Tindak Tutur

Tindak Tutur

Berkenaan dengan ujaran ada tiga jenis tindakan yakni:

(1) tindak lokusi ( lokuitionary act )
(2) tindak ilokusi ( ilokuitionary act )
(3) tindak perlokusi ( perlokuitionary act )

(1) Tindak lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Lokusi semata-mata merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan suatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu menurut kaidah sintasisnya (Gunarwan 1992:9). Di dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud fungsi ujaran (Rustono 1999:35).

(2) Tindak ilokusi
Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujaran (Rustono 1999:35). Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang digunakan untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu. Tindak ilokusi mempertimbangkan siapa penutur dan siapa petutur, kapan, dimana tindak tutur
itu terjadi, dan sebagainya (Wijaya 1996:19).
Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi karena tindak ilokusi berkaitan dengan siapa bertutur pada siapa dan kapan atau dimana tindak tutur itu dilakukan, dan sebagainya. Untuk memudahkan identifikasi ada beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilokusi. Beberapa verba itu antara lain : melaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterima kasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya.

(3) Tindak perlokusi

Tindak perlokusi adalah ujaran yang diucapkan seorang penutur yang mempunyai efek atau daya pengaruh (Suyono 1990:8). Efek atau daya ujaran ini dapat ditimbulkan oleh penutur secara sengaja, dapat pula secara tidak sengaja.
Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mengetahui maksud lawan tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi. Ada beberapa verbal yang menandai tindak perlokusi. Beberapa verbal itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, dan menarik perhatian (Leech 1993:323).
Dikatakan oleh Searle dalam Gunarwan (1994:84) bahwa sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar, dapat dikategorikan menjadi lima jenis yaitu : representatif, direktif, eksresif, komisif, dan deklarasi.

(1) Representatif
Tindak tutur representatif disebut juga tindak tutur asertif, yakni tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran apa yang diujarkannya (Rustono 1999:38). Yang temasuk dalam jenis tindak tutur representatif ini seperti tuturan menyarankan, melaporkan, menunjukkan, membanggakan, mengeluh, menuntut,menjelaskan, menyatakan, mengemukakan, dan menyebabkan (Tarigan 1990:47).

Tuturan berikut merupakan tindakan representatif.
(1). “Pemain itu tidak berhasil melepaskan diri dari tekanan lawan.”

Tuturan di atas termasuk tuturan representatif. Alasannnya adalah tuturan itu mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggungjawab bahwa memang benar pemain itu tidak dapat berhasil di dalam meraih angka, bahkan sering melakukan kesalahan sendiri.

(2) Direktif
Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impisiotif yaitu tindak tutur yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan didalam ujaran itu (Gunarwan 1992:11). Tindak tutur direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek melalui tindakan sang penyimak (Tarigan 1990:47). Yang termasuk dalam jenis tindak tutur direktif ini adalah tuturan; memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih , mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, menmberi aba-aba, menentang (Rustono 1999:38). Berikut ini adalah tindak tutur direktif.

(2). “Ambil buku itu.”
Tuturan di atas merupakan tuturan direktif. Hal itu terjadi karena memang tuturan itu dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan mengambil buku baginya. Indikator bahwa tuturan itu direktif adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan itu.

(3) Ekspresif
Tindak komisif yaitu tindak tutur yang mendorong penutur melakukan sesuatu seperti bersumpah berjanji (Suyono 1996:5). Komisif melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang seperti menjanjikan, bersumpah, menawarkan, dan memanjatkan doa (Tarigan 1990:47). Tindak tutur berikut adalah tindak tutur ekspresif.

(3). “Sudah belajar keras, hasilnya tetap jelek ya, Bu”
Tuturan di atas termasuk tindak tutur ekspresif mengeluh. Termasuk tindak tutur ekspresif karena tuturan itu dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkannya, yaitu usaha belajar keras yang tetap tidak mengubah hasil. Isi tuturan itu berupa keluhan karena itu tindakan yang memproduksinya termasuk tindak ekspresif mengeluh.

(4) Komisif
Tindak komisif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu seperti menyatakan kesanggupan. Jenis tindak komisif ini jarang sekali digunakan karena tindak komisif merupakan suatu tindakan janji yang harus ditepati. Berikut ini merupakan penggalan dari tindak tutur komisif.

(4). “Saya bersumpah bahwa saya akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya.”
Tuturan di atas adalah tindak tutur komisif berjanji. Alasannya adalah tuturan itu mengikat penuturnya untuk melaksanakan tugasdengan sebaikbaiknya. Ikatan untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dinyatakan penuturnya yang membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhinya. Karena berisi berjanji yang secara eksplisi dinyatakan, tindak tutur itu termasuk tindak tutur komisif berjanji.

(5) Deklarasi
Tindak deklarasi adalah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan dsb.) yang baru (Gunarwan 1992: 12). Tuturan-tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengijinkan, mengangkat, menggolongkan, mengampuni dan memaafkan termasuk kedalam tindak tutur deklaratif (Gunarwan 1992:12).
Berikut ini adalah tindak tutur direktif.

(5). “ Saya tidak jadi datang ke rumahmu besok.”
Tuturan di atas adalah tindak tutur deklarasi membatalkan. Alasannya adalah tuturan itu untuk tidak memenuhi janjinya bagi penuturnya. Karena berisi membatalkan yang secara eksplisit dinyatakan.
Tuturan menurut kelangsungannya dibedakan menjadi 2, yaitu tuturan langsung dan tuturan tak langsung (Wijaya 43-44). Tuturan langsung adalah kesesuaian antara modus tuturan dan fungsinya. Tuturan langsung misalnya,

(6) “Tolong buka pintu!”
(7) “Itu bungkusan apa?”
(8) “Sekarang pukul 12.00”

Dari tuturan di atas menyatakan kalimat langsung. Pada tuturan (6)
perintah supaya pintu di buka, (7) menanyakan isi bungkusan, dan (8)
menginformasikan saat itu.
Tuturan tidak langsung adalah jika modus digunakan secara tidak
konvensional misalnya pada tuturan berikut ini.
(9) “Sudah jam sembilan”
(10) “Tempatnya jauh sekali”

Tuturan-tuturan (9) dan (10) merupakan tuturan tidak langsung yang masing-masing dimaksudkan untuk meminta tamu mengakhiri kunjungannya di pondokan putri dan untuk melarang seorang anak untuk tidak ikut dengan pembicara.

Konteks

Konteks adalah latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca serta yang menunjang interpretasi penyimak atau pembaca terhadap apa yang dimaksud pembaca atau penulis dengan suatu ucapan tertentu (Tarigan 1987:35).
Dalam berkomunikasi masyarakat tutur tidak terlepas dari situasi tuturan. Untuk itu, Firth (1935) mempunyai pandangan tentang konteks situasi. Adapun pokok-pokok pandangannya adalah (1) pelibat atau partisipan dalam situasi, (2) tindakan pelibat, (3) ciri-ciri situasi lainnya yang relevan, dan (4) dampak-dampak tindak tutur (Halliday dalam Tou 1992:11).
Pelibat merupakan faktor penentu di dalam berbicara. Pelibat dalam situasi adalah para pelaku bahasa, antara lain masyarakat, pendidik, ahli bahasa, serta peneliti bahasa. Di dalam menuturkan suatu tuturan pelibat berarti melakukan suatu tuturan yang dimaksud dengan tindakan pelibat. Adapun yang dimaksud dengan tindakan pelibat yaitu hal-hal yang dilakukan oleh penutur, meliputi tindak tutur atau verbal action maupun tindakan yang tidak berupa tuturan atau non verbal action.
Selain hal tersebut, ciri-ciri situasi lainnya yang relevan merupakan aspek situasi tutur yang perlu diperhatikan di dalam berkomunikasi. Adapun yang dimaksud dengan ciri-ciri situasi yang relevan adalah kejadian dan benda-benda sekitar yang sepanjang hal itu mempunyai sangkut paut tertentu dengan hal yang sedang berlangsung.

Di dalam melakukan suatu tuturan, penutur tidak boleh mengabaikan dampak-dampak dari tindak tutur karena dampak itu timbul disebabkan oleh tuturan para penutur. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa suatu bahasa yang dipakai oleh seorang penutur dapat ditangkap maksudnya oleh lawan tutur sesuai dengan konteks situasi yang melingkupi peristiwa tutur.

Menurut Tarigan (1987:33), bentuk dan makna bahasa harus disesuaikan dengan konteks dan situasi atau keadaan. Situasi dan konteks yang berbeda dapat menyebabkan suatu penafsiran yang berbeda pula dalam bahasa. Keanekaragaman bahasa dapat juga ditentukan oleh faktor yang berakar dari konteks dan situasi separti : letak gegrafis, situasi berbahasa, situasi sosial, dan kurun waktu.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa situasi dan konteks yang berbeda dapat menyebabkan bahasa yang beragam karena dengan situasi atau tempat yang berbeda dapat menyebabkan makna tuturan menjadi berbeda.
Berbicara merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setiap hari bagi orang yang mempunyai alat bicara normal. Dengan berbicara seseorang dapat mereaksi pembicaraan dengan orang lain melalui tuturan maupun berupa tindakan yang lain. Adapun syarat utama antara pembicara dengan pendengar adalah saling mengerti di antara keduanya.
Berhubungan dengan bermacam-macam maksud yang dikomunikasikan oleh penutur dalam suatu tuturan, Leech (1983) mengemukakan sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Adapun aspek-aspek situasi tuturan itu meliputi : (1) penutur atau penulis dan lawan tutur atau penyimak, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Wijaya:27-31; Rustono 1999:31).
Aspek situasi tutur yang pertama adalah penutur atau penulis dan lawan tutur atau penyimak. Penutur adalah orang yang melakukan tuturan sedangkan lawan tutur adalah orang yang diajak bertutur. Dalam situasi komunikasi harus ada pihak penutur atau penulis dan pihak lawan tutur atau pembaca. Keterangan ini mengandung implikasi bahwa pragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan saja, tetapi juga mencakup bahasa tulisan. Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan keakraban (Rustono 1999:27-29 ; Wijaya 1996:11).

Aspek situasi tutur yang kedua adalah konteks tuturan. Konteks tuturan meliputi konteks fisik yang biasa disebut kotek (cotex) dan konteks sosial yang disebut konteks (conteks). Didalam pragmatik, konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dialami oleh penutur dan lawan tutur. Konteks ini berguna untuk membantu lawan tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur (Rustono 1999:2). Aspek situasi tutur yang ketiga yaitu tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai oleh penutur yang melakukan tindakan bertutur (Rustono 1999:29).
Bentuk-bentuk tuturan yang diutamakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu, yaitu antara kedua belah pihak (penutur dan lawan tutur) terlibat dalam satu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Dalam hal ini berarti tidak mungkin ada sebuah tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan tertentu.

Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas merupakan aspek situasi tutur yang keempat. Tuturan merupakan bentuk aktifitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan atau act (Purwa 1990:19). Dalam hal itu yang bertindak melakukan tindakan adalah alat ucap.
Aspek situasi tutur yang lain adalah tuturan sebagai produk tindak verbal.
Tindak verbal adalah tindak mengekspresikan kata-kata atau bahasa (Rustono 1999:30). Tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Hal itu dapat dilihat pada tuturan “Apakah rambutmu tidak terlalu panjang”. Tuturan tersebut dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau sebagai perintah apa bila tuturan tersebut diucapkan oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Dengan mengacu pendapat Leech (1983), Tarigan (1987:34-37) mengemukakan lima aspek situasi tuturan, yaitu pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak lokusi, dan ucapan sebagai produk tindak verbal. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain unsur waktu dan tempat, unsur yang paling penting dalam suatu tuturan adalah aspek-aspek tuturan itu sendiri. Manfaat dari aspekaspek situasi tuturan adalah memudahkan dalam menentukan hal-hal yang tergolong dalam bidang kajian pragmatik.

Selain aspek-aspek tuturan itu, dalam tindak komunikasi seharusnya antara penutur dan lawan tutur saling mengetahui faktor-faktor penentu tindak komunikasi. Adapun faktor-faktor penentu tindak komunikasi meliputi : (1) siapa yang berbahasa dengan siapa, (2) untuk tujuan apa, (3) dalam situasi apa, (4) dalam konteks apa, (5) jalur yang mana, (6) media apa, dan (7) dalam peristiwa apa (Suyono 1990:3).
Faktor pertama penentu tindak komunikasi adalah siapa yang berbahasa dengan siapa. Dalam melakukan suatu tuturan penutur harus melihat dengan siapa ia berbahasa dan melihat siapa orang yang berbahasa dengan penutur. Apabila menggunakan bahasa, juga menyamaratakan antara orang yang satu dengan orang yang lain karena hal tersebut menimbulkan beda penafsiran bagi mitra bicara.

Faktor penentu tindak komunikasi yang kedua adalah untuk tujuan apa. Dalam berbahasa hendaknya penutur menggunakan bahasa yang benar-benar jelas, yaitu untuk tujuan apa penutur berbicara. Dengan tujuan pembicaraan jelas, sang pendengar tidak akan kesulitan dalam menangkap isi pembicaraan lawan tuturnya.

Di dalam melakukan suatu komunikasi, situasi juga merupakan faktor penentu dalam tindak komunikasi. Penutur harus mengetahui dalam situasi tindak formal. Apabila penutur berbicara pada situasi formal, bahasa yang digunakan menggunakan bahasa formal, tetapi apabila penutur berbicara pada situasi yang tidak formal bahasa yang digunakan adalah menggunakan bahasa yang tidak
formal. Konteks merupakan faktor penentu tindak komunikasi yang keempat.

Dalam komunikasi penutur harus dapat membedakan dalam konteks apa dan bagaimana ia berbahasa. Penutur harus dapat menempatkan diri sebaik mungkin karena dalam sebuah tuturan apabila konteksnya berbeda tetapi tuturannya masih sama dapat menimbulkan pengertian yang berbeda pula.
Faktor penentu tindak komunikasi yang kelima adalah jalur yang mana. Di dalam berkomunikasi yang digunakan ada dua, yaitu jalur lisan dan jalur tulisan.
Jalur lisan dapat berupa percakapan-percakapan yang dilakukan oleh para penutur
secara langsung, sedangkan jalur tulisan dapat berupa tuturan-tuturan yang
dilakukan oleh seseorang yang sudah berupa tulisan misalnya saja tuturan dalam
novel maupun cerpen.
Media merupakan faktor penentu yang keenam yang patut mendapatkan perhatian karena tanpa media yang jelas suatu tindak komunikasi sulit untuk ditentukan. Media yang digunakan dalam berbahasa banyak beragamnya, misalnya tatap muka, telefon, dan surat kabar. Peristiwa merupakan faktor penentu tindak komunikasi yang teratur. Di dalam berbahasa penutur seharusnya
mengetahui dalam perstiwa apa ia berbahasa. Misalnya dalam suatu peristiwa berpidato, ceramah, ataupun hanya sekedar bercakap-cakap. Berdasarkan uraian tersebut pada intinya ketiga pendapat itu hampir sama. Semua faktor yang telah dikemukakan oleh para ahli bahasa tersebut harus diperhatikan dalam setiap tindak komunikasi. Tanpa adanya faktor-faktor tersebut, komunikasi tidak akan berjalan dengan lancar karena dengan lengkapnya pengetahuan seseorang tentang
konteks maka akan lebih tepat pula interpretasinya terhadap makna sebuah wacana dan semakin sedikit pengetahuan seseorang tentang konteks maka tepat pula interpretasinya terhadap makna sebuah wacana.

Tindak Tutur Sebagai Suatu Tindakan
Tindak tutur merupakan salah satu bagian yang mempunyai kedudukan
penting dalam pragmatik karena hal itu merupakan salah satu dari satuan
analisisnya. Istilah act sering dikaitkan oleh seorang filosof Britania bernama
Austin (1962) yang untuk pertama di dalam kuliahnya di Havard pada tahun 1955
mengatakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dilihat sebagai
melakukan tindakan (act), di samping memang mengujarkan tuturan itu
(Gunarwan 1994:43). Pada tahun 1962 diterbitkan sebuah buku dengan judul How
to Do Things With Word yang diambil dari materi perkuliahannya.
Pendapat Austin (1962) diperkuat oleh salah seorang muridnya yang
bernama Searle (1962) yang menerbitkan buku berjudul Speech Act. Searle (dalam
Gunarwan 1994:47) mengembangkan gagasan Austin (1962) dan sampai pada
simpulan bahwa semua ujaran tidak saja yang berisi kata kerja performatif, tetapi
pada hakikatnya adalah merupakan suatu tindakan (act), di samping memang
mengucapkan tuturan itu. Demikianlah aktifitas menuturkan tuturan dan maksud
tertentu merupakan tindak tutur.

Fungsi Tindak Tutur

Di dalam kegiatan bertutur tentu ada perihal pokok yang menjadi perhatian umum. Perihal pokok tersebut agar dipahami orang lain harus dibahasakan, harus memperhatikan kaidah bahasa dan pemakaiannya. Perihal pokok yang merupakan pusat perhatian untuk dibicarakan atau dibahasakan adalah topik tutur, sedangkan tuturan adalah topik tutur yang sudah dibahasakan (Suyono 1990:23).
Tindak tutur merupakan aktifitas. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act) (Kaswati Purwa 1990). Tindak tutur suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan seperti menendang dan mencium. Hanya berbeda perannya dalam setiap anggota tubuh. Pada tindakan menendang kaki yang berperan, sedangkan mencium adalah bagian muka yang berperan.
Tindak tutur tidak akan lepas dari analisis situasi tuturan (Speech situation). Situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan (Rustono 1999:25). Situasi tutur di dalam komunikasi ada dua pihak peserta yang penting yaitu penutur dan mitra tutur, atau pengirim amanat dan penerimanya. Supaya
komunikasi ini berlangsung di antara pihak yang berkomunikasi harus ada kontak berdekatan. Secara fisik kontak berdekatan belum berarti terciptanya situasi tutur.
Penutur harus mengambil perhatian pihak yang akan dan sedang diajak bicara atau berkomunikasi. Komunikasi tersebut terdapat fungsi tindak tutur. Fungsi tindak tutur dari satu bentuk tuturan melebihi satu fungsi. Tuturan tersebut ini merupakan fungsi tindak tutur.

Fungsi yang dikehendaki oleh penutur dan yang kemudian dipahami oleh mitra tutur tergantung kepada konteks yang mengacu ke tuturan yang mendahului atau mengikuti tuturan. Kenyataan bahwa satu bentuk tuturan dapat mempunyai lebih dari satu fungsi adalah kenyataan di dalam komunikasi bahwa satu fungsi dapat dinyatakan, dialami, dan diutarakan dalam berbagai bentuk tuturan.
Bahasa dapat dikaji dari segi bentuk dan fungsi. Kajian dari segi bentuk menggunakan pendekatan formalisme, yaitu pendekatan telaah bahasa yang menekankan bentuk-bentuk bahasa semata-mata. Sementara itu, kajian dari segi fungsi menggunakan pendekatan non formalisme, yaitu pendekatan telaah bahasa yang bertitik tolak dari nosi tindak tutur (speech act) dan melihat fungsi tindak
tutur itu dalam komunikasi bahasa dalam fenomena sosial (Gunarwan 1992).
Leech (1993:72) penjelasan pragmatik mampu menjawab “mengapa” dengan jawaban-jawaban dan jauh melampaui tujuan-tujuan tata bahasa formal.
Misalnya jawaban pragmatik atas pertanyaan mengapa tuturan x digunakan dan bukan tuturan Y, karena tuturan X lebih sesuai dengan fungsi bahasa sebagai suatu sistem komunikasi.
Dalam hal bahasa, teori fungsional adalah teori yang mendefinisikan bahasa sebagai sebuah bentuk komunikasi dan yang ingin memperlihatkan bagaimana bahasa bekerja dalam sistem-sistem masyarakat manusia yang lebih besar. Istilah-istilah yang menandai hadirnya fungsionalisme ialah ‘maksud’, ‘tujuan’, ‘sasaran’, ‘rencana’. Menurut Grice 1957, Searle 1969 dalam Leech (1993) fungsional digunakan jika membahas ilokusi-ilokusi atau makna dari segi maksud. Selain itu, mereka membicarakan sifat-sifat bahasa dengan menggunakan istilah fungsi.

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Makasih atas artikelnya pak…..
    artikel ginian masih langka, sangat membantu….
    trmksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.