Kelompok, Kelompok dan Kelompok

Kelompok, Kelompok dan Kelompok

Kelompok sosial bukan merupakan kelompok statis. Kelompok sosial selalu berubah, berkembang atau tumbuh karena pengaruh dari luar, yang mengakibatkan terjadinya proses formasi dan reformasi dari pola-pola di dalam kelompok tersebut. Berubahnya struktur kelompok dapat terjadi karena perubahan situasi, pergantian anggota kelompok dan perubahan yang terjadi dalam situasi sosial dan ekonomi. Di dalam setiap sistem sosial dapat diidentifikasi adanya 3 (tiga) subsistem, yaitu subsistem teknologi, subsistem struktur dan subsistem tata nilai. Kategori ketiga subsistem tersebut dilandasi oleh kategori perilaku manusia, yaitu kelompok perilaku yang berhubungan dengan upaya untuk mencapai tujuan bersama dan kelompok perilaku yang berhubungan dengan kriteria manfaat atau kegunaan segala objek atau subjek perilaku. Stogdill berkeyakinan bahwa prestasi kelompok dapat dicapai dengan bentuk-bentuk linear yang diajukan secara berurutan, yaitu masukan (input), penengah/media (throughput) dan hasil (output). Input, throughput dan output merupakan komponen-komponen kelompok dalam proses pertumbuhan atau perkembangan kelompok. Model Stogdill memperlihatkan hubungan antara komponen-komponen penting, yaitu individu sebagai anggota kelompok (individual group members), lingkungan tugas (task environment), proses integrasi (integrative processes), pencapaian dan pengembangan (achievement and development), dan perubahan dalam anggota kelompok (changes in group members). Dimensi penengah (throughput) adalah komponen proses integrasi. Dimensi hasil (output) terdiri dari komponen pencapaian dan pengembangan serta perubahan dalam anggota kelompok.

Dinamika Kelompok

Pengertian dinamika kelompok secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu dinamika kelompok sebagai cabang suatu ilmu dan dinamika kelompok dalam pengertian umum. Kurt Lewin sebagai perintis Ilmu Dinamika Kelompok menyatakan bahwa Ilmu Dinamika Kelompok mempelajari: (1) tenaga yang bekerja dalam kelompok, (2) penyebab adanya tenaga tersebut, (3) kondisi bagaimana yang dapat mengubah tenaga-tenaga tersebut, (4) apa akibatnya terhadap individu maupun kelompok.

Dinamika kelompok dapat juga diterangakan sebagai berikut:

1. merupakan bagian dari ilmu Psikologi Sosial yang mempelajari perilaku manusia dalam kelompok kecil;
2. suatu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang tenaga-tenaga yang bekerja dalam kelompok, penyebab adanya tenaga tersebut dan akibatnya terhadap individu maupun kelompok;
3. suatu hubungan psikologis yang berlangsung secara bersama anggota kelompok.

Menurut Margono Slamet, ada 8 (delapan) unsur-unsur dinamika kelompok, yaitu: (1) tujuan kelompok, (2) struktur kelompok, (3) fungsi tugas, (4) mengembangkan dan membina kelompok, (5) kekompakan kelompok, (6) suasana kelompok, (7) tekanan pada kelompok, dan (8) efektivitas kelompok. Sedangkan menurut Cartwright dan Zander, unsur-unsur dinamika kelompok adalah: (1) group goals, (2) group unity, (3) group structure, (4) task function of group, (5) group building and maintenance, (6) group atmosphere, (7) group pressure, dan (8) group effectiveness.

Dalam mempelajari dinamika kelompok terdapat beberapa pendekatan, yaitu:

1. pendekatan Bales dan Hormans;
2. pendekatan Stogdill;
3. pendekatan ahli psiko analisis oleh Sigmund Freud dan Scheidlinger;
4. pendekatan Yennings dan Moreno.

Dalam kaitannya dengan dinamika kelompok terdapat 4 (empat) tahapan pertumbuhan kelompok, yaitu: (1) tahap pembentukan rasa kekompakan; (2) tahap pancaroba; (3) tahap pembentukan norma, dan; (4) tahap berprestasi. Tahap pembentukan rasa kekompakan akan menghasilkan dua kondisi psikologis, yaitu saling mengenal secara pribadi di antara anggota kelompok dan menghilangkan kebekuan/kekakuan dalam interaksi antarindividu. Situasi tersebut akan menghasilkan kelompok yang kompak. Sedang tahap pancaroba setiap anggota diharapkan dapat menyatakan perasaannya dengan demikian semua anggota kelompok merasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Pada tahap pembentukan norma, diharapkan terbentuk norma kelompok yang disepakati bersama untuk dijadikan pedoman berperilaku kelompok sehingga terbentuk kelompok yang sinergis. Pada tahap berprestasi merupakan situasi yang kelompoknya dapat mencapai tingkat produktivitas yang tinggi.

Penerapan Dinamika Kelompok

Pada dasarnya latihan dinamika kelompok berupaya menggali sekelumit pengalaman hidup yang sesungguhnya, untuk diamati dalam “laboratorium” agar dapat dipelajari secara mendalam sehingga peserta mendapat pandangan dan kematangan kepribadian yang lebih tepat untuk bergerak dan bekerja dalam kelompok secara lebih efektif dan efisien. Dalam pengalaman tiruan yang dialaminya dalam “laboratorium” latihan dinamika kelompok seseorang akan menjadi lebih peka akan sebab akibat sikap dan tingkah laku manusia dengan segala liku-liku perasaan dan pikirannya. Penggabungan efisiensi ilmiah dengan pengalaman realitas dikenal dengan sebutan “Latihan Dinamika Kelompok”, yaitu suatu pendekatan laboratoris”. Dalam latihan ini sejumlah orang dikumpulkan dalam kelompok dan melakukan berbagai kegiatan bersama dalam kurun waktu tertentu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan proses berlatih melatih adalah (1) peserta latihan, (2) tujuan latihan, (3) waktu, (4) peran pembimbing dan, (5) peralatan. Latihan dinamika kelompok dalam proses berlatih melatih dilaksanakan dengan memperhatikan apa, siapa, bagaimana melaksanakannya dan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut. Agar pelaksanaan proses berlatih melatih dapat berjalan dengan lancar, perlu dibuat perencanaan yang mencakup tujuan bentuk permainan alat bantu yang diperlukan dan uraian singkat cara pelaksanaannya.

Permainan/latihan dinamika kelompok dikelompokkan menjadi 6 kelompok tujuan, yaitu:

1. Berkenalan dan membentuk kelompok.
2. Komunikasi.
3. Diskusi.
4. Kerja sama.
5. Kepemimpinan.
6. Mengembangkan masyarakat.

Pemimpin Kelompok

Menurut Katz ada 3 macam keahlian yang harus dimiliki oleh pemimpin kelompok, yaitu: (1) keahlian teknis (technical skill), (2) keahlian konseptual (conceptual skill), dan (3) human skill. Menurut Earl Nightingale dan Wheti Scrult seorang pemimpin harus memiliki 13 macam kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap positif terhadap sesuatu dan keterampilan yang tinggi di bidang yang dipimpinnya. Ordway Tead menyatakan bahwa seorang pemimpin harus memiliki 10 ciri-ciri atau sifat, yaitu: mempunyai kemampuan jasmaniah dan rohaniah, menguasai tujuan, dan mempunyai semangat untuk mencapai tujuan kelompok, antusiasme, ramah, kecakapan teknis dan mengajar dan berkomunikasi, setia dan yakin, cerdas dan pandai mengambil keputusan.

Pernyataan Ordway Tead tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh G.R. Terry, Keith Davis, John D. Millet dan Arifin Abdurachman. Sumber kekuasaan pemimpin ada 7 (tujuh) yaitu : (1) paksaan, (2) koneksi, (3) ganjaran, (4) legitimasi, (5) referensi, (6) informasi, (7) keahlian. Terdapat hubungan antartingkat kematangan pengikut dengan sumber kekuasaan yang digunakan oleh pemimpin. Peranan pemimpin menurut Syarief, dkk. (2002) adalah menggerakkan organisasi, melakukan komunikasi efektif secara internal dan eksternal, memberikan motivasi kerja, melakukan pengawasan, berusaha mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Malayu, peranan pemimpin ada 10 macam, yaitu: (1) mengambil keputusan, (2) mengembangkan imajinasi, (3) mengembangkan kesetiaan pengikutnya, (4) pemrakarsa, (5) melaksanakan keputusan, (6) memanfaatkan SDM dan SDA, (7) mempertanggungjawabkan semua kegiatannya, (8) kontrol, (9) memberi penghargaan, dan (10) mendelegasikan wewenang. Peranan pemimpin kelompok tani-nelayan adalah: (1) mengorganisir kelompok, (2) ketua kelas belajar, (3) pelopor pembangunan, (4) mitra kerja pemerintah.

Pemimpin adalah orang yang memiliki kemauan, kecakapan dan kelebihan, sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain/anggota kelompok untuk bekerja sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan kelompok. Sedang kepemimpinan adalah usaha untuk mempengaruhi orang lain/anggota kelompok, lewat proses komunikasi, untuk mencapai tujuan kelompok. Ada 5 sikap mental yang harus dipenuhi/dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pengikut/anggota kelompok yang efektif, yaitu (1) pandai menggunakan waktu, (2) memperhatikan hasil yang akan dicapai organisasi, (3) membangun kerja sama, (4) memperhatikan prioritas organisasi, dan (5) berorientasi pada sistem.

Ada beberapa teori atau pendekatan tentang kepemimpinan yaitu: (1) Trait Approach, (2) Teori Situasional, (3) Behavior Approach, (4) Model Antarpribadi. Secara mendasar terdapat 2 (dua) orientasi pokok dalam kepemimpinan, yaitu (1) orientasi pada tugas (OT) dan (2) orientasi pada hubungan (OH). Berdasarkan orientasi tersebut, maka berkembanglah gaya kepemimpinan 2 (dua) dimensi, yang menghasilkan upaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang: (1) tinggi orientasi tugas/ rendah orientasi hubungan, (2) tinggi orientasi tugas/tinggi orientasi hubungan, (3) rendah orientasi tugas/tinggi orientasi hubungan, (4) rendah orientasi tugas/rendah orientasi hubungan.

Blake dan Muoton mengembangkan gaya kepemimpinan dua dimensi sebagai jaring manajerial (Managerial Grid) yang menghasilkan 5 (lima) gaya kepemimpinan yaitu (1) Gaya Klub (Country Club), (2) Gaya Tandus (Impoverished), (3) Gaya Tugas (Task), (4) Gaya Tim (Team), (5) Gaya Jalan Tengah (Middle of The Road). Gaya kepemimpinan tiga dimensi merupakan pengembangan gaya kepemimpinan dua dimensi oleh W.J. Reddin, yaitu dengan menambahkan satu unsur yaitu situasi pengikut. Dari gaya kepemimpinan tiga dimensi ini dihasilkan 8 (delapan) gaya kepemimpinan, yaitu (1) kompromis, (2) otokrat, (3) deserter, (4) misionari, (5) eksekutif, (6)pengembang, (7) otokrat lunak (Benevolent Autocrat), dan (8) Birokrat.

Gaya kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model gaya kepemimpinan tiga dimensi, menghasilkan 4 (empat) gaya kepemimpinan, yaitu: (1) gaya menginstruksikan, (2) gaya menawarkan, (3) gaya mengikutsertakan, (4) gaya mendelegasikan. Secara umum ada tiga tipe kepemimpinan, yaitu (1) Tipe Otoriter, (2) Tipe Laissez Faire, dan (3) Tipe Demokratis. Bila didasarkan pada cara mengambil keputusan pemeliharaan hubungan atasan-bawahan, pandangan tentang tingkat kedewasaan bawahan, orientasi pemenuhan kebutuhan bawahan, maka terdapat 5 (lima) tipe pemimpin, yaitu (1) Otokratik, (2) Paternalistik, (3) Kharismatik, (4) Laissez Faire dan (5) Demokratik

Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka. Goldberg dan Larson menyatakan bahwa komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian, dan terapan, yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil. Komunikasi kelompok mulai sering muncul dengan istilah alternatif dari “diskusi”. Komunikasi kelompok hanya memusatkan perhatiannya pada proses komunikasi pada kelompok kecil, sedang dinamika kelompok memusatkan perhatiannya pada tingkah laku kelompok. Komunikasi kelompok maupun diskusi kelompok sama-sama memusatkan perhatiannya pada tingkah laku para anggota kelompok dalam berdiskusi. Akan tetapi komunikasi kelompok memandang proses diskusi kelompok kecil dari sudut pandang yang lebih “ilmiah”, artinya lebih sebagai bidang ilmu penyelidikan dan agak kurang sebagai bidang pengembangan keterampilan dan penyempurnaan kelompok. Komunikasi kelompok lebih tertarik pada deskripsi dan analisis proses diskusi daripada merumuskan bermacam-macam persyaratan untuk meningkatkan efektivitas suatu diskusi kelompok.

Persamaan antara komunikasi kelompok dengan komunikasi antarpribadi adalah bahwa keduanya melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan-pesan baik secara verbal maupun nonverbal. Sedang hal yang membedakan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi kelompok adalah kadar spontanitas, strukturalisasi, kesadaran akan sasaran kelompok, ukuran kelompok, relativitas sifat permanen kelompok, serta identitas diri. Komunikasi kelompok bersifat langsung dan tatap muka, sedang komunikasi organisasional tidak perlu langsung. Komunikasi kelompok lebih spontan, kurang berstruktur dan kurang berorientasi pada tujuan. Sebaliknya komunikasi organisasional lebih cenderung terjadi pada tatanan yang permanen, lebih mencerminkan adanya identitas. Komunikasi kelompok merupakan suatu disiplin ilmu karena telah memenuhi syarat-syarat : (1) adanya ruang lingkup atau lapangan studi, (2) landasan teori-teori, (3) adanya metodologi riset, (4) kritik, dan (5) penerapan.

Diskusi Kelompok

Diskusi kelompok merupakan kegiatan pemecahan masalah yang melibatkan dua orang atau lebih, yang berkomunikasi secara lisan, tatap muka, dan di bawah pengarahan seorang pemimpin. Diskusi kelompok dapat memenuhi beberapa fungsi di dalam proses perubahan sikap, yaitu (1) menciptakan kesadaran terhadap masalah dan perasaan, (2) perumusan konkret atas masalah, (3) perubahan dalam norma, dan (4) pembentukan pendapat. Diskusi kelompok juga dapat memenuhi fungsi-fungsi dalam perubahan perilaku, yaitu (1) pengambilan keputusan individual, (2) pengambilan keputusan secara kolektif, dan (3) penentuan pilihan.

Bentuk atau tipe diskusi antara lain : (1) Panel, (2) Simposium, (3) Forum, (4), Seminar, (5) Komite, (6) Konferensi, (7) Diskusi Kasus, (8) Kelompok Pembahas, (9) Dialog, dan (10) Meja Bundar. Terdapat 4 (empat) kategori tema dalam proses diskusi, yaitu: (1) tema substantif, (2) tema prosedural, (3) tema yang tidak relevan, dan (4) gangguan-gangguan. Menurut Fisher terdapat pola yang relatif konsisten dalam proses diskusi, yaitu terdapat empat fase yang dilalui dalam diskusi kelompok, yaitu : (1) fase orientasi, (2) fase konflik, (3) fase timbulnya sikap baru, dan (4) fase dukungan. Terdapat 3 (tiga) peranan fungsional anggota kelompok dalam proses diskusi kelompok atau komunikasi kelompok, yaitu (1) peranan tugas kelompok (group task roles), (2) peranan pembentukan dan pemeliharaan kelompok (group building dan maintenance roles), (3) peranan perorangan (individual roles). Agar diskusi kelompok dapat berlangsung secara efektif dan efisien, maka seorang pemimpin diskusi kelompok harus menguasai teknik kepemimpinan diskusi kelompok yang meliputi cara memulai suatu diskusi, menjaga kelangsungan diskusi, memastikan bahwa hanya hal-hal yang penting saja yang dibahas dan bahwa konflik digunakan secara konstruktif, serta menutup diskus

Konflik dalam Kelompok

Menurut Munir (2001), konflik merupakan suatu proses yang terjadi apabila perilaku seseorang terhambat oleh perilaku orang lain atau kejadian yang berada di luar wilayah kendalinya. Konflik dapat terjadi di antara 2 orang atau lebih dalam sebuah organisasi formal maupun informal. Konflik dapat juga terjadi di dalam diri sesorang yaitu bila terdapat dua atau lebih kepentingan yang harus dipenuhi dalam waktu atau kesempatan yang bersamaan atau di antara dua atau lebih keputusan yang sama pentingnya yang harus diambil. Ada 2 macam konflik di dalam organisasi yang tidak dapat dihindari, yaitu konfik-konflik substantif dan konflik-konflik emosional. Konflik juga memiliki sisi konstruktif maupun sisi destruktif. Konflik konstruktif akan menyebabkan timbulnya keuntungan-keuntungan, baik bagi individu-individu atau organisasi yang terlibat di dalamnya. Menurut Winardi ada 4 situasi konflik tipikal yaitu (1) konflik dalam individu sendiri, (2) konflik antarpribadi, (3) konflik antarkelompok, dan (4) konflik antarorganisasi. Menurut Thomas dan Kilmas, ada 3 bentuk konflik yang terjadi antarindividu yaitu: (1) konflik informasional, (2) konflik persepsional, dan (3) konflik peran. Menurut Baker dan Kelly, ada 3 bentuk konflik dan ada perbedaan sudut pandang yaitu: (1) konflik perilaku spesifik, (2) konflik norma dan peran, dan (3) konflik disposisi/pribadi. Menurut Benfari, ada 3 bentuk konflik yang lain, yaitu: (1) konflik tujuan, (2) knflik prosedural, dan (3) konflik struktural.

Kepaduan atau ikatan kelompok dapat dilihat dari daya tarik suatu kelompok terhadap para anggotanya. Derajat ketertarikan anggota kelompok antara yang satu dengan yang lain dalam hubungan internasional, disebut dengan kepanduan kelompok (group cohesiveness). Ada 3 pengertian yang berkaitan dengan istilah cohesiveness yaitu: (1) daya tarik kelompok, (2) moral atau tingkat motivasi dari masing-masing anggota kelompok dan, (3) koordinasi pada usaha-usaha anggota kelompok. Yusuf (1989) menyatakan bahwa group pressure berbeda dengan pressure group. Pressure group mengacu pada desakan yang berasal dari luar kelompok, yaitu kelompok tandingan. Dapat pula desakan dari luar anggota kelompok. Sedangkan group pressure merupakan desakan atau tekanan yang berasal dari dalam kelompok itu sendiri.

Motivasi dapat didefinisikan sebagai proses yang terjadi di dalam diri, yang menciptakan tujuan dan memberikan energi bagi perilaku seseorang. (Kimble dalam Munir, 2001). Motif dirasakan sebagai keamanan, kebutuhan, dan keinginan sehingga, motivasi berhubungan erat dengan perilaku yang diarahkan kepada upaya untuk memenuhi apa yang mendasari keamanan, kebutuhan, dan keinginan tersebut. Arah bagi upaya untuk pemenuhan terhadap apa yang dimaui, dibutuhkan, dan diinginkan inilah yang menjadi tujuan seseorang. Munir (2001) menyatakan bahwa secara garis besar teori motivasi dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu (1) Teori Kepuasan, yang dikemukakan oleh Maslow, Herzberg dan Mc Clelland, dan (2) Teori Proses yang dikemukakan oleh Vroom. Thomas dan Kilmas dalam Munir (2001), mengemukakan dua dimensi perilaku individu dalam menanggapi situasi konflik, yaitu: (1) dimensi asertif, merupakan dimensi yang terkait dengan upaya individu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri, (2) dimensi kooperatif, merupakan dimensi yang terkait dengan upaya individu untuk memenuhi keinginan atau kepentingan orang lain dalam rangka penyesuaian diri terhadap tuntutan sosial.

Sumber buku Dinamika Kelompok karya  Soedarsono Thomas

Argumentasi Ilmiah>>>Baca

Peranan Filsafat ilmu >>>>Baca

Entomologi Sebagai Ilmu Pengetahuan >>> Baca

Perkembangan Alam Pikiran Manusia >>>>>>>>>>>Baca

About these ads

3 Tanggapan

  1. Terima kasih pak artikelnya sangat membantu wawasan saya

  2. Trim’s ya buat artikelnya tapi kalo bisa penjelasan2nya disertai contoh2 supaya mudah dimengerti,.

  3. Tulisan bapak berguna sekali untuk melengkapi modul ujian psikologi komunikasi saya. terima kasih pak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 305 pengikut lainnya.