Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan bab 2

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan bab 2
oleh Rohani A.

A. Kcsalahan Berbahasa
Menurut Dulay (dalam Tarigan, 1995: 142) kesalahan adalah bagian konversi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku atau norma terpilih dari performansi bahasa orang dewasa.
Menurut Tarigan (1990: 35) kesalahan adalah upaya sang pembelajar mengikuti kaidah-kaidah yang diyakininya, atau yang diharapkannya, benar atau tepat tetapi sebenarnya salah atau tidak tepat dalam beberapa hal.
Menurut KBBI (2005: 983) kesalahan adalah suatu perihal yang tidak betul atau tidak benar; kekeliruan; kealpaan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa adalah suatu hal yang menyimpang dari kaidah-kaidah berbahasa yang benar.
Menurut Tarigan (1995: 196) unsur-unsur yang termasuk ke dalam kategori kesalahan berbahasa Indonesia sebagai berikut. I. Kesalahan Fonologi a. Kesalahan Ucapan
Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga
menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan
makna.

b. Kesalahan Ejaan
Kesalahan ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca.
2. Kesalahan Morfologi
Kesalahan morfologi adalah kesalahan inemakai bahasa disebabkan oleh salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bcntuk kata.
3. Kesalahan Sintaksis
Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel.
4. Kesalahan Leksikon
Kesalahan leksikon adalah kesalahan memakai kata yang tidak atau kurang tepat.
B. Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia
Menurut Chaer (2006: 36) ejaan adalah konvensi grafts, perjanjian di antara anggota masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya, yang berupa pelambangar fonem dengan huruf, mengatur cara penulisan kata dan penulisan kalimat, beserta dengan tanda-tanda bacanya.
Wirjosoedarmo (1984: 61) berpendapat bahwa ejaan adalah aturan menuliskan bunyi ucapan dalam bahasa dengan tanda-tanda atau lambang-lambang.
Menurut Arifin (2004: 170) ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara lambang-

lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Selanjutnya secara teknis, ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
Keraf (1984: 47) berpendapat bahwa ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang-larnbang bunyi-ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa.
Kridalaksana (2008: 54) mengemukakan bahwa ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis menulis yang distandarisasikan. yang la/irn mempunyai 3 aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad, aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfcmis, dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.
Menurut KBBI (2005: 285) ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi bahasa dengan kaidah dalam bentuk tulisan yang mempunyai 3 aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonern dengan huruf dan penyusunan abjad, aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfeinis, aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.

C. Beberapa Hal yang Terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia
Menurut EYD (1996: 1), hal-hal yang terdapat dalam ejaan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Pemakaian Huruf
a. HurufAbjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf a sampai dengan z.
b. Hurufvokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan n.
c. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d,J\ g, h, j, k, I, r/i, n, p, q, r, ,v, /, v, w, x, y, dan z.
d. HurufDiftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, an, dan oi.
e. Gabungan-HurufKonsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
f. Pemenggalan Kata
1). Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

]
a) Jika di tcngah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah.
Huruf diftong ai, cm, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misalnya: an-la bukan a-u-la, sau-dara bukan sa-u-da-ra, am-boi bukan am-bo-i.
b) Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan-huruf
konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Misalnya: ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir.
c) Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Gabungan-huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa.
d) Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama
dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: in-stru-inen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las. 2). Imbuhan akhiran dan imbuhan avvalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis

serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya: makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah 3). Jika suatii kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan di antara unsur-unsur itu. Misalnya: a), bio-grafi, bi-o-gra-fi.
b).foto-grafi, fo-to-gra-fi. 2. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring a. Huruf Kapital
Huruf kapital digunakan dalam berbagai kesempatan sebagai berikut. !). Huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya: .Vaya mandi di sungai. 2). Huruf pertama petikan langsung.
Misalnya: Ibu berkata,”A^emarin saya sakit kepala”. 3). Huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya: Allah, A’atolik, Alkitab, /slam, dan sebagainya. 4). Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan kcagamaan yang diikuti oleh nama orang. Misalnya: Raden Ajeng Kartini, vVabi Musa, dan sebagainya.

5). Huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti oleh nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya: Jfakil Presiden Adam Malik, Perdana A/enteri Nehru, Profesor Supomo, laksamana Mida Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya. 6). Huruf pertama nama orang.
Misalnya: Rohanl 7). Huruf pertama nama suku, bangsa, dan bahasa.
Misalnya: suku Sunda, bangsa Indonesia, bahasa /nggris. 8). Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: bulan April, hari A/inggu, tahun Masehi, Proklamasi
ATemerdekaan Indonesia, Perang Candu. 9). Huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya: Pulaii Ba\\, Pulau Sebatik, Z,aut Merah.
10). Huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya: /tepublik Indonesia: Mijelis Permusyavvaratan /?akyat, Departemen Pendidikan dan A’ebudayaan; Badan A’esejahteraan /bu dan Anak; ATeputusan Presiden /?epublik /ndonesia, yVomor 57, Tahun 1972.

II). Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat
pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan. serta
dokumen resmi.
Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa, (7ndang-f/ndang Dasar
Republik Indonesia. 12). Huruf pertama semua kata di dalam buku, majalah, surat kabar, dan
judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dan, dan, yang, untitk
yang tidak terletak di posisi awal.
Misalnya: C/ntuk /bunda Jersayang, Slirat-menyurat di dalam $ahasa
Indonesia. 13). Singkatan nama, gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya: M. Dea /., Ir. Soekarno, Sdr. Budiono. 14). Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak,
ibu, paman, nenek, yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya: a). Silakan masuk, Z)ik! b).Kapan Nenek datang. 15). Huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya: SudahkahyJnda tahu? b. Huruf Miring
Huruf miring biasanya hanya ditemui dalam tulisan-tulisan yang berbentuk cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dia tak miring diberi tanda satu garis di bawahnya. Adapun huruf miring digunakan pada hal-hal berikut ini.

I). Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

2), Cmbuugan kata -*- ttwalan /nkhiran ditulis dengan cara seperti berikut
ini.
Misalnya: Z>ertanggung jawab, wemamah biak, lipat gandakan, garis
bawah/. 3). Apabila salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: swadaya, dasawarsa, antarkota. 4) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai, Misalnya: we/7£garisbawah/, menyebar\uas/utn.
c. Kala Ulang
Bentuk kata ulang baik pada kata ulang murni, kata ulang semu, kata ulang
berubah bunyi, dan kata ulang berimbuhan, penulisannya menggunakan
tanda hubung di antara kedua kata tersebut, kccuali pada kata ulang
sebagian.
Misalnya: gedung-gedung, bangku-bangku, rumah-rumah.
d. Gabungan Kala
Penulisan penggabungan kata dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1). Gabungan kata yang biasa disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, bagian-bagiannya urnumnya ditulis terpisah.
Misalnya: orang tua, meja tulis, mata pelajaran.

2). Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkiri menimbulkan
salad baca, ciapat dibcri tanda hubung un’.nk mencgaskan pcrtalian di
antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya: anak-istri, buku sejarah-baru. 3). Gabungan kata yang sudah dianggap satu ditulis serangkai.
Misalnya: matahari, manakala, daripada, peribahasa.
e. Kata Ganti
Kata ganti ku, mu, kau, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang diikuti
maupun yang mengikuti.
Misalnya: bukufo/, bukuww, miliknya, kubawa.
f. Kata Depan (di, ke, dari)
Kata depan di, ke dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang digunakan sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: Pak Darto mengail di kolam.
g. Partikel
Penulisan partikel-partikel dalam bahasa Indonesia mengikuti ketentuan
berikut ini.
1). Partikel /ah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnyr;: Periji/c^, Nak!, Rngf imarutla// keadaannya?, Apa/n/7 artinya aku ini?

2). Partikel/7w« ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. iviisainya: jangankan geaung, guougpw/s axu tax punya.
3). Partikel per yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah dari
bagian-bagian ka’imat yang mendampinginya.
Misalnya: Silakan masuk satuper satu. h. Angka dan Lam bang Biiangan
Lambang biiangan dapat dinyatakan dengan angka, baik angka Arab (1,2,
3, dan seterusnya) maupun angka Romawi (I, II, III, dan seterusnya).
i). AngKa aigunaKan untuk menyatakan iambang biiangan atau nomor. Di
dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab: 0, 1,2, dan seterusnya.
Angka Romawi: I, II, III, dan seterusnya. 2). Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan
isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya: 0,5 sentimeter, 5 kilogram, 4 meter persegi, 10 liter, / jam 20
menit, Rp5.000,00, 27 orang. 3). Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah.
apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya: Jalan Tanah Abang /No. 15., Hotel Indonesia, Kamar 169. 4). Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab
suci.
Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252., Surah Yasin: 9.

Baca Artikel Lain

Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media Dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan (bab 1 );>>>> Baca

Belajar, Mengajar Dan Pembelajaran;>>>>> Baca

Pendekatan Inquiri Dalam Mengajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Profesi Keguruan;>>>>>>>>> Baca

About these ads

Satu Tanggapan

  1. beber tu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 297 pengikut lainnya.