Kebijakan Mutasi Bagi Pegawai

Kebijakan Mutasi Bagi Pegawai

Pada dasarnya mutasi merupakan fungsi pengembangan pegawai, karena tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja dalam organisasi yang bersangkutan. Umumnya mutasi merupakan tindak lanjut dari penilaian prestasi kerja para pegawai. Dari penilaian prestasi kerja akan diketahui kecakapan seorang pegawai dalam menyelesaikan uraian pekerjaan (job description) yang dibebankan kepadanya.

Tidak kurang kritik pedas yang dilontarkan kepada Bagian Kepegawaian menyangkut masalah mutasi, seperti ketidakadilan ataupun keterbukaan pihak pengambil keputusan dalam proses ini. Apakah memang demikian halnya, ataukah pihak pegawai yang memang enggan berubah karena sudah merasa ‘nyaman’ dengan kondisi sekarang dan ingin mempertahankan ‘kekuasaan’ atau ‘keahlian’ yang dimilikinya dan tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dengan pengalaman baru.

Layaknya setiap pengambil keputusan dalam suatu organisasi setiap Surat Keputusan mengenai mutasi ini diluncurkan, pasti telah melalui proses yang tidak bisa dibilang singkat. Mulai dari pembentukan pola mutasi, pemilihan calon-calon yang tepat untuk menduduki suatu jabatan, penentuan atau seleksi dari para calon terpilih tersebut, pertimbangan rekomendasi bagi calon yang bersangkutan dan masih banyak kegiatan lain yang tentunya telah banyak menyita waktu, pikiran, dan tenaga dari para konseptor, pengambil keputusan, maupun pihak-pihak yang terkait dengan mutasi ini.

Kepentingan Mutasi
Kalau kita kembali kepada tujuan utama mutasi yaitu tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja, maka tujuan lain dari mutasi dapat kita lihat dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu dari sudut pandang kepentingan pegawai dan juga organisasi sebagai berikut:

Bagi Kepentingan Pegawaia. memperluas atau pengembangan pegawai (program pelatihan jabatan)
b. menghilangkan kejenuhan terhadap pekerjaan
c. memberikan kejenuhan terhadap pekerjaan
d. penyesuaian pekerjaan dengan kondisi fisik pegawai
e. mengatasi perselisihan antara sesame pegawai (kondisional)

Bagi Kepentingan Organisasia. menciptakan keseimbangan antara sumber daya manusia dengan komposisi pekerjaan atau jabatan
b. meningkatkan produktivitas kerja
c. memberikan pengakuan dan imbalan terhadap prestasi seseorang
d. alat pendorong agar semangat kerja meningkat melalui persaingan terbuka

Macam-macam Mutasi

Paul Pigors dan Charles Mayers mengemukakan 5 macam mutasi dilihat dari segi tujuannya yaitu:a. Production Transfer
Adalah pengalihtugasan seorang pegawai dari satu bagian ke bagian lain secara horizontal, dimana disatu bagian tersebut keperluan akan pekerjaan bertambah, atau ke bagian lain dimana terdapat lowongan pekerjaan karena ada pegawai yang berhenti atau pensiun.
b. Replacement Transfer
Adalah pengalihtugasan seorang pegawai yang sudah lama dinasnya ke jabatan lain secara horizontal untuk menggantikan pegawai lain yang masa dinasnya lebih sedikit atau diberhentikan.
c. Remedial Transfer
Adalah penglihtugasan seorang pegawai ke jabatan atau pekerjaan lain baik pekerjaannya sama atau tidak atas permintaan pegawai yang bersangkutan.
d. Shift Transfer
Adalah pengalihtugasan seorang pegawai yang sifatnya horizontal dari satu regu ke regu lain sedangkan pekerjaan tetap sama namun jam kerja berbeda. Umumnya pembagian jam kerja terbagi dalam 3 shift. Yaitu shift satu, shift dua, dan shift tiga.
e. Versality Transfer
Adalah pengalihtugasan seorang pegawai ke jabatan/pekerjaan lainnya secara horizontal agar pegawai yang bersangkutan dapat melakukan pekerjaan atau ahli dalam berbagai bidang pekerjaan.

Dasar Mutasi
Ada beberapa dasar pelaksanaan mutasi pegawai yaitu:a. Seniority System adalah mutasi yang didasarkan atas landasan masa kerja, usia, dan pengalaman kerja dari pegawai yang bersangkutan.
b. Spoil System adalah mutasi yang didasarkan atas landasan kekeluargaan.
c. Merit System adalah mutasi pegawai yang didasarkan atas landasan yang bersifat ilmiah, objektif dan hasil prestasi kerja seperti: output dan produktivitas kerja, jumlah kesalahan yang dibuat serta absensi dan disiplin pegawai yang baik.

Kendala Pelaksanaan Mutasi
Keith Davis dan John W. Newstrom mengemukakan ada tiga jenis penolakan pegawai terhadap mutasi pegawai, yaitu:
1. Faktor Logis atau Rasional
Penolakan ini dilakukan dengan pertimbangan waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan diri, upaya ekstra untuk belajar kembali, kemungkinan timbulnya situasi yang kurang diinginkan seperti penurunan tingkat ketrampilan, serta kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan.
2. Faktor Psikologis
Penolakan berdasarkan faktor psikologis ini merupakan penolakan yang dilakukan berdasarkan emosi, sentimen, dan sikap. Seperti kekhawatiran akan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya, rendahnya toleransi terhadap perubahan, tidak menyukai pimpinan atau agen perubahan yang lain, rendahnya kepercayaan terhadap pihak lain, kebutuhan akan rasa aman.
3. Faktor Sosiologis (kepentingan kelompok)
Penolakan terjadi karena beberapa alasan antara lain konspirasi yang bersifat politis, bertentangan dengan nilai kelompok, kepentingan pribadi, dan keinginan mempertahankan hubungan (relationship) yang terjalin sekarang.
Sumber buku Administrasi Kepegawaian Karya Dra. Harmanti, M.Si.

About these ads

6 Tanggapan

  1. replecment pegawai yang bagaimana yang harus dilakukan terhadap adanya restrukturisasi organisasi yang berdampak pada pengurang jabatan yang sangat potensial secara kuantitatif.

  2. wah sekarang mutasi itu adalah lahannya pejabat /pimpinan bagaimana tidak sekali isu yang menyangkut mutasi maka pejabat negeri ini kepanasan dan mulai puyeng dan intinya adalah setoran dan upeti lagi kepada sipemegang keputusan malahan di kabupaten kami (di RIAU} khabarnya ni sot disusun sekali setahun istilah masa orientasilah …pokoknya apabila bupati dah bilang ada penyusunan SOT baru maka pejabat pemda kami kelimpungan lagi ini semacam pengganti ilegal loging lah he.he.he..bagaimana ni Pak mohon jawabannya?

  3. mutasi emang perlu, tapi kalo ujungujungnya hanya untuk kepentintan kepala daerah atau pihak tertentu saja, kan percuma…
    para pegawai dan pejabat yang tidak sejalan dan punya pola pikir berbeda malah ditendang keluar dengan alasan mutasi untuk efisiensi kinerja pemerintah. kan lucu….
    muatsi bukan lagi jadi cara mencapai efektifitas, tapi jadi MOMOK menakutkan bagi pegawai dan pejabat…
    apakahkepala daerah memang punya keleluasaan dalam hal mutasi tanpa ada pembatasan???? bls

  4. kok spoil system n merit system hanya berlalu saja, seharusnya ada penjelasan yang lebih detail untuk menambah khazanah keilmuan dan share pengalaman. matur nuwun

  5. Mutasi dapat membentuk inovasi dari kinerja seseorang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 297 pengikut lainnya.