Konsep Materialitas, Resiko, dan Pengujian dalam Auditing

Konsep Materialitas, Resiko, dan

Pengujian dalam Auditing

Berdasarkan pertimbangan biaya-manfaat, auditor tidak mungkin melakukan pemeriksaan atas semua transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan. Auditor harus menggunakan konsep materialitas dan konsep risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa besar salah saji yang terdapat dalam asersi dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh besarnya salah saji tersebut. Konsep risiko audit berkaitan dengan risiko kegagalan auditor dalam mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material.

Materialitas dibagi menjadi dua golongan, yaitu materialitas pada tingkat laporan keuangan dan materialitas pada tingkat saldo akun. Risiko audit juga digolongkan menjadi dua, yaitu risiko audit keseluruhan dan risiko audit individual.


Penggunaan Materialitas dalam Mengevaluasi Bukti Audit

Risiko audit terdiri dari tiga unsur, yaitu risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi ditaksir oleh auditor pada tahap perencanaan audit sebagai salah satu dasar penentuan ukuran sampel yang akan diperiksa.

Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit, dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam pendekatan, yaitu pendekatan substantif (primarily substantive approach) dan pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah (lower assessed level of control risk approach).


Penaksiran Risiko Pengendalian dan Pendesainan Pengujian Pengendalian

Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencakup sifat, saat, dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika risiko pengendalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien.

Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi kebijakan dan prosedur pengendalian intern. Berbagai pengujian pengendalian dapat dipilih oleh auditor dalam pelaksanaan auditnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengujian pengendalian bersamaan (concurrent tests of controls), yang terdiri dari prosedur untuk memperoleh pemahaman dan sekaligus untuk mendapatkan bukti tentang efektivitas pengendalian intern.

  2. Pengujian pengendalian tambahan, yang merupakan pengujian yang biasanya dilaksanakan oleh auditor jika, berdasarkan hasil pengujian pengendalian bersamaan yang memperlihatkan pengendalian intern yang efektif, auditor kemudian mengubah strategi auditnya dari pendekatan terutama substantif ke pendekatan risiko pengendalian rendah.

  3. Pengujian pengendalian yang direncanakan, yang merupakan pengujian yang dilaksanakan untuk menentukan taksiran awal risiko pengendalian moderat atau rendah sesuai dengan tingkat pengujian substantif yang direncanakan.

  4. Pengujian dengan tujuan ganda (dual-purpose tests), yang merupakan pengujian yang desain sedemikian rupa sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti tentang efektivitas pengendalian intern sekaligus dapat mengumpulkan bukti tentang kekeliruan moneter dalam akun.


Penaksiran Risiko Deteksi dan Pendesainan Pengujian Substantif

Desain pengujian substantif sangat ditentukan oleh risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor. Desain pengujian substantif mencakup penentuan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi setiap asersi. Auditor dapat menggunakan jenis pengujian substantif berikut, yaitu prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi terperinci, dan pengujian terhadap saldo terperinci. Pengujian substantif dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca dan pada atau mendekati tanggal neraca, tergantung risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor.

Rerangka umum pengembangan program audit untuk pengujian substantif adalah sebagai berikut, (1) tentukan prosedur awal audit, (2) tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan, (3) tentukan pengujian terhadap transaksi terperinci, (4) tentukan pengujian terhadap akun terperinci.

Sumber Buku Auditing Ia Karya Salam Mannan

Diambil dr http://ww2.yuwie.com/blog/?id=560614

Baca tulisan Lain.

Ruang Lingkup Akuntansi bag 2 >>>>Lihat

Ruang Lingkup Akuntansi bag 1 >>>>> Lihat

Konsep dan Analisis Biaya Pendidikan>>> Lihat

Sosialisasi dan Stratifikasi Sosial >>>>>>>>>> Lihat

Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar >>>>>>>>> Lihat

Pendidikan Sebagai Konsumsi dan Investasi Ekonomi >>> Lihat

Peran Pemasaran dalam Perusahaan dan Masyarakat >>>>>>>> Lihat

About these ads

6 Tanggapan

  1. Pak, kalo di KAP kan untuk menentukan materialitas itu ada pedoman dasarnya, walaupun nantinya tetap bergantung dengan penilaian auditor tersebut sendiri. Nah, bagaimana dengan BPK, yang merupakan nadan pemerintah? Apakah mereka juga punya pedoman khusus?

  2. sangat bagus,dapat dijadikan untuk bahan skripsi.

  3. Salam Kenal,
    Pak, ada yang mau saya tanyakan,,,,terkait dengan studi s2 saya.
    bagaimana menentukan batasan besaran materialitas pada laporan keuangan pemda atau bagaimana teknik/metode menentukan materialitas pada laporan keuangan pemda?
    Contohnya yang bagaimana terkait hal tersebut?
    Mohon penjelasannya,…saya tunggu jawaban secepatnya…
    Terima Kasih….

  4. salam solidaritas….
    saya cuma mau tanya pak, bpk punya tulisan yang mengkaji ttg perubahan sosial ga pak???
    khususnya antara agama dan kebudayaan???
    oh iya, salam kenal sebelumnya…

  5. thanks pak artikel na membantu buat referensi paper saya..

  6. tx ya bapak buat rujukannya…
    pak kalau kita buad skripsi dengan meneliti…
    audit prematur…
    tapi kita teliti di BPKP…
    gimana pak…
    Tx

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.