Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 ( Aspek Kognitif)

Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 ( Aspek Kognitif)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam melakukan pembelajaran menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas (mastery learning). Sedangkan dalam penilaian menerapkan sistem penilian berkelanjutan yang mencakup 3 aspek yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif
Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu; ranah kognitif, psikomotor dan afektif Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap mata ajar selalu mengandung ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu berbeda. Mata ajar praktek lebih menekankan pada ranah psikomotor, sedangkan mata ajar pemahaman konsep lebih menekankan pada ranah kognitif. Namun kedua ranah tersebut mengandung ranah afektif
Menurut Bloom (1979) ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yangpencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan akti vitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.
Ranah kognitifberhubungan erat dengan kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, rnemahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Sedangkan ranah afektif mencakup watakperilaku seperti sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral.
Penilaian Aspek Kognitif
Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek yaitu ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Secara eksplisist ketiga aspek tersebut tidak dipisahkan satu sama lain. Apapun jenis mata ajarnya selalu mengandung tiga aspek tersebut namun memiliki penekanan yang berbeda. Untuk aspek kognitif lebih menekankan pada teori, aspek psikomotor menekankan pada praktek dan kedua aspek tersebut selalu mengandung aspek afektif
Aspek kognitifberhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami, menghapal, mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980), kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarkis yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi
Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hapalan saja. Pada tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakanmasalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contohsiiatu konsep atau prinsip. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, memebedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab—akibat. Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. Pada tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti, sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yangmengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang
berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut yaitu: . ,.
1. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut siswa untuk
mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima
sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminologi strategi problem
solving dan lain sebagianya.
2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan
pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.
Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau
menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
3.Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan
untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke
dalam situasi yang baru, serta memecahlcan berbagai masalah yang timbul
dalam kehidupan sehari-hari.
4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen
atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau
kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada
atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan
menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara
membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur
yang telah dipelajari.
5. Tingkat sintesis (synthesis’), sintesis merupakan kemampuan seseorang
dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur
pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih
menyeluruh.
6. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang
mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan
tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan
menggunakan kriteria tertentu.
Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan. Sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik.
Maka apabila bahan ajar telah diajarkan secara lengkap sesuai dengan program yang telah ditetapkan maka membuat alat penilaian (soal) dengan formulasi perbandingan sebagai berikut:
1.soal yang menguji tingkat pengetahuan peserta didik : 40%
2. soal yang menguji tingkat pemahaman peserta didik : 20%
3.soal yang menguji tingkat kemampuan dalam penerapan pengetahuan : 20%
4. soal yang menguji tingkat kemampuan dalam analisis peserta didik .: 10%
5.soal yang menguji tingkat kemampuan sintesis peserta didik : 5%
6.soal yang menguji kemampuan petatar dalam mengevaluasi : 5%
Total formulas! soal untuk satu kali ujian yaitu: 100%
Dengan menggunakan formulasi perbandingan soal di atas mempermudahseorang guru untuk memperjelas cara berfikirnya dan untuk memilih pertanyaan-pertanyaan (soal-soal) yang akan diujikan, selain itu juga dapat membantu seorang guru agar terhindar dari kekeliruan dalam membuat soal.
Seorang guru dituntut mendesain program/rencana pembelajaran termasuk di dalamnya rencana penilaian (tes) diantaranya membuat soal-soal berdasarkan kisi-kisi soal dan komposisi yang telah ditetapkan.
Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portopolio dan ( 8) performans.

Mengenal Karya Monumental M. Stogdill dan Bernard M. Bass

Mengenal Karya Monumental M. Stogdill dan Bernard M. Bass

Perhatian terhadap seluk beluk kepemimpinan pada hakikatnya sudah ada sejak awalnya, yaitu pada waktu manusia hidup berkelompok. Secara filsafiah, berdasarkan pandangan hidup Pancasila dan UUD 1945, manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan makhluk sebagai pribadi sekaligus sebagai raakhluk sosial. Jadi, karena keperluan praktis, perhatian terhadap masalah kepemimpinan sudah tua umurnya. Akan tetapi sebuah studi ilmiah tentang kepemimpinan yang modern, belumlah lama dilakukan.
Salah satu usaha di bidang ini yang sangat terkenal, yang seringkali dipakai sebagai sumber acuan adalah studi Ralph M. Stogdill, yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Handbook of Leadership, yang sepeninggalnya direvisi dan diperluas edisinya oleh Bernard M. Bass. Stogdill telah menulis dalam pengantar buku tersebut untuk menggambarkan proses dan hasilnya.
Dalam tahun 1966 Yayasan Smith Richardson di Amerika Serikat telah memberi saran kepada Ralph M. Stogdill, untuk menganalisa secara sistematis dan menelaah kepustakaan kepemimpinan. Pada waktu itu, diperkirakan pekerjaan itu akan dapat diselesaikan dalam waktu dua atau tiga tahun. Ternyata proses dan hasilnya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan semula.
Stogdill telah merumuskan tugasnya itu untuk mengumpulkan semua publikasi tentang kepemimpinan yang dapat ditemukan pada waktu itu di Amerika Serikat dan membuat rangkuman temuannya itu. Hasilnya adalah sebuah buku sumber yang barsifat eksperimental. Buku seperti ini memang jelas tidak dimaksudkan untuk memberikan hiburan mengilhami, atau menyadarkan suatu resep mudah untuk memecahkan masalah-masalah kepemimpinan. Buku ini ditujuikan bagi pembaca yang serius (sungguh-sungguh) yang ingin mengetahui apa hasilnya, siapa yang melakukan riset, dan kesimpulan apa yang dapat ditarik dari sejumlah kumpulan publikasi yang telah dipelajari ini.
Selama 40 tahun iriset tentang kepemimpinan telah menghasilkan sejumlah penemuan yang menakjubkan. Banyak survei tentang masalah-masalah khusus telah dipublikasikan tetapi jarang mampu mencakup semua topik dalam studi itu yang pernah dipelajari. Adalah sukar untuk mengetahui apabila ada yang dapat meyakinkan dengan bukti-bukti dalam riset ulangan. Pengumpulan data empiris yang tanpa akhir ini tidak dapat menghasilkan suatu pengertian yang integral tentang kepemimpinan. Itulah sebabnya diperlukan untuk menelaah dan raenghitung agar dapat menghasilkan suatu temuan yang berharga. Praktek kepemimpinan-kepemimpinan menurut Stogdill perlu didasarkan pada temuan-temuan eksperimental yang validitasnya tinggi. Riset yang akan datang perlu disusun untuk mengadakan eksplorasi masalah-masalah baru dan bukan mengulangi apa yang telah dilakukan pada waktu yang lalu. Menurut ahli ini, sesungguhnya keinginan untuk mengetahui saja dalam hal ini sudah merupakan suatu pembenaran yang cukup untuk mengadakan suatu analisis yang bersifat komprehensif tentang kepustakaan mengenai kepemimpinan.
Tugas untuk menelaah dan menyusun abstraksi tentang kepustakaan mengenai kepemimpinan telah dimulai di Amerika Serikat, pada tahun 1946, yang disponsori oleh kantor riset Angkatan Laut Amerika Serikat. Salah satu hasilnya adalah “Personal Factors Associated With Leadership A Survey of the Literature”, 1948. Dalam tahun 1946; Stogdill mendalami selama tiga tahun dengan dana dari fayasan Smith Richardson selama 2 tahun dan dari Universitas Negara Bagian Ohio selama 1 tahun.
Lebih dari 5 ribu abstracts (rangkuman) telah disiapkan. Hanya yang relevan dengan topik kepemimpinan disurvei.
Metode yang dipakai dalam hal ini melalui beberapa tahap.
1)mempersiapkan suatu abstraksi yang komprehensif setiap buku dan majalah.
2)memilih dan memilih lagi semua abstraksi tersebut dalam
kategori yang relevan.
3)mengadakan tabulasi semua temuan tentang topik kepemimpinan.
4)mengadakan analisis, merangkumkan dan menafsirkan semua hasilnya.
Ralph M. StogdilTdibantu oleh beberapa orang, sehingga bukunya dapat diterbitkan pada tahun 1974. Dan buku ini segera menjadi buku standard pada waktu itu.
Pada tahun 1978 Stogdill meninggal, tetapi sebelumnya ia telah minta kepada Bernard M. Bass, seorang guru besar Universitas Negara Bagian New York untuk bersama-sama menyusun revisi buku itu pada edisi berikutnya. Dengan demikian, Bass sendiri akhirnya berhasil merevisi dan memperluas dalam edisi berikutnya yang diterbitkan pada tahun 1981.
Ralph M. Stogdill (1905-197 8) adalah profesor ilmu manajemen dan psikologi di Ohio State University, di mana ia mengabdi bertahun-tahun lamanya. Hasil karyanya antara lain:
1)Individual Behavior and Grenp Achievement (1959).
2)Managers, Bloyers, Organizations (1965).
Sedangkan Bernard M. Bass adalah profesor Organizational Behavior di State University New York. Dan hasil karyanya yang menyangkut kepemimpinan dan organisasi termasuk:
1)Leadership, Psychology and Organizational Behavior (1960).
2)Organizational Psychology (1965, 1979).
3)Assessment of Manager: An International Comparison (1979).
4)People,-Wark and Organizations (1972, 1981).
Bernard M. Bass yang merivisi dan yang mengedit lebih luas sehingga terbitlah buku yang berjudul Stogdill’s Handbook of Leadership a survey of theory and research, pada tahun 1981. Buku ini terdiri atas 8 bagian.
Bagian 1: membicarakan tentang pengantar riset dan teori kepemimpinan, yang meliputi tentang konsep kepemimpinan^ tipe dan fungsi kepemimpinan, dan sebuah pengantar tentang berbagai teori dan model kepemimpinan.
Bagian 2: membicarakan tentang pemimpin sebagai seorang pribadi, yang meliputi tentang leadership traits 1904-1970; tingkat kegiatan dan kompetensi seorang pemimpin; social insight, emphasy, authoritarivaison, nilai, kebutuhan dan kepuasan kepemimpinan; kedudukan, esteem dan karisma.
Bagian 3: membicarakan tentang kekuasaan (power) dan legitimasi, tentang distribusi kekuasaan, konflik dan legitimasi dalam peranan kepemimpinan; kewibawaan, pertanggungjawaban dan delegasi.
Bagian 4: membicarakan tentang interaksi pemimpin dan pengikut yang meliputi reinfarecement, leadership dan followership,dan saling ketergantungan antara pemimpin dan pengikut.
Bagian 5: membicarakan tentang manajemen dan gaya kepemimpinan, yang meliputi kepemimpinan dan manajemen dalam situasi kerja, kepemimpinan demokratis berhadapan otokratis, kepemimpinan partisipatif berhadapan direktif, kepemimpinan berwawasan hubungan dan berwawasan tugas, tentang consideration dan initiating structure, tentang laisser faire leadership berhadapan dengan motivasi untuk memimpin (manage).
Bagian 6: membicarakan tentang aspek-aspek situasional dari kepemimpinan yang meliputi tentang kepemimpinan, organisasi dan lingkungan, tentang leaders dan their immediate groups, tentang task determinants of leadership, kepemimpinan di bawah stress, kepemimpinan dan ruang antara personal, jaringan komunikasi transfer kepemimpinan.
Bagian 7: membicarakan tentang kondisi-kondisi khusus, seperti antara lain wanita dan kepemimpinan, kepemimpinan dalam berbagai kebudayaan.
Bagian 8: membicarakan tentang aplikasi dan implikasi antara lain seperti latihan kepemimpinan dan perkembangan manajemen.
Bagian 8 ini sebenarnya berisi antara lain sebuah rangkuman buku karangan Stogdill dan Bass tersebut yang tebalnya 355 halaman itu. Sesudah mengadakan rangkuman kedua ahli mencoba mengidentifikasi beberapa isu kepemimpinan dalam dekade 80-an serta sesudahnya, mengingat berbagai pertimbangan yang menyangkut kemajemukan dan perubahan masyarakat.
Juga masalah isu yang menyangkut metodologi, misalnya antara studi laboratorium dan studi lapangan, keterbatasan sample, masalah tolok ukuran, masalah hubungan antara dua orang atau antarkelompok, masalah fokus pada perseosi atau perilaku.
Masalah isu yang bersifat ssbstanding seperti masalah kepribadian dan situasi peranan kepemimpinan, kekuasaan sosial interaksi pemimpin dan pengikut, tumpang tindihnya dimensi gaya kepemimpinan, tentang ukuran-ukuran yang dianggap baku, tentang kesalahan riset, tentang kepemimpinan transformational dan transaksional, tentang kriteria efektivitas pemimpin, tentang faktor penentu kepemimpinan.
Akhirnya, disingguny pula tentang beberapa hal yang menyangkut mengenai berkembangnya aplikasi hasil riset kepemimpinan di samping adanya suara-suara yang berupa kritik.
Berbagai usaha dilakukan yang bersangkutan dengan latihan kepemimpinan. Pengalaman apakah yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif? Apakah seseorang harus menjadi ahli hukum untuk menjadi pemimpin legislatif? Apakah seseorang perlu berpengalaman di bidang legislatif untuk menjadi seorang presiden yang efektif.
Di samping itu sejak tahuri 80-an timbullah berbagai minat khusus di bidang kepemimpinan, misalnya antara lain mengenai pemimpin wanita, pentingnya originalitas dan kreativitas, tentang sikap optimistik dan pesimistik mengenai riset kepemimpinan.
Ribuan studi kepemimpinan diakhiri dengan tak ada kemajuan. Stogdill dan Bass mengakhiri buku tebal bermutu ini dengan kata-kata berikut ini:

“Yet, when we compere our understanding of leadership in 1980 with what it was thirty years earlier, we can agree with T.R Mitchell (1979) that there seems to be progress in our field. Theory and research are developing and much of what is being done is being used in practice. There is reason far controlled optimism yet the challenger are still there far the years a head”.

Demikian tentang buku yang mernpakan karya besar Stogdill dan Bass ini. Buku ini boleh dikatakan masih merupakan salah satu buku babon akademik tentang studi kepemimpinan, yang banyak dijadikan buku sumber para pakar di bidang ini. Hal ini dapat dimengerti karena buku ini disusun berdasarkan ribuan buku sumber, pengalaman akademik penulisnya, dan lamanya waktu, tenaga dan biaya penyiapannya.
Walaupun begitu tanpa mengurangi penghargaan kita kepada kedua ahli ini Anda perlu menyadari bahwa buku di atas pertama-tama dan utama ditulis oleh, dari dan untuk keperluan para penggunanya di Amerika Serikat.

Pengertian Kepemimpinan

Pengertian Kepemimpinan

Dari akar kata “pimpin” kita mengenal kata “pemimpin” dan “kepemimpinan”. Dalam Ensiklopedi Umum, halaman 549 kata “kepemimpinan” ditafsirkan sebagai hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia karena adanya kepentingan bersama; hubungan Itu ditandai oleh tingkah laku yang tertuju dan terbimbing dari manusla yang seorang itu. Manusia atau orang ini biasanya disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkan kelompok manusia yang mengikutinya disebut yang dipimpin.
Dalam Webster’s New World Dictionary of the American Language/ kata leadership adalah the position or guidance of a leader atau “the ability to lead”, dan kata leader adalah “a person or thing that leades; directing, commanding, or guiding head, as a group or activity”.
Dalam buku psikologi antara lain dikatakan bahwa “leadership is a relation of an individual to a group, established in the interests of achieving ,some end”. Bayangkan bahwa jumlah kelompok itu banyak, begitu juga jumlah tujuan itu banyak dan cara mencapainya pula. Dalam buku Foundations of Psychology itu dinyatakan bahwa seorang pem.impin yang sukses tergantung dua syarat dalam garis besarnya. Pertama, bahwa pemimpin itu “must share the values, attitudes and interests of the group. This psychological similarity is necessary for the identification of the followers with the leaders”. Syarat kedua, adalah bahwa kualitas pemimpin itu lebih tinggi dari para pengikutnya, akan tetapi tetap bersifat komunikatif dengan yang dipimpinnya.
Mengingat masalah kepemimpinan adalah masalah yang sudah tua umurnya, maka wajarlah kalau terdapat sejumlah tokoh ilmu perigetahuan yang raendalaminya. Juga di Indonesia hal ini berkembang relatif pesat, apalagi setelah kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu perhatian kita sebagai bangsa relatif besar dalam hal ini, balk secara teoritis maupun secara praktis.
Para penulis buku kepemimpinan di Indonesia, antara lain seperti Drs. Wahyo Sumidjo, Prof. Pamudji, Ir. Suyamto, dan Iain-lain, dalam gar is besarnya membahas tentang definisi kepemimpinan. Mereka telah mengutip dan atau menterjemahkan hasil rumusan para tokoh senior asing
dalam hal ini, misalnya seperti:
1) Ralph Mtogdill (1950)
Leadership is a process of ipfluencing the activities of an organized group in its task of goal setting and goal achievement”.
2) Fred E, Fiedler (1967)
“Leadership is the process of influencing group activities toward goal setting and goal achievement”. *
3) Martin J. Gannon (1982)
“Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of subordinates; one of the behavioral in organization”.
4) Paul Hersey, Kenneth H. Blanchard (1982)
Leadership is the process of influacing the activities of an individual or a group in efforts toward goal achievement in a given situation”.
5) George R. Terry (1972)
“Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences others to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires”.
6)Robert Tennenbaum, Irving R. Weschler dan Fred Massarik (1961). “We define leadership as interpersonal influence, exercise in situation and directed through the communication process, toward the attainment of a specific goal or goals”.
7)Richard N. Osborn, James G. Hunt dan Lawrence R Jauch (1980)
- “Leadership - all ways in which one person exert influence over others”.
8) R.D. Agarwal (1982)
“Leadership is the art of influencing others to direct their will, abilities and efforts to the achievement of leader’s goals. In the context of organization, leadership lies in influencing individual and group effort toward the optimum achievement of organizational objectives”.
9) Harold Korntz & Cirill O’Donnell (1976)
“Leaderships in the art of inducing subordinates to accomplish their assignment with zeal and confidence”.
Dari definisi-definisi tersebut, tampak bahwa perumusan tentang kepemimpinan bertitik tolak pada tiga hal. Pertama, ada yang memberikan penekanan pada kepribadian, kemampuan dan kesanggupan pemimpin. Kedua, ada yang memberikan penekanan kegiatan, kedudukan dan perilaku pemimpin. Ketiga, Mda yang memberikan penekanan kepada proses interaksi antara pemimpin, bawahan dalam situasi tertentu.

Leadership dan Headship
Pada umumnya kata leadership diterjemahkan sebagai Kepemimpinan, tetapi headship sebaiknya diterjemahkan sebagai apa? Leadership dapat ditafsirkan dalam dua pengertian. Pertama, meliputi pengertian headship dan kedua, leadership ditafsirkan berbeda dengan headship.
Bass misalnya mendefinisikan leadership dalam arti luas, dalam arti meliputi banyak cara yang dilakukan oleh leaders dan heads serta berbagai sumber yang digunakan untuk mengungkapkan kekuasaannya. Akan dapat puladidef.inisikan secara lebih sempit, seperti misalnya yang dilakukan oleh C.A Gibb (1969), yang membedakan antara leadership dengan headship sebagai berikut:
1)Headship diselenggarakan melalui suatu sistem yang diorganisasikan dan tidak berdasarkan pengakuan spontan para anggotanya.
2)Tujuan kelompok dipilih oleh kepala (head person) sesuai dengan minat dan tidak ditentukan oleh kelompok itu sendiri secara internal.
3)Dalam headship/ hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali tindakan bersama dalam mencapai tujuan.
4)Dalam headship, ada jurang sosial yang lebar antara anggota-anggota kelompok dan kepala (the head), yang mengusahakan agar ada jarak sosial ini, sebagai suatu alat bantu untuk memaksa kelompoknya.
5)Kewibawaan seorang pemimpin (leader) secara spontan diakui oleh para anggota kelompok yang bersangkutan dan terutama oleh para pengikutnya.
Sedangkan kewibawaan seorang kepala (the head) timbul karena adanya kekuasaan dari luar kelompok yang mendukung seseorang itu terhadap kelompok yang bersangkutan, yang tidak dapat disebut sebagai para pengikut sesungguhnya. Mereka menerima dominasi kepalanya (headship) dalam hal penderitaan suatu hukuman (punishment) daripada upaya pengikutnya dalam arti menginginkan hadiah (reward).
Kochan, Schmidt dan de Cotties (1975), menurut Bass, setuju dengan pendapat Gibb karena mereka melihat bahwa para manajer, para pemimpin pelaksana, para pejabat dan Iain-lain dalam kenyataannya lebih banyak melakukan berbagai hal, lebih dari sekedar hanya memimpin saja. Kita tak dapat menafsirkan begitu saja bahwa, misalnya seseorang yang mengikuti semua tatacara seremonial dalam anggota. Akan tetapi menurut definisi yang lebih luas, bagi Bass (1960) pimpinan/seorang kepala (head) adalah merupakan konsekuensi dari kedudukan (status) mereka, jadi merupakan suatu kekuasaan dari jabatan yang dipegangnya. Tanpa kedudukan semacam itu, para pemimpin (leader) masih dapat mencapai tujuan, apabila kekuasaannya itu betul-betul sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok yang dipimpinnya.
Baik kedudukan (status) maupun penghormatan (esteem) tak dapat ditafsirkan. secara kaku. Dalam setiap kelompok akan berbeda. Itulah sebabnya kepemimpinan (leadership) pada hakikat dapat dibagikan kepada para anggotanya dalam derajat tertentu dan dalam situasi yang sama. Istilah kepala, ketua, direktur, menteri, presiden dan lain-lainnya, pada umumnya berkaitan dengan pengertian kekepalaan (headship). Pengertian kekepalaan mempunyai konotasi adanya kedudukan dalam hirarkhi organisasi, yang di dalamnya terkandung tugas, wewenang dan tanggung jawab yang telah ditentukan secara formal. Kekepalaan berkaitan dengan wewenang sah berdasarkan ketentuan formal, untuk membawahi dan memberi perintah-perintah kepada kelompok orang-orang “bawahan” tertentu dan dalam bidang masalah tertentu pula. Seorang kepala unit belum tentu dapat menjadi leader. Demikian pula seorang leader belum tentu mempunyai kedudukan sebagai kepala. Seorang yang tidak mempunyai pengaruh dapat saja menjadi seorang kepala instansi, dan ia baru menjadi seorang leader kalau ia mampu mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, pimpinan yang mengepalai suatu organisasi atau salah satu unitnya harus menyadari bahwa kedudukan formal saja belum tentu merubah perilaku anak buahnya sesuai dengan yang diharapkan agar memudahkan dan melancarkan pencapaian tujuan organisasinya, atau mampu menciptakan kerjasama yang baik antara bawahannya.
Dari pengertian tentang kepemimpinan tersebut di atas, jelas bahwa kepemimpinan itu tidak perlu terkait dengan batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan formal. Maka seseorang yang melaksanakan kekepalaan mungkin belum dapat disebut sebagai orang pemimpin. la sekaligus dapat disebut sebagai seorang pemimpin, apabila ia juga mampu mempengaruhi bawahan sehingga mereka dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti dan mentaati kehendak atau perintah-perintahnya.
Dengan kata lain, membicarakan tentang kepemimpinan, kita akan berbicara tentang pemimpin, tentang yang dipimpin, tentang interaksi keduanya, tentang tujuan yang hendak dicapai, tentang situasi, tentang sekelompok orang yang berada dalam, satu organisasi tertentu.
Ini berarti kita perlu mengetahui secara singkat tentang apa organisasi itu. Organisasi adalah kelompok kerjasama antara orang-orang, yang diadakan untuk mencapai tujuan bersaiqa. Di samping tujuan syarat terbentuknya organisasi juga adanya hubungan, kemauan dan kesesuaian para anggota untuk bekerja sama. Bentuk organisasi bisa formal dan informal, begitulah antara lain pengertiannya secara singkat menurut Ensiklopedi Indonesia, jilid 4. Darwin Cartwright, merumuskan organisasi sebagai “an arrangement of interdependen parts, each having a special function with respect to the whole”. Studi mengenai organisasi manusia ini juga merupakan studi khusus yang mendalam dan roeluas, seperti tergambar dalam buku Handbook of Organizations, dengan

editor James G. March yang diuraikan setebal 1247 halaman. Dalam bab 1, Darwin Cartwright, khusus mengupas tentang “influence leadership control”. la berbicara tentang orang yang berpengaruh, tentang teknik mempengaruhi dan tentang orang-orang yang dipengaruhi.
Studi tentang orang yang berpengaruh ini atau the agent exerting influence Darwin Cartwright menyimpulkan bahwa: “Most theoriets agree/ however, that a major base of influence is the possession, or control, of valued resources, provided these can be used to facilitate or kinder the goal attainment of an other agent”. Di samping pentingnya sumber tertentu yang dipunyai oleh pemimpin, ia perlu motivasi untuk menjawab mengapa ia mau dan mampu mempengaruhi orang-orang lain. Tujuan kelompok itu juga merupakan tujuan pemimpin itu, tetapi tidak dengan sendirinya, sebaliknya dalam arti tidak semua tujuan yang akan dicapai pemimpin itu dengan sendirinya adalah juga tujuan kelompok itu. Ini disebabkan karena kebutuhan, kesempatan, motivasi tujuan dan harapan pemimpin sebagai pribadi dapat lebih banyak, dan lebih majemuk dari kelompok yang dipimpinnya pada umumnya. Mengenai teknik mempengaruhi telah dilakukan berbagai studi, misalnya Russel (1938), Gilman (1962), Hartanyi (1962). Tentang kelompok yang dipimpin telah dilakukan berbagai studi pula misalnya oleh: Kahn dan Katz (1960), Likert (1961), Argyris (1957).
Untuk lebih jelasnya akan dibahas ketiga hal tersebut secara singkat. Pertama, tentang orang yang berpengaruh dalam organisasi. Banyak teori yang mengemukakan bahwa dasar sumber daya yang dipunyai seorang pemimpin itu dapat terdiri atas: “all the resources opportunities, acts, objects, etc. That he can exploit in order to effect the behavior of another”. Tetapi hal ini perlu jelas, bahwa tidak semua sumber daya itu dengan sendirinya akan d.ijadikan sebagai alat kekuasaan. Schulze (195 8) menyimpulkan bahwa ” One should not assume the necessity of any neat, constant, and direct relationship between power as a potential for determinative action, and power as determinative action, itself”. Lippits dan kawan-kawan membedakan .istilah “behavioral contagion” yaitu tingkah laku meniru secara spontan tanpa ada yang menyuruh dan istilah “direct influence”, yaitu tingkah laku seseorang yang secara sadar dan sengaja untuk mempengaruhi kelompok sasarannya agar mengikuti tingkah lakunya.
Kedua, mengenai teknik mempengaruhi. Russel (193 8) dalam menganalisa kekuasaan dalam masyarakat membedakan tiga cara mempengaruhi orang lain dengan jalan (a) secara fisik (by dirrect physical power over his body), (b) dengan memberi hadiah atau hukuman (by rewards and punishments employed) dan (c) dengan mempengaruhi pendapatnya (by influence on opinion). Gilman (1962) menampilkan empat metode, yaitu (a) paksaan (coercion), (b) manipulasi manipulation), (c) otoritas (authority) dan (d) persuasi (persuasion). Harsanyi 1962)
lebih tertarik pada pengaruh di bidang ekonomi, melihat empat cara pula (a) dengan insentif (incentives), (b) dengan hadiah dan ‘hukuman (rewards and punistmends), (c) dengan memanipulasi informasi (supply information or misinformation) dan (d) dengan menggunakan kekuasaan (authority).
Ketiga, mengenai kelompok yang dipimpin. Kahn dan Katz (1960) dan Likert (1961) telah menyusun rangkuman dari sejumlah penelitian yang menyangkut mengenai “the effects of closenees of supervision”. Studi ini menunjukkan bahwa penyelia (supervisor), ternyata berbeda dalam hal misalnya seberapa sering mereka mengecek bawahannya/ atau seberapa sering member.! instruksi, atau seberapa luas kebebasan yang diijinkan sepanjang menyangkut jumlah kerja dan pilihan metoda. Mak.in umum corak supervisinya akan makin kurang dekat kelompok yang dipimpin.
Sebenarnya, dalam buku kepustakaan yang menyangkut organisasi umumnya yang berhubungan dengan pengaruh kepemimpinan dan pengawasan pada khususnya telah banyak diteliti. Dan hal ini tak mungkin diungkapkan semuanya di sini. yang penting telah mempelajari sekedarnya tentang pengertian kepemimpinan, tentang definisinya, tentang studi mengenai organisasi, tentang studi mengenai orang yang berpengaruh, tentang teknik mempengaruhi, dan kelompok yang menjadi ’sasaran pengaruh sekedarnya.
Seperti telah disinggung di muka, bahwa kepemimpinan yang kita pelajari dalam hal ini, adalah salah satu bagian ilmu sosial yang dalam garis besarnya dipelajari secara interdisipliner sebagai cabang ilmu administrasi, ilmu manajemen dan ilmu pemerintahan, Jadi bukan kepemimpinan di bidang lain, mengingat hal ini telah berkembang menyangkut berbagai jenis kepemimpinan.
Kepemimpinan di bidang ilmu administrasi
Dalam kata administrasi, terkandung pengertian tentang segala proses pelaksanaan tindakan kerjasama “sekelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan”, begitu menurut Ensiklopedi Indonesia jilid 1, halaman 82. Apabila ini diterapkan pada organisasi yang bernama negara, maka kita dapat menggunakannya secara lebih khusus, yaitu administrasi negara. Secara historis, administrasi negara di Indonesia, dahulu digunakan dengan kata “administratie” dalam bahasa Belanda atau dalam bahasa Inggris, lazimnya digunakan kata “public administration”. Sudah jelas, artinya secara khusus akan berbeda, karena tujuan negara Republik Indonesia tidak sama dengan negara lain, akan tetapi secara akademik, ada bagian-bagian yang bersifat universal. Sebagai contoh dapat dikatakan, bahwa pada umumnya dalam derajat tertentu tujuan suatu negara adalah memberikan pelayanan kepada warga negaranya, keluarga dan mfesyarakat dari negara yang bersangkutan.
Oleh karena itu, apabila kita membicarakan kepemimpinan dalam konteks administrasi negara, kita akan berbicara tentang organisasi yang disebut negara, tentang manusianya, yang disebut aparatur negara, dan tentang tata kerjanya sesuai dengan ketentuan dan prosedur kerja yang berlaku dalam negara itu, dalam arti yang seharusnya ditaati oleh aparatur dan warganegaranya.
Jadi membahas kepemimpinan dalam konteks administrasi negara, secara khusus akan membahas tentang konsep-konsep, pola-pola tindakan, prestasi yang diharapkan oleh aparatur negara yang bersangkutan.
Robert L. Peabody dan Francis E. Rourke, te.lah menulis tentang penelitian yang menyangkut public bureaucracies di negara-negara yang makin majemuk administrasinya. Dalam garis besarnya, studi tentang kepemimpinan telah makin mendekati. Mereka membedakan antara istilah leadership dan authority. Leadership lebih komprehensif daripada authority. Di samping itu leadership perlu dibedakan lagi sebagai kualitas pribadi dan leadership sebagai fungsi organisasi. Bavelos menjelaskan perbedaan ini sebagai berikut:
“The first refers to a special co.noination of personal
ciiaracteristics; the second refers to the distcibution throughout
an organisation of decision, making powers”.
Yang pertama, mengacu pada kualitas dan kemampuan pribadi; sedang yang kedua mengacu pada pola-pola kekuatan dan kekuasaan da lain ocganisasi yang bersangkutan. Keduanya penting dan berguna,, akan tetapi k.ifea perlu sadar membicarakan dalam arti yang mana dan mengetahui dalam kondisi .apa keduanya perlu dipertimbangkan bersama agar dapat ineitiahami situasi cirganisasi yang bersangkutan secara khusus.
Banyak ahli ilmu-ilmu sosial yang telah meneliti dan menyusun berbagai teori mengenai perilaku organisasi, misalnya seperti Bernard (1933), Blan & Scott (1962), Etzioni (1961) dan lain sebagainya.
Sepanjang menyangkut birokrasi public lingkungan sangat perlu diperhatikan mengingat pengaruhnya sangat besar dalam pelaksanaannya.

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN SISWA KELAS I SMA BAB II

BAB II LANDASAN TEORI
A. Karangan
Tarigan (1982:3) mengatakan bahwa menulis atau mcngarang merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipcrgunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak sccara tatap rnuka dengan orang Iain. Dalam kegiatan menulis penulis haruslah terampil memanfaatkan struktur bahasa dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Karangan adalah hasil dari Inspirasi seseorang yang dituangkan melalui tulisan. Nurdin (2005:231) mengatakan bahwa karangan adalah bcntuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti menyimpulkan karangan adalah hasil dari inspirasi seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang.
Keraf (1979:107) menyatakan bahwa tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Untuk menulis suatu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Langkah-langkah dalam menyusun karangan adalah sebagai berikut. 1. Menentukan topik dan tema
Ciri-ciri topik yang baik adalah sebagai berikut:
a menarik perhatian penulis;
b. dikuasai oleh penuiis;
c. menarik dan aktuai;
d. ruang lingkupnya tcrbatas.
Topik yang dapat dijadikan inspirasi dalam mengarang, diantaranya:
a. pengalaman pribadi;
b. hobi dan keterampilan;
d. pendapat pribadi;
e. peristiwa aktuai;
f. masalah-masalah umum, seperti keagamaan, sosial, dan politik;
g. kilasan biografis;
h. kejadian khusus.
Setelah pencntuan topik, langkah selanjutnya adalah merumuskan tema. Perumusan tema hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1.Kejelasan, tema hendaknya dirumuskan dengan kalimat yang jelas, tidak
bertele-tcle dan berbeiit-belit. Kejelasan tema sangat menentukan arah
pengembangan karangan.
2.Kesatuan, tema yang baik memiliki satu gagasan sentral. Sentralitas gagasan
ditandai oleh jumlah masalah pokok yang hendak digarap pcnulis.
3. Keaslian dapat diukur dari beberapa sudut, pertama dari pilihan pokok persoalan, dari sudut pandang, pendekatannya, dari rangkaian kalimat-kalimatn, dan dari pilihan kata. 2. Merumuskan judul karangan
Judul karangan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut.
3.Relevan, ada hubungan dengan isi karangan.
4.Provokatif, dapat menimbulkan hasrat keingintahuan pcmbaca.
5.Singkat mudah dipahami dan mudah pu!a diingat.
B. Alinea
Ah’nea bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri dari kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari kesatuan kalimat saja. Alinea tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. la merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk scbuah gagasan. Alinca akan menjadi lebih jelas oleh uraian-uraian tambahan, untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas (Keraf,1979 : 62 ).
Pendapat lain Nurdin, (2005:137) mengatakan paragraf (alinca) adalah suatu kesatuan pikiran yang merupakan kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Paragraf merupakan himpunan dari berbagai kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. Dalam suatu paragraf, gagasan tersebut menjadi lebih jelas oleh uraian-uraian tambahan untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas.
Berdasarkan dua pendapat di atas, dapat disimpulam bahwa alinea dan paragraf mengandung pengertian yang sama mengungkapkan satu ide pokok.. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan kata paragraf atau kata alinca. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa alinea suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat dengan uraian-uraian tambahan maksud dan tujuannya untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas, yang dalam ragam tulis ditandai
10
olch baris pertama menjorok kedalam. Pendapat lain dikemukakan oleh Hayon ( 2007 : 32 ), seberapa besar jumlah kalimat yang mengisi sebuah paragraf tidak dapat ditetapkan secara pasti. Yang diketahui hanyalah sebuah paragraf memiliki kalimat utama yang berisi gagasan utama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa sebuah paragraf seharusnya terdiri atas lebih dari satu kalimat. Walaupun demikian, kadangkala ditemukan sebuah paragraf hanya dibentuk oleh sebuah kalimat bahkan banyak kalimat sampai menempati satu halaman.
Pembahasan suatu gagasan yang sama dalam suatu rangkaian kalimat memudahkan orang untuk mengerti pokok pembicaraan pada paragraf itu. Orang akan mudah memahami isi tulisan atau karangan secara kcseluruhan dan akan tertarik untuk mencruskan bacaannya.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa paragraf biasanya diartikan sebagai kumpulan beberapa kalimat, namun ada paragraf hanya dibentuk oleh sebuah kalimat. Menurut Keraf,( 1979:63) hal tersebut disebabkan karena pertama, paragraf itu kurang baik dikembangkan oleh penulisnya ; penulis kurang memahami alinea. Kedua, memang sengaja dibuat oleh pengarang, karena ia sekcdar mengemukakan gagasan itu bukan untuk di kembangkan, atau pengembangannya terdapat pada paragraf berikutnya.
C. Macam-macam Alinea
Keraf (1979:63) dalam bukunya yang berjudul Komposisi menyatakan bahwa berdasarkan sifat dan tujuannya alinea dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
11
1. Alinea Pembuka
Alinea pembuka berfungsi sebagai pembuka, pengantar karangan atau pokok pikiran dalam bagian karangan. Sifat-sifat dari alinea ini harus menarik minat dan perhatian pembaca. Alinea pembuka yang pendek jauh lebih baik, karena alinea-alinea yang panjang akan menimbulkan kebosanan pembaca.
2. Alinea penghubung
Yang dimaksud dengan alinea penghubung adalah semua alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan alinea penutup. Inti persoalan yang akan dikemukakan terdapat dalam alinea-alinea penghubung. Oleh karena itu, dalam membentuk alinea-alinca penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara alinea dengan alinea itu teratur, serta disusun secara logis. Sifat alinea-alinea penghubung tergantung pula dari jenis karangannya. Dalam karangan yang bersifat deskriptif, naratif atau eksposisi, argumentasi dan persuasi, alinea-alinca itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa alinea disiapkan sebagai dasar atau landasan, untuk kemudian melangkah kcpada alinea-alinea yang menekankan pendapat pengarang
3. Alinea Penutup
Alinea penutup adalah alinea yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain alinea ini mengandung kesimpulan pendapat yang telah diuraikan dalam alinea-alinea penghubung.
Alinea yang baik menurut Keraf ( 1979:67) harus memenuhi tiga syarat, yaitu: kohesif, koherensi, dan pengcmbangan alinea.
12
a. Kohesif
Yang dimaksud dengan kohesif dalam alinea adalah keterikatan atau hubungan yang erat semua yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal, suatu tcma tertentu. Dengan demikian, tiap alinea hanya mengandung satu pikiran utama atau satu tema. Oleh sebab itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan tema atau pikiran tersebut akan menyulitkan pembaca dalam memahami. Jadi, dalam tiap alinea hanya boleh ada satu pikiran utama atau kalimat utama.
b. Koherensi
Yang dimaksud dengan koherensi adalah hubungan yang logis antar bagian karangan. Kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain membentuk alinea. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat yang membangun alinea itu baik, wajar dan mudah dipahami tanpa kesulitan. Gunanya agar pembaca dengan mudah mengikuti jalan pikiran penulis.
c. Pengembangan alinea
Yang dimaksud pengembangan alinea adalah penyusunan atau perincian gagasan-gagasan yang membangun alinea. Pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu pertama, kemampuan memerinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan-gagasan bavvahan, dan kedua, kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu uraian yang teratur. Berdasarkan pola mengembangan alinea di bagi menjadi sepuluh, yaitu Generalis,
15
alinea ini. Semua kalimat sama penting, dan bersam-saraa membentuk kesatuan alinea.

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN SISWA KELAS I SMA

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN
SISWA KELAS I SMA  BAB I

oleh Agustina

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mengarang merupakan salah satu materi yang sudah dipelajari di sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA, tnaupun di perguruan tinggi . Banyak siswa mengatakan mengarang adaJah hal yang sulit, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa mengarang adalah hal yang menyenangkan.
Kebanyakan siswa tidak suka menulis atau mengarang. Jika keadaan ini terus bcrlanjut, suatu saat nanti anak didik di sekolah mencngah atas dikhawatirkan menjadi pasif tidak mempunyai keterampilan berbicara dan menulis (mengarang). Keadaan seperti ini dirasakan ketika guru mcmberikan tugas mengarang. Siswa menampakkan ekspresi wajah tidak mau dan tidak pcduli. Peristiwa ini terjadi hampir di semua tingkat kelas dan sekolah.
Menulis atau mengarang sebagai suatu bentuk ekspresi diri seorang penulis. Bahkan melalui menulis scseorang akan mcnemukan sebuah jati diri. Berdasarkan fakta tersebut alangkah sulitnya menumbuhkan kesadaran menulis dan betapa besar manfaatnya menulis dan betapa pentingnya tulisan.
Penulis harus memahami alinea atau paragraf dalam karangan. Sebuah paragraf dalam karangan berisi kalimat utama dan bebcrapa kalimat penjelas. Kalimat utama berisi gagasan utama atau gagasan pokok, sedangkan kalimat penjelas merupakan rincian dari gagasan utama.
Penulis harus memahami bahwa dalam setiap paragraf terdapat lebih dari satu kalimat. Karena itu, perlu juga dipikirkan ide-ide penjelas dari setiap ide
pokok yang teSah ditentukan.
Penulis pcrlu mengctahui bahwa setiap kalimat harus memiliki hubungan dengan kalimat lainnya dalam satu paragraf agar dapat membentuk sebuah paragraf yang padu. Kepaduan itu juga terlihat dalam hubungan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya.
Cara meletakkan kalimat utama dalam sebuah paragraf ada empat macam yaitu ada di avval, akhir, awal dan akhir dan menyebar di seluruh paragraf. Siswa dapat mcnentukan sendiri dalam karangannya apakah kalimat utama diletakkan di awal paragraf, di akhir paragraf, di awal dan akhir paragraf atau diletakkan menyebar di seluruh paragraf. Oleh karena itu, peneliti berusaha meneliti dan mempelajari letak kalimat utama dalam karangan siswa kelas I SMA Mulawarman Tahun pembelajaran 2007/2008
B. Alasan Pemilihan Judul
Penulis memilih judul Analisis Letak kalimat Utama dalam Karangan Siswa Kelas I SMA Mulawarman, Tahun Pembelajaran 2007/2008, dengan pcrtimbangan sebagai berikut:
1.alinea atau paragraf merupakan unsur penting dalam karangan;
2.setiap penulis memilih gaya tersendiri dalam meletakkan kalimat utama dalam
paragraf.
3.belum ada penelitian sebelumnya mengenai analisis letak kalimat utama dalam
karangan siswa terutama siswa kelas I Mulawarman, Tarakan.
F. Manfaat Peneiitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Adapun manfaat terscbut adalah sebagai berikut
4.Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bcrmanfat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengarang dan bermanfaat
sebagai dasar teori bagi penelitian ianjutan.
5.Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan
guru dalam pembelajaran sekaligus dapat digunakan sebagai cvaluasi hasil
pembelajaran mengarang.
G. Penegasan Judul
Judul skripsi ini adalah Analisis Letak Kalimat Utama dalam Karangan Siswa Kelas ISMA Mulawarman, Tahun pembelajaran 2007 / 2008. Pencgasan judul sangat diperlukan untuk mcmperjelas maksud skripsi ini. Adapun penegasan judul tersebut adalah sebagai berikut:
1. Analisis
Analisis adalah hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak seseorang mulai mencliti kemudian mengkaji dan menjabarkannya serta mempertimbangkan (Usman, 1995:52)
2. Letak Kalimat utama
Letak kalimat utama adalah letak dari gagasan yang dikembangkan dalam scbuah paragraf ( Keraf, 1979:70 )
3. Karangan
Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan
pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh (Nurdin, 2005:23). 4 Siswa Kelas I
Siswa Kelas I adalah siswa yang akan dijadikan subjek dalam penelitian 5. SMA Mulawarman Tarakan
SMA Mulawarman Tarakan adalah sekolah yang terletak di Jalan
Mulawarman, RT 42 Kelurahan Karang Anyar
Berdasarkan penegasan judul tersebut, peneliti berusaha menentukan letak kalimat utama dalam karangan siswa kelas I SMA Mulawarman Tarakan, Tahun pembelajaran 2007/2008.
H. Sistematika Penulisan
Gambaran secara umum penelitian ini disampaikan dalam sistimatika penulisan skripsi ini scbagai berikut:
Bab I adalah pendahuluan. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, mantaat penelitian penegasan judul dan sistematika penulisan. Bab II adalah landasan teori. Bab ini terdiri atas karangan, alinca, macam-macam alinea, kalimat utama. Bab III adalah mctode penelitian. Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, populasi dan teknik pengambilan sampel, data dan sumber data, teknik pcngumpulan data, teknik analisis data.
Bab IV adalah pembahasan. Bab ini terdiri atas penyajian data dan anaiisis data. Bab V adalah pcnutup. Bab ini terdiri atas kcsimpulan dan saran.

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN (TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK) BAB II

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA
PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

oleh IRA MAYA SOPHA

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Bahasa
Bahasa memang bukan sesuatu yang langka untuk didengar. Namun, bukan berarti semua orang memahami tentang pengertian bahasa tersebut. Umumnya orang mengetahui bahwa bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari. Namun, untuk lebih jelasnya disampaikan beberapa pendapat tentang pengertian bahasa.
Chaer (2004:1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia. Maksud dari pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki mahluk hidup yang disebut manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahluk hidup yang lain tidak memiliki bahasa sebagai alat komunikasinya.
Sumarsono (2007:1 8) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi. Pada hakikatnya pendapat yang disampaikan oleh Sumarsono tidak jauh berbeda dengan pendapat sebelumnya, hanya saja pendapat yang disampaikan oleh Sumarsono lebih menekankan bahwa bahasa merupakan alat untuk melakukan hubungan antara manusia satu dengan yang lain.
Aslinda (2007:1) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentiflkasikan diri. Berdasarkari beberapa pendapat yang telah dikemukakan tersebut dapat diambil sebuah kcsimpulan tentang penegcrtian bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, yang berwujucl lambang bunyi, yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentiflkasikan diri.
B. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa sccara tradisional dapat dikatakan scbagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. Akan tetapi, fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat komunikasi. Bagi Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit.
Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Adapun penjelasan tentang fungsi-fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Segi penutur
Dilihat dari segi penutur maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya, bukan hanya menyatakan sikap lewat bahasa tetapi juga memperlihatkan sikap itu sewaktu menyampaikan tuturannya, baik sedang marah, sedih, ataupun gembira.
2. Segi pendengar
Dilihat dari segi pendengar maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Dalam hal ini, bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan hal sesuai dengan keinginan si pembieara.
3. Segi topik
Dilihat dari segi topik maka bahasa itu berfungsi referensial. Dalam hal ini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya.
4. Segi kode
Dilihat dari segi kode maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri, seperti pada saat mengajarkan tentang kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa yang dijelaskan dengan menggunakan bahasa.
5. Segi amanat
Dilihat dari segi amanat yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginatif, yakni bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan
10
perasaan (baik sebenarnya maupun khayalan/rekaan). Fungsi imagi ini biasanya
berbentuk karya-karya sastra.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan tentang fungsi bahasa. Fungsi bahasa dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu segi penutur, segi pendengar, segi topik, segi kode, dan segi amanat.
C. Sosiolinguistik
Sosiolinguistik jika ditinjau dari segi bahasa maka ilmu antardisiplin, yaitu sosiologi dan linguistik yang merupakan dua bidang ilmu yang berkaitan erat. Oleh karena itu, untuk memahami tentang Sosiolinguistik, perlu terlebih dahulu disampaikan apa yang dimaksud dengan sosiologi dan linguistik itu. Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat, sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.
Sumarsono (2007:2) mendefinisikan Sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. Maksud dari penjelasan tersebut pada dasarnya menyatakan
11
bahwa para pcmakai bahasa tenlulah mempunyai perbedaan dari berbagai aspck. seperti jumlah, sikap, adat istiadat, dan budayanya.
Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tcntang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tcntang perilaku sosial. Lebih lanjut, Booiji (Rafiek, 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan.
Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebagai masyarakat sosial
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan pengertian tentang sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para pengguna bahasa dengan fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa.
D. Variasi Bahasa
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi bukan hanya penuturnya
12
yang tidak homogen lelapi juga karena kegialan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.
Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang mengunakan bahasa itu, di mana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunanya berarti, bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya. Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Variasi bahasa dari segi penutur 1. 1 Variasi bahasa idioiek
Variasi bahasa idioiek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idioiek. setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing. 1. 2 Variasi bahasa dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Bayumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya. 1. 3 Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal
Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi
13
bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini. 1. 4 Variasi bahasa sosiolek
adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain scbagainya. 1. 4. 1 Variasi bahasa berdasarkan usia
Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
1. 4. 2 Variasi bahasa berdasarkan pendidikan, yaitu variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkal atas. Demikian pula, orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.
1.4.3 Variasi bahasa berdasarkan seks
Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi
I-I
bahasa yang digunakan o!eh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
1. 4. 4 Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagninya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.
1. 4. 5 Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan
Variasi bahasa berdasarkan lingkal kebangsawanan adaiah variasi yang lerkail dengan lingkat dan kedudukan penuliir (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
1. 4. 6 Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat
15
ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial, jargon, argoi, dan ken. Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1.akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari
variasi sosial lainya;
2.basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah;
3.vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang
kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan;
4.slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5.kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang
cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok
(dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll;
6.jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial
tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll;
7.argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu
dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata
artinya polisi;
16
8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis.
3) Variasi bahasa dari segi pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau funsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat.
Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.
4) Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
17
8.gaya atau ragam beku (frozen);
9.gaya atau ragam resmi (formal);
10.gaya atau ragam usaha (konsultatif)
11.gaya atau ragam santai (casual)
12.gaya atau ragam akrab (intimate)
Adapun penjelasan terhadap gaya atau ragam bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gaya atau ragam beku (frozen)
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagai nya.
2. Gaya atau ragam resmi (formal);
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
3. Gaya atau ragam usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekoiah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
4. Gaya atau ragam santai (casual)
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
5. Gaya atau ragam akrab (intimate)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan leh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan tidak jelas.
5) Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
E. Siaran Radio
Siaran radio bukanlah suatu hal yang barn untuk didcngar, nanum sudah menjadi suatu hal yang lumrah. K.BBI (2001:1060) mengatakan bahwa siaran adalah sesuatu yang disiarkan, sedangkan pengertian radio adalah pengiriman suara atau bunyi melalui udara atau pesawat radio. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan pengertian siaran radio. Siaran radio adalah sesuatu yang disiarkan atau dikirim melaui udara yang dapat didengar dengan menggunakan pesawat radio.

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN (TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA
PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

oleh  IRA MAYA SOPHA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Bahasa tidak hanya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dipcrlukan dalam menjalankan segala aktivitas hidup manusia, seperti: penelitian, penyuluhan, pembcritaan, siaran radio dan sebagainya.
Bahasa menjadi sangat penting dalam kehidupan. Dengan bahasa, orang dapal mengkomunikasikan segala hal. Bahasa dalam kehidupan berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi pada saat bahasa itu digunakan. Seperti seorang politikus, dokter, praktisi hukum, pembaca berita, dan penyiar radio, tentunya menggunakan bahasa yang berbeda. Bahkan, sesama penyiar radio pun akan menggunakan bahasa yang berbeda dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya, seorang dokter biasa menggunakan kosakata, seperti: amputasi, infeksi, dan sebagainya. Seorang paraktisi hukum biasa menggunakan kosakata, seperti: vonis, dijatuhi hukuman, pidana, dan sebagainya. Seorang pembaca berita sering menggunakan kosakata, seperti: pemirsa, jumpa lagi bersama saya, dan sebagainya. Demikian pula seorang penyiar radio, khususnya dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan sering menggunakan kosakata, seperti: sobat dengar, masih dijalur yang sama, dan sebagainya. Perbedaan bahasa dari segi pemakaian seperti inilah yang menyebabkan timbulnya ragam atau register.
Mengenai Ragam atau register yang terdapat dalam acara Planet Dangdut di radio Grass Tarakan merupakan salah satu acara permintaan lagu-lagu dangdut oleh pendengar melalui SMS. Pada acara tersebut bahasa yang digunakan sesuai dengan fungsinya. Ragam bahasa yang digunakan khas yang tentunya berbeda dengan acara yang lain. Contohnya “Kita dengar request dari teman udara kila…”. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kata yang khas, yaitu request, teman udara, sobat udara, dan sebagainya. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, penulis berusaha untuk meneliti penggunaan ragam bahasa register terutama dalam acara Planet Dangdut di Radio Crass Tarakan.
B. Alasan Pcmilihan Judul
Peneliti memilih judul Penggunaan Ragam Bahasa Register dalam Acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan (1′injauan Sosiolinguistik). Judul tersebut dipilih karena Planet Dangdut merupakan ragam bahasa register yang menarik untuk diteliti karena ragam bahasa register dalam acara tersebut tidak terdapat dalam acara-acara yang lain, misalnya kalimat “Paling pas goyangnya”. Sepengetahuan peneliti, pula belum pernah ada penelitian sebelumnya berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan. Selain itu pemilihan judul penelitian ini juga beralasan pada waktu penyiaran acara Planet Dangdut tersebut sesuai dengan waktu luang yang di miliki oleh peneliti, yaitu pukul 09.00-12.00 WiTe sehingga tidak mengganggu aktivitas yang lain dan penelitian pun dapat dilakukan secara maksimal.
C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang berkaitan dengan lingkup penggunaan bahasa, khususnya dalam siaran radio, perlu adanya pembatasan masalah. Hal ini dilakukan agar penelitian dapat lebih terpusat pada tujuan yang ingin dicapai dan mencegah mcluasnya kajian penelitian. Masalah dalam kajian penelitian ini dibatasi pada:
1) penelitian ini mengambil bahasa yang digunakan acara Planet Dangdut sebagai
bahan penelitian. Planet Dangdut yang dimaksud dalam penelitian ini adalah acara yang disiarkan oleh radio Grass Tarakan yang disiarkan setiap hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 09.00-12.00 WiTe dengan pembawa aeara Siska Kodong;
2) ragam bahasa yang diteliti dibatasi pada penggunaan kata dan kalimat yang
digunakan dalam bahasa lisan.
D. kumusan Masalah
Rumusan masalah dikemukakan agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah dan mudah dalam rr.enganalisis. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan ragam bahasa register dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan ragam bahasa register dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan.
F. Manfaat Penelitian
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.dapat memperjelas ragam atau register dalam acara di radio;
2.dapat menjadi bahan kajian bagi para peneliti berikutnya, khususnya yang
berkaitan dengan penggunaan ragam bahasa.
G. Penegasan Judul Penelitian
Judul penelitian ini adalah. Penggunaan Ragam Bahasa Register dalam Acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Penegasan judul perlu dilakukan untuk mempertegas maksud judul penelitian. Adapun penegasan judul dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Aslinda, 2007:1)
2. Ragam Bahasa
Ragam bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat (Chaer, 2004:61)
3. Register
Register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian.
perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. (Chaer, 2004:68).
4. Acara Planet Dangdut
Acara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dipertunjukkan, disiarkan, atau diperlombakan; program (televisi, radio, dan sebagainya) (KBBI. 2001:4). Sedangkan Planet Dangdut adalah salah satu acara di radio Crass Tarakan yang berupa permintaan lagu-lagu dangdut. Acara tersebut disiarkan pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 09.00-12.00 WiTe.
5. Radio Grass
Radio Grass yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nama dari sebuah penyiaran radio yang merupakan akronim dari graha swara sakti yang berada di Kota Tarakan Jalan Slamet Riyadi nomor 28.
6. Sosiolinguistik
Sosiolinguistik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bidang ilmu antardisplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2).
Berdasarkan penjelasan judul di atas, penelitian ini bermaksud meneliti
penggunaan bahasa dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan melalui
kajian Sosiolinguistik
H. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara umum penelitian ini, perlu disampaikan sistematika penulisan. Sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut :
Bab I pendahuluan. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan memilih judul, batasan masalah, rumusan masalah, lujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul, dan sistematika penulisan.
Bab II landasan teori. Bab ini terdiri atas pengertian bahasa, fungsi bahasa, pengertian sosiolinguistik, variasi bahasa dalam tinjauan sosiolinguistik, pengertian siaran radio.
Bab III metode penelitian. Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, variabel penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, populasi dan tcknik pengambilan sampel, data dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV pembahasan. Bab ini terdiri atas penyajian data, analisis data, dan liasil penelitian.
Bab V penutup. Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran

Download Timer

Software Timer sedernana hanya memerlukan space 116 kb, kecil namun dapat berfungsi maksimal untuk mengatur kapan komputer log off, restart, atau shutdown. Dengan software sederhana ini anda dapat menentukan secara tepat kapan komputer anda harus shutwon, restart atau log off. Cocok untuk para pengelola Laboratorium komputer ataupun warnet.
Untuk Menjalankannya stelah anda berhasil mendownload kopi file timer ke sembarang tempat buat folder timer, lalu jalankan jangan lupa isi semua pilihan yang ada.
Sofware ini dapat bekerja pada Unvisible jika tombol Hide di hidupkan.
Trima kasih selamat mencoba

Download di sini

BAB II KESALAHAN EJAAN PADA KARANGAN SISWA KELAS IX

BAB II KESALAHAN EJAAN PADA KARANGAN SISWA KELAS IX

BAB II LANDASAN TEORI
A. Kesalahan
Orang sering menyebutkan kesalahan atau salah, tetapi apakan mereka mengerti dan paham apa itu salah/kesalahan. Berikut ini akan dijabarkan pengertian kesalahan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:770) kesalahan adalah kekeliruan atau kealpaan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diuraikan bahwa kesalahan pada dasarnya merupakan hal yang biasa terjadi. Akan tetapi kekeliruan ataupun kealpaan itu dapat disengaja serta tidak adanya pengetahuan yang memadai. Akan tetapi, kalau dicermati dalam proses pembelajaran terutama yang dialakukan oleh siswa bahwa hal ini karena faktor kesengajaan yang bersumber dari diri siswa itu sendiri. Siswa kurang hati-hati menggunakan ejaan ketika mengarang. Hal ini biasa terjadi pada siswa.
Memang sebagai kesalahan atau hal-hal yang berkaitan dengan salah tidak selamanya disengaja, namun bila dalam proses pembelajaran yang terjadi di kelas, siswa tidak dapat mengerjakan soal dan mendapat nilai kurang baik. Dengan demikian, kesalahan adalah hal-hal yang secara sengaja atau tidak sengaja yang membuat sesuatu itu menjadi tidak benar.
B. Menulis
Menurut KBBI (1990:96 8) menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (mengarang/surat) dengan tulisan. Sedangkan menurut Tarigan (2000:21) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Sementara itu Tarigan mengatakan bahwa, menulis adalah suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya menulis merupakan suatu kegiatan mencurahkan rasa, perasaan, dan pikiran dalam bentuk tulisan. Kegiatan itu juga melambangkan berbagai keinginan serta gambaran yang disalurkan ataupun diwujudkan dalam bahasa, sehingga orang lain dapat memahaminya. Menulis juga tidak terlepas dari kegiatan membaca, semakin banyak membaca, akan banyak pengetahuan yang akan dicurahkan dalam tulisannya.
C. Ejaan
Menurut KBBI (1990:219) ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf)serta penggunaan tanda-tanda baca. Sedangkan menurut Badudu (1981:31) ejaan adalah perlambangan fonem dengan huruf. Menurut Arifin (2002: 170) ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu, pemisahan dan
10
penggabungannya dalam suatu bahasa. Sementara itu menurut Kusno (1986: 61) ejaan adalah aliran menuliskan bunyi ucapan dalam bahasa dengan tanda-tanda atau lambang-lambang.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat diuraikan bahwa pada hakikatnya ejaan itu berkaitan dengan lafal, pengucapan lambang-lambang dan penggunaan tanda baca. Ejaan tidak terlepas dari kaidah maupun peraturan yang menuntut serta mengharuskan penetapan ejaan yang baik dan layak untuk masyarakat. Memang tidak mudah untuk menguasai ejaan itu, tetapi sepatutnya masyarakat bangsa ini mau belajar dengan giat, supaya mampu menguasai ejaan itu dengan baik dan benar.
Ejaan dalam bahasa Indonesia saat ini dikenal dengan ejaan yang disempurnakan (EYD), sebagai bangsa Indonesia hams mengerti dan mampu menguasainya, agar tidak menemukan kesulitan dikemudian hari. Ejaan bahasa Indonesia terdapat berbagai macam ejaan yang mengatur setiap kata maupun kalimat. Aturan tersebut mulai dari mulai tanda titik, tanda koma, huruf kapital, huruf miring, titik dua, tanda titik koma, dan kebakuan kalimat (termasuk kata) semua ada peraturannya serta kaidah-kaidahnya yang tertuang dalam ejaan itu, sehingga tidak sembarangan menggunakannya.
Memang ejaan tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa dalam masyarakat. Ejaan juga perlu dibuat ketentuan dan peraturan yang baku, sehingga dapat dibuat pegangan serta panduan bagi masyarakat.

D. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan putusan presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntutan itu perlu dilengkapi, panitia pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No.0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Pembentuk Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut. a. Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi Ejaan Yang Disempurnakan
/dj/ djalan, djauh /j/ jalan, jauh
/j/ pajung, laju /y/ payung, layu
12
/nj/ njonja, bunji /ny/ nyonya, bunyi
/sj/ isjarahat, masjarakat /sy/ isyarat, masyarakat
/tj/ tjukup, tjutji Id cukup, cuci
/ch/ tarich, achir /kh/ tarikh, akhir
b. Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam ejaan
Soewandi sebagai unsur pinjaman abjadasing, diresmikan pemakaiannya.
/f/ maaf, fakir
/v/ valuta, universitas
/z/ zeni, lezat
c. Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap
dipakai. a : b = p : q sinar x
d. Penulisan di- atau ke sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan
dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata
yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis
terpisah dengan yang mengikutinya.
Contoh :
di- (awalan) di (kata depan)
ditulis di kampus
dibakar di rumah
dilempar dijalan
dipikirkan ke kampus

kekasih ke luar negeri
kehendak ke atas
e. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2. Contoh : anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat.
Adapun hal-hal yang lain yang diatur dalam EYD adalah sebagai berikut. 1. Huruf dan Namanya
a. Huruf Kapital
Huruf besar atau huruf kapital digunakan:
1) sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat;
Contoh: Ini buku tata bahasa.
Kamu harus giat belajar!
2) sebagai huruf pertama kata yang berkenan dengan agama, kitab
suci, dan nama Tuhan termasuk kata gantinya;
Contoh: Islam Hindu Allah Injil Mohon ampun kepada-Nya
3) sebagai huruf pertama kata pada petikan langsung;
Contoh: Kata ayah, ” Saya akan datang.”
Ibu bertanya, ” Siapa nama anak itu.”
14
4) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan gelar kehormatan,
gelar keagamaan, gelar keturunan, yang diikuti dengan nama
orang;
Contoh: Maha Putra Mohamad Yamin Nabi Isa Sultan Hamengkobuwono IX
5) sebagai huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama
orang;
Contoh: Gubernur Suprapto
Profesor Doktor Hadi
Jenderal L.B. Murdani
6) sebagai huruf pertama unsur- unsur nama orang;
Contoh: Hannoko
Ismail Marzuki
Wage Rudolf Supratman
7) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan nama bangsa, nama
suku, atau nama bahasa; Contoh: bangsa Indonesia
orang Bali
bahasa Arab
8) sebagai huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama
hari raya, dan nama peristiwa sejarah;
Contoh: bulan April
tahun Masehi
hari Rabu
Proklamasi Kemerdekaan
9) sebagai huruf pertama kata yang menyatakan nama dalam geografis;
Contoh: Jakarta
Gunung Semeru Danau Toba Terusan Suez
10) sebagai huruf pertama kata yangt menyatakan nama lembaga atau
badan pemerintahan, ketatanegaraan, dan nama dokemen resmi,
termasuk juga singkatannya;
Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Universitas Gajah Mada (UGM) Undang- Undang Dasar 1945 (UUD 1945)
11) sebagai huruf pertama kata-kata yang menjadi nama buku, nama
majalah, nama surat kabar, dan nama judul karangan, kecuali
partikel (seperti di, ke, dan, dari) yang tidak terletak pada posisi
awal;
Contoh: Buku Jalan tak Ada Ujung karangan Muchtar Lubis Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karangan Idrus Majalah Tempo
16
12) sebagai huruf pertama istilah kekerabatan (seperti bapak, ibu, adik, dan saudara) yang dipakai kata ganti atau kata sapaan; Contoh: Tanya ibu kepada ayah, “Kapan Bapak akan
berangkat?” Katanya kepada anak itu, “Silakan duduk Nak!”
13) dalam singkatan kata yang menyatakan unsur nama gelar, nama
pangkat, dan istilah sapaan;
Contoh: Ir insinyur
S.H. sarjana hukum
Kol. Kolonel
Sdr saudara
14) huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda;
Contoh: Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
b. Penggunaan Huruf Miring
Huruf miring digunakan dalam cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan yang akan dicetak miring, diberi garis bawah. Huruf miring digunakan untuk:
1) menuliskan nama buku, nama majalah, nama surat kabar, yang dikutip dalam karangan; Contoh: Buku Kaidah Bahasa Indonesia karangan Slamet
Mulyana. Majalah Ayah Bunda terbitan bulan Agustus 1985.
17
2) menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok
kata;
Contoh: Ny. Indira Gandhi bukan terbunuh melainkan d/bunuh. Karangan ini tidak membicarakan masalah ejaan.
3) menuliskan istilah ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali yang sudah
disesuaikan ejaannya; Contoh: Buah manggis (Garcinia Mangostaan) banyak
terdapat di tempat itu.
Dulu Belanda selalu menjalankan politik devide et impera.
c. Penggunaan Huruf Tebal
Huruf tebal digunakan dalam cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan yang akan dicetak tebal, diberi garis bawah ganda.
Huruf tebal ini berfungsi untuk menandai kata-kata yang akan dianggap penting, perlu mendapat perhatian, seperti kata kepala (entri) di dalam kamus dan ensiklopedia, subjudul di dalam karangan.
2. Penulisan Kata
Secara ortografis ada empat macam kata yang harus diperhatikan penulisannya, yaitu kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung atau gabungan kata.
a. Penulisan Kata Dasar
Kata dasar, yaitu kata yang belum diberi imbuhan atau belum mengalami proses morfologi lainnya, ditulis sebagai satu kesatuan, terlepas dari kesatuan yang lainnya.
Contoh: Kita semua anak Indonesia Pohon kelapa itu tumbang
b. Penulisan kata berimbuhan
Kata berimbuhan, yaitu kata yang dibentuk dari kata dasar atau bentuk dasar dengan imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulis dengan atauran sebagai berikut:
1) imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya sebagai satu kesatuan; Contoh: membangun
pembangunan
gemetar
2) kalau bentuk dasarnya adalah gabungan kata, maka awalan atau
akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya
atau mendahuluinya;
Contoh: bertanggung jawab lipat gandakan menganak sungai

c. Penulisan Kata Gabungan
Kata gabung atau gabungan kata adalah bentuk yang terdiri dari dua buah kata atau lebih. Aturan penulisannya adalah sebagai berikut:
1) kata-kata yang membentuk gabungan kata ditulis terpisah satu dengan
lainnya;
Contoh: kantor pos luar negeri
2) gabungan kata yang sudah dianggap sebagai sebuah kata ditulis
serangkai menjadi satu;
Contoh: matahari
hulubalang barangkali
3) kalau sebuah gabungan kata sekaligus diberi awalan dan akhiran maka
harus ditulis serangkai sebagai sebuah kata; Contoh melipatgandakan ketidakadilan dimejahijaukan
4) kalau salah satu unsur dari gabungan kata itu (biasanya unsur
pertama), tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata, maka
gabungan kata itu ditulis serangkai sebagai sebuah kata;
Contoh: antarkota mahasiswa prakata
20
5) untuk menghindarkan salah baca dan salah pengertian, maka diantara
unsur-unsur gabungan kata itu boleh diberi garis penghubung;
Contoh: buku sejarah-baru
dengan arti, ‘yang baru adalah sejarahnya’ buku-sejarah baru dengan arti, ‘yang baru adalah bukunya’
d. Penulisan Kata Ulang
Kata ulang adalah sebuah bentuk sebagaimana hasil dari mengulang
sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar
Contoh: jaian-jalan
berlari-lari Kemerah-merahan
Aturan penulisan kata ulang ini berlaku juga pada bentuk-bentuk seperti: sia-sia laba-laba kupu-kupu
e. Penulisan Kata Ganti Klitika
Kata ganti klitika adalah kata ganti yang disingkat seperti ku, kau, mu, dan nya. Kata ganti bentuk klitika ini ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya.

Contoh: Rumah itu sudah kubeli.
Di mana kausimpan buku itu?
Ini bukuku, itu bukumu, lalu mana bukunyal
f. Penulisan Kata Depan
Kata depan adalah kata-kata yang biasanya menjadi penghubung antara predikat dengan objek atau keterangan; dan lazimnya berada didepansebuah kata benda. Misalnya kata-kata di, ke, dari, pada, kepada, dengan, oleh, dalam, dan sebagainya. Kata depan ditulis dengan atauran sebagai berikut:
1) kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya;
Contoh: Kami bermain di lapangan.
Ibu baru pulang dari desa.
2) kata depan kepada dan daripada ditulis serangkai karena dianggap
sebagai sebuah kata;
Contoh: Dia minta tolong kepada polisi.
Daripada terlambat lebih baik saya tidak datang.
3) kata depan ke bersama kata yang mengikutinya apabila secara
sintaktis berlaku sebagai kata kerja, atau sekaligus mendapat awalan
dan akhiran ditulis serangkai;
Contoh: Saya keluar sebelum acara selesai.
Masalah itu telah beberapa kali dikemukakan beliau.

g. Penulisan Kata Sandang
Kata sandang si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh: Kembali kepada si pengirim.
Sang saka berkibar di mana-mana.
h. Penulisan Partikel
1) partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya;
Contoh: Berangkatlahsekarangjuga!
Siapakah yang kau cari? Apatah gerangan yang kau cari?
2) partikel pun yang berarti ‘ juga’ ditulis terpisah dari kata yang
mendahuluinya;
Contoh: Berapa pun harganya bayar saja.
Dibayar pun aku tidak mau.
3) pada kata penghubung, seperti biarpun, meskipun, sunggupun, dan
sekalipun, pun ditulis serangkai karena dianggap sebagai bagian dari
sebuah kata;
Contoh: Biarpun dilarang, dia pergi juga.
Dia berangkat juga meskipun sedang sakit.
4) partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan’tiap’ ditulis terpisah dari
kata yang mengikutinya;
Contoh: Harga langganan naik per 1 April 1999
Kami disilahkan masuk satu per satu.

i. Penulisan Singkatan dan Akronim
1) Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
(a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat
diikuti dengan tanda titik.
Contoh: A. S. Kramawijaya Muh. Yamin
M. B. A. master of business administration
S.Pd. sarjana pendidikan
Kol. kolonel
(b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan,
badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri
atashuruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti
dengan tanmda titik.
Contoh: DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
(c) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu
tanda titik.
Contoh: dll. dan Iain-lain
sda. sama dengan di atas
(d) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh: Cu kuprum

cm centimeter
kg kilogram
2) Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
(a) akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh: TNI Tentara Nasional Indonesia
SIM Surat Izin Mengemudi
(b) akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
capital.
Contoh: Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Kowani Kongres Wanita Indonesia
(c) akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: pemilu pemilihan umum
tilang bukti pelanggaran

3. Penulisan Angka
Dalam ejaan bahasa Indonesia ada digunakan dua macam angka, yaitu angka Arab dan angka Romawi. Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X
L = 50,C=100,D = 500
M=1000
a. Angka Arab
Angka arab digunakan untuk menyatakan bilangan, nomor, atau jumlah. Aturan penulisannya adalah :
1) untuk menyatakan bilanagan, nomor, atau jumlah satu sampai dengan
seribu ditulis tanpa titik pemisah satuan.
Contoh : Jalan Rawamangun Muka nomor 9.
Uangnya ada Rp 525,00.
2) lambang bilangan yang dapat dinyatakandengan sebuah atau dua buah
kata ditulis dengan huruf, kecuali bila digunakan secara beruntun
seperti dalam pemerincian.
Contoh : Ibu membeli tiga ekor ayam.
Paman mempunyai dua belas ekor kambing.
3) pada awal kalimat lambang bilangan harus ditulis dengan huruf. Jika
lambang bilangan itu tidak dapat dinyatakan dengan sebuah atau duabuah kata, maka susunankalimat itu harus diubah sehingga lambang bilangan tidak terdapat pada awal kalimat.
b.Angka Romawi
Angka Romawi digunakan secara terbatas karena bentuknya tidak
praktis untuk menuliskan jumlah atau bilangan yang besar. Angka ini selain
dapat digunakan untuk menyatakan bilangan biasa, dapat juga digunakan
untuk menyatakan bilangan tingkat.
Contoh : Abad XX
Juara 11
4. Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam bahasa tulis agar kalimat-kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis seperti yang kita maksudkan. Tanda baca yang lazim digunakan adalah :
Lambang
Nama
titik
titik dua titik koma
koma
tanda hubung
tanda pisah
tanda elipsis
tanda tanya
tanda seru
tanda kurang
tanda kurung tutup
tanda kurung suku
tanda petik (kutip )
28
tanda petik tunggal
tanda garis miring
tanda penyingkat
tanda ulang
a. Penggunaan Titik
Tanda baca titik (.) digunaikan:
1) pada akhir kalimat yang bukan kalimat seru atau kalimat tanaya.
Contoh: Nyonya Indira telah tiada.
Nomor teieponnya 081350772047.
2) pada akhir singkatan nama orang.
Contoh: R.A. Kartini
Muh. Yamin
3) pada akhir singkatan kata yang menyatakan gelar, jabatan, pangkat,
atau sapaan.
Contoh: Prof. Profesor
Kol.
Kolonel
4) pada singkatan kata atau singkatan ungkapanyang sudah lazim. Pada singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih hanya digunakan satu titik. Contoh: a.n. = atas nama
yth. = yang terhormat
5) di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar
Contoh: 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah dan ruang lingkup

1.2.1 Masalah
1.2.2 Ruang lingkup
6) untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan
waktu.
Contoh: 1.30.15 ( pukul 1 lewat 30 menit 15 detik ) 7) untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan j angka waktu.
Contoh: 1.30.15(1 jam, 30 menit, 15 detik )
8) untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menyatakan jumlah. Contoh: Hadiah pertama Rp 150.000.000,00
b. Penggunan Titik Dua
Titik dua ( :) digunakan:
1) pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti oleh suatu pemerian.
Contoh: Yang dibeli ibu di pasar ialah : beras, gula, kopi, garam, Dan kecap.
2) sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemeriaan.
Contoh : a. Ketua: Hadi
Sekretaris: Rani Bendahara: Eliza
3) dalam Teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam
percakapan.
Contoh : Ibu : Bawa koper ini, Ir! Ira: Baik, Bu.
4) di antara jilid atau nomor halaman.
Contoh : Tempo, 1/1997/, 35:17
5) di antara bab dan ayat dalam kitab suci.
Contoh : Surah Yassin : 9
6) di antara judul dan anak judul suatu karangan, dan di antara nama
penerbit dengan kota tempat penerbit.
Contoh : Drs. M. Ramlan, Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif, CV Karyono: Yogyakarta.
c. Penggunaan Tanda Titik Koma
Tanda titik koma (; ) dapat digunakan :
1) untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: - Malam makin larut; pekerjaan kami belum selesai juga
2) untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat
majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk di dapur; adik belajar; saya sendiri sedang mendengarkan radio.
d. Penggunaan Koma
Tanda koma (,) digunakan:
1) di antara unsur- unsur dalam pemerian atau pembilangan.
Contoh: Adik membawa piring, gelas, dan teko.
2) untuk memisahkan bagian- bagian kalimat majemuk setara yang
dihubungkan dengan kata penghubung yang menyatakan
pertentangan seperti tetapi dan sedangkan.
Contoh: Saya ingin perti, tetapi tidak punya uang
3) untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak
kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Kalau dia datang, saya akan datang
4) di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, yang
terdapat pada awal kalimat, seperti jadi, lagipula, oleh karena itu,
akan tetapi, meskipun begitu, dan sebagainya.
Contoh: Jadi, soalnya tidaklah semudah itu
5) di belakang kata-kata seru, seperti O, ya, wah, aduh, kasihan yang
terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Wah, bukan main cantiknya
6) untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata ibu, ” Saya senang sekali.”
7) di muka angka persepuluhan, dan di antara rupiah dengan sen.
Contoh: 12,25cm
Rp 125,50
8) di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk
membedakannya dari singkatan nama keluargaatau niarga. Contoh: Moh. Bakri, S.H. ( S.H. Sarjana Hukum )
Kuswito Hadi, S.Pd. ( S.pd. Sarjana Pendidikan )
9) untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh: Guru saya, pak Hadi, rajin sekali.
10) di antara : (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian ala