BAB II KESALAHAN EJAAN PADA KARANGAN SISWA KELAS IX

BAB II KESALAHAN EJAAN PADA KARANGAN SISWA KELAS IX

BAB II LANDASAN TEORI
A. Kesalahan
Orang sering menyebutkan kesalahan atau salah, tetapi apakan mereka mengerti dan paham apa itu salah/kesalahan. Berikut ini akan dijabarkan pengertian kesalahan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:770) kesalahan adalah kekeliruan atau kealpaan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diuraikan bahwa kesalahan pada dasarnya merupakan hal yang biasa terjadi. Akan tetapi kekeliruan ataupun kealpaan itu dapat disengaja serta tidak adanya pengetahuan yang memadai. Akan tetapi, kalau dicermati dalam proses pembelajaran terutama yang dialakukan oleh siswa bahwa hal ini karena faktor kesengajaan yang bersumber dari diri siswa itu sendiri. Siswa kurang hati-hati menggunakan ejaan ketika mengarang. Hal ini biasa terjadi pada siswa.
Memang sebagai kesalahan atau hal-hal yang berkaitan dengan salah tidak selamanya disengaja, namun bila dalam proses pembelajaran yang terjadi di kelas, siswa tidak dapat mengerjakan soal dan mendapat nilai kurang baik. Dengan demikian, kesalahan adalah hal-hal yang secara sengaja atau tidak sengaja yang membuat sesuatu itu menjadi tidak benar.
B. Menulis
Menurut KBBI (1990:968) menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (mengarang/surat) dengan tulisan. Sedangkan menurut Tarigan (2000:21) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Sementara itu Tarigan mengatakan bahwa, menulis adalah suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya menulis merupakan suatu kegiatan mencurahkan rasa, perasaan, dan pikiran dalam bentuk tulisan. Kegiatan itu juga melambangkan berbagai keinginan serta gambaran yang disalurkan ataupun diwujudkan dalam bahasa, sehingga orang lain dapat memahaminya. Menulis juga tidak terlepas dari kegiatan membaca, semakin banyak membaca, akan banyak pengetahuan yang akan dicurahkan dalam tulisannya.
C. Ejaan
Menurut KBBI (1990:219) ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf)serta penggunaan tanda-tanda baca. Sedangkan menurut Badudu (1981:31) ejaan adalah perlambangan fonem dengan huruf. Menurut Arifin (2002: 170) ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu, pemisahan dan
10
penggabungannya dalam suatu bahasa. Sementara itu menurut Kusno (1986: 61) ejaan adalah aliran menuliskan bunyi ucapan dalam bahasa dengan tanda-tanda atau lambang-lambang.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat diuraikan bahwa pada hakikatnya ejaan itu berkaitan dengan lafal, pengucapan lambang-lambang dan penggunaan tanda baca. Ejaan tidak terlepas dari kaidah maupun peraturan yang menuntut serta mengharuskan penetapan ejaan yang baik dan layak untuk masyarakat. Memang tidak mudah untuk menguasai ejaan itu, tetapi sepatutnya masyarakat bangsa ini mau belajar dengan giat, supaya mampu menguasai ejaan itu dengan baik dan benar.
Ejaan dalam bahasa Indonesia saat ini dikenal dengan ejaan yang disempurnakan (EYD), sebagai bangsa Indonesia hams mengerti dan mampu menguasainya, agar tidak menemukan kesulitan dikemudian hari. Ejaan bahasa Indonesia terdapat berbagai macam ejaan yang mengatur setiap kata maupun kalimat. Aturan tersebut mulai dari mulai tanda titik, tanda koma, huruf kapital, huruf miring, titik dua, tanda titik koma, dan kebakuan kalimat (termasuk kata) semua ada peraturannya serta kaidah-kaidahnya yang tertuang dalam ejaan itu, sehingga tidak sembarangan menggunakannya.
Memang ejaan tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa dalam masyarakat. Ejaan juga perlu dibuat ketentuan dan peraturan yang baku, sehingga dapat dibuat pegangan serta panduan bagi masyarakat.

D. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan putusan presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntutan itu perlu dilengkapi, panitia pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No.0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Pembentuk Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut. a. Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi Ejaan Yang Disempurnakan
/dj/ djalan, djauh /j/ jalan, jauh
/j/ pajung, laju /y/ payung, layu
12
/nj/ njonja, bunji /ny/ nyonya, bunyi
/sj/ isjarahat, masjarakat /sy/ isyarat, masyarakat
/tj/ tjukup, tjutji Id cukup, cuci
/ch/ tarich, achir /kh/ tarikh, akhir
b. Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam ejaan
Soewandi sebagai unsur pinjaman abjadasing, diresmikan pemakaiannya.
/f/ maaf, fakir
/v/ valuta, universitas
/z/ zeni, lezat
c. Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap
dipakai. a : b = p : q sinar x
d. Penulisan di- atau ke sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan
dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata
yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis
terpisah dengan yang mengikutinya.
Contoh :
di- (awalan) di (kata depan)
ditulis di kampus
dibakar di rumah
dilempar dijalan
dipikirkan ke kampus

kekasih ke luar negeri
kehendak ke atas
e. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2. Contoh : anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat.
Adapun hal-hal yang lain yang diatur dalam EYD adalah sebagai berikut. 1. Huruf dan Namanya
a. Huruf Kapital
Huruf besar atau huruf kapital digunakan:
1) sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat;
Contoh: Ini buku tata bahasa.
Kamu harus giat belajar!
2) sebagai huruf pertama kata yang berkenan dengan agama, kitab
suci, dan nama Tuhan termasuk kata gantinya;
Contoh: Islam Hindu Allah Injil Mohon ampun kepada-Nya
3) sebagai huruf pertama kata pada petikan langsung;
Contoh: Kata ayah, ” Saya akan datang.”
Ibu bertanya, ” Siapa nama anak itu.”
14
4) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan gelar kehormatan,
gelar keagamaan, gelar keturunan, yang diikuti dengan nama
orang;
Contoh: Maha Putra Mohamad Yamin Nabi Isa Sultan Hamengkobuwono IX
5) sebagai huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama
orang;
Contoh: Gubernur Suprapto
Profesor Doktor Hadi
Jenderal L.B. Murdani
6) sebagai huruf pertama unsur- unsur nama orang;
Contoh: Hannoko
Ismail Marzuki
Wage Rudolf Supratman
7) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan nama bangsa, nama
suku, atau nama bahasa; Contoh: bangsa Indonesia
orang Bali
bahasa Arab
8) sebagai huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama
hari raya, dan nama peristiwa sejarah;
Contoh: bulan April
tahun Masehi
hari Rabu
Proklamasi Kemerdekaan
9) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan nama dalam geografis;
Contoh: Jakarta
Gunung Semeru Danau Toba Terusan Suez
10) sebagai huruf pertama kata yangt menyatakan nama lembaga atau
badan pemerintahan, ketatanegaraan, dan nama dokemen resmi,
termasuk juga singkatannya;
Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Universitas Gajah Mada (UGM) Undang- Undang Dasar 1945 (UUD 1945)
11) sebagai huruf pertama kata-kata yang menjadi nama buku, nama
majalah, nama surat kabar, dan nama judul karangan, kecuali
partikel (seperti di, ke, dan, dari) yang tidak terletak pada posisi
awal;
Contoh: Buku Jalan tak Ada Ujung karangan Muchtar Lubis Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karangan Idrus Majalah Tempo
16
12) sebagai huruf pertama istilah kekerabatan (seperti bapak, ibu, adik, dan saudara) yang dipakai kata ganti atau kata sapaan; Contoh: Tanya ibu kepada ayah, “Kapan Bapak akan
berangkat?” Katanya kepada anak itu, “Silakan duduk Nak!”
13) dalam singkatan kata yang menyatakan unsur nama gelar, nama
pangkat, dan istilah sapaan;
Contoh: Ir insinyur
S.H. sarjana hukum
Kol. Kolonel
Sdr saudara
14) huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda;
Contoh: Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
b. Penggunaan Huruf Miring
Huruf miring digunakan dalam cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan yang akan dicetak miring, diberi garis bawah. Huruf miring digunakan untuk:
1) menuliskan nama buku, nama majalah, nama surat kabar, yang dikutip dalam karangan; Contoh: Buku Kaidah Bahasa Indonesia karangan Slamet
Mulyana. Majalah Ayah Bunda terbitan bulan Agustus 1985.
17
2) menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok
kata;
Contoh: Ny. Indira Gandhi bukan terbunuh melainkan d/bunuh. Karangan ini tidak membicarakan masalah ejaan.
3) menuliskan istilah ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali yang sudah
disesuaikan ejaannya; Contoh: Buah manggis (Garcinia Mangostaan) banyak
terdapat di tempat itu.
Dulu Belanda selalu menjalankan politik devide et impera.
c. Penggunaan Huruf Tebal
Huruf tebal digunakan dalam cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan yang akan dicetak tebal, diberi garis bawah ganda.
Huruf tebal ini berfungsi untuk menandai kata-kata yang akan dianggap penting, perlu mendapat perhatian, seperti kata kepala (entri) di dalam kamus dan ensiklopedia, subjudul di dalam karangan.
2. Penulisan Kata
Secara ortografis ada empat macam kata yang harus diperhatikan penulisannya, yaitu kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung atau gabungan kata.
a. Penulisan Kata Dasar
Kata dasar, yaitu kata yang belum diberi imbuhan atau belum mengalami proses morfologi lainnya, ditulis sebagai satu kesatuan, terlepas dari kesatuan yang lainnya.
Contoh: Kita semua anak Indonesia Pohon kelapa itu tumbang
b. Penulisan kata berimbuhan
Kata berimbuhan, yaitu kata yang dibentuk dari kata dasar atau bentuk dasar dengan imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulis dengan atauran sebagai berikut:
1) imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya sebagai satu kesatuan; Contoh: membangun
pembangunan
gemetar
2) kalau bentuk dasarnya adalah gabungan kata, maka awalan atau
akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya
atau mendahuluinya;
Contoh: bertanggung jawab lipat gandakan menganak sungai

c. Penulisan Kata Gabungan
Kata gabung atau gabungan kata adalah bentuk yang terdiri dari dua buah kata atau lebih. Aturan penulisannya adalah sebagai berikut:
1) kata-kata yang membentuk gabungan kata ditulis terpisah satu dengan
lainnya;
Contoh: kantor pos luar negeri
2) gabungan kata yang sudah dianggap sebagai sebuah kata ditulis
serangkai menjadi satu;
Contoh: matahari
hulubalang barangkali
3) kalau sebuah gabungan kata sekaligus diberi awalan dan akhiran maka
harus ditulis serangkai sebagai sebuah kata; Contoh melipatgandakan ketidakadilan dimejahijaukan
4) kalau salah satu unsur dari gabungan kata itu (biasanya unsur
pertama), tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata, maka
gabungan kata itu ditulis serangkai sebagai sebuah kata;
Contoh: antarkota mahasiswa prakata
20
5) untuk menghindarkan salah baca dan salah pengertian, maka diantara
unsur-unsur gabungan kata itu boleh diberi garis penghubung;
Contoh: buku sejarah-baru
dengan arti, ‘yang baru adalah sejarahnya’ buku-sejarah baru dengan arti, ‘yang baru adalah bukunya’
d. Penulisan Kata Ulang
Kata ulang adalah sebuah bentuk sebagaimana hasil dari mengulang
sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar
Contoh: jaian-jalan
berlari-lari Kemerah-merahan
Aturan penulisan kata ulang ini berlaku juga pada bentuk-bentuk seperti: sia-sia laba-laba kupu-kupu
e. Penulisan Kata Ganti Klitika
Kata ganti klitika adalah kata ganti yang disingkat seperti ku, kau, mu, dan nya. Kata ganti bentuk klitika ini ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya.

Contoh: Rumah itu sudah kubeli.
Di mana kausimpan buku itu?
Ini bukuku, itu bukumu, lalu mana bukunyal
f. Penulisan Kata Depan
Kata depan adalah kata-kata yang biasanya menjadi penghubung antara predikat dengan objek atau keterangan; dan lazimnya berada didepansebuah kata benda. Misalnya kata-kata di, ke, dari, pada, kepada, dengan, oleh, dalam, dan sebagainya. Kata depan ditulis dengan atauran sebagai berikut:
1) kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya;
Contoh: Kami bermain di lapangan.
Ibu baru pulang dari desa.
2) kata depan kepada dan daripada ditulis serangkai karena dianggap
sebagai sebuah kata;
Contoh: Dia minta tolong kepada polisi.
Daripada terlambat lebih baik saya tidak datang.
3) kata depan ke bersama kata yang mengikutinya apabila secara
sintaktis berlaku sebagai kata kerja, atau sekaligus mendapat awalan
dan akhiran ditulis serangkai;
Contoh: Saya keluar sebelum acara selesai.
Masalah itu telah beberapa kali dikemukakan beliau.

g. Penulisan Kata Sandang
Kata sandang si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh: Kembali kepada si pengirim.
Sang saka berkibar di mana-mana.
h. Penulisan Partikel
1) partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya;
Contoh: Berangkatlahsekarangjuga!
Siapakah yang kau cari? Apatah gerangan yang kau cari?
2) partikel pun yang berarti ‘ juga’ ditulis terpisah dari kata yang
mendahuluinya;
Contoh: Berapa pun harganya bayar saja.
Dibayar pun aku tidak mau.
3) pada kata penghubung, seperti biarpun, meskipun, sunggupun, dan
sekalipun, pun ditulis serangkai karena dianggap sebagai bagian dari
sebuah kata;
Contoh: Biarpun dilarang, dia pergi juga.
Dia berangkat juga meskipun sedang sakit.
4) partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan’tiap’ ditulis terpisah dari
kata yang mengikutinya;
Contoh: Harga langganan naik per 1 April 1999
Kami disilahkan masuk satu per satu.

i. Penulisan Singkatan dan Akronim
1) Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
(a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat
diikuti dengan tanda titik.
Contoh: A. S. Kramawijaya Muh. Yamin
M. B. A. master of business administration
S.Pd. sarjana pendidikan
Kol. kolonel
(b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan,
badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri
atashuruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti
dengan tanmda titik.
Contoh: DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
(c) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu
tanda titik.
Contoh: dll. dan Iain-lain
sda. sama dengan di atas
(d) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh: Cu kuprum

cm centimeter
kg kilogram
2) Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
(a) akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh: TNI Tentara Nasional Indonesia
SIM Surat Izin Mengemudi
(b) akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
capital.
Contoh: Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Kowani Kongres Wanita Indonesia
(c) akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: pemilu pemilihan umum
tilang bukti pelanggaran

3. Penulisan Angka
Dalam ejaan bahasa Indonesia ada digunakan dua macam angka, yaitu angka Arab dan angka Romawi. Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X
L = 50,C=100,D = 500
M=1000
a. Angka Arab
Angka arab digunakan untuk menyatakan bilangan, nomor, atau jumlah. Aturan penulisannya adalah :
1) untuk menyatakan bilanagan, nomor, atau jumlah satu sampai dengan
seribu ditulis tanpa titik pemisah satuan.
Contoh : Jalan Rawamangun Muka nomor 9.
Uangnya ada Rp 525,00.
2) lambang bilangan yang dapat dinyatakandengan sebuah atau dua buah
kata ditulis dengan huruf, kecuali bila digunakan secara beruntun
seperti dalam pemerincian.
Contoh : Ibu membeli tiga ekor ayam.
Paman mempunyai dua belas ekor kambing.
3) pada awal kalimat lambang bilangan harus ditulis dengan huruf. Jika
lambang bilangan itu tidak dapat dinyatakan dengan sebuah atau duabuah kata, maka susunankalimat itu harus diubah sehingga lambang bilangan tidak terdapat pada awal kalimat.
b.Angka Romawi
Angka Romawi digunakan secara terbatas karena bentuknya tidak
praktis untuk menuliskan jumlah atau bilangan yang besar. Angka ini selain
dapat digunakan untuk menyatakan bilangan biasa, dapat juga digunakan
untuk menyatakan bilangan tingkat.
Contoh : Abad XX
Juara 11
4. Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam bahasa tulis agar kalimat-kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis seperti yang kita maksudkan. Tanda baca yang lazim digunakan adalah :
Lambang
Nama
titik
titik dua titik koma
koma
tanda hubung
tanda pisah
tanda elipsis
tanda tanya
tanda seru
tanda kurang
tanda kurung tutup
tanda kurung suku
tanda petik (kutip )
28
tanda petik tunggal
tanda garis miring
tanda penyingkat
tanda ulang
a. Penggunaan Titik
Tanda baca titik (.) digunaikan:
1) pada akhir kalimat yang bukan kalimat seru atau kalimat tanaya.
Contoh: Nyonya Indira telah tiada.
Nomor teieponnya 081350772047.
2) pada akhir singkatan nama orang.
Contoh: R.A. Kartini
Muh. Yamin
3) pada akhir singkatan kata yang menyatakan gelar, jabatan, pangkat,
atau sapaan.
Contoh: Prof. Profesor
Kol.
Kolonel
4) pada singkatan kata atau singkatan ungkapanyang sudah lazim. Pada singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih hanya digunakan satu titik. Contoh: a.n. = atas nama
yth. = yang terhormat
5) di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar
Contoh: 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah dan ruang lingkup

1.2.1 Masalah
1.2.2 Ruang lingkup
6) untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan
waktu.
Contoh: 1.30.15 ( pukul 1 lewat 30 menit 15 detik ) 7) untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan j angka waktu.
Contoh: 1.30.15(1 jam, 30 menit, 15 detik )
8) untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menyatakan jumlah. Contoh: Hadiah pertama Rp 150.000.000,00
b. Penggunan Titik Dua
Titik dua ( :) digunakan:
1) pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti oleh suatu pemerian.
Contoh: Yang dibeli ibu di pasar ialah : beras, gula, kopi, garam, Dan kecap.
2) sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemeriaan.
Contoh : a. Ketua: Hadi
Sekretaris: Rani Bendahara: Eliza
3) dalam Teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam
percakapan.
Contoh : Ibu : Bawa koper ini, Ir! Ira: Baik, Bu.
4) di antara jilid atau nomor halaman.
Contoh : Tempo, 1/1997/, 35:17
5) di antara bab dan ayat dalam kitab suci.
Contoh : Surah Yassin : 9
6) di antara judul dan anak judul suatu karangan, dan di antara nama
penerbit dengan kota tempat penerbit.
Contoh : Drs. M. Ramlan, Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif, CV Karyono: Yogyakarta.
c. Penggunaan Tanda Titik Koma
Tanda titik koma (; ) dapat digunakan :
1) untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: – Malam makin larut; pekerjaan kami belum selesai juga
2) untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat
majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk di dapur; adik belajar; saya sendiri sedang mendengarkan radio.
d. Penggunaan Koma
Tanda koma (,) digunakan:
1) di antara unsur- unsur dalam pemerian atau pembilangan.
Contoh: Adik membawa piring, gelas, dan teko.
2) untuk memisahkan bagian- bagian kalimat majemuk setara yang
dihubungkan dengan kata penghubung yang menyatakan
pertentangan seperti tetapi dan sedangkan.
Contoh: Saya ingin perti, tetapi tidak punya uang
3) untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak
kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Kalau dia datang, saya akan datang
4) di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, yang
terdapat pada awal kalimat, seperti jadi, lagipula, oleh karena itu,
akan tetapi, meskipun begitu, dan sebagainya.
Contoh: Jadi, soalnya tidaklah semudah itu
5) di belakang kata-kata seru, seperti O, ya, wah, aduh, kasihan yang
terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Wah, bukan main cantiknya
6) untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata ibu, ” Saya senang sekali.”
7) di muka angka persepuluhan, dan di antara rupiah dengan sen.
Contoh: 12,25cm
Rp 125,50
8) di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk
membedakannya dari singkatan nama keluargaatau niarga. Contoh: Moh. Bakri, S.H. ( S.H. Sarjana Hukum )
Kuswito Hadi, S.Pd. ( S.pd. Sarjana Pendidikan )
9) untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh: Guru saya, pak Hadi, rajin sekali.
10) di antara : (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat
dan tanggal, dan (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang
ditulis berurutan.
Contoh: Sdr Hadi, Jalan bintang 9, Jakarta Timur
11) untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannyadalam
daftar pustaka.
Contoh: Siregar, Merari, Azab dan Sengsara. Jakarta, Balai Pustaka, 1945
12) di antara nama tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun penerbit,
dalam suatu daftar pustaka.
Contoh: Poerwadarminta, W. J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta, Balai Pustaka, 1976.
e. Penggunaan Tanda Hubung
Tanda hubung (-) digunakan:
1) untuk menyambung bagian-bagian bentuk ulang dan kata ulang Contoh: sia-sia
berjalan-jalan
2) untuk menyambung suku-suku kata yang terpenggal oleh perpindahan
Bans.
Contoh: menerus-
kan pembangunan
3) untuk merangkaikan:
(a) se dengan kata berikutnya yang mulai dengan huruf besar
Contoh: se-lndonesia
(b) ke dengan angka
Contoh: hadiah ke-2

(c) angka dengan akhiran —an
Contoh: tahin 80-an
(d) singkatan huruf kapital dengan unsur lain
Contoh: KTP-nya nomor 34543

4) untuk menyambung bagian-bagian tanggal.
Contoh: lahir tanggal 13-4-1985
5) untuk menyambung huruf-huruf yang dieja satu persatu.
Contoh: p-a-n-i-t-i-a
6) dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau
ungkapan
Contoh: – ber-evolusi — (berasal dari kata dasar evolusi
Diberi awalan ber-)
34
7) tanda hubung untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing yang masih dieja secara asing. Contoh: meng-upgrade
f. Penggunaan Tanda Pisah
Tanda pisah (~ ) digunakan:
1) untuk membatasi penyisipan kata atau ungkapan yang memberi
penjelasan khusus terhadap kalimat yang disisipinya.
Contoh: kemerdekaan bangsa itu- saya yakin akan tercapai -Diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2) di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’, atau
di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’, atau “sampai”. Contoh: 1901— 1945
Jakarta Surabaya
g. Penggunaan Tanda Elipsis
Tanda elipsis berupa tiga buah titik (…) digunakan untuk menunjukkan adanya bagian-bagian kalimat yang dihilangkan. Contoh: sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
h. Penggunaan Tanda Tanya
Tandatanya(?) digunakan: 1) pada akhir kalimat tanya Contoh: Siapa namamu?
35
2) untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kenenarannya (dalam hal ini tanda tanya itu diapit oleh tanda kurung). Contoh: Dia dilahirkan tahun 1917 (?) di Jakarta.
i. Penggunaan Tanda Seru
Tanda seru (!) digunakan sesudah kalimat, ungkapan, atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menyatakan kesungguhan, ketidak percayaan, atau rasa emosi yang kuat. Contoh Berangkatlahsekarangjuga! Merdeka!
j. Penggunaan Tanda Kurung
Tanda kurung digunakan:
1) untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh: Kami mengunjungi Monas (Monumen Nasional)
2) untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian
integral pokok pembicaraan
Contoh: Sajaknya yang berjudul “Ubud” (nama tempat terkenal di pulau Bali) ditulis pada tahun 1962.
3) untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri
keterangan, tanpa kurung buka.
Contoh: Faktor-faktor produksi menyangkut masalah berikut: 1) alam
36
2) tenaga kerja; dan
3) modal;
k. Penggunaan Tanda Kurung Siku
Tanda kurung siku ([ ] ) digunakan:
1) untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi,
atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menjadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Contoh: – Sang Sapubra [djengar bunyi gemerisik.
2) untuk mengapit keterangan di dalam penjelasan yang sudah
bertanda kurung.
Contoh: -... (perbedaan antara dua macam proses ini [lihat Bab I] tidak dibicarakan)…
1. Penggunaan Tanda Petik
Tanda petik (“… “) digunakan:
1) untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan
naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu
ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Contoh: Kata ayah, “Saya akan datang.”
2) untuk mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai
dalam kalimat.
38
o. Penggunaan Tanda Penyingkat
Tanda penyingkat (apostrof) digunakan sebagai tanda adanya penghilangan Bagian kata. Contoh: Ali ‘kan kutemui (‘kan = akan)
E. Karangan
Menurat KBBI (1990: 390) karangan adalah Hasil mengarang, tulisan, cerita, artikel, buah pena. Sedangkan menurut Atmowiloto (2004:5) karangan adalah hasil imajinasi yang diolah dan diciptakan kembali oleh pengarang. Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat diuraikan bahwa pada dasarnya karangan itu merupakan hasil olah pikiran, pengalaman yang bisa berupa cerita ataupun tulisan yang mengandung arti khusus. Karangan merupakan hasil dari mengarang yang ditulis oleh pengarang dengan melahirkan berbagai macam ide, pengalaman, dan kreativitas yang menarik untuk diamati.
Menurut kamus pelajar SLTP (2003:830) karangan adalah menulis dan menyusun cerita, buku, sajak. Jadi mengarang itu menuangkansegalah rasa baik kenyataan maupun khayalan. Sehungga dapat disusun menjadi sebuah cerita, buku, maupun sajak yang baik dan dapat di nikmati pembaca maupun mastarakat. Dengan demikian karangan adalah hasil dari mengarang yang berupa cerita yang diperoleh dari pengalaman maupun imajinasi.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.