KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA

KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA.

Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat
merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya
merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini
dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah,
kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat
disaksikan dan di jumpai orang yang sedang merokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap
asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe,
2000: 20). Merokok merupakan suatu aktivitas yang sudah tidak lagi
terlihat dan terdengar asing lagi bagi kita. Sekarang banyak sekali bisa
kita temui orang-orang yang melakuka akitivitas merokok yang disebut
sebagai perokok.
Seseorang dikatakan sebagai perokok sangat berat, berat atau
biasa saja dapat dikateahui dari seberapa batang rokok yang ia habiskan
setiap harinya. Seperti halnya yang diutarakan sebagai berikut :
Mereka yang dikatakan perokok sangat berat adalah bila mengkonsumsi
rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit
setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari
dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 – 30 menit.
Perokok sedang menghabiskan rokok 11 – 21 batang dengan selang
waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan
rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi
(http//www.e-psikologi/merokok+remaja.com)
Conrad and Miller dalam Sitepoe (2000: 17) menyatakan bahwa
‘Seseorang akan menjadi perokok melalui dorongan psikologis dan
dorongan fisiologis’. Dorongan psikologis biasanya pada anak remaja
adalah untuk menunjukkan kejantanan (bangga diri), mengalihkan
kecemasan dan menunjukkan kedewasaan. Dorongan fisiologis adalah
nikotin yang dapat menyebabkan ketagihan sehingga seseorang ingin
terus merokok.
Di Indonesia, anak-anak remaja mulai merokok kebanyakan
karena kemauan sendiri, melihat teman-temannya merokok, dan diajari
atau dipaksa merokok oleh teman-temannya. Merokok pada remaja
karena kemauan sendiri disebabkan oleh keinginan menunjukkan bahwa
dirinya telah dewasa. Umumnya mereka bermulai dari perokok pasif
(menghisap asap rokok orang lain yang merokok) lantas jadi perokok
aktif. Mungkin juga semula hanya mencoba-coba kemudian menjadi
ketagihan akibat adanya nikotin di dalam rokok. Hampir disetiap tempat
berkumpul remaja atau anak-anak sekolah usia sekolah menengah kita
menemukan para remaja merokok.
Setiap individu dan masyarakat dunia tahu bahwa merokok itu
merugikan kesehatan karena dapat menimbulkan dan mendorong
berbagai penyakit. Namun demikian, merokok tetap diminati bahkan
telah menjadi salah satu bagian dari kehidupan perokok dengan berbagai
alasan. Ada yang mengatakan merokok itu adalah sarana pergaulan,
merokok itu memberi ketenangan, atau rokok itu mendorong kreativitas,
dan banyak lagi alasan lainnya. Rokok tetap menjadi pilihan bebas dari
setiap individu dalam menentukan sikap menjadi perokok atau tidak.
Dari semua unsur yang dihasilkan oleh rokok jika dilihat dari
segi kesehatan tidak ada yang bermanfaat. Tetapi sampai saat ini pun
jumlah perokok tidak semakin berkurang bahkan bertambah. Asap
adalah hasil yang diperoleh dari membakar rokok, ada dua jenis asap
rokok yaitu :
Asap rokok yang dihisap melalui mulut disebut main stream smoke,
sedangkan asap rokok yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar
serta asap rokok yang dihembuskan keudara oleh perokok disebut
sidestream smoke, sidestream smoke mengakibatkan seseorang
menjadi perokok pasif
(Sitepoe, 2000: 20).
Sebenarnya apa yang dihasilkan oleh rokok yaitu asap rokok
yang sering dinikmati oleh para perokok tidak sama sekali ada
manfaatnya malah begitu banyak bahayanya, seperti apa yang
disampaikan oleh Sitepoe (2000: 20) yaitu :
“Asap rokok yang dihisap mengandung 4000 jenis bahan kimia dengan
berbagai jenis daya kerja terhadap tubuh. Beberapa bahan kimia yang
terdapat di dalam rokok dan mampu memberikan efek yang
mengganggu kesehatan antara lain nikotin, tar, gas karbon monoksida,
dan berbagai logam berat. Oleh karena itu, seseorang akan terganggu
kesehatannya bila merokok secara terus menerus”
Sehubungan dengan hal itu, merokok tidaklah membunuh
manusia secara cepat, tetapi racunnya memasuki tubuh kita sedikit demi
sedikit. Mula-mula orang yang menggunakan rokok (tembakau) itu
biasanya akan merasakan sedikit pusing atau sakit kepala, batuk atau
muntah. Akan tetapi secara berangsur-angsur badan mengalami
penyesuaian (adaptasi), yaitu terbiasa dengan racun ini, maka rasa
pusing, batuk, mabuk/muntah tidak ada lagi. Sementara itu siracun terus
juga melakukan kegiatan yaitu sedikit demi sedikit merusak jaringan
tubuh kita dengan tidak diketahui (dirasakan). Hal ini akan berlanjut
terus selama orang itu merokok. Keadaan inilah yang kita tidak sadari
bahwa sebenarnya dengan merokok ini berarti telah menimbun racun di
dalam tubuh kita, walau pun tidak merasakan sakit.
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui pengertian tentang
merokok. Tetapi dapat disimpulkan bahwa pengertian merokok adalah
menghisap rokok, di mana rokok itu sendiri adalah gulungan tembakau
(kira-kira sebesar kelingking) yang dibungkus (daun/ kertas rokok) yang
jika di bakar akan menghasilkan asap dan asap itu sendiri yang dinikmati
dari aktivitas merokok.

b. Aspek-aspek dalam merokok.

Selain pengertian tentang merokok yang telah disampaikan di
atas, akan disampaikan pula aspek-aspek tentang merokok yang
meliputi tujuan merokok, lingkungan yang dapat mempengaruhi
individu untuk merokok, dan manfaat serta kerugian dari merokok.
1) Tujuan merokok.
Kebanyakan dari para perokok pemula sedikit sekali yang
memulai merokok karena kenikmatan. Biasanya para perokok
khususnya pada saat remaja laki-laki melakukan aktivitas merokok
bertujuan untuk menunjukkan dirinya sebagai laki-laki sejati atau
sebagai orang dewasa. Seperti yang disampaikan oleh Sitepoe
(2000: 17) bahwa merokok adalah “Sebagai rangsangan seksual,
sebagai suatu ritual untuk menunjukkan kejantanan (bangga diri)
dan menunjukkan kedewasaan”.
Ada beberapa hal mengapa orang melakukan aktivitas merokok, diantaranya mereka bertujuan sebagai berikut :
a) Mengalihkan kecemasan.
b) Menghilangkan kejenuhan.
c) Menunjukkan kedewasaan
(Sitepoe, 2000: 17)
d) Mengurangi stress (tekanan perasaan yang kurang enak)
e) Mempererat pergaulan antar kawan (terutama bila semua kawan merokok.
f) Mengurangi nafsu makan, guna mencegah kegemukan (PMI, 1996: 40).
2) Lingkungan yang dapat mempengaruhi individu merokok.

Faktor penyebab remaja merokok biasanya kebayakan dari faktor lingkungan. Faktor lingkungan bisa sa ja dari faktor keluarga, tempat tinggal atau bahkan lingkungan pergaulan. Seprti
yang di sampaikan oleh Darvil dan Powell (2002: 121) bahwa “Remaja cenderung merokok karena memiliki teman-teman atau keluarga yang merokok”.
Ada lingkungan yang menganggap merokok merupakan suatu hal yang kurang pantas dilakukan oleh para remaja. Tetapi, ada juga lingkungan di mana merokok pada remaja adalah suatu
hal yang wajar atau bahkan jika remaja laki-laki tidak merokok akan dibilang remaja laki-laki yang aneh. Selain itu, ada juga remaja laki-laki yang merokok disebabkan karena ia melihat
ayahnya merokok.
Bagi remaja solidaritas kelompok adalah suatu hal yang penting. Remaja cenderung untuk melakukan apa yang sering dilakukan kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja
merokok adalah suatu aktivitas yang sering dilakukan maka, remaja yang tergabung di dalamnya cenderung untuk melakukan aktivitas merokok.

3) Manfaat dan kerugian merokok.
Sebagaimana halnya berbagai aktivitas, merokok ada manfaat dan kerugiannya. Namun jika kita kaji lebih dalam merokok banyak mengandung kerugiannya dari pada manfaatnya. Tetapi, meskipun demikian jumlah perokok tiap tahunnya semakin meningkat.
a) Manfaat merokok.
Meskipun di dalam bungkus rokok itu sendiri tertulis peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin, tetapi seperti tidak di pedulikan oleh para perokok.
Kebanyakan para perokok mengatakan mulut terasa asam jika tidak merokok terlebih lagi setelah makan. Beberapa hal dianggap sebagai manfaat dari merokok adalah sebagai berikut:
_ Mengurangi stress, tekanan perasaan yang kurang enak, secara tidak langsung menjadikan remaja lebih berani.
_ Menimbulkan perasaan nikmat.
_ Mempererat pergaulan antar kawan, terutama bila semua kawan merokok.
_ Meningkatkan keberanian dan perasaan “Jantan”, “Jagoan”,
dan “Macho”.
_ Mengurangi nafsu makan, sehingga bisa mencegah kegemukan. (PMI, 1996: 40).
Dari kelima manfaat yang ditimbulkan dari merokok khususnya bagi para remaja yang digunakan sebagai alasannya merokok cenderung pada hal mengurangi stress, mempererat pergaulan dan meningkatkan keberanian dan perasaan jantan.
Jika kita kaji lebih dalam lagi sebenarnya merokok tidak ada manfaatnya, seperti yang diungkapkan di atas sebenarnya tidak ada benarnya. Misalnya saja meningkatkan keberanian dan perasaan “jantan”, sering kita dengar atau kita sendiri pernah merasakan bahwa ada yang mengatakan jika laki-laki tidak merokok berarti “banci”, sedangkan kita ketahui bahwa banci (laki-laki yang berprilaku seperti perempuan) itu sendiri semuanya merokok. Jadi apa benar dengan merokok laki-laki dapat disebut sebagai laki-laki yang “jantan” atau “macho”.

b) Kerugian merokok.
Sebenarnya jika kita mengetahui apa yang dihasilkan dari merokok adalah suatu hal yang belum jelas ada manfaatnya bahkan tidak ada manfaatnya tetapi banyak sekali kerugiannya.
Terlebih lagi dari segi kesehatan, merokok sangat berbahaya bagi kesehatan.
Dalam bungkus rokok itu sendiri pun dicantumkan peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung, paru-paru, kanker, impotensi serta gangguan kehamilan dan janin. Di bawah ini akan disampaikan kerugian dari merokok antara lain :

_ Rokok mengandung 4000 jenis bahan racun yang berbahaya
bagi kesehatan, anatara lain yang telah dikenal baik adalah
karbon monoksida (CO) yang bisa mematikan, nikotin yang
mendorong pengjapuran jantung dan pembuluh darah, tar
yang dapat menyumbat dan mengurangi fungsi saluran nafas
dan menyebabkan kanker, serta berbagai racun bahan kimia
yang bisa menyebabkan racun pada hati, otak dan pembentuk
kanker.
_ Rokok menurunkan konsentrasi, misalnya sewaktu
mengemudi, berpikir dan sebagainya.
_ Rokok menurunkan kebugaran.
_ d) Rokok bukan hanya meracuni para perokok sendiri, namun
juga orang disekitarnya (sebagai perokok pasif) dengan bahaya yang sama.
_ Rokok menimbulkan ketergantungan dan perasaan
“kehilangan sesuatu” kalau rokok tidak tersedia, yang
berakibat pada penurunan prestasi belajar dan bekerja.
_ Rokok memboroskan.
_ Rokok dapat meyulut kebakaran (PMI, 1996: 40).
Selain beberapa hal di atas juga ada beberapa kerugian
lainnya dari merokok yaitu ;

_ Merokok dan menyebabkan penyakit pada alat pencernan.
_ Merokok meningkatkan tekanan darah.
_ Merokok meningkatkan prevalensi gondok.
_ Merokok dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah.
_ Merokok dapat memperpendek usia.
_ Merokok menghambat buang air kecil.
_ Merokok menimbulkan amblyopia atau penglihatan menjadi kabur.
_ Merokok bersifat adiksi (ketagihan).
_ Merokok membuat lebih cepat tua dan memperburuk wajah.
_ Rokok penyebab polusi udara dalam ruangan. (Sitepoe, 2000: 38-41)
Beberapa kerugian tentang merokok yang telah di
sampaikan di atas sebenarnya lebih memperjelas bahwa
merokok itu banyak sekali kerugiannya. Sering kita dengar istilah merokok dapat menyebabkan kematian. Sebenarnya merokok bukan penyebab kematian, melainkan merokok dapat
memicu suatu penyakit yang dapat menyebabkan kematian.
Begitu banyaknya kerugian yang ditimbulkan akibat merokok
semoga saja para perokok menyadari akan-kerugian-kerugian
itu dan meninggalkan aktivitas merokok.

c. Pengertian Remaja
Seringkali dengan gampang orang mendefinisikan remaja
sebagai periode transisi antara masa anak-anak kemasa dewasa, atau disebut juga usia belasan. Hurlock (1999: 206) menyatakan bahwa “Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa”.
Remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak dan
masa kehidupan orang dewasa. Bila ditinjau dari segi tubuhnya, mereka terlihat sudah dewasa tetapi jika mereka diperlakukan sebagai orang dewasa ternyata belum dapat menunjukkan sikap dewasa.
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin
adolescere (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja primitive) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Anak dianggap sudah dewasa bila sudah mampu mengadakan reproduksi. Istilah adolescence seperti yang digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, sosial dan fisik (Hurlock, 1999:206)
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait (seperti
Biologi dan Ilmu Faal) remaja dikenal sebagai suatu tahap
perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya (Sarlito, 2002:6). Dalam pengertian ini remaja
dipandang dari sudut fisik dimana individu disebut remaja apabila
individu tersebut secara fisik telah mampu untuk melakukan reproduksi.
Selain itu juga, Sugeng (1995: 11-12) mengatakan “Bahwa
remaja merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak dan masa
kehidupan dewasa dan remaja sering menunjukkan kegelisahan,
pertentangan, dan keinginan mencoba segala sesuatu.” Dalam hal ini
remaja dikatakan sebagai individu yang masih belum jelas identitas
dirinya atau juga disebut dengan individu yang masih mencari jati
dirinya. Misalnya saja remaja mempunyai rasa keingin tahuan yang
tinggi, jarang sekali remaja yang memgang prisip atas dirinya.
Pada tahun 1974, WHO memberi definisi tentang remaja yang
lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria
yang biologik, psikologik, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut :
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relative lebih mandiri .
(Muangman (1980) yang dikutip oleh Sarlito, 2002: 9).
Mendefinisikan remaja untuk masyarakat Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Untuk
definisi remaja di Indonesia diartikan dengan pertimbangan pertimbangan
sebagai berikut :
1) Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda
seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik)
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap
usia akil balig, baik menurut adat maupun agama, sehingga
masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak.
3) Mulai ada tanda-tanda menyempurnakan perkembangan jiwa
seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari
perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak
perkembangan kognitif maupun moral.
4) Orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat
memnuhi persyaratan kedewasaan secara rasional maupun
psikologik, masih dapat digolongkan remaja.
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Remaja
tidak termasuk kedalam golongan anak-anak, tetapi juga tidak termasuk golongan dewasa. Remaja berada di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Biasanya masa remaja dianggap telah mulai ketika anak secara seksual menjadi matang, dan kemudian berakhir pada saat ia mencapai usia yang secara hukum disebut usia dewasa yaitu ± 24 tahun.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa
remaja adalah individu yang berusia belasan tahun (12-21 tahun) yang tergolong dalam masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Dalam masa transisi inilah remaja cenderung untuk ingin disebut sebagai orang yang sudah dewasa. Agar terkesan sebagai orang yang sudah dewasa remaja cenderung melakukan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang dewasa, salah satu contohnya adalah bagi remaja laki-laki dengan merokok.

d. Kebiasaan Merokok Pada Remaja
Pada umumnya remaja itu selalu ingin bertualang, mencoba
sesuatu yang belum pernah dialaminya. Mereka ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. Dengan sembunyisembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya, seolah-olah mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu berbuat seperti orang dewasa (Sugeng, 1995: 12).
Menurut Hurlock (1999: 223) bahwa “Pada usia remaja rokok dan
minuman alkohol digunakan sebagai lambang kematangan”. Begitu
banyaknya fenomena sekarang ini yang dapat kita lihat bawa para remaja terlebih lagi remaja laki-laki sudah melakukan aktivitas merokok atau menjadi perokok.
Harus kita sedihkan bahwa merokok bagi para remaja khususnya
remaja yang masih berusia sekolah menengah sudah menjadi hal biasa dan dapat dibanggakan bagi mereka, bahkan banyak dari mereka yang sudah menjadi perokok aktif. Di Indonesia, anak-anak berusia muda mulai
merokok disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu karena kemauan sendiri, melihat teman-temannya, dan diajari atau dipaksa merokok oleh teman-temannya (Sitepoe, 2000: 17).
Merokok juga merupakan salah satu yang dilakukan oleh para
remaja untuk menyatakan bahwa mereka diterima dan teridentifikasi menjadi suatu kelompok tertentu. Remaja cenderung merokok jika mereka:

1) Memiliki teman-teman atau keluarga yang merokok.
2) Sukar mengatakan “tidak”, terutama kepada teman-teman atau orangorang yang ingin buat mereka terkesan.
3) Tidak mengetahui resikonya. (Darvill dan Powell, 2002: 121).

Dewasa ini banyak remaja (laki-laki) melakukan aktivitas
merokok. Seperti yang dikemukakan Abu Al-Ghifari (2003: 113) “Bagi remaja modern merokok merupakan satu jenis pilihan aktivitas yang populer dilakukan untuk memanfaatkan waktu senggang”. Bagi mereka merokok bukanlah suatu hal yang tabu tetapi sudah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan di lingkungan sosial mereka.
Merokok sudah menjadi kebiasaan bagi remaja di Indonesia.
Kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang (Corey, 2001: 26). Tidak ada aspek khusus dalam pembentukan kebiasaan, tetapi Corey (2001) menggolongkan kedalam dua faktor penentu kebiasaan yaitu
paradigma tentang diri sendiri dan paradigma tentang kehidupan.
Untuk kebiasaan merokok pada remaja sendiri akan ditinjau
beberapa hal mengapa remaja memiliki kebiasaan merokok, diantaranya:
1). Alasan remaja merokok.
Begitu banyak sebab atau alasan yang disampaikan para
remaja mengapa dia melakukan aktivitas merokok. Sebagian besar
para remaja melakukan aktivitas merokok dikarenakan ia ingin
terkesan dewasa, gagah atau “Macho”.
Faktor pendorong remaja mulai melakukan aktivitas merokok, antara lain :

1) Rasa ingin tahu sampai menjadi ketergantungan.
2) Untuk meningkatkan kesan “kejagoan”.
3) Hasrat berkelompok dengan kawan senasib dan sebaya.
4) Adanya stress atau konflik batin atau masalah yang sulit diselesaikan.
5) Dorongan sosial dari lingkungan yang “mendesak” remaja untuk merokok atau kalau tidak dianggap tidak solider dengan lingkungan sosialnya.
6) Ketidak tahuan akibat bahaya merokok
(PMI, 1996: 41).
Merokok pada anak-anak karena kemauan sendiri disebabkan
ingin menunjukkan bahwa dirinya dewasa (Sitepoe, 2000: 17). Alasanalasan yang menyebabkan seseorang merokok dan membuat merokok menjadi sesuatu yang menggairahkan bisa bermacam-macam dan bersifat pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh Abu Al-Ghifari (2003:113)
“Alasan remaja laki-laki merokok adalah mereka membayangkan
bahwa dengan merokok maka mereka dianggap sudah dewasa, tidak lagi anak kecil, dan bisa memasuki kelompok teman sebaya sekaligus kelompok yang mempunyai ciri gaya tertentu yaitu merokok”.
Alasan utama lainnya remaja merokok adalah karena ajakan
atau paksaan teman atau pengaruh lingkungan yang sukar ditolak.
Bergabung dengan suatu kelompok tertentu bagi remaja masa kini
mungkin merupakan hal yang penting. remaja ingin diidentifikasikan
sebanyak mungkin dengan teman-teman sebaya mereka.
2) Lingkungan remaja yang mempengaruhi remaja merokok.
Merokok pada remaja tidak begitu saja dikarenakan karena
faktor remaja itu sendiri, selain itu juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang mempengaruhi. Dalam hal ini, ada tiga lingkungan yang dapat mempengaruhi remaja merokok di antara :

a) Lingkungan keluarga.
Tidak sedikit remaja yang merokok dikarenakan di dalam
lingkungan keluarganya ada yang merokok. Misalnya saja, seorang
remaja laki-laki merokok dikarenakan melihat ayahnya suka
merokok. Ia sangat kagum dengan ayahnya sehingga ia ingin
seperti ayahnya dan remaja tersebut suka mengimitasikan tingkah
ayahnya sampai pada kebiasaan buruk ayahnya yaitu merokok.
Selain hal tersebut, ada juga orang tua yang tidak keberatan anak
remaja laki-lakinya merokok.
b) Lingkungan tempat tinggal.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal
pun dapat mempengaruhi remaja merokok. Bila dalam suatu
lingkungan tempat tinggal merokok bukan merupakan suatu hal
yang kurang baik, bahkan sampai anak kecil pun merokok terlebih
lagi para remaja.
Dalam lingkungan tempat tinggal di mana merokok pada
remaja masih di anggap suatu hal yang tabu, maka para remaja
akan merasa canggung bila merokok. Tetapi, bila lingkungan
tempat tinggal mendukung remaja untuk merokok maka perilaku
merokok pada remaja ini tidak akan bisa dikendalikan bahkan akan
menciptakan banyak perokok.

c) Lingkungan pergaulan remaja.
Lingkungan yang ketiga ini adalah lingkungan yang
sangat menentukan pada remaja. Remaja cenderung mendengarkan atau melakukan apa yang dibenarkan dalam kelompoknya, dan remauja cenderung melawan pada orang dewasa (orang tua).
Meskipun orang tua melarang remaja tersebut merokok, tetapi bila
ia bergaul dengan sekelompok remaja yang merokok, maka
kemungkinan besar remaja itu akan merokok.

3) Moment-moment saat merokok.
Tidak semua perokok pada remaja melakukan aktivitas
merokok terus menerus atau dengan seenaknya. Biasanya remaja
mempunyai moment-moment (waktu-waktu)) tertentu untuk
melakukan aktivitas merokok. Mereka melakukan aktivitas merokok
mungkin hanya pada saat berkumpul dengan temannya, atau pada saat suasana tertentu misalnya berkemah atau mendaki gunung.
Bagi remaja yang bukan benar-benar pecandu rokok, ia tidak
melakukan aktivitas merokok jika tidak ada moment khusus. Misalnya saja merokok pada saat berkumpul dengan teman, mungkin dikarenakan ia ingin menghargai teman lainnya yang merokok atau tidak ingin dikucilkan oleh teman-temannya.

4) Hal yang diperoleh remaja dari merokok.
Begitu banyaknya bahaya yang diakibatkan rokok, namum
ironisnya tak menyurutkan orang untuk tetap merokok. Ada dua hal yang diperoleh dari merokok, yakni dalam bentuk fisik dan psikis. Hal yang yang diperoleh tersebut dapat berupa keuntungan atau bahkan kerugian dari merokok. Sebagai contoh hal yang diperoleh dari merokok secara fisik, terkadang orang merasa lebih segar jika ia merokok., atau contoh lain yaitu ada yang merasa pusing kalau merokok. Selain fisik hal yang diperoleh dari merokok juga dapat berbentuk psikis, misalnya dengan merokok dapat menambah konsentrasi atau bahkan dengan merokok dapat mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi (Corey, 2001: 18). Kesemuanya itu dapat dianggap sebagai suatu persepsi remaja terhadap rokok yang akhirnya dapat membentuk sikapnya terhadap merokok itu sendiri.
Tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap respon yang dating dari luar, dalam hal ini adalah rokok.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.