol-simbol material. Proses simbolik itu peka terhadap banyak penekanan, sedangkan bahasa paling peka karena mengindikasikan individu atau emosional pemakainya.

15) Belajar tidak harus di dalam kelas, jika siswa mengalami problem-problem emosional yang cukup serius. Di samping problem-problem emosional, gangguan-gangguan bersifat fisis seperti radang tenggorokan, gigi bengkak, cacat kulit, dan sebagainya mengarahkan guru untuk mengajar tidak harus di dalam kelas. Namun, yang lebih ditekankan bahwa kesehatan emosional seperti kesungguhan dapat dijadikan dasar penting untuk pembentukan kemampuan membaca.

16) Pengajaran membaca harus dapat dipikirkan berkenaan dengan penataan, sistematika, pertumbuhan dan penghasilan aktivitas.
Premis yang diyakini keampuhannya adalah bahwa lingkungan kelas merupakan bagian integral dari pengajaran.

17) Pengadopsian bahan pengajaran tertentu merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan (ia akan berdampak dan berpengaruh pada filosofi pengajaran sekolah).
Prinsip-prinsip dalam pengajaran membaca di atas perlu diketahui dan dipahami, karena hal itu diperlukan untuk mendapatkan hasil membaca yang maksimal. Terutama untuk guru dalam menerapkan pengajaran membaca

Pembelajaran Menulis Naskah Drama;>>>> Baca

Soal Lat. UAS Mata Kuliah Ekonomi Industri;>>>> Baca

Pengertian Akuntansi, Prinsip dan Persamaan Akuntansi;>>>> Baca

Perkembangan Kognitif Anak Prasekolah;>>>> Baca

SOAL LATIHAN UJIAN SEMESTER PENGANTAR EKONOMI 2;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.