Pembangunan Masyarakat Kota Bag 2

Pembangunan Masyarakat Kota Bag 2

Ekologi Kota
Ekologi sosial mendasarkan teorinya pada asumsi bahwa masyarakat manusia mempunyai dua taraf, yaitu taraf biotik atau community dan taraf sosial atau society. Community merupakan suatu pola organisasi yang tumbuh dengan sendirinya apabila ada banyak orang yang berada, atau bertempat tinggal, pada suatu tempat yang terbatas. Taraf biotik atau community inilah yang tumbuh secara alamiah dan merupakan dasar dari masyarakat. Taraf society adalah lebih luas, karena telah menyangkut masalah susunan sosiokultural dalam masyarakat yang diatur oleh konsensus (persetujuan), komunikasi, nilai-nilai, dan norma-norma, serta berhubungan dengan sistem sosial.
Selanjutnya dijelaskan tentang tiga pola rancangan kota yang sudah sangat populer dalam studi perkotaan. Ketiganya adalah Pola Zona Terpusat yang dibuat oleh Ernest Burgess, Teori Sektor oleh Hoyt, dan Teori Multi Pusat oleh Harris dan Ullman.

Proses Ekologi
Kegiatan belajar ini membahas mengenai proses ekologi (ecological processes) yang merupakan cara perubahan distribusi penduduk dan kegiatannya. Proses ekologi tersebut terus berjalan, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang; baik pada kota-kota kecil, sedang, maupun besar.
Bagian ini membahas beberapa proses ekologi perkotaan yang penting.
Proses ekologi perkotaan tersebut adalah konsentrasi, sentralisasi, segregasi, invasi, dan suksesi.

Perencanaan dan Penataan Ruang Kota
Masalah perencanaan dan penataan ruang kota semakin mengambil peranan seiring keinginan manusia untuk mengelola kegiatannya secara lebih baik, dan menghindari seminimal mungkin hal-hal yang bersifat spekulatif dan tanpa perhitungan.
Berkaitan dengan urgensi perencanaan, Mannheim mengemukakan bahwa meningkatnya kepadatan peristiwa makin lama semakin tak memungkinkan bagi orang untuk memelihara keseimbangan melalui tindakan persaingan dan saling adaptasi. Alasan lain mengapa perencanaan kota itu semakin dirasa penting adalah berkaitan dengan karakteristik atau ciri-ciri kota itu sendiri sebagai bentuk kehidupan manusia yang sangat kompleks.
Oleh karenanya, kota juga menjadi sumber permasalahan yang kompleks, sehingga agar kota dapat berfungsi dengan baik, maka sangat diperlukan perencanaan untuk kepentingan operasionalnya.
Di samping memberikan pengertian tentang perencanaan secara umum, secara khusus juga dikemukakan perencanaan yang dilakukan diperkotaan dengan lebih dahulu mengemukakan akar historisnya, lalu tujuan dan pendekatan yang digunakan, serta aspeknya yang perlu diperhatikan.
Selanjutnya secara khusus juga dijelaskan tentang tata ruang dengan beberapa aspeknya, khususnya di perkotaan.
Masyarakat dan Kehidupan Kota
Manusia senantiasa membutuhkan keberadaan manusia lainnya dalam kehidupannya. Sekalipun demikian kehidupan bersama bukan monopoli manusia, namun cara hidup bersama yang terdapat pada makhluk lainnya tidaklah sama secara fundamental dengan manusia. Berbeda dengan hewan, manusia dalam melakukan kehidupan bersama (kehidupan sosial) di samping memanfaatkan instink, maka manusia juga banyak memanfaatkan akalnya.
Melalui akalnya, manusia dapat belajar memahami lingkungannya, yang selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk pola perilaku, nilai, dan aturan ciptaan manusia. Selanjutnya hasil ciptaan manusia ini menjadi bagian dari kebudayaannya, yang selanjutnya bisa diwariskan kepada generasi sesudahnya.
Salah satu bentuk kehidupan bersama manusia adalah kehidupan bermasyarakat. Secara garis besar masyarakat biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu masyarakat desa (rural community) dan masyarakat kota (urban community). Antara masyarakat desa dan kota masing-masing mempunyai kecenderungan gambaran kehidupan masyarakat sendiri-sendiri.

Kehidupan Keluarga
1.Definisi dan konsep mengenai keluarga. Uraian selanjutnya mengenai keluarga ini secara garis besar menyangkut struktur keluarga, berbagai fungsi keluarga, serta kaitan antara lingkungan kerja dan keluarga.
2.Pembahasan tentang struktur keluarga didasarkan atas keanggotaan atau hubungan di antara anggotanya yang membedakan antara keluarga inti atau batih dan keluarga luas. Juga dibahas norma keanggotaan atau pengorganisasian keluarga yang didasarkan pada garis keturunan, serta pembahasan tentang sistem pemilihan jodoh dan perkawinan pada berbagai masyarakat.
3.Selanjutnya keluarga dibahas menurut fungsinya yang penting seperti fungsi afeksi, fungsi perlindungan, fungsi sosialisasi, fungsi ekonomis, fungsi penentuan status, fungsi pengaturan seksual, dan fungsi reproduksi.
4.Antara lingkungan kerja dan keluarga khususnya di perkotaan bisa dilihat sebagai dua unit yang saling mempengaruhi. Di perkotaan di mana jenis pekerjaan warganya banyak diwarnai oleh pengaturan formal dan spesialisasi, telah memberi pengaruh besar dalam pengaturan kegiatan sehari-hari kebanyakan warganya. Keadaan ini telah mengakibatkan keluarga juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang demikian. Kaitan antara lingkungan kerja dan keluarga banyak didasarkan pada tiga model hubungan, yaitu hubungan yang positif, minimal, dan negatif.

Perubahan Sosial Budaya
1.Berbagai definisi dan rumusan mengenai perubahan sosial dan budaya. Dalam uraiannya dikemukakan pula mengenai berbagai kesulitan yang biasa ditemui dalam memisahkan antara perubahan sosial dan perubahan budaya, serta berbagai definisi dan uraian beberapa tokoh mengenai perubahan sosial dan budaya.
2.Teori-teori tentang perubahan sosial yang dalam kegiatan belajar ini didasarkan pada 3 klasifikasi atas teori yang ada, yaitu teori evolusioner, teori siklus, dan teori yang tergolong ke dalam teori fungsional dan konflik.
3.Dijelaskan juga mengenai beberapa penyebab terjadinya perubahan sosial, seperti bertambah atau berkurangnya penduduk, perubahan lingkungan fisik, terjadinya pemberontakan atau revolusi, pengaruh kebudayaan lain (asing), dan akibat adanya pertentangan dalam masyarakat.
4.Selain itu juga telah diuraikan secara singkat mengenai masyarakat kota dalam konteks perubahan sosial dan budaya. Juga tentang pembangunan masyarakat sebagai suatu perubahan. Dikatakan bahwa agar suatu perubahan sosial bisa dilakukan dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka perubahan tersebut mestilah mempunyai sasaran jelas sebagaimana yang diharapkan, dan dilakukan secara sadar dan terencana.

Masalah Lingkungan dan Prasarana Kota
Kegiatan belajar ini membahas tentang:
a.Pengertian dan contoh-contoh masalah-masalah perkotaan secarau mum.
b.Efek sosial lingkungan fisik, terutama hipotesis mengenai empat jenis efek sosial dari lingkungan fisik atas kehidupan manusia yang pernah dikemukakan Irvin Rosow.
c.Masalah perkampungan kumuh di perkotaan. Berbagai konsep dan pengertian yang dijelaskan di dalamnya adalah meliputi:
Munculnya gejala pemukiman kumuh.
Wajah dan keadaan fisik perkampungan kumuh.
Ciri-ciri sosial dan ekonomi para penghuni perkampungan kumuh.
Kebijakan (policies) dalam memecahkan masalah perkampungan kumuh di kota-kota.
d.Masalah sampah dan transportasi. Berbagai pengertian yang dijelaskan di dalamnya adalah meliputi:
Pentingnya kebijakan mengenai pembuangan sampah dan transportasi di kota.
Beberapa kebijakan untuk mengatasi masalah lalu lintas.

Masalah Pengangguran dan Sektor Informal di Perkotaan
Kegiatan belajar ini membahas tentang:
1.Berbagai definisi dan pengertian mengenai pengangguran, serta gambaran mengenai pengangguran khususnya di kota.
2.Dalam pembahasannya, penganggur digolongkan secara garis besar menjadi dua, yaitu mereka yang menganggur terbuka (open unemployed), dan setengah menganggur (under-employed). Sementara mereka yang digolongkan setengah penganggur digolongkan ke dalam setengah penganggur kentara, setengah penganggur tidak kentara, dan setengah penganggur potensial.
3.Selanjutnya dibahas pula berbagai definisi dan pengertian mengenai sektor informal, ciri-cirinya, serta gambaran mengenai sektor informal khususnya di kota-kota dunia ketiga, termasuk gambarannya di Indonesia.
4.Selanjutnya dibahas pula mengenai sejumlah faktor yang mempermudah tenaga kerja memasuki sektor informal, serta kesulitan/hambatan yang sering dihadapi pemerintah dan birokrasi untuk menggarap dan membangun ekonomi informal secara tuntas.

Kemiskinan
Secara garis besar, kegiatan belajar ini membahas tentang:
a.Berbagai pengertian dan definisi menyangkut kemiskinan, khususnya di perkotaan. Berbagai konsep dan pengertian yang dijelaskan di dalamnya meliputi:
Dimensi ekonomi, sosial, dan politik dari kemiskinan.
Penyebab kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan (artificial).
Menjelaskan konsep kemiskinan struktural dan budaya kemiskinan.
b.Menguraikan metode pengukuran kemiskinan, khususnya yang sudah dikenal di Indonesia selama ini. Pengukuran kemiskinan yang diuraikan meliputi:
Pengukuran kemiskinan menurut Sajogyo.
Pengukuran kemiskinan menurut kecukupan kalori dan paket kebutuhan fisik bukan makanan.
Pengukuran kemiskinan oleh Sandy berdasarkan tingkat pendapatan per kapita atas sembilan bahan kebutuhan pokok penduduk.
Indikator penggolongan penduduk miskin dalam pengertian relatif yang menyangkut berbagai dimensi seperti yang pernah dikemukakan Jazairy et al.
c.Penggambaran kemiskinan di Indonesia berdasarkan data BPS.

Pembangunan Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Pembangunan kependudukan mencakup dimensi demografis dan dimensi sosial ekonomi dan budaya. Pada dimensi demografi, pembangunan sering diarahkan pada penurunan tingkat kelahiran, pengarahan penduduk, dan peningkatan usia harapan hidup. Meningkatnya usia harapan hidup adalah searah dengan rendahnya tingkat kematian bayi di suatu negara atau daerah. Salah satu aspek yang sering diintervensi dalam hal upaya penurunan tingkat kelahiran adalah diupayakan terjadinya pendewasaan usia kawin bagi penduduk.
Aspek sosial ekonomi dan budaya dipandang sebagai variabel yang menentukan terhadap tercapainya sasaran pembangunan di bidang kependudukan. Ini sebabnya dalam menganalisis masalah-masalah demografi sering dikaitkan dengan aspek tersebut. Misalnya bagaimana suatu kebijaksanaan seperti program KB berpengaruh terhadap tingkat kelahiran; bagaimana tingkat pendidikan berperan terhadap penundaan usia kawin penduduk, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat penurunan kelahiran.
Tingkat pertumbuhan penduduk di perkotaan cenderung lebih tinggi dari pedesaan yang terutama disebabkan tingginya arus migrasi desakota.
Tingkat pertumbuhan yang tinggi ini menyebabkan masalah sosial ekonomi cenderung lebih rumit diatasi di perkotaan dari pedesaan. Salah satu masalah yang diuraikan pada kegiatan belajar ini adalah masalah ketenagakerjaan. Misalnya, masalah pengangguran jauh lebih rumit diatasi di perkotaan dibanding di pedesaan, karena yang menganggur di perkotaan ini adalah kebanyakan yang berpendidikan SLTA umum yang justru kurang memiliki keahlian untuk terserap pada sektor formal di perkotaan. Hal ini antara lain yang mengakibatkan berkembangnya pekerja sektor informal di perkotaan tersebut.

Pembangunan Perumahan dan Pemukiman
Pembangunan perumahan dan pemukiman adalah suatu usaha yang secara sadar dan berencana yang dilakukan dari kondisi yang kurang baik menuju pada kondisi yang lebih baik. Salah satu acuan dalam jenis pembangunan ini yakni UU No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman menyebutkan bahwa perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sedangkan pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan, maupun kawasan pedesaan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan mendukung perikehidupan dan penghidupan. Ada dua jenis program dalam bidang ini, yakni program pokok dan program penunjang. Program pokok terdiri dari beberapa jenis program seperti: penyediaan perumahan dan pemukiman; perbaikan perumahan dan pemukiman; program penyehatan lingkungan; penyediaan air bersih; program penataan kota; dan program penataan bangunan. Program pendukung (penunjang) juga meliputi beberapa jenis program, seperti: pengembangan hukum di bidang perumahan dan pemukiman; program penelitian dalam pengem-bangannya; penyelamatan hutan, tanah, dan air; program penataan ruang; dan program penataan pertanahan.

Pembangunan Sarana dan Fasilitas Sosial Ekonomi
Model yang telah digunakan pemerintah dalam pembangunan prasarana dan sarana kota sejak tahun 1987 di beberapa kota di Indonesia adalah P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu). Hingga Pelita VI, model ini telah diterapkan secara meluas pada berbagai kota di Indonesia.
Beberapa prinsip kebijaksanaan P3KT adalah: (a) pembangunan prasarana perkotaan dan pemeliharaannya lebih banyak menjadi tanggung jawab Pemda Tingkat II; (b) menganut sistem desentralisasi; (c) mobilisasi sumber-sumber dana dan optimalisasi penggunaannya perlu dipantau secara berkesinambungan; (d) sistem pendanaannya yang berupa pinjaman dari pihak lain (misalnya dari luar negeri) dapat dilakukan, jika pendanaan yang ada di Pemda TK II memang belum memungkinkan untuk mandiri.
P3KT di samping memiliki keunggulan dibanding KIP, namun juga memiliki kelemahan antara lain masih lemahnya sumber pembiayaan Pemda dalam pengadaan dan pemeliharaan prasarana kota, dan ini ada kaitannya dengan rendahnya tingkat kemampuan PAD sebagian besar Kabupaten/Kota di Indonesia. Akibatnya, banyak di antara pengadaan prasarana perkotaan dibiayai melalui bantuan dalam bentuk pinjaman dari pihak lain. Saat ini setelah lebih dari lima tahun otonomi daerah Keadaan di atas sudah lebih baik. Adanya kewenangan Pemda untuk mengelola keuangan di daerah membuat daerah lebih kreatif dalm menggunakan anggaran untuk pembangunannya.

Pembangunan Lembaga-lembaga Sosial Ekonomi
Pembangunan lembaga-lembaga masyarakat diharapkan untuk memberikan akses kepada semua masyarakat perkotaan untuk memenuhi keperluannya. Semakin modern suatu masyarakat maka semakin banyak pula jenis lembaga yang ada di tengah masyarakat. Namun menurut pandangan Riggs bahwa meskipun telah banyak jenis lembaga masyarakat pada negara sedang berkembang, namun keberadaannya lebih banyak bersifat formalistis. Pandangan Riggs ini memang tidak dapat kita pungkiri bahwa banyak lembaga yang secara nyata telah memiliki aturan yang lengkap, namun penerapan peraturan tersebut masih memerlukan penyempurnaan.
Pada bagian ini mari melihat keberadaan lembaga publik, seperti: PLN, PAM, Telkom, Perumnas dan berbagai lembaga publik lainnya. Tujuan utama lembaga ini adalah untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat dengan tidak terlalu berorientasi keuntungan. Ada beberapa aspek yang menjadi tekanan dalam uraian yang berkaitan dengan lembaga publik ini, yakni kajian melalui struktur sosial ekonomi bagi kelompok sasaran suatu lembaga dan kajian tentang dimensi kognitif, dimensi perilaku, dan dimensi institusional.

Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Kota
Partisipasi masyarakat penting dilakukan pada semua tahap dalam pembangunan kota, yakni mulai tahap perencanaan (pengambilan keputusan), pelaksanaan (operasi dan pemeliharaan), dan pada tahap evaluasi (pemantauan) program pembangunan kota.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota perlu memperhatikan struktur sosial, ekonomi, dan demografi di mana program pembangunan dilaksanakan. Melalui berbagai kajian, terungkap bahwa bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota berbeda menurut tempat tinggal, pendidikan, pendapatan, dan jenis kelamin. Sebagai misal, partisipasi wanita pada jenis program yang berkaitan dengan persoalan rumah tangga, seperti persampahan, kebutuhan air bersih lebih mendapat perhatiannya dibanding laki-laki. Hal ini antara lain disebabkan jenis kebutuhan tersebut lebih banyak berhubungan dengan kegiatan sehari-hari kaum wanita.
Kurangnya kemampuan pemerintah dalam membiayai sarana dan prasarana kota disebabkan antara lain oleh masih rendahnya penerimaan pemerintah dari PAD (Pendapatan Asli Daerah) sehingga keterlibatan swasta tetap diperlukan, bahkan semakin diperlukan di periode mendatang. Ada beberapa konsep partisipasi swasta dalam pembangunan kota antara lain konsep BOT (Build, Operate, Transpered), konsep Divisture, dan penerapan konsep Leasing dalam pembangunan kota.

Peranan Pemerintah dalam Pembangunan Kota
Ada banyak peranan pemerintah dalam pembangunan, namun ada tiga peranan utama yang dijelaskan pada kegiatan belajar ini, yakni; peranan dalam perumusan kebijaksanaan kota, peranan dalam penyusunan rencana kota, dan peranan dalam meningkatkan pendapatan yang dapat membiayai pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan kota.
Pada peranan pertama (merumuskan kebijaksanaan), antara lain dijelaskan tentang pentingnya peranan pemerintah dalam menyusun dan menetapkan kebijaksanaan yang berkaitan dengan pengembangan dan pemantapan sistem perkotaan, kebijaksanaan yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan dan produktivitas kota, dan kebijaksanaan yang berkaitan dengan pemantapan kelembagaan kota dan keuangan kota.
Uraian selanjutnya adalah lebih spesifik tentang rencana kota, di sini dipaparkan tentang berbagai jenis rencana yang dibuat oleh pemerintah agar pelaksanaan pembangunan berjalan secara teratur dan berencana. Beberapa jenis rencana yang dimaksudkan adalah; Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), Rencana Umum Tata Ruang Perkotaan (RUTRP), Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK), dan Rencana Teknik Tata Ruang Kota (RTRK).
Uraian yang terakhir adalah menyangkut peranan pemerintah dalam meningkatkan pendapatan dalam rangka pembangunan kota. Pada bagian ini antara lain diuraikan tentang pentingnya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai sumber keuangan daerah dalam mengurangi ketergantungan dari pihak lain (baca: otonomi) baik dari pemerintah pusat, maupun yang berasal dari pinjaman luar negeri. Pada bagian terakhir kegiatan belajar ini, juga dijelaskan secara teoretis tentang jenis-jenis
pembangunan dan pelayanan yang sebaiknya dibiayai dari pajak dan dibiayai dari retribusi sebagai bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada suatu pemerintah kota (kotamadya).
Sumber Buku Pembangunan Masyarakat Kota,Karya M.Tahir Kasnawi

About these ads

2 Tanggapan

  1. bisa g di jelaskan ttg pembangunan masyarakat dalam arti luas n sempit za??mksh,,,,

  2. Mu tanya. .tentang apa cie yg d mksd dgn masyarakat kota toleran terhadap tradisi baru. .mksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.