Mengenal Umar bin Khattab

Mengenal Umar bin Khattab

Umar bin Khattab masuk Islam menurut berita yang sudah umum diketahui, sesudah ada empat puluh lima orang laki-laki dan dua puluh perempuan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlahnya
lebih dari itu, ada pula yang mengatakan kurang. Menurut peninjauan Ibn Kasir dalam al-Bidayah wan-Nihayah Umar masuk Islam sesudah Muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah orang yang hijrah itu hampir mencapai sembilan puluh orang laki-laki dan perempuan. Sesudah mereka hijrah Umar bermaksud akan mendatangi Muhammad dan sahabatsahabatnya
serta Muslimin yang lain di Darul Arqam di Safa, dan jumlah mereka laki-laki dan perempuan empat puluh orang. Dengan demikian kita bebas menyebutkan bahwa mereka yang sudah mendahului Umar masuk Islam sekitar seratus tiga puluh orang, walaupun kita tak dapat menyebutkan jumlah yang pasti melebihi perkiraan yang berlawanan dengan pendapat yang sudah umum itu.

Sumber-sumber tentang sebabnya Umar masuk Islam
Mengenai sebabnya ia masuk Islam beberapa sumber masih saling berbeda. Berita yang paling terkenal menyebutkan bahwa Umar sudah tidak tahan lagi melihat seruan Muhammad itu ternyata telah memecah belah keutuhan Kuraisy, dan mendorong orang semacam dia sampai
menyiksa orang-orang yang masuk Islam agar keluar meninggalkan agama itu dan memaksa kembali kepada agama masyarakat mereka. Sesudah Muhammad memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya supaya terpencar ke beberapa tempat dan berlindung kepada Allah dengan
agama yang mereka yakini, dan menasihati mereka agar pergi ke 22

Abisinia, dan setelah Umar melihat mereka sudah pergi, ia merasa sangat terharu dan merasa kesepian berpisah dengan mereka. Sumber yang mengenai Umm Abdullah binti Abi Hismah menyebutkan bahwa ia berkata: “Kami sudah akan berangkat tatkala Umar bin Khattab
datang dan berhenti di depan kami, yang ketika itu ia masih dalam syirik. Kami menghadapi berbagai macam gangguan dan siksaan dari dia. Ia berhenti dan berkata kepada kami: ‘Jadi juga berangkat, Umm Abdullah?’ Saya jawab: ‘Ya! Kami akan keluar dari bumi Allah ini. Kalian mengganggu kami dan memaksa kami dengan kekerasan. Semoga Allah memberi jalan keluar kepada kami.’ Dia berkata lagi:

‘Allah akan menyertai kalian.’ Saya lihat dia begitu terharu, yang memang belum pernah saya lihat. Kemudian dia pergi, dan saya lihat dia sangat sedih karena kepergian kami ini.” Setelah itu suaminya datang. Diceritakannya percakapannya dengan Umar itu dan dia sangat
mengharapkan Umar akan masuk Islam. Tetapi jawab suaminya: “Orang ini tidak akan masuk Islam sebelum keledai Khattab lebih dulu masuk Islam.”

Sumber-sumber selanjutnya menyebutkan bahwa Umar memang sangat sedih karena sesama anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan tanah air,” sesudah mereka disiksa dan dianiaya. Selalu ia memikirkan hendak mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari
keadaan demikian. Ia berpendapat keadaan ini baru akan dapat diatasi apabila ia segera mengambil tindakan tegas. Ketika itulah ia mengambil keputusan akan membunuh Muhammad. Selama ia masih ada, Kuraisy tak akan bersatu. Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus di tangan hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabatnya yang sudah diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa.
Jumlah mereka hampir empat puluh orang laki-laki dan perempuan. Sementara dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang laiu menanyakan: “Mau ke mana?” dan dijawab oleh Umar:
“Saya sedang mencari Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga hidup kita, menghina agama dan sembahan kita. Akan saya bunuh dia!”
“Anda menipu diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan membiarkan Anda bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidakkah lebih baik Anda pulang dulu menemui keluargamu dan luruskan mereka!” “Keluarga saya yang mana?” tanya Umar.
Kawannya itu menjawab: “Ipar dan sepupu Anda Sa’id bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab. Kedua mereka sudah masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus Anda hadapi.”

Umar kembali pulang hendak menemui adik perempuannya dan iparnya. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Qur’an membacakan kepada mereka Surah Ta-Ha. Begitu mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan:
“Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?” “Saya tidak mendengar apa-apa,” Fatimah menjawab. “Tidak!” kata Umar lagi, “Saya sudah
mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!” Ia berkata begitu sambil menghantam Sa’id bin Zaid keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: “Ya, kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!”
Melihat darah di muka adiknya itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. “Ke marikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi,” katanya. “Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!” Fatimah berkata: “Kami khawatir akan Anda sia-siakan.”
“Jangan takut,” kata Umar. Lalu ia bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah selesai membacanya.
Kitab itu diberikan oleh Fatimah. Sesudah sebagian dibacanya, ia berkata:
“Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!” Mendengar katakata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar dan katanya kepada Umar: “Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar ia berkata: ‘Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam1 atau dengan Umar bin Khattab.’ Berhati-hatilah, Umar!’” Ketika itu Umar berkata: “Khabbab,
antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan menemuinya dan akan masuk Islam,” dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan: “Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa.” Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah
dan sahabat-sahabatnya berada

Tulisan di atas merupakan cuplikan dari buku terjemahan karya Muhammad Husain Haekal berjudul Umar bin Khattab
Jika Anda ingin ambil buku tersebut silakan langsung klik download ini

Baca Artikel Lain

Perbedaan Investor dan Spekulator dalam Trading;>>>> Baca

Interaksi Edukatif, Masalah Disiplin, Hukuman dan Motivasi;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Perbedaan Investor dan Spekulator dalam Trading

Perbedaan Investor dan Spekulator dalam Trading

Ada beberapa karakter atau pendekatan psikologis bagi setiap orang ketika dia mulai terjun di dalam aktivitas trading, apakah dia bertindak sebagai seorang investor ataukah dia bertindak sebagai seorang spekulator. Hal ini perlu Anda pahami agar Anda bisa “mendeteksi” diri Anda sendiri, apakah di dalam menjalankan aktivitas trading Anda bertindak sebagai seorang investor ataukah sebagai seorang spekulator.

Investor

Seorang investor adalah seseorang yang membeli sesuatu dengan harapan bahwa sesuatu yang ia belj kelak di kemudian hari akan mengalami kenaikan nilaj sehingga terdapat sclisih lebih yang merupakan bentuk keuntungan yang bakal ia raih. Periode waktu di dalam masa investasi ini dapat dalam rentang waktu minggu, bulan, atau bahkan beberapa tahun. Beherapa investor memilih sekuritas (segala perangkat investasi yang bisa diperdagangkan) untuk rentang waktu yang cukup lama dan mereka percaya bahwa beberapa tahun ke depan apayang mereka beli atau
yang mereka miliki akan mengalami kenaikan nilai. Biasanya seorang investor akan melakukan riset yang cukup mendalam sebelum dia mernutuskan untuk melakukan investasi. Jika dia ingin rnelakukan investasi dengan membeIi saham suatu pemsahaan, besar kemunginan dia akan mempelajari Laporal1 Keuangan perusahaan tersebut, track record atau portofolio serta kinerja
pemsahaan tersebut di dalam meraih laba, Contoh investor adalah Warren Buffet, salah seorang investor sukses dunia. Berikut beeberapa saran yang diberikan oleh Wan-en Buffet bagi Anda yang ingin menjadi seorang investor:
• Jangan pemah melakukan usahalbisni” pada suatu bentuk usahalbisnis yang tidak Anda pahami.
• Risiko dapat dikurangi dengan cara hanya berkonsenrasi kepada bisnis yang Anda kuasai dan Anda kenali.
• Bell saham perusahaan dengan latar belakang sejarah kinerja perusahaan tersebut di dalam meraih laba.
• Anda tidak akan pemah dibenarkan dan tidak juga akan disalahkan oleh orang banyak, kecuali data dan alasan yang Anda miliki menunjukkan kebenaran yang sebenarnya.
• Pusatkan perhatian hanya kepada tingkat pengembalian modal, bukan pada Jaba rer lembar saham.

SpekuIator

Seorang spekulator adalah seseorang yang membeli atau menjual sesuatu dengan tujuan untuk meraih keuntungan dalam waktu singkat tanpa bermaksud untuk memiliki sekuritas yang dia beli atau jual untuk tujuan jangka panjang. Seorang spekulator terkadang menjalankan bisnisnya
hanya dalam waktu beberapa menit, jam dan paling lama mungkin hanya dalam hitungan minggu. Seorang trader yang melakukan aksi jual/beli puluhan kali dalam satu hari (intraday trader) bisa dikatakan sebagai seorang spekulator. Salah satu contoh spekulator sukses adalah George
Soros. Dia pemah meraup keuntungan jutaan dollar dalam satu hari dari aksi spekulasi yang pemah dilakukannya. Bahkan, meskipun bukan merupakan tanggungjawab langsung dari Soros, ekonomi Rusia pemah mengalami guncangan ketika Soros melempar isu tentang kejatuhan
harga saham di Rusia hingga 12 %. Lima hari setelah isu itu dilempar, terjadi devaluasi atas mata uang rubel sebesar 25%.
Salah satu pemyataan yang menarik dari George Soros adalah, “Tidaklah terlalu penting untuk dikatakan bahwa ini adalah benar atau salah, namun yang lebih penting adalah sejauh mana Anda bisa meraup uang banyak ketika Anda melakukan hal yang benar dan seberapa ban yak uang Anda yang hilang ketika Anda melakukan kesalahan.” Dengan penjelasan di atas, Allda diharapkan mampu memahami perbcdaan antara investor. dan spekulator dengan jelas sehingga Anda kemudian dapat menentukan diri Anda sendiri, apakah di saat Anda menjalankan
trading itu Anda bertindak. sebagai seorang investor ataukah sebagai seorang spekulator. Pertanyaan tentang apakah Anda seorang investor atau seorang spekulator merupakan pertanyaan atas aspek psikologis Anda sendiri.

Tulisan di atas dicuplik dari buku berjudul Belajar Trading Karya Sumarsono Hendarto
Jika Anda ingin ambil buku tersebut selengkapnya silakan langsung klik download ini

Baca Artikel Lain

Interaksi Edukatif, Masalah Disiplin, Hukuman dan Motivasi;>>>> Baca

Pengutil Kerah Putih dan Masa Depan Corporate Governance;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Pengutil Kerah Putih dan Masa Depan Corporate Governance

Pengutil Kerah Putih dan Masa Depan Corporate Governance

Awalnya, stock option diciptakan dengan tujuan yang sangat indah dan mulia. Intinya, manajer dan eksekutif perusahaan diberi opsi kepemilikan saham yang nyaris risk – free untuk jangka waktu tertentu; opsi itu bisa di exercise ketika, misalnya, harga saham tersebut sedang bagus.
Tujuannya apa? Tujuan mulianya adalah agar si eksekutif bisa bertindak layaknya pemilik alias shareholder. Dengan demikian, akan terwujud “company of owners”. Karena eksekutif bertindak layaknya pemilik, maka misi utama eksekutif akan sama dan sebangun dengan misi pemilik, yaitu value creation. Atau gampangnya, setiap jengkal pikiran dan tindakan eksekutif akan selalu mengarah ke duit, duit, dan duit. Wajar saja, karena misi utama perusahaan memang value creation atau mesin duit Namun tujuan yang begitu mulia itu menjadi amburadul ketika kita melihat kenyataan skandal keuangan yang terjadi beruntun beberapa bulan terakhir. Kira – kira dua minggu lalu saya membaca survey majalah Fortune Hasil survey.

Ini menarik sekaligus menyedihkan. Melalui survey ini, Fortune berhasil
mengungkapkan, di tengah – tengah bangkrut dan hancurnya perusahaan – perusahaan seperti Enron, Qwest Communications, Global Crossing, Tyco, WorldCom (sebut saja mereka, the America’s Losingest Companies), terdapat segelintir eksekutif yang mengambil keuntungan, dan bisa dipastikan mereka mendadak kaya raya tak hanya sekadar kaya raya, tapi amat sangat kaya raya.
Kenapa mereka kaya raya? Karena, mereka berhasil meng-exercise opsi saham mereka di tingkat harga saat posisi perusahaan tersebut di Wall Street berada di puncak – puncaknya. Kita tahu perusahaan – perusahaan macam Enron, WorldCom. Qwest, atau Global Crossing adalah perusahaan balon (bubble companies) yang dimasa jayanya begitu perkasa di Wall Street karena ditiup sebesar – besarnya oleh eksekutif puncak mereka. Namanya saja perusahaan balon, dari luar memang kelihatan gemuk, perkasa, dan molek, tapi sesungguhnya dalamnya kosong melompong dan rapuh. Umumnya, para eksekutif menjual opsi saham mereka saat harga di puncak – puncaknya, kira – kira detik – detik menjelang balon mau meletus.
Keuntungan yang mereka raup nggak kepalang tanggung. Philip Anschultz, Direktur Qwest Communication, meraup tak kurang dari US$2,26 miliar; Lou Pai, Kepala Divisi Enron meraup US$994 juta; Gary Winnick, Chairman Global Crossing meraup US$951 juta. Fortune menghitung total transaksi opsi saham ini selama setahun terakhir di perusahaan balon yang nilai sahamnya terjun bebas minimal 75%. Anda mau tahu berapa angka yang dihasilkan survey fortune? sangat fantastis, sekitar US$66 Miliar atau kira – kira setengah GDP kita Apa artinya ini? Artinya, ketika investor public di Wall Street menangis meraung – raung atau bahkan bunuh diri karena 70%, 90%, atau seluruh hartanya ludes, segelintir eksekutif ini berhasil meraup dana segar US$66 miliar. Ketika investor public jatuh miskin, mereka menimbun kekayaan yang tak habis tujuh turunan.
Pertanyaannya, apa salah mereka meng – exercise opsi saham mereka saat harga sedang bagus – bagusnya? Sama Sekali tak salah. Yang salah adalah, ketika dengan sadar mereka “meniup” kinerja palsu dari perusahaan balon yang mereka kelola, kemudian mempercantiknya, dan setelah cantik kemudian mereka mengedarkannya ke investor public, si investor kepincut dan jatuh cinta setengah mati, si investor kemudian berburu saham perusahaan tersebut, harga saham meroket, dan akhirnya ketika saham berada di puncak, inilah kesempatan emas bagi si eksekutif meraup kekayaan. Jadi masalah etik yang sangat serius di sini adalah, si eksekutif tamak ini tahu persis bahkan sengaja menjual dagangan yang tampak luarnya saja cantik molek, tapi dalamnya busuk penuh ulat. Yang menarik, cara para eksekutif ini mempercanrik perusahaan balon. Mereka membawanya ke salon dan me-makeup-nya habis – habisan : diluluri, dibedaki, dilipstiki. Bagaimana cara mereka me-makeup? Pertama, melalui creative accounting: kapitalisasi expense, transaksi off-balance sheet; transfer pricing ke account – account yang merupakan “tax heaven area”, dan sebagainya. Kedua, dengan mengundang konsultan top dunia untuk membikinkan cetak biru strategi dan model bisnis yang solid, yang laku keras ketika dijual di Wall Street.

Dan ketiga, berkongkalikong dengan para analis dari perushaan investment bank top dunia untuk meroketkan harga saham. Kita tahu para analis ini adalah orang kuat di Wall Street. Merekalah sesungguhnya yang berkuasa mempengaruhi, membentuk, dan menaikturunkan harga saham, melalui nasihat dan laporan riset mereka kepada investor. Seharusnya nasihat dan laporan riset tersebut jujur dan obyektif, tapi karena mereka dibayar, ya nasihat dan laporan riset itu kemudian menjadi alat mereka untuk mendongkrak harga saham perusahaan balon di atas.
Kasus di atas adalah bagian kecil saja dari gambaran muram praktik corporate governance. Kasus tersebut menunjukkan kepada kita betapa semakin tingginya kompleksitas bisnis, semakin canggihnya tools manajemen bisnis, dan semakin majunya perangkat regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktik corporate governance semakin dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin kebablasan tanpa etika, tanpa nilai – nilai moral, tanpa pegangan.
Karena itu, era pasca – Enron membutuhkan model perusahaan yang berbeda dari masa – masa sebelumnya. Era ini membutuhkan tak hanya value – based corporation, tapi juga values – based corporation. Yang pertama merupakan model perusahaan yang fokusnya value creation alias cari duit, cari duit, dan cari duit. Sementara yang kedua, fokusnya adalah nilai – nilai (values) moral dan etik.
Yang pertama akan menjadikan manajemen sebagai economic animal, sementara yang kedua akan menjadikan manajemen sebagai etchical human. Alangkah indahnya jika kedua model itu disintesiskan, karena dengan demikian perusahaan tak akan keblinger seperti yang terjadi dalam kasus di atas.

Diambil dr buku Berbisnis dengan Hati Karya AA Gymnastiar dan Hermawan Kartajaya
Jika ingin ambil buku tersebut silakan klik download ini

Baca Artikel Lain

Interaksi Edukatif, Masalah Disiplin, Hukuman dan Motivasi;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Interaksi Edukatif, Masalah Disiplin, Hukuman dan Motivasi

Interaksi Edukatif, Masalah Disiplin, Hukuman dan Motivasi

1. Interaksi dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci menuju keberhasilan suatu proses pembelajaran.
2. Ada 2 (dua) bentuk komunikasi agar tercipta interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran yaitu (1) komunikasi verbal dan (2) komunikasi non verbal.
3. Timbulnya interaksi dalam proses pembelajaran ditentukan oleh faktor-faktor (1) guru (2) siswa (3) tujuan pembelajaran (4) materi/isi pelajaran (5) metode penyajian (6) media yang digunakan dan (7) situasi dan kondisi kelas (8) sistem evaluasi

Pola Interaksi

1. Ada 3 bentuk utama pola interaksi yaitu terjadi dalam proses pembelajaran yaitu (1) klasikal, (2) kelompok dan (3) individu.
2. Pola interaksi yang diterapkan oleh guru di kelas sangat menentukan/dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu keaktifan siswa menurut Ausebel ditentukan oleh kebermaknaan isi/materi serta proses pembelajaran dan modus kegiatan pembelajaran tersebut.
3. Ada 3 kiat bagi guru untuk menimbulkan interaksi edukatif dalam proses pembelajaran yaitu (1) mengadakan kontak pandang mata (2) melakukan gerakan badan dan mimik dan (3) pergantian posisi dan gerak

Disiplin

Ada permasalahan utama yang harus diperhatikan guru dalam sistem pembelajaran kelompok yaitu (1) disiplin (2) hukuman dan (3) motivasi. Penerapan disiplin di kelas/sekolah untuk membekali anak dengan batasan-batasan yang berlaku di lingkungan sosial di mana ia berada. Setiap guru harus menguasai benar masalah disiplin ini mulai dari bentuknya, taraf perkembangannya, komponen utamanya, jenis-jenis masalah displin di kelas serta pembinaan disipilin terhadap siswanya di kelas.

Hukuman dan Motivasi

1. Makna sesungguhnya dari hukuman adalah dihukum karena telah melakukan kesalahan. Pemberian hukum ini dapat dipandang sebagai menghentikan perilaku anak yang tidak baik dan pemberian hukuman ini menimbulkan dampak yang tidak baik antara guru dan siswa.
2. Agar pemberian hukum efektif maka harus dikaitkan dengan pemberian kegiatan baik penguatan positif maupun negatif.
3. Motivasi merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan siswa dalam belajar dan secara otomatis juga menunjang keberhasilan guru dalam mengelola proses pembelajaran, karena itu setiap guru perlu mengenal setiap siswanya dengan baik agar dapat dengan tepat memberikan perlakuan kepada setiap siswa.
4. Memotivasi anak dalam belajar berbeda-beda dan perlu diingat bahwa motivasi berprestasi sangat berkaitan dengan keberhasilan anak didik dalam belajar.

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Karya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Baca Artikel Lain

Ketrampilan Dasar Mengajar;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan;>>>> Baca

Apakah Anak Saya Bermasalah;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan bentuk mengajar klasikal biasa yang memungkinkan guru dalam waktu yang sama menghadapi beberapa kelompok kecil yang belajar secara kelompok dan beberapa orang siswa yang bekerja atau belajar secara perorangan. Format mengajar ini ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang lebih akrab dan sehat antara guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi guru untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran.

Setiap guru dapat menciptakan format pengorganisasian siswa untuk kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan sesuai dengan tujuan, topik (materi), kebutuhan siswa, serta waktu dan fasilitas yang tersedia. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan perlu dikuasai guru karena penerapannya dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda. Selain itu, pembelajaran kelompok kecil dan perorangan memberi kemungkinan terjadinya hubungan interpersonal yang sehat antara guru dengan siswa, terjadinya proses saling belajar antara siswa yang satu dengan lainnya, memudahkan guru dalam memantau pemerolehan belajar siswa, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dapat menumbuhkembangkan semangat saling membantu, serta memungkinkan guru dapat mencurahkan perhatiannya pada cara belajar siswa tertentu sehingga dapat menemukan cara pendekatan belajar yang sesuai bagi siswa tersebut.

Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Komponen keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan terdiri dari:

1. keterampilan mengadakan pendekatan pribadi, yang ditampilkan dengan cara:

1. menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan dan perilaku siswa,
2. mendengarkan dengan penuh rasa simpati gagasan yang dikemukakan siswa,
3. merespon secara positif pendapat siswa,
4. membangun hubungan berdasarkan rasa saling mempercayai,
5. menunjukkan kesiapan untuk membantu,
6. menunjukkan kesediaan untuk menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian, serta
7. berusaha mengendalikan situasi agar siswa merasa aman, terbantu, dan mampu menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya.

2. keterampilan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran, yang ditampilkan dengan cara:

1. memberikan orientasi umum tentang tujuan, tugas, dan cara mengerjakannya,
2. memvariasikan kegiatan untuk mencegah timbulnya kebosanan siswa dalam belajar,
3. membentuk kelompok yang tepat,
4. mengkoordinasikan kegiatan,
5. membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan siswa, serta
6. mengakhiri kegiatan dengan kulminasi.

3. keterampilan membimbing dan memberi kemudahan belajar, yang ditampilkan dengan cara:

1. memberi penguatan secara tepat,
2. melaksanakan supervisi proses awal,
3. melaksanakan supervisi proses lanjut, serta
4. melaksanakan supervisi pemaduan.

4. keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang ditampilkan dengan cara:

1. membantu siswa menetapkan tujuan belajar,
2. merancang kegiatan belajar,
3. bertindak sebagai penasihat siswa, serta
4. membantu siswa menilai kemajuan belajarnya sendiri

Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu format pembelajaran yang mempunyai ciri-ciri : (1) melibatkan 3 – 9 orang siswa setiap kelompoknya, (2) mempunyai tujuan yang mengikat, (3) berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal, dan (4) berlangsung menurut proses yang sistematis.

Diskusi kelompok kecil bermanfaat bagi siswa untuk (1) mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi (2) meningkatkan disiplin, (3) meningkatkan motivasi belajar, (4) mengembangkan sikap saling membantu, dan (5) meningkatkan pemahaman.

Komponen dan Prinsip-prinsip Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil mencakup (1) memusatkan perhatian siswa, (2) memperjelas pendapat siswa, (3) menganalisis pandangan siswa, (4) meningkatkan kontribusi siswa, (5) mendistribusikan pandangan siswa, dan (6) menutup diskusi. Dalam penerapannya, guru harus memperhatikan hal-hal berikut: (1) harus ada kesamaan latar belakang pengetahuan di antara para anggota kelompok, (2) semua anggota diskusi kelompok harus mampu mengemukakan pendapatnya secara lisan, (3) topik yang dibahas harus bersifat terbuka untuk menampung banyak pendapat, (4) diskusi harus berlangsung dalam suasana keterbukaan, (5) pelaksanaan diskusi harus mengingat keunggulan dan kelemahan-kelemahannya, (6) diskusi memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, dan (7) guru harus mampu mencegah timbulnya hal-hal yang dapat menghambat jalannya diskusi

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Karya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Hakikat Pengelolaan dan Penataan Kelas;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Hakikat Pengelolaan dan Penataan Kelas

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar

1. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, dengan hubungan-hubungan inter personal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.
2. Tujuan guru mengelola kelas adalah agar semua siswa yang ada di dalam kelas dapat belajar dengan optimal dan mengatur sarana pembelajaran serta mengendalikan suasana belajar yang menyenangkan untuk mencapai tujuan belajar.
3. Secara garis besar terdapat 2 komponen utama dalam pengelolaan kelas yaitu:
a. Keterampilan yang berhubungan dengan tindakan preventif berupa penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar dan,
b. Keterampilan yang berkembang dengan tindakan kreatif berupa pengembalian kondisi belajar yang optimal.
4. Ada 6 prinsip yang perlu di pelajari dan dikuasai oleh guru dalam mengelola kelas. Prinsip-prinsip ini tidak bisa digunakan satu persatu saja tetapi harus bervariasi artinya lebih dari satu prinsip. Hal-hal yang harus di perhatikanan guru dalam memilih prinsip-prinsip pengelolaan kelas ini adalah
(1) situasi dan kondisi di mana pembelajaran tersebut berlangsung,
(2) pada siapa proses pembelajaran tersebut ditujukan

Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas

1. Peranan guru dalam pengelolaan kelas adalah (1) memelihara lingkungan fisik kelas (2) mengarahkan/membimbing proses intelektual dan sosial siswa di dalam kelas dan (3) mampu memimpin kegiatan pembelajaran yang efisien dan efektif. Sedangkan tugas-tugas guru dalam mengelola kelas adalah (1) sebagai manajer (2) sebagai pendidik dan (3) sebagai pengajar.
2. Dalam mengelola kelas sering ditemui kendala-kendala yang dapat menghambat terjadinya proses pembelajaran yang efisiendan efektif. Kendala ini bisa datang dari guru, bisa juga dari siswa dan bisa juga dari faktor lingkungan.
3. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif selain menerapkan prinsip-prinsip pengelola juga kiat-kiat untuk mengatasi kendala tersebut yaitu
(1) guru tidak boleh campur tangan yang berlebihan terhadap siswa
(2) guru jangan sampai kehilangan konsentrasi yang dapat menimbulkan kesenyapan atau pembicaraan terhenti dengan tiba-tiba.
(3) hindari ketidak tepatan menandai dan mengakhiri suatu kegiatan artinya guru harus tepat waktu
(4) guru harus dapat mengelola waktu, baru hal ini dapat menimbulkan penyimpangan yang berkaitan dengan disiplin diri siswa dan
(5) berilah penjelasan yang jelas, sederhana, sistematis dan tidak bertele-tele atau mengulang-ulang penjelasan karena dapat menimbulkan kebosanan.

Hakikat Penataan Kelas

1. Pengaturan dan penataan kelas mencakup:
(1) pengaturan siswa,
(2) lingkungan fisik dan
(3) penggunaan ruangan, serta
(4) pemanfaatan sumber belajar yang berasal dari lingkungan karena itus setiap guru dituntut untuk tampil dan kreatif serta peka terhadap suasana kelasnya.

2. Penataan lingkungan fisik yang efektif sangat mempengaruhi basis belajar siswa, dan pencapaian tujuan pembelajaran keefektifan lingkungan kelas dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas minimal dalam pengelolaan kelas seperti (1) jumlah siswa dan (2) besarnya ruang kelas.

Ruang Kelas

1. Ruang kelas adalah kondisi fisik kelas yang akan digunakan oleh guru bersama dengan siswanya dalam aktifitas pembelajaran.
2. Ciri-ciri produktif
1. memungkinkan terjadinya interaksi yang dinamis antara guru dan siswa serta antara siswa sendiri.
2. tugas-tugas siswa dapat diselesaikan tepat pada waktunya
3. sportifitas, kreatifitas dan antusias siswa yang tinggi dapat terjaga dengan baik.
4. memungkinkan terjadinya kerjasama yang solid antara siswa maupun dengan gurunya.
5. kesadaran yang tinggi untuk berdisiplin
6. dapat meminimalisasi masalah atau hambatan dalam pengelolaan kelas.
7. dapat mencapai hasil yang optimal.
3. Ruang kelas secara tidak langsung mempengaruhi tumbuh kembangnya siswa baik fisik maupun mental, intelektual, emosional dan sosialnya. Karena itu guru harus memperhatikan bagaimana menata fasilitas dan perabot kelas sehingga akan dapat aman, nyaman dan kreatif selama proses pembelajaran berlangsung.

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Karya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Baca Artikel Lain

Ketrampilan Dasar Mengajar;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa

Membuka dan Menutup Pelajaran Bukan Sekedar Mengabsen Siswa

Membuka pelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk mengaitkan pengalaman siswa dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menciptakan prakondisi agar mental dan perhatian siswa tertuju pada materi pelajaran yang akan dipelajari mereka. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan pada awal pelajaran saja melainkan juga pada

awal setiap penggal kegiatan, misalnya, pada saat memulai kegiatan tanya jawab, mengenalkan konsep baru, memulai kegiatan diskusi, mengawali pengerjaan tugas, dan lain-lainnya.

Kegiatan membuka pelajaran dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa agar ikut merasa terlibat memasuki persoalan yang akan dibahas dan memicu minat serta pemusatan perhatian siswa pada materi pelajaran yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran.

Menutup pelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk menyimpulkan atau mengakhiri kegiatan inti. Menutup pelajaran juga dapat dilakukan pada akhir setiap penggal kegiatan, misalnya mengakhiri kegiatan diskusi, tanya jawab, menindaklanjuti pekerjaan rumah yang telah dikerjakan siswa dan lain-lainnya.

Kegiatan menutup pelajaran dilakukan dengan maksud untuk memusatkan perhatian siswa pada akhir penggal kegiatan atau pada akhir pelajaran, misalnya merangkum atau membuat garis besar materi yang baru saja dibahas, mengkonsolidasikan perhatian siswa pada hal-hal pokok dalam pelajaran yang sudah dipelajari, dan mengorganisasikan semua kegiatan ataupun pelajaran yang telah dipelajari menjadi satu kebulatan yang bermakna untuk memahami esensi pelajaran itu.

Komponen dan Prinsip-prinsip Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran bukanlah kegiatan mengabsen siswa, atau meminta siswa berdoa tetapi kegiatan menyiapkan mental siswa untuk menerima pelajaran.

Komponen-komponen menutup pelajaran terdiri dari (1) meninjau kembali, (2) mengadakan evaluasi penguasaan siswa dan (3) memberikan tindak lanjut.

Penerapan keterampilan membuka dan menutup pelajaran harus berdasarkan prinsip kebermaknaan dan kebersinambungan.

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Krya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Baca Artikel Lain

Ketrampilan Dasar Mengajar;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar

Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu. Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan verbal merupakan penghargaan yang dinyatakan dengan lisan, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan mimik, gerakan tubuh, pemberian sesuatu, dan lain-lainnya. Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak meny enangkan.

Manfaat penguatan bagi siswa untuk meningkatnya perhatian dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri, dan memelihara iklim belajar yang kondusif.

Komponen dan Prinsip-prinsip Keterampilan Memberi Penguatan

Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran terdiri dari penguatan verbal dan penguatan nonverbal. Penguatan verbal adalah pemberian penguatan yang berupa pujian yang dinyatakan dengan ucapan kata atau kalimat, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan bahasa tubuh (body language). Penggunaan kedua bentuk penguatan itu dimaksudkan untuk mendorong siswa agar mau belajar lebih giat lagi dan lebih bermakna.

Penggunaan penguatan dalam kaitannya dengan kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan iklim kelas yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Penguatan dengan maksud seperti itu terdiri dari penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif berupa pemberian ganjaran untuk merspons perilaku siswa yang sesuai dengan harapan guru sehingga ia tetap merasa senang mengikuti pelajaran di kelas. Penguatan negatif berupa penghentian keadaan yang kurang menyenangkan sehingga siswa merasa terbebas dari keadaan seperti itu.

Agar memberi pengaruh yang efektif, semua bentuk penguatan harus diberikan dengan memperhatikan siapa sasarannya dan bagaimana teknik pelaksanaannya. Di samping itu juga perlu diingat bahwa penguatan harus diberikan dengan hangat dan penuh semangat, harus bermakna bagi siswa, dan jangan menggunakan kata-kata yang tidak pada tempatnya.

Hakikat dan Manfaat Variasi Dalam kegiatan pembelajaran

Variasi mengandung makna perbedaan. Dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk memacu dan mengikat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Tujuan utama guru mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran untuk mengurangi kebosanan siswa sehingga perhatian mereka terpusat pada pelajaran.

Komponen dan Prinip-prinsip Keterampilan Mengadakan Variasi

Keterampilan mengadakan variasi terdiri dari tiga kelompok pokok, yaitu variasi gaya mengajar, variasi pengalihan penggunaan indra, dan variasi pola interaksi. Variasi gaya mengajar meliputi suara jeda, pemusatan, gerak dan kontak pandang. Variasi pengalihan penggunaan indra dapat dilakukan dengan pemanipulasian indra pendengar, penglihatan, pencium, peraba dan perasa. Komponen variasi ini erat kaitannya dengan variasi penggunaan media atau alat bantu pembelajaran. Variasi pola interaksi mencakup pola hubungan guru dan siswa.

Penerapan keterampilan mengadakan variasi harus dilandasi dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang ingin dicapai, sesuai dengan materi dan latar belakang sosial budaya serta kemampuan siswa, berlangsung secara berkesinambungan, serta dilakukan secara wajar dan terencana

Pengertian Menjelaskan

Pengertian menjelaskan dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran mengacu kepada perbuatan mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana dan sistematis sehingga dalam penyajiannya siswa dengan mudah dapat memahaminya.

Pentingnya penguasaan keterampilan menjelaskan bagi guru adalah dengan penguasaan ini memungkinkan guru dapat meningkatkan efektivitas penggunaan waktu dan penyajian penjelasannya, mengestimasi tingkat pemahaman siswa, membantu siswa memperluas cakrawala pengetahuannya, serta mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar.

Kegiatan menjelaskan dalam kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, prosedur, dan sebagainya secara objektif, membimbing siswa memahami pertanyaan, meningkatkan keterlibatan siswa, memberi siswa kesempatan untuk menghayati proses penalaran serta memperoleh balikan tentang pemahaman siswa.

Komponen-komponen dan Prinsip-Prinsip Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan merencanakan penjelasan mencakup (a) isi pesan yang dipilih dan disusun secara sistematis disertai dengan contoh-contoh dan (b) hal-hal yang berkaitan dengan siswa.

Keterampilan menyajikan penjelasan mencakup (a) kejelasan, (b) penggunaan contoh dan ilustrasi yang mengikuti pola induktif dan deduktif (c) pemberian tekanan pada bagian-bagian yang penting, serta (d) balikan.

Penyajian penjelasan harus didasari prinsip-prinsip (a) adanya relevansi antara penjelasan dengan tujuan pembelajaran, (b) sesuai dengan keperluan, (c) mengingat latar belakang dan kemampuan siswa, (d) diberikan secara spontan atau sesuai dengan rencana yang telah disiapkan, dan (e) isi penjelasan bermakna bagi siswa

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Karya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Baca Artikel Lain

Ketrampilan Dasar Mengajar;>>>> Baca

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar

Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan siswa, atara siswa ini menunjukan adanya ineraksi dikelas yang di dinamis dan multi arah.

Kegiatan bertanya akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan pertanyaan (1) mengembangkan pendekatan CBSA (2) menimbulkan rasa keingintahuan (3) merangsang fungsi berpikir (4) mengembangkan keterampilan berpikir (5) memfokuskan perhatian siswa (6) menstruktur tugas yang akan diberikan (7) mendiagnosis kesulitan belajar siswa (8) menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya (9) merangsang terjadinya diskusi dan memperlihatkan perhatian terhadap gagasan dan terapan siswa sebagai subjek didik.

Keterampilan bertanya ini mutlak harus dikuasai oleh guru baik itu guru pemula maupun yang sudah profesional karena dengan mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta didik.

Bertanya Dasar dan Bertanya Lanjut

Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan siswa, atara siswa ini menunjukan adanya ineraksi dikelas yang di dinamis dan multi arah.

Kegiatan bertanya akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan pertanyaan (1) mengembangkan pendekatan CBSA (2) menimbulkan rasa keingintahuan (3) merangsang fungsi berpikir (4) mengembangkan keterampilan berpikir (5) memfokuskan perhatian siswa (6) menstruktur tugas yang akan diberikan (7) mendiagnosis kesulitan belajar siswa (8) menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya (9) merangsang terjadinya diskusi dan memperlihatkan perhatian terhadap gagasan dan terapan siswa sebagai subjek didik.

Keterampilan bertanya ini mutlak harus dikuasai oleh guru baik itu guru pemula maupun yang sudah profesional karena dengan mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta didik.

Teknik Bertanya
Yang dimaksud dengan teknik bertanya adalah sejumlah cara yang dapat digunakan oleh kita sebagai guru untuk mengajukan pertanyaan kepada peserta didiknya dengan memperhatikan karakteristik dan latar belakang peserta didik.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, peserta didik akan terangsang untuk berimajinasi sehingga dapat mengembangkan gagasan-gagasan barunya.

Pertanyaan yang baik memiliki kriteria-kriteria khusus seperti: jelas, informasi yang lengkap, terfokus pada satu masalah, berikan waktu yang cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa, berikan respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terakhir tuntunlah jawaban siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.

Pertanyaan

Ada 4 jenis pertanyaan yang dapat kita gunakan dalam melaksanakan tugas pembelajaran (1) pertanyaan permintaan (2) pertanyaan mengarahkan atau menuntun dan (3) pertanyaan yang bersifat menggali serta (4) pertanyaan retoris. Selain itu ada juga pertanyaan inventori yang terdiri dari 3 jenis yaitu (1) pertanyaan yang mengungkap perasaan dan pikiran (2) pertanyaan yang menggiring siswa untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan pikiran dan perbuatan dan (3) pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi akibat-akibat dari perasaan, pikiran dan perbuatan. Pertanyaan-pertanyaan berguna untuk memacu gagasan peserta didik misalnya dalam hal memancing gagasan/ide peserta didik dalam memecahkan masalah.

Sumber Buku Kemampuan Dasar Mengajar Krya Edi Soegito dan Yuliani Nurani

Kumpulan Link Artikel yang lain seperti


Upah Tenaga Kerja dan Konsentrasi Sektor Industri

Teori Lokasi

Perjalanan Hidup dan Karya Comte serta Pandangannya

Konsep dan Kebijakan Proteksi pada Industri

Contoh Judul Skripsi bagian 3

Apresiasi Prosa Indonesia

Teori Penawaran dan Permintaan pada Pertanian

;>>>>>>>>> Buka semua

Industrial and Organizational Psychology in Indonesia

Industrial and Organizational Psychology in Indonesia

Psychology as a science
The development of industrial psychology in Indonesia is strongly influenced by the development of psychology in the western countries especially the United States. Psychology as a science began with the establishment of the laboratory in 1875 by Wilhelm Wundt in Leipzig Germany. From this starting point begins the experiments using the scientific method which studies psychic phenomena such as the process of recognition, observation, memory, thoughts and so on. This field is called Experimental Psychology.
Psychic symptoms and human behavior are studied by experimental psychology is the basis for the formation of the theory and elements of the rules and principles that apply generally, then performed in the industrial sector. But in this case the results are less reliable because the study in a laboratory experiment using the design. For completeness of these laboratory studies how people conduct field research, so that the two studies complement each other.
Application of general psychology in the industrial sector began in the early 20th century, namely in the field of advertising. Various books published by scholars who discussed the psychology with an aspect of the working world, about the efficiency in the industrial world.
Despite starting the beginning of the 20th century have recognized the possibility of application of general psychology in the company, but the implementation and development of new rapid in the decade beginning 1920.
1. With spearheaded by Frederick Winslow Taylor, began working together undergraduate and graduate psychology experiments of industrial engineering work on the new study, which is seeking conformity and adjustment of physical work environment, work tools and work processes with limited physical abilities and the human psyche as workers. From this starting point arises what is called ergonomics or engineering psychology, which is the study and find ways to work efficiently with adjusting to the ability of sophisticated equipment or human skills to operate the equipment.
2. Research on the effect of the physical aspects of the work environment on the efficiency of workers, conducted in Hawthorne Illinois, the Western Electric Company factory.
3. Beginning in the 1960s the application of psychology in the field of sales, with a consumer behavior research. In connection with these promotional activities initiated through various media to attract consumers’ hearts

Psychology scholars find relationships in the industry, examines the organization as a whole, the structure and climate of various organizations, patterns and communication styles, social structures of formal and informal generated, to determine the effects and consequences of the behavior of labor.

Terms
1. psychology experiment
2. perception of closeness law
3. ergonomics

Differential Psychology

Based on the findings of experimental psychology, differential psychology flourished or called special psychology, with the character of William Stern, who published his book “Die Differentielle Psichologie” systematically reviewing the areas and methods of special psychology.
Then, from this differential psychology, which later developed the famous psychotechniek with psychometric, who studies and measures the psychic symptoms typical of someone, namely the uniqueness or difference between people.
Measuring instruments used for this purpose, then known as psychological tests.
The first psychological test developed in France by Binet and Simon. This test is then adapted and developed in other countries in the United States known as the Terman-Merrill Intelligence Test. Also known as the Army Alpha tests also are used specifically in the selection of soldiers and Army Beta tests, especially for those who are illiterate.
Further psychological tests developed by intelligence tests, ability tests, personality tests and interest that can be used in the selection, coaching, counseling and rehabilitation. It is also used for the purposes of rotation, career development and increase motivation.

Terms
a. differential psychology
b. psychotechniek
c. psychometric

The development of psychology in Indonesia starting late 1949 or early 1950 with the use of psychological tests conducted by the Center and the Center for Psychology Psychotechniek Army uses it for the selection and measurement penjurusan based psikometris.
New in 1953, Prof.. Slamet Iman Santoso, founded the Institute of Psychology and Education Center Assistant Psychotechniek. Both institutions are then called into the Vocational Psychology and the Company.
Institute of Education Psychology, developed into the Department of Vocational Psychology Faculty of Medicine UI Year 1960 Vocational Psychology Department and the Company as one of its parts.
It later became part of the Department of Industrial and Organizational Psychology. This major development was pioneered by the Faculty of Psychology UI and the Faculty of Psychology University of Padjadjaran (1963), followed by the Faculty of Psychology Gadjah Mada University (1965).
The problems encountered in the development of Industrial and Organizational Psychology in Indonesia, among others, to adapt the results of that research, develop theories, methodologies and sophisticated tools of the western world to fit the conditions in Indonesia, we face difficulties with lack of or limited funds, staff researcher existing, and readiness to apply psychology in the field of labor, the company’s organization.
Relative to the industrial and organizational psychology in Indonesia today is still an applied science, in the sense that its activities are still in the field of implementation of the examination for the selection and placement, counseling, vocational guidance, career development and implementation of corporate training programs. Was in the field of organizational, human engineering, and consumer behavior research has not been done.

Understanding Industrial and Organizational Psychology
Industrial and organizational psychology is the result of the development of general psychology, experimental psychology and special psychology where widely applied in industry took place around the year 1930. Until World War 2 industrial psychology (no additional organizations) method main activities, facts and principles of human psychology as workers. New since World War 2 industrial and organizational psychology became an independent science with its activities.
1. conducting scientific research in relation to the role or human behavior in organizations and the organization itself;
2. develop theories and test the truth;
3. implement new discoveries.

With these activities, industrial and organizational psychology is the overall knowledge of the facts, rules, and principles of human behavior in the field of work.
In connection with these activities the industrial and organizational psychology have attempted to use the interests and benefit of all parties concerned and should try to ensure the application does not place the wrong interpretation.
Industrial and organizational psychology is the science which studies human behavior in her role as workers and consumers either individually or in groups.
The meaning of behavior is any activity undertaken by humans, which can be observed either directly (open behaviors) such as walking, talking, etc. and that can not be observed directly (closed behavior) such as thinking, motivation, etc. other.
In Indonesia alone, industrial psychology and organizational development is still limited to the activities, particularly those applying the findings of psychology in general, industrial and organizational psychology in particular, and in industries and organizations.
As presented in industrial and organizational psychology of human behavior is learned in its role as workers and as consumers.
As workers, learned behavior in the work environment, in carrying out his job duties, the interplay of these relationships, the extent of labor in accordance with the job.
As human labor becomes a member of industry organizations, on the contrary as a user of human consumers (users) of the product and services of industrial organization.
In addition, humans learned individuals and groups. In relation to organizational units, structures, patterns and types of organizations to learn how to conduct an impact on labor, and vice versa.
From the findings that there is data available include:
1. of the theories, rules and principles that can be applied back to the industrial activities and organizations for the benefit of workers, consumers and the organization.
2. collected data that not every successful manager in the implementation of job tasks.
3. The main difference between a successful manager with the less successful managers lies in the speed and accuracy to solve problems and make decisions.

The findings obtained can be used to develop tests, exercises for candidates for the selection of managers and aspiring managers.

Insight Industrial and Organizational Psychology
With the development of psychology into an independent science in which the broader horizons, then the activity does not just apply the methods, facts and principles of human psychology as workers, but also conduct research in an attempt to answer basic questions about the man in the organization and the organization itself . With the spread of knowledge is the name to Industrial and Organizational Psychology.
What is meant by the organization are:
formal organization whose primary goal
- Seek profit from products and services;
- Not for profit, such as educational institutions, hospitals, and so on.

Organization as a System
The system is a system level: it means the system interacts with other systems to form a supra-system. A system consisting of two or more interacting subsystems and each subsystem consists of smaller systems that interact with each other; so on. In the case of organizations (industry), also is a system consisting of subsystems, namely a large work unit (eg division or business).
- A large unit is composed of units of work smaller, for example part,
- Part consists of smaller units such as sexy again and so on, down to the smallest unit of work, namely labor.

Sumber buku berjudul Psikologi Industri Karya Prof. Dr. A.S. Munandar

Baca Artikel Lain

Kumpulan Link Artikel yang lain – Produksi, Konsumsi, Distribusi, dan Ekonomi Kerakyatan;>>>>>>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain – Hakekat Ilmu Ekonomi Regional;>>>>>>>>> Baca