Pendekatan Metode Pembelajaran Kerajianan Tangan

Strategi Pembelajaran Kesenian dan Ketrampilan

Bag. 2

Pendekatan dan metode pembelajaran kerajinan tangan untuk siswa SLTP

Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan, bahwa pendekatan kreatif-ekspresif dapat dijadikan andalan dalam pembelajaran Kerajinan tangan di SLTP. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan, sebagai berikut: Pertama, pendekatan kreativitas akan sangat berdaya guna dalam kehidupan manusia secara universal. Mengingat kreativitas bukanlah kemampuan bawaan, maka kreativitas dapat diajarkan secara bertahap sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa. Bilamana materi dasar kreativitas dapat diserap dan dipercayai bermanfaat bagi kehidupan siswa, besar kemungkinan akan memiliki kesiapan juga dalam menerime materi kreativitas lanjutan.

Kedua, kajian ilmu sosial membuktikan, bahwa proses kreativitas yang tinggi memungkinkan individu atau kelompok sosial dapat memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya yang ada di lingkungan dengan cara disosialisasikan. Kenyataan ini nampak dengan munculnya suatu kelompok perajin pada suatu masyarakat yang kemudian menyebar pada kelompok sosial lainnya.

Ketiga, sebenarnva bidano kreativitas seluas kehidupan manusia itu sendiri. Artinya kemampuan kreativitas tidak hanya diterapkan dalam bidang kerajinan tangan, melainkan juga bidang kehidupan lain. Landasan kreativitas adalah kemampuan memilih, menentukan dan menerapkan gagasan dalam kehidupan. Semakin kuat daya kreativitas menggali dan mengeksploitasi kreativitas, maka akan menginspirasikan dalam bidang kreativitas di luar bidang kerajinan tangan.

Keempat, mengingat karakteristik siswa SLTP yang masa puber dan juga mulai kritis dan berani dalam mengemukakan pendapat, maka potensi untuk menerapkan metode ekspresi bebas menjadi relevan dengan pendekatan dan juga kondisi siswa itu sendiri. Metode ekspresi bebas menjadi modal dasar dalam menerapkan prinsip kreativitas dalam pembelajaran kerajinan tangan di SLTP. Modal ini hendaknya dimanfaatkan oleh guru dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan pembelajaran kerajinan tangan yang bernafaskan kreatif.
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR DALAM PROSES KEGIATAN PEMBELAJARAN SENI
Fungsi media dan pembelajaran

  1. Kesimpulan semua ini, bahwa pengajaran dan pembelajaran adalah serupa, tapi tidak sama. Ketidaksamaannya terletak pada keragaman cara pendekatan dalam analisis hipotesis kondisi saat melakukan ‘perencanaan’ dan fakta kejadian hasil observasi ‘pelaksanaan tindakannya’. Pada saat merencana, tekanan utama-utamanya pada pernyataan stimulus belajarnya’ (faktor eksternal), sedang pada saat penetapan respon-respon penerimaan belajar (faktor internal) yang telah direncanakan harus memperhitungkan ragam realitasnya. Akhir penentuan keberhasilan suatu pembelajaran akan ditentukan oleh kemampuan profesional seorang ‘guru’ dalam mengatasi permasalahan realitas pembe-lajarannya berupa ketepatan dan kecepatan dalam pengambilan keputusan sebagai tindakan strategi terhadap berbagai stimulus dan respon yang terjadi dalam proses pembelajarannya.

  2. Media pembelajaran
    Komponen jenis ‘materi’ atau bahan ajar sering juga disebut media pembelajaran, dan merupakan salah satu bahan pada setiap jenis sumber-belajar. Melalui pendekatan pemahaman proses komunikasi pembelajaran, Anda bisa menyimpulkan apa yang dimaksud dengan media pembelajaran, yaitu segala sesuatu yang padanya terkandung sajian sumber materi pesan ajar untuk disampaikan/disalurkan apakah melalui dirinya sendiri atau dengan bantuan alat lain. Dalam fungsinya diupayakan bisa mampu memfasilitasi penyampaian arahan pesannya sehingga terjadi suatu respon penafsiran pesannya secara ‘berarti’ melalui perhatian, penafsiran, pengertian, dan keyakinan terhadap ‘kebermaknaan’ materi pesannya.

  3. Sumber belajar
    Sumber belajar merupakan komponen sistem pembelajaran. Setiap komponen mempunyai fungsi dan tugas dalam suatu proses komunikasi pembelajaran, baik secara mandiri maupun dipadukan dengan komponen lainnya. Komponen sistem ini bisa berupa orang pesan, materi/bahan, teknik cara, fasilitas/hardware, dan setting lingkungan, baik yang direncanakan (by design) ataupun yang dimanfaatkan (by utilition). Semua ini biasanya dimanfaatkan secarabersama-sama secara sinergis menyeluruh dan saling keter-gantungan dalam tindakan pembelajarannya

  4. Tingkah laku belajar melalui media didasarkan pada pendekatan kecocokan dan ketepatan antara faktor keragaman simbol-simbol karakter yang dimiliki media sehingga mampu merangsang kegiatan-kegiatan kelakuan belajar pada kemampuan hasil belajarnya. Faktor lainnya, yang menentukan keberhasilannya adalah berhubungan dengan kepastian cara dan teknik dalam tindakan memanfaatkannya artinya, memungkinkan dalam merealisasikan pesan-ajarannya. Faktor lainnya adalah tidak mendasarkan pada kehebatan teknologi fisik peralatannya, tapi pada faktor kemampuan teknologi keunggulan dan fungsinya pada proses memfasilitasi kelakuan belajarnya dan kegiatan mengajarnya.

Untuk memenuhi faktor-faktor pertimbangan keragaman dalam penilaiannya dan penentuan media pembelajaran ini dilakukan melalui langkah-langkah yang mendasar, yaitu:

Menetapkan keunggulan kelompok karakter jenis media, sesuai tuntutan setiap kemampwan belajar. Memilih karakter-karakter media dan sumber-belajar sesuai dengan karakter tingkat kemampuan siswa. Menentukan fasilitas konten (isi-materi) dan symbol simbol rangsangan yang bisa difasilitasi media dan sumber-belajar. Menyesuaikan dalam pemanfaatan antara situasi serta kondisi lingkungan belajarnya dengan sistem penyajian media dan sumber-belajar yang dimanfaatkan. Menetapkan lingkungan pengembangan media dan sumber-belajarnya dalam hubungan dengan variasi variasi strategi pemanfaatan metode dan teknik penyajiannya.

Faktor-faktor kemampuan ekonomi dan kebiasaan yang bertalian dengan pertimbangan saat mengembangkan kondisi-kondisi lingkungan belajar (butir-5 di atas). Dengan kata lain strategi pengadaannya: apakah dengan cara peminjam atau menyewa; membelikah? memproduksi sendirikah? Strategi pengadaan ini, sebagai upaya pengorganisasian kenyataan kemampuan ketersediaan, baik pada medianya, atau sumber-sumber lainnya, serta pembiayaannya.

Fungsi seni sebagai media dan sumber pembelajaran seni

  1. Pendekatan pembelajaran seni (kesenian) yang didasarkan pada pendekatan lingkungan, tempat di mana proses belajar-mengajarnya dilaksanakan, diartikan sebagai suatu pengembangan kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi fasilitas serta materi dan cara penyajiannya yang didasarkan pada tuntutan konteks sosial-budaya lingkungannya. Dasar-dasar pengembangan media pembelajaran diarahkan pada proses pengembangan perencanaan kegiatan belajar-mengajarnya, dengan memperhatikan kejadian interaksinya untuk saling mengerti dan saling memahami kondisi dan situasi masing-masing pihak antara penyaji dan peserta-ajarnya. Kondisi dan situasi ini sangat berhubungan dengan:

  2. kemampuan menciptakan proses kejadian dan terjadinya kegiatan belajar-mengajar dari kedua belah pihak pada realitas kondisi sumber belajar dan media belajar dari lingkungan pembelajarannya;

  3. pemilihan materi pesannya secara logis dalam urutan langkah-langkah kejadian belajar-mengajarnya, baik pada struktur kode atau pada elemen ide-ide materi pesannya, sesuai dengan tuntutan yang dibutuhkan siswa sebagai pengetahuan barunya dari sumber media lingkungan masyarakat sekitarnya; dan

  4. penentuan dan pemilihan strategi penyajian yang tepat dalam cara atau metode penyajiannya, serta dalam menciptakan dan memilih fasilitas saluran media penyajiannya dari kondisi dan kemampuan realitas lingkungannya.

Media pembelajaran seni sebagai sumber materi bias dibagi dalam dua jenis kelompok media, yaitu:

  1. Media lingkungan nyata, yang merupakan sumber belajar dari lingkungan seni, seperti: seni-budaya masyarakat, tarian daerah, musik, seniman, pelukis, kritikus, penari, koreografer, pakar-kesenian, suasana lingkungan seni, dan sebagainya yang sifatnya dari lingkungan nyata. Dalam pembelajaran seni, jenis kelompok media ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber media pembelajaran kesenian.

  2. Media pengganti yaitu media yang mengantikan materi lingkungan nyata karena sesuatu hambatan/masalah efisiensi dan yang sifat materinya abstrak dalam proses pembelajarannya, seperti: pada kognisi materi pemahaman, pengertian, ilustrasi gambaran konsep, bagan struktur kesenian daerah, dan sebagainya. Bentuk medianya bisa transparansi, rekaman video, bagan-bagan, susunan notasi musik, bagan unsur seni-tari, kaset audio rekaman lagu-lagu daerah, dan sebagainya.

Berbicara tentang pembelajaran seni (kesenian), semua faktor pengembangan di atas ditujukan pada kegiatan dan kejadian proses belajar mengajarnya, baik pada pembelajaran tari, musik, ataupun seni-rupa dan kerajinan. Pembelajaran yang dimaksud adalah pada tingkat-jenjang pengajaran SLTP dan SMU atau PLS pada tingkat yang sederajat.

  • Fungsi proses belajar-mengajar seni rupa dan kerajinan dalam pembelajaran kelas-formal adalah tertuju pada pengembangan pengalaman ekspresi emosional dalam bersikap, berpikir, berperhatian dan berminat (internal), melalui latihan kemampuan mewujudkan ekspresi esetika dalam perwujudan rupa dwimatra atau trimatra (eksternal).

Dengan demikian kalau kita satukan tentang kesimpulan pengertiaan saluran media pembelajaran seni-rupa dan kerajinan, adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur kondisi-kondisi stimulan latihan dalam belajar konsep berpikir, bersikap, dan berkemampuan dalam mengekspresikan perasaan emosional suatu objek estetika dalam suatu perwujudan ‘bentuk’ dan ‘rupa’.

Kalau kita hubungkan dengan teori belajar yang menyatakan bahwa, belajar tentang pengetahuan dan keterampilan baru, materi-belajarnya harus dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga ada kesatuan kebermaknaan dan keberartian dalam kehidupannya kelak, sehingga objek yang dimanfaatkan dalam belajar akan lebih menjamin keberhasilan bila memanfaatkan media objek sumber-materi yang ada di sekitar lingkungan yang mereka miliki.
Media sumber belajar dalam proses kegiatan pembelajaran

Seni merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat relatif. Definisi mengenai tari dan musik yang banyak ditulis dalam buku-buku kesenian selalu dikaitkan dengan kata-kata “indah dan ritmis” seringkali mengaburkan atau membatasi nilai seni itu sendiri. Penilaian seni sebenarnya sangat tergantung pada sudut pandang masing-masing individu atau kelompok masyarakat yang menilainya. Oleh karena itu, seni merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan dalam kata-kata. Seni, baik tari maupun musik, sebaiknya dipandang dari tujuan dan ide penciptanya.

Fungsi seni, baik tari maupun musik, sebagai media pembelajaran di sekolah sangat besar. Melalui pembelajaran seni, siswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan (kognitif) sehingga berdampak pada peningkatan apresiasi mereka terhadap kebudayaan tradisional. Dengan kata lain, seni sebagai media pembelajaran dapat berfungsi untuk konservasi atau pelestarian budaya bangsa.

Seni juga dapat berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas dan musikalitas siswa yang berlanjut dengan pengembangan kreativitas mereka dalam menciptakan kreasi-kreasi sendiri, baik tari maupun musik. Selain itu, seni juga dapat berfungsi sebagal media pembelajaran dalam bidang studi-bidang studi lain agar siswa dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih baik mengenai bahan ajar yang disampaikan guru.

Pengembangan-pengembangan yang dilakukan siswa berdasarkan pengetahuan, wawasan, sensitivitas dan musikalitas yang mereka miliki dapat mewujudkan inovasi-inovasi dalam bidang seni, baik tari maupun musik, seperti karya-karya tari dan musik baru atau penciptaan instrumen-instrumen sendiri sebagai hasil kreativitas yang diperoleh melalui berkegiatan seni.

STRATEGI BELAJAR SENI TARI

Analisis desain model pembelajaran seni tari di SLTP

Untuk memantapkan ingatan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari bacalah rangkuman berikut:

  1. Model adalah pola atau kerangka konseptual yang dijadikan acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model belajar mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.

  2. Pada dasarnya model mengajar ini bukan hanya menyangkut kegiatan guru mengajar, tetapi justru lebih menitikberatkan pada aktivitas siswa, karena pada hakikatnya mengajar adalah membantu para pelajar memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir dan sarana untuk mengekspreksikan dirinya dan cara-cara belajar bagaimana belajar.

  3. Dalam proses pembelajaran terlebih dahulu guru dituntut memahami struktur kurikulum karena proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan kegiatan untuk mengaktualisasikan kurikulum. Untuk mencapai tujuan pendidikan kurikulum hendaknya memperhatikan tingkat perkembangan siswa, kondisi lingkungan serta perkembangan zaman.

  4. Menganalisis adalah kemampuan untuk menguraikan, mengidentifikasi sesuatu ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, sehingga susunannya dapat dimengerti. Analisis model pengajaran ini bertujuan untuk mengkaji keunggulan dan kelemahan yang terdapat pada setiap model yang dipakai.

  5. Pengajaran seni tari hendaknya menggunakan model yang betul-betul relevan dengan situasi dan kondisi anak, lingkungan serta sarana dan prasarana yang menunjang keberlangsungan proses pengajaran.

Desain model pembelajaran seni tari di SLTP

Untuk memantapkan ingatan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari bacalah rangkuman berikut:

  1. Proses pembelajaran adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar memberikan rasa aman dan kepuasan serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

  2. Belajar dan mengajar adalah dua konsep yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk pada siswa penerima pelajaran sedangkan mengajar menunjuk guru sebagai pemberi materi (pengajar).

  3. Keberhasilan pembelajaran salah satunya dapat ditentukan oleh kecermatan pemilihan model.

  4. Model pengolahan informasi sangat potensial untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif, pemecahan masalah, berpikir kritis dan pemahaman simbol-simbol.

  5. Model sistem potensial untuk mengembangkan koreksi diri terapi perilaku dan keterampilan.

Model pembelajaran seni tari di SMU

Untuk memantapkan ingatan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari bacalah rangkuman berikut:

  1. Anak SMU termasuk ke dalam masa pubertas. Pada usia ini muncul kesadaran baru yaitu kesadaran terhadap kepribadian dan kehidupan batiniah sendiri, sekaligus perbuatan akan rasa aku. Jadi periode ini merupakan periode tergugahnya kepribadian anak.

  2. Anak yang tergolong ke dalam masa pubertas cenderung menyukai kekerasan, kegagahan, dan mulai menyukai lawan jenisnya. Mereka lebih menyukai tema-tema yang bersifat kepahlawanan dan lain berpasangan.

  3. Tari dapat dipandang sebagai media untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis anak, guna mencapai tingkat yang optimal hingga menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya.

  4. Melalui pembelajaran seni tari hendaknya diupayakan agar anak dapat menghayati tarian yang dibawakan. Penghayatan itu akan timbul apabila bentuk tarian yang diajarkan sesuai dengan kondisi psikis mereka, sehingga tarian menyatu dengan cipta, rasa dan karsanya.

  5. Beberapa model pembelajaran tari yang dapat digunakan pada tingkatan ini di antaranya model discovery-inquiri, model kerja kelompok, model kreatif, model karyawisata dan model eksperimen.

STRATEGI PEMBELAJARAN SENI RUPA
Konsep dasar strategi pembelajaran dan macam-macam pembelajaran

Pembelajaran merupakan upaya yang sistematis dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar terjadi kegiatan belajar-membelajarkan (pembelajaran). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Ada empat unsur yang termuat di dalamnya, yaitu: (1) penetapan spesifikasi dan kualifikasi profil kepribadian lulusan, (2) permilihan sistem pendekatan utama, (3) pemilihan dan penetapan prosedur, metode dan teknik belajar-mengajar yang efisien, efektif dan produktif, dan (4) penetapan batas minimal ukuran (kriteria) keberhasilan dan ukuran standar, sebagai bahan umpan balik penyempumaan sistem instruksional.

Setiap kegiatan pembelajaran selalu memiliki tujuan yang ingin dicapai dan tujuan itu memiliki tahapan dari yang paling khusus/konkret sebagai sasaran terdekat seperti tujuan pembelajaran khusus, sampai kepada yang paling umum dan bersifat universal. Untuk merumuskan tujuan pembelajaran khusus, ada rambu-rambu yang perlu dipahami dan diikuti, antara lain: menggunakan kata kerja operasional, mengacu kepada perilaku yang dapat diamati dan diukur.

Terdapat bermacam jenis pembelajaran berdasarkan tipe kegiatan dan model pembelajaran. Menurut Sujana ada 4 tipe kegiatan belajar yakni belajar pengetahuan, belajar keterampilan, belajar sikap, dan belajar pemecahan masalah. Ada 3 model pembelajaran yang diuraikan di modul ini yakni model nonderektif, model pengembangan ekspresi/kreatif, dan model pembelajaran terpadu yang dipandang menarik dan relevan untuk digunakan guru.
Desain pembelajaran seni rupa untuk SLTP

Sebagai bagian dari mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, pendidikan seni rupa di SLTP bertujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan siswa agar berkreasi dan menghargai kerajinan tangan dan kesenian. Ada dua dimensi fungsi utama yang menjadi program kegiatannya yaitu, pertama: membekali seluruh siswa dengan pengenalan, apresiasi dan kesempatan menyalurkan ekspresi-kreatif, dan kedua: untuk mengembangkan bakat khusus kesenirupaan bagi anak berbakat senirupa.

Pengaturan materi dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi sekolah serta tema yang berpusat pada minat umum remaja, seperti kegiatan individual, aktivitas di tempat-tempat umum, aktivitas berkaitan dengan kebutuhan manusia, dan aktivitas kelompok.

Ruang lingkup materi meliputi menggambar bentuk, menggambar ekspresi, menggambar ilustrasi, menggambar huruf/reklame, menggambar perspektif, membuat patung, merancang dan mempersiapkan pameran. Materi mencetak dan pengetahuan tentang perkembangan senirupa perlu dilaksanakan dengan pengaturan guru.

Karakteristik siswa, perlu dipertimbangkan terutama menyangkut aspek: emosi (yang tidak stabil), kreativitas (ditunjang oleh bertambahnya pengetahuan dan kesadaran diri serta lingkungan), mental (haus untuk belajar. bereksperimen, dan berpetualang. Bimbingan guru diperlukan bagi siswa yang kurang percaya diri, akibat sikap kritis berlebihan atas kekurangmampuannya.

Pendekatan yang dianjurkan adalah pendekatan proses, pendekatan inspiratif, pendekatan demokratis, pendekatan iklim sosio-emosional, dan pendekatan tingkah laku. Model pembelajaran yang dapat dipilih adalah model nondirektif, model sinektik, dan model terpadu. Metode dapat dipilih dari sejumlah metode umum dan khusus.

Desain instruksional perlu dipelajari untuk menentukan efektivitas pembelajaran. Model desain instruksional yang dapat dipilih antara lain model PPSI dan model desain instruksional dari Jerold Kemp. Kedua model tadi sama-sama memuat komponen tujuan, kegiatan belajar-mengajar, dan alat evaluasi serta adanya umpan balik.
Desain pembelajaran seni rupa untuk SLTA/SMU

Pembelajaran seni rupa di SMU merupakan bagian dari bidang studi Pendidikan Seni, yang dimaksudkan sebagai pendidikan sikap estetis untuk membantu pembentukan manusia yang seimbang-selaras dalam perkembangan fungsi jiwa dan perkembangan pribadi dengan memperhatikan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta hubungan dengan Tuhan. Fungsi pendidikan seni adalah untuk mengembangkan sikap estetis melalui kegiatan berapresiasi dan berkarya kreatif. Tujuan kurikuler pendidikan seni adalah dihasilkannya lulusan yang memiliki kemampuan estetis untuk mendukung upaya pendidikan yang lebih menyeluruh.

Materi pelajaran kesenirupaan meliputi wawasan seni dan apresiasi seni. Wawasan seni meliputi pengertian seni, fungsi seni, tujuan seni, perkembangan seni, dan media seni. Apresiasi seni dilakukan melalui pengamatan karya yang terpadu dalam kegiatan berkarya seni. Sejarah seni meliputi pengenalan dan kajian atas karya-karya unggulan kebudayaan-kebudayaan besar dunia (dapat dipilih: Mesir, Yunani, Persia, India, Cina, Asia Pasifik).

Di antara sifat-sifat/karakteristik siswa yang utama yang perlu diperhitungkan dalam pembelajaran adalah emosi yang sudah stabil, senang kepada kegiatan ilmiah, idealis, memiliki daya kreatif. Pusat minat berkisar pada dirinya dan orang dewasa, proses dan teknik, pekerjaan dan kehidupan.

Cara memilih pendekatan, metode dan model-model belajar hampir sama dengan yang sudah dibahas pada kegiatan belajar 2. Pengembangan desain instruksional dapat diperluas dengan model-model lain selain dari model PPSI dan model Kemp, yaitu model Banathy dan model dari Dick & Carey.
Desain pembelajaran seni rupa untuk orang dewasa di satuan-satuan pendidikan luar sekolah

Studi psikologi menyimpulkan adanya perbedaan antara belajar pada anak-anak dengan belajar pada orang dewasa. Paedagogi mengkaji bagaimana mendidik membelajarkan anak/siswa; andragogi adalah seni dan ilmu tentang bagaimana orang dewasa belajar. Dalam penggunaannya, prinsip-prinsip paedagogi dapat saja diberlakukan untuk orang dewasa dalam pendidikan luar sekolah dan begitu juga sebaliknya, andragogi untuk para siswa dalam pendidikan sekolah.

Tujuan belajar orang dewasa pada umumnya berkaitan dengan faktor-faktor: efisiensi pekerjaan, ekonomi, partisipasi dan tanggung jawab sebagai warga negara, hubungan sosial, minat khusus, dan kesadaran diri. Tujuan belajar seni rupa antara lain: pertama, sebagai hobi untuk mengimbangi kehidupan rutin melalui kegiatan yang sesuai dengan minat/bakat; kedua meningkatkan kemahiran seni rupa, yaitu bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan/kegiatan di bidang kesenirupaan.

Prinsip belajar orang dewasa antara lain: kemandirian, belajar berdasar pengalaman, kesiapan belajar berdasar kebutuhan, belajar berdasar kompetensi fungsional. Berdasarkan asumsi: orang dewasa dapat belajar, belajar berlangsung secara internal, ada prinsip belajar dan ada prinsip mengajar secara optimal yang dapat dipelajari.

Pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan iklim sosio emosional, pendekatan aktualisasi diri, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan demokratis, pendekatan proses kelompok, dan pendekatan inspiratif. Metode ceramah, debat, diskusi, simulasi, dan lain-lain terutama untuk belajar pengetahuan dan apresiasi; metode eksperimen, metode meniru, kerja kelompok (tipe group work dan collective painting), dan metode global, sesuai untuk kegiatan belajar keterampilan. Pemilihan materi dan media dapat dirundingkan antara warga belajar dengan fasilitator.

Ada dua kegiatan penting dalam menyusun desain pembelajaran, yaitu: memilih model desain dan menganalisis kebutuhan belajar. Model desain pembelajaraan terkenal dalam andragogi adalah desain proses (Knowles dkk.). Kebutuhan belajar yang berkaitan erat dengan minat dan motivasi perlu dirumuskan secara spesifik. Kebutuhan belajar seni rupa meliputi kebutuhan dalam aspek pengetahuan, apresiasi, keterampilan dan pemecahan masalah.

Dalam pelaksanaannya, cara-cara belajar menurut prinsip andragogi dapat digunakan untuk anak-anak/siswa di sekolah. Sebaliknya: paedagogi untuk belajar orang dewasa dalam pendidikan luar sekolah. Hal itu tergantung dari sasaran belajar yang ingin dicapai.

KONSEP DAN STRATEGI PEMBELAJARAN KERAJINAN TANGAN
Hakikat strategi kerajinan tangan

Strategi dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan dan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuannya. Setiap individu atau kelompok pada dasarnya memiliki strategi namun masing-masing memiliki perbedaan-perbedaan. Perbedaan tersebut didasarkan pada dua alasan, yakni karena latar belakang lingkungan; dan karena sistem pengetahuan yang dimilikinya.

Suatu strategi berdaya guna bilamana memiliki kejelasan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya. Namun demikian tidak ada strategi yang menetap (tidak berubah). Penerapan strategi senantiasa disesuaikan dengan perubahan lingkungan masyarakat itu sendiri.

Belajar adalah suatu usaha atau tindakan yang direncanakan yang ditujukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Potensi itu berupa kognitif; afektif dan psikhomotorik. Pembelajaran yang menggunakan strategi tertentu memungkinkan akan lebih mencapai tujuan dibandingkan dengan yang tidak. Karena itu pembelajaran pada dasarnya usaha menerapkan strategi yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan, yakni pengembangan potensi peserta ajar secara optimal.

Kerajinan tangan adalah hasil ciptaan manusia dalam bentuk benda yang memiliki daya tarik tersendiri yang dikerjakan melalui keterampilan tangan. Jenis benda ini bermacam ragam, namun umumnya para ahli mengkategorikan dalam dua bagian, yakni benda kerajinan untuk hiasan dan benda kerajinan praktis. Benda kerajinan telah diproduksi oleh Bangsa Indonesia sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Saat ini masyarakat berusaha mengembangkannya untuk dijadikan komoditi ekspor, karena dilihat dari bahan ataupun tekniknya memiliki daya tarik tersendiri.
Desain pembelajaran kerajinan tangan untuk siswa SLTP

Pembelajaran Mata Pelajaran Kerajinan tangan di SLTP harus disesuaikan dengan perkembangan dan karakter siswa pada umumnya. Usia 12-15 tahun secara kejiwaan merupakan periode pancaroba, di mana gejolak kejiwaan tengah berlangsung dengan cepat serta kebiasaan umum mereka membentuk ‘geng’. Seorang guru perlu memahami keadaan yang demikian untuk kemudian dijadikan dasar menerapkan strategi pembelajaran secara efektif dan efisien.

Sejalan dengan tujuan dan fungsi pembelajaran kerajinan tangan yang berusaha mengembangkan keterampilan berkarya dan menumbuhkembangkan cita rasa keindahan, maka pemilihan pendekatan untuk mencapai hal itu menjadi penting. Pendekatan permisif yang menekankan pada ajakan secara halus yang disertai dengan metode kerja kelompok dipandang dapat berdaya guna untuk pembelajaran kerajinan tangan.

Demikian halnya dengan cara memilih bahan dan sumber belajarnya. Bahan dan sumber belajar itu amat disarankan dengan memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar. Hal ini didasarkan, bahwa pembuatan benda kerajinan yang kreatif dan unik harus bertumpu pada anggapan “bahan yang tidak berharga menjadi berharga”.

Model mengajar ekspresif-kreatif sebagai bagian dari sinektik berkesesuaian dengan pandangan dan orientasi pembelajaran kerajinan tangan. Dalam model ini siswa diajak untuk belajar mengungkapkan perasaan dan gejolak emosinya itu dalam bentuk karya yang ekspresif. Anak juga dirangsang untuk menciptakan benda kerajinan yang memiliki keanehan dan kebaruan sebagai substansi dari kerativitas.

Dengan begitu pembelajaran kerajinan tangan yang kreatif hanya bisa dilakukan oleh guru yang kreatif juga. Dengan begitu seorang guru dapat memahami dan mendeteksi pada tingkatan kreativitas mana siswa itu berada sebagai titik tolak penilaian pembelajaran.
Model pembelajaran kerajinan tangan untuk siswa SMU

Salah satu ciri siswa SMU secara umum adalah dapat menanggapi sesuatu dengan kritis. Karakter ini menjadi potensi besar dalam pembelajaran kerajinan tangan (seni kriya). Seorang guru kerajinan tangan yang berpengalaman dalam berinteraksi dengan siswa tidak akan banyak memberikan petunjuk, melainkan dengan memberikan stimulus dengan takaran tepat agar menghasilkan respon yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pendekatan inspiratif yang menekankan pada aktivitas siswa dalam menggugah inspirasi berkarya kiranya relevan diterapkan dalam pembelajaran pada tingkat ini. Inspirasi tidak berupa khayalan melainkan sesuatu yang konkret seperti ditemukannya bahan dan alat tertentu yang dapat diwujudkan dalam karya. Dalam hal ini inspirasi bisa berjalan bilamana ditemukan area pusat minat dan daya cipta.

Landasannya adalah setiap orang akan melakukan suatu pembelajaran secara serius manakala materinya amat menggugah minatnya. Materi tersebut menjadikan rangsangan untuk melakukan ciptaan (daya cipta). Seorang guru adalah orang yang senantiasa mencari isu-isu apa yang sekiranya akan menggugah siswa. Di antara isu itu berupa pengungkapan pengalaman pribadi yang manis,, tokoh pupuler, kisah atau kejadian yang menyangkut bersama dan lain-lain. Metode untuk mengoperasionalkan pandangan ini berupa ekspresi bebas, demonstrasi dan problem solving.

Model pembelajaran yang sejalan dengan hal itu yakni keterampilan proses yang bukan penekanan pada hasil, tetapi pada proses.
Desain pembelajaran kerajinan tangan untuk orang dewasa

Salah satu ciri siswa SMU secara umum adalah dapat menanggapi sesuatu dengan kritis. Karakter ini menjadi potensi besar dalam pembelajaran kerajinan tangan (seni kriya). Seorang guru kerajinan tangan yang berpengalaman dalam berinteraksi dengan siswa tidak akan banyak memberikan petunjuk, melainkan dengan memberikan stimulus dengan takaran tepat agar menghasilkan respon yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pendekatan inspiratif yang menekankan pada aktivitas siswa dalam menggugah inspirasi berkarya kiranya relevan diterapkan dalam pembelajaran pada tingkat ini. Inspirasi tidak berupa khayalan melainkan sesuatu yang konkret seperti ditemukannya bahan dan alat tertentu yang dapat diwujudkan dalam karya. Dalam hal ini inspirasi bisa berjalan bilamana ditemukan area pusat minat dan daya cipta.

Landasannya adalah setiap orang akan melakukan suatu pembelajaran secara serius manakala materinya amat menggugah minatnya. Materi tersebut menjadikan rangsangan untuk melakukan ciptaan (daya cipta). Seorang guru adalah orang yang senantiasa mencari isu-isu apa yang sekiranya akan menggugah siswa. Di antara isu itu berupa pengungkapan pengalaman pribadi yang manis,, tokoh pupuler, kisah atau kejadian yang menyangkut bersama dan lain-lain. Metode untuk mengoperasionalkan pandangan ini berupa ekspresi bebas, demonstrasi dan problem solving.

Model pembelajaran yang sejalan dengan hal itu yakni keterampilan proses yang bukan penekanan pada hasil, tetapi pada proses.

EVALUASI PENDIDIKAN SENI

Evaluasi pendidikan seni musik

Evaluasi pendidikan seni musik adalah penilaian yang dilakukan berdasarkan pada penaksiran pada kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. Evaluasi ini sangat penting dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Tujuan dilakukannya evaluasi adalah untuk memberi informasi pada guru mengenai: apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, serta efektif atau tidak efektifnya metode-metode dan materi-materi yang digunakan guru tersebut. Informasi ini selanjutnya digunakan guru untuk pengembangan tujuan-tujuan pembelajaran selanjutnya.

Dalam setiap program pembelajaran musik, guru diharapkan dapat memiliki tujuan-tujuan pembelajaran, memberikan kesempatan-kesempatan kepada siswa untuk beraktivitas musik secara aktif serta mengevaluasi peningkatan-peningkatan pengetahuan dan kemampuan untuk mencapai tujuan keseluruhan yang tercantum dalam kurikulum di masing-masing tingkat pendidikan.

Sumber Buku Strategi Pembelajaran Kesenian dan Ketrampilan Karya Ita Milyartini, Narawati S. Zen dan Endang Taryo

About these ads

Satu Tanggapan

  1. thx so much

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.